Você está na página 1de 111

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK

DENGAN MASALAH KELAINAN BAWAAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN MASALAH KELAINAN


BAWAAN
[COMPANY NAME]
[Company address]
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENYAKIT JANTUNG KONGENITAL


Patofisiologi
Penyakit jantung kongenital (PJK)
terjadi pada sekitar 8 dari 1000 kelahiran
hidup. Pada sebagian besar kasus,
penyebab spesifiknya tidak diketahui.
Keturunan, predisposisi genetik, dan
penagurh lingkungan (virus, alkohol, dan
obat) berkaitan dengan PJK. Abserasi
kromosom tertentu, seperti trisomi 13, 18,
dan 21, juga meningkatkan risiko PJK.
Defek jantung kengenital dapat
digolongkan sebagai lesi asianotik atau
sianotik. Defek jantung asianotik
kemudian dapat menjadi lesi dengan
peningkatan aliran darah pulmonal

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 1


(seperti defek septum ventikular) dan lesi
dengan obstruksi aliran darah dari
ventrikel (seperti koartasio aorta). Defek
sianotik kemudian dapat dibagi menjadi
lesi dengan penurunan pulmonal (seperti
tetralogi fallot) d an lesi dengan defek
campuran (seperti transposisi arteri
besar). Pembedahan kardiovaskular dapat
dilakukan untuk paliasi dan/atau koreksi
banyak defek jantung.
1.Defek /lesi jantung non-asinotik dengan
peningkatan aliran pulmonal
Terdapat detak pada septum ventrikel,
atrium atau duktus yang tetap terbuka
menyebabkan adanya pirau (kebocoran)
darah dari kiri ke kanan karena tekanan
jantung dibagian kiri lebih tinggi
daripada bagian kanan.
a. Defek Septum Ventrikular (DSV)

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 2


Defek Septum Ventrikular adalah
lubang abnormal antara ventrikel
kiri dan kanan. Defek ini dapat
bervariasi dalam hal ukaran, lokasi
pada septum, dan jumlahnya (dapat
terjadi DSV multiple). DSV sering
kali dikaitkan dengan defek lain
yang lebih kompleks. Defek ini
menyebabkan pirau kiri dan kanan
yang mengakibatkan peningkatan
tekanan. P eningk atan aliran darah
ini telah teroksigenasi dan
bersikulasi kembali melalui paru.
Perubahan vaskular pulmonal
ireversibel dapat terjadi (biasanya
ketika anak berusia sekitar 2
tahun) jika kondisi ini tidak
dikoreksi. Sekitar 60% dari semua
DSV kadang menutup secara

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 3


spontan selama 2 tahun pertama
kehidupan. Intervensi bedah untuk
penutupan DSV diperlukan ketika
anak memperlihatkan gejala dan
defek tidak menutup secara spontan.
Terappi no-bedah dengan
menggunakan alat penutupan juga
dapat digunakan. Gambaran klinis
dapat mencakup murmur
pansistolik, keras, kuat, infeksi
pernapasan sering, gagal tumbuh,
dan tanda/gejala gagal jantung
kongestif. DSV adalah lesi jantung
yang paling umum terjadi pada
sekitar 20%dari semua anak yang
mengalami defek jantung kongenital.

Manifestasi Klinis

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 4


pada pemeriksaan selain didapat
pertumbuhan terhambat, anak
terlihat pucat, banyak keringat
ujung-ujung jari hiperemik.
Diameter dada bertambah sering
terlihat pembejolan dada kiri. Tanda
yang menonjol adalah nafas pendek
dan retraksi pada jugulum. Seja
intrakostal dan region epigastrium.
Pada anak yang kurus terlihat
impuls jantung yang hiperdinamik.

Penatalaksanaan
Pasien dengan DSV besar perlu
ditolong dengan obat-obatan untuk
mengatasi gagal jantung. Biasanya
diberikan digoksin dan
diuretik,misalnya lasix. Bila obat
dapat memperbaiki keadaan,yang

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 5


dilihat dengan membaiknya
pernapasan dan bertambahnya
berat badan. Maka operasi dapat
tunda sampai usia 2-3 tahun.
Tindakan bedah sangat menolong
karena tanpa tindakan tersebut
harapan hidup berkurang.

b. Defek Septum Atrial (DSA)


Defek Septum Atrial adalah lubang
antara atrium kanan dan kiri. Defek
ini dapat bervariasi dalam ukuran
dan lokasi pada septum dan dapat
dikaitkan dengan defek jantung
lainnya. Sebagian darah
teroksigenasi yang mengalir ke
atrium kiri yang bertekanan lebih
tinggi teralihkan melalui DSA ke
atrium kanan yang bertekanan lebih

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 6


rendah; dengan demikian, DSA adalah
pirau kiri ke kanan. Dari atrium
kanan, darah melalui katup trikuspid
ke ventrikel kanan; kemudian
bersikulasi kembali melalui paru
sehingga meningkatkan aliran darah
ke paru. Perubahan vaskular
pulmonal terjadi sangat lambat, dan
peningkatan tahanan vaskular
pulmonal biasanya tidak terjadi
hingga masa dewasa awal. DSA kecil
dapat tertutup secara spontan.
Intervensi bedah menutup DSA
direkomendasikan saat usia sekolah.
Penutupan lebih awal
direkomendasikan jika anak
mengalami masalah. Penutupan no-
bedah juga mungkin dilakukan
dengan menggunakan alat

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 7


transkateter selama katerisasi
jantung. Sebagian besar anak
mengalami DSA tidak menunjukkan
gejala. DSA terjadi pada sekitar 6-
10%dari semua defek jantung
kongenital.

Manifestasi Klinis
Anak mungkin sering mengalami
kelelahan dan infeksi saluran
pernapasan atas. Mungkin ditemukan
adanya murmur jantung. Pada foto
rotgen ditemukan adanya
pembesaran jantung dan diagnosa
dipastikan dengan kateterisasi
jantung.
Type ASD
a. ASD Sekundum
b. ASD Primum

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 8


c. ASD Type Sinus Venosus

Penatalaksanaan
Kelainan tersebut dapat ditutup dengan
dijahit atau dipasang suatu graft
pembedahan jantung terbuka, dengan
prognosis baik.

c. Duktus Arteriosus Paten (DAP)


Duktus arteriosus, penghubung
antara arteri pulmonal dan aorta
desenden, jalur normal dalam
sirkulasi janin yang biasanya
menutup secara permanen selama
beberapa minggu pertama kehidupan.
Kegagalan menutupnya duktus
arteriosus mengakibatkan pirau kiri
ke kanan. Aliran darah teroksigenasi

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 9


dari aorta yang bertekanan lebih
tinggi ke dalam arteri pulmonal.

2.Defek Lesi Jantung Sianotik Dengan


Penurunan Aliran Darah Pulmonal
a. Tetralogi Fallot (TF)
Tetralogi Fallot klasik memiliki
empat komponen : stenosis pulmonal,
defek septum ventrikular, overriding
aorta, dan hipertrofi ventrikel kanan
(mengakibatkan jantung berbentuk
sepatu bot seperti yang terlihat pada
sinar-X ). Defek kelima, baik berupa
foramen ovale terbuka ataupun defek
septum atrial juga dapat terjadi pada
beberapa anak. Pola aliran darah
pada defek ini ditentukan oleh derajat
stenosis pulmonal. Apabila terjadi
stenosis pulmonal berat, tekanan

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 10


tercipta pada ventrikel kanan dan
darah yang tidak teroksigenasi
melawati DSV ke dalam overrdeing
aorta (pirau kanan ke kiri) sehingga
menyebabkan sianosis. Apabila
terjadi stenosis pulmonal ringan dan
tekanan pada ventrikel kana tidak
meningkat, darah beralih dari kiri ke
kanan melalui DSV dan anak menjadi
asinosis. Akhirnya, stenosis pulmonal
menjadi lebih sianosis karena sedikit
darah yang mengalir ke paru.
Serangan hipoksik, atau “tet” terjadi
pada beberapa anak yang mengalami
TF. Serangan ini diduga terjadi
peningkatan sementara obstruksi
saluran aliran keluar ventrikel kanan
yang menyebabkan sianosis dan
penurunan tingkat kesadaran.

