Você está na página 1de 33

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.

R PASIEN DIABETES
MELITUS

STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (DIRANAH KOMUNITAS)

SEMESTER 1

Lita Erlina

I4B017028

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN KEPERAWATAN (PROFESI NERS)

PURWOKERTO

2017
FORMAT PENGKAJIAN KELUARGA

A. Data umum
1. Nama keluarga (KK): Abdi
2. Alamat dan telepon: Watumalang 05/03
3. Komposisi keluarga:
Genogram:

Keterangan:
: Pasien wanita

: Wanita sudah meninggal


: Wanita masih hidup

: Laki-laki sudah meninggal

: Laki-laki masih hidup

4. Suku:
5. Agama: Islam
6. Status sosial ekonomi keluarga
Pekerjaan kepala keluarga yaitu sebagai petani, penghasilan kepala keluarga sebesar
kurang lebih Rp. 1.200.000, keluarga merasa cukup untuk kebutuhan sehari-hari,
namun terkadang ada kendala biaya saat pasien akan berobat ke RS.
7. Aktifitas rekreasi keluarga
Keluarga cenderung tidak terlalu memikirkan untuk rekreasi, karena terkendala biaya
hidup, kegiatan yang dilakukan sehari-hari biasanya ke ladang untuk bertani. Keluarga
tidak pernah merencanakan untuk pergi berrekreasi.
B. Riwayat tahap perkembangan keluarga
1. Riwayat keluarga inti
Keluarga ini sudah terbentuk ketika pasien menikah dengan suami sehingga
melahirkan anak cucu dan sampai saat ini, hingga suami dari pasien meninggal sekitar
30 tahun yang lalu, proses pembentukkan keluarga ini telah direncanakan sebelumnya.

2. Riwayat keluarga sebelumnya


Salah satu anak pasien menyatakan, bahwa keluarga ini mempunyai ibu dari pasien
mengalami penyakit diabetes melitus, dan sekarang pasien juga mengalami penyakit
yang sama seperti ibu pasien, namun sudah meninggal 20 tahun yang lalu. Dan
perempuan nya kini mengalami hipertensi.
C. Lingkungan
1. Karakteristik rumah
Ventilasi pada rumah tersebut tidak terlalu bagus karena ada sekitar 3 jendela yang tak
pernah dibuka walaupun disiang hari, tipe rumah sudah permanen, lantai sudah
menggunakan keramik, didalam rumah sekita 6 ruangan, dan kamar mandi sudah di
dalam, namun terlalu jauh dengan kamar tidur pasien, tidak ada pengaman pada kamar
mandi, serta tingkat pencahayaan kurang pada titik-titik ruang tertentu.

Denah rumah keluarga

Pintu Kamar Ruang KM KM


Mandi Makan
Ruang tamu Tidur Tidur
Ruang
Dapur
tv

Pintu KM
Teras depan masuk
Kolam ikan Tidur

2. Karakteristik tetangga dan komunitas RW


Fasilitas kesehatan yang ada di komunitas yaitu PKD, dan aktif sampai sekarang.
3. Mobilitas geografis keluarga
Keluarga merupakan warga asli dan bukan warga pindahan, keluarga tersebut
sudah sejak lahir tinggal dan menjadi warga di desa tersebut, transportasi yang
biasa digunakan oleh keluarga yaitu sepeda motor.
4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga ini termasuk keluarga yang sering berinteraksi dengan tetangga-tetangga
yang lain, terutama saat pengajian mingguan, yaitu setiap hari kamis di masjid desa.
Apakah keluarga ini sering berkumpul dengan warga atau tetangga?
5. Sistem pendukung keluarga
Keluarga ini tidak mempunyai layanan kesehatan gratis.
D. Struktur keluarga
1. Pola komunikasi keluarga
Komunikasi keluarga sudah bagus karena selalu bisa menyelesaikan masalah
secara musyawarah dengan keluarga ini.
2. Struktur kekuatan keluarga
a. Struktuk keluarga disini, jika terdapat masalah pada keluarga, biasanya pengambil
keputusan adalah kepala keluarga.
E. Fungsi keluarga
1. Fungsi afektif
a. Bagaiman kasih sayang yang ada di keluarga tersebut?
b. Bagaimana bagaiman individu ini mencukupi kebutuhan anggota keluarga yang
lain?
2. Fungsi sosialisasi
a. Anak dihargai dalam keluarga
b. Bagaimana tugas perkembangan anak?
c. Bagaimana sosialisasi yang dilakukan anak dengan teman sebaya?
3. Fungsi perawatan keluarga
a. Mengidentifikasi masalah
Keluarga ini tidak mengerti mengenai penyakit diabetes melitus, keluarga tersebut
hanya mengerti jika penyakit yang dialami salah satu anggota keluarganya hanya
gula darah, tanpa tau tanda dan geja, faktor risiko dan penyebab.
b. Melakukan keperawatan
Keluarga hanya menghindari makanan yang manis saja.
c. Memodifikasi atau memelihara lingkungan
Lingkungan pasien tentu saja membahayakan karena ada beberapa anggota
keluarga yang masih merokok aktif setiap hari, dan ventilasi yang kurang baik.
d. Memanfaatkan layanan kesehatan
Keluarga sering memanfaatkan fasilitas kesehatan jika pada nggota keluarga ada
yang mengalami sakit.
F. Strss dan koping keluarga
Keluarga selalu dapat memecahkan masalah secara bersamaan.
1. Strategi adaptasi disfungsional
Salah satu anggota keluarga pada keluarga tersebut ada yang mempunyai sikap yang
masa bodoh terhadap status kesehatan pada anggota keluarganya dan tidak mengetahui
secara pasti penyakit yang dialami oleh salah satu anggota keluarganya.

