Você está na página 1de 4

“MENGAPA FREEPORT BEGITU PERKASA

DI NEGERI INI”
S udah sekitar 45 tahun aktivitas pertambangan oleh PT Freeport-McMoran Indonesia
(Freeport) bereksplorasi di ibu pertiwi. Lagi, berbagai macam polemik ditimbulkan oleh
penyumbang PDB terbesar Republik ini.
Setelah beberapa waktu silam, perusahaan yang dikenal sebagai perusahaan emas terbesar
ketiga didunia ini bermasalah dengan penduduk lokal lantaran aktivitas warga melakukan
pendulangan emas dari sisa-sisa limbah produksi Freeport, kini mendekati masa selesainya
kontrak antara PT Freeport dan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2021 nanti, publik
kembali ditarik perhatiannya lantaran kedua belah pihak sampai saat ini bersikukuh
mempertahankan kepentingan masing-masing terkait dengan kontinuitas kontrak yang konon
berpotensi menuai bibit petaka.
Beda sekarang beda pula terdahulu, konon siapapun Presidennya, pemerintah Indonesia
sudah dipastikan tersandera dengan kontrak G2B yang merupakan warisan orde terdahulu.
Banyaknya sekali diskresi pemerintah Indonesia yang hilang untuk mengeksekusi kebijakan
yang bertentangan dengan isi kontrak.
Namun demikian, ibarat sebuah penyakit, sudah seharusnya kita masyarakat Indonesia
mendukung penuh upaya pemerintah untuk mendivestasi saham Freeport sebesar 51% guna
mengobati berbagai macam penyakit yang selama ini telah akut dibuat oleh Freeport.

Era Gusdur
Ditahun 2000 an, pada saat era Pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid atau yang disapa
akrab dengan Gus Dur, pemerintah sempat menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 13
Tahun 2000 yang berisikan tentang pengubahan tarif royalti tembaga dan emas yang semula
3,75% dan 1% berubah menjadi 4% dan 3,75%.
Namun yang terjadi, Freeport dengan mudahnya mengatakan bahwa “Kami tidak akan patuh
dengan aturan yang menyalahi kontrak”.

Di Era Presiden SBY


Berlanjut ke era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, banyak sekali peraturan dan kebijakan
yang ditetapkan. Ditahun 2009 silam, Presiden yang dikenal dengan singkatan SBY ini
mengesahkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Minerba yang secara garis besar
berisikan tentang mengubah rezim kontraktual ke lisensi (IUP) dalam industri pertambangan.
Sementara itu, pada pasal 169 Undang-Undang tersebut secara jelas menyatakan Pemerintah
menghormati kontrak hingga akhir, akan tetapi ketentuan kontrak yang telah ditetapkan harus
disesuaikan selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak UU tersebut berlaku.
Selain itu, pada pasal 170, pemerintah juga mewajibkan kontraktor yang sudah melakukan
produksi, harus melakukan pemurnian selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak UU Minerba
berlaku.
Lantas apa respon Freeport? Hingga detik ini pun belum ada ketentuan internal Freeport yang
disesuaikan dengan Undang-Undang.
Ditambah lagi dengan penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2012 yang diharapkan
dapat menetapkan kembali tarif royalti, namun apa yang terjadi? Semua seakan angin lewat
semata.
Setahun sebelum selesainya masa jabatan Presiden SBY, dirinya sempat menerbitkan
Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2014. Pasal 112C angka 3 beleid ini menyebutkan
bahwa pemegang KK dapat melakukan penjualan mineral ke luar negeri setelah melakukan
kegiatan pemurnian. Namun apa yang terjadi, Freeport justru bermanuver balik kepada
pemerintah dengan mengancam akan mem-PHK para karyawannya.

