Você está na página 1de 10

TUGAS : ASKEP

GURU :Nasrawati Alwan, S.Kep.,NS

KEHAMILAN EKTOPIK

KELOMPOK IV

1. NILUH JUNI LESTARI


2. NILUH AYU INTAN S
3. FEBRIANTI AMARTIWI
4. SRI DEVI
5. IDA PRAWIDYA
6. MUH. AKSAN
7. PIKRAN

SMK DEWI SARTIKA KENDARI

TAHUN AJARAN
2017/2018
BAB I

Pendahuluan

1. Latar belakang

Kehamilan secara normal akan berada di kavum uteri. Kehamilan ektopik ialah
kehamilan di tempat yang luar biasa. Kehamilan ektopik terjadi setiap saat ketika
penananaman blastosit berlangsung dimanapun, kecuali di endometrium yang melapisi
rongga uterus. Tempat yang mungkin untuk kehamilan ektopik adalah serviks, tuba
fallopi, ovarium dan abdomen (Varney,dkk, 2006).

Lebih dari 90% kehamilan ektopik terjadi di tuba. Kejadian kehamilan tuba ialah 1
diantara 150 persalinan. Angka kejadian kehamilan ektopik cenderung meningkat.
Kejadian tersebut dipengaruhi oleh berbagai macam faktor antara lain, meningkatnya
prevalensi penyakit tuba karena Penyakit Menular Seksual (PMS) sehingga terjadi oklusi
parsial tuba, adhesi peritubal yang terjadi setelah infeksi seperti apendisitis atau
endometriosis, pernah menderita kehamilan ektopik sebelumnya, meningkatnya
penggunaan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan, abortus provokatus, tumor yang
mengubah bentuk tuba dan fertilitas yang terjadi oleh obat-obatan pemacu ovalasi
(Saifuddin, 2006).

2. Rumusan masalah

1. Apa yang dimaksud dengan kehamilan ektopik?

2. Apa penyebab dari kehamilan ektopik?

3. Apa tanda dan gejala dari kehamilan ektopik?

4. Apa patofisiologi dari kehamilan ektopik?

5. Apa komplikasi dari kehamilan ektopik?

3. Tujuan penulisan

1. Untuk mengetahui definisi dari kehamilan ektopik

2. Untuk mengetahui penyebab dari kehamilan ektopik

3. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari kehamilan ektopik

4. Untuk mengetahui patofisiologi dari kehamilan ektopik


BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana setelah fertilisasi implantasi terjadi


diluar endometrium kavum uteri.

Kehamilan ektopik adalah implantasi hasil konsepsi pada tempat di luar rongga
uterus ( misalnya, di tuba fallopi, ovarium, serviks, atau rongga peritoneum). (Barbara R
Stright,cetakan I:2005:244)

Kehamilan ektopik atau kehamilan extrauterine ialah kehamilan yang dapat


terjadi di luar rahim, misalnya dalam tuba, ovarium atau rongga perut,tetapi dapat terjadi
di dalam cervix, pars interslitialis tubae atau dalam tanduk rudimenter rahim. (obstetric
patologi,hal :21)

Kehamilan ektopik kombinasi ( combined ectopic pregnancy) adalah kehamilan


intrauterine yang terjadi pada waktu bersamaan dengan kehamilan ekstrauterine.

Kehamilan ektopik rangkap ( compound ectopic pregnancy) adalah kehamilan


intrauterine dengan kehamilan ekstrauterine yang lebih dulu terjadi tapi janin sudah mati
dan terjadi litopedion.

Berdasarkan tempat implantasinnya, kehamilan ektopik dapat dibagi dalam


beberapa golongan :

o Tuba Fallopii

o Uterus (diluar endometrium kavum uterus)

o Ovarium

o Intraligamenter

o Abdominal

o Kombinasi kehamilan didalam dan diluar uterus


2. Etiologi

a. Faktor dalam lumen tuba :

 Endosalpingitis dapat menyebabkan perlengketan endosalping, sehingga lumen tuba


menyempit atau membentuk kantong buntu

 Lumen tuba sempit dan berlekuk-lekuk yang dapat terjadi pada hipoplasia uteri. Hal
ini dapat disertai kelainan fungsi silia endosalping

 Lumen tuba sempit yang diakibatkan oleh operasi plastik tuba dan sterilisasi yang
tidak sempurna.

b. Faktor pada dinding tuba :

 Endometriosis tuba, dapat memudahkan implantasi telur yang dibuahi dalam tuba

 Divertikel tuba kongenital atau ostium assesorius tubae dapat menahan telur yang
dibuahi ditempat itu.

c. Faktor diluar dinding tuba :

