Você está na página 1de 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI1,2,5
Secara kinis pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan paru yang disebabkan
oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit). Pneumonia yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis tidak termasuk, sedangkan peradangan paru yang disebabkan oleh
nonmikroorganisme (bahan kimia, radiasi, aspirasi bahan toksik, obat-obatan dan lain-lain)
disebut pneumonitis.
2.2 EPIDEMIOLOGI1,2
Pneumonia merupakan suatu penyakit yang terjadi pada semua tempat di
dunia.Merupakan salah satu kasus terbesar penyebab kematian pada semua kelompok umur.Pada
anak-anak,mayoritas penyebab kematian yang terjadi pada saat kelahiran.Dengan lebih dari 2
juta kematian dalam setahun meliputi seluruh dunia.Organisasi kesehatan dunia(WHO)
memperkirakan 1 dari 3 kelahiran bayi meninggal akibat pneumonia.Kematian akibat pneumonia
umumnya berkurang pada umur paling hingga masa dewasa.Orang lanjut usia,kadang-kadangada
resiko khusus terhadap pneumonia dan dihubungkan dengan kematian. Lagi pula kasus
pneumonia terjadi selama musim dingin daripada waktu lain sepanjang tahun.Pneumonia
biasanya sering terjadi pada laki-laki daripada wanita, dan seringkali pada orang kulit hitam
daripada kaukasian.Individu dengan penyakit utama seperti penyakit alzheimer’s,fibrosis
kistik,emphysema,perokok tembakau,alkoholisme atau masalah dengan sistem imun menambah
resiko terjadinya pneumonia. Individu-individu ini juga mungkin dapat terjadi pneumonia yang
berulang.Orang yang masuk rumah sakit dengan sedikit alasan juga resiko tinggi terhadap
pneumonia.
Menurut data WHO/UNICEF tahun 2006, Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia
untuk kasus pneumonia pada balita dengan jumlah penderita mencapai 6 juta jiwa. Pneumonia
yang disebabkan bakteri pneumokokus menyebabkan lebih dari 2 juta anak balita
meninggal.Pneumonia menjadi penyebab 1 dari 5 kematian pada anak balita.Streptococcus
pneumoniae merupakan salah satu bakteri yang sering menyerang bayi dan anak-anak di bawah
usia 2 tahun.Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada anak usia di bawah lima
tahun (balita).

3
2.3 ETIOLOGI1,2
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, yaitu bakteri, virus,
jamur dan protozoa.Dari kepustakaan pneumonia komuniti yang diderita oleh masyarakat luar
negeri banyak disebabkan oleh bakteri gram positif, sedangkan pneumonia di rumah sakit
banyak disebabkan bakteri gram negatif sedangkan pneumonia aspirasi banyak disebabkan oleh
bakteri anaerob. Akhir-akhir ini laporan dari beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa
bakteri yang ditemukan dari pemeriksaan dahak penderita pneumonia komuniti adalah bakteri
gram negatif.
2.4 KLASIFIKASI2,3,5
1.Berdasarkan klinis dan epidemiologis pneumonia dibagi menjadi :
a. Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia)
b. Pneumonia nosokomial (hospital-acqiured pneumonia / nosocomial pneumonia)
c. Pneumonia aspirasi
d. Pneumonia pada penderita Immunocompromised
2. Berdasarkan bakteri penyebab pneumonia dibagi menjadi :
a. Pneumonia bakterial / tipikal. Dapat terjadi pada semua usia. Beberapa bakteri
mempunyai tendensi menyerang sesorang yang peka, misalnya Klebsiella pada
penderita alkoholik, Staphyllococcus pada penderita pasca infeksi influenza.

