Você está na página 1de 11

WELCOME Rizal Suhardi Eksakta ABOUT ME Rizal M Suhardi SUPPORT Contact Us MY CAMPUS

Universitas Kehidupan MATERI KULIAHKU Biologi Education BINA MOTIVASIKU My Collection


DOWNLOAD Get it right now! Home » » LAPORAN PRAKTIKUM tentang BAKTERI LAPORAN PRAKTIKUM
tentang BAKTERI Minggu, 12 Juni 2011 | 7komentar BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semua
makhluk hidup membutuhkan nutrien untuk pertumbuhan dan reproduksinya. Nutrien merupakan
bahan baku yang digunakan untuk membangun komponen-komponen seluler baru dan untuk
menghasilkan energi yang dibutuhkan dalam proses kehidupan sel. Untuk menumbuhkan dan
mengembangbiakkan mikroba diperlukan suatu substrat yang disebut medium. Sedangkan medium itu
sendiri sebelum digunakan haris dalam keadaan steril artinya tidak ditumbuhi oleh mikroba lain yang
tidak diharapkan. Agar mikroba dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di dalam medium, maka
diperlukan persyaratan tertentu yaitu diantaranya bahwa di dalam medium harus terkandung semua
unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan mikroba. Oleh karena hal tersebut,
maka diadakan praktikum ini guna menambah keterampilan dan pengetahuan kita mengenai cara
pembuatan medium pertumbuhan mikroba. 1.2 Tujuan Adapun tujuan pelaksanaan praktikum ini yaitu :
• Untuk mengetahui cara pembuatan medium pertumbuhan bakteri dengan air kaldu dan ektrak agar-
agar. • Untuk mengetahui jenis bakteri yang tumbuh pada medium yang di buat • Menjadi pembanding
pada medium lainnya. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Mikroorganisme Mikroorganisme
merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil. Setiap sel tunggal mikroorganisme
memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas kehidupan antara lain dapat mengalami
pertumbuhan, menghasilkan energi dan bereproduksi dengan sendirinya. Mikroorganisme memiliki
fleksibilitas metabolisme yang tinggi karena mikroorganisme ini harus mempunyai kemampuan
menyesuaikan diri yang besar sehingga apabila ada interaksi yang tinggi dengan lingkungan
menyebabkan terjadinya konversi zat yang tinggi pula. Akan tetapi, karena ukurannya yang kecil, maka
tidak ada tempat untuk menyimpan enzim-enzim yang telah dihasilkan. Dengan demikian enzim yang
tidak diperlukan tidak akan disimpan dalam bentuk persediaan. Enzim-enzim tertentu yang diperlukan
untuk pengolahan bahan makanan akan diproduksi bila makanan tersebut sudah ada (Kusnadi dkk,
2003). A. Bakteri Bakteri adalah organisme bersel tunggal terkecil, beberapa di antaranya hanya
memiliki diameter 0,4 mm. Sel berisi massa sitoplasma dan beberapa bahan inti (dia tidak memilki inti
sel yang jelas). Sel dibungkus oleh dinding sel dan pada beberapa jenis bakteri dinding sel ini dikelilingi
oleh lapisan lendir atau kapsula. Kapsula terdiri atas campuran polipeptida dan polisakarida (Gaman dan
Sherrington, 1992) . Bakteri merupakan sel prokariotik dan mempunyai berbagai bentuk yang sebagian
m.m dan panjang 5besar berbentuk batang dengan lebar kurang dari 1 DNA diselubungi oleh satu
membran inti, terdapat organela mitokondria dan protoplas. Daerah inti berupa anyaman benang halus
yang langsung berbatasan dengan sitoplasma berisi ribosom.Bakteri berkembang biak dengan
membelah diri (Schlegel, 1994). Berdasarkan bentuk morfologisnya, maka bakteri tiu dapat dibagi atas ti
golongan,yaitu golongan basil, golongan kokus, dan golongan spiral. Basil (bacillus) berbentuk serupa
dengan tongkat pendek, silindris. Sebagian besar dari bakteri itu merupakan basil. Basil dapat
bergandeng-gandengan panjang, bergandengan dua-dua, atau terlepas satu sama lain. Yang
bergandeng-gandengan panjang disebut streptobasil, yang dua-dua disebut diplobasil. Ujung-ujung basil