Era Presiden Jokowi


Baru dua tahun menjabat, Presiden Jokowi telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 1
Tahun 2017 yang bertujuan untuk merelaksasi ketentuan terkait syarat ekspor konsentrat.
Pada saat yang sama pula, Pemerintah mewajibkan kontraktor harus mengubah rezim Kontrak
Karya kepada IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus). Selain itu, pemerintah juga berupaya
mewajibkan kontraktor melakukan divestasi hingga 51% pada tahun ke-10 sejak produksi.
Namun, Freeport justru secara sepihak menghentikan kontrak dan mengganti ke IUPK dan
disertai dengan ancaman akan membawa penyelesaian kasus ini ke Mahkamah Arbitrase
Internasional apabila Pemerintah RI bersikukuh memaksakan kehendaknya.
Menyikapi respon Freeport yang selama ini seolah menjadi raja di Bumi Cenderawasih, selaku
generasi penerus bangsa harus mendukung segala kebijakan Pemerintah untuk mengambil
alih seluruh operasi tambang Freeport di Timika, Papua melalui kebijakan divestasi saham.
Mulai menatap lembar baru dan memfokuskan kacamata kita ke permasalahan Freeport,
karena perlu diwaspadai bahwa perusahaan yang konon dibackingi oleh Central Intelligent
Agency (CIA) Amerika ini memiliki banyak strategi dan upaya untuk mengorek luka pemerintah.
Waspadai upaya provokasi dan intimidasi SARA, serta mulai menaruh perhatian secara objektif
terhadap keluarga kita di Papua, karena cepat atau lambat, sebuah strategi operasi Freeport
untuk mengoalkan tujuannya agar tetap bertahan mengeksplorasi bumi Papua tidak serta
merta berhenti sampai disana.
“SENGKETA ANTARA INDONESIA DAN MALAYSIA YANG DITIMBULKAN
PULAU SIPADAN DAN LIGITAN”

Sengketa Sipadan dan Ligitan adalah persengketaan Indonesia dan


Malaysia atas pemilikan terhadap kedua pulau yang berada di Selat Makassar yaitu
pulau Sipadan (luas: 50.000 meter²) dengan koordinat: 4°6′52.86″N
118°37′43.52″E dan pulau Ligitan (luas: 18.000 meter²) dengan koordinat: 4°9′N
118°53′E. Sikap Indonesia semula ingin membawa masalah ini melalui Dewan
Tinggi ASEAN namun akhirnya sepakat untuk menyelesaikan sengketa ini melalui
jalur hukum Mahkamah Internasional.
Persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia, mencuat pada tahun 1967
ketika dalam pertemuan teknis hukum laut antara kedua negara, masing-masing
negara ternyata memasukkan pulau Sipadan dan pulau Ligitan ke dalam batas-
batas wilayahnya. Kedua negara lalu sepakat agar Sipadan dan Ligitan dinyatakan
dalam keadaan status status quo akan tetapi ternyata pengertian ini berbeda. Pihak
Malaysia membangun resor parawisata baru yang dikelola pihak swasta Malaysia
karena Malaysia memahami status quo sebagai tetap berada di bawah Malaysia
sampai persengketaan selesai, sedangkan pihak Indonesia mengartikan bahwa
dalam status ini berarti status kedua pulau tadi tidak boleh ditempati/diduduki
sampai persoalan atas kepemilikan dua pulau ini selesai. Pada tahun 1969 pihak
Malaysia secara sepihak memasukkan kedua pulau tersebut ke dalam peta
nasionalnya.
Pada tahun 1976, Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara
atau TAC (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia) dalam KTT
pertama ASEAN di pulau Bali ini antara lain menyebutkan bahwa akan
membentuk Dewan Tinggi ASEAN untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi
di antara sesama anggota ASEAN akan tetapi pihak Malaysia menolak beralasan
karena terlibat pula sengketa dengan Singapura untuk klaim pulau Batu Puteh,
sengketa kepemilikan Sabah dengan Filipina serta sengketa kepulauan Spratley di
Laut Cina Selatan dengan Brunei Darussalam, Filipina, Vietnam, Cina, dan
Taiwan. Pihak Malaysia pada tahun 1991 lalu menempatkan sepasukan polisi
hutan (setara Brimob) melakukan pengusiran semua warga negara Indonesia serta
meminta pihak Indonesia untuk mencabut klaim atas kedua pulau.
Sikap pihak Indonesia yang ingin membawa masalah ini melalui Dewan
Tinggi ASEAN dan selalu menolak membawa masalah ini ke ICJ kemudian
melunak. Dalam kunjungannya ke Kuala Lumpurpada tanggal 7 Oktober 1996,
Presiden Soeharto akhirnya menyetujui usulan PM Mahathir tersebut yang pernah
diusulkan pula oleh Mensesneg Moerdiono dan Wakil PM Anwar Ibrahim,
dibuatkan kesepakatan "Final and Binding," pada tanggal 31 Mei 1997, kedua
negara menandatangani persetujuan tersebut. Indonesia meratifikasi pada tanggal
29 Desember 1997 dengan Keppres Nomor 49 Tahun 1997, demikian pula
Malaysia meratifikasi pada 19 November 1997, sementara pihak mengkaitkan
dengan kesehatan Presiden Soeharto dengan akan dipergunakan fasilitas kesehatan
di Malaysia