Você está na página 1de 24

ALAT UKUR SUDUT

Pendahuluan

Pengukuran sudut merupakan hal yang penting untuk menjamin sifat ketertukaran komponen yang pada
gilirannya setelah mereka dirakit, akan memiliki andil bagi penjaminan kualitas fungsional suatu mesin/peralatan.
Definisi sudut adalah “harga (besar kecilnya) pembukaan antara 2 garis yang bertemu pada satu titik”.

Permasalahannya adalah kita tidak bisa mengetahui besaran suatu sudut pada 2 bidang (bidang 1 dan bidang
2) yang berpotongan sebelum kita menentukan bidang ke 3 yang memotong antara bidang 1 dan 2. Gambar dibawah
ini adalah penjelasan atas keterangan diatas.

Gambar ???

Besaran sudut

Pada awal-awal bahasan telah diulas tentang besaran-besaran dasar yang masing-masing mempunyai satuan
dasar sesuai kesepakatan internasional. Sementara itu, bagi pengukuran sudut tak diperlukan besaran khusus,
karena mengukur sudut serupa dengan mengukur bagian atau rasio suatu sektor lingkaran terhadap lingkaran penuh.
Jadi untuk pengukuran sudut bisa dipakai satuan penanda harga hasil pengukuran dengan %, rad, derajat.
Satuan Sudut

Apabila satu garis dari 2 garis yang berpotongan diputar dengan titik pertemuan sebagai sumbu putar, melalui
suatu titik pada garis tersebut dapat dibuat suatu lingkaran utuh. Satu derajat (10) adalah sudut dari 1/360 bagian dari
lingkaran utuh. Apabila 10 ini dibagi menjadi 60 bagian yang sama maka disebut satu menit (1’). Apabila 1’ dibagi lagi
menjadi 60 bagian yang sama lagi maka menjadi satu sekon (1”).

Pertanyaannya adalah mengapa dibagi 60? Tidak dibagi 10, 100 atau 1000? 60 merupakan bilangan yang
dipakai bangsa Mesopotamia, yang dipelajari dan disebarluaskan oleh bangsa Arab ketika ilmu dan teknologi mulai
disistemasikan sehingga mudah untuk dipelajari dan dikembangkan. Dan sampai saat ini satuan tersebut masih
digunakan karena sederhana definisinya.

Dua metode pengukuran sudut adalah cara langsung dan cara tak langsung. Beberapa alat yang akan
dibahas adalah,

 Alat ukur sudut langsung


- Busur baja
- Busur bilah
- Profil proyektor
- Clinometer
 Alat ukur sudut tak langsung
- Blok ukur
- Pelingkup sudut
- Alat ukur sinus
- Angle Dekkor

Busur Baja

Adalah alat ukur sudut langsung dengan kecermatan sampai satu derajat, oleh karena itu hanya digunakan
untuk mengukur sudut atau memberi acuan dengan kecermatan sampai 10.

Gambar ??. Busur Baja

Alat ini terdiri dari suatu tembereng setengah lingkaran dari pelat baja dengan pembagian skala dalam 1
derajat padi bagian tepinya, dan satu pelat baja berengselkan pada titik pusat lingkaran yang dapat diputar dengan
bagian runcing sebagai garis indeks untuk pembacaan skala.
Busur Bilah

Untuk pengukuran sudut antara dua permukaan benda ukur dengan kecermatan lebih kecil dari satu derajat.
Konstruksi alat ini sama dengan busur baja.

Bagian-bagian utama dari busur bilah:

 Badan/Piringan dasar; lingkaran penuh dengan diameter sekitar 55 mm. Permukaan bawah piringan ini rata. Pada
tepi permukaan terdapat skala dalam derajatdan diberi nomor dari 00 – 900 – 00 – 900 (skala kiri dan kanan)
 Pelat dasar; bersatu dengan piringan dasar. Sisi kerja pelat dasar dibuat rata dan lurus, dengan toleransi kerataan
0,01 mm untuk sepanjang sisi kerja.
 Piringan indeks; mempunyai titik pusat putaran berimpit dengan pusat putaran dasar. Pada piringan ini terdapat
garis indeks dan skala nonius sudut (kiri dan kanan), biasanya dengan kecermatan sampai 5 menit, terkadang
dilengkapi dengan pemutar halus/cermat.
 Bilah utama; dapat diatur kedudukannya dengan kunci yang terletak pada piringan indeks. Kedua ujungnya dibuat
menyudut masing-masing sebesar 450 dan 600. Kedua tepi dibuat lurus dengan toleransi kerataan sebesar
0,02 sampai 0,03 mm untuk seluruh panjangnya.

Gambar ??. Busur Bilah


Piringan indeks dapat berputar bersama-sama dengan bilah utama dan dapat dikunci kedudukannya relatif
dengan piringan dasar. Dengan demikian sudut antara salah satu bilah utama dengan sisi kerja pelat dasar dapat
dibaca pada skala piringan dasar dengan bantuan garis indeks dan skala nonius.

Busur bilah universal mempunyai bilah bantu yang dipasangkan tegak lurus terhadap pelat dasar. Posisi bilah
bantu ini dapat diatur untuk memudahkan pengukuran sudut antara dua permukaan.Jenis lain dari busur bilah
memakai sistem optik untuk pembacaan skala sudutnya, dengan kecermatan sampai 2 menit.

Pemakaian Busur Bilah

Harga sudut yang ditunjukkan oleh skala pada busur bilah adalah sudut antara sisi bilah utama dan sisi kerja
pelat dasar, jadi bukan sudut sesungguhnya dari objek ukur. Oleh sebab itu ada tigal hal penting yang harus
dilakukan dalam pemakaian busur bilah supaya sudut busur bilah sesuai dengan sudut benda ukur:

1. Permukaan kerja busur bilah dan benda ukur harus bersih.


2. Bidang busur bilah harus berimpit atau sejajar dengan bidang sudut yang diukur (bidang normal).
3. Sisi kerja pelat dasar dan salah satu sisi bilah utam harus benar-benar berimpit dengan permukaan benda
ukur, tidak boleh ada celah. Untuk mempermudah pengukuran benda ukur yang besar, kunci piringan
indeks dapat dikendorkan, kemudian busur bilah digeserkan dengan (dengan sisi kerja pelat dasar
berimpit dengan permukaan benda ukur) menuju permukaan yang menyudut sampai bilah utama terputar
dan berimpit dengan permukaan tersebut. Bacalah harga sudut pada kedudukan ini atau kunci terlebih
dahulu piringan indeks, kemudian baru dibaca harga sudutnya dengan cara memiringkan busur bilah
untuk mempermudah pembacaan skala noniusnya atau mengintip melalui okuler busur bilah optik.