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 11


Serangan terdapat diatasi dengan
memposisikan anak pada posisi lutut-
dada, yang diperkirakan
meningkatkan aliran balik vena ke
jantung dan mendilatasi ventrikel
kanan. Pembedahan elektif biasanya
dilakukan sebelum usia satu tahun.
Apabila koreksi bedah itu perlu
ditunda, prosedur paliatif dapat
dilakukan sebelum koreksitotal untuk
meningkatkan aliran darah pulmonal.
Gambaran klinis dapat mencakup
sianosis, hipoksemia, peningkatan
hemoglobindan hemotokrit, dan
murmur pasistolik. Karena bedah
perbaikan biasanya dilakukan secara
dini (sebelum anak berusia 1 tahun),
squatting, yang dahulu umum terjadi,
kini jarang terjadi. Terdapat resiko

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 12


seumur hidup terhadap endokarditis.
Tetralogi Fallot terjadi dimana pun
antara 4-10% dari semua kasus defek
jantung kongenital. Tetralogi Fallot
adalah defek jantung kongenital
sianotik yang paling umum terjadi.

Manifestasi Klinis
Bayi baru lahir dengan TF
menampakan gejala yang nyata yaitu
adanya kianosis, letargi dan lemah.
Selain itu juga tampak tanda-tanda
dipsnea yang kemudian yang disertai
jari-jari clubbing, bayi berukuran
kecil, berat badan kurang,
bersamaan dengan pertambahan usia,
bayi diobservasi secara teratur, serta
diusahakan untuk mecegah
terjadinya dipsnea. Bayi mudah

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 13


mengalami infeksi saluran
pernapasan atas. Diagnosa
berdasarkan pada gejala-gejala klinis.

Penatalaksanaan
Pembedahan paliatif dilakukan pada
usia awal anak-anak, untuk
memenuhi peningkatan oksigen
dalam masa pertumbuhan.
Pembedahan berikutnya pada masa
usia sekolah, bertujuan untuk koreksi
secara permanen. Dua pendekatan
paliatif adalah dengan cara Blalock-
Tausing, dilakukan pada ananostomi
ujung ke sisi sub ciavikula kanan
atau arteri karotis menuju arteri
pulmonalis kanan. Secara Waterson
dikerjakan pada sisi ke sisi
ananostomi dari aorta asenden

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 14


menuju arteri pulmonalis kanan,
tindakan ini meningkatkan darah
yang teroksigenasi dan
membebaskan gejala-gejala penyakit
jantung sianosis.

B. Rencana Asuhan Keperawatan Pasca


ICU Pediatrik, Pascaoperasi
Deiagnosa Keperawatan Utama :
Penurunan Curah Jantung
Definisi : penurunan jumlah
darah yang meninggalkan ventrikel kiri

Kemungkinan Berhubungan dengan :


Komplikasi Bedah
Trombus
Sirkulasi tidak
efektif

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 15


Gangguan konduksi
listrik jantung
Distrimia
Takikardia atau
bradikardia

DX : Penurunan Curah Jantung yang berhubungan den


berhubungan dengan trombus, sirkulasi tidak efektif, gangg
listrik jantung, disritmia, takikardia atau bradikar
Pengkajian/Batasan Karakteristik Anakdan/Atau Keluarga (D
Dan Data Objektif)
 Takikardia/bradikardia  Murmur, gallop,
 Disritmia  Kulit dingin,
 Hipotensi/hipertensi  Demam
 Denyut nadi perifer tidak sama,  Intoleran ak
menurun, atau tidak ada  Keletiha
 Sianosis  Penurunan halu
 Pengisian kapiler lama, lebih
dari 2-3 detik
Kemungkinan
Kriteria Hasil Rasional
Itervensi P

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 16


Keperawatan

Anak akan Kaji dan catat hal Jika anak Dok


memiliki berikut ini setiap 4 mengalami renta
curah jantung jam dan PRN : penurunan per
yang adekuat,  Frekuensi curah jantung tek
yang ditandai jantung, (CJ), frekuensi Jela
dengan : frekuensi jantung, deny
 Frekuensi pernafasan, dan frekuensi da
jantung, tekanan darah pernafasan akan kap
frekuensi  Denyut nadi meningkat dan setia
pernafasan perifer tekanan darah penu
, dan  Pengisisan akan menurun. ja
tekanan kapiler Denyut nadi
darah  Setiap perifer akan
dalam tanda/gejala lemah dan tidak
rentang penurunan curah sama .
yang dapat jantung (seperti Pengisian
diterima kapiler akan
lebih lama dari

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 17


(sebutkan 2-3 detik
rentang
spesifik
masing-
masing)
 Denyut
nadi perifer
kuat dan
sama
 Pengisian
kapiler

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 18


cepat  yang terdapat
dalam 2-3 dalam
detik pengkajian)
 Kulit
hangat saat
disentuh
 Tidak
murmur,
gallop, rub,
click,
Kaji dan catat Drainase atau Jela
sianosis,
kondisi balutan perdarahan balu
keletihan,
dan/atau area insisi yang berlebihan a
intoleran
setiap sifdan PRN. dapat
aktivitas
Beri tahu dokter mengakibatkan
 Haluaran tentang drainase penurunan
urine yang berlebihan. curah jantung.

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 19


adekuat Berikan obat Obat jantung Dok
(sebutkan jantung (seperti diberikan untuk a
rentang digoksin) sesuai meningkatkan jantu
spesifik, 1- jadwal. Kaji dan kekuatan se
2 catat setiap efek kontraksi
ml/kg/jam) samping atau setiap jantung keefe
tanda/gejala dan/atau s
toksisitas (seperti meningkatkan sa
muntah saat pengembalian
pemberian aliran darah ke
digoksin). Ikuti jantung
protokol rumah sehingga
sakit untuk menigkat CJ.
pemberian obat ini,
seperti dua RN
memeriksa dosis
sebelum pemberian
dan
mendokumentasikan

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 20


frekuensi jantung
atau tekanan darah
pada saat
pemberian obat.

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 21


Digoksin adalah Digoksin adalah Dok
obat paten yang obat poten yang kad
membutuhkan membutuhkan Jik
pemantauan yang pemantauan be
cermat. Jika kadar yang cermat. renta
digoksin beri tahu Jika kadar diter
dokter jika kadarnya digoksin tinggi, set
di luar rentang yang anak akan ko
dapat mengalami diimp
diterima.(penurunan tanda/gejala
kadar kalium toksisitas
menigkatkan risiko (seperti
toksisitas digoksin). muntah).

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 22


Pastikan bahwa Perkusi dada Dok
fisioterapi dada mengencerkan apak
dilakukan sesuai sekresi dan dad
jadwal. Catat pengaturan se
keefektifannya dan posisi dapat
respons anak membantu keefe
terhadap terapi. aliran sekresi re
keluar dari paru terh
oleh gravitasi.
Tinggikan kepala Meninggikan Dok
tempat tidur dengan kepala tempat ap
sudut 30o. tidur dengan te
sudut 30o d
menyebabkan
pergeseran isi
abdomen ke
bawah dan
memungkinkan
peningkatan

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 23


ekspansi paru.
Hal ini akan
membantu
mengurangi
beban kerja
jantung.

Buat catatan asupan Penurunan Dok


dan haluaran yang haluaran dapat a
akurat. mengindikasikan
penurunan CJ
yang mungkin
disebabkan oleh
pergeseran
cairan
intravaskular ke
dalam ruang
interstisial.

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 24


TUJUAN Ajarkan Penigkatan Dok
PENYULUHAN anak/keluarga pengetahuan
Anak tentang akan membantu p
dan/atau karakteristik anak/keluarga dil
keluarga akan penurunan curah dalam jelas
mampu jantung. Kaji dan mengenali dan
menyebutkan catat hasilnya. melaporkan
minimal 4 perubahan
karakteristik kondisi anak.
penurunan
curah
jantung,
seperti :
 frekuensi
jantung
yang cepat
 denyut nadi
tidak sama
 ektermitas

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 25


dingin
 penurunan
haluaran
urine
(untuk bayi
kuraang
dari enam
popok
basah/hari)
Anak Ajarkan Penyuluhan Dok
dan/atau ibu anak/keluarga anak/keluarga
keluarga akan tentang perawatan. akaan p
mampu Kaji dan catat memungkinkan dil
menyatakan pengetahuan dan perawatan yang jelas
pengetahuan partisipasi akurat.
tentang anak/keluarga
perawatan, dalam perawatan
seperti : terkait pemberian
 pemberian obat, dll.

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 26


obat
 fisioterapi
dada, jika
diindikasika
n
 pemantauan
asuapan
dan
haluaran
 identifikasi
setiap
tanda/gejal
a
penurunan
curah
jantung
(seperti
yang
terdapat

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 27


dalam
pengkajian)
.
 Kapan
menghubun
gi
pemberian
perawatan
kesehatan.

