Você está na página 1de 10

A.

Arti Penting Pendidikan dan Kesehatan

Pendidikan dan kesehatan adalah tujuan pembangunan mendasar.


Pendidikan dan kesehatan masing-masing juga memiliki arti yang penting.
Kesehatan sangat penting artinya bagi kesehjateraan, dan pendidikan bersifat
esensial bagi kehidupan yang memuaskan dan berharga; Keduanya sangat
fundamental dalam kaitanya dengan gagasan yang lebih luas mengenai
peningkatan kapabilitas manusia sebagai makna pembangunan yang
sesungguhnya.
Pada saat yang sama pendidikan juga memainkan peran penting untuk
meningkatkan kemampuan suatu negara berkembang dalam menyerap teknologi
modern dan mengembangkan kapasitas bagi terwujudnya pertumbuhan dan
pembangunan berkelanjutan. Selain itu kesehatan adalah prasyarat bagi
peningkatan produktivitas, dan pendidikan yang berhasil juga bergantung pada
kesehatan yang memadai. Dengan demikian, Kesehatan dan pendidikan juga
dapat dipandang sebagai komponen pertumbuhan dan pembangunan yang vital-
sebagai input bagi fungsi produksi agregat.

Meningkatkan pendidikan dan kesehatan merupakan suatu tantangan yang


besar bagi negara-negara berkembang. Distribusi kesehatan dan pendidikan di
suatu negara sama pentingnya dengan distribusi pendapatan, tingkat kehidupan
mungkin lebih tinggi bagi orang-orang yang lebih beruntung di negara
berkembang, tetapi jauh lebih rendah di kalangan orang-orang miskin.

1
B. Pendidikan dan Kesehatan Sebagai Investasi Gabungan bagi Pembangunan

Kesehatan dan pendidikan berkaitan erat dengan pembangunan ekonomi.


Di satu sisi, modal kesehatan yang semakin besar dapat meningkatkan
pengembalian atas investasi dibidang pendidikan, karena kesehatan merupakan
faktor penting dalam kehadiran di sekolah dan dalam proses pembelajaran formal
seorang anak. Disisi lain semakin besarnya modal pendidikan dapat meningkatkan
pengembalian atas investasi dibidang kesehatan, karena banyak program
kesehatan yang bergantung pada pendidikan.

Pendidikan dan kesehatan merupakan tujuan dari pembangunan yang mendasar.


Kesehatan merupakan kesejaheraan, sedangkan pendidikan merupakan hal yang
pokok untuk menggapai kehiduapan yang memuaskan dan berharga, keduanya
merupakan hal yang penting unuk membentuk kapabilias manusia yang lebih luas
yang berada pada inti makna pembangunan.

Sangat dramatisnya kondisi kesehatan dan pendidikan dunia selama separuh abad
terakhir ini. Pada tahun 1950 dari 1000 anak 280 meninggal dari semua Negara
berkembang sebelum mencapai usia 5 tahun. Pada tahun 2000, angka tersebut
menurun mencapai 126 dari 1000 dinegara-negara miskin, dan 39 per 1000
dinegara-negara berpendapatan menengah. Sejumlah penyakit yang mematikan
sudah ditemukan obatnya. Cacar yang biasanya yang dapat menewaskan 5 juta
orang setiap tahunnya sudah dapat dikendalikan dengan penggunaan vaksin.
Disamping itu, sejak beberapa dekade terakhir ini, kemampuan baca tulis dan
pendidikan dasar telah dinikmati secara meluas oleh sebagian masyarakat di
negara-negara berkembang.

Meskipun telah mencapai kemajuan, tetapi Negara-Negara Dunia Ketiga masih


terus mengalami berbagai tantangan seiring dengan upaya meningkatkan
kesehatan dan pendidikan masyarakatnya. Distribusi kesehatan dan pendidikan
disuatu negara-negara berkembang, usia harapan hidup bagi orang-orang mampu
cukup tinggi, sedangkan bagi masyarakat miskin jauh lebih rendah.