yang terlepas satu sama lain itu tumpul, sedang ujung-ujung yang masih bergandengan itu tajam. Kokus
(coccus) adalah bakteri yang bentuknya serupa bola-bola kecil. Golongan ini tidak sebanyak golongan
basil. Kokus ada yang bergandeng-gandengan panjang serupa tali leher, ini disebiut streptokokus, ada
yang bergandengan dua-dua, ini disebut tetrakokus, kokus yang mengelompok merupakan suatu
untaian disebut stafilokokus, sedang kokus yang mengelompok serupa kokus disebut sarcina. Spiril (dari
spirilum) ialah bakteri yang bengkok atau berbengkok-bengkok serupa spiral. Bakteri yang berbentuk
spiral itu tidak banyak. Golongan ini merupakan golongan yang paling kecil, jika dibandingkan dengan
golongan kokus maupun golongan basil. (Dwijoseputro, 1978). Suatu bahan makanan apabila dibiarkan
pada keadaan yang memungkinkan pertumbuhan bakteri, susu mentah misalnya dengan mutu
kesehatan yanag baik akan memungkinkan memberikan rasa asam yang khas. Perubahan ini disebabkan
oleh Streptococcus lactis dan spesies-spesies Lactobacillus tertentu. Perubahan utama yang terjadi
adalah fermentasi laktosa menjadi asam laktat. Bakteri dalam susu digolongkan berdasarkan suhu
pertumbuhan dan ketahanannya terhadap panas. Pertimbangan ini amat praktis karena suhu rendah
digunakan untuk mencegah atau menghambat pertumbuhan mikrobia yang merusak susu dan suhu
tinggi (pasteurisasi) untuk mengurngi populasi mikrobia, memusnahkan pathogen dan secara umum
memperbaiki mutu susu. Berdasarkan pada persyaratan suhu, tipe bakteri yang diujmpai dalam susu
ialah psikofilik, mesofilik, termofilik, dan thermodurik karena beberapa bakteri psikofilik tertentu
tumbuh pada suhu sedikit di atas suhu beku dan beberapa bakteri thermofilik tumbuh di atas suhu 65
oC (Pelczar dan Schan, 1986). B. Jamur Secara morfologis jamur dapat ditentukan dengan melihat
bentuk srukturnya menggunakan mikroskop, dengan demikian identifikasi dan klsifikasi dapat
ditentukan, secara fisual jamur dilihat seperti kapas atau benang berwarna, atau tidak berwarna, yang
disebabkan karena adanya miselia dan spora. Miselia terbentuk dengan adanya hifa, baik yang bersepta
atau yang tidak bersepta. Jamur terbagi menjadi beberapa familia antara lain Moniliaceae (Aspergillus,
Phenicillium, Trichothecium, Geotrichum, Monilia, Sporatrichum, Botrytis, Cephalosporium,
Trichoderma, Schopulariopsis), Dematiaceae (Cladosporium, Helminthosporium, Alternaria,
Stemphylium) dan Tuberculariaceaea (Fusarium) (Kuswanto dan Sudarmadji, 1998). Sifat kultural dari
jamur dapat dilihat dengan kenampakan pertumbuhannya pada makanan. Pada permukaan bahan
makanan tampak kering, membentuk massa serbuk, kadang-kadang halus dan lunak atau kelihatan
basah dan berair. Warna miselia hijau biru, biru kehijauan, kuning, orange, merah muda, coklat, abu-
abu, dan hitam (Budiharta dan Drastini, 1998). Adapun jamur yang penting dalam pembicaraan
mikrobiologi adalah klas Phicomycetes, klas Ascomycetes dan klas Deuteromycetes. Perbedaan yang
penting dari klas Phicomycetes dan klas Ascomycetes adalah bahwa miselium Phicomycetes itu serupa
tabung panjang yang tidak terbagi-bagi, sedang miselium Ascomycetes serupa tabung panjang yang
bersekat-sekat. Miselium dapat bercabang-cabang, satu helai cabang disebut hifa. (Dwijoseputro, 1978).
Klasifikasi cendawan terutama didasarkan pada ciri-ciri spora seksual dan tubuh buah yang ada selama
tahap-tahap seksual. Cendawan mampu memanfaatkan berbagai macam bahan untuk gizinya, sekalipun
demikian mereka itu heterotrof. Berbeda dengan bakteri, mereka tidak dapat menggunakan senyawa
karbon anorganik, seperti misalnya karbondioksida. Karbon berasal dari sumber organik, misalnya
glukosa. Beberapa spesies dapat menggunakan nitrogen, itulah sebabnya mengapa medium biakan
untuk cendawan biasanya berisiskan pepton, suatu produk protein yang terhidrolisis (Pelczar dan Schan,