Diagnosis Keperawatan : Nyeri akut


Definisi : Kondisi ketika
individu mengalami
Kemungkinan Berhubungan dengan : Area
insisi
Terapi dan prosedur

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 28


DX : Nyeri akut berhubungan dengan area insisi, terapi, d
prosedur.
Pengkajian/Batasan Karakteristik Anak Dan/Atau Keluarga
Subjektif & Data Objektif)
 Komunikasi verbal mengenai  Gelisah
nyeri atau nyeri tekan  Penilaian nyeri denga
 Menangis yang tidak teratasi instrumen pengkajian n
dengan tindakan  Tanda/ gejala fisik
kenyamanan yang biasa (takikardia,
 Wajah menyeringai. takipnea/bradipnea
peningkatan tekanan da
diaforesis).
Kemungkinan
Evalus
Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Pencata
Keperawatan

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 29


Anak akan Kaji dan catat Memberikan Dokumenta
bebas dari frekuensi data mengenai rentan
nyeri hebat jantung, tingkat nyeri frekuen
dan/atau frekuensi yang dialamai pernapas
konstan yang pernafasan, oleh anak. tekanan d
ditandai tekanan darah, dan ting
dengan : dan setiap nyeri ya
 Komunikasi tanda/gejala dialami o
verbal nyeri (seperti anak. Jela
mengenai yang terdapat setiap tind
kenyamanan dalam yang berh
 Tidak pengkajian) digunak
mengalami setiap 2 untuk
kegelisahan sampai 4 jam mengura
yang dan PRN. nyeri
ekstrem Gunakan
 Frekuensi instrumen
jantung pengkajian
nyeri yang

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 30


dalam tepat.
rentang
yang dapat
diterima
(sebutkan
rentang
spesifik)
 Frekuensi
pernafasan
dalam
rentang Pegang anak Membantu Dokumenta
yang dapat dengan hati- meminimalkan apakah a
diterima hati nyeri dan dipegan
(sebutkan menigkatkan dengan ha
rentang kenyamanan. dan keefek
spesifik) tindaka
 Penilaian Jika Analgesik Dokumenta
penurunan diindikasikan, diberikan apaka
berikan untuk analges

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 31


nyeri atau analgesik mengurangi diberikan s
tidak ada sesuai jadwal. nyeri. jadwal. Jel
nyeri Kaji dan catat keefektifa
dengan keefektifannya. dari kehad
instrumen merek
pengkajian Dorong Membantu Dokumenta
nyeri. anggota menenangkan apakah ak
 Tidak ada keluarga dan pengalih
tanda/gejala untuk mendukung berhasil d
nyeri akut menemani dan anak. memban
(seperti menenangkan mengat
yang anak jika mengatasi
terdapat mungkin. Aktivitas
dalam Gunakan pengalihan
pengakajian aktivitas dapat
) pengalihan mengalihkan
 Tidak ada (mis., musik, perhatian anak
diaforesis. televisi, dan dapat
bermain game, membantu

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 32


relaksasi) jika mengurangi
tepat. nyeri.
TUJUAN Ajarkan Peningkatan Dokumenta
PENYULUHAN anak/keluarga pengetahuan apaka
Anakdan/atau tentang akan penyuluh
keluarga akan karakteristik membantu dilakukan
mampu nyeri. Kaji dan anak/keluarga jelaska
menyebutkan catat hasilnya. dan mengenali hasilny
minimal 4 dan
karakteristik melaporkan
nyeri, ssperti : perubahan
 Komunikasi kondisi anak.
verbal
mengenai
nyeri atau
nyeri tekan.
 Menangis
yang tidak
teratasi

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 33


dengan
tindakan
kenyamanan
yang biasa.
 Wajah
menyeringai
 Frekuensi
jantung
yang cepat

Anak dan/atau Ajarkan Penyuluhan Dokumenta


keluarga akan anak/keluarga anak/keluarga apaka
mampu tentang akan penyuluh
menyatakan perwatan. Kaji memungkinkan dilakukan
pengetahuan dan catat perawatan jelaska
tentang pengetahuan yang akurat. hasilny
perawatan, dan
seperti : partsispasi
 Pemberian anak/keluarga

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 34


obat dalam
 Aktivitas perawatan
pengalihan terkait
yang tepat pemberian
 Identifikasi obat, dll.
setiap
tanda/gejala
nyeri
(seperti
yang
terdapat
dalam
pengkajian)
 Kapan
menghubun
gi pemberi
perawatan
kesehatan

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 35


Diagnosis Keperawatan : Ketakutan :
Anak/Keluarga
Definisi : perasaan takut karena penyebab
yang diketahui
Kemungkinan Berhubungan dengan :
Hasil prosedur pembedahan
Nyeri dan ketidaknyamanan setelah
pembedahan
Lingkungan sekitar yang tidak dikenal
Terapi dan prosedur

DX : Ketakutan anak/keluarga yang berhubungan


dengan hasil prosedur pembedahan, nyeri
pascaoperasi, lingkungan sekitar yang tidak dikenal,
kontak yang dipaksakan dengan orang asing, terapi,
dan prosedur

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 36


Pengakjian/Batasan
Karakteristik Anak/atau
Keluarga (Data Subjektif
&Data Objektif)

C.KELAINAN SISTEM PENCERNAAN


1.Penyakit Hirschsprung
Definisi
Hirschprung (megakolan/aganglionic
congnital) adalah anomali kongenital

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 37


yang mengakibatkan obstruksi mekanik
karena ketidak adekuatan motilitas
sebagian usus (Wong, 1996).
Hirschprung merupakan keadaan tidak
ada atau kecilnya sel saraf ganglion
parasimpatik pada pleksus meinsterikus
dari kolon distalis (Sacharin, 1986).
Daerah yang terkena dikenal sebagai
segemen aganglionik (Catzel & Roberts,
1992).
Penyebab
Penyebab penyakit ini belum diketahui
(Greaf, 1994). Kemungkinan
melibatkan faktor genetik. Terdapat
hubungan peningkatan risikofamilial
dari penyakit ini, dimana laki-laki lebih
banyak dibandingkan dengan
perempuan (Behrman, 1996).

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 38


Tipe
Menurut Staf Pengajar Ilmu
Kesehatan Anak FKUI (1996),
Hirschprung dibedakan sesuai dengan
panjang segmen yang terkena,
Hirschprung dibedakan menjadi dua
tipe berikut :
1.Segmen pendek
Segmen pendek aganglionosis mulai
dari anus sampai sigmoid, terjadi
pada sekitar 70% kasus penyakit
Hirschprung dan tipe ini lebih sering
ditemukan pada laki-laki
dibandingkan anak perempuan. Pada
tipe segmen pendek yang umum,
insidennya 5 kali lebih besar pada
laki-laki dibanding wanita dan

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 39


kesempatan bagi saudara laki-laki
dari penderita anak untuk mengalami
penyakit ini adalah 1 dari 20
(Sacharin, 1986).
2.Segmen panjang
Daerah aganglionosis dapat melebihi
sigmoid, bahkan kadang dapat
mengenai seluruh kolon atau sampai
usus halus. Laki-laki dan perempuan
memiliki peluang yang sama, terjadi
pada 1 dari 10 kasus tanpa
membedakan jenis kelamin (Staf
Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI,
1996; Sacharin, 1986).
Tanda dan Gejala
Konstipasi (sembelit) meruapakan
tanda utama pada Hirschprung, dan
pada bayi baru lahir dapat merupakan
gejala obstruksi akut. Tiga tanda

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 40


(trias) yang sering ditemukan meliputi
mekonium yang terlambat keluar
(lebih dari 24 jam), perut kembung,
dan muntah berwarna hijau. Pada
neonatus, kemungkinan ada riwayat
keterlambatan keluarnya menkonium
selama 3 hari atau bahkan lebih
mungkin menandakan terdapat
obstruksi rektum dengan distensi
abdomen progresif dan muntah;
sedangkan pada anak yang lebih
besar kadang-kadang ditemukan
keluhan adanya diare atau
enterokolitis kronik yang lebih
menonjol daripada tanda-tanda
konstipasi (sembelit).
Terjadinya diare yang berganti-ganti
dengan konstipasi merupakan hal
yang tidak lazim. Apabila disertai

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 41


dengan komplikasi enterokolitis, anak
akan mengeluarkan feses yang besar
dan mengandung darah serta sangat
berbau, dan terdapat peristaltik dan
bising usus yang nyata.
Sebagian besar tanda dapat
ditemukan pada minggu pertama
kehidupan, sedangkan yang laiin
ditemukan sebagai kasus konstipasi
kronik dengan tingkat keparahan
yang menigkat sesuai dengan
pertaambahan umur anak; pada anak
yang lebih tua biasanya terdapat
konstipasi kronik disertai anoreksia
dan kegagalan pertumbuhan.

