Você está na página 1de 13

Analisa data

no Data penyebab masalah

1 Ds : klien mengatakan usia Kontraksi uterus Resiko

kehamilan 9 bln, os mengatakan tinggi

keluarnya cairan pervaginam 18 terhadap

jam sebelum di rujuk ke rumah infeksi

sakit

Do : keadaan umum lemah, pada

pemeriksaan dalam ketuban

sudah tidak ada, pembukaan 3-4

cm

2 Ds : klien mengatakan nyeri pada Ketuban pecah Gangguan

bagian perut, klien mengatakan rasa

nyeri seperti ditusuk-tusuk nyaman

Do : ekspresi wajah tampak nyeri

meringis ,klien menahan sakit,

keadaan umum lemah, klien

menunjukkan skala nyeri 4


3 Ds : - klien mengatakan tidak Rasa nyeri Intoleransi

dapat turun dari tempat tidur aktifitas

-klien mengatakan tidak dapat

memenuhi kebutuhan sehari-hari

-klien merasa nyeri yang hilang

timbul

Do : -aktifitas kebutuhan sehari-

hari ibantu orang lain

-klien tidak dapat melakukan

aktifitas tanpa bantuan orang lain.

2. Diagnosa keperawatan

a. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini ditandai dengan

keluarnya cairan pervagina ± 18 jam, keadaan umum lemah, klien hamil ± 9 bulan, pada

pemeriksaan dalam ketuban sudah tidak ada, pembukaan 3-4 cm dengan cara tusse.

b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai dengan klien

menyatakan nyeri pada bagian perut, ekpresi wajah meringis, klien menahan sakit, keadaan

umum lemah.

c. Inroleransi aktivitas berhubungan dengan keterbatasan mobilitas fisik di tandai dengan klien

mengatakan tidak dapat turun dari tempat tidur, klien mengatakan tidak dapat memenuhi

kebutuhan sehari-hari, aktivitas kebutuhan sehari-hari di bantu orang lain, klien tidak dapat
melakukan aktivitas tanpa bantuan orang lain, klien merasakan nyeri yang hilang timbul, air

masih keluar.

3. Perencanaan

a. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini ditandai dengan

keluarnya cairan pervagina ± 18 jam, keadaan umum lemah, klien hamil ± 9 bulan, pada

pemeriksaan dalam ketuban sudah tidak ada, pembukaan 3-4 cm.

Tujuan : infeksi tidak terjadi

Kriteria hasil :

(1) Tidak ada tanda-tanda infeksi

(2) Keadaan umum baik

(3) Persalinan normal

Intervensi :

1) Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan

2) Dengarkan denyut jantung jann dengan dopler setiap 1-4 jam

3) Jangan terlalu sering melakukan pemeriksaan pervaginam

4) Kolaborasi dengan dokter pemberian terapi

Rasionalisasi :

1) Untuk mencegah terjadinya infeksi

2) Untuk mengetahui keadaan janin didalam Rahim ibu

3) Untuk mencegah terjadinya infeksi didalam Rahim

4) Perihal pemberian obat antibiotic


b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai dengan klien

menyatakan nyeri pada bagian perut dengan skala nyeri 7, ekspresi wajah meringis, klien tampak

menahan sakit, keadaan umum lemah.

Tujuan ; bayi lahir dengan segera

Kriteria hasil ;

1) Rasa nyeri berkurang

2) Klien tampak tenang

3) Keadaan umum baik

Intervensi ;

1) Kaji skala nyeri

2) Beritahu klien penyebab rasa nyeri

3) Atur posisi yang menyenangkan

4) Kolaborasi dengan dokter pemberian terapi

Rasionalisasi ;

1) Untuk menentukan tingkat aktivitas dan bantuan yang akan dilakukan

2) Bantuan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan klien

3) Aktifitas bertahap untuk mencegah terjadinya kontraktur

4. implementasi (terlampir)

5. evaluasi (terlampir)
2. Pembahasan

Pada bab ini penulis membandingkan antara teori dengan kasus langsung pada klien Ny. B serta

menemukan kesenjangan pada klien yang penulis lakukan selama 3 hari dibandingkan dengan

teori yang telah penulis paparkan pada bab II.

1. Pengkajian

Pada pengkajian secara teoritis ditemukan data, resiko tinggi, infeksi, nyeri, intoleransi

akifitas. Sedangkan pengkajian pada Ny. B juga terdapat pengkajian secara teoritis, hanya saja

tidak semua data pada pengkajian yang didapatkan pada Ny. B perbedaan tersebut penulis dapat

memberikan analisa bahwa terdapat resiko tinggi trauma maternal, resiko tinggi trauma fetal,

tidak ditemukan pada klien karena klien pada waktu hamil dengan keadaan ketuban pecah dini

janin belum lahir. Pada waktu melakukan pengkajian klien belum mengalami persalinan.