G. Harapan keluarga
Harapan yang diinginkan keluarga yaitu menginginkan sembuh dari penyakit DM yang
dialami saat ini, dan anggota keluarga mampu mencegah penyakit DM.
H. Pemeriksaan fisik
1. Tekanan darah pasien: 140/80
2. RR : 20x permenit
A. PENGKAJIAN
Tanggal pengkajian: Selasa, 21 November 2017
Pukul: 14.00 WIB
1. Identitas pasien
Nama : Ny. R
Umur : 72 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT
Alamat : Watumalang 05/03
Diagnosa Medis : Diabetes mellitus
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama : Pasien mengeluh sering terbangun pada malam
hari untuk miksi, sekitar 2-3 kali dan cepat lelah.
b. Riwayat penyakit sekarang : Pasien mengalami penurunan kesadaran pada
satu tahun yang lalu dan pasien disarankan
dirujuk ke RS terdekat oleh bidan desa,
selanjutnya pasien dirawat dengan diagnosa
hiperglikemia, dan dirawat dirumah sakit.
Selanjutnya pasien telah dirawat dirumah sakit
lagi sekitar 2 minggu yang lalu dengan keluhan,
pegal-pegal dan ada rasa sangat silau pada mata,
terahir dirawat di RS pasien dirawat dengan
diagnosa yang sama yaitu hiperglikemi.
c. Riwayat penyakit dahulu : Pasien di diagnosa diabetes melitus sejak satu
tahun yang lalu dan hipertensi namun tidak
terkontrol. Pasien pernah dirawat di rumah sakit
karena diabetes mellitus satu tahun yang lalu.
d. Riwayat penyakit keluarga : Pasien menyatakan ada riwayat penyakit
keluarga yaitu ibu dari pasien mengalami DM
namun sudah meninggal.

Genogram (Tercantum pada pengkajian keluarga)


3. Pola kesehatan fungsional :
a. Persepsi kesehatan dan pola management kesehatan
DO: Keadaan umum pasien baik E 4 V 6 M 5
DS: Pasien menyatakan kadang-kadang mengikuti posyandu lansia namun tidak
rutin.
b. Pola nutrisi metabolik
DO: BB : 50 kg, TB : 149 cm, IMT: 24,5 (berat badan ideal)
DS: Pasien menyatakan tidak ada pembatasan makanan kecuali mimum manis
dan mengandung gula saja.
c. Pola eliminasi
DS: pasien menyatakan pola BAK nya dalam sehari sekitar 15 kali dalam 24
jam, pasien merasa sangat sering untuk bolak-balik ke kamar mandi. Sedangkan
pada pola BAB pasien tidak mengalami permasalahan.
d. Pola aktifitas-latihan
DO: skore ADL pasien 15 (dalam kategori ketergantungan ringan).
DS:

No. Item yang dinilai Skor Nilai

1. Makan (Feeding) 0. Tidak mampu


1. Butuh bantuan disuapi 1
2. Mandiri
2. Mandi (Bathing) 1. Tergantung orang lain
1
2. Mandiri
3. Perawatan diri (Grooming) 1. Membutuhkan bantuan orang lain
2. Mandiri dalam perawatan muka, rambut, gigi,
1
dan bercukur

4. Berpakaian (Dressing) 1. Tergantung orang lain


2. Sebagian dibantu (misal mengancing baju) 2
3. Mandiri
5. Buang air kecil (Bowel) 0 = Inkontinensia atau pakai kateter dan tidak
terkontrol
1 = Kadang Inkontinensia (maks, 1x24 jam) 1
2 = Kontinensia (teratur untuk lebih dari 7
hari)
6. Buang air besar (Bladder) 0 = Inkontinensia (tidak teratur atau perlu
enema)
2
1 = Kadang Inkontensia (sekali seminggu)
2 = Kontinensia (teratur)
7. Penggunaan toilet 0 = Tergantung bantuan orang lain 1
1 = Membutuhkan bantuan, tapi dapat
melakukan beberapa hal sendiri
2 = Mandiri
8. Transfer 0 = Tidak mampu
1 = Butuh bantuan untuk bisa duduk (2 orang)
3
2 = Bantuan kecil (1 orang)
3 = Mandiri
9. Mobilitas 0 = Immobile (tidak mampu)
1 = Menggunakan kursi roda
2 = Berjalan dengan bantuan satu orang 2
3 = Mandiri (meskipun menggunakan alat
bantu seperti, tongkat)
10. Naik turun tangga 0= Tidak mampu
1 = Membutuhkan bantuan (alat bantu) 1
2 = Mandiri
Interpretasi hasil:

