Você está na página 1de 4

Nama : Selvi Nanda Oktavia TUGAS ARTIKEL KORAN

NIM : 150721606736
Off :B

LEWAT SM-3T, SEMANGAT MENGABDI MEMBANGUN NEGERI

Kompas.com - 21/10/2013, 18:51 WIB

KOMPAS.com - Menyeberangi sungai, melewati hutan, mendaki bukit, dan berjalan kaki
berjam-jam untuk sampai ke sebuah lokasi pastilah sangat melelahkan. Tapi, apa artinya
kelelahan jika sampai di lokasi nanti yang didapati adalah mutiara-mutiara bangsa yang harus
dididik? Commented [S1]: Tidak boleh ada kalimat tanya

Pengalaman seperti itu dirasakan oleh hampir setiap sarjana muda yang mengemban tugas
mulia mengajar di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Kelelahan tak bisa
mengalahkan tugas mulia di sana. Commented [S2]: Seharusnya dijabarkan terlebih dahulu
Commented [S3]: Seharusnya menyebutkan nama tempat
"Perjalanan pulang ke rumah dari sekolah harus menempuh jalan kaki sejauh 5 KM, di
kecamatan Sebuku, kabupaten Nunukan, Kalimantan timur," tulis Mukhlis, salah seorang Commented [S4]: Seharusnya dijadikan kutipan tidak langsung

sarjana mengajar di Kabupaten Nunukan, melalui group Facebook SM3T ( Sarjana Mendidik
Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal), (7/10/2013).

Menjadi abdi negara menjadi tugas mulia bagi anak bangsa. Apalagi, jika mengabdi dengan Commented [S5]: Seharusnya tidak perlu karena menjadi
pemborosan kata
mengajar di daerah 3T yang jauh dari berbagai fasilitas kota.

Kondisi di wilayah-wilayah 3T tersebut memang masih sangat memprihatinkan. Angka Commented [S6]: Tidak perlu menggunakan kata tersebut

kekurangan guru masih tinggi, disparitas kualitas, mismatched, distibusi tidak merata, Commented [S7]: Seharusnya jika kata bahasa inggris ditulis
miring
tingginya angka putus sekolah, hingga rendahnya angka partisipasi sekolah, memerlukan Commented [S8]: Kata hingga seharusnya diganti kata dan

perhatian khusus dari pemerintah untuk perbaikan-perbaikan.

"Memang, spiritnya adalah jangan sampai Indonesia itu maju sebagian. Indonesia itu harus
maju bersama-sama, dan seluruh wilayah harus maju. Namun, pada kenyataannya kita masih
menemukan daerah daerah yang sesungguhnya belum Indonesia beneran. Itu yang menjadi
tugas kita," ujar Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ditjen Dikti Kemdikbud, Commented [S9]: Seharusnya menggunakan kutipan tidak
langsung
Supriadi Rustad, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sejak 2011 lalu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui Direktorat
Jenderal Perguruan Tinggi (Ditjen Dikti) telah mengeluarkan program Maju Bersama
Mencerdaskan Indonesia (MBMI). Salah satu program terobosan yang diunggulkan adalah
Sarjana Mendidik di wilayah 3T (SM-3T).

Hingga 2012, SM-3T telah menghasilkan lebih dari lima ribu sarjana mendidik dalam
program ini. Program ini berpartisipasi terhadap percepatan pembangunan pendidikan di
daerah 3T selama satu tahun, selain juga sebagai media penyiapan guru profesional.

Rustad mengatakan, program SM-3T dijalankan sebagai solusi jangka pendek sekaligus
jangka panjang. Untuk jangka panjang, MBMI menyiapkan ketersediaan pendidik di daerah
3T.

"Program ini ditempuh melalui pengasramaan anak-anak berbakat dari daerah 3T di LPTK
terkemuka di negeri ini dalam skema Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi (PPG-T) mulai
2011," katanya. Commented [S10]: Seharusnya menggunakan kutipan tidak
langsung

120 jam pelajaran

Pengiriman peserta Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T)
telah dilakukan dua angkatan. Angkatan pertama sebanyak 2479 peserta diberangkatkan ke
provinsi Aceh, Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur, dengan masa pengabdian
mulai November 2011 hingga Oktober 2012. Sedangkan angkatan kedua sebanyak 2726
peserta diberangkatkan ke provinsi Aceh, Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur,
Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Maluku dengan
masa pengabdian mulai November 2012 hingga Oktober 2013.

