Você está na página 1de 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan definisi pengobatan
komplementer tradisional-alternatif atau sering disebut dengan CAM (Complementary
Alternative Medicine) adalah pengobatan non konvensional yang di tunjukan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, meliputi upaya promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan
kualitas, keamanan, dan efektivitas yang tinggi berlandaskan ilmu pengetahuan
biomedik. Artinya Pengobatan komplementer adalah pengobatan tradisional yang
sudah diakui dan dapat dipakai sebagai pendamping terapi
konvesional/medis. Sedangkan pengobatan alternatif adalah jenis pengobatan yang
tidak dilakukan oleh paramedis/dokter pada umumnya, tetapi oleh seorang ahli atau
praktisi yang menguasai keahliannya tersebut melalui pendidikan yang lain/non
medis.
Terapi Komplementer adalah pengobatan non konvensional yang bukan
berasal dari negara yang bersangkutan. Misalnya, jamu bukan termasuk pengobatan
komplementer tetapi merupakan pengobatan tradisional (WHO).
Terapi Komplementer adalah cara penanggulangan penyakit yang dilakukan
sebagai pendukung pengobatan medis konvensional atau sebagai pengobatan pilihan
lain di luar pengobatan medis yang konvensional.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud terapi komplementer ?
2. Bagaimana analisis dari jurnal terapi kompementer pada pasien Diabetes Mellitus
?
C. Tujuan
1. Mengetahui dan memahami maksud dari terapi komplementer
2. Mengetahui dan memahami analisis jurnal terapi komplementer pada pasien
Diabetes Mellitus

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN TERAPI KOMPLEMENTER


Menurut WHO (World Health Organization), pengobatan komplementer
adalah pengobatan non-konvensional yang bukan berasal dari negara yang
bersangkutan. Jadi untuk Indonesia, jamu misalnya, bukan termasuk pengobatan
komplementer tetapi merupakan pengobatan tradisional. Pengobatan tradisional yang
dimaksud adalah pengobatan yang sudah dari zaman dahulu digunakan dan
diturunkan secara turun – temurun pada suatu negara. Tapi di Philipina misalnya,
jamu Indonesia bisa dikategorikan sebagai pengobatan komplementer.
Terapi komplementer adalah cara Penanggulangan Penyakit yang dilakukan
sebagai pendukung kepada Pengobatan Medis Konvensional atau sebagai Pengobatan
Pilihan lain diluar Pengobatan Medis yang Konvensional.
Berdasarkan data yang bersumber dari Badan Kesehatan Dunia pada tahun
2005, terdapat 75 – 80% dari seluruh penduduk dunia pernah menjalani pengobatan
non-konvensional. Di Indonesia sendiri, kepopuleran pengobatan non-konvensional,
termasuk pengobatan komplementer ini, bisa diperkirakan dari mulai menjamurnya
iklan – iklan terapi non – konvensional di berbagai media

B. ANALISIS jURNAL
1. JURNAL I
Dengan judul

PENGARUH TERAPI AIR PUTIH TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA


DARAH PADA PASIEN DM TIPE 2 DI POLI KLINIK KHUSUS ENDOKRIN
RSUP DR M DJAMIL PADANG TAHUN 2011

A. Intisari

Diabetes Mellitus Tipe 2 ini biasanya menyerang orang – orang yang


menjalankan gaya hidup yang tidak sehat, misalnya kebanyakan makan makanan
berlemak dan berkolesterol namun rendah serat dan vitamin. Keadaan ini memicu
terjadinya obesitas yang merupakan salah satu terjadinya diabetes mellitus tipe 2.
Daniels & Popkin (2010) dalam penelitiannya mengatakan bahwa dengan meminum

2
air putih dapat mengurangi obesitas. Untuk memenuhi kebutuhan serat dan cairan
dapat dilakukan terapi kesehatan yang paling murah dan sangat besar manfaatnya
yaitu dengan membiasakan minum air putih sebanyak – banyaknya, atau
minimal 8 gelas perhari. Komsumsi air putih membantu proses pembuangan semua
racun – racun di dalam tubuh, termasuk gula berlebih (Sudarmoko, 2010). Hal ini
diperkuat dengan penelitian James (2010) bahwa dengan minum air putih
menyebabkan terjadinya pemecahan gula. Untuk membantu mengeluarkan zat-zat
kimia seperti glukosa dan zat-zat melalui ginjal serta proses pembersihan organ
tubuh, diperlukan jumlah cairan yang banyak dalam satu kali pemberian di pagi
hari.

