Você está na página 1de 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Potensi sumber daya batubara di indonesia sangat melimpah, terutama di pulau

Kalimantan dan pulau SumatEra, sedangkan di daerah lain dapat dijumpai batubara

walaupun dalam jumlah yang kecil dan belum dapat ditentukan keekonomisannya,

seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, dan Seulawesi . Batubara merupakan salah

satu sumber energy alternative yang sampai saat ini masih meningkat pesat dalam

pasaran dunia sebagai sumber energi yang berlimpah serta ekonomis .

Banyaknya perusahaan pertambangan batubara yang memanfaatkan batubara

sebagai komoditi utama untuk ekspornya, salah satunya seperti perusahaan

pertambangan PT. Kaltim Prima Coal (KPC). Perusahaan ini merupakan salah satu

terbesar di Indonesia khususnya di Kalimantan timur. Dengan semakin meningkatnya

perusahaan-perusahaan pertambangan di Kalimantan timur , maka ilmu pengetahuan

dan teknologi pun harus ditingkatkan guna menemukan ide-ide maupun metode yang

sangat tepat dan sesuai dalam melakukan pertambangan.

Praktek kerja lapangan (PKL) adalh suatu kegiatan yang dilakukan diluar

kampus, dan merupakan suatu kurikulum ysng dibuat untuk meningkatkan kualitas

sumber daya manusia bagi mahasiswa Teknik Universitas Hasanuddin Makassar .oleh

karena itu, program praktek kerja lapangan ini sangat membantu mahasiswa

mengembangkan dan mengasa kemampuan mereka saat terjun langsung dilapangan

kerja .

1
1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari dilakukannya penenlitian ini adalah untuk mengetahui

faktor-faktor yang mempengaruhi berubahnya nilai kalori pada Seam 27, Seam Nl, Dan

Seam Pr Lower Batubara .

1.3 Batasan masalah

Observasi ini terfokus kepada pengaruh atau faktor-faktor yang mempengaruhi

berubahnya nilai kalori di bebarapa seam batubara di Pt Kaltim Prima Coal (Kpc) .

1.4 Tahapan Kegiatan Kerja Praktek

Waktu pelaksanaan kerja praktek lapangan ini di mulai pada tanggal 26 januari

2017 sampai 06 Maret 2017 . tempat pelaksanaan di Pt Kaltim Prima Coal (kpc) , Divisi

MOD , Departemen Coal Mining Sangatta , Kutai Timur , Provinsi Kalimantan Timur

Tabel 1.1 Tahapan Kegiatan Kerja Praktek

FEBRUARI-MARET
NO KEGIATAN MINGGU 1 MINGGU 2 MINGGU 3 MINGGU 4 MINGGU 5 MINGGU 6
26 27 30 31 1 2 3 6 7 8 9 10 13 14 16 17 20 21 22 23 24 27 28 29 1 2 3 6 7
1SAFETY INTRODUCTION , MOD RULES , ORIENTASI DEPARTEMENT DAN PERSENTASI JUDUL KP
2 PENGAMBILAN DATA LAPANGAN
3 PERSENTASI MID , DAN PENYUSUNAN LAPORAN KP
4 PERSENTASI AKHIR , DAN PENYERAHAN LAPORAN KP

2
BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1 Profil Singkat Perusahaan

PT. Kaltim Prima Coal (KPC) adalah sebah perusahaan tambang batubara yang

terletak di pulau Kalimantan Timur. KPC yang berdiri pada tahun 1991 ini merupakan

perusahaan yang dimiliki oleh PT BUMI Resources Tbk. KPC dalam melaksanakan tugas

dan pekerjaannya selalu melibatkan secara aktif masyarakat dan pemerintah, terutama

pemerintah desa dan kecamatan, hal ini perlu dicontoh oleh perusahaan lain supaya

tidak semena-mena terhadap masyarakat sekitar khususnya yang bermukim disekitar

pabrik dan tempat eksplorasi. Perusahan tambang batubara KPC milik Grup Bakrie ini

memiliki sistem manajemen perusahaan yang baik mulai dari proses perencanaan

sampai dengan distribusi produk ke wilayah dan daerah yang membutuhkan.

KPC juga yang memegang kuasa eksplorasi dan penambangan untuk daerah

seluas 90.960 ha di Kecamatan Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan

Timur. Pada awalnya, KPC merupakan perusahaan joint ventura antara Conzinc Rio

Tinto Australia (CRA Limited) dan British Petroleum (BP) dari Inggris, tetapi sejak 10

Oktober 2003 seluruh saham PT. KPC yang dimiliki oleh kedua perusahaan tersebut

dijual kepada PT. Bumi Resources Tbk.

Pada tahun 1982 KPC menandatangani perjanjian dengan pemerintah Indonesia

yang isinya merupakan pengakuan pemerintah Indonesia terhadap KPC sebagai

perusahaan pertambangan yang berhak melakukan eksplorasi dan eksploitasi batubara

di daerah Kalimantan Timur, termasuk pemasaran (ekspor) batubara tersebut.

3
Informasi struktur geologi dan cadangan batubara di Kalimantan Timur

khususnya di daerah Sangatta diteliti oleh tim survey geologi Belanda pada tahun

1930. Pada tahun 1970, PT. Rio Tinto Indonesia melakukan kegiatan eksplorasi

lanjutan. Negoisasi perjanjian dengan pemerintah dimulai pada akhir tahun 1978 dan

berakhir pada tahun 1982. Hasil studi kelayakan penambangan yang selesai pada

tahun 1986 menyatakan cadangan batubara terukur diperkirakan berjumlah 360 juta

ton. Pada tahun 1988, PT. Kaltim Prima Coal telah menyelesaikan penyusunan rencana

operasi penambangan.

Penambangan konstruksi sarana serta infrastruktur lainnya dimulai pada tahun

1989. Produksi batubara secara menyeluruh dimulai sejak Agustus 1991 dan eksplorasi

resmi dibuka pada bulan September tahun 1991. Produksi komersial dimulai pada

tahun 1991 dengan produksi pengapalan batubara sebanyak 7,3 juta ton dicapai pada

tahun 1992. Peningkatan produksi pengapalan batubara meningkat terus mencapai

14,7 juta ton pada tahun 1998, tahun 2001 sebesar 15,7 juta ton dan rencana

produksi tahun 2015 adalah 50,7 juta ton. Dalam perjalanannya, kepemilikan saham

KPC telah beralih dari BP dan Rio Tinto ke Bumi Resources pada bulan Oktober 2003.

Kemudian pada bulan Juli 2007, 30% sahamnya dimiliki oleh PT. Tata Group India.

Adapun Visi dari Perusahaan tambang Batubara terbesar di Indonesia ialah

Produsen batubara terkemuka Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dunia, yang

memberikan nilai optimal bagi semua pemangku kepentingan. Sedangkan Misinya

sebagai berikut:

1. Memupuk budaya yang mengutamakan kesehatan, keselamatan, dan

lingkungan dalam segala tindakan.

a. Mematuhi peraturan perundangan kesehatan, keselamatan, dan lingkungan

yang berlaku.

4
b. Berupaya tanpa henti mempromosikan budaya praktik terbaik dalam

pengelolaan kesehatan, keselamatan, dan lingkungan.

2. Memelihara tata kelola perusahaan yang baik dan mempromosikan

perusahaan sebagai warga yang baik.

a. Mendukung pelaksanaan prinsip-prinsip transparansi, tanggung-gugat,

tanggung jawab, integritas, dan keadilan.

b. Peka terhadap falsafah bangsa dalam kehidupan sehari-hari.