4
b. Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia

c. Pneumonia virus
d. Pneumonia jamur sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi terutama pada
penderita dengan daya tahan lemah (immunocompromised)
3. Berdasarkan predileksi infeksinya pneumonia dibagi menjadi :
a. Pneumonia lobaris. Sering pada pneumania bakterial, jarang pada bayi dan orang
tua. Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau segmen kemungkinan sekunder
disebabkan oleh obstruksi bronkus misalnya : pada aspirasi benda asing atau proses
keganasan
b. Bronkopneumonia. Ditandai dengan bercak-bercak infiltrat pada lapangan
paru.Dapat disebabkan oleh bakteria maupun virus.Sering pada bayi dan orang tua.
Jarang dihubungkan dengan obstruksi bronkus
c. Pneumonia interstisial
2.5 MANIFESTASI KLINIS1,2,5
 Orang dengan pneumonia sering kali disertai batuk berdahak, sputum kehijauan atau
kuning
 Demam tinggi yang disertai dengan menggigil. Disertai nafas yang pendek
 Nyeri dada seperti pada pleuritis,nyeri tajam atau seperti ditusuk.
 Orang dengan pneumonia, batuk dapat disertai denganadanya darah,sakit kepala,atau
mengeluarkan banyak keringat dan kulit lembab.
 Gejala lain berupa hilang nafsu makan,kelelahan,kulit menjadi pucat,mual,muntah,nyeri
sendi atau otot.
 Tidak jarang bentuk penyebab pneumonia mempunyai variasi gejala yang lain. Misalnya
pneumonia yang disebabkan oleh Legionella dapat menyebabkan nyeri perut dan diare.

5
 Pneumonia karena tuberkulosis atau Pneumocystis hanya menyebabkanpenurunan berat
badan dan berkeringat pada malam hari.
 Pada orang tua manifestasi dari pneumonia mungkin tidak khas. Bayi dengan pneumonia
lebih banyak gejala,tetapi padabanyak kasus, mereka hanya tidur atau kehilangan nafsu
makan

2.6PENEGAKAN DIAGNOSIS5,6
1. Gambaran klinis
a. Anamnesis
Gambaran klinik biasanya ditandai dengan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat
dapat melebihi 40 derajat celcius, batuk dengan dahak mukoid atau purulen kadang-kadang
disertai darah, sesak napas dan nyeri dada.
b. Pemeriksaan fisik
Temuan pemeriksaan fisis dada tergantung dari luas lesi di paru. Pada inspeksi dapat
terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas, pada palpasi fremitus dapat mengeras, pada
perkusi redup, pada auskultasi terdengar suara napas bronkovesikuler sampai bronkial yang
mungkin disertai ronki basah halus, yang kemudian menjadi ronki basah kasar pada stadium
resolusi.

6
2. Pemeriksaan penunjang
a. Gambaran radiologis
Foto toraks (PA/lateral) merupakan pemeriksaan penunjang utama untuk menegakkan
diagnosis. Gambaran radiologis dapat berupa infiltrat sampai konsolidasi dengan " air
broncogram", penyebab bronkogenik dan interstisial serta gambaran kaviti. Foto toraks saja tidak
dapat secara khas menentukan penyebab pneumonia, hanya merupakan petunjuk ke arah
diagnosis etiologi, misalnya gambaran pneumonia lobaris tersering disebabkan oleh
Steptococcus pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa sering memperlihatkan infiltrat bilateral
atau gambaran bronkopneumonia sedangkan Klebsiela pneumonia sering menunjukkan
konsolidasi yang terjadi pada lobus atas kanan meskipun dapat mengenai beberapa lobus.

b. Pemeriksaan labolatorium
1. Pemeriksaan darah
Pada pemeriksaan darah terdapat peningkatan jumlah leukosit, biasanya lebih dari
10.000/ul kadang-kadang mencapai 30.000/ul, dan pada hitungan jenis leukosit terdapat
pergeseran ke kiri serta terjadi peningkatan LED.
Untuk menentukan diagnosis etiologi diperlukan pemeriksaan dahak, kultur darah dan
serologi. Kultur darah dapat positif pada 20- 25% penderita yang tidak diobati. Analisis gas