B. Penelitian

Rumah Sakit M.Djamil Padang merupakan rumah sakit rujukan di berbagai


daerah Sumatera Barat, dimana sampai saat ini belum melakukan terapi air putih
dalam intervensi keperawatan pada pasien Diabetes Mellitus. Dari survey awal di
poliklinik khusus endokrin tanggal 19 Maret 2010 didapatkan data melalui
wawancara pasien Diabetes Melitus sebanyak 10 orang kebiasaan mereka tiap
pagi

3
hanya minum air putih 1-2 gelas dan setiap harinya minum sebanyak 7-8
gelas/hari. Berdasarkan data dari rekam medik Rumah Sakit M.Djamil Padang
tanggal 21 Januari 2010 diperoleh data kunjungan poliklinik khusus endokrin
RS.M.Djamil Padang, dimana penyakit diabetes merupakan jumlah kunjungan
tertinggi untuk periode 1 Januari – 31 Desember 2009 tercatat 8.046 orang dan
periode 1 Januari – 31 Desember 2010 tercatat 5626 kunjungan. Sedangkan
data penderita dm tipe 2 untuk periode 1 Januari-31 Desember 2009 tercatat
713 orang, dan periode 1 Januari-31 Desember 2010 tercatat 1923 orang, dan 540
orang diantaranya merupakan kasus baru dari semua kalangan usia dan jenis
kelamin.

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah penelitian ini


adalah “ Berapakah pengaruh terapi air putih terhadap penurunan kadar gula darah
sesaat pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2

C. Kesimpulan.

Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab
sebelumnya maka penelitian ini mengambil kesimpulan :
1. Kadar gula darah sesaat pasien diabetes melitus tipe 2 pada hari ke 1 (sebelum
intervensi) adalah 243,25 mg/dl dan pada hari ke 14 (sesudah intervensi) adalah
240,07 mg/dl pada kelompok kontrol.
2. Kadar gula darah sesaat pasien diabetes melitus tipe 2 pada hari ke 1 (sebelum
dilakukan terapi air putih) adalah 231 mg/dl dan pada hari ke 14 (sesudah
dilakukan terapi air putih) adalah 154,25 mg/dl pada kelompok intervensi.
3. Terdapat perbedaan yang signifikan terapi air putih antara kelompok intervensi
dan kelompok kontrol.

4
2. JURNAL II
Dengan judul
PENGARUH PEMBERIAN AIR REBUSAN DAUN JAMBU BIJI
(PSIDIUM GUAJAVA) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PADA
PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II DI DESA LEYANGAN
KECAMATAN UNGARAN TIMUR

KABUPATEN SEMARANG

A. Intisari
Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) atau Diabetes Mellitus tipe II
lazimnya digunakan obat-obatan antidiabetes oral, diantaranya adalah glinid dan
sulfonilurea sebagai pemicu ekskresi insulin, metformin dan tiazolidindion
sebagai penambah sensitifitas terhadap insulin. Namun pengkonsumsian obat-obat
antidiabetes dalam jangka panjang beresiko buruk terhadap kesehatan dan resiko
resisten sehingga pemberian obat semakin lama semakin tinggi serta obat hipoglikemik
oral (OHO) yang berasal dari bahan sintetis memiliki efek samping diantaranya
gangguan saluran cerna dan hipoglikemia berlebih yang mendorong pembebasan
hormon kortisol, katekolamin, dan hormon pertumbuhan serta timbulnya kerusakan
pembuluh darah (Dalimartha, 2012). Penangan non farmakologi diabetes mellitus tipe II
dapat menggunakan tanaman herbal. Beberapa tanaman yang bisa digunakan sebagai
bahan baku obat diabetes mellitus diantaranya adalah belimbing, brotowali, jagung,
jambu biji, jinten hitam, alpokat, apel dan lain sebagainya (Wasito, 2011; Wijoyo,
2012). Jambu biji (Psidium guajava) adalah tumbuhan yang mudah tumbuh dimana
saja dan tanpa mengenal musim selalu dapat tumbuh dan berbuah lebat. Tanaman
jambu biji banyak terdapat di Desa Leyangan dan daun jambu biji belum banyak
dimanfaatkan dikarenakan kurangnya informasi mengenai manfaat daun jambu biji.
Warga Desa Leyangan banyak yang tidak mengetahui bahwa daun.

5
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penderita diabetes mellitus tipe II di
Desa Leyangan Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang yang berjumlah 170
orang. Besar sampel dalam penelitian adalah 28 sampel, dimana 14 untuk kelompok
intervensi dan 14 untuk kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah teknik pengambilan sampel jenis non random sampling
yaitu pengambilan sampel yang tidak berdasarkan kemungkinan yang dapat
dihitungkan, tetapi semata-mata hanya berdasarkan segi- segi kepraktisan belakang.
Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling
(Nursalam, 2003).
B. Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah eksperimen semu (Quasi Eksperiment). Quasi Eksperiment
merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat sesuatu
” yang dikenakan pada subjek selidik (Notoatmodjo, 2010). Setelah diberikan terapi air
rebusan daun jambu biji (Psidium guajava) selama 7 hari, kelompok intervensi
mengalami penurunan kadar glukosa darah puasa, dan ada perbedaan kadar glukosa
darah puasa antara sebelum dan sesudah pemberian air rebusan daun jambu biji pada
penderita diabetes mellitus tipe II di Desa Leyangan Kec. Ungaran Timur Kab.
Semarang. Penurunan ini disebabkan karena kandungan yang terdapat di dalam daun
jambu biji yaitu tanin dan kalsium. Tanin adalah zat pahit polifenol yang sangat baik
dan cepat mengikat protein. Daun jambu biji (Psidium guajava) adalah herbal yang
bermanfaat sebagai penormal fungsi kelenjar pankreas dengan efek farmakologis
memperlancar sistem sirkulasi darah dalam membantu menormalkan fungsi pancreas
dalam mengatasi diabetes mellitus (Waid, 2011).
C. Kesimpulan
Gambaran kadar glukosa darah puasa pada penderita diabetes mellitus tipe II
sebelum diberikan terapi air rebusan daun jambu biji pada kelompok intervensi dan
kontrol, kadar glukosa darah puasa pada kelompok intervensi sebesar 232,07 mg/dl dan
kadar glukosa darah puasa pada kelompok control sebesar 232,79 mg/dl. Gambaran
kadar glukosa darah puasa pada penderita diabetes mellitus tipe II setelah diberikan
terapi air rebusan daun jambu biji pada kelompok intervensi dan kontrol, kadar glukosa
darah puasa pada kelompok intervensi setelah diberika terapi air rebusan daun jambu
biji sebesar 192,21 mg/dl dan kadar glukosa darah puasa pada kelompok kontrol
sebesar 232,79 mg/dl setelah diberikan air rebusan daun pandan.
6
Ada perbedaan yang signifikan kadar glukosa darah puasa pada kelompok
intervensi sebelum dan setelah diberikan terapi air rebusan daun jambu biji pada
penderita diabetes mellitus tipe II di Desa Leyangan Kec. Ungaran Timur Kab.
Semarang. Dapat dilihat dari hasil p-value 0,000 < α (0,005). Tidak ada perbedaan
yang signifikan kadar glukosa darah puasa pada kelompok kontrol sebelum dan
setelah diberikan terapi air rebusan daun pandan pada penderita diabetes mellitus
tipe II di Desa Leyangan Kec. Ungaran Timur Kab. Semarang. Dapat dilihat dari
hasil p-value 0,703 > α (0,005). Ada pengaruh pemberian terapi air rebusan daun
jambu biji terhadap glukosa darah puasa pada penderita diabetes mellitus tipe II di
Desa Leyangan Kec. Ungaran Timur Kab. Semarang. Dapat dilihat dari hasil p-value
sebesar 0,014 < α (0,005).

