Você está na página 1de 9

KOMPREHENSIF PEMERIKSAN SISTEM ENDOKRIN DAN METABOLISME

Oleh dr. Merry Indah Sari


dr Rizqa Atina

Tema
Keterampilan pemeriksan sistem endokrin dan metabolisme

Tujuan Pembelajaran
1. Tujuan Instruksional umum
Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan kelenjar tyroid, pengukuran lingkar pinggang.
2. Tujuan instruksional khusus
 mahasiswa dapat mengetahui letak kelenjar tiroid dengan benar
 mahasiswa dapat melakukan persiapan pada orang yang diperiksa dengan benar
 mahasiswa dapat melakukan cara pemeriksaan kelenjar tiroid dengan benar
 mahasiswa dapat menentukan apakah orang yang diperiksa tersebut mengalami pembesaran kelenjar tiroid atau tidak
 mahasiswa dapat mengetahui cara-cara penggolongan tingkat pembesaran kelenjar tiroid dengan benar
 Mahasiswa dapat mengetahui tempat-tempat pengukuran lingkar pinggang dengan benar
 Mahasiswa dapat melakukan cara pengukuran lingkar pinggang dengan benar
 Mahasiswa dapat mengetahui nilai standar lingkar pinggang
 Mahasiswa dapat menentukan derajat obesitas dengan menggunakan rumus densitas tubuh
.
Alat dan Bahan

 Pasien Simulasi
 Meja dan kursi periksa

 pengukuran lingkar pinggang.


 Meteran
SKENARIO
Seorang wanita, berumur 27 tahun, datang ke rumah sakit dengan keluhan timbul benjolan pada leher depan. Dari anamnesis didapatkan
keterangan bahwa benjolan tersebut membesar lambat, sekarang sebesar setengah bola tenis dan tidak nyeri. Pasien tidak merasa demam
dan tidak ada gangguan dalam menelan. Keluhan disertai dengan rasa berdebar dan sering berkeringat. Kemudian anda akan melakukan
pemeriksaan fisik yang sesuai untuk menunjang diagnosis anda

DASAR TEORI
Penampilan kepala dan leher, kontur dan teksturnya seringkali memberikan kesan pertama tentang sifat penyakit. Disamping itu beberapa
penampilan bersifat patognomonik untuk suatu penyakit
 Kelenjar tiroid seseorang terletak di leher bawah kearah distal ( leher depan bagian bawah). Untuk mengetahui mana yang kelenjar
dan mana yang bukan bisa dilihat pada gerakan menelan. Pada gerakan “menelan” kelenjar akan ikut terangkat ke atas.
 Berbentuk sepe rti kupu-kupu,
 Terdiri dari dua lobus (kanan dan kiri) yang dihubungkan oleh isthmus.
 Isthmus menutupi cincin trachea 2 dan 3,
 kapsul fibrosus menggantungkan kelenjar ini pada fascia pre tracheal sehingga pada saat “menelan” kelenjar tiroid terangkat ke
arah cranial

Tanda-tanda pembesaran kelenjar tiroid


Normal : kedua lobus kelenjar lebih kecil dari ruas ibu jari klien.

Tingkat pembesaran kelenjar:

TINGKAT TANDA-TANDA
“Normal” tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
“Tingkat IA” jika pembesaran kelenjar tiroid tidak tampak walaupun leher pada posisi tengadah
maksimum dan pembesaran kelenjar tiroid teraba
ketika dipalpasi.
“Tingkat IB” pembesaran kelenjar tiroid terlihat jika leher pada posisi tengadah
maksimum dan pembesaran kelenjar teraba ketika dipalpasi.
“Tingkat II” pembesaran kelenjar tiroid terlihat pada posisi kepala normal dari
jarak 1 meter.
“Tingkat III” pembesaran kelenjar tiroid tampak nyata dari jarak jauh (5-6 meter).

Struktur dan Fisiologi Leher

Gambar Otot-otot pada kelapa dan leher


1. Leher
Leher dibagi oleh muskulus sternokleidomastoideus menjadi trigonum colli anterior atau medial
dan posterior atau lateral.

Trigonum colli anterior memiliki batas sebagai berikut :


 Inferior : Clavikula
 Anterior : Garis tengah tubuh
Isi dari bangunan ini adalah : kelenjar tyroid, laring, faring, lymfe, kelenjar submandibula dan lemak.

