Você está na página 1de 23

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN

(AMDAL) Oleh: Ilham


Oleh Lai Valentin Riwu Kaho pada 21 Januari 2012 pukul 16:09
Abstrak
Paper ini diberi judul “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan”. Judulnya dibuat sedemikian agar pembaca
sekalian
berminat dan tertarik untuk mengenal apa sih sebenarnya itu AMDAL?. Isi dari pada makalah ini akan memuat
beberapa
aspek yang mendasar yang sering menjadi acuan pada setiap pelajaran atau kursus mengenai AMDAL yang
biasanya
ditempuh melalui kursus secara khusus. Waktu yang diperlukan untuk memahami secara lebih konprehensif
apa itu
AMDAL melalui kursus AMDAL terbagi ke dalam beberapa jenjang (tingkatan). Kursus AMDAL Type A
merupakan
jenjang kursus AMDAL untuk memahami dasar-dasar mengenai ilmu AMDAL. Kursus AMDAL Type B
merupakan
jenjang kursus untuk memahami bagaimana membuat atau melaksanakan studi AMDAL terhadap suatu
rencana kegiatan
atau proyek. Kursus AMDAL Type C merupakan jenjang kursus untuk memahami dan mendalami bagaimana
menilai
suatu dokumen AMDAL sebuah proyek yang sudah dibuat. Waktu yang diperlukan dari setiap kursus tersebut
masingmasing
sekitar 2 minggu, 1,5 bulan dan 2 minggu. Kali ini apa yang akan dipaparkan dalam waktu hanya sekitar 1 jam
dalam tulisan “Pengenalan Terhadap AMDAL” ini merupakan hal-hal umum yang perlu diketahui sebagai
pengetahuan awal
terhadap ilmu AMDAL.

Apa itu AMDAL* ?


Di Indonesia, AMDAL merupakan singkatan dari
kalimat “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan*”.
Ingat! Ada juga akronim ANDAL. Nah, untuk
memahami secara lebih lengkap dan mengacu pada
peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia,
maka defenisi AMDAL disepakati seperti di bawah
ini :

AMDAL adalah:
“ Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha
dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup
yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan”.
SEDANGKAN
ANDAL adalah:
“Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak
besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan
Ketentuan-ketentuan di atas mengacu pada peraturan
pemerintah PP. No. 27 Tahun 1999 Pasal 1 butir 1.
Peraturan ini masih berlaku di seluruh wilayah
Indonesia. Selain mengacu pada peraturan tersebut di
atas, maka landasan peraturan pemerintah tersebut di
atas mengacu pada undang-undang yaitu UU RI No.
23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan
hidup. Jadi sudah jelas acuan peraturan dan
perundangannya, jadi sebagai bangsa dan masyarakat
Indonesia kita wajib melaksanakannya sebagai
perwujudan berbangsa dan bermasyarakat yang baik.

Latar Belakang & Perundangan


Sebenarnya AMDAL itu sudah mulai berlaku di
Indonesia pada tahun 1986 karena berlakunya PP No.
29 Tahun 1986. Hal ini dimaksudkan sebagai bagian
dari studi kelayakan pembangunan suatu rencana
usaha dan/atau kegiatan. Tujuannya untuk
memastikan bahwa pembangunan suatu rencana/atau
kegiatan yang akan dilaksanakan bermanfaat dan tidak
mengorbankan lingkungan hidup.
Lambat laun karena pelaksanaan aturan tersebut
terhambat akibat sifat birokratis maupun
metodologis, maka sejak 23 Oktober 1993
pemerintah RI mencabut PP.29.19986 kemudian
menggantinya dengan PP.51.1993.
Diterbitkannya Undang-Undang No. 23. 1997, maka
PP.51.1993 perlu penyesuaian, sehingga pada tanggal
7 Mei 1999, Pemerintah RI menerbitkan PP. No. 27
Tahun 1999 sebagai penyempurnaan PP. 51. 1993.
Efektif berlakunya PP. No. 27 Tahun 1999 mulai 7
November 2000 dan satu hal penting yang diatur
dalam PP No. 27 Tahun 1999 ini adalah pelimpahan
hampir semua kewenangan penilaian AMDAL
kepada daerah.

Apa sih sebenarnya tujuan AMDAL ?


Pembaca sekalian, biasanya sesuatu yang dibuat punya
tujuan tersendiri, sama halnya dengan AMDAL. Apa
tujuan mari kita lihat sebagai berikut :
Tujuan & Sasaran AMDAL adalah:
“ Untuk menjamin agar suatu usaha dan/atau kegiatan
pembangunan dapat beroperasi secara berkelanjutan tanpa
merusak dan mengorbankan lingkungan atau dengan kata
lain usaha atau kegiatan tersebut layak dari aspek
lingkungan hidup”.
Pada hakikatnya diharapkan dengan melalui kajian
AMDAL, kelayakan lingkungan sebuah rencana usaha
dan/atau kegiatan pembangunan diharapkan mampu
secara optimal meminimalkan kemungkinan dampak
lingkungan hidup yang negative, serta dapat
memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam
secara efisien.

Apa kegunaan & manfaat AMDAL ?


Ada 3 sasaran utama kegunaan dan manfaat AMDAL
itu yakni :

I. Pada Pemerintah: sebagai alat pengambil


keputusan tentang kelayakan lingkungan dari
suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.
Merupakan bahan masukan dalam perencanaan
pembangunan wilayah.
Mencegah potensi SDA di sekitar lokasi proyek
tidak rusak dan menjaga kelestarian LH.