2. Diagnosa Keperawatan

Secara teoritis diagnose yang mungkin timbul pada klien ketuban pecah dini adalah:

a. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketuban pecahn dini

b. Resiko tinggi trauma maternal berhubungan dengan disfungsi persalinan

c. Cemas berhubungan dengan ancaman kehilangan janin

d. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus

e. Resiko tinggi dengan trauma fetal berhubungan dengan hypoxia

f. Intoleran aktifitas berhubungan dengan keterbatasan mobilitas fisik

g. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kehamilan

Sedangkan diagnose keperawatan yang muncul pada Ny. B adalah sebagai berikut :
a. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini

b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus

c. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan keterbatasan mobilitas fisik

Dari ketujuh masalah yang muncu, urutan masalah adalah :

a. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini. Karena terjadi masalah

ini berisiko terjadinya infeksi, untuk mencegah terjadinya infeksi perlu penanganan yang baik

dari perawat. Hal ini yang mendasari untuk ditegakan diagnose ini. Berdasarkan analisa tersebut

maka masalah ini menjadi prioritas pertama.

b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus. termasuk

kedalamkebutuhan rasa nyaman dan aman. Berdasarkan analisa tersebut maka masalah ini

menjadi prioritas kedua.

c. Intoleren aktifitas berhubungan dengan keterbatasan mobilitas fisik. Karena tubuh yang lemah,

segala aktifitas pemenuhan kebutuhan diri akan tergantung pada orang lain, hal ini yang

mendasari ditegakan diagnose ini karena peran perawat dan keluarga sangat dominan untuk

membantu kebutuhan klien. Masalah ini menjadi prioritas ketiga.

Dari diagnose yang ditemukan pada Ny. B terdapat 3 diagnose keperawatan yang sesuai

dengan teoritis, sedangkan 4 diagnosa keperawatan secara teoritis tidak munculpada klien, alas

an yang dapat penulis berikan adalah :

a. Pada diagnose keperawatan resiko tinggi trauma maternal dan fetal tidak muncul karena tidak

ada data senjang yang menunjang.

b. Pada diagnose keperawatan ganggguan pola tidur tidak muncl karena klien sudah bisa tidur

setelah klien beberapa hari persalinan dapat istirahat.


Sedangkan diagnose keperawatan yang muncul pada klien tetapi tidak terdapat secara teoritis

yakni diagnose intoleran aktifitas. Diagnose ini ditegakan karena ada data senjang yang

menunjang. Sehingga perlu dilakukan intervensi.

3. Perencanaan

Masalah keperawatan yang muncul pada kasus Ny.B selanjutnya berdasarkan :

a. Kebutuhan dasrar menurut maslow

b. Derjat masalah yang timbul berdasarkan SUN (Segera, Urgen, dan Non Urgen)

c. Tingkat kebutuhan pengobatan atau prosedur medic

d. Pertimbangan kemampuan dan kemauan pasien

e. Kemungkinan masalah dapat diatasai dengan memperhatikan sarana dan prasarana yang ada

4. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan adalah realisasi dari rencana tindakan. Tidak semua rencana dapat

dilakukan karena keterbatasan sumber-sumber, sarana, prasarana, tingkat kemampuan klien

sendiri.

Adapun pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada klien adalah sebagai berikut :

a. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini. Pelaksanaannya adalah

melakukan cuci tangan sebellum dan sesudah melakukan tindakan, periksa dalam dengan

memakai hand scone yang steril, mengganti perban dibawah bokong setiap dua jam sekali,

memantau vital sign, tindakan tersebut sesuai dengan konsep teoritis yang ada dan

pelaksanaannya tidak ada hambatan,

b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus. Pelaksanaan tindakannya

adalah menganjurkan dan bantu klien untuk melakukan teknik relaksasi, mengobservasi vital

sign, memberikan analgetik jika dibutuhkan sesuai rasa yang dirasakan, tindakan ini susuai
dengan konsep dasar teoritis yang ada. Dalam melaksanakan penulis menemui hambatan, karena

tindakan tersebut mandiri dari perawat serta tidak tergantung alat-alat.

c. Intoleransi aktifitas berhubungn dengan keterbatasan mobilitas fisik. Pelaksanaannya adalah

mengobservasi tingkat kemampuan mobilitas, membantu klien dalam pemenuhan kebutuhan

sehari-hari, memotifasi keluarga untuk selalu membantu dalam pemenuhan kebutuhan klien.