20: Mandiri

12-19: Ketergantungan ringan

9-11: Ketergantungan sedang

5-8: Ketergantungan berat

0-4: Ketergantungan total

e. Pola istirahat-tidur
DO: Pasien terlihat pucat
DS: Pasien menyatakan pola tidurnya kurang baik karena sering merasa ingin
berkemih pada malam hari (sekitar pukul 02.00 WIB), pasien merasa tidak puas
dengan tidurnya, terkadang pasien menginginkan untuk dapat tidur di siang hari,
namun pasien tidak bisa tidur nyenyak karena merasa tidak nyaman pada
kondisinya.
f. Pola persepsi kognitif
DO: Pasien nampak bisa menjawab pertanyaan dengan benar dan sesuai
pertanyaan, namun ada pertanyaan-pertanyaan yang pasien tidak tau
maksudnya sehingga dijawab oleh anaknya.
DS: Pasien mengatakan bahwa pasien masih bisa mengingat dengan baik dan
berorientasi tempat dan waktu dengan tepat, namun ada gangguan pada mata
pasien karena masih merasa silau.
g. Pola persepsi diri-konsep diri
DO: Pasien percaya diri akan sembuh
DS: Pasien merasakan bisa menerima diri atas penyakit yang dialami, dan
pasien merasa pasrah dengan tuhan, pasien hanya bisa berusaha untuk berobat
dan berdoa kepada tuhan.
h. Pola peran hubungan
DO: Pasien mendapat dukungan dari keluarga
DS: Pasien tinggal dengan 3 anak dan 1 menantu dan dua cucu. Pasien
mengatakan masih berhubungan baik dengan semua anggota keluarga terutama
anak-cucu dan tetangga-tetangganya.
i. Pola seksualitas dan reproduksi
Pasien menyatakan sudah menopause sejak lama sekali dan suami pasien sudah
meninggal sekitar 30 tahun yang lalu.
j. Pola koping dan toleransi stress
DS: Sebelum pasien dirawat, jika pasien mengalami stress atau permasalahan
pasien lebih memilih untuk diam dan pergi untuk beristirahat ke kamar.
k. Pola nilai-kepercayaan
Pasien masih aktif mengikuti kegiatan keagamaan. Pasien masih aktif mengikuti
pengajian setiap hari kamis.

4. Pemeriksaan fisik Selasa, 21 November 2017


a. Keadaan umum: Kesadaran composmentis E4 V6 M5. Tanda-tanda vital tanggal
Selasa, 21 November 2017: TD: 140/80, N: 100, RR: 20x/menit
b. Kepala: Bentuk mesochepal, muka simetris, terdapat kantung mata, palpebral
tidak ada edema, konjungtiva an-anemis, sclera agak memerah dan tidak
ada ikterik, pupil isokor, hidung normal dan tidak ada polips ataupun
hambatan pernafasan, dan penciuman masih sensitif, pada bagian mulut
lidah sensitif, tidak ada tongsilitis, dan stomatitis. Pada bagian gigi
terlihat bersih, namun sudah ada beberapa gigi yang sudah tanggal,
mukosa bibir terlihat kering dan tidak ada sianosis.
c. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tenggorokan tidak ada faringitis,
dan tidak ada nyeri telan, tidak ada peningkatan jugularis vena pressure.
d. Dada:
1) Paru
Inspeksi : Bentuk dada normal, pergerakan simetris, tidak ada batuk dan
tidak ada alat bantu pernafasan.
Auskultasi : Vesikuler.
Palpasi : Tidak ada krepitasi dan nyeri tekan.
Perkusi :Sonor
2) Jantung
Inpeksi : Ituskordis terlihat sedikit
Palpasi : Puntum maksimum teraba sedikit
Auskultasi : Bunyi (S1 Lup) (S2 Dup) dan tidak ada bunyi tambahan S3
Perkusi : Pekak.
e. Abdomen
Inpeksi : Tidak ada asites.
Auskultasi : Bising usus 12 kali permenit.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
Perkusi : Timpani
g. Genetalia : Bersih dan tidak ada peruritas vulva.
h. Rektum : Tidak ada hemoroid, fistula dan laserasi.
i. Kulit : Kulit bersih berwarna sawo matang, dan tidak ada luka
disekitar kulit, dan tidak ada ulkus DM.
i. Ekstermitas : Terasa kebas pada kedua telapak tangan dan telapak kaki
sinistra, tidak ada turgor kulit pada ekstermitas capilari refil
kurang dari 2 detik.

5 5

5 5

Skala 1 : Jika otot ditekan masih terasa ada kontraksi atau kekenyalan
ini berarti otot masih belum atrofi atau belum layu.

Skala 2 :Dapat mengerakkan otot atau bagian yang lemah sesuai


perintah misalnya tapak tangan disuruh telungkup atau lurus
bengkok tapi jika ditahan sedikit saja sudah tak mampu
bergerak

Skala 3 :Dapat menggerakkan otot dengan tahanan minimal misalnya


dapat menggerakkan telapak tangan dan jari
Skala4 :Dapat bergerak dan dapat melawan hambatan yang ringan.