7
darah menunjukkan hipoksemia dan hikarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis
respiratorik.
2. Pemeriksaan dahak
a. Cara pengambilan dahak :
Cara pengambilan bahan untuk pemeriksaan bakteriologik dapat secara noninvasif yaitu
dibatukkan (dahak), atau dengan cara invasif yaitu aspirasi transtorakal, aspirasi transtrakeal,
bilasan / sikatan bronkus. Diagnosis pasti bila dilakukan dengan cara yang steril, bahan
didapatkan dari darah, cairan pleura, aspirasi transtrakeal atau aspirasi transtorakal, kecuali
ditemukan bakteri yang bukan koloni di saluran napas atas seperti M. tuberkulosis, Legionella, P.
carinii. Diagnosis tidak pasti (kemungkinan) : dahak, bahan yang didapatkan melalui
bronkoskopi (sikatan, bilasan bronkus dll).
Cara invasif walaupun dapat menemukan penyebab pasti tidak dianjurkan, hanya
digunakan pada kasus tertentu.Untuk penderita rawat inap dianjurkan, hanya digunakan pada
kasus tertentu. Untuk penderita rawat inap dianjurkan pemeriksaan rutin kultur dahak pada kasus
berat, sebaiknya dilakukan sebelum pemberian antibiotik. Pemeriksaan gram harus dilakukan
sebelum pemeriksaan kultur.
b. Cara pengambilan & pengiriman dahak yang benar
Pengambilan dahak dilakukan pagi hari. Pasien mula-mula kumur-kumur dengan
aquades biasa, setelah itu pasien diminta inspirasi dalam kemudian membatukkan
dahaknya.Dahak ditampung dalam botol steril dan ditutup rapat.Dahak segera dikirim ke
labolatorium (tidak boleh lebih dari 4 jam).Jika terjadi kesulitan mengeluarkan dahak, dapat
dibantu nebulisasi dengan NaCl 3%.Kriteria dahak yang memenuhi syarat untuk pemeriksaan
apusan langsung dan biarkan yaitu bila ditemukan sel PMN >25/lpk dan sel epitel < 10/lpk.

8
2.7 PATOFISIOLOGI1,2,3
Dalam keadaan sehat, tidak terjadi pertumbuhan mikroornagisme di paru.Keadaan ini
disebabkan oleh mekanisme pertahanan paru. Apabila terjadi ketidakseimbangan antara daya
tahan tubuh, mikroorganisme dapat berkembang biak dan menimbulkan penyakit. Resiko infeksi
di paru sangat tergantung pada kemampuan mikroorganisme untuk sampai dan merusak
permukaan epitel saluran napas. Ada beberapa cara mikroorganisme mencapai permukaan :
1. Inokulasi langsung
2. Penyebaran melalui pembuluh darah
3. Inhalasi bahan aerosol
4. Kolonisasi dipermukaan mukosa,
Dari keempat cara tersebut diatas yang terbanyak adalah secara Kolonisasi. Secara
inhalasiterjadi pada infeksi virus, mikroorganisme atipikal, mikrobakteria atau
jamur.Kebanyakan bakteri dengan ukuran 0,5 -2,0 m melalui udara dapat mencapai bronkus
terminal atau alveoli dan selanjutnya terjadiproses infeksi. Bila terjadi kolonisasi pada saluran
napas atas (hidung, orofaring) kemudian terjadiaspirasi ke saluran napas bawah dan terjadi
inokulasi mikroorganisme, hal ini merupakan permulaaninfeksi dari sebagian besar infeksi
paru.Aspirasi dari sebagian kecil sekret orofaring terjadi pada orangnormal waktu tidur (50 %)
juga pada keadaan penurunan kesadaran, peminum alkohol dan pemakai obat(drug

