Você está na página 1de 25

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Medis

2.1.1 Pengertian

Anemia adalah penurunan kadar hemoglobin (Hb), hematokrit atau hitung

eritrosit (red cell count) berakibat pada penurunan kapasitas pengangkutan

oksigen oleh darah. Tetapi harus diingat pada keadaan tertentu dimana ketiga

parameter tersebut tidak sejalan dengan massa eritrosit, sepeti pada dehidrasi,

perdarahan akut, dan kehamilan. Oleh karena itu dalam diagnosis anemia tidak

cukup hanya sampai kepada label anemia tetapi harus dapat ditetapkan penyakit

dasar yang menyebabkan anemia tersebut.(Sudoyo aru, 2006)

Anemia adalah suatu kondisi tubuh dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam

darah lebih rendah dari normal (WHO, 2011). Hemoglobin adalah salah satu

komponen dalam sel darah merah/eritrosit yang berfungsi untuk mengikat

oksigen dan menghantarkannya ke seluruh sel jaringan tubuh. Oksigen

diperlukan oleh jaringan tubuh untuk melakukan fungsinya. Kekurangan oksigen

dalam jaringan otak dan otot akan menyebabkan gejala antara lain kurangnya

konsentrasi dan kurang bugar dalam melakukan aktivitas (Kemenkes RI, 2016).

Melihat beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan Anemia adalah

rendah nya kadar hemoglobin di dalam tubuh di bawah batas normal. Menurut

WHO (1968) dinyatakan anemia jika pada laki-laki dewasa kadar hemoglobin

dalam darah <13 g/dl dan pada wanita dewasa tidak hamil <12 g/dl.
7

2.1.2 Anatomi dan Fisiologi

2.1.2.1 Tinjauan Anatomi

Gambar 2.1 Anatomi Darah

Sel darah merah atau eritrosit berbentuk cakram bikonkaf yang tidak

berinti dan berdiameter sekitar 8 µm. Namun sangat fleksibel sehingga mampu

melewati kapiler yang diameternya 4 µm. Tebal bagian tepi 2 µm pada

umumnya pada bagian tengah tebalnya hanya 1µm atau kurang. Membran sel

darah merah sangat tipis sehingga gas seperti oksigen dan karbondioksida dapat

dengan mudah berdifusi melaluinya. Sel darah merah dewasa terdiri atas

hemoglobin yang menyusun sampai 95% massa sel. Sel ini tidak mempunyai inti

dan hanya sedikit memiliki enzim metabolisme dibandingkan sel lainnya.

Adanya sejumlah besar hemoglobin memungkinkan sel ini menjalankan fungsi

utamanya yaitu sebagai alat pengangkut oksigen antara paru dan jaringan

(Muttaqin, 2009).

2.1.2.2 Tinjauan Fisiologi

Fungsi utama sel darah merah adalah membawa oksigen dari paru ke

jaringan. Eritrosit mempunyai kemampuan khusus untuk melakukan fungsi ini


8

karena kandungan hemoglobin nya tinggi. Apabila tidak ada hemoglobin,

kapasitas membawa oksigen darah dapat berkurang sampai 99% dan tentunya

tidak mencukupi kebutuhan metabolisme tubuh.

Fungsi penting hemoglobin adalah kemampuannya mengikat oksigen

dengan mudah dan reversibel akibatnya, oksigen langsung terikat dalam paru

diangkut sebagai oksihemoglobin dalam darah arterial, dan langsung terurai dari

hemoglobin dalam jaringan. Dalam darah vena, hemoglobin bergabung dengan

ion hidrogen yang dihasilkan oleh metabolisme sel, sehingga dapat menjaga

kelebihan asam (Muttaqin, 2009).

2.1.3 Etiologi

Berkurangnya sel darah merah dapat disebabkan oleh kekurangan kofaktor

untuk eritropoiesis, seperti asam folat, vitamin B12, dan besi. Produksi sel darah

merah juga dapat turun apabila sumsum tulang tertekan (oleh tumor atau obat)

atau ransangan yang tidak memadai karena kekurangan eritropoetin seperti yang

terjadi pada penyakit ginjal kronis peningkatan penghancuran sel darah merah

dapat terjadi akibat aktivitas sistem retikuloendotelial yang berlebihan misalnya

hipersplenisme atau akidah sumsum tulang yang menghasilkan sel darah merah

abnormal (Muttaqin, 2009).

2.1.4 Patofisiologi

Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum tulang atau

kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum

tulang (misalnya, berkurangnya eritropoiesis) dapat terjadi akibat kekurangan

nutrisi, terpapar zat toksik, infeksi tumor, atau kebanyakan akibat idiopatik. Sel

darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi). Pada
9

kasus yang disebut terakhir, masalahnya dapat terjadi akibat defek sel darah

merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat

beberapa faktor di luar sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah

merah.

Lisis darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau

dalam sistem retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Sebagai efek

samping proses ini, bilirubin yang terbentuk dalam fagosit akan memasuki aliran

darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera

direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma. Konsentrasi normalnya 1

mg/dl atau kurang, kadar di atas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sklera.

Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, seperti

yang terjadi pada berbagai kelainan hemolitik, maka hemoglobin akan muncul

dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasma nya melebihi

kapasitas hemoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk

mengikat semuanya (misal, pada jumlah nya lebih dari 100 mg/dl), hemoglobin

akan berdifusi ke dalam glomerulus ginjal dan ke dalam urine hemoglobinuria.