3. Menyediakan lingkungan belajar untuk mencapai keunggulan dan

meningkatkan kesejahteraan.

a. Mendorong pemberdayaan karyawan.

b. Memberikan pengakua dan penghargaan atas kinerja yang unggul.

c. Mendorong terciptanya hubungan yang harmonis dan dinamis.

4. Mengoptimalkan nilai bagi semua pemangku kepentingan.

a. Memaksimalkan pengambalian investasi pemegang saham.

b. Memastikan para mitra diakui dan didorong memberikan pencapaian lebih

tinggi.

c. Mendorong terciptanya rasa saling memiliki, semangat kemitraan, dan

dukungan masyarakat terhadap operasi KPC.

5. Menyelenggarakan praktik pengelolaan dan operasi terbaik untuk

menghasilkan produk dan kinerja berkualitas tinggi secara konsisten.

a. Terus-menerus berupaya menjadi produsen batubara yang efisien.

b. Meminimalkan kerugian.

5
c. Memupuk budaya perbaikan berkesinambungan.

2.2 Lokasi dan Kesampaian Daerah

PT. KPC secara geogafis terletak pada 116°-118° BT dan 1°34’ LU-1°17’ LS,

berada di Kecamatan Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur.

Sangatta berada pada 150 Km di sebelah Utara Kota Samarinda dan 300 km di

sebelah Utara Kota Balikpapan. Lokasi daerah penambangan terletak di sebelah Utara

Sungai Sangatta yang berjarak 20 Km dari Pantai Timur Kalimantan (lihat Gambar

2.1).

Wilayah penambangan dibagi menjadi dua blok, yaitu blok Lembak yang terletak

di sebelah utara kota Sangatta dan blok Samarinda yang terletak di sebelah utara kota

Samarinda. Blok Lembak terbagi lagi menjadi dua wilayah, yaitu wilayah Pinang dan

wilayah Bengalon.

Untuk mencapai lokasi tersebut dapat melalui beberapa alternatif rute perjalanan :

 Melalui rute darat : Balikpapan–Samarinda–Simpang Bontang–Sangatta dengan

total jarak 370 km, dengan rincian 150 km dari Samarinda dan 220 km dari

Balikpapan, dengan kondisi jalan aspal agak rusak terutama jalur Samarinda–

Bontang dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat.

 Melalui rute darat : Bontang–Simpang Bontang–Sangatta, dengan jarak 65 km,

dengan kondisi jalan aspal yang cukup baik dan dapat ditempuh dengan

kendaraan roda empat.

 Melalui udara : dapat ditempuh dengan pesawat Cassa atau Twin otter dari

bandara Sepinggan Balikpapan ke bandara Tanjung Bara di Sangatta selama 50

menit.

6
Gambar 2.1 Lokasi Daerah PKP2B PT Kaltim Prima Coal
(Sumber : Mining Operation Division PT. Kaltim Prima Coal)

7
Gambar 2.2 Lokasi kuasa pertambangan PT. KPC (Sumber : Departemen Geologi PT.
KPC)

8
Gambar 2.3 Lokasi Penambangan PT. KPC, Tampak Atas
(Sumber : Departemen Coal Mining PT. KPC)

2.3 Keadaan Geologi

Keadaan geologi daerah PKL di PT. KPC berdasarkan fisiografi, stratigrafi, dan

struktur geologi adalah:

2.3.1 Fisiografi

Topografi di daerah Pinang adalah bergelombang dan kubah Pinang (Pinang

Dome) merupakan daerah tertinggi dengan ketinggian 325 meter di atas permukaan

laut dan titik terendahnya adalah tepi Selatan Selat Makassar. Penambangan

dipusatkan pada deposit Pinang yang sebagian besar topografinya berupa perbukitan.

Hal ini disebabkan adanya peristiwa pengangkatan perlapisan yang relatif masih muda

dan adanya peristiwa geologi lainnya seperti perlipatan dan patahan kecil. Permukaan

yang belum matang karena peristiwa pengangkatan yang masih muda mengakibatkan

lereng-lereng perbukitan mudah longsor. Terdapat dua sungai di daerah penambangan

9
PT. KPC yaitu sungai Sangatta yang mengalir di sebelah selatan dari daerah

penambangan dan sungai Murung yang merupakan anak sungai dari sungai Sangatta.

Sungai Murung mengalir membelah daerah penambangan dari arah selatan ke arah

utara.

Tmpb

Tmb
Tmpb a

Tmba

Se
kur
D au
LOCATION MAP U Ant
D icli
U
kLemba ne
Sy
S. Fa ncl
Le ult in
mb
Pe e
ak
BENGALON ne
ba
Rantau Fault ng
a
n
Oa Tmpb
Fault
Tpkb
Pa
lo
ng
S. Bengalon S.
Sek
ura PORT
u SITE
Sepaso Baru
M
Qa
ak
Qa
S. Bengalon as
sa
Tmpb Sy
ncl Tmba NORTH
r
ine
PINANG St
Ru
ntu
Tmba ra
Tmpb
it
Le
Tmpb mb Tmp
ak Fault
PINANG Villa
MELAWAN Sy
NORTH DOME U EAST
Ant ncl
ine D PINANG
icli WEST
ne PINANG
Tmba LEGEND
MELAWAN
Mel Limit of Lembak Block
WEST aw
an (DU 417) 90,706 Ha
Limit of KPC Exploitation
S. Tanjung Bara (DU1517) 9,618 Ha
San
gatt Sangatta Seam Subcrop
Papa
a Baru
Charlie Qa
Teluk
Lingga
KUTAI NATIONAL PARK Tpkb
Qa
Tmba

Sangatta Tmpb

Scale 1:100000 Tmp


S. Sangatta
0 2. 5 10Km
5 River
Road

REGIONAL GEOLOGY
LEMBAK EXPLORATION
BLOCK
Gambar 2.4 Geologi Regional PT Kaltim Prima Coal (Sumber : Departement Geologi
Drawn by drafting section -P&T- geology/Lembak2.prs

PT. Kaltim Prima Coal)

2.3.2 Stratigrafi

Stratigrafi daerah Pinang dari yang tua adalah formasi Pamaluan, formasi Pulau
Balang, dan formasi Balikpapan (lihat Gambar 2.5). Formasi-formasi tersebut banyak

10
mengandung batubara. Endapan batubara tersebut terbentuk pada masa tersier yang
merupakan Cekungan Kutai.
FIGURE 9
STRATIGRAPHY COLUM N OF PINANG & MELAWAN AREAS
(Reviewed 31.12.95 Mine Geology Dept. PT Kaltim Prima Coal)

STRATIGRPHIC
THICKNESS
(Metres)
LITHO -
FORMATION LOGICAL
COAL SEAM LITHOLOGICAL CHARACTERISTICS
COLUMN NAME

1500 Mudstone, sandstone, siltstone, thin coal sequence


K1 (Additional coal seams continue above this section)

Kedapat
1400 Mudstone, siltstone, sandstone and coal.
MA1 Main West Pinang coal deposit sequence containing
Mandili coal seams from the Sangatta to Kedapat seam.
BALIKPAPAN 1300 Mudstones typically show ironstone nodules and bands.
P7
BEDS P6
P5 Sandstone beds up to 10 metres thick.
P4
P3
1200 P2
P1
Pinang
MI 1
1100 Middle
Sangatta Dominantly mudstone, siltstone with thick channel
B2 sandstone units (10-30 metres thick)
B1
1000 Bintang In the South of Pinang area, the Prima and Bintang

Prima seams are significant reserves but these seams thin


to the north where the sandstone units become more
900 predominant in the sequence.

