Você está na página 1de 5

PERJALANAN HIDUP SIMON PETRUS

(batu karang yang teguh)


*) Sebuah kotbah Naratif
Lukas 22 : 54-62
Perjalanan Hidup Simon Petrus, klik !!! saksikan videonya

Nama saya aslinya Simeon, dalam bahasa Yunani orang memanggilnya Simon ,yang artinya
“pendengar”, biasanya saya juga disebut Kefas dan lebih keren lagi saya dipanggil Petrus yang artinya
”batu karang”, nama yang terakhir ini Yesus sang Guru yang secara langsung memberikannya. Saya
memiliki seorang saudara namanya Andreas, dia pernah menjadi murid Yohanes Pembaptis, kemudian
ia mengajak saya mengikut Yesus. Ayah saya namanya Yunus, itu sebabnya untuk membedakan dengan
orang lain yang kebetulan namanya sama, maka saya sering dipanggil Simon Anak Yona (Yunus) (lihat di
Matius 16 :17) kalau di Injil Yohanes beliau menyebut nama ayah saya Yohanes. Kota kelahiran saya
adalah Betsaida sekampung halaman dengan Filipus, kota Betsaida adalah suatu kota di daerah di pantai
Utara Tasik Galilea (Yoh. 12:21). Setelah menikah, saya juga sering tinggal di Kapernaum, tepatnya di
rumah mertua ( Matius 8:14)

Saya tidak mempunyai keahlian yang dapat dibanggakan seperti anda, saya bukan ahli komputer,
bukan akuntan, bukan ahli politik, bukan juga pemain musik yang handal, jangankan Piano alat musik
Kecapi saja saya tidak bisa. Pekerjaan saya hanya mewarisi keahlian ayah (Matius 4 :18), yakni
menangkap ikan. Suatu hari ketika kami sedang menebar jala di danau, tiba-tiba lewat seseorang yang
akhirnya saya kenal Dia yang bernama Yesus memanggil kami menjadi muridNya. Heran sekali, waktu itu
tanpa berpikir panjang mungkin sesuai karakter saya, maka bersama Andreas langsung saja kami
mengikutNya. ( Matius 1 :16-17)

Memang saya memiliki suatu kelemahan, yakni terlalu gampang melontarkan kata-kata tanpa
berpikir terlebih dahulu, itu sebabnya kadang kala saya melakukan kesalahan yang cukup fatal, tetapi
saya tidak merasa rendah diri dengan kelemahan ini, ketimbang dibanding orang lain yang lamban
berbicara karena harus berpikir terlalu lama sehingga tidak bertindak apa-apa. Pernah terjadi, tatkala
Yesus hendak kembali ke Yerusalem, saya mencoba menasihatiNya agar mengurungkan niatNya, bahkan
saya sempat menarik tanganNya. Sebenarnya maksud saya baik, sebab beberapa waktu yang lalu Yesus
hampir dibunuh di sana. Nah sekarang beliau hendak kembali lagi ke sana, dan saya menahanNya,
apakah saya salah? Kadang sudah tiga tahun lebih ber-Guru dengan Yesus, saya tetap saja tidak 100%
memahami betul keinginanNya. Bagi saya kalau Yesus hendak kembali ke sana, itu namanya cari mati.
Tetapi Yesus justru marah kepada saya, bahkan ucapanNya terhadap saya cukup keras “Enyahlah Iblis,
sebab engaku bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia”.
(Markus 8 : 33). Saya waktu itu diam saja tidak melawan, sebab bagimanapun Dia Guru saya, saya
perbuat demikian karena saya mengasihi dan menghormatiNya. Setelah saya berpikir sejenak, bukankah
Yesus itu lebih tahu dari saya, oleh sebab itu maka apa yang diputuskan di dalam hidupNya sudah pasti
yang terbaik. Saya mulai coba belajar mengerti jalan pikiranNya, memang cukup misterius.