1986). Septa atau dinding pemisah .jamur tak bersepta adalah jamur yamg tidak memiliki dinding inti
pemisah atau septa. Hifanya merupakan tabung memanjang berisi inti yang banyak dan terdispersi ke
seluruh sitoplasma, oleh karenanya diberi nama multiseluler. Jamur bersepta, jamur ini memiliki septa
yang membagi hifa menjadi sel yang terpisah, masing-masing berisi sel inti (Gaman dan Sherrington,
1992). Untuk menelaah bakteri dan jamur di laboratorium, kita harus dapat menumbuhkan atau
mengembangkan bakteri dan jamur tersebut. Adanya pembiakan bakteri dan jamur dimaksudkan untuk
memudahkan pemeriksaan yang akan dilakukan di dalam laboratorium, sehingga jika sewaktu-waktu
kita memerlukan bakteri dan jamur untuk suatu percobaan, maka bakteri dan jamur tersebut telah
tersedia. Biakkan bakteri dan jamur tersebut dapat disimpan di dalam lemari es untuk waktu yang lama
tanpa ada kerusakan. 2.2 Sterilisasi Sel bakteri maupun sporanya dapat dirusakkan dengan memanaskan
pangan pada suhu tinggi selama beberapa jam atau lebih lama lagi. Destruksi sempurna mikroorganisme
dengan panas disebut sterilisasi (Gaman dan Sherrington, 1992). Ada 3 cara utama yang umum dipakai
dalam sterilisasi yaitu penggunaan panas, penggunaan bahan kimia dan penyaringan (filtrasi). Sterilisasi
basah biasanya dilakukan di dalam autoklaf atau sterilisator uap yang mudah diangkut (portable) dengan
menggunakan uap air jenuh bertekanan pada suhu 121 oC selama 15 menit karena naiknya titik didih air
menjadi 121oC itu disebabkan oleh tekanan 1 atm pada ketinggian permukaan laut, maka daur sterilisasi
sering kali juga dinyatakan sebagai 1 atm 15 menit. Panas ini mendenaturasikan atau mengkoagulasikan
protein pada organisme hidup dengan demikian mematikannya (Hadioetomo, 1990). Autoklaf
merupakan alat yang essensial dalam setiap laboratorium mikrobiologi, ruang sterilisasi di rumah-rumah
sakit serta tempat-tempat lain yang memproduksi produk steril. Pada umumnya (tidak selalu) autoklaf
dijalankan pada tekanan kira-kira 15-16 per ln2 (5 kg/cm2) pada suhu 121oC. Waktu yang diperlukan
untuk sterilisasi bergantung pada sifat bahan yang disterilkan, tipe wadah dan volume bahan. Misalnya
1000 buah tabung reaksi yang masing-masing berisi 10 ml medium cair dapat disterilkan dalam waktu
10-15 menit pada suhu 121oC, sedangkan jumlah medium yang sama bila ditempatkan dalam 10 wadah
berukuran 1 liter akan membutuhkan waktu 20-30 menit pada suhu yang sama untuk menjamin
tercapainya sterilisasi (Pelczar dan Schan, 1986). 2.3 Media Medium ialah suatu bahan yang terdiri atas
campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan mikrobia. Selain untuk menumbuhkan mikrobia,
medium dapat pula digunakan untuk isolasi, memperbanyak pengujian sifat-sifat fisiologi dan
perhitungan jumlah mikrobia. Supaya mikroorganisme dapat tumbuh baik dalam medium perlu
diperhatikan syarat-syarat sebagai berikut: 1. Media harus mengandung semua nutrisi yang mudah
digunakan oleh mikroorganisme 2. Harus mempunyai tekanan osmose tegangan muka dan pH yang
sesuai 3. Tidak mengandung zat-zat penghambat 4. Harus steril (Jutono et al., 1973). Mikroorganisme
dibiakkan di laboratorium pada bahan nutrien yang disebut medium. Banyak sekali media yang tersedia,
macamnya yang dipakai tergantung dari banyak faktor. Salah satu di antaranya adalah macam
mikroorganisme yang akan ditumbuhkan. Bahan yang akan diinokulasikan pada medium itu disebut
inokulan. Dengan menginokulasi medium agar nutrien dengan metode cairan gores atau metode cawan,
tuang, sel-sel itu akan terpisah sendiri-sendiri setelah inkubasi. Sel-sel mikrobia individu itu
memperbanyak diri sedemikian cepatnya sehingga di dalam waktu 18-24 jam terbentuklah massa sel