II. Pada Masyarakat: Dapat mengetahui rencana


pembangunan di daerahnya sehingga dapat
mempersiapkan diri untuk berpartisipasi.
Mengetahui perubahan lingkungan yang akan
terjadi dan manfaat serta kerugian akibat adanya
suatu kegiatan.
Mengetahui hak dan kewajibannya di dalam
hubungan dengan usaha dan/atau kegiatan di
dalam menjaga dan mengelola kualitas
lingkungan.

III. Pada Pemrakarsa: Untuk mengetahui masalahmasalah


lingkungan yang akan dihadapi pada
masa yang akan datang.
Sebagai bahan untuk analisis pengelolaan dan
sasaran proyek.
Sebagai pedoman untuk pelaksanaan pengelolaan
dan pemantauan lingkungan hidup.

Apa saja dokumen AMDAL itu ?


Para peserta In-House Training, dokumen AMDAL
itu terbagi dalam beberapa komponen dokumen yang
menjadi satu kesatuan rangkaian studi yang saling
terkait dan tidak terpisahkan. Dokumen AMDAL
terdiri dari :

Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak


Lingkungan (KA-ANDAL):
Dokumen ini merupakan ruang lingkup dan
kedalaman kajian analisis mengenai dampak
LH yang akan dilaksanakan sesuai hasil
proses pelingkupan

Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup


(ANDAL):
Dokumen ini memuat telaahan secara cermat
dan mendalam tentang dampak besar dan
penting suatu rencana usaha dan/atau
kegiatan berdasarkan arahan yang telah
disepakati dalam dokumen KA-ANDAL.

Dokumen Rencana Pengelolaan LH (RKL)


Dokumen ini memuat berbagai upaya
penanganan dampak besar dan penting
terhadap LH yang ditimbulkan akibat
rencana usaha dan/atau kegiatan.

Dokumen Rencana Pemantauan LH (RPL)


Dokumen ini memuat berbagai rencana
pemantauan terhadap berbagai komponen
LH yang telah dikelola akibat terkena
dampak besar dan penting dari rencana usaha
dan/atau kegiatan.

Pendekatan studi AMDAL ?


Dalam kegiatan per-Amdal-an, pendekatannya juga
perlu diketahui agar proses pelaksanaanya bisa
seefisien mungkin. Di Indonesia, pendekatan
pelaksanaan studi AMDAL ada dikenal :
Pendekatan AMDAL Kegiatan Tunggal:
Yakni penyusunan atau pembuatan studi AMDAL
diperuntukkan bagi satu jenis usaha dan/atau
kegiatan, dimana kewenangan pembinaannya di
bawah satu instansi yang membidangi jenis usaha
dan/atau kegiatan tersebut.

Pendekatan AMDAL Kegiatan


Terpadu/Multisektor:
Yakni penyusunan studi AMDAL bagi jenis usaha
dan/atau kegiatan terpadu baik dalam perencanaan,
proses produksinya maupun pengelolaannya dan
melibatkan lebih dari satu instansi yang membidangi
kegiatan tersebut serta berada dalam satu kesatuan
hamparan ekosistem.

Pendekatan AMDAL Kegiatan dalam Kawasan:


Yakni penyusunan studi AMDAL bagi jenis usaha
dan/atau kegiatan yang berlokasi di dalam suatu
kawasan yang telah ditetapkan atau berada dalam
kawasan/zona pengembangan wilayah yang telah
ditetapkan pada kesatuan hamparan ekosistem.

Siapakah yang terlibat dalam proses


penilaian AMDAL ?
Dalam proses menilai dokumen AMDAL sebuah
rencana kegiatan atau proyek, maka pihak-pihak yang
terlibat dalam proses penilaian dokumen AMDAL
tersebut meliputi :

1. Komisi Penilai AMDAL:


Yaitu sebuah komisi yang bertugas menilai
dokumen AMDAL. Pada tingkat pusat
dinamakan Komisi Penilai Pusat. Ditingkat
daerah dinamakan Komisi Penilai Daerah.
Anggota-angotanya terdiri dari unsur
pemerintahan yang berkepentingan, unsur warga
dan masyarakat yang berkepentingan dan terkena
dampak.

2. Pemrakarsa:
Yaitu orang atau badan hukum yang bertanggung
jawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan
yang dilaksanakan.

3. Warga Masyarakat Yang Terkena Dampak


Yaitu seorang atau kelompok warga masyarakat
yang akibat akan dibangunnya suatu rencana
dan/atau kegiatan tersebut akan menjadi
kelompok yang diuntungkan (benerficary groups),
dan kelompok yang dirugikan (at-risk groups).
Lingkup warga masyarakat yang terkena dampak
ini dibatasi pada masyarakat yang berada dalam
ruang dampak rencan usaha dan/atau kegiatan
tersebut.
Namun dalam pelaksanaannya, komponen lainnya
yang turut berpedan dalam proses peng-AMDAL-an
antara lain Pemberi Ijin (Instansi yang berwewenang
menerbitkan ijin melakukan kegiatan), Pakar
Lingkungan dan Pakar Teknis (Seseorang yang
ahli di bidang lingkungan dan bidang ilmu tertentu),
Lembaga Pelatihan (Lembaga-lembaga yang
menyelenggarakan kursus-kursus dan/atau pelatihanpelatihan
yang berhubungan dengan pengelolaan LH
atau AMDAL), Konsultan (Orang atau badan
hokum yang diberi wewenang oleh pemrakarsa untuk
menyusun studi AMDAL.