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 42


Kegagalan perpindahan neuroblast
dari usus proksimal

Persarafan parasimpatik tidak


Sel ganglion dalam rektum dan sempurna di bagian aganglionik
sebagian tidak ada dalam kolon

Tindakan penanganan Hambatan pada ganglion intramural


pleksus, berakibat terhambatannya
kontrol kontraksi dan relaksasi

Tindakan konservatis (pemasangan


anal tube)

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 43


Tindakan definitif (operasi
pembedahan)

Patofisiologi
Penyakit Hirschsprung atau
megakolon aganglionik, suatu anomali
kongenital, terjadi saat tidak ada atau
kekurangan sel ganglion parasimpatis
otonom pada pleksus submukosa
(Meissner) dan pleksus mienterik
(Auerbach) di segmen dinding usus.
Bagian aganglionik menyebabkan tidak
adanya peristalsis, yang menyebabkan
akumulasi materi feses dan obstruksi
usus mekanis. Istilah megakolon
berasal dari distensi usus yang dekat

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 44


dengan defek karena feses yang
terjebak di dalam kolon. Selain itu,
sfingter rektal tidak mampu untuk
relaksasi sehingga mencegah evakuasi
benda padat, cairan, atau gas dan
menyebabkan obstruksi. Panjang
segmen aganglionik pada usus dapat
bervariasi, mulai dari area yang kecil
(seperti area sfingter ani internal)
hingga kolon. Pada sebagian besar anak
yang mengalami penyakit Hirschsprung
(sekitar 80%), segmen aganglionik
hanya mencakup kolon rektosgmoid.
Gen utama diidentifikasi terlibat
dalam penyakit Hirschsprung. Bersama
dengan faktor genetik, diduga bahwa
defek ini mungkin disebabkan oleh tidak
adanya mimigrasi prekursor sel
ganglion parasimpatis selama

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 45


perkembangan janin. Penyakit
Hirschsprung terjadi pada sekitar 1 dari
5.000 kelahiran hidup, dan lebih umum
terjadi pada anak laki-laki. Penyakit ini
lebih umum terjadi pada anak laki-laki.
Penyakit ini dapat menjadi penyakit akut
atau kronis.
Keparahan keterlibatan usus
menentukan gambaran klinis. Tanda
dan gejala utama pada bayi baru lahir
adalah kegagalan mengeluarkan
mekonium dalam 24-48 jam setelah
kelahiran, berkurangnya keinginan bayi
untuk minum , distensi abdomen, dan
mungkin muntah yang bercapur empedu.
Bayi yang lebih tua mungkin mengalami
gagal tumbuh, konstipasi, diare yang
berlebihan, muntah dan distensi
abdomen. Saat penyakit tidak

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 46


terdiagnosis hingga masa kanak-kanak,
gejalanya meliputi malnutrisi, letargi,
atrofi otot, abdomen yang membesar,
konstipasi kronis, dan keluarnya feses
yang berebentuk seperti pita.
Enterokolitis, inflamasi pada usus halus
dan kolon, merupakan komplikasi
penyakit Hirschsprung yang dapat
terjadi sebelum atau setelah
pembedahan. Pada enterokolitis,
perdarahan gastrointestinal dan diare
terjadi karena iskemik dan ulserasi
pada dinding usus.
Penyakit Hirschsprung didiagnosis
berdasarkan, riwayat, gambaran klinis,
yang meliputi pola usus, dan berbagai
pemeriksaan diagnostik. Pemeriksaan
radiografi abdomen atau enema barium
akan menunjukkan distensi usus halus

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 47


dan kolon proksimal dengan rektum
yang kosong dan tidak membesar.
Manometri anorektal dapat dilakukan.
Biopsi rektal yang menunjukkan segmen
usus aganglionik menegaskan diagnosis.
Terapi pembedahan pada bayi
meliputi pengangkatan usus terkena
dengan anastomosis ujung-ke-unjung
kanal anal. Hal ini dapat dilakukan
melalui lap aroskopi. Penatalaksanaan
pembedahan pada kasus yang parah
atau bayi yang sakit biasanya meliputi
ostomi atau kolostomi sementara pada
bagian usus yang memiliki intervensi
normal dan pengakatan usus
aganglionik. Pembedahan korektif
definitif (sering kali prosedur
penembuhan) dilakukan 3-6 bulan
kemudian, dan ostomi ditutup.

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 48


Komplikasi jangka panjang potensial
setelah pembedahan dapat meliputi
striktur anal dan inkontinensia yang
membutuhkan dilatasi anal,
inkontinensia yang membutuhksn
dilatasi anal, laksatif, enema dan
perubahan diet. Pada bayi yang menga
lami penyakit Hirschsprung sebagai
penyakit kronis, perawatan pembedahan,
medis dan psikososial yang dilakukan
seumur hidup mungkin diperlukan
untuk memperbaiki kualitas hidupnya.

Pemeriksaan Penunjang
1.Pemeriksaan colok dubur
Pada penderita Hirschprung,
pemeriksaan colok anus sangat
penting untuk dilakukan. Saat
pemeriksaan ini, jari akan merasakan

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 49


jepitan karena lukme rektum yang
sempit, pada saat ditarik akan diikuti
dengan keluarnya udara dan
mekonium (feses) yang menyemprot.
2.Pemeriksaan lain
a. Foto polos abdomen tegak akan
memperlihatkan usus-usus melebar
atau terdapat gambaran obstruksi
usus rendah.
b. Pemeriksaan radiologis akan
memeperlihatkan kelainan pada
kolon setelah enema berium.
Radiografi biasanya akan
memeperlihatkan dilatasi dari kolon
di atas segmen aganglionik.
c. Biopsi rektal dilakukan dengan
anastesi umum, hal ini melibatkan
diperolehnya sampel lapisan otot
rektum untuk pemeriksaan adanya

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 50


sel ganglion dari pleksus Aurbach
(biopsi) yang lebih superfisial untuk
memeperoleh mukosa dan
submukosa bagi pemeriksaan
pleksus meissner.
d. Manometri anorektal merupakan uji
dengan suatu balon yang
ditempatkan dalam rektum dan
dikembangkan. Secara normal,
dikembangkannya balon akan
menghambat sfingter ani interna.
Efek inhibisi pada penyakit
Hirschprung tidak ada dan jika
balon berada dalam usus
aganglionik, dapat diidentifikasi
gelombang rektal yang abnormal.
Uji ini efektif dilakukan pada masa
neonatus karena dapat diperoleh

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 51


hasil baik positif palsu atau negatif
palsu.

Prinsip Pengobatan Dan Manajemen


Keperawatan
Setelah ditemukan kelainan histologik
dari Hirschprung, selanjutnya mulai dikenal
teknik operasi yang rasional untuk penyakit
ini. Tindakan definitif bertujuan
menghilangkan hambatan pada segmen
usus yang menyempit. Tindakan konservatif
adalah tindakan darurat untuk
menghilangkan tanda-tanda obstruksi
rendah dengan jalan memasang anal tube
dengan atau tanpa disertai pembilasan air
garam hangat secara teratur. Air tidak
boleh digunakan karena bahaya absorpsi air
mengarah pada intoksikasi air, hal ini
disebabkan karena difusi cepat dari usus

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 52


yang mengalami dilatasi air kedalam
sirkulasi (Sacharin, 1986).
Penatalaksanaan dari gejala obstipasi dan
mencegah enterokolitis dapat dilakukan
dengan bilas kolon menggunakan garam
faal, cara ini efektif dilakukan pada
hirschprung tipe segmen pendek untuk
tujuan yang sama juga dapatt dilakukan
dengan tindakan kolostomi di daerah
ganglioner.
Membuang segmen aganglionik dan
mengembalikan kontinuitas usus dapat
dikerjakan dengan satu atau dua tahap,
teknik ini disebut operasi definitif yang
dapat dikerjakan bila berat badan bayi
sudah cukup (lebih dari 9 kg). Tindakan
konservatif ini sebenarnya akan
mengaburkan gambaran pemeriksaan
barium enema yang dibuat kemudian.