Terus terang, dari segala kelemahan saya, ternyata saya masih memiliki pengenalan yang cukup
jelas pada Yesus dibandingkan dengan teman-teman sebelas orang lainnya. Pernah terjadi di Kaisarea
Filipi (Matius 16 :13-20) waktu itu Ia (Yesus) bertanya pada kami murid-muridNya “Kata orang siapakah
Anak Manusia itu?” Teman-teman saya ada yang mengatakan Elia, ada juga mengatakan Yohanes
Pembaptis dan Yeremia. Lalu tiba-tiba Yesus menunjuk ke arah saya, Ia bertanya : Siapakah Aku ini?”
Pada waktu itu dengan spontan dan lantang saya menjawab “ Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang
hidup!” Ternyata jawaban saya itu benar, saya tidak tahu kenapa; namun barangkali karena saya adalah
muridNya yang cukup senior, lagi pula saya termasuk murid yang cukup dekat dan akrab dengan Guru,
kemana Ia pergi selalu menyertakan saya dan dua orang teman yakni Yakobus dan Yohanes.

Banyak kenangan manis maupun pahit yang pernah saya alami selama menjadi murid Yesus. Saya
masih ingat jelas bahwa ibu mertua saya pernah disembuhkan sakit demamnya ( Markus 1 : 30),
kejadian luar biasa lain yang pernah saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri adalah, tatkala
sekitar 5000 orang laki-laki berkerumun mendengar pengajaran Guru, waktu itu sudah tiba jam makan,
kami sempat berbisik pada Yesus, agar secepatnya menyuruh mereka kembali ke rumah, sebab mereka
bakal kelaparan. Penjual asongan tidak ada di sini, depot makanan yang dekat juga tidak ada. Tetapi apa
lacur, justru Yesus menyuruh kami menyediakan makanan buat mereka. Tentu kami kelabakan, apalagi
diantara kami tidak ada yang berpengalaman kerja di restoran. Dan kalau pun ada, belum tentu dalam
waktu yang sesingkat ini dapat menyediakan makanan sebanyak itu.

Tetapi tiba-tiba muncul seorang anak yang bermurah hati, ia dengan rela menyerahkan lima roti
jelai dan dua ikan (Lih Yohanes 6: 9), makanan yang di tangannya itu sebenarnya merupakan makanan
untuk dirinya pada hari itu, tetapi ia rela menyerahkannya pada kami. Mulanya saya pesimis, mana
mungkin cukup, untuk saya sendiri saja masih kurang. Tetapi ternyata Guru saya luar biasa, Ia membuat
mujizat, makanan kecil itu telah mengenyangkan 5.000 orang dan masih tersisa dua belas bakul. (
Yohanes 6 : 1-15). Pernah kejadian lain lagi ketika Yesus berjalan di atas air, waktu itu saya meminta
kepada Yesus supaya saya boleh juga berjalan di atas air, ternyata Yesus mengabulkan permintaan saya,
sehingga ada pengalaman tersendiri yakni pernah juga berjalan di atas air, walaupun akhirnya saya
sempat hampir tenggelam karena ada angin yang kencang meniup ke arah saya. Kata Yesus
“Datanglah......” ( baca deh di Matius 14 : 29)

Memang sebagai murid, kami tidak pernah dijanjikan jabatan apa-apa oleh sang Guru, namun saya
sudah merasa cukup senang menjadi muridNya saja, mulanya kami merasa cukup akrab dan kompak
satu dengan yang lain. Memang ada dua orang teman kami Yakobus dan saudaranya pernah memanggil
ibunya datang menghadapYesus untuk membicarakan jabatan masa depan mereka, namun saya pikir ini
cukup manusiawi, kami tidak merasa tersinggung akan hal itu. Tetapai belakangan yang agak mengganjal
di dalam kelompok kami ini adalah, meneurut Guru kami ada salah satu diantara kami yang hendak
menjualNya. Terus terang , mulanya kami tidak mengetahui siapa orangnya, sebab kami memang tidak
menyangkanya.