800 Melawan

Benu
700 Jorang

600 Tempudau
Pamungkas

500 Coal seam 0.5 to 2.00 metre thick only, usually with
high Sulpur content (>1.00%).
North Melawan Fluvial sandstone with coal detritus in upper of interval
400
Bara Mutu

Gendeng

PULAU 300 Panjol


BALANG

Coal seams in this interval Dominantly mudstone and siltstone interval with thin
200
have not been named calcareous sandstone beds, fine grained thin coralline
limestone and bioturbated sandstone in lower part of interval

100 No Coal of economic significance in this part of the sequence

0
Limestone, coralline marker bed at base of coal sequence
PAMALUAN Mudstone, fine laminated calcareous sandstone thin
Limestone bands.
D RAWN BY D RAFTIN G SEC TIO N -P&T- G EO LO G Y\STRATA1.PRS
* NB : Coal S eam Names - Loc al Interpretati on and Nomenc l ature

Gambar 2.5 Stratigrafi daerah pinang (Sumber : Departemen Geologi PT. KPC)

Formasi Pamaluan tersusun dari batu lempung, batu pasir gampingan, batu
gamping tipis, dengan lapisan penunjuk batu gamping koral. Formasi Pulau Balang
dengan ketebalan ± 400 meter, dominan tersusun oleh batu lempung, batu lanau
dengan lapisan tipis batu pasir gampingan, batu gamping koral, dan batu pasir dengan
fragmen batubara. Formasi Balikpapan dapat di bagi menjadi tiga, yaitu bagian bawah

11
yang terdiri dari batu lempung, batu lanau, dan alur-alur batu pasir serta lapisan
batubara Prima, Bintang, B1, dan B2. Pada bagian tengah tersusun atas batu lempung,
batu lanau, batu pasir, dan batubara dengan ketebalan 1-20 meter. Lapisan batubara
tersebut yaitu : Sangatta, Middle, M1, Pinang, P1, P2, P3, P4, P5, P6, P7, Mandili,
Kedapat, dan K1. Formasi balikpapan yang mempunyai ketebalan lebih dari 500 meter
terletak selaras di atas formasi Pulau Balang dan endapan yang ekonomis terletak di
bagian bawah formasi balikpapan yang berkala Miosen.

2.3.3 Struktur geologi

Daerah Pinang termasuk dalam formasi Balikpapan dan terletak di bagian Timur
Laut lembah Kutai. Struktur Kubah Pinang didominasi oleh perlipatan–perlipatan yang
membentuk serangkaian antiklin yang berpusat di Samarinda dan memiliki
kecenderungan arah Utara–Timur.
Struktur geologi utama yang terdapat di daerah formasi Balikpapan adalah
Kubah Pinang, dimana terdapat struktur antiklin dengan arah Utara, dan patahan
normal yang memiliki kecenderungan arah Timur–Barat Daya. Struktur geologi yang
banyak terdapat di sekitar kubah Pinang merupakan perlapisan dan kekar.
Jenis batuan utama tanah penutup adalah siltstone, mudstone, dan sandstone.
Ketebalan interburden relatif tetap. Mudstone dan sebagiannya carbonaceous,
biasanya berbatasan langsung dengan lapisan batubara. Sandstone tidak ditemukan
dalam keadaan menerus secara lateral, melainkan berbentuk lensa dalam berbagai
ukuran.

Dari uji kuat tekan batuan (UCS), terlihat perbedaan kuat tekan uniaksial yang
cukup besar antara sandstone (19,0 Mpa) dan siltstone (18,4 Mpa) terhadap mudstone
(2,0 Mpa). Density insitu rata-rata batuan utama dan lapisan batubara adalah 2,48
ton/bcm, 2,40 ton/bcm, 2,37 ton/bcm, 1,27 ton/bcm berturut-turut untuk siltstone,
mudstone, sandstone dan batubara.

2.3.4 Sejarah Geologi


Pada kala Oligosen, wilayah pembentukan batubara Pinang merupakan
Cekungan Kutai yang mengalami penurunan menjadi sedimen laut dangkal, terutama
mudstone dan sandstone halus dari Bongan Shale hingga terbentuk Formasi Pamaluan.

12
Pada kala Miosen awal, pengangkatan wilayah ke arah Barat telah
menghasilkan banyak suplai sedimen yang masuk ke Cekungan Kutai dan
menghasilkan Formasi Delta, salah satunya adalah wilayah Sangatta. Pengumpulan
endapan delta pada saat awal mengakibatkan terbentuknya Formasi Pulau Balang
terutama paparan delta yang lebih rendah dari endapan laut dangkal, dan diikuti oleh
Formasi Balikpapan yang terdiri dari mudstone, batu lempung dan batu pasir. Di dalam
Formasi Balikpapan tersebut terdapat sejumlah peat yang pada akhirnya akan
membentuk lapisan batubara Pinang Barat. Penurunan yang terjadi di wilayah ini
diduga tidak serentak sehingga menimbulkan terbentuknya patahan-patahan.
Deposit yang membentuk Formasi Balikpapan kemudian diikuti dengan
pembentukan Formasi Kampung Baru pada kala Pilosen. Selama kala Pilosen Marine
dari Bongan Shale dan Formasi Pamuluan mengalami tekanan. Terobosan perlapisan
endapan oleh deposit dari Bongan Shale dan Formasi Pamuluan mengakibatkan
terbentuknya struktur antiklin dengan sinklin melalui Cekungan Kutai, sebagian Kubah
Pinang dan sinklin lembah wilayah Pinang.

2.4 Iklim dan Curah Hujan

Seperti halnya daerah lain di Indonesia, Sangatta dan sekitarnya beriklim tropis
yang dipengaruhi oleh dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim
hujan terjadi pada bulan November sampai dengan bulan Juli, sedangkan musim
kemarau terjadi pada bulan Juli sampai dengan bulan Oktober.
Daerah Sangatta memiiki iklim dengan curah hujan yang relatif tinggi. Data
curah hujan rata–rata daerah Sangatta dan sekitarnya (khususnya area tambang dan
pelabuhan Tanjung Bara) untuk tahun 2015 dapat di lihat pada Gambar 2.6, nilai
maksimum pada bulan Januari (area tambang : 297,8 mm/bulan, area pelabuhan
Tanjung Bara : 345,5 mm/bulan) dan nilai minimum pada bulan Agustus

13
Data Curah Hujan Rata-Rata
Tahun 2015
400
300
mm

200
100
0

Area Tambang Area Pelabuhan Tj. Bara

Gambar 2.6 Curah hujan rata-rata per bulan di PT. KPC, tahun 2015
(Sumber : Departemen Environment PT. KPC)

Gambar 2.7 Alat pemantau hujan (Sumber : Dokumentasi Peserta PKL)

14
2.5 Cadangan dan Kualitas Batubara

2.5.1 Cadangan Batubara PT Kaltim Prima Coal

Pit B
Pit A

Big AB

North Pinang Series


Pelikan / Kancil

Melawan West
Bendili

Mustahil / Khayal

Harapan South

Pit J Series

Awan / Peri Belut / Beruang

Gambar 2.8 Peta Cadangan Batubara PT KPC (Sumber : Departemen Geologi PT.
KPC)

Sumberdaya dan cadangan batubara yang dimiliki PT Kaltim Prima Coal per Desember
2010 dapat dilihat pada gambar 2.8.