Gambar ??. Pengaturan Posisi Busur Bilah

Pengukuran dan pembacaan harga sudut sebaiknya dilakukan berulang kali hingga merasa pasti akan nilai
yang didapat, sudut antara dua permukaan benda ukur dapat secara langsung diukur dengan melingkupi sudut
tersebut dengan bilah utama dan pelat dasar atau dengan meletakkan beda ukur tersebut pada meja rata. Untuk
sudut yang kecil atau yang besar, pembacaan harga sudut pada skala adalah jelas, yaitu secara langsung atau
dengan mengurangkannya dengan 1800. Sedang untuk sudut benda kerja yang hampir sama dengan 450 maka
mungkin timbul keraguan. Untuk itu harus diperhatikan arah pemutaran bilah utama apabila posisi semula adalah 900,
lihat gambar berikut ini.
Gambar ??. Pemakaian Busur Bilah Nonius 

Bagi yang pertamakali memakai busur bilah nonius mungkin timbul keraguan dalam menentukan penggunaan
skala nonius kanan dan kiri. Keraguan ini dapat dihindari dengan melihat arah kenaikan angka pada skala utama.
Bila garis  nol nonius terletak di daerah angka skala utama yang membesar ke kanan, maka skala nonius yang
dipakai adalah skala nonius kanan, begitupun sebaliknya.

Untuk sudut benda ukur yang kecil kadang tak mungkin dilingkupi oleh busur bilah (karena bilah utama dan
pelat dasar kurang panjang). Dalam hal ini dapat digunakan bilah bantu untuk mendapatkan harga sudut benda ukur.
Pemasangannya dapat digunakan dua cara tergantung pada jenis busur bilah. Untuk busur bilah universal, harga
sudut dapat langsung dibaca. Sedangkan bagi busur bilah dengan kedudukan bilah bantu tegak lurus pelat dasar,
harga sudut merupakan penyiku dari harga sudut yang terbaca.

Projektor Profil

Sudut antara dua permukaan objek ukur dapat diukur melalui bayangan yang terbentuk melalui kaca buram
pada projektor profil. Setelah bayangan difokuskan dengan cara mengatur letak benda ukur di depan lensa
kondensor projektor profil, sudut kedua tepi bayangan yang akan ditentukan besarnya dapat diukur dengan salah
satu dari dua cara dibawah ini.

1. Dengan memakai garis silang dan skala piringan.


Salah satu garis silang pada kaca buram dibuat berimpit dengan salah satu tepi bayangan dengan cara
menggerakkan meja dan memutar piringan kaca buram. Setelah garis berimpit pada tepi bayangan,
kemiringan garis silang dibaca pada skala piringan dengan bantuan skala nonius. Kemudian proses diulang
sampai garis bersangkutan berimpit dengan tepi bayangan yang lain. Pembacaan skala piringan dilakukan
lagi. Sehingga didapat harga sudut adalah selisih pembacaan yang pertama dan kedua.
2. Dengan memakai pola/gambar beberapa harga sudut.
Suatu pola transparan berupa kumpulan beberapa sudut dengan harga tertentu dapat dipasang pada kaca
buram. Besar sudut objek ukur dapat ditentukan dengan membandingkan dengan gambar sudut tersebut
sampai ditemukan sudut yang paling cocok.

Biasanya cara pertama lebih mudah dilakukan, sedangkan cara kedua lebih sering dipakai untuk menentukan
toleransi sudut yaitu dengan membuat gambar transparan dari sudut berserta daerah toleransinya.
Gambar ??. Berbagai Cara Pengukuran Dengan Projektor Profil

Clinometer

Clinometer adalah alat ukur kemiringan bidang dengan menggunakan prinsip gabungan antara pendatar dan
skala sudut busur bilah. Setelah clinometer diletakkan pada permukaan benda ukur, skala piringan diputar hingga
posisi tabung dengan gelembung berada di tengah diantara dua skala utama.

Dengan demikian, sesungguhnya clinometer ini mengukur kemiringan benda ukur relatif terhadap bidang
horisontal (bidang datar air).

Gambar ??. Clinometer


Blok Sudut

Adalah suatu alat ukur standar sudut. Dibuat dari baja yang dikeraskan dan mempunyai kestabilan dimensi
yang baik. Satu set blok ikur biasanya terdiri dari tiga belas buah dengan berbagai ukuran sudut. Harga beberapa
sudut dalam satu set, sebagaimana yang diusulkan oleh Tomlinson adalah:

Satuan derajat : 10, 30, 90, 270 dan 410 = 5 blok


Satuan menit : 1’, 3’, 9’ dan 27’ = 4 blok
Satuan detik : 3”, 6”, 18” dan 30” = 4 blok
Jumlah = 13 blok

Gambar ??. Contoh Penyusunan Blok Sudut

Dengan ketiga belas blok tersebut, hampir semua sudut dapat dibuat, karena setiap harga sudut yang
diinginkan dapat diperoleh dengan penjumlahan dan pengurangan. Apabila ke tiga belas blok tersebut disusun
berurutan naik akan diperokeh sudut sebesar 810 40’ 59”, sudut yang lebih besar dari harga tersebut dapat tercapai
dengan bantuan blok persegi.

Pada setiap blok sudut, selain dicantumkan harga nominal sudutnya dituliskan pula dua buah tanda + dan –
pada kedua sisinya untuk mempermudah penyusunan. Blok sudut merupakan alat ukur standar, sehingga hanya
digunakan untuk pengukuran perbandingan dan harus dirawat dan disimpan dengan baik.