5. Evaluasi

Langkah terakhir dari proses keperawatan adalah mengadakan evaluasi atau tindakan

yang telah dilakukan berikut ini hasil evaluasi untuk masing-masing diagnose:

a. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini

Evaluasi :

Tidak ada tanda-tanda infeksi

b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus

Evaluasi :

1) Klien mengatakan tidak nyeri lagi

2) Klien tampak lebih nyaman

c. Intoleran aktifitas berhubungan dengan keterbatasan mobilitas fisik

Evaluasi :

Klien dapat melakukan aktifitas


CATATAN PERKEMBANGAN

Nama klien : Ny.B

Ruangan : VK

NO TANGGAL DIANGNOSA CATATAN PERKEMBANGAN PARAF

KEPERAWATAN

1 6 November 2012 Resiko tinggi S:-

terhadap infeksi O : - cairan pervaginam masih keluar

berhubungan - pada pemeriksaan dalam tidak

dengan ketuban teraba lagi selaput ketuban.

pecah dini A : resiko terhadap infeksi

P:

- lakukan cuci tangan sebelum dan

sesudah melakukan tindakan

- dengarkan denyut jantung janin dengan

doplet 1-4 jam

i. Hindari pemeriksaan pervaginam

Terlalu sering

ii. Ganti perban dibawah bokong tiap 24

Jam

-kolaborasi dalam pemberian antibiotik

I:

- melakukan cuci tangan sebelum dan

sesudah melakukan tindakan

- mendengarkan denyut jantung janin

dengan

doplet 1-4 jam


iii. menghindari pemeriksaan pervaginam

iv. menganti perban dibawah bokong pam

E : masalah belum teratasi

R : lanjutkan tindakan keperawatan

2 6 november 2012 Gangguan rasa S : klien mengatakan nyeri pada bagian

nyaman nyeri perut

berhubungan O : ekspresi wajah tampak meringis, klien

dengan merasa sakit, keadaan umum lemah

konstruksi uterus A : gangguan rasa nyaman nyeri

P:

- kaji tingkat nyeri

- beri tahu klien penyebab rasa nyeri

v. atur posisi yang menyenangkan

vi. kolaborasi dengan dokter pemberian

obat

I:

- mengkaji tingkat nyeri

- memberi tahu klien penyebab rasa

nyeri

vii. mengatur posisi yang menyenangkan

viii. berkolaborasi dengan dokter

pemberian obat anti biotik

E : masalah belum teratasi

R : lanjutkan tindakan keperawatan


i

CATATAN PERKEMBANGAN

Nama klien : Ny.B

Ruangan : VK

NO TANGGAL DIANGNOSA CATATAN PERKEMBANGAN PARAF

KEPERAWATAN

1 7 November 2012 Gangguan rasa S : klien mengatakan nyeri pada bagian

nyaman nyeri perut

berhubungan O : ekspresi wajah tampak meringis, klien

dengan konstruksi merasa sakit, keadaan umum lemah

uterus A : gangguan rasa nyaman nyeri

P:

- kaji tingkat nyeri

- beri tahu klien penyebab rasa nyeri

ix. atur posisi yang menyenangkan

x. kolaborasi dengan dokter pemberian

obat

I:

- mengkaji tingkat nyeri

- memberi tahu klien penyebab rasa

nyeri

xi. mengatur posisi yang menyenangkan


xii. berkolaborasi dengan dokter pemberi

an obat anti biotik

E : masalah belum teratasi

R : lanjutkan tindakan keperawatan

2 7 november 2012 Intoleransi aktifitas S:


berhubungan
dengan - klien mengatakan tidak dapat turun
keterbatasan
mobilitas fisik dari tempat tidur
ditandai dengan
klien mengatakan - klien mengatakan tidak dapat
tidak dapat turun
dari tempat tidur, memenuhi kebutuhan sehari-hari
aktivitas
kebutuhan sehari- - klien merasa nyeri yang hilang timbul
hari dibantu orang
lain, klien O:
merasakan nyeri
yang hilang - aktifitas kebutuhan sehari-hari ibantu
timbul,cairan
pervagina masih orang lain
keluar
- klien tidak dapat melakukan aktifitas

tanpa bantuan orang lain.

A. intoleransi aktifitas

P:

- Observasi tingkat kemampuan

mobilitas

- Bantu klien dalam pemenuhan

kebutuhan sehari-hari

-Motivasi keluarga untuk selalu

membantu klien dalam pemenuhan

kebutuhan klien.
I:

- mengbservasi tingkat kemampuan

mobilitas

- membantu klien dalam pemenuhan

kebutuhan sehari-hari

- memotivasi keluarga untuk selalu

membantu klien dalam pemenuhan

kebutuhan klien.