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 53


Kolostomi merupakan tindakan oprasi
darurat untuk menghilangkan gejala
obstruksi usus, sambil menunggu dan
memperbaiki keadaan umum penderita
sebelum operasi definitif. Berikan dukungan
pada orang tua, karena kolostomi, observasi
apa yang perlu dilakukan, bagaimana
memebersihkan stoma, dan bagaimana
menggunakan kantong kolostomi.
Intervensi bedah terdiri atas
pengangkatan segmen usus aganglionik
yang mengalami obstruksi. Pembedahan
rektosimoidektomi dilakukan dengan teknik
pull-through dan dapat dicapai dengan
proosedur tahap pertama, tahap kedua, dan
tahap ketiga ; rektosigmoidoskopi didahului
oleh suatu kolostomi. Kolostomi ditutup
dalam prosedur tahap kedua. Pull-through
(Swenson, Renbein, dan Duhamel) yaitu

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 54


jenis pembedahan dengan mereseksi
segmen yang menyempit dan menarik usus
sehat ke arah anus.
Operasi Swenson dilakukan dengan
teknik anastomosis intususepsi ujung ke
ujung usus ganglionik melalui anus dan
reseksi serta anastomosis sepanjang garis
bertitik-titik. Secara lebih spesifik prosedur
Duhamel dilakukan dengan cara menaikkan
kolon normal ke arah bawah dan
menganastomosiskannya di belakang usus
aganglionik membuat dinding ganda yaitu
selubung aganglionik dan bagian posterior
kolon normal yang telah ditarik.
Sedangkan operasi soave dilakukan
dengan cara mukosa diangkat, bagian
muskular usus yang aganglionik
ditinggalkan dan usus aganglionik didorong
sampai menggantung dari anus. Cara

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 55


Duhamel dan Soave bagian distal rektum
tidak dikeluarkan sebab merupakan fase
operasi yang sukar dikerjakan, anastomosis
koloanal dibuat secara tarik terobos (pull-
through).
Persiapan prabedah rutin antara lain
lavase kolon, antibiotik, infus intravena, dan
pemasangan tuba nasogastrik; sedangkan
penatalaksanaan perawatan pascabedah
terdiri atas perawatan luka, perawatan
kolostomi, observasi terhadap distensi
abdomen, fungsi kolostomi, peritonitis, ileus
paralitik, dan peningkatan suhu.
Selain melakukan persiapan serta
penatalaksanaan pascabedah, perawat juga
perlu memberikan dukungan pada orang
tua, karena orang tua harus belajar
bagaimana merawat anak dengan suatu
kolostomi, mengobservasi apa yang harus

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 56


dilakukan, bagaimana membersihkan stoma,
dan bagaimana menggunakan kantong
kolostomi.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN


HIRSCHPRUNG
Pengakajian Keperawatan
1.Lakukan pengkajian fisik rutin
2.Dapatkan riwayat kesehatan dengan
cermat terutama yang berhubungan
dengan pola defekasi
3.Kaji status hidrasi dan nutrisi umum.
4.Monitor kebiasaan buang air besar
(bowel elimanation pattern).
5.Ukur lingkar abdomen.
6.Observasi manifestasi penyakit
Hirschprung
Periode bayi baru lahir

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 57


a. Gagal mengeluarkan mekonium dalam
24-28 jam setelah lahir.
b. Menolak untuk minum.
c. Muntah berwarna empedu.
d. Distensi abdomen.

Masa bayi
a. Ketidakadekuatan penambahan berat
badan (BB)
b. Kontipasi
c. Episode diare dan muntah
d. Tanda-tanda aminous (sering
menandakan adanaya enterokolitis).
e. Diare berdarah
f. Demam
g. Letargi berat

Masa kanak-kanak (gejala lebih kronis)


a. Konstipasi
b. Feses berbau menyengat dan seperti
karbon.
c. Distensi abdomen
d. Masa fekal dapat teraba
e. Nafsu makan dan pertumbuhan buruk.
7.Bantu dengan prosedur diagnostik dan
pengujian seperti radiografi, biopsi
rektal dan manometri anorektal.

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 58


Diagnosis Keperawatan Utama
1) Kekurangan volume cairan
Definisi
- Penurunan jumlah volume cairan
yang bersikulasi
Kemungkinan berhubungan dengan
- Berkurangnya keinginan untuk
minum
- Muntah

DX : kekurangan volume cairan berhubungan dengan


berkurangnya keinginan untuk minum/muntah
Pengkajian/Batasan Karateristik Anak dan atau
keluarga (Data Subjektif dan Datan Objektif) :
 Kegagalan  Diare yang berlebihan
mengeluarkan  Membran mukosa kering
mekanisme dalam 24-  Penurunan haluaran
48 jam setelah urine
kelahiran (bayi baru  Takikardi
lahir)  Takipnea
 Masalah pemberian  Hipotensi
makan
 Muntah (muntah dapat
mengandung empedu

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 59


atau materi feses)
 Hipoproteinemia
 Konstipasi
 Keluarnya feses yang
membentuk seperti pita
dan berbau busuk

Kemungkina
Kriteria Evaluasi
n Intervensi Rasional
hasil Pencatatan
Keperawatan
Anak akan Buat catatan Memberikan Dokumentasi
memiliki asupan dan informasi kan asupan
volume haluaran tentang dan haluaran.
cairan yang yang akurat. status Jelaskan
adekuat, Catat hidrasi karakteristik
yang frekuensi anak. feses atau
ditandai dan Penurunan muntah
dengan karakteristik haluaran
 Asupan feses. Ukur urine dapat
cairan dan catat mengindika
adekuat, jumlah dan sikan
IV dan karakteristik dehidrasi.
oral muntah. Karakteristi
(sebutka k feses
n jumlah dan/atau
muntah

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 60


spesifik dapat
asupan membantu
yang mengindenti
dibutuhk fikasi
an oleh etiologi
setiap penyakit
bayi
 Tidak
ada
1.Munta
h Kaji dan Memberikan Dokumentasi
2.Diare catat informasi kan jumlah
yang  Cairan IV tentang cairan IV dan
berlebi dan status jelaskan
han kondisi cairan kondisi area
3.Hipopr area IV pasien. Jika IV bersama
oteine setiap pasien dengan setiap
mia jam. mengalami intervensi
4.Disten  Frekuensi kekurangan yang
si jantung, volume dibutuhkan.
abdom frekuensi cairan, Dokumentasi
en pernapasa frekuensi kanrentang
 Membra n, dan jantung frekuensi
n tekanan akan jantung,
mukosa darah meningkat frekuensi
lembab setiap 4 pertama pernapasan,
 Haluara jam dan kali, dan dan tekanan
n urine PRN akhirnya darah.
menurun. Jelaskan

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 61


adekuat  Tanda/gej Frekuensi volume
(sebutk ala pernapasan cairan yang
an kekurang akan terlibat.
rentang an volume meningkat.
spesifik; cairan Tekanan
1-2 (seperti darah
ml/kg/j yang akhirnya
am) terdapat menurun.
 Berat dalam Penting
jenis pengakaji untuk
urine an) setiap mencatat
dari 4 jam dan jumlah
1,008- PRN. cairan IV
1,020 setiap jam
 Frekuen untuk
si memastikan
jantung, bahwa anak
frekuen tidak
si kelebihan
pernapa atau
san, kekurangan
dan hidrasi.
tekanan Area IV
darah harus dikaji
dalam setiap jam
rentang untuk
yang mengetahui
dapat adanya

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 62


diterima tanda
(sebutk kemerahan
an atau
rentang pembengka
spesifik kan.
masing-
masing)
 Tidak
ada
tanda/g
ejala
kekuran
gan
volume
cairan
(seperti
yang
terdapat
dalam
pengkaj
ian)
TUJUAN Ajarkan Peningkatan Dokumentasi
PENYULUHA anak/keluarg pengetahua kan apakah
N a tentang n akan penyuluhan
Anak karakteristik membantu dilakukan
dan/atau kekurangan anak/ dan jelaskan
keluarga volume keluarga hasilnya.
akan cairan. Kaji dalam

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 63


mampu dan catat perubahan
menyebutk hasilnya. kondisi
an minimal anak.
4
karakteristi
k
kekurangan
volume
cairan,
seperti :
 Berkur
angnya
keingin
an
untuk
minum
 Masala
h
pember
ian
makan
 Muntah
 Diare
yang
berlebi
han
 Distens
i

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 64


abdome
n

Anak
dan/atau
keluarga
akan
mampu me

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 65


2.Labiopalatosisis
Definisi
Labiopalatosisis merupakan suatu
kelianan yang dapat terjadi pada daerah
mulu, palatoisisis (sumbing palatum),
dan labiosis (sumbing pada bibir) yang
terjadi akibat gagalnya jaringan lunak
(struktur tulang ) untuk menyatu
selama perkembangan embrio.
labiosis (Bibir sumbing ) adalah
malformasi yang disebabkan oleh
gagalnya prosesus nasal median dan
maksilaris untuk menyatu selama
perkembangan embriotik, sedangkan
palatoisisis (palatum sumbing ) adalah
fisura garis tengah pada palatum yang
terjadi karena kegagalan dua sisi untuk
menyatu selama perkembangan
embrionik.