Gambar ??. Pemakaian Blok Sudut

Benda ukur diletakkan diatas meja rata. Sudut antara salah satu permukaan benda ukur terhadap meja rata
dapat ditentukan dengan cara menyusun blok sudut dan diletakkan disamping benda ukur. Harga sudut benda ukur
diperkirakan dahulu dengan busur bilah. Tinggi permukaan benda ukur dengan muka ukur yang tearatas dari blok
sudut diatur supaya berimpit, kemudian kesejajaran antara permukaan benda ukur dengan muka ukur blok sudut
teratas diperiksa dengan pisau lurus. Pisau digeserkan sepanjang permukaan yang diukur sambil memperhatikan
mata kontak pisau lurus dengan permukaan yang diukur. Selama pergeseran ini tidak boleh terlihat adanya celah.
Jika masih terlihat cahaya sebagai penanda adanya celah, maka harus dilakukan pengubahan penyusunan blok
sudut dan pemeriksaan kembali.
Untuk pemeriksaan sudut yang besar, maka diperlukan blok persegi serta dibantu dengan beberapa blok ukur.
Pengukuran perbandingan dengan cara memperhatikan celah ini tidaklah selalu teliti, karena sampai seberapa jauh
kesalahan antara sudut benda ukur dengan sudut acuan susunan blok sudut tidak diketahui dengan pasti. Oleh
karena itu pengukuran sudut yang lebih cermat dapat menggunakan Angle Dekkor.

Pelingkup Sudut

Bila sudut benda ukurterlalu sulit posisinya untuk diukur dengan blok sudut maka diperlukan alat ukur bantu
yaitu pelingkup sudut. Alat ini tidak punya skala dan terdiri dari dua atau tiga buah pelungkup yang disatukan dengan
poros pengunci. Penggunaan alat ini adalh untuk mengambil sudut antara dua permukaan benda ukur dan kemudian
sudutnya dapat diketahui dengan membandingkan dengan susunan blok sudut atau diukur bayangan sudutnya
dengan memakai projektor profil.

Gambar ??. Pelingkup Sudut

Alat Ukur Sinus

Suatu Sudut dapat diketahui besarnya apabila diketahui harga sinusnya, sebagaimana rumus sinus dalam
ilmu ukur sudut yaitu :

sin α = atau arc sin = α

Jadi masalah pengukuran sudut diubah menjadi masalah pengukuran linear, yaitu mengukur tinggi h dan
hipotenusa (sisi terpanjang) l. Pengukuran dilakuakn dengan meletakkan benda ukur pada meja rata, dan sudut
antara salah satu permukaannya dengan permukaan referensi (permukaan meja rata).

Gambar ??. Mengukur Sudut Dengan Menghitung Harga Sinusnya


Supaya tinggi h dapat ditentukan, pada permukaan yang miring tersebut diletakkan dua buah rol dengan
diameter yang sama pada jarak tertentu. Kemudian dengan mistar ingsut ketinggian selisih tinggi ke dua rol tersebut
diukur. Untuk mempermudah pengukuran, kedua rol tersebut dipasangkan pada batang baja dengan jarak senter
yang tetap, misalnya 100 mm atau 200 mm guna menyederhanakan perhitungan sinusnya.

Dalam bahasan berikut akan dibahas beberapa cara pengukuran sudut yang cermat dengan menggunakan
alat ukur yang disebut:

- Batang sinus
- Meja sinus
- Senter sinus
- Meja sinus gabungan
- Busur sinus

Batang Sinus

Dalam pemakaiannya, batang sinus diletakkan pada meja rata. Kemudian benda ukur diletakkan di
permukaan atas menempel pada sisi penahan. Ujung batang sinus pada sisi yang tidak berpenahan diangkat dan
suatu susunan blok ukur dengan tinggi yang tertentu diletakkan di bawah silinder batang sinus sedemikian rupa
sehingga permukaan yang lain dari benda ukur menjadi sejajar dengan permukaan meja rata. Kesejajaran tersebut
diperiksa dengan memakai jam ukur atau pupitas.

Sebelum pengukuran dimulai tinggi h terlebih dahulu diperkirakan, yaitu dengan mengukur sudut α benda
kerja dengan memakai busur bilah, setelah dihitung harga sinusnya, dicari kombinasi blok ukur supaya mempunyai
tinggi susunan sebesar h. Setelah susunan blok ukur diletakkan dibawah rol, angkat batang sinus, pemeriksaaan
kesejajaran permukaan atas benda kerja dengan meja rata dilakukan dengan memakai jam ukur. Apabila tinggi h
tersebut sesuai, selama digeserkan sepanjang l’ jarum jam ukur relatif tetap di sekitar angka nol. Seandainya tidak,
akan terjadi pergeseran secara tetap membesar (naik) atau mengecil (turun). Jika terjadi penyimpangan sebesar d
(positif atau negatif), berarti tinggi susunan blok ukur harus diubah sebesar y (positif atau negatif).

Gambar ??. Batang Sinus Dan Penggunaannya Di Atas Meja Rata


Meja Sinus

Meja sinus merupakan pengembangan prinsip batang sinus. Salah satu rolnya berfungsi sebagai engsel
antara pelat atas dengan pelat dasar. Meja sinus dibuat dalam beberapa ukuran dan pemilihannya sesuai dengan
dimensi benda ukur yang akan diperiksa. Selain untuk alat ukur, meja sinus juga digunakan sebagai alat bantu mesin
perkakas, terutama dari jenis mesin gerinda rata.

Gambar ??. Meja Sinus Dengan Pencekam Magnetik Pada Mesin Gerinda Rata

Meja sinus dengan dimensi yang besar dengan benda ukur yang relatif berat yang dicekam diatasnya akan
menimbulkan tekanan yang besar pada blok ukur. Untuk menghindari kerusakan pada blok ukur ada beberapa cara
yang harus diikuti, yaitu:

1. Benda ukur diletakkan, bila perlu diklem atau kunci magnetik dijalankan.
2. Gunakan blok ukur pelindung.
3. Setelah tinggi h ditentukan, susun blok ukur dengan blok ukur pelindung diletakkan paling atas, dipasang
pada alas dengan sisi panjang menyilang sumbu/silinder.
4. Letakkan rol angkat dengan hati-hati pada susunan blok ukur.
5. Kunci engsel meja sinus (bila terdapat pengunci).