Prosedur proses AMDAL ?


Kita memasuki pada tahapan yang lebih teknis.
Ketika sebuah rencana dan/atau kegiatan mau
dilaksanakan, maka perlu dipertanyakan apakah
rencana tersebut memerlukan studi AMDAL? Atau
tidak?. Untuk menjawabnya dapat mengacu pada
sebuah keputusan Menteri Negara LH
(KEPMENLH No. 17 Tahun 2001). Kepmen ini
memuat ketentuan dalam rangka penapisan semua
rencana dan/atau kegiatan yang memerlukan studi
AMDAL, di dalamnya dimuat semua jenis usaha
dan/atau rencana kegiatan yang memerlukan studi
AMDAL.
Jadi prosedur AMDAL meliputi 3 (tiga) proses besar:
1. Proses penapisan wajib AMDAL (Mengacu pada
KEPMEN LH No. 17 Tahun 2001)
2. Proses penyusunan dan penilai KA-ANDAL
3. Proses penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL
& RPL

Kiapan studi AMDAL itu dimulai ?


Hal ini penting juga untuk diketahui bahwa studi
AMDAL dilakukan pada saat perencanaan atau
sebelum usaha dan/atau kegiatan proyek
dilaksanakan (Seharusnya). Tapi kadangkala proses
pelaksananaanya yang bersifat siluman yaitu proyek
sudah berjalan dan proses AMDAL-nya menyusul
atau bahkan kadangkala proyek sudah selesai, studi
AMDAL-nya belum klaar juga.

Biagaimana mengajukan dokumen


AMDAL untuk dinilai ?
Perlu diketahui bahwa penilaian terhadap dokumen
AMDAL itu melalui 2 (dua) tahap yaitu:
1. Tahap penilaian terhadap KA-ANDAL
2. Tahap penilaian terhadap dokumen
ANDAL, RKL & RPL
Kedua tahap diatas ditempuh melalui prosedur
berupa pemeriksaan kelengkapan dokumen sesuai
pedoman penyusunan AMDAL, menyampaikan 1
(satu) sampel dokumen ke sekretariat Komisi
Penilaian Amdal yang telah ditentukan,
mempersiapkan sejumlah dokumen yang telah
ditetapkan dan terakhir memastikan kepastian waktu
persidangan untuk penilaian oleh komisi AMDAL.
Ketidaksiapan, ketidaklengkapan, maupun rendahnya
kualitas dokumen yang diserahkan untuk dinilai akan
menghambat proses penilaian, oleh karena Komisi
Penilai tidak bisa segera mengambil keputusan. Latar
belakang demikian inilah sehingga dalam
mempersiapkan suatu proses penilaian terhadap
dokumen AMDAL, perlu memperhatikan hal-hal :
Melaksanakan dengan cermat langkah-langkah
proses pengajuan dokumen AMDAL.
Faktor-faktor yang mempengaruhi presentasi dan
diskusi dalam siding.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelulusan
dokumen AMDAL.

Kapan dokumen AMDAL itu


dinyatakan sah diterima ?
KA-ANDAL dianggap sah sebagai dasar penyusunan
ANDAL, RKL dan RPL bilamana telah dinilai oleh
Komisi Penilai AMDAL dan mendapatkan
Keputusan dari Pemerintah (Menteri LH/Kepala
BAPEDAL, Gubernur atau Bupati/Walikota)
dalam waktu selambat-lambatnya 75 hari kerja sejak
diterimanya dokumen tersebut oleh Sekretariat
Komisi. Sebaliknya bilamana pemerintah (Menteri
LH/Kepala BAPEDAL, Gubernur atau
Bupati/Walikota) dalam waktu 75 hari kerja
tersebut tidak juga memberikan keputusan, maka
secara hokum KA-ANDAL tersebut sah sebagai
dasar penyusunan ANDAL.

Kieterlibatan Masyarakat dalam


AMDAL ?
Masyarakat merupakan focus dalam studi AMDAL
sehingga AMDAL bersifat terbuka untuk umum.
BAPEDAL/BAPEDALDA dan pemrakarsa wajib
mengumumkan secara luas suatu rencana usaha
dan/atau kegiatan yang membutuhkan studi AMDAL
agas masyarakat luas dapat memberikan tanggapan
yang disalurkan lewat Komisi, terutama bagi
masyarakat yang berkepentingan langsung dengan
keberadaan rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut.

Kadaluarsanya/batalnya keputusan
persetujuan dokumen AMDAL ?
Keputusan terhadap dokumen AMDAL dinyatakan
kadaluarsa apabila rencana usaha dan/atau kegiatan
tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun
sejak ditetapkannya keputusan tersebut. Untuk
melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya,
pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan
persetujuan atas ANDAL, RKL dan RPL kepada
instansi yang bertanggung jawab.
Keputusan kelayakan lingkungan berdasarkan hasil
ANDAL, RKL dan RPL dinyatakan batal bilamana
pemrakarsa melakukan perubahan lokasi rencana
kegiatan, desain, proses, kapasitas, bahan baku, bahan
penolong, atau akibat perubahan lingkungan yang
sangat mendasar karena peristiwa alam.
Pemantauan RKL dan RPL ?
Tujuan pemantauan terhadap dokumen RKL & RPL
adalah :
Untuk mengetahui pelaksanaan RKL dan RPL;
Untuk mengetahui tingkat ketaatan pemrakarsa
usaha dan/atau kegiatan dalam melakukan
pengelolaan dan pemantauan lingkungan;
Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan RKL
dan RPL dalam menjaga dan meningkatkan
kualitas lingkungan.
Pemantauan RKL dan RPL dilaksanakan oleh :
1. Pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan;
2. Pemerintah Propinsi dan Pemerintah
Kabupaten/Kota yang bersangkutan;
3. Instansi Teknis/Sektor yang bertanggungjawab;
4. Bapedal, Bapedal Wilayah, Bapedalda Propinsi
dan Bapedalda Kabupaten