Adapun perinciannya adalah sebagai berkiut :


Recoverable Reserves
Total 940 Mt :
 Sangatta 788
 Bengalon 152
Measured & Indicated Resources (tambahan untuk Reserves)
Total 5.262 Mt
 Sangatta 4.136
 Bengalon 1.126

15
Lapisan – lapisan batubara di KPC memiliki kadar abu dan sulphur yang rendah,
dengan variasi ketebalan dari 0.5 – 15.0 meter.
Lapisan-lapisan yang berbeda digunakan langsung ataupun dicampurkan utuk
menghasilkan suatu GAR products.

2.5.2 Kualitas Batubara PT Kaltim Prima Coal

Kualitas batubara PT. KPC di daerah Sangatta diklasifikasikan menjadi dua


golongan, yaitu kualitas Prima dengan niai kalor lebih dari 6600 kkal/kg dan kualitas
Pinang dengan niai kalor 5700-6550 kka/kg. Kriteria penggolongan tersebut
berdasarkan lengas total (total moisture) dan niai kalor (calorivic value).
Menurut klasifikasi ASTM batubara PT. KPC termasuk grup ”High Volatile C
Bituminous Coal” dengan nilai kalor 11.500–13.000 BTU/lb atau setara dengan
6.424,58–7.262,57 kkal/kg (1,79 BTU/lb=1 kal/kg) dan bobot isi antara 1,3–1,5
gr/cm³.
Kelompok lapisan batubara utama yang dijumpai di operasi tambang PT. KPC
adalah Prima, Pinang dan Melawan dengan nilai kalor tertinggi dimiliki oleh lapisan
batubara. Perbandingan kualitas antara ketiganya bisa dilihat di Tabel 2.1.

16
Tabel 2.1 Kualitas Batubara PT. KPC

Karakteristik PRIMA PINANG MELAWAN


Proxymate Analysis
(ADB)

Moisture, % 5,0 9,0 18,0


Ash, % 5,0 5,5 3,0
Volatile, % 41,0 40,5 38,0
Fixed Carbon, % 49,0 45,5 41,0

Caloric Value (CV)

Air Dried, kcal/kg 7100 6546 5735


Gross as received, kcal/kg 6689 6150 5350
Net as received, kcal/kg 6389 5850 5009

(Sumber : Coal Technical Service PT. KPC)

Namun seiring dengan berkembangnya kegiatan penambangan PT. Kaltim


Prima Coal dan juga seiring kegiatan eksplorasi yang terus dilakukan diikuti dengan
ditemukannya cadangan- cadangan batubara baru, kini batubara di PT. Kaltim Prima
Coal dikategorikan kedalam enam kualitas, yaitu : Prima, Pinang High Energy, Pinang,
Pinang Low Energy, Pelikan, Melawan dengan nilai Calorific Value dan Total Sulfur
sebagai berikut.

17
(a) Kategori produk berdasarkan nilai CV dan Ash
Product Category just based on CV and Ash cut off
ASH (adb)
CV (gar) <2.0 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 6.0 6.5 7.0 7.5 >7.5
>6700
6700
6650
6600
6550
6500
6450
6400
6350
6300
6250
6200
6150
6100
6050
6000
5950
5900
5850
5800
5750
5700
5650
5600
5550
5500
5450
5400
5350
5300
5250
5200
<5200

(b) Kategori produk berdasarkan nilai CV dan TS


TS (adb)
CV (gar) <0.15 0.15 0.20 0.25 0.30 0.35 0.40 0.45 0.50 0.55 0.60 0.65 0.70 > 0.70
>6700
6700
6650
6600
6550
6500
6450
6400
6350
6300
6250
6200
6150
6100
6050
6000
5950
5900
5850
5800
5750
5700
5650
5600
5550
5500
5450
5400
5350
5300
5250
5200
<5200

Gambar 2.9 (a) dan (b) Kualitas Batubara PT. Kaltim Prima Coal (KPC) (Sumber : Coal
Technical Services PT KPC)

18
2.6 Target Produksi

Permintaan batubara yang semakin meningkat menyebabkan PT. KPC juga


meningkatkan produksi pertahunnya. Pada tahun 2015 ini PT. KPC berencana untuk
meningkatkan produksi batubara menjadi sebesar 50,7 juta ton. Produksi baik
batubara maupun material overburden yang telah dicapai dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Produksi batubara dan overburden PT. KPC tahun 2000-

2014

Produksi Batubara Produksi


Tahun
(juta ton) Overburden (bcm)
2000 13,5 103.434.429

2001 15,9 115.142.944

2002 18,4 145.813.032

2003 16,3 129.595.289


2004 22,1 168.818.320

2005 27,5 259.125.850

2006 32,5 304.191.880

2007 30,6 287.044.242


2008 31,5 307.852.241

2009 35,5 391.412.932


2010 39 460.000.000

2011 46,3 530.200.000


2012 57,3 519.472.000

2013 42,9 465.379.957

2014 44,2 436.066.702

(Sumber : Coal Technical Service PT. KPC)

2.7 Kegiatan Penambangan

Kegiatan penambangan pada PT. KPC menggunakan sistem tambang terbuka


dengan metode konvensional alat muat dan alat angkut. Operasi penambangan
berlangsung selama 24 jam sehari yang terdiri dari 2 shift dengan 3 kru operasional

19
(Alpha, Bravo, dan Charlie). Adapun urutan kegiatan penambangan di PT. KPC secara
garis besar meliputi pembersihan lahan, penggalian overburden, penimbunan
overburden, penggalian batubara, reklamasi lahan, pengolahan dan pengapalan
batubara :

2.7.1 Pembersihan Lahan

Pembersihan lahan (land clearing) bertujuan untuk membersihkan lahan dari


jenis tumbuhan yang ada di daerah tersebut. Kegiatan land clearing ini dilakukan oleh
pihak PT. KPC bekerjasama dengan Dinas Kehutanan dan PT. Porodisa, sehingga kayu-
kayu di area land clearing menjadi hak milik perusahaan kayu PT. Porodisa. Alat yang
digunakan untuk membersihkan lahan adalah bulldozer.
Tanah penutup yang paling atas (top soil) yang kaya akan unsur hara bagi
tumbuh-tumbuhan dikupas dan dikumpulkan pada suatu tempat tertentu yang
nantinya akan disebarkan sebagai lapisan teratas pada lokasi penimbunan (dumping
area) untuk keperluan reklamasi daerah bekas tambang.

2.7.2 Penggalian Overburden

Dalam melakukan kegiatan penggalian overburden, PT.KPC hampir selalu


menggunakan metode drill and blast. Bahan peledak yang digunakan adalah fortis
eclipse yang terdiri dari 45% Ammonium Nitrate (AN) dan 55% Ammonium Nitrate
Emulsion (ANE). Fortis eclipse dirancang untuk keperluan penambang open cut dengan
kandungan sulfide pada overburden yang sedikit reaktif. Spesifik density dapat
disesuaikan dengan peledakan yang diinginkan. Fortis eclipse dapat digunakan untuk
lubang tembak yang basah, kering atau setengah kering. Material overburden hasil
peledakan kemudian dimuat ke dalam dump truck dengan menggunakan shovel atau
backhoe.

2.7.3 Penimbunan Overburden

Sebelum dilakukan penimbunan, material overburden tersebut harus


diidentifikasi terlebih dahulu apakah termasuk material Non Acid Forming (NAF) atau
material Potential Acid Forming (PAF). Tujuan akhirnya adalah untuk menghindari

20
terjadinya Air Asam Tambang (AAT) akibat beraksinya material PAF dengan air dan
udara. Untuk itu diperlukan perlakuan khusus bagi material jenis ini saat dilakukan
penimbunan yaitu dengan menempatkan material PAF ini didasar timbunan kemudian
ditimpa dengan material NAF. Hal ini dimaksudkan untuk memutus interaksi antara air,
udara dan material PAF.