2
Tingkat kematian anak-anak di negara berkembang masih lebih dari sepuluh kali
lipat lebih tinggi daripada yang ditemukan di negara-negara kaya. Kematian ini
pada umumnya disebabkan oleh berbagai kondisi yang sebenarnya bisa diatasi,
termasuk jutaan anak-anak yang tidak perlu meninggal tiap tahunnya karena
dehidrasi karena diare.

Mengapa sektor pendidikan ini menjadi sangat penting dan menjadi sektor
unggulan dalam pembangunan nasional suatu negara, termasuk bagi suatu daerah
otonom?

 Pertama, hasil (outcome) pendidikan memiliki dampak yang besar


terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di suatu
daerah atau negara. Pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam berbagai
bidang kehidupan, baik ideologi, politik, sosial, ekonomi, dan budaya,
amat tergantung dari hasil pendidikan yang berkualitas. Kesadaran tentang
pentingnya menjaga kesehatan, sebagai contoh, merupakan hasil kerja
pendidikan. Dengan demikian, kegiatan sosialisasi tentang pentingnya
menjaga kesehatan tidak perlu banyak dilakukan oleh kementerian
kesehatan jika proses pendidikan telah berhasil membentuk pengetahuan,
sikap, dan keterampilan tentang kesehatan. Dampak langsung maupun
tidak langsung juga berlaku terhadap sektor-sektor pembangunan yang
lainnya, termasuk sektor yang selama ini dinilai paling penting, yakni
sektor ekonomi.

Pembangunan sektor pendidikan akan meningkatkan produktivitas dan


daya saing suatu bangsa. Peningkatan produktivitas mempunyai kaitan erat
dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara atau daerah. Tingkat rata-rata
pendidikan masyarakat mempunyai korelasi yang berbading lurus dengan
tingkat ekonomi masyarakat. Makin tinggi tingkat pendidikan masyarakat,
akan makin tinggi pula peran serta masyarakat, termasuk wanitanya.
Dengan demikian, makin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, makin
tinggi pula produktivitas masyarakat. Dengan kata lain, makin tinggi

3
tingkat pendidikan masyarakat, makin tinggi pula income perkapita
masyarakat. Dengan demikian, sekali lagi pembangunan sektor pendidikan
akan mengangkat secara langsung ataupun tidak langsung sektor ekonomi.
Jika sektor ekonomi saja banyak didukung oleh sektor pendidikan, apakah
lagi dengan sektor-sektor lainnya.

 Kedua, hasil pembangunan sektor pendidikan yang diharapkan adalah dari


perubahan sikap mental masyarakat, katakanlah misalnya dalam bidang
kesehatan. Pendidikan yang baik pada hakikatnya akan mengubah sikap
mental atau kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga
kesehatan, misalnya termasuk tentang bahaya narkoba dan bahkan bahaya
HIV dan AIDS. Sebagai contoh, di Zambia, remaja usia 15 sampai 19
tahun yang telah menerima pendidikan menengah, memiliki kemungkinan
kecil terjangkit virus AIDS daripada mereka yang kurang berpendidikan
(UNESCO).
Contoh lain, tingkat pendidikan yang tinggi dalam masyarakat akan
berpengaruh secara signifikan terhadap upaya pengendalian laju
pertambahan penduduk. Peningkatan rata-rata pendidikan masyarakat akan
meningkatkan rata-rata usia kawin, dan dengan demikian akan menekan
angka kelahiran, dan pada gilirannya akan menekan angka pertambahan
penduduk di suatu negara. Dengan demikian, pembangunan sektor
pendidikan akan berpengaruh sangat positif terhadap sektor-sektor lain.