Penutup ?
AMDAL merupakan salah satu azas untuk
menunjang pembangunan berwawasan lingkungan.
Pada dasarnya prosedur untuk semua kegiatan hampir
sama satu dengan yang lain dan dapat dikaji dari PP
27/1999 tentang Analisis Dampak Lingkungan.
Pedoman pelaksanaan tertuang antara lain pada
Keputusan Kepala Bapedal KEP. No
9/KABAPEDAL/2/2000, Keputusan Ketua
Bapedal No. 056/1994 tentang kriteria dampak
penting, dan KEPMEN LH No. 17 Tahun 2001
tentang kegiatan yang wajib AMDAL.

Referensi:
Anonimous, 1997. Undang-Undang RI No. 23 Tahun
1997, tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
Anonimous, 1999. Peraturan Pemerintah RI No. 27
Tahun 1999, tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan;
Anonimous, 2000. Keputusan Menteri Negara LH No. 2
Tahun 2000, tentang panduan penilaian analisis mengenai
dampak lingkungan (AMDAL);
Anonimous, 2000. Keputusan Menteri Negara LH No. 8
Tahun 2000, tentang keterlibatan Masyarakat dan
Keterbukaan Informasi Dalam Proses Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan;
Anonimous, 2000. Keputusan Kepalda BAPEDAL No.
9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL);
Anonimous, 2001. Keputusan Menteri Negara LH,
tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib
Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(AMDAL);
Chafid Fandeli, 1992. Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Prinsip Dasar dan Pemapanannya dalam
Pembangunan. Penerbit: Liberty, Yogyakarta;
Emil Salim, 1985. Pembangunan Berwawasan Lingkungan
LP3ES, Jakarta;
Hardjosoemantri Koesnadi, 1986. Hukum Tata
Lingkungan, Gadjah Mada University Press. Yogyakarta;
Munn, RE (ed) 1975. Environmental Impact Assessment.
Principles and Procedures Scope Rep. 5. Scope Secretariate,
Paris;
Otto Soemarwoto, 1998. Analisis Dampak
Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta;
Soeratmo, G, 1988. Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta;
Zen, MT., 1982. Menuju Kelestarian Lingkungan Hidup.
Penerbit PT.Gramedia, Jakarta.
* Akan dipresentasikan pada In-House Training
Tema: “Process, Engineering and Management”
Central Gas Processing Plant Kampung Baru
Energy Equity Epic (Sengkang) Pty. Ltd
24-25 Pebruari 2004

Ilham, holds Bachelor Science of Degree Marine Science &


Technology (Engineer), Hasanuddin University (UNHAS)
1995. Took AMDAL Course Type A dan B respectively in
Diponegoro University (UNDIP) Semarang and Gadjah Mada
University (UGM) Yogyakarta. Incumbent as Environmental
Engineer in Energy Equity Epic Pty. Ltd and Chairman of
Indonesia Oil and Gas Community Branch South Sulawesi
Email: ilham@epeec.or.id
AMDAL-Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
A. Apakah AMDAL itu?
AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilankeputusan
suatu usaha dan atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup
yangdiperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan atau
kegiatan (Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan).
Agar pelaksanaan AMDAL berjalan efektif dan dapat mencapai sasaran yang diharapkan,
pengawasannya dikaitkan dengan mekanisme perijinan. Peraturan pemerintah tentang AMDAL
secara jelas menegaskan bahwa AMDAL adalah salah satu syarat perijinan, dimana para
pengambil keputusan wajib mempertimbangkan hasil studi AMDAL sebelum memberikan ijin
usaha/kegiatan. AMDAL digunakan untuk mengambil keputusan
tentang penyelenggaraan/pemberian ijin usaha dan atau kegiatan.
B. Dokumen AMDAL terdiri dari :
Setiap kegiatan pembangunan secara potensial mempunyai dampak terhadap
lingkungan. Dampak-dampak ini harus dipelajari untuk merencanakan upaya
mitigasinya. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 (PP 51/1993) tentang Analisis Mengenal
Dampak Lingkungan (AMDAL) menyatakan bahwa studi tersebut harus merupakan bagian dari
studi kelayakan dan menghasilkan dokumen-dokumen sebagai berikut:
a) Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL)
b) Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)
c) Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)
d) Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

Tiga dokumen (ANDAL, RKL, dan RPL) diajukan bersama-sama untuk dinilai oleh Komisi
Penilai AMDAL. Hasil penilaian inilah yang akan menentukan apakah rencana usaha dan atau
kegiatan tersebut layak secara lingkungan atau tidak dan apakah perlu direkomendasikan untuk
diberi ijin atau tidak.
RKL dan RPL merupakan persyaratan mandatory menurut PP 51/1993, sebagai bagian
kelengkapan dokumen AMDAL bagi kegiatan wajib AMDAL. Untuk kegiatan yang tidak wajib
AMDAL, penanggulangan dampak lingkungan yang timbul memerlukan:
1. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL)
2. Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL)
3. Pertanggung-jawaban pelaksanaan audit, antara auditor dan manajemen organisasi.
4. Komunikasi temuan-temuan audit.
5. Kompetensi audit.
6. Bagaimana audit akan dilaksanakan.