Senter Sinus

Benda ukur konis dapat diukur sudut konisnya secara cermat dengan memakai swnter sinus. Alat ini serupa
dengan meja sinus, dengan dua senter yang dapat diatur letaknya pada pelat atas. Penggunaan senter sinus seperti
meja sinus, dan sudut yang diukur adalah setengah sudut konis.

Gambar ??. Senter Sinus


Pengukuran harus dilakukan dengan seksama, karena sumbu benda ukur mungkin tidak berimpit dengan
sumbu senter. Oleh sebab itu sebelum jam ukur digeser guna memeriksa kesejajaran, terlebih dahulu benda ukur
diputar untuk memeriksa kesamaan sumbunya. Apabila ada sedikit ketidakenteran maka pemeriksaan kesejajaran
dilakukan pada permukaan konis dimana jarum jam ukur menunjuk pada titik teratas. Setelah penentuan sudut
(setengah sudut konis) dilakukan, pengukuran dilakukan sekali lagi stelah benda konis diputar 1800, dimana jarum
ukur berada pada titik terbawah. Harga setengah sudut konis adalah rata-rata dari kedua pengukuran diatas.

Penentuan tinggi h (tinggi susunan blok ukur) diperkirakan dengan mengukur sudut konis dengan memakai
mistar ingsut, sebagai berikut:

1. Pada kedua ujung konis diukur diameternya, yaitu da dan db (mm).


2. Jarak A sampai B (jarak miring) ditentukan, yaitu x (mm).
3. Tinggi h susunan blok ukur adalah

h= . ; (mm)
4. Jarak senter antar dua rol senter sinus adalah l.

Meja Sinus Gabungan

Dua buah meja sinus dapat digabungkan, dimana pelat atas dari meja sinus bawah menjadi pelat dasar dari
meja sinus atas dengan ke dua sumbu engsel berpotongan tegak lurus. Biasanya jarak senter antar kedua rol untuk
meja bawah dibuat sama dengan jarak senter antara kedua rol meja atas. Apabila pembukaan meja bawah diatur
setinggi h1 maka pembukaan meja atas diatur seringgi h2, maka permukaan pelat yang teratas akan miring dengan
sudut tertentu terhadap pelat dasar (meja rata). Seperti pemakaian meja sinus biasa, kesejajaran permukaan atas
benda ukur terhadap meja rata dapat diperiksa dengan menggunakan jam ukur tes, dalam hal ini dilakukan dua arah
sesuai dengan arah kedua sumbu engsel.

Gambar ??. Meja Sinus Gabungan

Selain sebagai alat untuk mengukur kemiringan bidang, meja sinus gabungan juga dapat digunakan untuk
mengatur dudukan benda kerja pada mesin perkakas. Dengan cara ini suatu permukaan yang miring dapat
dihasilkan, karena arah gerakan perkakas potong relatif terhadap dasar benda kerja yang telah ditetapkan sudutnya.
Jika meja sinus gabungan tidak dipunyai, dua meja sinus (terutama yang memakai prinsip pemegang magnetik)
dapat disusun sehingga terbentuk meja sinus dobel, dengan catatan bahwa pengaturan letak sumbu engselnya harus
dipastikan saling tegak lurus.
Busur Sinus

Adalah kombinasi antara busur bilah dengan batang sinus. Pemakaiannya seperti busur bilah, yaitu
melingkupi permukaan benda ukur dengan bilah dan badan atau rahang aturnya. Setelah dipastikan tidak ada celah
pada permukaan yang saling berimpit, kedudukan bilah dikunci dan harga sudutnya ditentukan dengan rumus sinus.
Dimana panjang l adalah sesuai dengan jarak senter rol alat ukur. Dan tinggi h diukur dengan menyiapkan blok ukur
pada tempat yang tesedia.

Gambar ??. Busur Sinus

Ukuran satu blok ukur atau susunan blok ukur yang


akan disisipkan dapat diperkirakan dengan memakai
mistar ingsut untuk mengukur celah pembukaan.
Kemudian blok ukur yang dipilih disisipkan. Apabila masih
terasa longgar, tinggi/tebal blok ukur harus ditambah.
Sebaliknya bila tidak dapat masuk (tidak boleh
dipaksakan) tebal tersebut harus dikurangi.

Angle Dekkor

Angle dekkor merupakan alat ukur yang menggunakan prinsip optik. Komponen utama berupa lensa kolimator,
dengan bantuan prisma, sumber cahaya diatur supaya menyinari garis berskala (dibuat pada keeping gelas tipis)
yang terletak pada jarak focus kolimator. Garis berskala tersebut oleh lensa kolimator diproyeksikan ke luar berupa
berkas cahaya yang sejajar. Apabila di depan kolimator diletakkan permukaan yang rata dan mengkilat (reflector),
berkas cahaya ini akan dipantulkan menuju kolimator dan difokuskan kembali pada bidang fokusnya. Melalui okuler
dapat dilihat garis skala yang dipantulkan (skala pantul) bersama dengan garis skala (skala tetap) yang juga dapat
dibuat pada keping gelas pada sumbu optik.

Gambar ??. Angle Dekkor


Untuk suatu kedudukan reflector yang tertentu (benda standar) ke dua garis akan saling tegak lurus pada
kedudukan angka tertentu (garis skala pantul berfungsi sebagai garis indeks untuk membaca harga pada skala tetap,
berlaku juga hal sebaliknya). Apabila permukaan reflector dibuat sedikit menyudut dari posisi semula (diganti dengan
benda ukur yang akan dibandingkan) maka skala pantul akan bergerak ke atas atau ke bawah, dan selain itu
mungkin juga akan ke kanan atau ke kiri relatif terhadap skala tetap. Mereka akan berpotongan pada posisi yang
berbeda dari semula. Selisih kedua pembacaan (dua kali pada skala pantul dan dua kali pada skala tetap)
menunjukkan dua harga sudut pembukaan antara bidang standar dan bidang ukur.