Peningkatan kesehatan dan pendidikan merupakan nilai investasi bagi


keluarga untuk keluar dari jebakan lingkaran setan kemiskinan. Kesehatan
dan pendidikan berkaitan sangat erat dalam pembangunan ekonomi.
Kesehatan dan pendidikan adalah investasi yang dibuat dalam individu
yang sama. Modal kesehatan yang lebih baik dapat meningkatkan
pengembalian atas investasi dalam pendidikan karena kesehatan adalah
faktor penting atas kehadiran disekolah, anak-anak yang sehat lebih
berprestasi disekolah dapat belajar secara lebih efisien, kematian yang
tragis pada anak-anak usia sekolah juga meningkatkan pengembalian atas

4
investasi dalam pendidikan, dan individu yang sehat lebih mampu
menggunakan pendidikan secara produktif disetiap waktu dalam
kehidupannya. Modal pendidikan yang lebih baik dapat meningkatkan
pengembalian atas investasi dalam kesehatan karena banyak program
kesehatan bergantung pada berbagai keterampilan yang dipelajari
sekolah, sekolah mengajarkan pokok-pokok kesehatan pribadi dan
sanitasi, dan dibutuhkan pendidikan untuk membentuk dan melatih
petugas pelayanan kesehatan. Dengan perbaikan efisiensi produktif dari
investasi dalam pendidikan dapat meningkatkan pengembalian atas
investasi dalam kesehatan yang meningkatkan harapan hidup.

Tingkat kesehatan dan pendidikan telah meningkat, baik di Negara maju maupun
dinegara berkembang, namun ukuran kemajuan yang lebih cepat terjadi di
Negara-negara berkembang. Akibatnya, terdapat sejumlah konvergensi
internasional dalam berbagai ukuran ini. Hal ini sangat berlawanan dengan
pendapatan perkapita, yang kurang atau tidak menampakkan tanda-tanda
konvergensi antar Negara. Meskipun jurang kesehatan dan pendidikan antara
Negara-negara berkembang dengan Negara maju masih tetap lebar, dan perbaikan
dimasa depan tidaklah gampang, namun kemajuan yang terjadi hingga saat ini
tidak dapat dipungkiri.

Tingkat Proporsi bersekolah mencerminkan perubahan investasi yang cepat


dibidang pendidikan, ketimbang menunggu pendidikan anak-anak pada saat ini
dibandingkan dengan tingkat pendidikan seluruh masyarakat ketika mereka
menjadi dewasa. Namun demikian, ada juga keuntungan untuk mengukur
kemajuan dengan ”stok pendidikan”, atau tingkat pendidikan rata-rata dalam
masyarakat secara keseluruhan, karena seseorang dapat masuk kesekolah dasar
namun tidak dapat menyelesaikannya.

Di negara-negara miskin tingkat kematian anak, masih saja meninggal dengan


tingkat 10 kali lipat lebih tinggi dari pada negar maju. Disamping itu, pola-pola
yang lebih diterapkan dimasa lalu tidak dapt sepenuhnya digunakan untuk

5
meramalkan tren masa depan. Sebagai contoh, juga mungkin terjadi bahwa tingkat
konvergensi itu sendiri berjalan dengan lambat. Baru-baru, sejumlah kemajuan
kesehatan di Negara-negara miskin sudah dilakukan dengan susah payah ternyata
mengalami serangan penyakit lain, terutama dari AIDS, juga tuberculosis (TBC),
wabah malaria yang muncul kembali,dan bakteri-bakteri baru yang lebih resisten.

Pada bagian sebelumnya tingkat kesehatan dan pendidikan jauh lebih baik
dinegara berpendapatan tinggi, Mengapa terjadi sebab-akibat seperti demikian?.
Dengan pendapatan yang tinggi, masyarakat dan pemerintah mampu
mengeluarkan uang yang lebih banyak untuk pendidikan dan kesehatan, dengan
kesehatan dan pendidikan yang lebih baik produktivitas dan pendapatan yang
lebih tinggi akan lebih mudah dicapai. Karena adanya hubungan ini, maka
kebijakan pembangunan harus difokuskan pada upaya untuk meningkatkan
pendapatan, kesehatan, dan pendidikan secara bersama-sama.