Sebagai dasar pelaksanaan Audit Lingkungan di Indonesia, telah dikeluarkan Kepmen LH No.
42/MENLH/11/1994 tentang Prinsip-Prinsip dan Pedoman Umum Audit Lingkungan. Dalam
Lampiran Kepmen LH No. 41/94 tersebut didefinisikan bahwa:

Audit lingkungan adalah suatu alat pengelolaan yang meliputi evaluasi secara sistematik
terdokumentasi, periodik dan obyektif tentang bagaimana suatu kinerja organisasi, sistem
pengelolaan dan pemantauan dengan tujuan memfasilitasi kontrol pengelolaan terhadap
pelaksanaan upaya pengendalian dampak lingkungan dan pengkajian kelayakan usaha atau
kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan.

Audit Lingkungan suatu usaha atau kegiatan merupakan perangkat pengelolaan yang
dilakukan secara internal oleh suatu usaha atau kegiatan sebagai tanggungjawab pengelolaan dan
pemantauan lingkungannya. Audit lingkungan bukan merupakan pemeriksaan resmi yang
diharuskan oleh suatu peraturan perundang-undangan, melainkan suatu usaha proaktif yang
diIaksanakan secara sadar untuk mengidentifikasi permasalahan lingkungan yang akan timbul
sehingga dapat dilakukan upaya-upaya pencegahannya.

C. Tujuan AMDAL
Tujuan dan sasaran AMDAL adalah Untuk menjamin agar suatu usaha dan/atau
kegiatan pembangunan dapat beroperasi secara berkelanjutan tanpa merusak dan mengorbankan
lingkungan atau dengan kata lain usaha atau kegiatan tersebut layak dari aspek lingkungan hidup.
Pada hakikatnya diharapkan dengan melalui kajian AMDAL, kelayakan lingkungan sebuah
rencana usaha dan atau kegiatan pembangunan diharapkan mampu secara optimal meminimalkan
kemungkinan dampak lingkungan hidup yang negatif, serta dapat memanfaatkan dan mengelola
sumber daya alam secara efisien.
D. Apa guna/fungsi AMDAL?
AMDAL berfungsi sebagai penetapan pengambilan keputusan seperti yang tercantum dalam
Pasal 1 ayat 1 PP 27 Tahun 1999, (AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting
suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan ). Selain itu
terdapat beberapa kegunaan AMDAL, yaitu:
a) Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah
b) Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup
darirencana usaha dan/atau kegiatan
c) Member masukan untuk penyusunan desain rinci teknis dari rencana usaha dan atau kegiatan.
d) Member masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.
e) Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencanausaha dan
atau kegiatan.
f) Memberikan alternatif solusi minimalisasi dampak negatif
g) Digunakan untuk mengambil keputusan tentang penyelenggaraan/pemberi ijin usahadan/atau
kegiatan

E. Manfaat AMDAL
Pada dasarnya AMDAL memiliki tiga manfaat utama yaitu,
1. Pada Pemerintah
a) Sebagai alat pengambil keputusan tentang kelayakan lingkungan dari suatu rencana usaha dan
atau kegiatan.
b) Merupakan bahan masukan dalam perencanaan pembangunan wilayah.
c) Mencegah potensi SDA di sekitar lokasi proyek tidak rusak dan menjaga kelestarian lingkungan
hidup.

2. Pada Masyarakat
a) Dapat mengetahui rencana pembangunan di daerahnya sehingga dapat mempersiapkan diri untuk
berpartisipasi.
b) Mengetahui perubahan lingkungan yang akan terjadi dan manfaat serta kerugian akibat adanya
suatu kegiatan.
c) Mengetahui hak dan kewajibannya di dalam hubungan dengan usaha dan atau kegiatan di dalam
menjaga dan mengelola kualitas lingkungan.

3. Pada Pemrakarsa
a) Untuk mengetahui masalahmasalah lingkungan yang akan dihadapi pada masa yang akan
datang.
b) Sebagai bahan untuk analisis pengelolaan dansasaran proyek.
c) Sebagai pedoman untuk pelaksanaan pengelolaandan pemantauan lingkungan hidup.

F. Jenis Usaha dan Atau Kegiatan Wajib AMDAL


Jenis-jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL dapat
dilihat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 17 tahun 2001 tentang Jenis
Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. Jenis Usaha dan Atau Kegiatan
Wajib AMDAL:
a. Pertahanan dan Keamanan
b. Pertanian
c. Perikanan
d. Kehutanan
e. Kesehatan
f. Perhubungan
g. Teknologi Satelit
h. Perindustrian
i. Prasarana Wilayah
j. Energi dan Sumber Daya Mineral
k. Pariwisata
l. Pengelolaan limbah B3, dan Rekayasa Genetika.
Dokumen Lingkungan
Pengertian Dokumen Lingkungan Hidup menurut Permen LH No. 14 tahun 2010 tentang DELH dan
DPLH yaitu sbb: (UKL-UPL), surat pernyataan kesanggupan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup (SPPL), dokumen pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (DPPL), studi
evaluasi mengenai dampak lingkungan hidup (SEMDAL), studi evaluasi lingkungan hidup (SEL),
penyajian informasi lingkungan (PIL), penyajian evaluasi lingkungan (PEL), dokumen pengelolaan
lingkungan hidup (DPL), rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan (RKL-
RPL), dokumen evaluasi lingkungan hidup (DELH), dokumen pengelolaan lingkungan hidup (DPLH),
dan Audit Lingkungan.
Berikut kami sarikan beberapa dokumen lingkungan sbb:

