Você está na página 1de 4

 Definisi

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit akibat kuman Mycobakterium tuberkculosis sistemis


sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya
merupakan lokasi infeksi primer (Arif Mansjoer, 2000)

Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru.
Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, terutama meningen, ginjal, tulang,
dan nodus limfe.

Penyakit tuberkulosis pada anak merupakan penyakit yang bersifat sistemik, yang dapat
bermanifestasi pada berbagai organ, terutama paru yang bersifat sistemik ini disebabkan oleh
penyebaran hematogen dan limfogen setelah terjadi infeksi Mycobacterium tuberculosis. Data
insidens dan prevalens tuberkulosis anak tidak mudah dengan penelitian indeks tuberkulin dapat
diperkirakan angka kejadian prevalens tuberkulosis anak.

Tuberkulosis merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian imunisasi BCG
pada anak dan pengobatan sumber infeksi, yaitu penderita TB dewasa. Anak biasanya tertular
TB, atau juga disebut mendapat infeksi primer TB, akan membentuk imunitas sehingga uji
tuberkulin akan menjadi positif, tidak semua anak yang terinfeksi TB primer ini akan sakit TB.

 Etiologi
1. Merokok Pasif
Merokok pasif bisa berdampak pada sistem kekebalan anak, sehingga meningkatkan
risiko tertular pajanan pada asap rokok mengubah fungsi sel, misalnya dengan
menurunkan tingkat kejernihan zat yang dihirup dan kerusakan kemampuan penyerapan
sel dan pembuluh darah.
2. Faktor Risiko TBC Anak
a. Resiko infeksi TBC : Anak yang memiliki kontak dengan orang dewasa dengan TBC
aktif, daerah endemis, penggunaan obat-obat intravena, kemiskinan serta lingkungan
yang tidak sehat. Pajanan terhadap orang dewasa yang infeksius. Resiko timbulnya
transmisi kuman dari orang dewasa ke anak akan lebih tinggi jika pasien dewasa
tersebut mempunyai BTA sputum yang positif, terdapat infiltrat luas pada lobus atas
atau ka'itas produksi sputum banyak dan encer, batuk produktif dan kuat serta
terdapat faktor lingkungan yang kurang sehat, terutama sirkulasi udara yang tidak
baik. Pasien TBC anak jarang menularkan kuman pada anak lain atau orang dewasa
disekitarnya, karena TBC pada anak jarang infeksius, hal ini disebabkan karena
kuman TBC sangat jarang ditemukan pada sekret endotracheal, dan jarang terdapat
batuk. Walaupun terdapat batuk tetapi jarang menghasilkan sputum, bahkan jika ada
sputum pun, kuman TBC jarang sebab hanya terdapat dalam konsentrasi yang rendah
pada sektret endobrokial anak.
b. Resiko Penyakit TBC : Anak < 5 tahun mempunyai resiko lebih besar mengalami
progresi infeksi menjadi sakit TBC, mungkin karena imunitas selulernya belum
berkembang sempurna (imatur). Namun, resiko sakit TBC ini akan berkurang secara
bertahap seiring pertambahan usia. Pada bayi < 1 tahun yang terinfeksi TBC, 43% nya
akan menjadi sakit TBC, sedangkan pada anak usia 1-5 tahun, yang menjadi sakit hanya
24 % pada usia remaja 15 % dan pada dewasa 5-10 %. Anak < 5 tahun memiliki resiko
lebih tinggi mengalami TBC diseminata dengan angka kesakitan dan kematian yang
tinggi. Konversi tes tuberkulin dalam 1-2 tahun terakhir, malnutrisi, keadaan
imunokompromis, diabetes melitus, gagal ginjal kronik dan silikosis. Status sosial
ekonomi yang rendah, penghasilan yang kurang, kepadatan hunian, pengangguran, dan
pendidikan yang rendah.