Skala 5 :Bebas bergerak dan dapat melawan tahanan yang setimpal

5. Riwayat Pemeriksaan penunjang :GDS Tanggal 20 November 2017 (Saat kontrol


di RS) : H 200 mg/dL
B. ANALISA DATA

DATA ETIOLOGI MASALAH

DO: Kurang pajanan Defisit pengetahuan


Keluarga dan pasien
menunjukkan
ketidaktahuan
DS:
Pasien dan keluarga
menyatakan tidak tahu
mengenai penyakit yang
dialami.
DO: Gangguan proses penyakit Gangguan pola tidur
Pasien terlihat pucat
DS:
Pasien menyatakan
ketidakpuasan dengan
tidurnya, pasien
menyatakan selalu
terbangun untuk miksi
pada tengah malam.
DO: Keadaan fisik Risiko jatuh
Usia sudah lansia 72
tahun, ada ruangan
dengan tingkat cahaya
yang redup, tidak ada
pegangan pada area
potensial terjadinya jatuh
(kamar mandi), ada
neuropati, sering
berkemih yang mendesak.
DS:
keluarga pasien
menyatakan bahwa pasien
sering dibantu saat
melakukan aktifitas.
C. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan pola tidur b.d Gangguan (proses penyakit)
2. Defisit pengetahuan b.d Kurang pajanan
3. Risiko jatuh b.d keadaan fisik

D. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


No. DIAGNOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN (NIC)

1. Gangguan pola Sleep: Extent and pattern Sleep Enhancement 1.Untuk


Setelah dilakukan proses
tidur b.d Pajanan 1. Jelaskan mendorong
keperawatan selama 3x24
penyakit jam diharapkan pasien pentingnya tidur pasien agar
dapat tidur dan istirahat
yang adekuat dapat tidur
sesuai batas normal yang
ditandai dengan kriteria 2. Ciptakan dengankualitas
hasil :
lingkungan yang yang baik.
Indikator Awal Ahir
Jumlah 2 5 nyaman 2.Untuk
tidur 3. Diskusikan antara menghindari
dalam
batas pasien dan hal yang dapat
normal 6- keluarga tentang menggaggu
8 jam
perhari teknik tidur pasien tidur pasien.
Pola 2 5 4. Instruksikan 4.Untuk
tidur,
kualitas keluarga untuk mengetahui
dalam memonitor tidur kebiasaan
batas
normal pasien pasien tidur
Perasaan 2 5 5. Monitor yang dapat
segar
setelah kebutuhan tidur memberikan
tidur pasien setiap hari kenyamanan
Mampu 2 5
mengide dan jam. ketika pasien
ntifikasi akan tidur.
hal-hal
yang 5.Untuk
meningk mengetahui
atkan
tidur lama pasien
tidur.
1. Keluhan Ekstrim
2. Keluhan Berat
3. Keluhan Sedang
4. Keluhan ringan 6.Untuk
5.Tidak ada keluhan
mengetahui
jumlah tidur
pasien yang
dapat
mempengaruhi
status ksehatan
pasien.
2. Defisit Knowledge : disease Teaching : disease 1. Memperm
udah
pengetahuan process process
dalam
Setelah dilakukan asuhan 1. Memberikan memberik
penilaiam an
keperawatan selama 3x24
tentang tingkat penjelasan
jam diharapkan pada
pengetahuan
pasien
pengetahuan dan kepatuhan pasien dan
pasien terhadap kesehatan keluarga 2. Meningkat
tentang proses an
meningkat, dengan kriteria
penyakit yang pengetahu
sebagai berikut: spesifik an
Indikator A T
2. Menjelaskan 3. Meningkat
Pasien dan 2 5 patofisiologi kan
secara tepat pengetahu
keluarga an pasien.
menyatakan 3. Gambarkan 4. Meningkat
tanda dan gejala kan
pemehaman pengetahu
secara tepat
tentang an pasien.
5. Agar tidak
penyakit 4. Identifikasi
terjadi
kemungkinan kemungki
kondisi,
penyebab nan
prognosis penyakit komplikas
dan program i
5. Mendiskusikan 6. Untuk
pengobatan. perubahan gaya meningkat
hidup yang kan
Pasien dan 2 5 baik, pengetahu
keluarga an pasien
6. Diskusikan 7. Mereview
mampu terapi atau pengetahu
melaksanaka pengobatan an pasien

n prosedur yang tepat


yang 7. Instruksikan
dijelaskan pasien
mengenai tanda
secara benar dan gejala untuk
melaporkan
Pasien dan 2 5
pada pemberi
keluarga perawatan
mampu kesehatan,
dengan cara
menjelaskan
yang tepat.
kembali apa
yang
dijelaskan
perawat/ tim
kesehatan.

Skala:
1. Keluhan Ekstrim
2. Keluhan Berat
3. Keluhan Sedang
4. Keluhan ringan
5.Tidak ada keluhan