 Perlekatan peritubal dengan distorsiatau lekukan tuba dapat menghambat perjalanan


telur

 Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba.

d. Faktor lain :

 Migrasi luar ovum, yaitu perjalanan dari ovum kanan ke tuba kiri- atau sebaliknya-
dapat memperpanjang perjalanan telur yang dibuahi ke uterus. Pertumbuhan telur
yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi premature

3. Manifestasi klinis

 Nyeri perut

Gejala ini yang paling sering dijumpai dan terdapat pada hampir semua penderita.
Nyeri perut ini datang setelah mengangkat berat,buang air besar tapi kadang kadang
juga waktu pasien sedang beristirahat. Gejala ini berhubungan dengan apakah
kehamilan ektopik sudah ruptur.

 Shock karena hypovolaemia


(obstetri William international edition, hal: 890)

 Amenorhoe

 Perdarahan pervaginam

Dengan matinya telur desidua mengalami degenerasi dan nekrose dan


dikeluarkan dengan perdarahan. Perdarahan ini pada umumnya sedikit, perdarahan
yang banyak dari vagina harus mengarahkan pikiran kita ke abortus yang biasa

 Nyeri bahu dan leher Karen perangsangan digfragma

 Nyeri pada palpasi

Perut pendeita biasanya tegang dan agak gembung, ada tanda – tanda
perdarahan intra abdominal(shifting dullness).

 Tanda – tanda akut abdomen : nyeri tekan yang hebat (defance musculair), muntah,
gelisah, pucat, anemis, nadi kecil dan halus, tensi rendah atau tidak terukur (syok).

 Tanda Cullen : sekitar pusat atau linea alba kelihatan biru hitam dan lebam.

 Adanya nyeri ayun: dengan menggerakkan porsio dan serviks ibu akan merasa sakit
yang sangat

 Douglas crise : rasa nyeri hebat pada penekanan kavum douglasi

 Kavum douglasi teraba menonjol karena terkumpulnya darah, begitu pula teraba masa
retrouterin (masa pelvis)

4. Patofisologi

Kebanyakan dari kehamilan ektopik berlokasi di tuba fallopii. Tempat yang paling
umum terjadi adalah pada pars ampullaris, sekitar 80 %. Kemudian berturut-turut adalah
isthmus (12%), fimbriae (5%), dan bagian kornu dan daerah intersisial tuba (2%), dan
seperti yang disebut pada bagian diatas, kehamilan ektopik non tuba sangat jarang.
Kehamilan pada daerah intersisial sering berhubungan dengan kesakitan yang berat,
karena baru mengeluarkan gejala yang muncul lebih lama dari tipe yang lain, dan sulit di
diagnosis, dan biasanya menghasilkan perdarahan yang sangat banyak bila terjadi
rupture.

Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya sama
dengan halnya di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau
interkolumner. Pada yang pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot
endosalping. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan
biasanya telur mati secara dini dan diresorbsi. Pada nidasi secara interkolumner telur
bernidasi antara 2 jonjot endosalping. Setelah tempat nidasi tertutup, maka telur
dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan
dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba tidak sempurna
malahan kadang-kadang tidak tampak, dengan mudah villi korialis menembus
endosalping dan masuk dalam lapisan otot-otot tuba dengan merusak jaringan dan
pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya bergantung pada beberapa faktor,
seperti tempat implantasi, tebalnya dinding tuba, dan banyaknya perdarahan yang terjadi
oleh invasi trofoblas.

Dibawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron dari korpus luteum


gravidatis dan trofoblas, uterus menjadi besar dan lembek, dan endometrium dapat pula
berubah menjadi desidua. Dapat ditemukan pula perubahan-perubahan pada endometrium
yang disebut fenomena Arias-Stella. Sel epitel membesar dengan intinya hipertrofik,
hiperkromatik, lobuler, dan berbentuk tidak teratur. Sitoplasma sel dapat berlubang-
lubang atau berbusa, dan kadang-kadang ditemukan mitosis. Perubahan ini hanya terjadi
pada sebagian kehamilan ektopik.

5. Komplikasi

 Pada pengobatan konsevatif yaitu bila ruptur tuba telah lama berlangsung 9 4-6
minggu ) terjadi perdarahan ulang ( recurrent bleeding ) ini merupakan indikasi
operasi.