Kapasitas ukur angle dekkor hanya sampai dengan 60 menit, dengan pembagian skala (kecermatan) 1 atau ½
menit. Kecermatan tersebut jauh lebih rendah dari autokolimator, namun kapasitas ukurannya lebih besar.

Pemakaian Angle Dekkor

Angle dekkor termasuk jenis alat ukur pembanding, pengukuran dilakukan dnegan membandingkan benda
ukur dengan benda standar, benda standar dapat dipakai blok sudut ataupun batang sinus yang telah diatur untuk
harga kemiringan tertentu. Benda standar diletakkan di bawah kolimator dan kedudukan angle dekkor diatur sampai
terlihat bayangan skala pantul (garis skala tetap sebagai garis indeks). Bila perlu benda standar sedikit diputar atau
digerakkan supaya penunjukan ke dua harga tersebut adalah bulat atau saling menyilang pada garis skala.

Gambar ??. Perbandingan sudut bidang benda ukur


dengan benda standar (susunan blok
sudut) dengan memakai alat ukur
pembanding Angle Dekkor.

Benda standar diambil dan diganti dengan benda ukur, posisi angle dekkor tidak boleh berubah. Jika
permukaan benda ukur kurang mengkilat, suatu blok ukur dapat ditempelkan di atas permukaannya, satukan dengan
plester atau celotape. Benda ukur diputar perlahan sampai terlihat skala pantul bergerak menyilang terhadap skala
tetap dan hentikan gerakan memutar ini setelah harga semula pada skala tetap (pada waktu membaca harga benda
standar) disilangi oleh garis skala pantul.

Apabila sudut bidang antara permukaan meja rata dengan permukaan benda ukur sama dengan sudut bidang
benda standar harga yang terbaca pada skala pantul adalah sama dengan harga pada skala pantul semula. Apabila
sudut bidang benda ukur sedikit berbeda dengan sudut bidang benda standar, perbedaan tersebut dapat dibaca pada
skala pantul, yaitu selisih dari harga yang ditunjukkan semula.

Pengukuran Sudut Dengan Bantuan Bola Rol dan Bola

Karena ukurannya dan/atau kondisi fisiknya, sudut benda ukur mungkin tidak bisa diukur dengan mudah
dengan alat ukur dan cara pengukuran sebagaimana yang telah dibahas. Dalam hal ini, metoda lain yang pada
dasarnya merupakan pengukuran linear yang dikembangkan bagi pengukuran sudut. Beberapa jenis alat ukur linear
seperti micrometer, komparator, dan blok ukur, serta alat ukur bantu seperti batang parallel, rol (silinder), bola dapat
dimanfaatkan dengan setup tertentu sesuai dengan masalah pengukuran sudut.

Suatu besaran yang tidak diukur secara langsung melainkan dihitung dengan memakai rumus yang diturunkan
secara teoretik akan menderita kesalahan sistematik yang barangkali akan lebih besar ordenya daripada kecermatan
yang dikehendaki bagi besaran yang dimaksud. Untuk meminimumkan harga kesalahan sistematik pada hasil akhir
ini tidak ada cara lain selain dengan menggunakan peralatan yang yang memiliki kecermatan tinggi dan pemastian
harga dimensi sebenarnya secermat dan seteliti mungkin dari semua peralatan yang dilibatkan dalam proses
pengukuran sudut benda ukur secara tidak langsung.

Rol atau bola yang berasal dari bantalan silinder atau peluru dapat dimanfaatkan namun diameternya harus diukur
dengan cermat dan seteliit mungkin. Setelah harga sinus atau tangent dari sudut ukur diketahui, besar sudut yang
bersangkutan dapat dicari dari tabel rumus geometrik atau dihitung secara langsung dengan kalkulator teknik.
Interpolasi sampai harga detik mungkin dapat dicapai, asalkan kecermatan dan ketelitian proses pengukuran dapat
dijamin.
Ketegaklurusan (Perpendicularity)

Dua buah garis atau bidang yang berpotongan sehingga membentuk sudut 90o dikatakan saling tegak lurus.
Ketegaklurusan merupakan criteria yang amat penting dalam proses pengukuran mupun proses pembuatan mesin.
Meskipun dua benda yang berpasangan mempunyai ukuran yang baik (di dalam daerah toleransi dimensi) mungkin
mereka tidak dapat disatukan, jika toleransi ketegaklurusan terlampaui.

Penentuan kesalahan atas ketegaklurusan dapat dinyatakan dalam satuan linear m ) untuk sepanjang
permukaan yang tertentu (mm) dan cara penentuan kesalahan seperti ini lebih sering dipakai daripada menyatakan
penyimpangannya terhadap harga 90o.

Pemeriksaan Ketegaklurusan

Ketegaklurusan suatu permukaan terhadap permukana yang lain dapat diperiksa dengan memakai penyiku.
Umumnya berupa batang persegi pangajng dan bilah yang dipasang tegak lurus sehingga terbentuk dua sudut siku,
sebelah dalam dan sebelah luar.

Gambar ??. Penyiku Dan Pemakaiannya Untuk Pemeriksaan Ketegaklurusan


Pemeriksaan ketegaklurusan bagi kedua benda ukur yang kecil dapat dilakukan dengan memakai sudut siku
dalam. Dengan latar belakang yang terang, antara permukaan yang berimpit perlu diperiksa apakah terlihat suatu
celah atau tidak. Benda ukur yang besar dapat diperiksa dengan meletakkannya diatas meja rata di geser menuju
permukaan yang akan diperiksa.

Sebelum pemeriksaan atas adanya celah dilakukan, aturlah sumbu batang penyiku sehingga kurang lebih
tegak lurus dengan permukaan yang diukur. Apabila antara sisi bilah dengan permukaan benda ukur tidak terjadi
celah, maka berarti permukaan tersebut benar-benar tegak lurus dengan permukaan dasarnya (permukaan meja
yang rata). Celah selebar 0.003 mm masih bias dilihat, lebih kecil dari harga tersebut warna cahaya yang melalui
celah akan berubah menjadi warna merah (antara 0.002 mm sampai dengan 0.001 mm) atau biru (lebih kecil dari
0.008 mm).