1. AMDAL

adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha
dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan (Peraturan Pemerintah
No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).
Dokumen AMDAL terdiri dari :
• Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL)
• Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)
• Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)
• Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

Manfaat AMDAL adalah sbb:

 Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah

 Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana
usaha dan/atau kegiatan

 Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan

 Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup

 Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan
atau kegiatan

Dasar hukum AMDAL adalah Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 05 Tahun 2012 tentang Jenis
Rencana Usaha dan atau Kegiatan yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Hidup

2. UKL / UPL

Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan hidup, yang
selanjutnya disebut UKL-UPL berisi tentang pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha dan/atau
kegiatan yang tidak berdampak penting ( Notes : usaha / kegiatan yang tidak wajib AMDAL ) terhadap
lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan
usaha dan/atau kegiatan.Dasar hukum UKL / UPL adalah Peraturan Menteri Negara Lingkungan
hHdup nomor 13 tahun 2010 tentang Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup dan Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Hidup.
3. DELH (Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup)

adalah dokumen yang memuat pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang merupakan
bagian dari proses audit lingkungan hidup yang dikenakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang sudah
memiliki izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki dokumen amdal.

4. DPLH (Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup)

adalah dokumen yang memuat pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang dikenakan bagi
usaha dan/atau kegiatan yang sudah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki
UKL-UPL.

DELH atau DPLH wajib disusun oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap usaha
dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria:
1. telah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan sebelum diundangkannya Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
2. telah melakukan kegiatan tahap konstruksi sebelum diundangkannya Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
2. lokasi usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata
ruang kawasan; dan
3. tidak memiliki dokumen lingkungan hidup atau memiliki dokumen lingkungan hidup tetapi tidak
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Latar Belakang Masalah
Lingkungan merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupuan
manusia. Hal ini dikarenakan dimana seseorang hidup maka akan tercipta suatu
lingkungan yang berbeda dan sebaliknya. Akhir-akhir ini sering kali ditemukannya suatu
pengrusakan lingkungan oleh manusia dengan alasan pemanfaatan untuk menghasilkan
materi yang lebih, secara tidak langsung tindakan ini akan mengakibatkan terkikisnya
lingkungan dan mengancam pada kelangsungan hidup manusia.
Disamping itu keteloderan manusia dalam pendirian bangunan dengan tanpa
memperhatikan dampak dari usaha atau industri yang akan berlangsung dibangunan
tersebut juga akan merusak lingkungan fisik dan biologis secara perlahan dan tidak
langsung.Oleh sebab itu perlu dilakukan suatu usaha untuk melestarikan kualitas
lingkungan yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, sejak mulai penyusunan
rencana pembangunan daerah sampai setelah proyek-proyek pembangunan dijalankan,
misalnya penyusunan rencana penggunaan tata ruang, rencana pembangunan ekonomi
suatu daerah, penetapan proyek-proyek yang akan dibangun, sampai pada waktu
proyek-proyek telah berjalan. Dengan adanya perencanaan hal-hal yang mungkin
bias mengantisipasi timbulnya dampak buruk pada lingkungan sekitar maka kerusakan
lingkungan akan dapat dikurangi atau bahkan dicegah sama sekali. Dari alasan inilah
maka perlu dibuat sebuah rencana pengelolaan lingkungan demi terciptanya
keseimbangan antara kepentingan manusia dan kelestarian lingkuangan disekitarnya.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui kedudukan RKL dalam Andal
2. Mengetahui Sistem pengelolaan lingkungan
3. Mengetahui rencana dan pelaksanaan pengelolaan lingkungan
1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah kedudukan RKL dalam Andal ?
2. Bagaimanakah system pengelolaan lingkungan berdasarkan faktor-faktor yang saling
berkaitan dalam proses pengelolaan lingkungan?
3. Bagaimanakah rencana dan pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang berpedoman
pada PP 29 tentang Amdal ?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Permasalahan Lingkungan


Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang sering disingkat AMDAL,
merupakan reaksi terhadap kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia yang semakin
meningkat. Reaksi ini mencapai keadaan ekstrem sampai menimbulkan sikap yang
menentang pembangunan dan penggunaan teknologi tinggi. Dengan ini timbullah citra
bahwa gerakan lingkungan adalah anti pembangunan dan anti teknologi tinggi serta
menempatkan aktivis lingkungan sebagai lawan pelaksana dan perencana
pembangunan. Karena itu banyak pula yang mencurigai AMDAL sebagai suatu alat untuk
menentang dan menghambat pembangunan.
Dengan diundangkannya undang-undang tentang lingkungan hidup di Amerika
Serikat, yaitu National Environmental Policy Act (NEPA) pada tahun 1969. NEPA mulai
berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Dalam NEPA pasal 102 (2) (C) menyatakan,
“Semua usulan legilasi dan aktivitas pemerintah federal yang besar yang akan
diperkirakan akan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan diharuskan disertai
laporan Environmental Impact Assessment (Analsis Dampak Lingkungan) tentang usulan
tersebut”.
AMDAL mulai berlaku di Indonesia tahun 1986 dengan diterbitkannya Peraturan
Pemerintah No. 29 Tahun 1086. Karena pelaksanaan PP No. 29 Tahun 1986 mengalami
beberapa hambatan yang bersifat birokratis maupun metodologis, maka sejak tanggal 23
Oktober 1993 pemerintah mencabut PP No. 29 Tahun 1986 dan menggantikannya
dengan PP No. 51 Tahun 1993 tentang AMDAL dalam rangka efektivitas dan efisiensi
pelaksanaan AMDAL. Dengan diterbitkannya Undang-undang No. 23 Tahun 1997, maka
PP No. 51 Tahun 1993 perlu disesuaikan. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1999,
pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999. Melalui PP No. 27
Tahun 1999 ini diharapkan pengelolaan lingkungan hidup dapat lebih optimal.
Pembangunan yang tidak mengorbankan lingkungan dan/atau merusak lingkungan
hidup adalah pembangunan yang memperhatikan dampak yang dapat diakibatkan oleh
beroperasinya pembangunan tersebut. Untuk menjamin bahwa suatu pembangunan
dapat beroperasi atau layak dari segi lingkungan, perlu dilakukan analisis atau studi
kelayakan pembangunan tentang dampak dan akibat yang akan muncul bila suatu
rencana kegiatan/usaha akan dilakukan.
AMDAL adalah singkatan dari analisis mengenai dampak lingkungan. Dalam
peraturan pemerintah no. 27 tahun 1999 tentang analisis mengenai dampak lingkungan
disebutkan bahwa AMDAL merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting untuk
pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada
lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Kriteria mengenai dampak besar dan penting
suatu usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup antara lain:
1 jumlah manusia yang terkena dampak
2 luas wilayah persebaran dampak
3 intensitas dan lamanya dampak berlangsung
4 banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak
5 sifat kumulatif dampak
6 berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak
Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999, pasal 1 ayat 1, AMDAL (Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting
suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang
diperlukan bagi proses pengambilan keputusan.
Sebagai dasar pelaksanaan Audit Lingkungan di Indonesia, telah dikeluarkan
Kepmen LH No. 42/MENLH/11/1994 tentang Prinsip-Prinsip dan Pedoman Umum Audit
Lingkungan. Dalam Lampiran Kepmen LH No. 41/94 tersebut didefinisikan bahwa:
Audit lingkungan adalah suatu alat pengelolaan yang meliputi evaluasi secara
sistematik terdokumentasi, periodik dan obyektif tentang bagaimana suatu kinerja
organisasi, sistem pengelolaan dan pemantauan dengan tujuan memfasilitasi kontrol
pengelolaan terhadap pelaksanaan upaya pengendalian dampak lingkungan dan
pengkajian kelayakan usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan
tentang pengelolaan lingkungan.
Audit Lingkungan suatu usaha atau kegiatan merupakan perangkat pengelolaan
yang dilakukan secara internal oleh suatu usaha atau kegiatan sebagai tanggungjawab
pengelolaan dan pemantauan lingkungannya. Audit lingkungan bukan merupakan
pemeriksaan resmi yang diharuskan oleh suatu peraturan perundang-undangan,
melainkan suatu usaha proaktif yang diIaksanakan secara sadar untuk mengidentifikasi
permasalahan lingkungan yang akan timbul sehingga dapat dilakukan upaya-upaya
pencegahannya. Berikut pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada masyarakat
sekitar yang berada pada pembangunan apartemen tersebut:
Berdasarkan gambaran diatas, mengidentifikasi permasalahan yang ada di
Kabupaten Tangerang berupa pertanyaan penelitian,
yaitu :
1. Apakah rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungantelah diimplementasikan
oleh Industri?
2. Bagaimana keterlibatan masyarakat sekitar industri dalam pelaksanaan pengelolaan
dan pemantauan lingkungan?
3. Bagaimana pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan yang telah dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan
instansi terkait lainnya

2.2 Pembahasan dan Analisis


Penyusunan AMDAL/UKL&UPL melalui prosedur dan proses yang
telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintan Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL dan
keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup serta peraturan lainnya.
Heer&Hagerty (1977) mendefinisikan AMDALsebagai penaksiran dengan
mengemukakan nilai-nilai kuantitaif pada beberapa parameter tertentu yang penting
dimana hal tersebut menunjukkan kualitas lingkungan sebelum, selama dan setelah
adanya aktivitas.
Battele Institute (1978) mengemukakan pengertian AMDAL sebagai
penaksiran atas semua faktor lingkungan yang relevan dan pengaruh sosial yang terjadi
sebagai akibat dari aktivitas suatu proyek.
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Pasal 1 menyatakan bahwa AMDAL adalah kajian
mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang diakibatkan
oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.
Tujuan pengelolaan lingkungan hidup adalah terlaksananya
pembangunan berwawasan lingkungan dan terkendalinya pemanfaatan sumberdaya
alam secara bijaksana. Agar tujuan tersebut dapat tercapai maka sejak awal perencanaan
sudah harus memperkirakan perubahan kondisi lingkungan, baik yang positif maupun
negatif, dengan demikian dapat dipersiapkan langkah-langkah pengelolaannya. Cara
untuk mengkaji perubahan kondisi tersebut melalui studi AMDAL.
AMDAL bertujuan untuk mengkaji kemungkinan-kemungkinan
perubahan kondisi lingkungan baik biogeofisik maupun sosial ekonomi dan budaya
akibat adanya suatu kegiatan pembangunan.