Jadi ada atau tidak tidak adanya hemoglobin ilmiah atau hemoglobinuria dapat

memberikan informasi mengenai lokasi penghancuran sel darah merah abnormal

pada klien dengan hemolisis dan dapat merupakan petunjuk untuk mengetahui

sifat proses hemolitik tersebut.

Kesimpulan mengenai apakah anemia pada klien tertentu disebabkan oleh

penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak

mencukupi, biasanya dapat diperoleh dengan dasar hitung retikulosit dalam

sirkulasi darah, derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang
10

dan cara pemasangannya, seperti yang terlihat dengan biopsi, serta ada atau

tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia (Muttaqin, 2009).

2.1.5 Tanda dan Gejala

2.1.5.1 Manifestasi klinis yang sering muncul (Nurarif, 2015)

1) Pusing

2) Mudah berkunang-kunang

3) Lesu

4) Aktivitas kurang

5) Rasa mengantuk

6) Susah konsentrasi

7) Cepat lelah

8) Prestasi Kerja fisik/pikiran menurun

2.1.5.2 Gejala khas masing-masing anemia

1) Perdarahan berulang/kronik pada anemia pasca perdarahan, anemia

defisiensi besi.

2) Ikterus, urine berwarna kuning tua /coklat perut mrongkol/makin buncit

pada anemia hemolitik.

3) Mudah infeksi pada anemia aplastik dan anemia karena keganasan.

2.1.5.3 Pemeriksaan fisik

1) Tanda-tanda anemia umum: pucat, takikardi, pulsus celer, suara pembuluh

darah spontan, bising karotis, bising sistolik anorganik, pembesaran jantung.

2) Manifestasi khusus pada anemia

(1) Defisiensi besi spon nail, glositis

(2) Defisiensi B12 paresis ulkus di tungkai


11

(3) Hemolitik Ikterus splenomegali

(4) Aplastic anemia biasa tanya berat atau perdarahan dan infeksi

2.1.6 Pemeriksaan Penunjang

2.1.6.1 Pemeriksaan laboratorium

1) Tes penyaring, tes ini dikerjakan pada tahap awal pada setiap kasus anemia.

Dengan pemeriksaan ini, dapat dipastikan adanya anemia dan bentuk morfologi

anemia tersebut. Tulisan ini meliputi pengkajian pada komponen-komponen

berikut ini: kadar hemoglobin, indeks eritrosit, (MCV, MCH, MCHC) apusan

darah tepi

2) Pemeriksaan darah seri anemia: hitung leukosit, trombosit, laju endap darah

(LED), dan hitung retikulosit.

3) Pemeriksaan sumsum tulang: pemeriksaan ini memberikan informasi

mengenai keadaan sistem hematopoiesis

4) Pemeriksaan atas indikasi khusus: pemeriksaan ini untuk mengkonfirmasi

dugaan diagnosis awal yang memiliki komponen berikut ini:

(1) Anemia defisiensi besi serum iron, TIBC, saturasi transferin, dan feritin

serum.

(2) Anemia megaloblastik asam folat darah atau eritrosit vitamin B12.

(3) Anemia hemolitik hitung retikulosit test coombs dan elektroforesis Hb.

(4) Anemia pada leukimia akut biasanya dilakukan pemeriksaan sitokimia.

5) Pemeriksaan laboratorium nonhematologis: faal ginjal, faal endokrin, asam

urat, faal hati, biakan kuman.

6) Radiologi thorax, bone survei, USG, atau limfangiografi

7) Pemeriksaan sitogenetik.
12

8) Pemeriksaan biologi molekuler (PRC = polymerase chain raction, FISH

fluorescence in situ hybridization).

2.1.7 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab atau

mengganti darah yang hilang penatalaksanaan anemia berdasarkan penyebabnya

yaitu:

2.1.7.1 Anemia aplastik

Dengan transplantasi sumsum tulang dan terapi imunosupresif dengan

Antithimocyte globulin (ATG) yang diperlukan melalui jalur Sentral selama 7-10

hari. Prognosis buruk jika transplantasi sumsum tulang tidak berhasil bila

diperlukan dapat diberikan transfusi RBC rendah leukosit dan platelet.

2.1.7.2 Anemia pada penyakit ginjal

Pada pasien dialisis harus ditangani dengan pemberian besi dan asam folat

kalau tersedia dapat diberikan eritropoietin rekombinan.

2.1.7.3 Anemia pada penyakit kronis

Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak memerlukan

penanganan untuk anemia dengan menangani kelainan yang mendasari maka

anemia akan terobati secara sendirinya.

2.1.7.4 Anemia pada defisiensi besi dan asam folat

Dengan pemberian makan yang adekuat pada defisiensi besi diberikan

sulfas ferosus 3x10 mg/hari transmusi dari berikan bila kadar Hb kurang dari 5 g

%.

2.1.7.5 Anemia megaloblastik


13

1) Defisiensi vitamin B12 ditandai dengan pemberian vitamin B12 bila

defisiensi disebabkan oleh defek absorbsi atau tidak tersedianya faktor intrinsik

dapat diberikan vitamin B12 dengan injeksi IM.

2) