Você está na página 1de 4

Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien Tn.

J, umur 55 th dibawa ke rumah sakit


disebabkan karena penurunan kesadaran.

Diketahui bahwa 5 bulan SMRS pasien pernah mengalami keluhan anggota gerak
sebelah kiri lemah dan bicara pelo, dimana keluhan tersebut dirasakan mendadak dan muncul
saat pasien sedang mengobrol dengan keluarga. Riwayat trauma tidak ada, mual dan muntah
tidak ada, kejang tidak ada. Pandangan berkunang - kunang tidak ada, pandangan ganda tidak
ada, BAK dan BAB tidak ada keluhan.

Berdasarkan teori, saat seseorang mengalami keluhan seperti diatas, kemungkinan


besar pusat motorik mengalami gangguan, yaitu otak. Terdapat berbagai kemungkinan yang
dapat menganggu fungsi fisiologis otak, seperti trauma, tumor atau massa intrakranial, infeksi
intrakranial, perdarahan intrakranial ataupun masalah vaskular lainnya.

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

1. Onset atau awitan

Pada stroke, baik hemoragik atau iskemik, onset atau awitannya selalu secara
mendadak. Maksudnya, sebelum kelainan saraf timbul, secara subjektif pasien merasa dirinya
baik baik saja, masih dapat melakukan kegiatan sehari hari dengan baik.

Berdasarkan aloanamnesis dengan keluarga, sebelum keluhan muncul, pasien terlihat


baik baik saja dan dapat menjalankan aktifitas seperti biasa, hal ini menunjukan bahwa
kemungkinan besar pasien mengalami serangan stroke, bisa jadi stroke hemoragik atau
iskemik.

2. Saat mulainya onset

Maksudnya adalah saat kelainan saraf timbul, pasien dalam keadaan apa. Apakah dalam
keadaan sedang aktif bekerja/melakukan kegiatan atau sedang dalam keadaan istirahat. Pada
stroke non hemoragik, onsetnya mulai saat pasien sedang dalam keadaan istirahat, sedangkan
pada stroke hemoragik, onsetnya mulai saat pasien sedang beraktifitas.

Pada kasus ini didapatkan bahwa keluhan muncul saat pasien sedang mengobrol dengan
keluarga, arti nya keluhan terjadi saat pasien sedang istirahat. Kemungkinan besar pasien
mengalami serangan stroke iskemik atau non hemoragik
3. Peringatan atau gejala awal

Sering kali sebelum kelumpuhan anggota badan sesisi terjadi pasien sudah mendapat
peringatan atau gejala awalnya, misalnya berupa kesemutan pada wajah di satu sisi yang
berlangsung beberapa menit, sekitar 5 sampai 10 menit. Namun dari anamnesis hal ini tidak
ditemukan.

4. Nyeri kepala, muntah, kejang dan penurunan kesadaran

Gejala ini pada hakekatnya merupakan manifestasi klinis dari adanya tekanan
intrakranial yang meningkat. Pada stroke hemoragik jelas ada penambahan massa di dalam
rongga tengkorak yaitu darah. Sementara itu, rongga tengkorak telah tertutup rapat, tidak
mungkin lagi berkembang sehingga penambahan massa darah tersebut akan mengakibatkan
naiknya tekanan intrakranial.

Pada stroke non hemoragik sebenarnya juga ada penambahan massa sebagai akibat dari
adanya udem serebri, tapi tidak terlalu berpengaruh sehingga gejala diatas jarang atau tidak
dijumpai. Dari anamnesis, tidak ditemukan tanda – tanda dari peningkatan tekanan intrakranial
seperti yang dijelaskan diatas.

Berdasarkan anamnesis dan uraian diatas, pasien merupakan suspek stroke non
hemoragik. Berikut tabel yang menggambarkan hal tersebut :

Nomor Gejala Keluhan pasien Infark (SNH)

1 Onset atau awitan Mendadak Mendadak

2 Saat mulainya onset Istirahat Istirahat

3 Peringatan atau gejala Tidak ada Biasa didahului oleh


awal TIA

4 Nyeri kepala Tidak ada Bisa ada bisa tidak

5 Kejang kejang Tidak ada Tidak ada

6 Muntah Tidak ada Tidak ada

7 Penurunan kesadaran Ada Bisa ada bisa tidak


Dari hasil pemeriksaan fisik, didapatkan tekanan darah pasien 130/90 dimana
berdasarkan JNC 8 untuk umur pasien yang 55 th, ini termasuk dalam Blood Pressure
Goal,artinya tekanan darah pasien saat ini dapat dikategorikan normal, walaupun berdasarkan
European Society of Hypertension hal ini termasuk cukup tinggi. Lalu, juga didapatkan bahwa
nafas pasien cukup cepat (24x/menit) dan ini mengindikasikan adanya permasalahan di saluran
pernafasan pasien. Untuk itu, perlu dilakukan foto thoraks AP untuk menentukan apakah ada
hubungannya dengan keluhan pasien atau tidak. Dari hasil foto thoraks AP didapatkan bahwa
terjadi efusi pleura di basal kiri paru pasien.

Selain itu, pada pemeriksaan reflek, tidak ditemukan adanya reflek patologi pada pasien
dan tanda rangsang meningeal. Untuk reflek fisiologis pasien dalam batas normal. Namun,
seluruh anggota gerak pasien terjadi kelemahan (tetraparesis), dimana pada bagian yang sakit
tidak dapat digerakan dan pada bagian yang sehat hanya dapat digeser.

Melihat hasil pemeriksaan fisik pasien, kemungkinan diagnosa stroke non hemoragik
pada pasien ini semakin besar. Berikut tabel perbandingan antara hasil pemeriksaan fisik pasien
dengan stroke non hemoragik :

Nomor Tanda – tanda Hasil Pemeriksaan Fisik pasien Infark ( SNH )

1 Bradikardi Tidak ada Bisa ada bisa tidak

2 Udem papil Tidak ada Tidak ada

3 Kaku kuduk Tidak ada Tidak ada

4 Tanda Kernig, Tidak ada Tidak ada


Brudzinsky

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan terhadap pasien adalah pemeriksaan darah


rutin, kimia darah, elektrolit, foto thoraks AP dan CT Scan kepala tanpa kontras. Hasil
pemeriksaan darah rutin menunjukan bahwa pasien mengalami leukositosis dan anemia ringan.
Sedangkan dari pemeriksaan kimia darah ditemukan albumin pasien rendah dan dari hasil
pemeriksaan elektrolit terlihat bahwa pasien mengalami hipokalemia.

Sementara itu, foto thoraks AP menunjukan bahwa terjadi efusi pleura di basal kiri paru
pasien dan dari hasil CT scan terlihat gambaran hipodens yang menunjukan terjadi nya iskemik
otak. Hal ini semakin menguatkan diagnosa awal. Berikut perbandingan hasil pemeriksaan
penunjang pasien dengan hasil pemeriksaan penunjang pada stroke non hemoragik :

Nomor Pemeriksaan Hasil pemeriksaan pasien Infark ( SNH )

1 Funduskopi Tidak dilakukan Crossing phenomen, silver


wire arteries

2 Pungsi lumbal : Tidak dilakukan Tekanan normal, warna


(Tekanan, Warna, jernih, eritrosit <500/mm3
Eritrosit)

3 Arteriografi Tidak dilakukan Oklusi

4 Echo-encephalografi Tidak dilakukan Ditengah

5 CT scan Lesi hipodens Lesi hipodens

Hasil ini menguatkan diagnosa awal, yaitu pasien mengalami serangan stroke kedua,
yaitu stroke non hemoragik yang disertai beberapa diagnosa lain, yaitu : infeksi ekstrakranial,
anemia ringan, efusi pleura basal paru kiri, hipoalbumin dan hipokalemi.

Untuk tatalaksana awal pasien ini, segera clearkan ABC terlebih dahulu. Karena nafas
pasien cukup cepat, berikan O2 2-4 L dengan nasal kanul. Lalu pasang infus NaCl 0,9 % 20
gtt/menit (makro) untuk kebutuhan cairan pasien.

Untuk antibiotik dapat diberikan cefotaxime injeksi intravena 2 x 1 gr dan untuk


infark serebri atau stroke dapat diberikan citicholine 2 x 500 mg injeksi. Sedangkan untuk
hipokalemia dapat diberikan KSR dan vit B kompleks diberikan sebagai salahsatu diet yang
sangat bermanfaat bagi metabolisme tubuh, seperti dalam menghasilkan energi, produksi sel
darah merah, memperbaiki pencernaan dan lain sebagainya. Pemberian aminofusin L600
dapat memenuhi kebutuhan protein pasien saat pasien tidak mampu untuk diet oral.

Setelah kesadaran pasien membaik, diet perenteral sebaiknya diganti menjadi oral dan
diet TKTP tetap dipertahankan. Selama perawatan, sebaiknya kita memberikan edukasi
kepada pasien dan keluarga pasien mengenai kondisi pasien dan tindakan yang sedang atau
akan dilakukan.