9
abuse).Sekresi orofaring mengandung konsentrasi bakteri yang tinggi 10 8-10/ml, sehingga
aspirasi darisebagian kecil sekret (0,001 - 1,1 ml) dapat memberikan titer inokulum bakteri yang
tinggi dan terjadipneumonia.
Pada pneumonia mikroorganisme biasanya masuk secara inhalasi atau aspirasi.
Umumnyamikroorganisme yang terdapat disaluran napas bagian atas sama dengan di saluran
napas bagianbawah, akan tetapi pada beberapa penelitian tidak di temukan jenis mikroorganisme
yang sama.
2.8 PENATALAKSANAAN1,2,3
Pengobatan terdiri atas antibiotik dan pengobatan suportif. Pemberian antibiotik pada
penderita pneumonia sebaiknya berdasarkan data mikroorganisme dan hasil uji kepekaannya,
akan tetapi karena beberapa alasan yaitu :
1. Penyakit yang berat dapat mengancam jiwa
2. Bakteri patogen yang berhasil diisolasi belum tentu sebagai penyebab pneumonia.
3. Hasil pembiakan bakteri memerlukan waktu. maka pada penderita pneumonia dapat diberikan
terapi secara empiris. Secara umum pemilihan antibiotik berdasarkan bakteri penyebab
pneumonia dapat dilihat sebagai berikut :
Penisilin sensitif Streptococcus pneumonia (PSSP)
 Golongan Penisilin
 TMP-SMZ
 Makrolid
Penisilin resisten Streptococcus pneumoniae (PRSP)
 Betalaktam oral dosis tinggi (untuk rawat jalan)
 Sefotaksim, Seftriakson dosis tinggi
 Marolid baru dosis tinggi
 Fluorokuinolon respirasi
Pseudomonas aeruginosa
 Aminoglikosid
 Seftazidim, Sefoperason, Sefepim
 Tikarsilin, Piperasilin
 Karbapenem : Meropenem, Imipenem
 Siprofloksasin, Levofloksasin

10
Methicillin resistent Staphylococcus aureus (MRSA)
 Vankomisin
 Teikoplanin
 Linezolid
Hemophilus influenzae
 TMP-SMZ
 Azitromisin
 Sefalosporin gen ii atau iii
 Fluorokuinolon respirasi

Legionella
 Makrolid
 Fluorokuinolon
 Rifampisin
Mycoplasma pneumoniae
 Doksisiklin
 Makrolid
 Fluorokuinolon
Chlamydia pneumoniae
 Doksisiklin
 Makrolid
 Fluorokuinolon.
2.9 DIAGNOSIS BANDING1,2,3
1. TBC paru
Dasar diagnosa : Demam, batuk dan sesak nafas
Yang tidak mendukung : Demam tinggi, batuk < 1bulan, tidak ada batukberdarah, tidak ada
keringat malam, tidak ada riwayat kontak dengan penderitaTB, tidak ada penurunan berat badan
drastis, tidak ada bercak infiltrat pada fotothorax.

11
2. Efusi pleura e.c TB
Dasar diagnosa : sesak nafas, pasien lebih sering tidur miring ke kanan, terdapatgambaran efusi
pleura minimal pada foto thorax. Yang tidak mendukung : tidak ada gejala TBC pada pasien
2.10 KOMPLIKASI1,2,3
Komplikasi yang dapat terjadi :
• Efusi pleura
• Empiema
• Abses Paru
• Pneumotoraks
• Gagal napas
• Sepsis
2.11 PENULARAN
- Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar seperti kontak langsung
dengan penderita melalui percikan ludah sewaktu bicara, bersin dan batuk dapat
memindahkan bakteri ke orang lain
- Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain
2.12 PENCEGAHAN
a. Mempratekkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari
b. Mendapatkan vaksin pneumonokokus. Vaksin ini 90% melawan bakteri dan melindungi
dari infeksi selama lima sampai sepuluh tahun
c. Makan dengan asupan yang tepat
d. Olahraga secara teratur
e. Cukup tidur
f. Tidak merokok
2.13 PROGNOSIS1,2,3
• Ad vitam : ad bonam
• Ad sanationam : ad bonam
• Ad fungsionam : dubia ad bonam

