Você está na página 1de 4

KEBAKARAN HUTAN DAN DAMPAK BAGI KESEHATAN.

Kebakaran Hutan sering terjadi didaerah Riau dan Kalimantan Tengah kebakaran hutan
yang sudah menjadi bencana musiman di Republik Indonesia ini sering terjadi akibat alih fungsi
hutan oleh pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab dengan cara pembakaran lahan secara
massalsetiap musim kemarau.

Banyak dampak dan kerugian yang terjadi serta dialami oleh masyarakat didaerah rawan
bencana kebakaran hutan, dan yang paling sering diserukan oleh masyarakat adalah masalah
kesehatan berikut adalah 8 macam dampak kebakaran hutan bagi kesehatan yang di alami
masyarakat didaerah rawan bencana kebakaran hutan setiap tahun :

1. Kabut asap menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta menyebabkan
reaksi alergi, peradangan dan juga infeksi.
2. Kabut asap dapat memperburuk asma dan penyakit paru kronis lain, seperti bronkitis
kronik.
3. Kemampuan kerja paru menjadi berkurang dan menyebabkan orang mudah lelah dan
mengalami kesulitan bernapas.
4. Bagi yang berusia lanjut dan anak-anak, mereka yang punya penyakit kronik dengan daya
tahan tubuh rendah serta wanita yang sedang hamil, akan lebih rentan untuk mendapat
gangguan kesehatan.
5. Kemampuan paru dan saluran pernapasan mengatasi infeksi berkurang, sehingga
menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi.
6. Berbagai penyakit kronik juga dapat memburuk.
7. Bahan polutan di asap kebakaran hutan yang jatuh ke permukaan bumi menjadi sumber
polutan di sarana air bersih dan makanan yang tidak terlindungi.
8. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) lebih mudah terjadi, utamanya karena
ketidakseimbangan daya tahan tubuh, pola bakteri, atau virus, dan buruknya faktor
lingkungan

Lambatnya pemberian bantuan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah juga menjadi
salah satu hal yang dikeluhkan oleh masyarakat setiap tahunnya.

Banyak nya pasien akibat kebakaran hutan tidak di barengi dengan pelayanan serta fasilitas yang
cukup memadai. Pelayanan kesehatan yang sangat memadai serta cepat merupakan suatu hal
yang diinginkan oleh masyarakat.

Tindakan pencegahan gangguan kesehatan juga suatu hal yang harus ditingkatkan selain
membagi – bagikan masker kesehatan gratis pemerintah perlu memikirkan tindakan kesehatan
yang lebih serius.

Kebakaran hutan juga mempengaruhi kegiatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia hal


ini dapat dilihat dari terhambatnya kegiatan transportasi akibat pendeknya jarak pandang yang
dapat dilihat oleh para pengguna jasa transportasi baik udara, darat, dan laut.

Banyaknya bandara yg membatalkan jadwal penerbangan, kecelakaan yang terjadi di transportasi


darat akibat jarak pandang yang bahkan hanya bisa mencapai 5-10 meter. Kapal – kapal nelayan
tidak berani pergi melaut yang menghambat pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Hasil perhitungan kerugian ekonomi yang dihimpun Tacconi (2003), menunjukkan


bahwa kebakaran hutan Indonesia telah menelan kerugian antara US $ 2,84 milayar sampai US $
4,86 milyar yang meliputi kerugian yang dinilai dengan uang dan kerugian yang tidak dinilai
dengan uang. Kerugian tersebut mencakup kerusakan yang terkait dengan kebakaran seperti
kayu, kematian pohon, HTI, kebun, bangunan, biaya pengendalian dan sebagainya serta biaya
yang terkait dengan kabut asap seperti kesehatan, pariwisata dan transportasi.

Menurut Soemarsono seorang pakar lingkungan hidup upaya yang telah dan akan dilakukan
untuk mencegah kebakaran hutan dilakukan antara lain :

1. Memantapkan kelembagaan dengan membentuk dengan membentuk Sub Direktorat


Kebakaran Hutan dan Lembaga non struktural berupa Pusdalkarhutnas, Pusdalkarhutda
dan Satlak serta Brigade-brigade pemadam kebakaran hutan di masing-masing HPH dan
HTI.
2. Melengkapi perangkat lunak berupa pedoman dan petunjuk teknis pencegahan dan
penanggulangan kebakaran hutan.
3. Melengkapi perangkat keras berupa peralatan pencegah dan pemadam kebakaran hutan.
4. Melakukan pelatihan pengendalian kebakaran hutan bagi aparat pemerintah, tenaga
BUMN dan perusahaan kehutanan serta masyarakat sekitar hutan.
5. Kampanye dan penyuluhan melalui berbagai media baik itu media cetak, media sosial
ataupun sosialisasi yg dilakukan dinas terkait.
6. Dalam setiap persetujuan pelepasan atau alih fungsi kawasan hutan bagi pembangunan
non kehutanan, selalu disyaratkan pembukaan hutan tanpa bakar.
Seperti membuka lahan untuk di jadikan perkebunan sawit atau kawasan pertambangan
emas atau batu bara

Walau pun terbilang cukup terlambat pemerintah bukannya tidak melakukan


penanggulangan terhadap bencana kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia, pemerintah juga
melakukan berbagai macam penanggulangan atas bencana yang terjadi hanya saja perlu
berbagai macam peningkatan sebagai berikut

1. Memberdayakan posko-posko kebakaran hutan di semua tingkat, serta melakukan


pembinaan mengenai hal-hal yang harus dilakukan selama siaga I dan II.
2. Mobilitas semua sumberdaya (manusia, peralatan & dana) di semua tingkatan, baik di
jajaran Departemen Kehutanan maupun instansi lainnya, maupun perusahaan-
perusahaan.
3. Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait di tingkat pusat melalui
PUSDALKARHUTNAS dan di tingkat daerah melalui PUSDALKARHUTDA Tk I dan
SATLAK kebakaran hutan dan lahan.
4. Meminta bantuan luar negeri untuk memadamkan kebakaran antara lain: pasukan
BOMBA dari Malaysia untuk kebakaran di Riau, Jambi, Sumsel dan Kalbar; Bantuan
pesawat AT 130 dari Australia dan Herkules dari USA untuk kebakaran di Lampung;
Bantuan masker, obat-obatan dan sebagainya dari negara-negara Asean, Korea Selatan,
Cina dan lain-lain.
5. Dan terakhir membuat peraturan undang – undang yang lebih jelas serta lebih ketat
tentang kebakaran hutan .

Itulah berbagai macam hal yang dapat disampaikan mengenai kebakaran hutan serta dampak
nya bagi kehidupan manusia, semoga artikel yg dibuat ini dapat membantu dalam masalah
pencegahan dan penanggulangan masalah bencana kebakaran Hutan yang terjadi di Indonesia.

Semoga kedepannya pemerintah cukup tegas dalam menanggulangi bencana ini.