2.7.4 Penggalian Batubara

Untuk batubara dengan ketebalan lebih dari 5 meter, pembongkarannya


menggunakan peledakan dengan maksud agar mempercepat dan mempermudah
dalam proses pemuatan. Sedangkan batubara yang ketebalannya kurang dari 5 meter
atau terdapat material pengotor, biasanya dilakukan penggalian dengan
menggunakan ripper yang ditarik oleh bulldozer. Batubara yang tergali kemudian
dimuat kedalam dump truck, dengan menggunakan back hoe.

2.7.5 Reklamasi

Berdasarkan Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 18


Tahun 2008 tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang, Bab I, pasal 1, reklamasi
adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki kegunaan lahan yang terganggu sebagai
akibat kegiatan usaha pertambangan agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai
peruntukannya. .Tahap dalam kegiatan reklamasi lahan adalah sebagai berikut :
 Penimbunan berdasarkan lokasi dan tipe material
 Penyebaran tanah pucuk
 Preparasi yang terdiri dari kegiatan ripping dan drainage
 Penanaman tanaman

2.7.6 Pengolahan dan Pengapalan Batubara

Batubara yang telah ditambang selanjutnya diangkut menggunakan dump


truck, kemudian dibawa ke unit pengolahan (Coal Processing Plant/CPP). Sebagian
besar batubara yang diproduksi oleh PT. KPC tidak mengalami proses pencucian,
karena dianggap sudah cukup bersih. Pencucian hanya dilakukan pada batubara yang
berada di atas (roof) dan berada di bawah (floor) lapisan batubara tersebut. Produksi

21
batubara dari hasil pencucian sebesar ±4% dari keseluruhan produksi batubara PT.
KPC.
Di CPP, batubara tersebut akan diperkecil ukurannya hingga 50 mm
menggunakan crusher. Hasil dari crusher tersebut akan dibawa ke stockpile melalui
conveyor. PT. KPC memiliki dua lokasi stockpile untuk batubara yang sudah di
crushing. Yang pertama CPP stockpile, yang kedua terletak di Tanjung Bara Coal
Terminal. CPP Stockpile terbagi menjadi tiga yaitu stockpile I yang menampung
batubara Melawan, Prima, atau Pinang. Stockpile II yang menampung batubara
Melawan. Dan stockpile III menampung batubara Prima. Dari ketiga stockpile tersebut
akan masuk ke overland conveyor menuju Tanjung Bara Coal Terminal. Conveyor ini
memiliki panjang 13,2 km dengan kapasitas 7000 ton per jam.

2.8 Aturan Keselamatan Kerja PT. KPC

PT. KPC adalah perusahaan yang mengutamakan keselamatan kerja para


karyawannya. Hal ini dikarenakan PT. KPC tidak menginginkan terjadinya kerugian baik
pihak eksternal maupun internal perusahaan. Dalam melaksanakan aktifitas atau
pekerjaan akan timbul resiko yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang
lain. Adanya masalah atau resiko tersebut akan banyak menimbulkan potensi dampak
yang merugikan antara lain.

1. Timbulnya korban jiwa.


2. Berakibat trauma pada kecelakaan.
3. Timbulnya kerugian terhadap berbagai pihak terutama dari diri sendiri.
4. Terganggunya sebagian rencana yang telah disiapkan.

Oleh karena itu, untuk mengurangi resiko cidera pada karyawannya, PT. KPC membuat
suatu aturan baku atau biasa disebut Golden Rules yang berlaku untuk PT. KPC
maupun pada kontraktor. Aturan baku itu mencakup :
 Semua jenis pekerjaan.
Sebelum memulai pekerjaan, diharuskan mengidentifikasikan bahaya yang
berhubungan dengan pekerjaan tersebut dan diharuskan mengendalikan
bahaya tersebut, agar dapat bekerja dengan aman. Jika pekerjaan dianggap
tidak aman, maka pekerjaan tidak boleh dilakukan dan harus disampaikan
kepada supervisor atau atasan.

22
 Pengawasan pekerjaan.
Saat melakukan pengawasan terhadap pekerjaan orang lain, diharuskan
memastikan anggota selalu mengikuti peraturan dan prosedur PT. KPC.
 Keselamatan kendaraan bergerak.
Dilarang mengoperasikan kendaraan maupun alat yang mengalami kerusakan.
 Keselamatan di jalan dan peraturan lalu lintas.
Diharuskan memahami dan mematuhi peraturan lalu lintas PT. KPC
 Isolasi dan lockout.
Saat bekerja pada alat yang dapat menimbulkan cedera diharuskan
memastikan alat tersebut diisolasi dan di-locked dengan benar.
 Keselamatan untuk pekerjaan listrik
Saat menggunakan pekerjaan listrik, diharuskan memastikan peralatan tersebut
dalam kondisi aman.
 Bekerja di ketinggian
Selalu melindungi diri dari kemungkinan terjatuh saat bekerja di ketinggian
(lebih dari 1,8 meter di atas permukaan tanah atau tempat berjalan atau
platform permanen).
 Ruang terbatas
Dilarang memasuki ruang terbatas tanpa surat izin masuk ruang terbatas.
 Alat pengangkut atau penyangga.
Dilarang mengoperasikan alat pengangkat untuk mengangkat atau alat
penyangga untuk menyangga beban bila tidak aman dilakukan.
 Bekerja di dekat dinding galian yang mudah longsor.
Dilarang berada di dalam jarak satu setengah kali ketinggian dinding galian
(digging face) yang mudah longsor kecuali berada di dalam kendaraan yang
dilengkapi dengan Faliing Object Protective Structure (FOPS) yang disetujui.
 Bekerja di area peledakan.
Orang atau kendaraan yang tidak berwenang dilarang memasuki area yang
sedang diisi dengan bahan peledak tanpa seizin blaster yang sedang bertugas.
 Berada di dekat air.
Selalu melindungi diri dari potensi tenggelam ketika bekerja di dalam atau di
atas air dengan kedalaman lebih dari satu meter.

23
Aturan baku dipatuhi agar dapat mengurangi resiko cidera atau fatality. Yang harus
diperhatikan pada keselamatan kerja adalah :
1. Cara penggunaan alat.
2. Kedisiplinan waktu. Karyawan harus berada dilingkungan kerja selama
kerja, istirahat dan pulang tepat waktu.
3. Melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan penuh, sesuai dengan
tugas yang diberikan oleh pimpinan.
4. Melaksanakan cara kerja yang aman sehingga tidak membahayakan diri
sendiri dan orang lain.
5. Menggunakan Personal Protective Equipment atau PPE (alat pelindung diri)
dengan benar seperti :
a. Sepatu safety yang berfungsi untuk melindungi kaki dari kejatuhan
benda yang dapat menimbulkan cedera.
b. Helm yang berfungsi sebagai alat pelindung kepala dari benturan benda
keras maupun material yang jatuh.
c. Kacamata yang berfungsi sebagai pelindung mata dari semburan oli
maupun percikan–percikan lainnya.
d. Masker yang berfungsi untuk melindungi mulut dan hidung dari debu
maupun material kecil yang dapat menggangu kesehatan.
e. Jas hujan yang dapat digunakan bila hujan.
f. Jaket pelampung yang harus digunakan di dekat air.
g. Tutup telingga (ear plug) yang berfungsi untuk mengurangi intensitas
suara yang tinggi yang ditimbulkan oleh mesin sehingga organ–organ
pendengaran tidak terganggu.