12
BAB III

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. A….. No. RM :192158

Usia : 40 tahun Tanggal masuk : 14/11/2017

Jenis kelamin : Perempuan Tanggal pemeriksaan : 20/11/2017

Alamat : Bunga Raya Berat badan : 38 kg

Status : kawin Tinggi badan : 150 cm

II. ANAMNESIS

Autoanamnesis dan Aloanamnesis: 20 November 2017 Pukul 10:30 WIB

Keluhan Utama : sesak nafas sejak 1 minggu yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke poli paru RSUD tengku Rafi’an dengan


keluhan sesak nafas sejak 4 bulan yag lalu. Sesak lebih
dirasakan pada malam hari. Batuk berdahak(+), batuk
berdarah (+)1x, nyeri dada (+) , keringat malam (+),
penurunan BB (+), Riw. Pengobatan (+)

Riwayat Penyakit Dahulu : pasien belum pernah mengalami hal yang sama

 Riwayat TB paru (-)


 Riwayat asma sejak kecil (-)
 Riwayat diabetes melitus (-)
 Riwayat Hipertensi (-)

Riwayat Keluarga : Tidak ada keluarga menderita sakit yang sama

13
Riwayat psikososial :

 Pasien bekerja sebagai petani padi


 Pasien merokok (+) sudah berhenti sejak sakit.
Merokok dalam 1 hari habis satu bungkus

III. PEMERIKSAAN FISIK

a. Pemeriksan umum

Keadaan umum : tampak sakit sedang

Kesadaran : compos mentis

Tanda Vital :

Tekanan darah : 110/70 mmHg

Nadi : 80 kali/menit

Frekuensi napas : 20 kali/menit

Suhu aksila : 37,7o C

Berat badan : 38 kg

Tinggi badan : 150 cm

b. Pemeriksaan Fisik

Kepala

Rambut : hitam lurus.

Kulit : sawo matang, ikterik (-), pucat (-), lesi (-), ptechiae(-).

Kepala : normocephal

Mata : konjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor

Hidung : pernafasan cuping hidung (-)

Mulut : bibir sianosis (-), perdarahan gusi (-), mukosa bibir tidak kering.

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan kelenjar tiroid,
tidak ada benjolan

14
Thorax

Anterior Posterior
Inspeksi Pergerakan dinding dada Pergerakan dinding dada simetris, jejas
simetris, jejas trauma (-), otot trauma (-), otot bantu pernafasan (-)
bantu pernafasan (-)
Palpasi Vocal fremitus simetris kanan Vocal fremitus melemah pada dada kanan,
dan kiri, nyeri tekan (-) nyeri tekan (-)
Perkusi - Sonor di lapang paru kiri Sonor di lapang paru kanan dan kiri.
- Redup di lapang paru
kanan mulai SIC III-VI
Auskultasi - Suara napas: ekspirasi > Suara nafas tambahan: rhonki (+/+),
inspirasi wheezing (-/-).
- Terdengar suara napas
tambahan di lapang paru.
Rhonki (+), wheezing (-
/-)
- Suara napas di lapang
paru kanan terdengar
- Terdengar BJ I & BJ II
pada lapang paru kanan

Jantung

Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat

Palpasi : ictus cordis teraba pada ICS V linea midclavula dextra,

Perkusi : Batas kanan : ICS V linea axillaris anterior dextra

Batas atas : ICS III linea sternal dekstra.

Auskultasi : BJ I-II murni regular, gallop (-), murmur (-)

15
Abdomen

Inspeksi : datar, caput medusa (-) , striae (-)

Auskultasi : bising usus (+) normal.