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 66


Patofisiologi
Proses terjadinya labiopalatosisis
ini terjadi ketika kehamilan trisemester
ke-1 dimana terjadi gangguan oleh
karena berbagai penyakit seperti virus.
Pada trisemester pertama terjadi proses
perkembangan pembentukan berbagai
organ tubuh dan saat itu terjadi
kegagalan dalam penyatuan dna
pembentukan jaringan lunak atau
tulang selama fase embrio. Apabila
terjadinya kegagalan dalam penatuan
proses nasal medial dan maksilaris
maka dapat mengalami labiosisis
(sumbing bibir), dan proses penyatuan
tersebutakan terjadi pada usia 6-8

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 67


minggu. Kemudian apabila terjadi
kegagalan penyatuan pada sususnan
palato selama masa kehamilan 7-12
minggu maka akan dapat
mengakibatkan seumbing pada palatum
(palatosisis).
Celah bibir dapat terjadi dalam
berbagai variasi, mulai dari takik kecil
pada batas yang merah terang sampai
celah sempurna yang meluas ke dasar
hidung. Celah ini mungkin unilateral
(lebih sering pada sisi kiri) atau
bilateral, dan biasanya melibatkan rigi-
rigi alveolus. Biasanya disertai dengan
gigi yang cacat dan salah bentuk, gigi
tambahan, atau bahkan tidak tumbuh
gigi. Celah kartilago, cuping hidung,
dan bibir sering kali disertai dengan
defisiensi sekat hidung dan panjang

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 68


vomer, menghasilkan tonjolan keluar
bagian anterior cerah prosesus
maskilaris.
Celah palatum murni terjadi pada
linea mediana dan dapat melibatkan
hanya uvula, atau dapat meluas
kedalam atau melalui palatum molle
dan palatum durum sampai ke foramen
insisivirus. Apabila celah palatum ini
terjadi bersamaan dengan celah bibir
(sumbing), cacat ini dapat melibatkan
linea medina palatum molle dan meluas
sampai palatum durum pada satu atau
kedua sisi, memaparkan satu atau
kedua rongga hidung sebagai celah
palatum unilateral atau bilateral. Dapat
terjadi berbagai drajat malformasi
dimulai dari taktik yang ringan pada
bagian tepi bibir di kanan atau kiri garis

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 69


tengah, sampai sumbing yang lengkap
berjalan hingga sampai ke hidung.
Terdapat variasi lanjutan dari cacat
yang melibatkan palatum.

Drajat Deformitas bibir dna palatum


sumbing
Deformitas biasanya dibagi dalam tiga
kelompok yaitu :
1.Sumbing pra-alveolar, dimana
melibatkan bagian bibir atau bibir
dna hidung (merupakan drajat
keempat)
2.Sumbing alveolar, dimana sumbing
mengenai bibir, tonjolan alveolar,
dan biasanya palatum (drajat
ketiga)

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 70


3.Sumbing pasca-alveolar, dimana
sumbing hanya melibatkan palatum
(drajat pertama dan ketiga).

Gambaran Klinis
Labiosisis adalah manifestasi klinis
berupa distrosi hidung, tampak
sebagian atau kedua duanga, dan
adanya celah bibir. Sedangakan pada
palatosisis tampak ada celah pada tekak
atau uvula, palato lunak dan keras,
serta atau foramen incivius,adanya
rongga pada hidung, distrosi hidung,
teraba ada celah atau terbukanya langit-
langit pada waktu diperiksa, dan
mengalami kesukaran dalam menghisap
atau makan.

Asuhan keperawatan anak dengan


masalah labiopalatosisis

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 71


1.Lakukan pengkajian fisik
2.Inspeksi palatum, secara visual dan
dengan menempatkan jari
secara ;langsung diatas palatum.
3.Observasi prilaku makan
4.Observasi interaksi bayi-keluarga

Pengkajian
Pada pengkajian didapat terjadi
kesukaran dalam menghisap, menelan,
makan, terjadi penurunan bernafas,
mudah tersedak, distres pernafasan dan
dipsnea. Pada pengkajian faktro
penyebab kemungkinan adalah kelainan
kromosom, mutasi gen atau adanya
teratogen (faktor yang menimbulkan
kecacatan pada masa otot), faktor
hederiter, serta adanya virus pada saat
kehamilan trisemester pertama. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan adanya

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 72


distrosi hidung, adanya celah pada bibir
apabila terjadi sumbing bibir
(labiosisis), adanya rongga pada hidung,
celah atau terbukannnya langit-langit,
adanya celah pada uvula, apabila terjadi
sumbing palatum (palatosisis).

Diagnosa/ Masalah keperawatan


Prapembedahan
1.Kurang kebutuhan nutrisi (kurang
dari kebutuhan tubuh)
2.Resiko aspirasi

Pasca pembedahan
1.Resiko infeksi
2.Gangguan integritas kulit
3.Perubahan proses keluarga

Rencana tindakan keperawatan


(Intervensi)

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 73


Perawatan PraOperasi
1.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
fisik
Sasaran Bayi Kriteria Hasil Intervensi
mengkonsumsi  Bayi  Beri diet sesua
nutrisi yang mengkonsumsi bantu ibu men
adekuat jumlah nutrisi bila ini ada
yang adekuat keinginan i
 Bayi menunjukan karena bayi
penambahan lahir dengan
berat badan yang ini masih da
tepat menyusu
 Posisikan d
stabilkan pu
dengan baik d
rongga mu
sehingga kerja
mempermu
pemerasaan s

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 74


 Stimulasi ref
ejekasi ASI se
manual atau d
pompa payu
sebelum men
karena pengis
diperlukan u
menstimul
pengeluaran
 Modifikasi te
pemberian ASI
menyesuaik
dengan defek
penuruna
menghisap b
kurang, posis
duduk unt
menyusui b
 Gunakan alat k

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 75


untuk
mengkompen
kesulitan ma
bayi.
 Cobalah un
menyusui b
dengan puting
memenuh
kebutuhan b
menghisap
meningkatk
perkembanga
berbicara
 Posisikan pal
diantara lidah
dan palatum u
memudahk
kompres put
 Apabila mengg

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 76


alat tanpa pu
(seperti dot b
spuit asept
letakan formu
belakang lida
atur alira
penelanan b
 Sendawakan d
seringkarena
cenderung me
banyak uda
 Anjurkan ibu
menyusui ses
mungkin ag
mengenal te
menyusui b
sebelum pul
 Pantau berat b
bayi untuk me

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 77


keadekuat
masukan
2.Resiko aspirasi b.d ketidakmampuan mengeluarkan s
secara spontan
Sasaran Kriteria hasil Intervensi
Bayi tidak  Bayi tidak  Atur posisi ke
mengalami mengalami dengan meng
aspirasi aspirasi kepala pada
 Mencegah minum atau m
terjaidnya dan gunakan
aspirasi pada bayi yang panja
 Mempertahankan  Gunakan pala
kepatenan jalan buatan (jika p
nafas dan saluran  Lakukan pene
cerna punggung se
pemberian m
atau ASI
 Monitor sta
pernafasan se

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 78


pemberian m
seperti freku
nafas, irama
tanda-tanda a
aspirasi.
3.Resiko tinggi perubahan menjadi orang tua b.d bayi d
defek fisik yang sangat terlihat
Sasaran Hasil yang Intervensi
Keluarga diharapkan  Berikan kesem
menunjukan  Keluarga untuk
penerimaan mendiskusikan mengekspres
terhadap bayi perasaan dan perasaanya u
kekhawatiran mendorong k
mengenai defek keluarga
pada bayi,  Tunjukan si
perbaikannya, penerimaa
dan prospek ke terhadap bay
masa depan. keluarga
 Keluarga karenaorang

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 79


menunjukan sensitif terha
sikap penerimaan sensitif orang
terhadap bayi.  Tunjukan den
 Keluarga prilaku bahwa
menerima adalah manusi
informed consent. berharga un
 mendoron
penerimaa
terhadap ba
 Gambarkan h
perbaikan be
terhadap de
 Atur pertem
dengan orang
lain yang mem
pengalaman s
dan dapa
mengahadap
dengan ba

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 80


Perawatan Pascaoperasi
Resiko tinggi trauma sisi pembedahan b.d prosedu
pembedahan, disfungsi menelan
Sasaran Kriteria hasil Intervensi
Anak dan  Sisi operasi tetap  Berikan pos
keluarga tidak tidak rusak terlentang a
mengalami  Anak mengatasi miring atau d
trauma sisi sekresi dan (BS) untu
operasi, pasien formula mencegah tra
tidak tanpaaspirasi pada sisi ope
menunjukan  Pertahankan
bukti-bukti pelindung bibi
aspirasi untuk melind
garis jahit
 Gunakan tek
pemberian ma
nontraumatik
meminimalk
resiko trau

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 81


 Restrain siku
mencegah aks
sisi opera
 Gunakan ja
restrain pada
yang lebih b
untuk mence
agar tidak ber
dan mengga
wajah
 Hindarimenem
objek di dalam
setelah perbaik
(kateter pengh
spatel lida
sedotan,dot, s
kecil) untu
mencegah p
trauma pada

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 82


operasi
 Jaga agar anak
menangis de
keras, karena
menyebabk
tegangan pa
jahitan
 Bersihkan g
jahitan deng
perlahan set
makan, kar
infeksi ata
infalamasi a
mempengar
penyembuhan
efek kosmetik
perbaikan
pembedaha
4.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 83


kesulitan makan setelah prosedur pembedahan
Sasaran Kriteria Hasil  Pantau cair
Anak  Anak intravena
mengkosnsumsi mengkonsumsi  Berikan diet s
nutrisi yang jumlah usia dan kete
adekuat nutrisiyang tidak selama per
adekuat pascaopera
 Keluarga  Libatkan kelu
mendemonstrasik dalam menen
an kemampuan metode pemb
menjalankan makan yang te
perawatan karena kelua
pascaoperasi memegang tan
 Anak menunjukan jawab pembe
panambahan makan di lu
berat badan yang  Ubah tekn
adekuat pemberian m
untuk menyesu
diri terhadap

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 84


dan perbaik
pembedah
 Beri makan d
porsi duduk u
meminimalk
aspirasi
 Gunakan alat k
untuk yan
mengkompen
kesulitan pem
makan tan
menyebabk
trauma pada
operasi
 Sendawakan d
sering kare
kecenderungan
anak/bayi un
menelan ban

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 85


udara
 Bantu dala
menyusui, b
metode ini di
 Ajarkan tek
pemberian m
dan pengisapa
keluarga un
menjamin pera
di rumah ya
optimal.
5.Nyeri b.d prosedur pembedahan
Sasaran Kriteria hasil Intervensi
Anak Anak tampak  Kaji prilaku
mengalami nyaman dan tanda-tanda
tingkat istirahat dengan untuk adanya
kenyamanan tenang nyeri
yang optimal  Berikan analg
dan/atau sed

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 86


sesuai instr
 Lepaskan res
secara perio
sambil diawasi
latihan deng
memberika
pelepasan d
pembatasan
observasi kulit
adanya tanda-
iritasi.
 Beri stimul
belaian dan t
 Libatkan oran
dalam peraw
anak untu
memberikan
aman dan nya
 Terapkan inte

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 87


perkembangan
sesuai deng
tingkat dan tol
anak.
6.Perubahan proses keluarga b.d anak dengan defe
hospitalisasi
Sasaran Kriteria hasil Inervensi
Anak dan Tidak spesifik  Lihat kemb
keluarga rencana asu
mendapat kepeawatan ke
dukungan yang dari anak saki
adekuat hospitalisa
 Rujuk keluarga
lembaga –lem
dan kelomp
pendukun
 Lihat kemb
rencana asu
keperawatan

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 88


dengan peny
kronis dan men

3.Stenosis Pilorus
Definisi
Stenosis pilorus hipertrofik adalah
obstrusksi sfingter pilorus oleh
hipertrofi otot sirkuler dari pilorus
(wong, 1996). Stenosis pilorus
merupakan penyempitan pilorus
karena jaringan parut yang
terbentuk pada saat penyembuhan
ulkus souseni. Stenosis pilorus
hipertrofik kongetial yaitu stenosis
yang disebabkan oleh penebalan otot
sfingter pilorus.

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 89


Penyebab
Penyebab stenosis pilorus belum
diketahui secara pasti, tetapi
berbagai faktor telah diidentifikasi
dan dicurigai terlibat dengan
penyakit ini. Stenosis pilorus tidak
tampak saat lahir. Bayi lahir dengan
lahir kembar monozigot lebih
berpeluang dibanding dizigot.
Intervensi otot yang tidak normal,
menyusui dan stress pada ibu pada
trimester tiga telah diketahui ikut
terlibat menjadi faktor penyebab
terjadinya stenosis pilorus; selain itu
peningkatan prostagandin serum,
penurunan kadar nitrat oksida
sintase di pilorus, dan
hipergastrinemia kemungkinan
merupakan fenomena sekunder yang

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 90


disebabkan oleh stasis dan distensi
lambung. Faktor lain adalah
pemberian prostagandin E eksogen
untuk mempertahankan patensi
duktus arteriosus, gastroenteritis
eosinofilia, trisomi 18, sindrom
turner, Smith Lemli Opitz, dan
Canelia De Lange.

Tanda Dan Gejala


Gambaran utama stenosis Pilorus
adalah muntah proyektil, peristaltik
lambung dapat dilihat, dan tumor
pilorus yang dapat diraba.
Gelombang peristaltik dapat terlihat
melintas dari kiri ke kanan di
abdomen atas.
Gejala awal dari stenosis pilorus
adalah adanya muntah tanpa

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 91


empedu, karena obstruksi proksimal
duodenum. Gejala jarang dimulai
sebelum umur 10 hari setelah
kelahiran, apakah bayi lahir
prematur atau tidak (Catzel, 1992).
Pada awalnya muntah menyembur,
namun dapat juga tidak, biasanya
bersifat progresif dan terjadi segera
stelah makan atau bisa intermitten.
Muntah biasanya mulai setelah umur
3 minggu, tetapi gejala muncul
paling awal muncul pada umur 1
minggu, dan paling lambat pada
umur 5 bulan.
Dalam beberapa hari, bayi muntah
setiap sehabis makan dan makanan
dikeluarkan dengan kekuatan
sedemikian rupa sehingga dapat
menyembur (muntah proyektif)

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 92


tetapi jarang. Kadang pada bayi
disertai juga dengan konstipasi,
tetapi kadang-kadang bayi
mengeluarkan feses kecil, encer,
dan berwarna hijau; setelah muntah,
bayi akan merasa lapar dan ingin
makan lagi. Karena muntah terus-
menerus terjadi, maka terjadi
kehilangan cairan, ion hidrogen, dan
klorida secara progresif, sebab
menyebabkan alkalosis metabolik
hipoklomeremik, kadar kalium
serum seperti biasanya, tetapi
mungkin ada pengurangan kadar
totalnya dalam tubuh.

Prinsip Pengobatan dan Manajemen


Perawatan

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 93


Dehidrasi dan alkolosis
hipokloremik adalah akibat yang
harus pertama kali dilakukan
tindakan. Lambung harus dibilas
secara berulang kali dengan normal
salin sampai bersih, sonde
intragaster ditinggikan pada
tempatnya untuk memastikan
pengempisan lambung. Pemberian
cairan intravena dimulai dengan
0,45-0,9% Nacl, dalam 5-10%
dekstrosa, dengan penambahan
kalium klorida dengan kadar 30-50
mEq/L. Tetapi cairan harus
dilanjutkan sampai bayi mengalami
rehidrasi dan kadar bikarbonat
serum kurang dari 30 mEq/dl, yang
menyatakan bahwa alkosis sudah
terkoreksi. Koreksi terhadap

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 94


alkalosis sangat penting untuk
mencegah apnea pascabedah, yang
mungkin merupakan akibat dari
anastesi.
Prosedur pembedahan pilihan
adalah piloromiotomi Ramstedt,
prosedur ini hanya boleh dilakuk. an
bila pasien sudah dalam kondisi
sehat untuk dilakukan operasi.
Prosedur ini dilakukan melalui insisi
pendek melintang atau dengan
laparaskopi, massa pilorus di bawah
mukosa dipotong tanpa memotong
mukosa, lalu irisan ditutup kembali.
Pemberian makanan peroral dimulai
kira-kira 4 jam pascabedah
(Illingworth, 1998). Namun, pada
kebanyakan bayi makanan dapat
dimulai dalam 12-24 jam sesudah

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 95


pembedahan dan diteruskan sampai
makanan oral rumatan dalam 36-48
sesudah pembedahan (Behrman,
Kliegman & Arvin, 1996). Pemberian
terapi makanan dimulai pemberian
15 ml dekstrosa 15% dalam air,
kemudian dilanjutkan dengan 30 ml
setelah 3 jam kemudian. Apabila hal
ini dapat bertahan, lalu dapat
diberikan 30 ml susu seuai,
kemudian jumlahnya ditingkatkan
sampai bayi mampu makan seluruh
porsi makannya. Apabila bayi
muntah persisten secara kontinu
setelah operasi, maka mungkin
piloromiotomi tidak sempurna
(harus diulangi), gastritis, hernia
hiatus, akalasia, atau terdapat
penyebab obstruksi lain.