3. Risiko jatuh Injuri risk for Faal preventio 1. Untuk


Setelah dilakukan tindakan 1. Mengidentifikasi mengidentifi
keperawatan selama 3 x 24 defisit kognitif kasi
jam diharapkan pasien atau fisik pasien kemungkinan
terhindar dari cedera yang dapat yang terjadi
dengan kriteria hasil : meningkatkan 2. Untuk
Indikator A T potensi jatuh meminimalka
Menunjukkan 2 5 dalam lingkungan n risiko jatuh
perilaku tertentu 3. Untuk
pencegahan 2. Mengidentifikasi memahami
jatuh perilaku dan karakteristik
Lingkungan faktor yang lingkungan
rumah dalam mempengaruhi pasien.
keadaan aman risiko jatuh
Pengendalian 2 5 3. Mengidentifikasi 4. Untuk
risiko: karakteristik mencegah
memperbaiki lingkungan yang terjadinya
tingkat dapat jatuh pada
pencahayaan meningkatkan pasien.
Keluarga 2 5 potensi untuk 5. Untuk
mampu jatuh (misalnya, meminimalka
mendeteksi lantai yang licin n keparahan
risiko jatuh dan tangga saat jatuh.
Skala: terbuka) 6. Untuk
1. Keluhan Ekstrim 4. Mendorong mempermuda
2. Keluhan Berat pasien untuk h penolong
3. Keluhan Sedang
4. Keluhan ringan menggunakan 7. Untuk
5.Tidak ada keluhan tongkat atau alat mempererat
pembantu hubungan
berjalan antar
5. Ajarkan pasien keluarga.
bagaimana jatuh
untuk
meminimalkan
cedera
6. Gunakan teknik
yang tepat untuk
mentransfer
pasien ke dan dari
tempat tidur,
toilet, dan
sebagainya
7. Membantu ke
toilet seringkali,
interval
dijadwalkan
1. 1
.

E. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari/tanggal Jam Dx Implementasi Respon Paraf
Selasa, 21 14.00 1,2,3 1. Menjelaskan waktu tidur S: Lita
November WIB yang cukup Pasien menyatakan tidak puas
2017 dengan tidurnya.
2. Memberikan penilaian
O:
pengetahuan pasien dan TD: 140/80 mmHg
keluarga tentang DM N: 100 x/menit
RR: 20x/menit
3. Mengidentifikasi
kemungkinan
lingkungan yang
berpotensi membuat
pasien terjatuh.
Rabu, 22 08.00 1,2,3 1. Megajarkan pasien dan S: Lita
November WIB keluarga untuk Keluarga pasien menyatakan
2017 mengerti terhadap penyakit
mengungai intake asupan
DM
cairan setelah pukul 20.00 O:
yang berpotensi Kelurga nampak sudah lebih
paham.
mempengaruhi miksi
pasien
2. Menyarankan kepada
keluarga untuk pemberian
susu hangat kepada pasien
untuk meningkatkan
kualitas tidur
3. Menyarankan keluarga
untuk modifikasi
lingkungan yang
berpotensi meningkatkan
risiko jatuh
4. Mendorong pasien untuk
memakai tongkat ketika
akan berpindah
5. Melakukan pendidikan
kesehatan kepada
keluarga dan pasien
tentang DM
6. Mengajarkan kepada
pasien untuk jatuh dengan
meminimalkan cidera.
Kamis , 23 19.00 1,2,3 1. Memotifasi keluarga S: Lita
November WIB untuk membantu pasien ke Keluarga menyatakan bahwa
2017 keluarga pasien sudah mulai
kamar mandi
memantau pasien ke toilet.
2. Memotifasi keluarga
untuk menerangi area ruang O:
Pasien sudah mau untuk
yang gelap.
memakai tongkat untuk
3. Motifasi keluarga untuk berjalan.
memonitor tidur pasien
4. Memotifasi kepada pasien
untuk jatuh dengan
meminimalkan cidera.

F. EVALUASI
No. Hari/tanggal Diagnosa Keperawatan Evaluasi
1. Selasa, 21 Gangguan pola tidur b.d S: Pasien menyatakan sering terbangun pada
November Gangguan (proses penyakit) malam hari untuk miksi.
2017 O: pasien terlihat pucat
A: masalah gangguan pola tidur belum teratasi
Indikator A T S
Jumlah tidur dalam batas 2 5 2
normal 6-8 jam perhari
Pola tidur, kualitas dalam 2 5 2
batas normal

Perasaan segar setelah tidur 2 5 2

Mampu mengidentifikasi hal- 2 5 2


hal yang meningkatkan tidur
Skala:
1. Keluhan Ekstrim
2. Keluhan Berat
3. Keluhan Sedang
4. Keluhan ringan
5.Tidak ada keluhan
P: masalah gangguan pola tidur belum teratasi
I:
1. memotifasi keluarga untuk mengontol
cairan menjelang tidur
2. memotifasi keluarga untuk mengontrol
lingkungan tempat tidur pasien
3. Menyarankan kepada keluarga untuk
pemberian susu hangat kepada pasien
untuk meningkatkan kualitas tidur

S: Pasien dan keluarga menyatakan belum


Defisit pengetahuan b.d mngetahui mengenai penyakit DM
O: keluarga dan pasien nampak mengungkapkan
kurang pajanan
ketidaktahuan
A: masalah defisit pengetahuan belum teratasi

Indikator A T S
Pasien dan keluarga menyatakan 2 5 2
pemehaman tentang penyakit
kondisi, prognosis dan program
pengobatan.

Pasien dan keluarga mampu 2 5 2


melaksanakan prosedur yang
dijelaskan secara benar

Pasien dan keluarga mampu 2 5 2


menjelaskan kembali apa yang
dijelaskan perawat/ tim kesehatan.

Skala:
1. Keluhan Ekstrim
2. Keluhan Berat
3. Keluhan Sedang
4. Keluhan ringan
P: melanjutkan asuhan keperawatan
Risiko jatuh b.d keadaan
I:
fisik 1. memberikan edukasi kesehatan mengenai
DM

S: Pasien menyatakan ada rasa kesemutan pada


kedua tangan dan kaki kiri.
O: usia pasien 72 tahun
A: masalah risiko jatuh belum teratasi
Indikator A T S
Menunjukkan perilaku 2 5 2
pencegahan jatuh
Lingkungan rumah dalam 2 5 2
keadaan aman
Pengendalian risiko: 2 5 2
memperbaiki tingkat
pencahayaan
Keluarga mampu mendeteksi 2 5 2
risiko jatuh
Skala:
1. Keluhan Ekstrim
2. Keluhan Berat
3. Keluhan Sedang
4. Keluhan ringan

P: melanjutkan asuhan keperawatan


I:
1. Menyarankan keluarga untuk modifikasi
lingkungan yang berpotensi meningkatkan
risiko jatuh
2. Mendorong pasien untuk memakai tongkat
ketika akan berpindah

2. Rabu, 22 Gangguan pola tidur b.d S: keluarga pasien menyatatakan sudah


November Gangguan (proses penyakit) mengurangi asupan cairan ketika akan tidur.
2017 O: pasien terlihat masih pucat.
A: masalah gangguan pola tidur teratasi sebagian
Indikator A T S
Jumlah tidur dalam batas 2 5 2
normal 6-8 jam perhari
Pola tidur, kualitas dalam 2 5 2
batas normal

Perasaan segar setelah tidur 2 5 2

Keluarga dan pasien mampu 2 5 3


mengidentifikasi hal-hal yang
meningkatkan tidur
Skala:
1. Keluhan Ekstrim
2. Keluhan Berat
3. Keluhan Sedang
4. Keluhan ringan

P: Melanjutkan asuhan keperawatan


5. I: Memotifasi keluarga untuk memonitor tidur
pasien
Defisit pengetahuan b.d
kurang pajanan S: Pasien dan keluarga menyatakan telah
mengetahui penyakit DM terutama perawatan dan
faktor risiko DM.

O: keluarga nampak bisa menjawab pertanyaan


dengan baik dan benar.
A: masalah defisit pengetahuan teratasi sebagian.
Indikator A T S
Pasien dan keluarga menyatakan 2 5 2
pemehaman tentang penyakit
kondisi, prognosis dan program
pengobatan.

Pasien dan keluarga mampu 2 5 2


melaksanakan prosedur yang
dijelaskan secara benar

Pasien dan keluarga mampu 2 5 2


menjelaskan kembali apa yang
dijelaskan perawat/ tim kesehatan.

Skala:
1. Keluhan Ekstrim
2. Keluhan Berat
3. Keluhan Sedang
4. Keluhan ringan

P: Lanjutkan asuhan keperawatan


Risiko jatuh b.d keadaan I: memotifasi keluarga untuk merubah gaya hidup
yang tidak sehat (misalnya merokok)
fisik

S: pasien dan keluarga mengetahui tentang teknik


jatuh yang tidak menimbulkan cedera.
O: lingkungan pasien beresiko membuat pasien
jatuh
A: masalah risiko jatuh teratasi sebagian
Indikator A T S
Menunjukkan perilaku 2 5 2
pencegahan jatuh
Lingkungan rumah dalam 2 5 3
keadaan aman
Pengendalian risiko: 2 5 2
memperbaiki tingkat
pencahayaan
Keluarga mampu mendeteksi 2 5 2
risiko jatuh
Skala:
1. Keluhan Ekstrim
2. Keluhan Berat
3. Keluhan Sedang
4. Keluhan ringan

P: melanjutkan asuhan keperawatan.


I:
1. Motifasi keluarga untuk membantu pasien
ke kamar mandi
2. Motifasi keluarga untuk menerangi area
ruang yang gelap.
3. Motifasi keluarga untuk memonitor tidur
pasien
4. Motifasi kepada pasien untuk jatuh dengan
meminimalkan cidera.
3. Kamis, 23, Gangguan pola tidur b.d S: keluarga pasien menyatakan menyatakan sudah
November Gangguan (proses penyakit) mulai memberikan susu hangat kepada pasien
2017 menjelang tidur.
O: pasien terlihat pucat
A: masalah gangguan pola tidur teratasi sebagian
Indikator A T S
Jumlah tidur dalam batas 2 5 3
normal 6-8 jam perhari

Pola tidur, kualitas dalam 2 5 2


batas normal
Perasaan segar setelah tidur 2 5 3

Keluarga dan pasien mampu 2 5 5


mengidentifikasi hal-hal yang
meningkatkan tidur
Skala:
1. Keluhan Ekstrim
2. Keluhan Berat
3. Keluhan Sedang
4. Keluhan ringan

P: melanjutkan asuhan keperawatan


I: memotifasi keluarga untuk mengontrol tidur
Defisit pengetahuan b.d pasien
kurang pajanan
S: Pasien dan keluarga menyatakan akan merubah
gaya hidup yang tidak baik
O: pasien dan keluarga terlihat bisa menjawab
pertanyaan
A: masalah defisit pengetahuan sudah teratasi
Indikator A T S
Pasien dan keluarga menyatakan 2 5 2
pemehaman tentang penyakit
kondisi, prognosis dan program
pengobatan.