Keselamatan kerja yang sangat utama, maka untuk menghindari resiko cidera dibuat
pertanyaan–pertanyaan yang perlu diingat sebelum memulai pekerjaan, yaitu:
1. Apakah area kerja saya rapi dan bebas dari bahaya.
2. Apakah prosedur untuk pekerjaan ini.
3. Apakah PPE saya sesuai dengan posisi saya untuk tugas ini.
4. Apakah peralatan yang saya pakai sesuai dan aman.
5. Bagaimana urutan langkah pekerjaan ini untuk meminimalkan resiko cidera.

24
2.9 Struktur Organisasi PT. KPC

Saham–saham perusahaan induk PT. KPC yang dimiliki oleh PT. Bumi Resource
yang merupakan perusahaan swasta Indonesia dan dikelola oleh :
a. Dewan Direksi
Terdiri dari para wakil perusahaan induk ditambah dengan anggota dewan yang
dipilih dari pihak luar.
b. Panitia Operasional
Terdiri dari beberapa anggota dewan direksi dan para ahli keuangan yang
memperhatikan secara khusus kegiatan dan unjuk kerja perusahaan.
c. Dewan Komisaris
Dewan ini dibentuk untuk membantu perusahaan memenuhi syarat–syarat
hukum bagi sebuah perusahaan besar yang beoperasi di Indonesia. Terdiri dari
para wakil baik dari Indonesia maupun dari luar negeri. Para wakil tersebut
terdiri dari para pelaku bisnis terkenal Indonesia maupun internasional.

2.9.1 Pejabat Eksekutif Utama

Pejabat eksekutif utama atau Chief Executive Officer (CEO) adalah Presiden Direktur
(PD) yang bertanggung jawab langsung kepada dewan direksi. Presiden Direktur
bertanggung jawab atas seluruh kerja perusahaan. Dibawah CEO, ada Chief Operating
Officer (COO) yang membawahi kegiatan operasional dan Chief Financial Officer (CFO)
yang membawahi kegiatan keuangan.

2.9.2 Divisi dan Kepala Divisi

Sejumlah kepala divisi yang disebut General Manager (GM) bertanggung jawab
kepada COO atau CFO. Setiap General Manager bertanggung jawab atas unjuk kerja
dan operasi divisinya. Pada saat ini terdapat tiga belas (13) divisi, yaitu :
 Mining Development
 Human Resource Division
 External Affairs and Sustainable Development

25
 Marketing Division
 Contract Mining
 Health, Safety and Environmental and Security Division
 Mining Operation Division ( Depertemen Coal Mining berada di bawah divisi
MOD )
 Mining Support Division
 Coal Processing and Infrastruktur Division
 Head of Project Expansion Team
 Business Improvement
 Supply Chain
 Finance
Tingkatan para pemimpin terpenting di wilayah kerja PT. KPC adalah :
Chief executive officer
 Pejabat Eksekutif Utama : Chief Executive Officer (CEO)
 Pejabat Operasi Utama : Chief Operating Officer (COO)
 Pejabat Keuangan utama : Chief Financial Officer (CFO)
 Divisi : General Manager (GM)
 Departemen : Manager
 Seksi : Superitendent/ General Superitendent
 Unit : Supervisor
Masih terdapat tingkatan lain yang ada dalam seksi–seksi yaitu Senior Engineer,
Spesialis, Leading Hand dan sebagainya.

26
BAB III

AKTIVITAS KERJA PRAKTEK

3.1 Kegiatan Kerja Praktek

Waktu pelaksanaan kerja praktek lapangan ini di mulai pada tanggal 26 januari

2017 sampai 06 maret 2017 . tempat pelaksanaan di pt kaltim prima coal (kpc) , divisi

MOD , departemen coal mining sangatta , kutai timur , provinsi Kalimantan timur

Tabel 3.1 Tahapan Kegiatan Kerja Praktek

FEBRUARI-MARET
NO KEGIATAN MINGGU 1 MINGGU 2 MINGGU 3 MINGGU 4 MINGGU 5 MINGGU 6
26 27 30 31 1 2 3 6 7 8 9 10 13 14 16 17 20 21 22 23 24 27 28 29 1 2 3 6 7
1SAFETY INTRODUCTION , MOD RULES , ORIENTASI DEPARTEMENT DAN PERSENTASI JUDUL KP
2 PENGAMBILAN DATA LAPANGAN
3 PERSENTASI MID , DAN PENYUSUNAN LAPORAN KP
4 PERSENTASI AKHIR , DAN PENYERAHAN LAPORAN KP

3.2 Data Yang Di Dapatkan

Ada pun data yang didapatakan terbagi atas dua data yaitu :

1.Data Sekunder (Historycal Data)

Data sekunder (Historycal data) ini berisikan data wawancara dan data kualitas
batubara pada saat tahapan eksplorasi . Data wawancara ini dilakukan dengan
beberapa engginer yang mengetahui dasar dari perubahan nilai kalori batubara
dibeberapa seam di Pt.Kaltim Prima Coal (KPC). adapun data-data kualitas batubara
pada saat tahanpan eksplorasi

Table3.2 Data Bor Kualitas Batubara Di Pit Inul East Seam NL, Pit Inul
Middle Seam Prlr, Pit Kukang Seam K27

27
SEAM TOTAL MOISTURE% ASH % NILAI KALORI kcal/kg

NL 18,10 1,40 6039

PR LOWER 15,60 1,70 6414

K27 30,20 4,30 4637

2. Data Primer (Data Pengamatan )

data primer adalah data yang diperoleh dari hasil pengamatan sendiri
dilapangan. Dalam melakukan pengamatan ini ada dua hal data yang diambil antara
lain

1. deskripsi fisik batubara

 Deskripsi fisik batubara adalah cara menentukan kualitas batubara dengan


melihat secara fisik dilapangan maupun di lab , adapun beberapa hal yang
digunakan sebagai parameter mendeskripisikan fisik batubara antara lain :
 Warna : melihat dengan mata telanjang warna dari batubara tersebut , hitam
mengkilap berarti ada kemungkinan batubara tersebut batubara tua
sendangkan hitam kecoklatan merupakan batubara muda .
 Pecahan : memperhatikan pecahan apakah berhamburan (Uneven) ataukah
sejajar dengan arah lapisan ataupun tidak berhamburan (even).
 Kilap : pantulan cahaya yang dihasilkan oleh batubara
 Pengotor : merupakan zat ataupun mineral yang bercampur dengan batubara
seperti lempung ataupun batu pasir.
 Kekerasan : sangat keras , cukup keras , dan mudah hancur.
 Gores : warna yang muncul ketika mengoreskan batubara terhadap sesuatu
yang mempunya kekerasan lebih dari batubara itu sendiri

28
BAB IV

PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

4.1 lokasi Observasi

4.1.1 Departmen Hatari

Departmen hatari pada dasarnya bertugas untuk mengupas overburden di


wilayah pit nya, dimana di Dapertemen Hatari ini terdapat beberapa pit yang dikelola.
Setelah Coal Expose, barulah serangkaian kegiatan penambangan batubara dilakukan
oleh departemen coal mining setelahnya adanya surat pengantar yang berupa CSA
(Costumer Supply Agreement), sampai akhirnya apabila dinyatakan sudah habis atau
sudah mencapai muka floor, maka wewenang akan dikembalikan kepada departemen
hatari dengan CSA pula namun berbeda jenis.