Suatu hari , seperti biasanya ketika kami selesai mengadakan persekutuan, waktu itu kami diajak
pergi oleh Yesus ke Bukit Zaitun. Malam itu juga Yesus berkata kepada kami, “Malam ini kamu semua
akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis : “Aku akan membunuh gembala dan kawanan
domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea”
Waktu itu saya langsung meresponi apa yang diucapkan Yesus , “Biarpun mereka semua tergoncang
imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” Saya tidak berpikir panjang lagi, seperti seseorang yang
baru mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani atau Retreat dan bertobat di sana, masih semangat yang
berkobar-kobar saya menjawab Yesus. Namun saya kaget dengan ucapan Yesus yang tidak disangka-
sangka, Ia seakan-akan berkata demikian “Petrus, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah
menyangkal Aku tiga kali.” Namun saya tetap ngotot atas pendirian saya “ Sekalipun aku harus mati
bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Sehabis saya ucapkan demikian ternyata
teman-teman saya juga mengikutinya.

Malam selanjutnya saya ingat sekali, Yesus membawa kami ke Taman Getsemani dekat sungai
Kidron. Tempat ini tidak asing bagi kami, sebab Yesus selalu mengajak kami ke sini berdoa kalau waktu
senggang, semua murid-murid tahu kalau kita sering berkumpul di sini. Tiba-tiba dari kejauhan saya
melihat kasak-kusuk gerombolan orang datang, rupanya mereka hendak mencari Yesus. Herannya di
tengah gerombolan itu yang kemudian saya mengetahui adalah prajurit itu juga ada teman kami Yudas
Iskariot. Rupanya rekan saya itu sudah dibeli dengan uang, supaya menunjuk jalan ke tempat di mana
Yesus berada. Yudas kemudian mencium Yesus, rupanya itu meberi isyarat bahwa orang yang dicium itu
yang adalah Yesus. Pada waktu itu dengan gerakan reflek saya mengeluarkan pedang, lalu saya
hunuskan pada salah seorang hamba Imam Besar yang bernama Malkhus, tepat pada telinganya dan
putus. Namun rupanya Yesus tidak senang atas tindakan saya ini, akhirnya saya sarungkan pedang itu
kembali. Di Taman Getsemani Yesus masih sempat membuat mujizat dengan menempel kembali telinga
Malkhus yang putus.

Kemudian Yesus ditangkap dan dibawa pengadilan, berganti-ganti tempat sidangnya. Dari tidak
seberapa jauh saya bisa melihat bagaimana Yesus diintrogasi pada malam hari, kadang juga dihadirkan
saksi-saksi palsu. Di sisi lain rupanya ada orang-orang yang pernah melihat saya beberapa waktu yang
lalu, sehingga mereka secara samar-samar mengenali wajah saya. Saya masih ingat jelas sebanyak tiga
kali mereka mempertanyakan keberadaan saya. Saya bukannya mau membela diri, namun seperti
biasanya barangkali kalian juga pernah begitu, dari pada berurusan lebih panjang, maka lebih baik saya
katakan bahwa penglihatan mereka itu salah. Namun rupanya saat ini merupakan momen kenangan
yang palit bagi saya, sebab pada kali yang ke tiga saya mengatakan tidak mengenal Yesus, maka
berkokoklah ayam untuk yang ke dua kalinya, harcurlah hati saya waktu itu, terutama tatkala Yesus
menoleh ke arah saya, Dia tahu bahwa saya telah menyangkalNya, saya telah menyangkalNya, saya
telah menyangkalNya .(Yohanes 18 : 19-37, Lukas 22 : 54-62).

Singkat cerita pengadilan memutuskan bahwa Yesus harus dihukum mati di atas kayu salib seperti
layaknya seorang penjahat kelas kakap, dengan demikian maka pada Jumat sebelum perayaan Paskah,
Yesus dipaksa memikul kayu salib menuju Golgota. Di sana Ia disalibkan setelah melalui siksaan-siksaan
yang dahsyat. Saya sendiri waktu itu tidak dapat berbuat banyak, hanya menyaksikan saja dengan penuh
cucuran air mata. Yesus sang Guru tergantung mati di atas kayu salib dengan diiringi kegelapan di
seluruh permukaan bumi.