Pasien dan keluarga mampu 2 5 2


melaksanakan prosedur yang
dijelaskan secara benar

Pasien dan keluarga mampu 2 5 2


menjelaskan kembali apa yang
dijelaskan perawat/ tim kesehatan.

Skala:
1. Keluhan Ekstrim
2. Keluhan Berat
3. Keluhan Sedang
4. Keluhan ringan
P: mempertahankan asuhan keperawatan

Risiko jatuh b.d keadaan S: keluarga pasien menyatakan sudah


fisik mempersiapkan tongkat untuk pasien, dan
mengeti teknik jatuh agar tidak menimbulkan
cedera.
O: rumah pasien nampak sudah ada penerangan
cahaya pada area yang berpotensi menimbulkan
pasien jatuh.
A: masalah resiko jatuh pasien teratasi
Indikator A T S
Menunjukkan perilaku 2 5 5
pencegahan jatuh
Lingkungan rumah dalam 5
keadaan aman
Pengendalian risiko: 2 5 5
memperbaiki tingkat
pencahayaan
Keluarga mampu mendeteksi 2 5 5
risiko jatuh
Skala:
1. Keluhan Ekstrim
2. Keluhan Berat
3. Keluhan Sedang
4. Keluhan ringan

P: mempertahankan intervensi
Dokumentasi
SAP (SATUAN ACARA PELAKSANAAN)

DIABETES MELITUS

SEMESTER 1

Disusun Oleh:

Lita Erlina

I4B017028

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN KEPERAWATAN (PROFESI NERS)

PURWOKERTO

2017
A. Topik : Diabetes mellitus
B. Hari/Tanggal : Senin, 20 November 2017
C. Waktu : 14.00 WIB
D. Tempat : Rumah keluarga klien
E. Penyaji : Lita Erlina
1. Tujuan :
a) Tujuan Intruksional Umum (TIU)
Setelah mengikuti penyuluhan, keluarga mampu memahami penyakit Diabetes
Melitus dan pencegahan.
b) Tujuan Intruksional Khusus (TIK)
Setelah diadakan penyuluhan selama 30 menit, keluarga dapat menjelaskan
tentang:
1) Pengertian Diabetes melitus
2) Faktor risiko Diabetes melitus
3) Gejala-Gejala Diabetes melitus
4) Komplikasi Diabetes melitus
5) Pencegahan Diabetes melitus
2. Pelaksanaan kegiatan :
Tahap Kegiatan penyuluh Kegiatan keluarga Estimasi Metode Media
waktu dan alat

Pendahuluan Perkenalan dan Mendengarkan 5 menit Ceramah


menyampaikan maksud dan dan
tujuan memperhatikan
Penyajian Uraian materi Mendengarkan 10 menit Ceramah Lembar
1. Pengertian Diabetes aktif balik
Melitus
2. Faktor risiko Diabetes
Melitus
3. Gejala gejala Diabetes
Melitus
4. Komplikasi Diabetes
Melitus
5. Pencegahan Diabetes
Melitus
Tanya jawab Mempersilahkan keluarga Bertanya 10 menit Ceramah
untuk bertanya, dan
mempersilahkan keluarga
untuk bertanya hal yang masih
sulit dipahami atau belum
tersampaikan.
Penutup Menutup acara penyuluhan Mendengarkan 5 menit Ceramah
aktif.

3. Strategi
Metode : Ceramah, dan diskusi
Media dan alat : lembar balik dan leaflet
4. Evaluasi
a. Evaluasi Proses
Keluarga mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari penyaji tentang
Diabetes Melitus
b. Evaluasi Hasil
Keluarga mampu menjelaskan kembali pengertian Diabetes Melitus, gejala-gejala
Diabetes Melitus, komplikasi Diabetes Melitus, pengelolaan Diabetes Melitus, dan
pencegahan.
5. Lampiran materi
a. Pengertian diabetes mellitus
Diabetes Melitus adalah kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner
dan suddarth,2002).
b. Klasifikasi diabetes mellitus
Menurut American Diabetes Association (ADA,2013), klasifikasi diabetes meliputi empat
kelas klinis :
1) Diabetes Mellitus tipe 1
Hasil dari kehancuran sel β pankreas, biasanya menyebabkan defisiensi insulin yang
absolut.
2) Diabetes Mellitus tipe 2
Hasil dari gangguan sekresi insulin yang progresif sehingga terjadinya resistensi insulin.
3) Diabetes tipe spesifik lain
Misalnya: gangguan genetik pada fungsi sel β, gangguan genetik pada kerja insulin,
penyakit endokrin pankreas (seperti cystic fibrosis), dan yang dipicu oleh obat atau bahan
kimia (seperti dalam pengobatan HIV/AIDS atau setelah transplantasi organ).