Kelenjar tyroid membungkus trakea bagian anterior dan lateral serta laring. Kelenjar ini apabila dilihat dari depan nampak seperti
kupu-kupu dan terdiri atas 2 lobus yang dihubungkan oleh ismus. Ismus tyroid melintang trakea tepat di bawah tulang rawan
krikoid. Lobus lateral meluas sepanjang salah satu sisi laring sampai setinggi pertengahan tulang rawan tyroid dari laring.
Trigonum colli posterior memiliki batas sebagai berikut
 posterior : muskulus Trapezius
 Inferior : tulang klavikula.

Gambar Trigonum Colli

Kelenjar Limfe leher


Dimulai dari belakang, terdapat kelenjar limfe oksipital, aurikularis posterior, servikalis posterior, servikalis superfisialis dan
profunda, tonsilaris, submaksilaris, submentalis (ujung rahang dekat garis tengah), aurikularis anterior, dan supraclavikularis

Gambar Kelenjar Limfe Leher

Apabila terdapat benjolan atau pembengkakan di leher, jangan lupa menanyakan hal-hal di bawah ini :
a. Nyeri atau tidak
b. Kapan mulai muncul benjolan tersebut. Benjolan yang baru muncul beberapa hari biasanya karena suatu radang. Benjolan
yang sudah berbulan-bulan biasanya karena suatu neoplasia. Sedangkan masa yang menetap bertahun-tahun tanpa
perubahan ukuran biasanya karena suatu lesi jinak atau kelainan kongenital.
c. Umur pasien. Benjolan di leher pada seorang pasien di bawah usia 20 tahun kemungkinan suatu pembesaran
kelenjar getah bening tonsilar atau massa kongenital. Diantara umur 20- 40 tahun lebih umum penyakit tyroid,
meskipun harus dipikirkan juga suatu limfoma. Diatas umur 40 tahun harus dicurigai suatu keganasan sampai
terbukti tidak.
d. Apakah muncul keluhan suara serak atau tidak. Suara serak dengan adanya benjolan tyroid memberi kesan
adanya paralisis pita suara oleh penekanan nervus laringeus rekuren oleh suatu masa.
e. Tentukan lokasinya. Masa yang timbul di garis tengah cenderung jinak atau lesi kongenital seperti kista
tiroglosus atau kista dermoid. Massa di lateral leher seringkali suatu neoplasma, sedangkan massa di daerah
lateral atas leher mungkin lesi metastatik dari tumor payudara dan lambung.
f. Ukuran, kondisi permukaan, konsistensi, ada atau tidak nyeri tekan, batas, mobilisasi, dan fluktuasi.
Pemeriksaan fisik pada kepala dan leher tidak memerlukan peralatan khusus.
g. Pemeriksaan kepala dan leher dilakukan dengan pasien duduk menghadap pada pemeriksa. Pemeriksaan
terdiri atas Inspeksi dan palpasi.
B. PROSEDUR
1. Interpersonal
 Membina sambung rasa senyum, salam dan sapa
 Jelaskan pentingnya pemeriksaan yang akan dilakukan.
 Meminta pasien melepas semua atribut yang melekat dikepala.
 Cuci tangan WHO

2. Pemeriksaan Leher
 Inspeksi Leher
1. Posisi pasien duduk menghadap pemeriksa.
2. Inspeksi kesimetrisan otot-otot leher, keselarasan trakea, dan benjolan pada dasar leher serta vena jugular
dan arteri karotid.
3. Mintalah pasien untuk: menundukkan kepala sehingga dagu menempel ke dada, dan menegadahkan kepala
ke belakang, perhatikan dengan teliti area leher dimana nodus tersebar. Bandingkan kedua sisi tersebut
4. Menoleh ke kiri-kanan dan kesamping sehingga telinga menyentuh bahu. Perhatikan fungsi otot-otot
sternocleidomastoideus dan trapezius.
5. Minta pasien menengadahkan kepala, perhatikan adanya pembesaran pada kelenjar tiroid. Selanjutnya
minta pasien menelan ludah, perhatikan gerakan pada leher depan daerah kelenjar tiroid, ada tidaknya
massa dan kesimetrisan.
 Palpasi Leher
1. Pasien posisi duduk santai dan pemeriksa dibelakangnya
2. Pasien menundukan kepala sedikit atau mengarah kesisi pemeriksa untuk merelaksasikan jaringan dan otot-
otot.
3. Palpasi lembut dengan 3 jari tangan masing-masing nodus limfe dengan gerakan memutar. Palpasi dimulai
dari daerah oksipital, tangan digerakkan ke daerah aurikularis posterior, ke daerah trigonum colli posterior
untuk meraba nnll. servikalis posterior, sepanjang muskulus sternokleidomastoideus untuk meraba nnll.
servikalis superfisialis, melintasi muskulus sternokleidomastoideus untuk meraba nnll. servikalis profunda,
masuk ke dalam trigonum colli anterior; ke atas tepian rahang untuk meraba nnll.tonsilaris, sepanjang rahang
untuk meraba nnll.submaksilaris, dan raba nodul submental. Setiap adanya pembesaran kelenjar harus
diperhatikan mobilitasnya, konsistensinnya, dan nyeri tekan.
4. Bandingan nodus kedua sisi leher, Periksa ukuran, bentuk, garis luar, gerakan, konsistensi, mobilisasi, dan
rasa nyeri yang timbul.
5. Jangan gunakan tekanan berlebihan saat mempalpasi karena nodus kecil dapat terlewati.
6. Lanjutkan palpasi
7. Untuk memeriksa kelenjar tiroid terdapat dua cara palpasi kelenjar tyroid.
a. Cara pemeriksaan pertama dilakukan dengan pasien dan pemeriksa duduk berhadapan. Lakukan
palpasi ringan dengan 2 jari dari tangan kanan kiri dibawah kartilago krikoid. Langkah – langkah
palpasi tyroid :
 Minta pasien untuk menekuk leher ke depan agar otot Sternocleidomastoideus rileks.
 Letakkan jari kedua tanganmu pada leher pasien sehingga kamu dapat menempatkan jarimu
dibawah kartilago krikoid.
 Minta pasien untuk menelan, kemudian rasakan istmus tiroyd menonjol dibawah jarimu (tidak
selalu dapat dirasakan)
 Geser trakea ke arah kanan pemeriksa dengan jari kiri, kemudian jari kanan meraba ke samping
untuk menemukan lobus kanan tyroid pada celah antara trakea yang digeser dan otot
Sternocleidomastoid yang rileks.
 Dengan cara yang sama lakukan pada lobus yang kiri. Lobus kelenjar Tiroid kadang-kadang
teraba lebih keras dibandingkan istmus tyroid, sehingga harus sering berlatih. Permukaan depan
dari sisi lateral lobus, teraba sebesar phalang distal ibu jari dan terasa kenyal.

Pemeriksaan cara 1 Pemeriksaan cara 2


Gambar Pemeriksaan kelenjar tiroid
b. Cara Pemeriksaan yang kedua :
 Pemeriksa harus berdiri di belakang pasien.
 Letakkan kedua tangan pada leher pasien, dimana posisi leher harus sedikit ekstensi.
 Pemeriksa memakai tangan kiri mendorong trakea ke kanan. Pasien diminta menelan sementara
tangan kanan pemeriksa meraba kelenjar tyroid.
 Pasien diminta sekali lagi untuk menelan saat trakea terdorong ke kiri, dan pemeriksa meraba
kelenjar tyroid.
 Nyatakan hasil pemeriksaan meliputi ukuran, konsistensi kelenjar dan ada tidaknya nyeri tekan.
8. Pemeriksaan trakhea
 Posisi pasien duduk tegak menghadap lurus kedepan dengan leher terbuka
 Posisi pemeriksa di depan pasien agak kesamping.
 Leher pasien sedikit fleksi sehingga otot sternokleidomastoideus relaksasi.
 Posisi dagu pasien harus digaris tengah.
 Perhatikan bagian bawah trakea sebelum masuk dalam rongga dada, bagian ini paling mudah
bergerak.
 Pemeriksa dengan menggunakan ujung jari telunjuk yang ditekankan lembut kedalam lekukan
suprasternal tepat di medial dari sendi sternoklavikularis bergantian dikedua sisi trakea
 Keadaan normal bila ujung jari hanya menyentuh jaringan lunak di sebelah menyebelah trakhea.
Bila ujung jari menyentuh tulang rawan trakhea tidak digaris median maka deviasi trakea kearah
tersebut, sedangkan sisi lain hanya menyentuh jaringan lunak.
 Auskultasi leher dilakukan apabila didapatkan kelenjar tyroid membesar. Letakkan stetoskop
pada samping lobus untuk mendengar bunyi bruit (suaranya mirip mur – mur jantung, namun
bukan berasal dari jantung) bila dapat didengar bising sistolik maka mengarahkan adanya
penyakit graves.
 Informasikan hasil pemeriksaan pada pasien dan catat pada status

Gambar Pemeriksaan trakhea


PENGUKURAN LINGKARAN PINGGANG

Nilai Standar Normal ukuran lingkar pinggang


Untuk laki-laki: 90 cm sedangkan untuk perempuan : 80 cm

4. Profesionalisme Item
1. Cuci tangan WHO
2. Melakukan dengan percaya diri dan minimal error.

DAFTAR PUSTAKA
1. Harrison, 2005, Principles of Internal Medicine, edisi 16,McGraw – Hill, Part 14
2. Setiohadi, B., I. Subekti. 2006. Buku Ajar Penyakit Dalam. Pusat Penerbitan Departemen IPD FK UI.
Jakarta
3. Snell,Richard S, 2006, Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran, edisi 6, EGC. Jakarta.
4. Szilagy, Peter G. , 2002 , Bate's guide to physical examination, McGraw – Hill , Chapter 5: 155-208
5. Penilaian Status Gizi, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 2002
CEKLIST KETERAMPILAN PEMERIKSAAN KELENJAR TYROID DAN PENGUKURAN
LINGKAR PINGGANG

No Aspek Nilai Feedback


0 1 2
INTERPERSONAL
1 Membina sambung rasa Senyum, salam dan sapa
2 Jelaskan pentingnya pemeriksaan yang akan dilakukan.
3 Meminta pasien melepas semua atribut yang melekat dikepala.
4 Cuci tangan WHO
CONTENT
Pemeriksaan Leher
Inspeksi
1 Inspeksi kesimetrisan otot-otot leher, trakea, dan benjolan pada
dasar leher, vena jugular dan arteri karotis
2 Perhatikan nodus tersebar. Bandingkan kedua sisi tersebut.
3 Perhatikan fungsi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
4 Minta pasien menengadahkan kepala, perhatikan adanya
pembesaran kelenjar tiroid.
5 Minta pasien menelan ludah, perhatikan gerakan pada leher
depan daerah kelenjar tiroid, lihat ada tidaknya massa dan kesimetrisan.

Palpasi
6 Minta pasien duduk santai dan pemeriksa dibelakangnya.
7 Meminta pasien menundukkan kepala sedikit atau mengarah

kesisi pemeriksa untuk merelaksasikan jaringan dan otot-otot.


8 Periksa masing-masing nodus limfe dengan gerakan memutar.
9 Bandingkan kedua sisi leher. Periksa ukuran, bentuk, garis luar,
gerakan, konsistensi, dan rasa nyeri yang timbul.
10 Palpasi nodus servikal superfisial, nodus servikal posterior, nodus
servikal profunda, dan nodus supraklavikular.
11 Lakukan palpasi kelenjar tiroid
Berdirilah di belakang klien, lalu letakkanlah dua jari telunjuk dan dua
jari tengahnya pada masing-masing lobus kelenjar tiroid yang letaknya
beberapa sentimeter
di bawah jakun.
Rabalah (palpasi) dengan jari-jari tersebut di daerah kelenjar tiroid.
(Perabaan (palpasi) jangan dilakukan dengan tekanan terlalu keras atau
terlalu lemah. Tekanan terlalu keras akan mengakibatkan kelenjar masuk
atau pindah ke bagian belakang leher, sehingga pembesaran tidak teraba.
Perabaa terlalu lemah akan mengurangi kepekaan perabaan
12 Lakukan pemeriksaan trakhea
Auskultasi
13 Letakkan stetoskop pada samping lobus tiroid kiri dan kanan untuk
mendengar bunyi bruit.
14 Informasikan hasil pemeriksaan pada pasien dan catat
PROFESIONALISME
29 Cuci tangan WHO
30 Melakukan dengan penuh percaya diri
31 Melakukan dengan kesalahan minimal
TOTAL

CEKLIST KETERAMPILAN PENGUKURAN LINGKAR PINGGANG

NO. LANGKAH / KEGIATAN KASUS


A. PERSIAPAN ALAT 0 1 2
1. Siapkan alat-alat pengukur lingkar pinggang yaitu
meteran
2. Periksalah kondisi alat apakah siap untuk dioakai 0 1 2
B. PERSIAPAN PENDERITA
1. Sapalah klien dengan ramah dan perkenalkanlah diri
pada klien.
2. Persilahkan klien untuk duduk
3. Berikan informasi umum tentang pengkuran yang akan
dilakukan
4. Berikan informasi tentang cara melakukan, tujuan,
manfaat pengukuran tebal lipatan kulit untuk klien.
5. Jelaskan tentang kemungkinan hasil yang akan
diperoleh.
C. MENCUCI TANGAN 0 1 2
1. Lakukan cuci tangan rutin
D. MENENTUKAN TEMPAT PENGUKURAN 0 1 2
LINGKAR PINGGANG
1. Mintalah klien berdiri di depan pemeriksa
2. Tentukanlah tempat pengukuran lingkar pinggang
yaitu pertengahan antara costa 12 dengan crista iliaka.
E. MELAKUKAN PENGUKURAN LINGKAR 0 1 2
PINGGANG
1. Tetapkanlah posisi pengukuran antara ujung costa 12