Apabila latar belakang tidak terang (tidak ada kotak cahaya), dapat digunakan cara penyisipan kertas. Mula-
mula selembar kertas yang tipis (kertas rokok setebal kira-kira 0.025 mm) disisipkan disebelah atas bilah penyiku.
Sebelum dihimpit, kertas tersebut pasti mudah ditarik keluar.

Setelah dihimpit, dapat dicoba apakah kertas tersebut masih bisa ditarik atau tidak. Cara ini diulang dengan
posisi kertas disisipkan disebelah bawah bilah penyiku. Apabila pada kedua pemeriksaan ini kertas tersebut tidak
dapat atau sulit dicabut, berarti permukaan yang diperiksa dianggap tegak lurus dengan meja atau rata. Berapa
harga ketidaktegaklurusannya, dalam hal ini tidak bisa dinyatakan dengan suatu harga, karena cara ini memang
hanya merupakan suatu proses pemeriksaan, bukan suatu pengukuran.

Pengukuran Ketegaklurusan

Empat metoda pengukuran ketegaklurusan yang akan diulas sebagai berikut mampu menunjukkan harga
penyimpangan terhadap kondisi tegak lurus, yaitu :

1. Perbandingan dengan standar siku


2. Perbandingan dengan batang parallel
3. Ketegaklurusan dua bidang parallel
4. Pengukuran dengan autokolimator

Ketelitian hasil pengukuran pada cara atau metoda yang pertama akan dipengaruhi oleh kualitas standar siku
yang dipakai, untuk ketiga cara yang lain ketelitiannya sangat dipengaruhi oleh kualitas meja rata yang digunakan,
ketiga metoda tersebut hanya boleh menggunakan meja rata yang berkualitas.

A. Perbandingan Dengan Standar Siku

Standar siku biasanya berupa silinder berdinding tebal dengan dengan diameter sekitar 100 mm dengan
tinggi 100, 150, atau 200 mm. permukaan luar silinder digerinda dan diasah halus (super / mirror finishing ) untuk
membuat suatu silinder dengan toleransi kesilindrisan yang tinggi. Mula-mula silinder teresebut diletakkan di tepi
meja rata dengan posisi rebah, kemudian dapat digelindingkan agak ke tengah atau ke tempat yang dikehendaki,
selanjutnya ditegakkan dengan hati-hati. Benda ukur yang akan diperiksa diletakkan di atas meja yang rata.

Gambar ??. Perbandingan Dengan


Standar Siku
Dengan memakai jam ukur cermat yang dipasangkan pada dudukan pemindah, diatur ketinggian sensornya
sekitar 1 mm dibawah bagian tertinggi dari permukaan tegak benda ukur yang akan dibandingkan dengan permukaan
silinder siku. Pertama-tama kedudukan jam ukur di set nol dengan cara menempelkan sensor jam ukur pada silinder
ukur ( posisis sensor diatur tegaklurus ). Rol dletakkan diantara dudukan pemindahan dengan silinder siku dnegan
untuk mendapatkan kontak permukaan yang berupa titik atau garis. Setelah itu, silinder digantikan dengan benda
ukur (dengan memindahkan silinder siku atau menggeserlan dudukan pemindah menuju ke benda ukur ). Saat
sensor disentuhkan ke permukaan benda ukur , dicatat apakah jam ukur menunjukkan–penyimpangan atau tidak.
Apabila ada penyimpangan, misalnya x mm, berarti pemukaan benda ukur tidak tegak lurus terhadap alasnya
(permukaan meja rata) dan harga penyimpangannya adakah sebesar x mm untuk setinggi .

B. Perbadingan Dengan Batang Parallel

Suatu batang parallel dapat digunakan untuk memeriksa ketegaklurusan. Dengan memakai klem, batang
parallel ini disatukan dengan pelat siku atau blok siku yang diletakkan di atas meja yang rara. Posisi batang parallel
diatur kurang lebih tegak lurus terhadap permukaan meja rata. Sebelum klem pengikat dikencangkan, permukaan
ukur yang akan diperiksa ketegaklurusannya dihimpit dengan batang parallel.

Gambar ??. Pengukuran Ketegaklurusan


Standar Siku

Setelah dipastikan bahwa mereka betul-betul terhimpit (alas benda ukur tidak boleh terangkat dari meja rata)
maka klem pengikat dikencangkan. Benda ukur, dalam contoh penyiku, digeserkan menuju ke sisi lain dari batang
parallel, kemudian dua permukaan dihimpit dan diperiksa apakah terjadi celah atau tidak. Apabila terlihat adanya
celah (yang membuka ke atas atau ke bawah), menandakan adanya ketidaklurusan.

Harga penyimpangan dari kondisi tegaklurus diukur dengan dengan memilih dua blok ukur yang sedikit pada
ukurannya, misalnya 1.000 mm dan 1.001 mm. Blok ukur yang lebih kecil nominalnya diletakkan disebelah atas atau
bawah (tergantung pada permukaan celah) kemudian benda ukur dihompit. Blok ukur yang lebih besar ukuran
nominalnya dicoba dimasukkan pada posisi setinggi (diberi tanda pada batang parallel). Apabila blok ukurnya
ternyata masih bisa terjatuh, maka diganti dengan blok ukur yang lain yang setingkat lebih besar angka nominalnya.
Prosedur ini diulang sampai diperoleh ukuran blok yang cocok. Dengan demikian, kemiringan benda ukur adalah
setengah dari selisih ukuran nominal blok ukur untuk setinggi h mm.

C. Ketegaklurusan Dua Bidang Parallel

Metoda ini hanya bisa diterapkan bagi benda ukur yang memiliki dua permukaan yang berseberangan yang
parallel yang tegak lurus dnegan bidang acuan (alas benda ukur). Benda ukur diletakkan pada meja rata dan pada
salah satu bidang tegaknya sensor jam ukur diatur supaya menunjuk nol. Kemudian, jam ukur dipindah ke sisi tegak
yang lainnya (berseberangan), dan pada kedudukan ini dicatat penunjukannya. Ketidaklurusan permukaan yang
diperiksa terhadap alasnya adalah merupakan setengah harga penyimpangan yang ditunjukkan jam ukur untuk
setinggi h. ketinggian h, jarak dari sumbu sensor jam ukur sampai ke senter dari nol yang digunakan sebagai
pemisah antara benda ukur dengan landasan pemindah, perlu diukur dengan cermat.

Gambar ??. Pengukuran Ketegaklurusan Bidang Paralel

D. Pengukuran Ketegaklurusan Dengan Autokolimator

Bidang reflector ini dipasangkan pada permukaan batang yang khusus dibuat untuk pemeriksaan
ketegaklurusan. Batang tersebut pada kedua ujungnya disatukan dengan dua buah silinder berlubang yang digerinda
halus sehingga mempunyai diameter yang sama. Batang ini menggantungkan pada poros yang telah diatur
ketinggiannya di atas meja rata.

Gambar ??. Pengukuran Ketegaklurusan Dengan Autokolimator

Permukaan yang akan diukur ketegaklurusannya terhadap meja rata rata dihimpitkan pada kedua silinder,
kedudukan autokolimator diatur sehingga melalui okulernya terlihat garis pantul. Pada posisi ini, penyimpangan garis
pantul dibaca harganya pada micrometer sudut autokolimator. Kemudian posisi benda ukur dipindahkan pembacaan
posisi garis pantul melalui autokolimator dilakukan lagi. Kesalahan atas ketegaklurusan bagi benda ukur adalah
merupakan setengah dari selisih antara ke dua harga pembacaan (harga dalam satuan sudut).

Ketelitian metoda pengukuran ini dipengaruhi oleh kesamaan diameter ke dua silinder. Oleh sebab itu, untuk
mengeliminir akibat ketidaksamaan silinder, pengukuran diulang dengan cara membalik posisi ke dua silinder.
Kemudian, harga yang diperoleh dari pengamatan kedua dengan yang pertama dirata-ratakan.
ALAT UKUR KEDATARAN, KELURUSAN DAN KERATAAN

Pendahuluan

Yang dimaksud dengan kedataran adalah “datar air” atau horizontal, gaya tarik bumi (gravitasi dianggap tegak
lurus terhadap bidang yang datar air). Waterpas (Belanda), dalam buku ini menjelaskan istilah “pendatar”, sebetulnya
merupakan alat ukur sudut, namun karena sudut yang diukur relative kecil dank arena bidang pemakaiannya bukan
untuk mengukur sudut, maka pendatar akan diulas sebagai alat ukur kelurusan dan kerataan.

Kerataan suatu bidang dapat ditentukan berdasarkan analisis data kelurusan beberapa garis yang membentuk
pola tertentu. Pola atau susuan garis-garis yang paling sederhana untuk menentukan kerataan suatu bidang adakah
pola “Union Jack”. Dalam hal ini hanya diperlukan data kelurusan delapan (8) buah garis secara sistematik dilakukan
penyesuaian referensi sehingga didapat suatu bidang referensi umum. Berdasarkan referensi umum tersebut
ketinggian titik-titik dapat dianalisis lebih lanjut untuk menentukan kualitas (toleransi) kerataan bidang yang diperiksa.

Pendatar

Bagian utama pendatar adalah tabung gelas yang dibuat melengkung atau dicetak dengan bagian dalamnya
mempunyai lengkungan dengan radius yangrelatif besar. Suatu skala dibuat pada bagian atas tabung gelas yang diisi
sampai hamper penuh dengan spiritus (ether) sehingga berbentuk gelembung dari uap ether. Ukuran gelembung ini
dirancang bersesuaian dengan jarak dua skala nol pada tabung gelas (pada temperatur standar 20o C) dan akan
selalu menempati posisi tabung paling atas.

Tabung gelas ini dipasang oada bagian atas rangka yang terbuat daru besi atau baja tuang yang mempunyai
dasar (kaki) yang rata atau yang dibuat beralur V sehingga pendatar dapat diletakkan di atas permukaan silindrik
sepanjang sumbunya. Unutk pemeriksaan bidang yang vertical dipakai pendatar siku (square level) dengan rangka
vertical yang dibuat tegak lurus dengan teliti terhadap rangka dasarnya. Pendatar siku biasanya dipakai dalam
pengetesan kualitas geometric mesin perkakas, dengan cara menekankan rangka vertical pada bidang yang
diperiksa dan posisi gelembung dapat dibaca pada skala tabung gelas yang terletak sejajar dengan dasarnya. Pada
arah melintang rangka dasar, biasanya dipasang tabung lain yang lebih oendek untuk mengetahui posisi pendatar
pada arah menyilang dari arah pemeriksaan utama. Kepekaan tabung menyilang tentu saja dibuat lebih rendah dari
pada kepekaan tabung utamanya.

Gambar ??. Pendatar Jenis Umum Dan Jenis Siku


1. Rancangan Pendatar

Kepekaan pendatar dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu :

‐ Jari-jari / radius kelengkungan tabung, R


‐ Panjang dasar pendatar (jarak kaki), L

Semakin besar radius tabung, kepekaan pendatar akan naik, sebaliknya semakin panjang L kepekaan akan
turun. Hubungan antara kepekaan dengan R dan L dapat dijelaskan dengan memakai skema prinsip kerja pendatar.

Kedudukan gelembung sewaktu bidang dasar pendatar OA sejajar (berimpit) dengan bidang horizontal
referensi adalah posisi paling atas dengan tepi berimpit dengan garis skala B. apabila bidang dasar dimiringkan
sehingga membuat sudut ∝ berarti A akan berpindah ke A’ setinggi h, dan gelembung akan bergerak kemudian diam
dengan tepi berimpit pada B’, untuk sudut ∝ yang kecil berlaku :

Dalam sgitiga BOB’, ∝

.
= atau d =

Dalam sgitiga AOA’, ∝

Dengan demikian, untuk mendapatkan kepekaan yang sangat tinggi, supaya ketinggian h yang sangat kecil
bisa dibaca melalui perpindahan gelembung sejauh satu skala d, maka R harus besar dan L harus kecil.

Bila dibuat jarak skala d sebesar 2 mm (supaya keterbacaanya bagus) dan R sebesar 200.000 mm (200m),
berarti satu skala d akan sama dengan kemiringan sebesar :

radian
.

= 3600 detik
.

Misalkan panjang dasar L dibuat sebesar 200 mm, maka kemiringannya 2 detik ini akan sebanding dengan
kenaikan sebesar :

h= = 0.002 mm
.

sehingga diartikan jarak satu skala adalah,


.
1 skala = = 0.01 mm/m

Kepekaan setinggi itu (1 skala = 2 detik) hanya dibuat untuk pendatar yang digunakan bagi pemeriksa yang
memerlukan kecermatan yang tinggi seperti halnya yang dilaksanakan ddalam laboratorium metrology industry.
Pendatar yang peka harus digunakan dengan cermat, sebab reaksinya sangat cepat yang berarti goyangan yang
lemah sekalipun akan mengakibatkan gelembung akan bergerak sehingga menyulitkan untuk pembacaan skala.
Selain itu kekentalan (viskositas) cairan yang dipakai pengisi tabung biasanya dangat rendah (supaya reaksinya
cepat) sehingga kenaikan temperature yang relative kecil akan menyusutkan ukuran gelembung, yang bisa
mengakibatkan kesalahan pembacaan pada skala.

Gambar ??. Prinsip Kerja Pendatar

2. Pembacaan Skala Pendatar

Pendatar dibuat dalam beberapa kepekaan kelas kepekaan, yaitu 2, 5, 10, 20, 30 detik, 1 menit, atau 1
derajat. Panjang dasar L juga dibuat bermacam-macam sesuai dengan keperluan, antara lain sebesar 160, 200, 250,
300, 400 dan 500 mm, disesuaikan dengan kepekaan dalam harga sudut akan menghasilkan kecermatan sudut
dalam satuan linear. Pada bagian atas pendatar biasanya mencantumkan harga kecermatan ini yaitu arti jarak satu
skala pada tabung gelas. Kecermatan sebesar 0.01 mm/m dipakai untuk pengukuran yang sangat cermat yang
dilakukan di ruang/lingkungan/sistem pengukuran yang terkontrol. Kecermatan 0.02 mm/m atau 0.004 mm/m adalah
yang umum dipakai di kamar ukur ataupun dibagian produksi. Sementara itu, kecermatan 0.1 mm/m atau lebih
rendah dipakai dalam pekerjaan teknik yang kurang memerlukan kecermatan (sampai dengan yang dipakai tukang
bangunan).

Skala pada tabung gelas dibuat simetrik, bagi pendatar yang telah dikalibrasi, berada di ruang ukur dengan
suhu 200 C saat bidang dasar pendatar pada posisi horizontal, posisi gelembung akan berada di tengah diapit oleh
dua garis skala yang panjang. Jika sisi kanan sedikit lebih tinggi dari sisi kiri maka gelembung akan bergerak ke
kanan, demikian pula hal sebaliknya.
Untuk mempermudah pencatatan hasil pengukuran dipakai aturan pembacaan yaitu posisi sebelah kanan
garis skala panjang (garis nol) berarti pembacaan selalu dilakukan dari ke dua ujung dan kemudian dirata-ratakan,
maka efek perubahan temperatus sewaktu pengukuran sedang berlangsung dapat dieliminir. Untuk pengukuran yang
cermat, supaya hasil pengukuran lebih meyakinkan, pengukuran diulang yaitu dengan cara mengembalikan posisi
pendatar pada tempat yang sama, kemudian hasilnya dirata-ratakan. Interpolasi kedudukan ujung gelembung dapat
dilakukan sampai setengah harga skala. Dengan merata-ratakan empat harga pembacaan (dari dua ujung
gelembung dan kemudian posisi pendatar dibalik) kecermatan hasil pembacaan dapat dituliskan sampai dengan
sepersepuluh skala.

3. Penyetelan Posisi Horisontal (Kalibrasi Pendatar)

Setiap pendatar dengan kepekaan lebih tinggi dari 20 detik mempunyai baut pengatur kedudukan tabung
relative terhadap dasar dari pendatar. Umumnya kalibrasi yang dilakukan oleh pabrik pembuat yang selain
memeriksa kebenaran harga yang ditunjukkan skala (kalibrasi dengan memakai batang sinus, atau meja sinus untuk
sudut yang kecil) juga menyetel nol yang mengatur posisi tabung gelas sedemikian rupa sehingga alas dari pendatar
adalah horizontal sewaktu posisi gelembung pas di tengah. Meja rata dapat digunakan untuk memeriksa kedataran
dari dasar pendatar, dan sebaiknya jal ini dilakukan sebelum memakai pendatar.

Letakkan pendatar pada meja rata agak di tengah, kemudian carilah posisi pendatar, dengan menggeser ke
kiri – kanan , maju – mudur, dan memutar searah – berlawanan arah gerak jarum jam, sampai gelembung berada di
tengah. Kemudian pada tempat yang sama baliklah posisi pendatar, dalam hal ini dapat dipakai bantuan batang lurus
(straight edge) yang di klem pada meja rata sehingga sisi pendatar berimpit dengannya (untuk memastikan arah dan
tempat yang sama). Apabila posisi gelembung tidak berubah (masih juga nol) berarti dasar pendatar telah horizontal.
Jika posisi gelembung pindah misalkan sebesar + 2 skala, maka putarlah baut pengatur (ke arah tertentu) sampai
posisi gelembung menjadi setengah harga semula, yaitu + 1 skala.

Batang lurus diambil, kemudian carilah posisi pendatar sampai gelembung menunjuk nol (dengan memutar
posisi pendatar dan/atau memindahkan ke tempat lain). Prosedur pembalikan dan penyetelan baut diulang lagi
secara berurutan dampai dicapai derajat kecermatan posisi nol sesuai dengan yang dikehendaki.

Gambar ??. Pemeriksaan Dan Penyetelan Posisi Nol Dari Pendatar