Setelah Yesus mati, saya merasa sangat kehilangan sekali, selain teman-teman masih berpencar,
dan rasanya tidak mungkin lengkap lagi. Apalagi akhirnya diketahui bahwa rekan saya Yudas Iskariot
yang mengkhianati sang Guru, maka bertambah sulit kami untuk bersatu kembali. Memang sangat
disayangkan, kami akhirnya mengetahui bahwa Yudas itu bunuh diri. Suasana duka masih terasa sekali,
kehilangan Guru juga teman, tetapi tentu kami tidak boleh terus-menerus berduka begitu, sebab
kehidupan masih panjang Bagi saya sudah saatnya kami berbuat sesuatu, ketimbang bergeming dan
bingung dengan keputusasaan. Suatu hari ketika kami berada di pantai bersama , waktu itu hadir
juga Tomas, Natanael, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid yang lain. Lalu saya melontarkan ide
untuk menangkap ikan. Tadi saya sudah katakan bahwa tidak ada keahlian apa-apa yang saya pernah
pelajari, latar belakang saya menangkap ikan hanya itu keahlian saya, itu sebabnya saya berpikir saat ini
sudah waktunya kembali ke sana. Rupanya ide saya disambut baik oleh teman-teman, sehingga mereka
semua juga mau mengikutinya. Coba kalian lihat Yohanes 21 : 3b teman-teman saya berkata demikian “
Kami pergi juga dengan engkau”, saya tidak memaksa mereka, semuanya secara suka-rela mengikuti
saya.

Malam itu kami dengan perahu segera menuju ke laut dan menangkap ikan, tetapi entah karena
sudah lama tidak menangkap ikan, atau karena “sial”, ssst boleh ngak saya katakan demikian, maka
sepanjang malam itu kami tidak mendapat ikan seekorpun. Tatkala hari mulai siang, maka Yesus hadir
juga di tepi pantai tanpa sepengetahun kami. Pada saat itu seakan-akan Ia memberikan perintah kepada
saya dan kawan-kawan untuk menebarkan jala, namun caranya bertolak belakang dengan tradisi kami.
Herannya pada waktu itu saya dan kawan-kawan tidak protes, padahal jelas sekali Dia bukan ahli
menangkap ikan, bukankah ayahNya seorang tukang kayu? Tetapi mengapa Dia mengajar kami
menangkap ikan? Luar biasa, hari itu jala kami penuh dengan ikan, untung jalanya tidak koyak. Kami
memperoleh seratus lima puluh tiga ekor ikan. Hari itu kami sarapan ikan bakar bersama.

Sesudah sarapan, tiba-tiba Yesus mengajak saya berbicara, Dia katakan “Simon anak Yohanes,
apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Maksudnya apakah saya ini mengasihiNya
melebihi kapal, jala, ikan dan orang-orang lain? Dari nada kata yang Yesus pakai, saya mendengar
bahwa pertanyaan “mengasihiNya” memakai kata “Agape” yakni Kasih Allah, terus terang saya tidak
sanggup menjawab itu, saya menjawabnya bahwa “Benar Tuhan , Engkau tahu bahwa aku mengasihi
Engkau” , saya mamakai kasih “Phileo”, kasih yang sesama manusia itu. Lalu kata Yesus “
Gembalakanlah dan berikanlah makan domba-dombaKu”. Saya berpikir tidak masalah, saya dan kawan-
kawan pasti akan mengerjakan tugas ini. Tanpa di duga kembali untuk kedua kali Yesus bertanya kepada
saya “ Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Kali ini Yesus tetap memakai kata kasih
“Agape”, tetapi saya menjawabnya dengan kata Kasih “Phileo” yakni “ Benar Tuhan engkau tahu bahwa
aku mengasihi Engkau”, lalu Yesus katakan “ Gembalakanlah domba-dombaKu” Untuk ke tiga kalinya
Yesus bertanya kepada saya “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku” . Oh pada saat itu
saya tidak tahan lagi, saya begitu sedih sekali. Rasa bersalah muncul di dalam hidup ini, saya jadi teringat
ayam yang berkokok dua kali itu. Saat ini rasanya hidup saya benar-benar tidak berarti apa-apa
dihadapan Yesus, omongan saya pasti sudah tidak dipercaya orang lagi. Saya malu, oh Tuhan saya malu.
Rupanya format pertanyaan kali ini sudah diubah sedikit oleh Yesus, kata “Mengasihi” sudah memakai
kata “Phileo”, maka jawab saya dengan kata kasih yang sama, sebab “Tuhan, Engkau tahu segala
sesuatu, Engkau tahu, bahwea aku mengasihi Engkau”. Kata Yesus lagi “ Gembalakanlah/ berilah
makanan kepada domba-dombaKu”