yang dapat dilihat dan dinamakan koloni (Pelczar dan Schan, 1986). Setiap mikrobia dapat diinkubasi
denganmedia tertentu sesuai dengan sifat-sifat karakteristik biosintesisnya. Media PCA (Plate Count
Agar) dan NA (Nutrient Agar) biasa digunakan untuk pemupukan bakteri dan media PDA (Potato
Dextrose Agar) biasa digunakan untuk pemupukan jamur (Fardiaz, 1994). Mikroorganisme yang ingin
kita tumbuhkan, yang pertama harus dilakukan adalah memahami kebutuhan dasarnya kemudian
memformulasikan suatu medium atau bahan yang akan digunakan. Air sangat penting bagi organisme
bersel tunggal sebagai komponen utama protoplasmanya serta untuk masuknya nutrien ke dalam sel.
Pembuatan medium sebaiknya menggunakan air suling. Air sadah umumnya mengandung ion kalsium
dan magnesium yang tinggi. Pada medium yang mengandung pepton dan ektrak daging, air dengan
kualitas air sadah sudah dapat menyebabkan terbentuknya endapan fosfat dan magnesium fosfat
(Hadioetomo, 1993). Mikroba memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda di dalam persyaratan
pertumbuhannya. Ada mikroba yang bisa hidup hanya pada media yang mengandung sulfur dan ada
pula yang tidak mampu hidup dan seterusnya. Karakteristik persyaratan pertumbuhan mikroba inilah
yang menyebabkan bermacam-macamnya media penunjang pertumbuhan mikroba. Pembiakan
diperlukan untuk mempelajari sifat bakteri untuk dapat mengadakan identifikasi, determinasi, atau
diferensiasi jenis-jenis yang ditemukan. Pertumbuhan ketahanan bakteri bergantung pada pengaruh luar
seperti makanan (nutrisi), atmosfer, suhu, lengas, konsentrasi ion hidrogen, cahaya, dan berbagai zat
kimia yang dapat menghambat atau membunuh. Kebutuhan bakteri pada umumnya adalah sebagai
berikut: 1. Sumber energi yang diperlukan untuk reaksi-reaksi sintesis yang membutuhkan energi dalam
pertumbuhan dan restorasi, pemeliharaan keseimbangan cairan, gerak, dan sebagainya 2. Sumber
karbon. 3. Sumber nitrogen sebagian besar untuk sintesis protein dan asam-asam nukleat. Sumber
garam-garam anorganik, khususnya fosfat dan sulfat sebagai anion; dan potasium, sodium magnesium,
kalsium, besi, mangan sebagai kation. Berdasarkan komposisi/susunan kimia bahan penyusunnya, media
yang digunakan untuk menumbuhkan mikrobia dibagi atas 4 yaitu: 1. Medium organik; yaitu medium
yang tersusun dari bahan-bahan organik. 2. Medium anorganik; yaitu medium yang tersusun dari bahan-
bahan anorganik 3. Medium sintetik, yaitu media yang tersusun atas senyawa yang tidak diketahui
komposisi kimianya secara tepat. Media tersebut berisi garam anorganik misalnya asam amino, asam
lemak, alkohol, karbohidrat atau senyawa organik serta serta vitamin-vitamin. 4. Media nonsintetik,
adalah media yang tidak diketahui komposisi kimianya secara pasti. Beberapa dari komposisi yang
ditambahkan misalnya ekstak beef, ekstrak yeast, pepton, darah, serum dan casein hidrolisat. Contoh
media non sintesis NA, NB, PDA. Menurut Dwidjoseputro , selanjutnya medium buatan manusia itu
dapat berupa: 1. Medium Cair Medium cair yang biasa dipakai ialah air kaldu yang disiapkan sebagai
berikut. Kepada 1 liter air murni ditambahkan 3 gr kaldu daging lembu dan 5 gr pepton. Pepton ialah
protein yang terdapat pada daging, pada air susu, pada kedelai, dan pada putih telur. Pepton
mengandung banyak N2, sedang kaldu berisi garam-garam mineral dan lain-lainnya lagi. Medium ini
kemudian ditentukan pHnya 6,8 sampai 7, jadi sedikit asam atau netral; keadaan yang demikian ini
sesuai bagi kebanyakan bakteri. Kaldu seperti tersebut diatas masih perlu disaring untuk kemudian
dimasukkan ke dalam tabung-tabung reaksi. Penyaringan dapat dilakukan dengan kertas saring. Setelah
tabung berisi medium kaldu tersebut disumbat dengan kapas, dan dapatlah dimasukkan ke dalam alat
pensteril. 2. Medium kental (padat) Dahulu kala orang lazim menggunakan kentang yang dipotong-