4) Diabetes Melitus Dalam Kehamilan


Gestational Diabetes Mellitus adalah kehamilan normal yang disertai dengan
peningkatan insulin resistan (ibu hamil gagal mempertahankan euglycemia).
c. Etiologi diabetes mellitus
Menurut rusari (2008), etiologi diabetes mellitus dibagi menjadi 2 bagian, antara lain:
1. Diabetes tipe I
a) Faktor-faktor Genetik
Penderita diabetes mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah
terjadinya diabetes tipe I.
b) Faktor-faktor Imunologi
Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Respon ini
merupakan respon abnormal dimana antibodi tertarik terarah pada jaringan normal
tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah
sebagai jaringan asing.
c) Faktor-faktor lingkungan
Penyelidikan juga sedang dilakukan terhadap kemungkinan faktor-faktor eksternal
yang dapat memicu dekstruksi sel beta.
2. Diabetes tipe II
a) Usia (resisten insulin cenderung meningkat pada usia di atas 30 tahun)
b) Obesitas
c) Riwayat keluarga
d. Manifestasi klinis diabetes mellitus
Manifestasi klinis diabetes mellitus menurut Prince&Wilson (2006) yaitu:
1) Kadar glukosa puasa tidak normal
2) Peningkatkan pengeluaran urin (polyuri) dan timbul rasa haus (polidipsi)
3) Rasa lapar yang semakin besar (polifagi), dan berat badan cenderung berkurang
4) Lelah dan mengatuk
5) Gejala lain yang dikeluhkan biasanya adalah kesemutan, gatal, mata kabur, peruritas
vulva, rasa kebas pada pengecapan, dan neuropati.
e. Komplikasi diabetes mellitus
1. Infeksi pada kaki (Ulkus diabetik)
2. Kerusakan pada ginjal
3. Retinopati diabetik (Gangguan pada mata)
4. Neuropati perifer (mati rasa/ sensasi kesemutan)
f. Patofisiologi diabetes mellitus
Menurut Brunner dan Suddarth (2002), patofisiologi diabetes mellitus sebagai berikut:
1. Diabetes Mellitus Tipe I :
Diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena
sel- sel beta pangkreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemi puasa
terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Glukosa yang berasal dari
makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan
menimbulkan heperglikemia postprandial ( sesudah makan ). Jika konsentrasi glukosa
darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring
keluar, akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urin ( glukosuria).
Ketika glukosa dieskresikan kedalam urin, eskresi ini akan disertai
pengeluaran cairan yang berlebihan ( diuresis osmotic ). Sebagai akibat dari
kehilangan cairan dan elektrolit, pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih,
(poliuria dan rasa haus polidipsia). Defisiensi insulin mengganggu metabolisme protein
dan lemak dan menyebabkan penurunan berat badan, peningkatan selera makan
(polifagia) akibat menurunnya simpanan kalori, gejala lainnya mencakup kelelahan
dan kelemahan. Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolisis
(pemecahan glukosa yang disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru
dari asam-asam amino serta substansi lain). Namun pada penderita defisiensi insulin,
proses ini akan terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut akan menimbulkan
hiperglikemia. Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan
peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan
lemak. Badan keton merupakan asam yang mengganggu keseimbangan asam basa
tubuh apabila jumlahnya berlebihan.
Ketoasidosis diabetik yang diakibatkannya dapat menyebabkan tanda-tanda
dan gejala seperti nyeri abdomen, mual, muntah, hiperventilasi, nafas berbau aseto, dan
bila tidak ditangani akan menimbulkan perubahan kesadaran, koma, bahkan kematian.
Pemberian insulin bersama dengan cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan akan
memperbaiki dengan cepat dan mengatasi gejala hiperglikemia serta ketoasidosis. Diet
dan latihan disertai pemantauan glukosa darah yang sering merupakan komponen
terapi yang penting.
2. Diabetes Mellitus tipe II
Pada tipe ini terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin
yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat
dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Akibat terikatnya insulin dengan reseptor
tesebut, terjadi suatu rangkaian reksi dalam metabolisme glukosa dalam sel. Resistensi
insulin pada DM tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel, dengan demikian
insulin tidak efektif untuk menstimulasi glukosa oleh jaringan.
Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa
dalam darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Meskipun
terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas diabetic tipe II, namun masih
ada insulin dengan jumlah insulin yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan
produksi badan keton. Karena itu, ketoasidosis diabetic tidak terjadi pada diabetes tipe
II.
Diabetes tipe II sering terjadi pada penderita pada usia lebih dari 30 tahun dan
obesitas. Akibat intoleransi glukosa yang lambat (bertahun-tahun) dan progresif maka
awitan DM tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi. Gejalanya bersifat ringan dan
mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsia, luka pada kulit yang tidak
sembuh-sembuh, infeksi vagina atau pandangan yang kabur (jika kadar glukosa sangat
tinggi .

Daftar Pustaka
Almaitser,sunita. 2006. Penutun diet. Gramedia: Yogyakarta.
Brunner dan suddart. 2005. Keperawatan Medical Bedah,edisi 8. Jakarta. EGC.
Mirza M, 2012, Mengenal Lebih Mengenai Diabetes Mellitus, Yogyakarta, Nuha
Media.
Robins, S. dan Coulter, M. 2007. Management kemerawatan. Indeks: Jakarta.
Prince,S dan Wilson,L. 2006. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses
penyakit,edisi 6, volume 1. Jakarta. EGC.
Sujono,dkk.2008. asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan endokrin.
Graha ilmu, Yogyakarta.
Smeltzer, c dan Bare,G. 2002. Buku ajar keperawatan medical bedah.Jakarta.:
EGC.