Adapun pit-pit yang menjadi lokasi penelitian :

 Pit Inul East

GAMBAR 4.1 Kenampakan Pit Inul East (sumber: departemen Coal Mining PT.
Kaltim Prima Coal)

 Pit Inul Middle

29
GAMBAR 4.2 Kenampakan Pit Inul Middle (Sumber : Departemen Coal Mining
PT. Kaltim Prima Coal)

 Pit kukang

GAMBAR 4.3 Kenampakan Pit Kukang (Sumber : Departemen Coal Mining PT .


Kaltim Prima Coal)

4.1.2 Departement Coal Mining

Department Coal Mining adalah merupakan departmen yang memiliki tugas untuk
melakukan kegiatan penambangan batubara yang telah expose di semua pit yang
dibawah MOD. Batubara yang telah ditambang dari pit, nantinya akan diangkut menuju

30
stockpile maupun ROM stockpile ataupun langsung ke crusher yang ada di perusahaan
PT. Kaltim Prima Coal .

4.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Kalori

4.2.1 Total Moisture

Total Moisture adalah jumlah air yang terdapat pada batubara . Total moisture
dibagi menjadi dua yang itu Inherent Moisture, dan Extraneous Moisture yang mana
Inherent Moisture adalah air bawaan dari batubara sedangkan extraneous moisture
adalah jumlah air yang berasal dari luar batubara . perubahan nilai kalori sangat
dipengaruhi oleh naik turunnya Total moisture ini , semakin tinggi total moisturenya
semakin rendah nilai kalori dalam batubara tersebut . adanya cuaca dibumi membuat
total moisture sangat sering berubah-ubah baik itu ketika terjadi hujan maupun saat
panas matahari . adapun factor yang mempengaruh nilai dari total moisture antara
lain:

1. Peringkat Batubara

Semakin tinggi peringkat suatu batubara semakin kecil porositas batubara


tersebut atau semakin padat batubara tersebut. Dengan demikian akan semakin kecil
juga moisture yang dapat diserap atau ditampung dalam pori batubara tersebut. Hal
ini menyebabkan semakin kecil kandungan moisturenya khususnya inherent
moisturenya.

2. Size Distribusi

Semakin kecil ukuran partikel batubara, maka semakin besar luas


permukaanya. Hal ini menyebabkan akan semakin tinggi surface moisturenya. Pada
nilai inherent moisture tetap, maka TM-nya akan naik yangdikarenakan naiknya surface
moisture.

3. Pengambilan Sampel

Total Moisture dapat dipengaruhi oleh kondisipada saat batubara tersebut di


Sampling.Yang termasuk dalam kondisi sampling adalah :

 Kondisi batubara pada saat disampling

 Size distribusi sample batubara yang diambil terlalu besar atau terlalu kecil.

31
 Cuaca pada saat pengambilan sample

Adapun beberapa data analisis perubahan total moisture pada saat pengeboran
eksplorasi , pengamatan atau pengambilan sampel dan data pada saat
penambanangan di seam K27 pit kukang , di seam NL pit inul east, dan seam PR
lower pit inul middle :

Table 4.1 Perbandingan Data Bor Dan Data Penagamatan Total Moisture
Seam Nl

Total Surface
NL Inherent Moisture(ad)%
Moisture(ar)% Moisture(ad)%
DATA BAWAH
20.53 16.7 3.83
PERMUKAAN
DATA ATAS
18.1 17 1.1
PERMUKAAN

Sumber : (Department Hatari PT. Kaltim Prima Coal)

Table 4.2 Perbandingan Data Bor Dan Data Penagamatan Total Moisture
Seam PRLR

Total Inherent
PRLR Surface Moisture(ad)%
Moisture(ar)% Moisture(ad)%
DATA BAWAH
15.5 12.2 3.2
PERMUKAAN
DATA ATAS
15.6 13.2 2.4
PERMUKAAN

Sumber : (Department Hatari PT. Kaltim Prima Coal)

Table 4.3 Perbandingan Data Bor Dan Data Penagamatan Total Moisture
Seam K27

Total Inherent
K27 Surface Moisture(ad)%
Moisture(ar)% Moisture(ad)%
DATA BAWAH
28.5 24.4 5.7
PERMUKAAN
DATA ATAS
30.2 26.9 3.3
PERMUKAAN

32
Sumber : (Department Hatari PT. Kaltim Prima Coal)

4.2.2 Ash(debu)

Sebenarnya batubara tidak mengandung ash melainkan mengandung mineral


matter. Ash adalah istilah parameter dimana setelah batubara dibakar dengan
sempurna, material yang tersisa dan tidak terbakar adalah ash atau abu sebagai sisa
pembakaran. Jadi ash atau abu merupakan istilah umum sebagai sisa pembakaran.
Perubahan nilai kalori juga dipengaruhi oleh naik turunnya nilai ash pada batubara
tersebut . nilai ash berubah dikarenakan adanya peningkatan debu diarea
penambangan yang disebabkan oleh kegiatan penambangan tersebut . adapun factor-
faktor yang mempengaruhi perubahan nilai ash pada batubara adalah:
1. kondisi lingkungan area penambangan
2. volume parting setiap seam ataupun setiap pengambilan sampel dilapangan
3. banyak jumlah mineral metter setiap seam batubara
Kadar ash di penambanagan menjadi tolak ukur apakah penambangan tersebut
bersih atau tidak , jika nilai ash nya naik dari data geologie atau data kualitas
eksplorasi dari data penambanagn dapat dipastikan berarti area tersebut
lingkungannya sangat buruk ataupun udaranya tidak bersih .

Adapun beberapan data kualitas ash dari data bor , data pengamatan dan data
penambangan :

Table 4.4 Perbandingan Data Bor Dan Data Penagamatan ASH Seam Nl

Seam NL Ash(ad)%
DATA BAWAH 0.8
PERMUKAAN
DATA ATAS 1.4
PERMUKAAN

Sumber: ( Departement Hatari PT. Kaltim Prima Coal)

33
Table 4.5 Perbandingan Data Bor Dan Data Penagamatan ASH Seam PRLR

Seam PRLR Ash(ad)%


DATA BAWAH
4.6
PERMUKAAN
DATA ATAS
1.7
PERMUKAAN

Sumber: ( Departement Hatari PT. Kaltim Prima Coal)

Table 4.6 Perbandingan Data Bor Dan Data Penagamatan ASH Seam PRLR

Sampel Ash(ad)%
DATA BAWAH
5.7
PERMUKAAN
DATA ATAS PERMUKAAN 4.3

Sumber: ( Departement Hatari PT. Kaltim Prima Coal)

4.3 Pengolahan Data

4.3.1 Perbadingan Data

Perbadingan data ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar perubahan


nilai kalori melalu perubahan dari total moisture dan nilai ash pada data bor dengan
data pengamatan .

Ada pun data bor kualiatas batubara yang diperbadingkan dengan data hasil
analisis pengamatan di seam NL, seam PRLR, dan seam K27:

Tabel 4.7 Kualitas Batubara Di Seam Nl Pada Data Bor Dan Data
Pengamatan

Total
NL ASH% NILAI KALORI
Moisture(ar)%
DATA BAWAH
20.53 0,8 6123
PERMUKAAN
DATA BAWAH
18.1 1,4 6093
PERMUKAAN

34
Sumber: ( Departement Hatari PT. Kaltim Prima Coal)

Perubahan total moisture dapat dilihat dari data bor yang mengalami
penurunan dari data pengamatan , penurunan nilai total mositure ini dipengaruhi oleh :
pengambilan sampel dilapangan yang berbeda , data bor berupa coring (bulat
panjang) sedangkan data pengamatan dilakukan secara sampling dilapangan dengan
ukuran partikel batubara yang bervariasi , waktu pengambilan sampel yang berbeda
yang membuat terjadinya perubahan inherent moisture nya berbeda
Nilai ash pada sampel nl mengalamai kenaikan yang cukup signifikan dari data
bor , kenaikan dari ash ini dipengaruhi oleh volume parting dari setiap sampel yang
diambil dan letak pengambilan yang tidak sama sehingga membuat perubahan nilai
ash.