Saya pernah gagal, tetapi untunglah kegagalan saya tidak membuat saya putus asa. Peristiwa di
tepi danau itu membangkitkan kembali tekad saya untuk ikut Tuhan Yesus, kapal, jala dan ikan segera
akan saya tingalkan, sekarang saya bertekad akan ikut Yesus seumur hidup. Benar sekali, kalau kita
menyertakan hidup kita secara total pada Tuhan, pastilah Tuhan tidak pernah meninggalkan kita pula.
Buktinya, saya ini, heran sekali, Tuhan memakai saya luar biasa. Memang Emas dan perak tidak saya
miliki, namun di dalam nama Tuhan Yesus, yang lumpuh berjalan (Kisah 3 :1-8), orang yang mati juga
bangkit kembali (Kisah 9:1-140).
Kotbah yang saya sampaikan kepada umat Tuhan sangat terasa sekali kuasaNya, ada tiga ribu
orang yang bertobat terima Yesus( Kisah 2 :41) dan juga menyusul lima ribu orang (Kisah 4 :4) serta
setiap hari Tuhan menambah jumlah yang diselamatkan ( Kisah 2 : 47). Saya tahu, semua ini bukan
usaha saya secara pribadi, Roh Kudus yang menolong dan memakai saya..
Saya tetap setia melayani Tuhan, walaupun di sana-sini terdapat berbagai kesulitan, kadang saya
harus berhadapan dengan pihak pemerintah gara-gara pekabaran Injil ini, namun ingatlah ada pepatah
yang mengatakan bahwa “semakin dibabat , semakin merambat”, inilah prinsip Injil itu dikabarkan” Itu
sebabnya jangan putus asa dengan berbagai kesulitan yang anda alami, penderitaan anda masih kecil,
dibandingkan penderitaan saya terlebih-lebih Guru saya itu yang disalibkan itu.
Kadang di dalam pelayanan kita jatuh bangun, saya juga demikian, tidak luput dari kelemahan ini,
yang sangat menyakitkan bila ada rekan kerja juga menyikut kita, namun saya beruntung sebab ada
rekan sepelayanan yang berbaik hati, namanya Paulus. Ia dengan kasih menegur saya, sehingga saya
boleh kembali ke jalan yang benar (Galatia 2 : 11-14). Dukungan teman dan keluarga sangat perlu di
dalam melayani Tuhan, itu sebabnya dengan bangga saya ingin meperkenalkan isteri saya pada kalian
juga, kadang saya membawanya ke ladang pelayanan (I Korintus 9:5), namanya memang tidak disebut
oleh penulis Alkitab, tetapi tradisi menyebutnya Konkordia atau dipanggil juga Perpetua. Ia sangat setia
juga pada Tuhan, bahkan ia juga akhirnya rela mati untuk Tuhan. Sementara diakhir hidup, saya juga
mengalami berbagai siksaan karena kesetiaan saya pada Guru, terutama tekanan dari pemerintah
Romawi. Saya ditangkap sewaktu perjalanan meningalkan Roma, dan sejarah mencatat kematian saya
juga melalui kayu salib, namun yang terbalik. Saya mati demi pekabaran Injil ini, bagi saya itu bukan
kematian yang sia-sia, Injil yang pernah saya kabarkan tetap hidup sampai saat ini. Saya hanya mau
mengingatkan kita semua, bahwa suatu saat kita bakal meninggalkan dunia ini, namun apa yang kita
kerjakan buat Tuhan tetap ada di dunia sampai Yesus datang untuk kedua kalinya. Sudahkah anda
melakukan sesuatu yang terbaik untuk Tuhan? Anda boleh gagal, itu tidak masalah, bisa jadi itu biasa
bagi orang percaya; tetapi anda tidak boleh tergeletak, sebab itu tidak biasa. Mengapa? Karena Tuhan
Yesus pun sudah bangkit!!! Ia pasti menolong kita.