Sebagai barang normal orang akan “membeli” lebih banyak modal manusia
(human capital) jika pendapatannya naik. Namun bukti-bukti yang ada
menunjukkan bahwa meskipun kita mampu menaikkan pendapatan tanpa harus
memperbaiki kesehatan dan pendidikan secara signifikan, kita tidak dapat
memastikan bahwa peningkatan pendapatan tersebut akan diinvestasikan kedalam
pendidikan dan kesehatan anak secara memadai. Pasar tidak akan memecahkan
persoalan tersebut secara otomatis, dan dalam berbagai kasus telah ditemukan
bahwa pilihan konsumsi rumah tangga itu sendiri tidak menunjukkan keterkaitan
yang kuat antara peneluaran dan pendapatan untuk peningkatan gizi, terutama
untuk anak-anak.

Terdapat sebuah literature ekonomi mengenai elastisitas pendapatan dari


permintaan akan kalori, yaitu perkiraan perubahan persentase konsumsi kalori
dibandingkan dengan perubahan persentase pendapatan keluarga. Bukti yang ada
menunjukkan bahwa semakin tingi tingkat pendidikan sang ibu semakin baik
tingkat kesehatan anaknya. Biasanya, pendidikan formal dibutuhkan sebagai
pelengkap akses ke informasi terbaru.

6
Paul Glewwe menemukan bahwa pengetahuan seorang ibu memberikan dampak
positif terhadap kesehatan anaknya.

Kemudian, kita dapat menyimpulkan bahwa, terdapat imbasan yang penting dari
investasi seseorang dalam pendidikan dan kesehatan. Orang yang berpendidikan
akan memberi manfaat kepada orang-orang lingkungannya, seperti membaca
untuk mereka atau menciptakan inovasi yang berguna bagi komunitasnya.
Akibatnya, akan terdapat kegagalan pasar yang signifikan dalm pendidikan. Lebih
jauh, orang yang sehat tidak akan menularkan penyakit, tetapi bermanfaat dalam
komunitasnya dalam banyak hal,yang tidak dapat dilakukan oleh orang sakit.
Karena adanya dampak imbasan seperti itu, maka pasar tidak dapat diandalkan
untuk dapat memberikan level kesehatan dan pendidikan yang efesien secara
social. Oleh karena itu WHO menyimpulkan dalam World Health Report tahun
2000 tentang system kesehatan bahwa “Tanggung jawab utama atas kinerja
sisitem kesehatan terdapat di pundak pemerintah”. Pejabat yang bijaksana
dinegara berkembang akan mengambil pelajaran dari berbagai studi yang
menunjukkan keterkaitan antara kesehatan, pendidikan, dan pendapatan, serta
merancang suatu strategi terpadu.

Analisis atas investasi dalam bidang kesehatan dan pendidikan menyatu dalam
pendekatan modal manusia. Modal manusia (human capital) adalah istilah yang
sering digunakan oleh para ekonom untuk pendidikan, kesehatan dan kapasitas
manusia yang lain yang dapat meningkatkan produktivitas jika hal-hal tersebut
ditingkatkan. Sebuah analogi terhadap investasi konfensional dalam modal fisik
telah dibuat setelah investasi awal dilakukan, maka dapat dihasilkan suatu aliran
penghasilan masa depan dari perbaikan pendidikan dan kesehatan. Akibatnya
suatu tingkat pengembalian (rate of return) dapat diperoleh dan dibandingkan
dengan pengembalian dari investasi yang lain. Hal ini dilakukan dengan cara
memperkirakan nilai diskonto sekarang dari aliran pendapatan yang meningkat
yang mungkin di hasilkan dari investasi-investasi ini akan kemudian
membandingkannya dengan biaya lansung dan tidak lansungnya. Tentu saja,
pendidikan dan kesehatan juga berkontribusi lansung terhadap kesejahteraan,

7
namun pendekatan modal manusia berfokus pada kemampuan tidak langsung
untuk meningkatkan utilitas dengan meningkatkan pendapatan. Pada bagian ini,
kita secara umum akan mengambarkan beberapa poin yang berkaitan dengan
investasi di bidang pendidikan, namun prinsip yang sama juga berlaku untuk
investasi di bidang kesehatan.