potong serupa silinder untuk medium.silinder kentang mentah dibuat dengan pipa besi, lalu potongan-
potongan itu dimaksudkan untuk ke dalam tabung reaksi. Kemudian tabung disumbat dengan kapas,
dan setelah itu disterilkan di dalam autoklaf. Setelah kentang dingin kembali,permukaan atas dari
silinder kentang dapat ditanami bakteri Suatu penemuan yang baik sekali ialah medium dari kaldu yang
dicampur dengan sedikit agar-agar, dan kemudian dibiarkan mendingin, maka diperolehlah medium
padat. Agar-agar ialah sekedar zat pengental, dan bukan zat makanan bagi bakteri. Medium yang
diperkaya. Kebanyakan bakteri suka tumbuh pada dasar makanan seperti disebut di atas. Tetapi bakteri
patogen seperti Brucella abortus, Mycobacterium tuberculosis, Diplococcus pneumoniae, dan Neisseria
gonorrhoeae memerlukan zat makanan tambahan berupa serum atau darah yang tak mengandung
fibrinogen lagi. Fibrinogen adalah zat yang menyebabkan darah menjadi kental, apabila keluar di luka.
Serum atau darah itu dicampurkan ke dalam medium yang sudah disterilkan. Jika pencampuran ini
dilakukan sebelum sterilisasi, maka serum atau darah tersebut akan mengental akibat pemanasan. Pada
medium buatan Loeffler, serum dicampurkan di dalam dasar makanan sebelum sterilisasi. Medium ini
baik sekali untuk memelihara basil-basil dipteri. Juga medium yang memerlukan tambahan putih telur
dibuat dengan cara demikian. Seringkali orang menambahkan susu atau air tomat kepada dasar
makanan untuk menumbuhkan Lactobacillus dan beberapa spesies lainnya. Medium yang kering
Pekerjaan laboratorium sekarang ini banyak dipermudah dengan telah adanya bermacam-macam
medium yang tersedia dalam bentuk serbuk kering. Untuk menyiapkan medium tersebut, cukuplah
orang mengambil sekian gram serbuk kering tersebut untuk dilarutkan dalam sekian liter air dan
kemudian larutan itu disterilkan. Penentuan pH tidak perlu lagi, karena hal itu sudah dilakukan lebih
dulu pada pembuatan serbuk. Periksalah “Difco Manual of dehyclinical culture media and reagents for
microbiological and clinical laboratory procedures”. BAB III METODE PRATIKUM 3.1.Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini yaitu diadakan pada: Hari/tanggal : Kamis/4
November 2010 Waktu : Pukul 14:30 s.d. 16:00 WITA Tempat :Laboratorium Biologi Hamzanwadi Selong
3.1.Alat dan Bahan Alat : 1. gelas kimia 2. pengaduk 3. lemari pendingin 4. kompor. 5. Panci 6. Gelas
Ukur 7. Cawan Petri 8. Perekat 9. Pipet tetes 10. Korek api Bahan : 1.Medium Nutrien Agar (NA) 2.Air
Kaldu 3.Air 4. Roti 3.3.Prosedur kerja 1. Dibuat Air campuran kaldu dengan perbandingan 150:150( air
kaldu: air biasa) pada panci yang disedikan 2. Dimasukkan agar Powder ke dalam air campuran kaldu
kemudian diaduk hingga rata 3. Sambil di aduk, dipanaskan/dimasak dengan suhu didih 100oC. 4. Jika
larutan telah matang dengan suhu tersebut,dibiarkan larutan untuk didinginkan/menurunkan suhu,
supaya tidak terlalu panas saat dituangkan pada cawan. 5. Dituangkan larutan secukupnya kedalam
cawan, kemudian dimasukkan kedalam pendingin. 6. Satu hari setelah pendinginan, ditanam bakteri
pada media tanam yang telah dibuat dengan cara mengoleskan roti pada medium tanam bakteri yang
telah dibuat. 7. Ditutup rapat medium yang telah ditanami sehingga udara tidak dapat masuk, dan di
letakkan di tempat dengan suhu kamar. 8. Dapat dilihat perkembangan perlakuan satu hari setelah
penanaman hingga satu minggu setelah penanaman. 9. Dicatat hasil pengamatan. Pertanyaan diskusi 1.
kenapa kita tidak menggunakan agar dan air kaldu untuk pembuatan medium ini 2. Kenapa lararutan
agar itu harus dimasak sampai mendidih (1000C) 3. Kenapa pengisian larutan agar pada cawan Petri
harus dilakukan oleh satu orang ( tidak rame_ rame) pada ruang yang steril/ tertutup

Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub


LAPORAN PRAKTIKUM
MATA KULIAH MIKROBIOLOGI

MATERI PRAKTIKUM
“ PENGUJIAN TOTAL BAKTERI / TOTAL PLATE COUNT (TPC) “
Hari / Tanggal Praktikum : Selasa, 17 Januari 2012

BIDANG KONSENTRASI
“ TEKNOLOGI PANGAN DAN GIZI “

Di Susun Oleh :

SELAKSA WAHYU S.
SITI JULAIKHA
SURANTO
SUSI SUSANTI
YULIANA LORENTINA
YUSUP SOPIAN
ZENI YUSUP ARFAH
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
PERTANIAN
P4TKP VEDCA CIANJUR JOINT PROGRAM DENGAN POLIJE
Jl. Jangari KM. 14 Sukajadi, Karangtengah Kotak Pos 138 CIANJUR 43202, Tlp. 0263-285003 Fax.
0263-285026 E-mail:info@vedca.net Website:www.vedca.net
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam Sejahtera Bagi Kita Semua.


Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya kepada kita sekalian, sehinga dalam kehidupan kita dapat berkarya serta
melaksanakan tugas dan kewajiban dibidang masing – masing. Semoga kita semua selalu
mendapat petunjuk dan perlindungan-Nya sepanjang masa. Dan dalam pada itu dengan izin-Nya,
Alhamdulillah niat dan tekad penyusun untuk menyelesaikan penyusunan “Laporan
Praktikum” dapat tersusun dengan baik.
Selanjutnya pada kesempatan ini penyusun setulus hati menyampaikan terima kasih dan
penghargaan kepada Bapak Dr. Ir. Sahirman, MP yang telah membimbing dan memberikan ilmu
pengetahuan khususnya di bidang Ilmu Mikrobiologi.
Laporan ini di susun dengan bahasa sederhana berdasarkan berbagai literatur tertentu dengan
tujuan untuk mempermudah pemahaman mengenai teori yang di bahas. Kendati demikian, tak ada
gading yang tak retak. Penyusun menyadari bahwa dalam laporan ini terdapat kekurangan dan
kelemahan, oleh karena itu penyusun terbuka dengan senang hati menerima kritik dan saran yang
konstruktif dari semua pihak demi perbaikan dan penyempurnaan laporan ini.

Akhirnya, penyusun berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak,
dan sumbangsih untuk kemajuan perkembangan Ilmu Mikrobiologi.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Cianjur, 24 Januari 2012

PENYUSUN

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR______________________________________ i
DAFTAR ISI_____________________________________________ ii

BAB I PENDAHULUAN___________________________________ 1
A. Latar Belakang_____________________________________ 1

B. Tujuan Praktikum___________________________________ 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA______________________________ 2

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM_______________________ 3

A. Alat______________________________________________ 3
B. Bahan____________________________________________ 3
BAB IV PROSEDUR______________________________________ 4
BAB V PEMBAHASAN____________________________________ 5

BAB VI PENUTUP________________________________________ 7

A. Kesimpulan________________________________________ 7
B. Saran_____________________________________________ 7

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Mikrobiologi adalah suatu cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang mikroorganisme dan
interaksi mereka dengan organisme lain dan lingkungannya.

Sejarah tentang mikroba dimulai dengan ditemukannya mikroskop oleh Leeuwenhoek (1633-1723).
Mikroskop temuan tersebut masih sangat sederhana, dilengkapi satu lensa dengan jarak fokus yang
sangat pendek, tetapi dapat menghasilkan bayangan jelas yang perbesarannya antara 50 – 300 kali.

Mikroba ialah jasad renik yang mempunyai kemampuan sangat baik untuk bertahan hidup. Jasad
tersebut dapat hidup hamper di semua tempat di permukaan bumi. Mikroba mampu beradaptasi
dengan lingkungan yang sangat dingin hingga lingkungan yang relative panas, dari ligkungan yang
asam hingga basa. Berdasarkan peranannya, mikroba dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
mikroba menguntungkan dan mikroba merugikan.
Perlakuan aseptik ialah perlakuan yang bertujuan terbebas dari mikroorganisme. Aseptik diimbangi
dengan sterilisasi yang merupakan upaya untuk menghilangkan kontamina mikroorganisme yang
menempel pada alat atau bahan yang akan dipergunakan untuk analisa selanjutnya.

B. Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat menguasai teknik Pengujian Total Bakteri
atau Total Plate Count (TPC) serta cara penghitungan bakeri atau mikroba yang tumbuh.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Penyebaran mikroorganisme yang tumbuh pada bahan hasil pertanian pada hasil olahnya pada
umumya terdiri dari bakteri, jamur/kapang, virus dan disamping itu terdapat juga binatang satu sel.
Pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme dalam bahan ( makanan ), akan menyebabkan
perubahan-perubahan tertentu yaitu : perubahan yang bersifat fisik dan dan kimiawi, sebagai contoh
yaitu: konsistensi bahan menjadi lunak, timbul gas atau aroma tertentu dan zat racun yang
membahayakan. Jumlah penyebaran bakteri/mikroorganisme pada bahan (makanan ) yang sedang
mengalami pembusukan sangat bervariasi jumlahnya dan tidak sama jenis ( species )-nya serta
tergantung pada: varietas, habitat, susunan kimia, cara penanganan, suhu penyimpanan dan lain-
lain.
Pertumbuhan mikroorganisme yang membentuk koloni dapat dianggap bahwa setiap koloni yang
tumbuh berasal dari satu sel, maka dengan menghitung jumlah koloni dapat diketahui penyebaran
bakteri yang ada pada bahan. Jumlah mikroba pada suatu bahan dapat dihitung dengan berbagai
macam cara, tergantung pada bahan dan jenis mikrobanya. Ada 2 macam cara perhitungan jumlah
mikroba/bakteri, yaitu perhitungan secara langsung dan tidak langsung.
Perhitungan jumlah mikroba secara langsung yaitu jumlah mikroba dihitung secara keseluruhan,
baik yang mati atau yang hidup sedangkan perhitungan jumlah miroba secara tidak langsung yaitu
jumlah mikroba dihitung secara keseluruhan baik yang mati atau yang hidup atau hanya untuk
menentukan jumlah mikroba yang hidup saja, ini tergantung cara-cara yang digunakan. Untuk
menentukan jumlah miroba yang hidup dapat dilakukan setelah larutan bahan atau biakan mikroba
diencerkan dengan factor pengenceran tertentu dan ditumbuhkan dalam media dengan cara-cara
tertentu tergantung dari macam dan sifat-sifat mikroba.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
Dalam praktikum ini kami diberi tugas untuk melakukan penghitungan bakteri atau mikroba secara
aseptik.
Sebelum melakukan praktikum penghitungan bakteri atau mikroba terlebih dahulu kita menyiapkan
alat dan bahan yang diperlukan. Setelah apa yang dibutuhkan telah siap maka kita dapat melakukan
praktikum penghitungan bakteri atau mikroba.

A. Alat

– Erlenmeyer – Penangas Air


– Petridish – Lemari Pengeram
– Pipet Ukur 10 mL – Alat Penghitung Koloni (Colony Counter)
– Tabung Reaksi – Alat Penghomogen (Vortex)
– Rak Tabung Reaksi – Tissue

– Bunsen
B. Bahan

– Buffered Peptone Water ( BPW )

– Potatoes Dextrose Agar ( PDA )


– Sampel Tepung Terigu
– Alkohol 80 %
BAB IV
PROSEDUR

1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.


2. Menyemprot meja kerja dan tangan praktikan dengan alcohol 80%
3. Membungkus cawan petri, tabung reaksi, pipet ukur dengan kertas buram, (tabung reaksi masing
– masing diisi 9 mL Buffered Peptone Water (BPW) dan lubang tabung reaksi ditutup dengan
kapas).
4. Membuat media Potatoes Dextrose Agar ( PDA ).
5. Mensterilisasi semua alat yang telah dibungkus kertas buram pada autoclave selama 15 menit
pada suhu 121˚C.
6. Mendinginkan alat dan bahan yang telah disterilisasi.
7. Melakukan pengenceran, sampel dimasukan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 mL BPW yang
telah steril (101) dilakukan secara aseptis, mengocok 25 kali dengan vortex.
8. Melakukan pengenceran berikutnya yaitu memipet 1 mL dari tabung reaksi 101 dimasukan ke
tabung reaksi pengenceran 102, memvortex dan memipet 1 mL lagi di masukan ke cawan petri
dilakukan secra aseptis.
9. Melakukan pengenceran berikutnya hingga pengenceran 105
10. Cawan petri yang telah terisi digoyang-goyangkan.
11. Menuangkan media ke masing-masing cawan, tungu hingga media padat lalu balikkan posisi
cawan
12. Memasukan cawan petri ke dalam incubator dengan posisi terbalik pada suhu 35±1˚C selama
24-48 jam
13. Mencatat pertumbuhan koloni pada masing-masing cawan yang mengandung 25-250 koloni dan
melihat bentuknya dengan colony counter.