Nilai kalori pada pada seam nl ini mengalami penurunan dari data bor ke data
pengamatan , penurunan ini diakibatkan oleh penurunan signifikan nilai ash pada seam
nl walaupun total moisture nya naik

Tabel 4.8 Kualitas Batubara Di Seam PRLR Pada Data Bor Dan Data
Pengamatan

Total
PRLR ASH% NILAI KALORI
Moisture(ar)%
DATA BAWAH
15.5 5,7 63o4
PERMUKAAN
DATA ATAS
15.6 4,3 6414
PERMUKAAN

Sumber: ( Departement Hatari PT. Kaltim Prima Coal)

Perubahan total moisture dapat dilihat dari data bor yang mengalami kenaikan
dari data pengamatan , kenaikan nilai total mositure ini dipengaruhi oleh :
pengambilan sampel dilapangan yang berbeda , data bor berupa coring (bulat
panjang) sedangkan data pengamatan dilakukan secara sampling dilapangan dengan
ukuran partikel batubara yang bervariasi , waktu pengambilan sampel yang berbeda
yang membuat terjadinya perubahan inherent moisture nya berbeda
Nilai ash pada sampel seam pr lower mengalamai penurunan dari data bor ,
penurunan dari ash ini dipengaruhi oleh volume parting dari setiap sampel yang
35
diambil dan letak pengambilan yang tidak sama sehingga membuat perubahan nilai
ash.
Nilai kalori pada pada seam pr lower mengalami kenaikan dari data bor ke data
pengamatan hal ini disebabkan oleh penurunan nilai ash yang signifikan walaupun total
moisture nya mengalami kenaikan pada seam pr lower.

Tabel 4.9 Kualitas Batubara Di Seam K27 Pada Data Bor Dan Data
Pengamatan

Total
K27 ASH% NILAI KALORI
Moisture(ar)%
DATA BAWAH
28.5 4,6 4878
PERMUKAAN
DATA ATAS
30.2 1,7 4856
PERMUKAAN

Sumber: ( Departement Hatari PT. Kaltim Prima Coal)

Perubahan total moisture dapat dilihat dari data bor yang mengalami kenaikan
dari data pengamatan , kenaikan nilai total mositure ini dipengaruhi oleh :
pengambilan sampel dilapangan yang berbeda , data bor berupa coring (bulat
panjang) sedangkan data pengamatan dilakukan secara sampling dilapangan dengan
ukuran partikel batubara yang bervariasi , waktu pengambilan sampel yang berbeda
yang membuat terjadinya perubahan inherent moisture nya berbeda

Nilai ash pada sampel k27 mengalamai penurunan dari data bor , penurunan
dari ash ini dipengaruhi oleh volume parting dari setiap sampel yang diambil dan letak
pengambilan yang tidak sama sehingga membuat perubahan nilai ash.
Nilai kalori pada pada seam k27 hampir tidak mengalami perubahan walaupun
nilai total moisture nya naik tetapi nilai ash nya turun hampir signifikan dengan
kenaikan total moisture nya

4.4 Data Kualitas Batubata Setiap Elevasi

Elevasi adalah ketinggian . penurunan elevasi di pit Inul Middle, Pit Inul
East, Pit Kukang, rata-rata 10 meter kebawah dengan memperhitungkan
produktivitas alat gali yang ada di lapangan . Adapun data elevasi di Pit Inul
Middle seam Pr lower :

36
Tabel 4.10 Kualitas Batubara Setiap Elevasi Di Seam PRLR

TM M ASH Ash Ash TS TS TS TS GCV GCV GCV GCV


KPCL DATE PANEL SEAM RL (kcal/kg (kcal/kg (kcal/kg
(% ar) (% adb) (% adb) (% ar) (% db (% adb) (% ar) (% daf) (% db) (kcal/kg db)
adb) ar) daf)

17581 20-Jan-16 IM PRLR 30 15.74 12.84 1.40 1.35 1.61 1.46 1.41 1.70 1.67 6,468 6,253 7,543 7,421
18083 20-Mar-16 IM PRLR 20 15.36 13.10 1.20 1.17 1.38 1.04 1.01 1.22 1.20 6,456 6,288 7,533 7,429
18671 5-Jun-16 IM PRLR 8 14.84 12.60 1.70 1.66 1.95 0.99 0.97 1.16 1.14 6,406 6,242 7,475 7,329
19161 16-Aug-16 IM PRLR 0 13.68 11.36 1.56 1.52 1.76 1.37 1.33 1.57 1.54 6,430 6,259 7,381 7,252
19993 10-Dec-16 IM PRLR -10 15.56 13.62 1.76 1.72 2.04 1.80 1.76 2.13 2.09 6,318 6,176 7,466 7,314
20157 3-Jan-17 INMP2 PRLR -20 14.72 12.74 1.52 1.49 1.74 0.79 0.77 0.92 0.91 6,492 6,345 7,572 7,440
20436 7-Feb-17 INMP2 PRLR -30 14.08 12.60 5.94 5.83 6.79 1.14 1.12 1.40 1.31 6,115 6,012 7,504 6,996

Sumber: (Department Hatari PT. Kaltim Prima Coal)

Pada tabel ini total mositure mengalami penurunan dari setiap elevasi
akan tetapi pada elevasi 0 ke elevasi -10 mengalami kenaikan , penurunan ini
diakibatkan adanya tekanan perbedaan suhu yang berbeda disetiap elevasi ,
sedangkan untuk nilai ash nya dan nilai kalori hampir tidak mengalami
perubahan dari elevasi ke elevasi yang lainnya .

Perbedaan elevasi tidak mempengaruhi perubahan nilai kalori begitupun


dengan nilai ash tetapi perbedaan elevasi ini merubah kadar total moisture
yang ada di dalam batubara .

37
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil observasi lapangan dan melakukan pengolahan data dapat disumpulkan
factor-faktor yang mempengaruhi nilai kalori batubara adalah :

1. Perubahan nilai kalori terjadi akibat perubahan nilai dari total moisture,
ash(debu). Tetapi kenaikan ataupun penurunan nilai kalori dilihat dari
perbandingan seberapa besar kenaikan ataw penurunan dari total moisture dan
nilai ash itu sendiri

Perubahan total moisture di pengaruhi oleh :

 Porositas dari setiap batubara

 Size distribusi

 Waktu pengambilan sampel batubara

 Perbedaan elevasi

Perubahan kadar ash di pengaruhi oleh :

 Lingkungan diarea penambangan

 Banyaknya mineral metter disetiap batubara

 Voleme parting dari setiap batubara

38
5.2 Saran

Adapun upaya-upaya yang dilakukan dalam meminimalisir perubahan nilai kalori


pada batubara antara lain :

1. Sesegera mungkin mengambil batubara yang telah terbuka kepermukaan


sehingga nilai total moisturenya tidak berubah akibat adanya cuaca

2. Membersihkan lumpur di area pit maupun diarea stockpile

39