3. JURNAL III
Dengan judul
EFEKTIVITAS PENGOBATAN MADU ALAMI TERHADAP
PENYEMBUHAN LUKA INFEKSI KAKI DIABETIK (IKD) (STUDI
KASUS DI PUSKESMAS BANGETAYU DAN PUSKESMAS GENUK
SEMARANG)

A. Intisari
Infeksi Kaki Diabetik atau gangren dapat dicegah dengan perawatan yang tepat dan
efektif. Penelitian-penelitian terdahulu menggunakan iodine povidine dan NaCl untuk
perawatan luka IKD. Tetapi banyak sekali artikel-artikel yang menyatakan bahwa madu
alami adalah cairan yang tepat untuk digunakan sebagai perawatan luka infeksi.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lisbet (2009), hasil yang didapatkan adalah
adanya perubahan yang baik pada luka yg di beri madu alami, serta menurut Haryanto
(2010, ¶2), madu sering digunakan oleh nenek moyang untuk menyembuhkan berbagai
macam penyakit sejak ribuan tahun yang lalu. Salah satunya sebagai penyembuh luka
infeksi.
Madu alami memiliki kandungan yang dapat menyembuhkan IKD. Sebagai contoh
enzim katalase yang berfungsi sebagai antibakteria dan kandungan air yang kurang dari
18% memungkinkan madu untuk menarik pus (nanah) di sekitar area luka yang di oles
dengan madu alami tersebut (Suranto, 2007, hlm.34).
Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh madu

7
alami tehadap penyembuhan IKD (khususnya dengan grade kurang dari 2) dikarenakan
IKD merupakan salah satu penyebab tidak langsung terjadinya kematian pasien diabetes,
banyak peneliti yang meneliti tentang terapi madu untuk luka bukan IKD (sebagai
contoh adalah luka bakar dan luka pasca bedah) dan pada lingkup Puskesmas (tempat
peneliti melakukan penelitian) didapatkan data bahwa hampir semua pasien diabetes
dengan luka IKD lebih dari grade 2 dirujuk ke Rumah Sakit terdekat.

B. Penelitian
Populasi di ambil diarea kerja puskesmas Bangetayu dan Genuk Semarang pada bulan
September 2011 – Februari 2012 ada 6 responden di wilayah kerja Puskesmas
Bangetayu Semarang dan ada 8 responden di wilayah kerja Puskesmas Genuk Semarang
yang menderita IKD. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan total sampling. NaCl
dan Madu alami (kandungan air kurang dari 18%), dimana apabila luka dirawat dengan
menggunakan kombinasi dari keduanya, karena NaCl memiliki sifat isotonis (aman
untuk digunakan sebagai membersihkan luka) dan sifat madu sendiri dapat
menumbuhkan granulasi jaringan yang baik, serta menimbulkan efek lembab (luka akan
mengalami penyembuhan bila kondisi disekitar luka lembab).

C. Kesimpulan
Dari hasil analisis data sebanyak 7 responden pada kelompok pembanding memiliki
range skor 8-10 yang berarti tidak ada perubahan, sebaliknya sebanyak 7 responden pada
kelompok perlakuan memiliki range skor 10- 14 yang berarti ada perubahan. Hasil
analisis bivariat didapatkan hasil nilai probabilitas sebesar 0,008 lebih kecil
dibandingkan taraf signifikan 5% atau 0,05. Hasil akhir dapat disimpulkan bahwa
penggunaan madu alami (kandungan air kurang dari 18%) dan NaCl lebih efektif.

8
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Terapi Komplementer adalah pengobatan non konvensional yang
bukan berasal dari negara yang bersangkutan. Misalnya, jamu bukan termasuk
pengobatan komplementer tetapi merupakan pengobatan tradisional (WHO).
Terapi Komplementer adalah cara penanggulangan penyakit yang dilakukan
sebagai pendukung pengobatan medis konvensional atau sebagai pengobatan pilihan
lain di luar pengobatan medis yang konvensional.

9
DAFTAR PUSTAKA

http://ejournal.unisba.ac.id/indeks.php/gmhc/article/view/1523
http://eprints.ums.ac.id/36780
http://ejournal.stikestelogorejo.ac.id/ejournal/indeks.php/ilmukeperawatan/article/view/97

10