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 96


ASUHAN KEPERAWATAN ANAK PADA
STENOSIS PILORUS
Pengkajian Keperawatan
1.Lakukan pengkajian fisik
2.Riwayat kesehatan, khususnya
mengenai perilaku makan dan
pola muntah.
3.Observasi adanya manifestasi
stenosis pilorus
a. Muntah proyektil, biasanya
terjadi segera setelah makan
namun dapat tidak terjadi
selama beberapa jam dapat
terjadi stelah makan atau
minum namun dapat tidak
intermitten. Muntah nonempedu
atau mungkin bercak darah.
b. Bayi lapar dan ingin sekali
menyusu sangat menginginkan

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 97


pemberian makan kedua setelah
episode muntah.
c. Tidak ada bukti nyeri atau tidak
nyaman, kecuali rasa lapar yang
kronis.
d. Penurunan berat badan
e. Distensi abdomen atas
f. Teraba tumor berbentuk zaitun
di epigastrium, tepat di sebelah
kanan umbilikus.
g. Gelembung peristaltik lambung
dapat dilihat, bergerak dari
kanan melewati epigastrium.
4.Bantu dengan prosedur diagnostik
dan pengujian, misalnya seri
gastrointestinal atas, USG, atau
elektro serum.

4.Malformasi Anorektal

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 98


Definisi
Malformasi anorektal atau sering
disbut juga dengan anus imperforata
adalah malformasi kongetal di mana
rektum tidak mempunyai lubang luar
(Wong, 1996). Anomali bawah
adalah keadaan di mana rektum
memiliki jalur desenden normal
melalui otot puberektalis, terdapat
sfingter internal dan eksternal yang
berkembang baik dengan fungsi
normal, dan tidak dapat terdapat
hubungan dengan saluran
genitourinarius.
Bentuk Kelainan Anorektal
Catzel (1997) menyebutkan
malformasi rektum dan naus
kongenital terdiri atas agenesis
rektum (tidak ada rektum dan anus),

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 99


agnesis anus (hanya anus yang ada),
dan membrana anus imperforata
(lubang anus tertutup oleh membtan
dengan berbagai ketebalan). Lubang
anus dapat ditunjukkan oleh sebuah
lekuk.
Kelainan tipe rendah mencakup
perjalanan anus melalui muskulus
levator ani normal berakhir
beberapa sentimeter dari anus (anus
imperforata) atau memasuki
perineum dalam posisi abnormal.
Anomali intermediet adalah suatu
keadaan di mana rektum berada
pada atau di bawah tingkat normal.
Untuk memastikan adanya kelainan
anus imperforata, maka dilakukan
pemeriksaan sarung penil atau rafe
median dari skrotum pada anak laki-

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 100


laki, atau tepay di dalam vestibula
pada anak perempuan.
Anomali tinggi adalah suatu
keadaan di mana ujung rektum
berada di atas otot puborektalis dan
sfingter internal tidak ada, hal ini
biasanya berhubungan dengan
fistula genitourinarius (retourektal
pada pria dan rektovaginal pada
wanita). Penting untuk menentukan
bahwa kelainan anorektal tipe tinggi
tidak salah diagnosis dengan anus
imperforata rendah. Pada anak-anak
ini ujung usus terletak di atas
levator anus, yang seringkali
perkembangannya buruk. Perbedaan
dapat dibuat dengan inpeksi dan
radiografi lateral etrbalik yang
dilakukan 24 jam sesudah kelahiran

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 101


untuk mencari di mana ujung akhir
usus terisi udara. Foto rotgen
daerah abdominal –peritonial dapat
menolong dalam menilai luas cacat,
hal ini penting karena anomali yang
tinggi yaitu berakhir di atas ambin
puberektum memiliki prognosis
buruk, dan akibat fungsional lebih
buruk dibanding anomali rendah,
yang rektumnya berakhir di bawah
ambin. Apabila udara tidak
mencapai garis pubokoksigeal,
kelainan yang diderita anak
kemungkinan adalah kelainan tipe
tinggi, oleh karena itu tidak boleh
dilakukan eksplorasi perineum.
Anomali anorektal dibedakan
berdasarkan jenis dan cara
pengobatan yang diberikan. Menurut

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 102


Sacharin (1996), anomali dibedakan
menjadi : (a) anomali tinggi, seperti
agenesis anorektal (dengan ataupun
tanpa fistula dan atresia rektal; (b)
anomalai menengah seperti agnesis
anal (dengan atau tanpa fistula),
dan stenosis anorektal : (c) anomali
rendah seperti tempat anal yang
normal (anus perineal anterior).
Anomali anorektal juga dapat
dibedakan berdasarkan jenis
kelamin.

Prinsip Pengobatan Dan Manajemen


Perawatan
Pada kebanyakan bayi dengan
anus imperforata, koreksi
pembedahandapat dilakukan segera
setelah lahir dan tidak pernah

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 103


memerlukan kolostomi. Pada anak
yang lain, usus berakhir tinggi dalam
pelvis di ats tingkat otot sfingter,
sehingga koreksi pembedahan
biasanya ditunda sampai anak lebih
besar. Kolostomi sementara
dikontruksi pada kolon transversum,
walaupun kadang-kadang pada kolon
sigmoid. Apabila memiliki cacat
dalam suplai persarafan ke vesika
urinria dan usus, maka kemungkinan
memerlukan suatu kolostomi
permanen dan diversi atau
pengalihan urine yang permanen.
Terapi yang dibutuhkan berupa
pembentukan kolostomi dengan
kolon, selanjutnya melalui otot
pelvis dan mencakup otot sfingter
yang ada di perineum. Bedah

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 104


rekontruksi dini mungkin dilakukan,
pada anak-anak akan timbul
kontinensia normal. Berbagai jenis
operasi telahdikembangkan dengan
menggunakan pendrkatan abdomen,
sakral, dan perineum untuk
membentuk kembali anatomi.
Operasi yang terbaru melalui
pendekatan posterior dengan
membedah otot dan memotong kolon
sebelum membawanya ke perineum,
telah memberikan hasil awal
diharapkan.
Hasil dari anak dengan kelainan
tinggi tanpa muskuler atau
muskuler yang buruk, kontinensia
mungkin didapatkan secara lambat,
tetapi dengan pelatihan intensif
menggunakan otot-otot yang ada dan

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 105


pengencangan otot dilakukan
dengan levatorplasti, nasihat
tentang diet, dan memelihara
neorektum tetap kosong kemajuan
dapat dicapai. Pada lesi tinggi,
kolostomi harus dilakukan sebagai
tindakan gawat darurat dan koreksi
dilakukan pada umur sekitas 1
tahun (Catzel, 1992).

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK


DENGAN MALFORMASI ANOREKTAL
Pengkajian Keperawatan
1.Lakukan pengakajian bayi baru
lahir, terutama pada area perianal.
2.Lakukan pengkajian area anus :
a. Atur anak dalam posisi
tengkurap, lakukan pemeriksaan
bokong dan paha.

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 106


b. Amati kulit sekitar daerah anus
terhadap kemerahan dan ruam.
 Ketidaksimetrisan bokong dan
lipat paha, menunjukkan
displasia pinggul kongenital.
 Kemerahan dan ruam,
menunjukkan pembersihan
tidak adekuat setelah defekasi,
jarang mengganti popok, atau
iritasi akibat diare.
c. Periksa anus terhadap tanda-
tanda seperti fisura (robek pada
mukosa), prolaps (penonjolan
seperti tabung yang lembab),
polip (penonjolan merah terang),
dan pertumbuhan ke luar yang
kecil (skin tag).
Temuan dan tanda klinis dapat
beruap :

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 107


 Anus biasanya tampak
lembap dan tidak berambut.
 Tanda-tanda bekas garukan
menunujukkan adanya gatal,
yang dapat menunujukkan
investasi cacing kremi.
 Fisura mungkin
menunjukkan bekas jalan
feses yang keras, defekasi
mungkin disertai dengan
perdarahan jika fisura
ditemukan, perdarahan
dapat juga menyertai polip,
intususepsi, ulkus
lammbung dan ulkus
peptikum, varises esofagus,
kolitis ulseratif, penyakit
infeksi dan divertikulum
meckel.

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 108


 Prolaps rektum
menunjukkan kesulitan
defekasi dan seringkali
menyertai kistik fibrosis
yang tidak diobati.
 Skin tag menunjukkan polip
dan biasanya jinak.
 usap area anus untuk
menimbulkan refleks anus,
anus akan berkontraksi
dengan cepat, sedangkan
refleks yang lambat
menunjukkan gangguan
traktus piramidal.
3.Observasi adanya pasase
mekonium (perhatikan bila ada
mekonium tampak pada orifisium
yang tidak tepat).

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 109


4.Observasi feses seperti karbon
pada bayi yang lebih besar atau
anak kecil yang memilki riwayat
mengalami kesulitan defekasi atau
distensi abdomen.
5.Lakukan prosedur diagnostik
seperti endoskopi atau radiografi.

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah Kelainan Bawaan 110