Daerah 3T memiliki peran strategis dalam memperkokoh ketahanan nasional dan keutuhan
NKRI. Untuk itu perlu percepatan pembangunan pendidikan di daerah tersebut. Dengan Commented [S11]: Kata penghubung tidak boleh didepan
kalimat
memberdayakan sarjana pendidikan melalui program SM-3T ini, akan memberikan
pengalaman pengabdian dan cinta tanah air kepada sarjana-sarjana baru ini.

Sarjana yang bisa mendaftarkan diri untuk mengikuti program ini merupakan lulusan S-1
kependidikan empat tahun terakhir, dari program studi yang terakreditasi. Lulusan tersebut
juga harus memiliki bidang keahlian sesuai dengan mata pelajaran yang dibutuhkan.
Selain memiliki IPK minimal untuk program ini adalah 3.0, calon peserta juga harus Commented [S12]: Tidak perlu dipakai karena sebagai
pemborosan kata
berbadan sehat yang dinyatakan dengan surat keterangan dokter, serta bebas narkotika, Commented [S13]: Tidak perlu menggunakan kata serta

psikotropika, dan zat adiktif yang dibuktikan dengan surat dari pejabat yang berwenang.

Program SM-3T setiap tahunnya mengalami perbaikan-perbaikan dari sisi rekrutmen maupun
teknis pelaksanaannya. Di tahun pertama, jumlah peserta yang direkrut untuk program ini Commented [S14]: Kata penghubung tidak boleh ada didepan
kalimat
adalah 2.449 orang, yang berasal dari 12 LPTK penyelenggara. Mereka disebar di empat
provinsi dengan sistem seleksi langsung dari LPTK.

Pada tahun kedua, 2.950 lulusan terpilih dan disebar di delapan provinsi. Proses perekrutan
pun dilakukan secara online dan melalui LPTK. Jika di tahun pertama peserta yang berasal
dari daerah 3T ditugaskan kembali di daerahnya, maka di tahun ke dua tidak lagi. Mereka
ditugaskan di daerah 3T lainnya.

Namun, sebelum berangkat ke daerah sasaran, para peserta SM-3T diberikan pelatihan pra-
kondisi, baik akademik maupun non-akademik untuk mengabdi. Program prakondisi ini
terdiri dari workshop pengembangan perangkat pembelajaran dan evaluasi, juga pelaksanaan
tugas kependidikan pada kondisi tertentu, dan manajemen sekolah. Selain itu, mereka juga
diberi pembinaan mental, wawasan kebangsaan, bela negara, ketahanmalangan,
kepramukaan, kepemimpinan, P3K dan UKS, serta pelatihan keterampilan sosial
kemasyarakatan.

Prakondisi ini berlangsung selama 120 jam pelajaran atau sekitar 12 hari. Setelah dibekali
berbagai aspek, selama satu tahun ke depan mereka harus menjalankan tugas pendidikan,
pembelajaran, dan pengabdian/pemberdayaan masyarakat. Usai bertugas, mereka kembali ke
kampus untuk menjalani program pendidikan profesi guru (PPG).

Selama satu tahun mengabdi, banyak pengalaman yang mereka peroleh. Seperti dituturkan
Candra Aprianti, guru di SDN Bilaos Amfoang Utara, jika hujan datang ia harus tidur berdiri
agar tidak basah, bahkan tidak tidur sama sekali. Program ini, menurut dia, membuatnya
tumbuh dewasa dengan penuh rasa syukur.

"Kami tidak pernah menyesal, semua ini kami lakukan demi masa depan kami dan bangsa,"
tuturnya. Commented [S15]: Seharusnya menggunakan kutipan tidak
langsung

Beberapa dari peserta awalnya termotivasi untuk mengikuti program ini karena bonus yang
ditawarkan. Setelah sampai di lokasi, mereka sempat syok dengan kondisi masyarakat di
sana. Namun setelah di sana, bonus menjadi urusan ke sekian, mereka fokus dan bangga
untuk menjadi bagian untuk mencerdaskan bangsa.

Catatan: artikel masih kurang baik penulisannya karena setiap satu paragraf masih kurang
dari 3-6 kalimat, masih menggunakan kutipan langsung.

Sumber:(online)(https://edukasi.kompas.com/read/2013/10/21/1851014/Lewat.SM3T.Semangat.Men
gabdi.Membangun.Negeri.)