Perkusi : shifting dullness (-),timpani diseluruh kuadran abdomen,


nyeri ketok CVA(-).

Palpasi : supel, tidak teraba massa,nyeri tekan (-), undulasi (-) Hati
teraba 1 jari dibawah arcus costa. Lien tidak teraba Ginjal ballotemen
tidak teraba

Genital : tidak dilakukan pemeriksaan

Ekstremitas :

Superior Inferior

Sianosis -/- -/-

Edema +/+ -/-

Akral hangat +/+ +/+

Clubbing finger +/+ +/+

Palmar eritem -/- -

16
c. Pemeriksaan penunjang

Tanggal 14 november 2017

• Laboratorium darah rutin

Ikomponen Pemeriksaan Hasillai

Hb 10,5 g/dl

Leukosit 10.3000

Heatokrit 35 %

GDS 150

Albumin 2,2

Ureum 16

Kreatinin 0,5

Bilirubin Total 0,7

Bilirubin Direk 0,4

Bilirubin Indirek 0,3

SGOT/SGPT 28/28

Alkali Fosfatase 196

Na/K/Cl 130/2,9/102

17
• Rontgen thorax

Kesan :

corakan bronkovaskular meningkat tampak infiltrat (bayangan berawan) di


seluruh lapang paru kiri dan kanan. Tampak rongga lusen (kavitas) berdinding
tebal di medial kiri.

18
 Pemeriksaan CT-Scan Thoraks
 Tampak pada lesi solid lobulated ukuran 5,8 x 6,6 x 3,3 cm di mediastinum
posterior yang meluas sampai ke main bronkus kanan.
 Pada pemberian kontras tampak kontras enhancement. Tampak infiltrat di
kedua lapang paru.

19
20
Pemeriksaan sputum :

Pemeriksaan sputus :negatif, tidak ditemukan mycobacterium tuberculosis

Pemeriksaan TCM: NEGATIF

21
IV. RESUME

Pasien Perempuan Rawat Inap RSUD Tengku Rafian Siak Indrapura dengan
keluhan sesak dan batuk sejak satu minggu ini semakin memberat.Keluhan sudah
dirasakan sejak 4 bulan yang lalu.Sesak lebih dirasakan pada malam hari. Batuk
berdahak(+), batuk berdarah (+)1x, nyeri dada (+) , keringat malam (+), penurunan BB
(+), Riw. Pengobatan (+).Selama di rawat dilakukan prosedur CT-SCAN (+)
ditemukannya tumor mediastinum posterior, test BTA (-), TCM (-)

V. DIAGNOSIS KERJA

Tumor Mediastinum Posterior meluas ke bronkus kanan dengan pneumonia

VI. DIAGNOSIS BANDING

Tumor paru

VII. PENATALAKSANAAN

 RL IVFD 16 tpm
 Aminofluid IVFD 16 tpm
 Combiven nebu 3x1
 Ambroxol 3x1
 KSR 1x1
 Acetyl nebu 2x1
 Ceftriaxone inj 2x1
 Pasien Dirujuk ke Bedah Thoraks Rumah Sakit Arifin Ahmad Pekanbaru

VIII. PROGNOSIS

Dubia ad malam

22
IX. FOLLOW UP

Tangle S O A P

20-11-2017 Pasien mengeluhkan Kesadaran Ketidakmampuan Rujuk ke RSUD


sesak dan juga batuk. compos mentis. pola napas belum Arifin Ahmad
Sesak lebih terasa Td : 110/70. hr: teratasi Pekanbaru.
ketika batuk 80x/mnt. Rr:
26x/mnt. T: 37,7.