 Infeksi

 Sub ileus karena masaa pelvis

 sterilitas

6. Pemeriksaan penunjang

Berikut ini merupakan jenis pemeriksaan untuk membantu diagnsosi kehamilan ektopik :

1. HCG-β

Pengukuran subunit beta dari HCG (Human Chorionic Gonadotropin-Beta) merupakan


tes laboratorium terpenting dalam diagnosis. Pemeriksaan ini dapat membedakan antara
kehamilan intrauterine dengan kehamilan ektopik

2. Kuldosintesis
Tindakan kuldosintesis atau punksi Douglas. Adanya yang diisap berwarna hitam (darah
tua) biarpun sedikit, membuktikan adanya darah di kavum Douglasi

3. Dilatasi dan Kuretase

Biasanya kuretase dilakukan setelah amenore terjadi perdarahan yang cukup lama tanpa
menemukan kelainan yang nyata disamping uterus.

4. Laparaskopi

Laparaskopi hanya digunakan sebagi alat bantu diagnosis terakhir apabila hasil – hasil
penilaian prosedur diagnotik lain untuk kehamilan ektopik terganngu meragukan. Namun
beberpa dekade terakhir alat ini juga dipakai untuk terapi.

5. Ultrasonografi

Keunggulan cara pemeriksaan ini terhadap laporaskopi ialah tidak invasive, artinya tidak
perlu memasukkan rongga kedalam rongga perut. Dapat dinilai kavum uteri, kosong atau
berisi, tebal endometrium, adanya massa dikanan kiri uterus dan apakah kavum Douglas
berisi cairan.

6. Tes Oksitosin

Pemberian oksitosin dalam dosis kecil intravena dapat membuktikan adanya kehamilan
ektopik lanjut. Dengan pemerikasaan bimanual, diluar kantong janin dapat diraba suatu
tumor.

7. Foto Rontgen

Tampak kerangka janin lebih tinggi letaknya dan berada dalam letak paksa. Pada foto
lateral tampak bagian- bagian janin menutupi vertebra ibu.

8. Histerosalpingografi

Memberikan gambaran kavum uteri kosong dan lebih besar dari biasa, dengan janin
diluar uterus. Pemeriksaan ini dilakukan jika diagnosis kehamilan ektopik terganggu
sudah dipastikan dengan USG (Ultra Sono Graphy) dan MRI (Magnetic Resonance
Imagine). Trias klasik yang sering ditemukan adalah nyeri abdomen, perdarahan vagina
abnormal, dan amenore.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Diagnosis pada pasien ini adalah kehamilan ektopik terganggu. Perawatan yang
dilakukan sejak pasien datang adalah segeras mencari tahu kepastian diagnosis kehamilan
ektopik terganggu dengan mengambil data lengkap dari anmnesis, pemeriksaan fisik
umum dan pemeriksaan ginekologis, pemeriksaan penujang seperti pemeriksaan darah,
tes kehamilan dan USG. Setelah didapatkan diagnosis kerja kehamilan ektopik terganggu,
segera dilakukan intervensi pembedahan laparotomi (salpingektomi sinistra). Dengan
kondisi pasien yang stabil setelah di operasi, luka operasi terawat dengan baik, os
memimta pulang paksa pada perawatan hari ke sembilan dan diminta kontrol luka operasi
3 hari di poliklinik.

B. SARAN
Hal yang dapat dilakuakan sekarang adalah memberi edukasi pada pasien ini
untuk lebih jeli dalam menghadapi tanda-tanda kemungkinan hamil lagi, seperti langsung
ke dokter untuk memastikan apakah dirinya benar-benar hamil dan mendapat perawatan
yang lebih ketat. Dijelaskan juga faktor – faktor resiko seperti infeksi pelvikm penyakit
menukar seksualm usia dan larangan merokok untuk mencegah bertambah besarnya
resiko terjadinya kehamilan ektopik terganggu, karena pada pasien yang perna
mengalami penyakit ini, jelas sebelumnya sudah ada faktor resiko untuk memungkinkan
terjadinya kehamilan ektopik terganggu lagi.
Daftar Pustaka

Mocthar R, 1998, Sinopsis Obstetri Cetakan I,EGC, Jakarta.

Hacher/moore, 2001, Esensial obstetric dan ginekologi, hypokrates , jakarta

Abdul bari saifuddin,, 2001 , Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal, penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, Jakarta

Manuaba,Ida Bagus Gede, 1998, Ilmu kebidanan,penyakit kandungan dan keluarga


berencana, EGC, Jakarta

Marlyn Doenges,dkk, 2001,Rencana perawatan Maternal/Bayi, EGC , Jakarta

Arif Mansyoer,DKK,1999, Kapita selecta Kedokteran, Penerbit media aeskulapius FKUI.

Helen Varney,DKK, 2002, Buku Saku Bidan, cetakan I, EGC, Jakarta

Lynda Jual Carpenito, 2001, Buku Saku Diagnosa keperawatan edisi 8,EGC,Jakarta.