 Manifestasi Klinik
Menurut Wirjodiardjo (2008) gejala TBC pada anak tidak serta-merta muncul. Pada saat-
saat awal, 4-9 minggu setelah infeksi, biasanya anak hanya demam sedikit. Beberapa bulan
kemudian, gejalanya mulai muncul di paru-paru. Anak batuk-batuk sedikit. Tahap berikutnya (3-9
bulan setelah infeksi), anak tidak napsu makan, kurang gairah, dan berat badan turun tanpa sebab.
Juga ada pembesaran kelenjar di leher, sementara di paru-paru muncul gambaran vlek.
Pada saat itu, kemungkinannya ada dua, apakah akan muncul gejala TBC yang benar-benar
atau sama sekali tidak muncul. Ini tergantung kekebalan anak kalau anak kebal (daya tahan
tubuhnya bagus), TBC nya tidak muncul. Tapi bukan berarti sembuh. Setelah bertahun-tahun, bisa
saja muncul, bukan di paru-paru lagi, melainkan di tulang, ginjal, otak, dan sebagainya. Ini yang
berbahaya dan butuh waktu lama untuk penyembuhannya.
Gejala-gejala lain untuk diagnosa antara lain (Wirjodiardjo, 2008) :
1. Apakah anak sudah mendapat imunisasi BCG semasa kecil. Atau reaksi BCG sangat
cepat. Misalnya, bengkak hanya seminggu setelah diimunisasi BCG. Ini juga harus
dicurigai TBC.
2. Berat badan anak turun tanpa sebab yang jelas, atau kenaikan berat badan setiap bulan
berkurang
3. Demam lama atau berulang tanpa sebab. Ini juga jarang terjadi, kalaupun ada setelah
diperiksa, ternyata tipus atau demam berdarah.
4. Batuk lama lebih dari 3 minggu. Ini terkadang tersamar dengan alergi. Kalau tidak ada
alergi dan tidak ada penyebab lain, baru dokter boleh curiga kemungkinan anak terkena
TBC.
5. Pembesaran kelenjar di kulit, terutama di bagian leher, juga bisa ditengarai sebagai
kemungkinan gejala TBC. Yang sekarang sudah jarang adalah adanya pembesaran
kelenjar di seluruh tubuh, misalnya di selangkangan, ketiak, dan sebagainya.
6. Mata merah bukan karena sakit mata, tapi di sudut mata ada kemerahan yang khas.
7. Pemeriksaan lain juga dibutuhkan diantaranya pemeriksaan tuberkulin (Mantoux Test,
MT) dan foto. Pada anak normal, Mantoux test positif jika hasilnya lebih dari 10 mm.

 Upaya Memutus Transmisi Penyakit


Upaya memutus transmisi penyakit TB Paru yaitu dengan selalu mengingatkan penderita
tidak membuang dahak di sembarang tempat, selain itu menyiapkan tempat khusus buat penderita
TB untuk membuang dahak. Membuang dahak tidak sembarangan merupakan salah satu upaya
pencegahan penularan penyakit, hal ini sesuai dengan teori menurut Depkes RI (2009) pencegahan
juga dapat dilakukan dengan tidak membuang dahak disembarang tempat, tapi dibuang pada
tempat khusus dan tertutup, misalnya dengan mengunakan wadah/kaleng bertutup yang sudah
diberi air sabun. Membuang dahak kelubang WC atau timbun ke dalam tanah di tempat yang jauh
dari keramaian.
Kadang keluarga juga mengingatkan ketika batuk penderita harus menutup mulutnya
dengan tangan dan itu sudah dilakukan penderita TB. Akan tetapi pada penggunaan masker
penderita jarang memakainya dikarenakan masih merasa kuarang nyaman atau risih, padahal
memakai masker itu diperlukan kemanapun pasien berada. beberapa cara batuk yang benar untuk
mencegah terjadinya proses penularan yaitu palingkan muka dari orang lain dan makanan. Tutup
hidung dan mulut anda dengan tisu atau saputangan ketika batuk atau bersin. Segera cuci tangan
setelah menutup mulut dengan tangan ketika batuk. Hindari batuk di tempat keramaian. Pasien
memakai penutup mulut dan hidung atau masker jika perlu. Jangan bertukar saputangan atau
masker dengan orang lain.

 Penggunaan Masker

Secara umum, pasien TBC tidak perlu diisolasi, yang terpenting tetap mengupayakan
agar TBC tak sampai tertular kepada orang lain. Tetap beraktivitas seperti biasa. Sekalipun
penggunaan masker lebih tepat dipakai pasien TBC guna mencegah penularan kuman TBC
kepada orang lain, tetapi ada baiknya orang yang sehat menggunakan masker respirator saat
berinteraksi dengan mereka.