21-11-2017 Sesak sudah Kesadaran Ketidakmampuan Rujuk ke RSUD


berkurang namun composmentis pola napas belum Arifin Ahmad
masih terasa sesak teratasi Pekanbaru.
ketika batuk. Pasien TD: 110/80
mengeluhkan nyeri Hr : 84x
menelan.
Rr: 24x

T : 36,6

23
BAB IV
PEMBAHASAN
Perempuan umur 40 tahun dengan diagnosis tumor mediastinum posterior yang meluas
ke bronkus dekstra dengan pneumonia.Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat didalam
mediastinum.Mediastinum adalah organ yang berada antara paru kanan dan paru kiri.Pasien
mengelukan sesak, batuk dan sulit menelan.Keluhan ini dapat terjadi bila adanya invasi atau
penekanan tumor ke organ sekitarnya. Penekanan pada bronkus akan menimbulkan keluhan
sesak dan batuk, sedangkan keluhan sulit menelan akibat penekanan pada bronkus.
Pemeriksaan yang dilakukan selama pasien di rawat di RSUD Tengku Rafian adalah
pemeriksaan sputum dan pemeriksaan TCM.Pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkarkan
penyakit seperti TB paru, maupun penyakit lainnya. Penyingkiran diagnosis ini disebabkan oleh
tumor mediastinum menimbulkan gejala sama dengan penyakit paru lainnya, seperti batuk, sesak
dan berkeringat di malam hari.
Pemeriksaan radiologi yang dilakukan adalah foto rontgen namun ditemukan gambaran
adanya infiltrat dan tidak ditemukannya adanya tumor mediastinum. Tidak tampaknya tumor
mediastinum pada foto rontgen disebabkan superposisi dengan organ-organ lain. Sehingga perlu
dilakukan pemeriksaan CT-scan untuk menentukan tumor mediastinum. Dari hasil Ct-scan
didapatkanTampak pada lesi solid lobulated ukuran 5,8 x 6,6 x 3,3 cm di mediastinum posterior
yang meluas sampai ke main bronkus kanan. Ct-Scan dilakukan untuk mengetahui lokasi tumor
dan jenis tumor, selain itu dapat juga digunakan untuk menentukan stage pada kasus timoma
dengan cara mencari apakah telah terjadi invasi atau belum, mempermudah pelaksanaan
pengambilan bahan untuk pemeriksaan sitologi. Untuk menentukan luas radiasi beberapa jenis
tumor mediastinum sebaiknya dilakukan CT-Scan toraks dan CT-Scan abdomen.
Pengobatan yang diberikan pada pasien adalah RL IVFD 16 tpm, Aminofluid IVFD 16
tpm, Combiven nebu 3x1, Ambroxol 3x1, KSR 1x1, Acetyl nebu 2x1, Ceftriaxone inj 2x1.
Pengobatan ini dilakukan untuk mengurangi gejala yang ditimbulkan oleh tumor paru.Untuk
pengobatan tumor paru perlu mengetahui jenis tumor mediastinum, karena penatalaksaan
masing-masing tumor berbeda.Untuk menentukan jenis tumor yang lebih lanjut perlu dilakukan
pemeriksaan seperti, pemeriksaan histologi, sitology, bronkokopi dan lainnya.Pasien dilakukan
rujukan ke Rumah Sakit Arifin Ahmad untuk dilakukan pemeriksaan diagnostic yang lebih
lanjut.

24
BAB V

KESIMPULAN

Pasien dengan tumor mediastunum posterior yang meluas ke bronkus kanan


berdasarkan CT-SCAN disertai dengan pneumonia berdasarkan Ro thoraks terdapat infiltrat
di semua lapang paru.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Sudowo A.W. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Pusat Penerbitan FKUI.
Jakarta.2006
2. Mukty A, Alsagaff H, editor. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga
UniversityPress, 2005. 144-6.
3. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: PDPI. 2011.
4. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Proses Penyakit. Edisi ke-6.
Jakarta: EGC. 2006. 799-800
5. Arif, M, dkk. Kapita selekta kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius. 2000
6. Gandasoebrata R. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Dian Rakyat. 2008; 147-53.

26