Bagi seseorang dinegara berkembang yang memutuskan untuk melanjutkan


pendidikan ketingkat atas akan mengorbankan 4 tahun pendapatan yang tidak
akan di perolehnya karena bersekolah. Hal ini adalah biaya tidak langsung. Anak
tersebut dapat saja bekerja separuh waktu, namun kemungkinan itu diabaikan
disini untuk menyederhanakan. Jika anak itu bekerja secara paruh waktu, maka
hanya sebagian dari daerah biaya tidak lansung yang berlaku.

Disamping itu, juga terdapat biaya langsung seperti biaya sekolah, seragam
sekolah dan pengeluaran lain yang tidak akan dikeluarkan jika anak tersebut tidak
melanjutkan sekolah begitu lulus dari sekolah dasar. Selama sisa hidupnya, dia
akan berpenghasilan yang lebih besar, dibandingkan bekerja dengan berbekal
ijazah SD.

8
KESIMPUL AN
Pembangunan merupakan hal yang harus dilaksanakan demi terwujudnya suatu
tujuan yang ingin dicapai. Dan untuk membangun segala aspek yang ada di
negara ini bukanlah hal yang mudah. Bangsa Indonesia perlu melakukan revolusi
pola pikir, sebagai satu cara cepat yang dapat digunakan sebagai proses
penyadaran yang menyeluruh bagi seluruh komponen bangsa, agar bangsa ini
tidak terlalu lama berada dalam perjalanan yang tidak pasti, akan ke mana, dan
harus bagaimana. Jika revolusi pola pikir dalam membangun dapat diterima dan
dipahami dengan baik, maka inovasi sosial dapat diselenggarakan, untuk itu:

1 . Orientasi pembangunan harus diubah dari orientasi fisik, ekonomi, dan


sektoral ke orientasi peningkatan sumberdaya manusia agar manusia
Indonesia dapat menjadi manusia yang mandiri, tanpa tergantung pada
pihak manapun, serta mampu mengarahkan dirinya sendiri mencapai
kesejahteraan hidupnya.
2 . Pendidikan informal, non formal, dan formal dengan segala jenjangnya
harus merupakan prioritas utama sebagai upaya meningkatkan mutu
sumberdaya manusia Indonesia.
3 . Perekonomian negara perlu segera disusun sebagai usaha bersama berdasar
atas asas kekeluargaan, yang bertujuan untuk tercapainya kesejahteraan
seluruh rakyat Indonesia, dan ini harus dilakukan dalam bentuk nyata,
artinya siapapun yang mau mengembangkan usahanya, berhak mendapatkan
bantuan modal dari lembaga keuangan yang ada.
4 . Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya harus
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, artinya setiap
warganegara secara individu berhak atas hasil kekayaan alam yang secara
nyata telah dikelola dan mendapatkan keuntungan, wujud konkritnya dapat
diberikan melalui penyelenggaraan tabungan rakyat sebagai pembagian
keuntungan pengelolaan kekayaan alam, ini dapat merupakan wujud nyata
penyelenggaraan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat.

9
DAFTAR PUSTAKA
 LAN dan BPKP. 2000. Akuntabilitas dan Good Governance. Jakarta: Penerbit
Lembaga Administrasi Negara.

 Slamet, Margono.2004. Materi Kuliah MMT dalam Penyuluhan.Bogor:Program


Studi Ilmu PPN Institut Pertanian Bogor.

 Tjitropranoto.Prabowo.2005 .Materi Kuliah Metoda dan Desain Penelitian


Penyuluhan Pembangunan. Program Studi Ilmu PPN. Bogor: Institut Pertanian
Bogor.

 Todaro.MP.1995. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jakarta:Penerbit


Erlangga.

 Mulyadi,Dedy. 2004. Pembangunan Berbasis Kebudayaan. www. purwakarta. go.


id [September 2009]

10