BAB V
PEMBAHASAN
Praktikum yang dilakukan adalah untuk mengetahui pada sampel. angka lempeng total yaitu jumlah
bakteri mesofil aerob yang hidup pada sampel. Bakteri mesofil aerob adalah golongan bakteri yang
tumbuh baik pada suhu 25-40˚C dalam suasana mengandung asam. Pada praktikum ini
sebelumnya alat disterilisasi terlebih dahulu pada autoclave selama 15 menit pada suhu 121˚C agar
semua alat dan bahan yang akan digunakan steril/tidak ada mikroorganisme penganggu sehingga
tidak akan mempengaruhi hasil akhir. Sterilisasi adalah suatu proses untuk mematikan semua
organisme yang tidak diinginkan yang terdapat pada atau di dalam suatu benda.
Sampel yang akan diuji adalah tepung terigu. Sebelum semua kegiatan dilakukan, terlebih dahulu
meja kerja dan tangan praktikan disemprot dengan alkohol 80% karena untuk menghindari
terkontaminasi dengan mikroba lain yang ada disekitar. Media yang digunakan adalah PDA
(Potatoes Dextrose Agar) karena mempunyai susunan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan
substrat bakteri mesofil aerob yang akan dianalisa. Yang terkandung dalam PDA (Potatoes
Dextrose Agar) adalah:

Yeast: 2,5 gram


Pancreatic digest of Caseine: 5 gram

Glucose: 1 gram

Agar: 15-20 gram


Air suling: 1 liter
Semua bahan dilarutkan pada pH 7,0 yaitu netral karena bakteri dapat tumbuh baik pada suasana
netral. Media dipanaskan agar semua bahan homogen. Pemanasan dibantu dengan magnetic
sterrer untuk meratakan pemanasan.

Masa pertumbuhan bakteri sangat cepat, sehingga bakteri mesofil aerob dapat dihitung sebagai
koloni Angka Lempengan Total per mL. Berdasarkan SNI jumlah koloni yang dihitung yaitu antara
25-250 koloni. Cawan petri yang telah diinkubasi selama 24-48 jam diamati dan dihitung.

Hasil pengamatan :

101 102 103 104 105


Percobaan 1 – – Spreader 320 110

Percobaan 2 40 2 2 – 1

Jumlah Bakteri Perkiraan =[(110 x 105) + (1 x 105)]


=111 x 105
2
=55,5 x 105
=5,55 x 106
=5,6 x 106

BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Teknik aseptik dalam proses – proses pengerjaan yang berkaitan dengan mikrobiologi,
memerlukan ketelitian dan keakuratan serta kesterilan yang harus selalu di jaga agar terbebas dari
kontaminan. Penguasaan teknik aseptik sangat diperlukan dalam keberhasilan praktikum
mikrobiologi dan hal tersebut merupakan salah satu metode permulaan yang harus dipelajari oleh
seorang ahli mikrobiologi. Bakteri E. coli bisa mengganggu kesehatan jika dikultur secara tidak
aseptik, karena praktikan bisa terinfeksi. Kontaminasi pada mediaPDA (Potatoes Dextrose Agar)
dapat di lihat dengan melihat warna media, yaitu putih susu pada PDA (Potatoes Dextrose Agar).
B. Saran
Hendaknya para praktikan sangat berhati – hati dalam melakukan pemindahan biakan agar tidak
terjadi kontaminasi. Selain itu, para praktikan diharapkan mengurangi percakapan dan lebih baik
memakai masker saat bekerja agar bisa meminimalisir terjadinya kontaminasi yang nantinya dapat
mengganggu kesehatan praktikan dan mengurangi keberhasilan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

SNI (Standar Nasional Indonesia) Cara Uji Cemaran Mikroba 01-2897-1992

M, Badhowie. 1982. Petunjuk Praktek Pengujian Mutu hasil Pertanian 2. Jakarta: DEPDIKBUD
Muctahdi, dedi. 1978. Mikrobiologi Hasil Pertanian 1. Jakarta: DEPDIKBUD