Gambar 2.1 Proses Produksi PT TIFICO

2.3 Prosedur Penyusunan AMDAL/UKL & UPL


Kajian kelayakan lingkungan diperlukan bagi kegiatan/usaha yang akan mulai
melaksanakan proyeknya, sehingga dapat diketahui dampak
yangtimbul dan bagaimana cara pengelolaannya. Proyek di sini bukan hanya pem
bangunan fisik saja tetapi mulai dari perencanaan, pembangunan fisik sampai proyek
tersebut berjalan bahkan sampai proyek tersebut berhenti masa operasinya. Jadi lebih
ditekankan pada aktivitas manusia di dalamnya.
Kajian kelayakan lingkungan adalah salah satu syarat untuk
mendapatkan perijinan yang diperlukan bagi suatu kegiatan/usaha, seharusnya
dilaksanakan bersama-sama dengan kajian kelayakan teknis dan ekonomi. Dengan
demikian ketiga kajian kelayakan tersebut dapat sama-sama memberikan masukan
untuk dapat menghasilkan keputusan yang optimal bagi kelangsungan proyek,
terutama dalam menekan dampak negatif yang biasanya dilakukan dengan
pendekatan teknis sehingga didapat biaya yang lebih murah.
Secara umum proses penyusunan kelayakan lingkungan dimulai dengan proses
penapisan untuk menentukan studi yang akan dilakukan menurut jenis proyeknya, wajib
menyusun AMDAL atau UKL & UPL. Proses penapisan inimengacu pada Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup RI Nomor 17 tahun 2001 tentang Jenis Usaha
Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan. Jika usaha atau kegiatan tersebut tidak termasuk dalam daftar maka wajib
menyusun Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (UKL & UPL).

3.1 Kesimpulan
Hasil pengkajian terhadap pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingku
ngan pada sektor industri dapat disimpulkan bahwa :
1. Pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan oleh industri masih pada
tahap pengelolaan limbah yang dihasilkan oleh industri belum mengarah pada kesadaran
untuk kelestarian lingkungan.
2. Pelaku usaha industri masih menganggap bahwa kewajiban untuk mengimplement
asikan pengelolaan dan pemantauan lingkungan masih merupakan beban yang
memberatkan dari segi biaya,
danindustribelum merasakan keuntungan secara langsung dari kegiatnpengelolaan
dan pemantauan yang telah dilakukan.
3. Pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh industri masih sebatas meredam protes
atau mencegah terjadinya gejolak oleh masyarakat di sekitar lokasi industri, belum
mencakup pengelolaan lingkungan secara utuh.
4. Keterlibatan dan kepedulian masyarakat di sekitar industri terhadap pelaksan
aan pemantauan dan pengelolaan lingkungan yang dilakukan
industri relatif masih rendah, masyarakat masih beranggapan
bahwaindustryyang memberikan banyak bantuan dan menyerap banyak tenaga ker
ja lokal merupakan industri yang telah peduli terhadap lingkungan.
5. Apakah industri tersebut mencemari lingkungan atau tidak. Sebagian masyarakat yang
berkeinginan terlibat dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan tidak mempunyai
akses untuk dapat terlibat dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan.Pengawasan yang dilakukan
olehinstansi terkait dibidang lingkungan di kabupaten Pelalawan masih bersifat pasif
dan reaktif, yaitu hanya menunggu pelaporan dari pihak industri dan akan terjun ke
lapangan apabila terjadikasus.
5. Mekanisme koordinasi antar instansi masih belum jelas sehingga masing-masing instansi
belum dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.
6. Belum adanya peraturan daerah mengenai pengelolaan lingkungan hidup yang spesifik
sesuai dengan karakteristik wilayah kabupaten Tangerang.
7. Pemberian penghargaan dan sanksi baik bagi industri yang telah melakukan pemantauan
dan pengelolaan lingkungan maupun yang tidak melaksanakan belum dilaksanakan,
sehingga menimbulkan kecemburuan bagi industri yang telah melaksanakan.

3.2 Saran
1. Koordinasi dan keterpaduan dalam menetapkan kebijakan antar instansi
yang membidangi masalah industri dan lingkungan perlu ditingkatkan sehingga dapat
digunakan sebagai pedoman oleh pelaku industri untuk mewujudkanindustri yang
berwawasan lingkungan.
2. Mengikutsertakan aparat pada dinas/instansi dalam pendidikan dan pelatihan mengenai
pengelolaan lingkungan hidup sehingga semua aparat yang bertugas mempunyai
persepsi yang sama mengenai pengelolaan lingkungan.
3. Perlu adanya kajian mengenai daya tampung lingkungan yang dapat menjadi dasar
kebijakan dalam penyusunan peraturan daerah.
4. Untuk meningkatkan kesadaran pelaku industri di bidang lingkungan maka pemberian
penghargaan bagi industri yang telah melaksanakan dan mematuhi aturan dan
pemberian sanksi bagi industri yang melanggar aturan di bidang lingkungan perlu
diintensifkan.
5. Sosialisasi oleh Dinas Lingkungan Hidup tentang kewajiban pengelolaan
dan pemantauan lingkungan yang dilakukan industri dan keterbukaan
informasi oleh industri bersangkutan dengan memberikan dokumen pengelolaan ling
kungan kepada kelurahan setempat sehingga dapat meningkatkan kepedulian dan
partisipasi masyarakat di sekitar lokasi industri untuk mewujudkan industri yang
berwawasan lingkungan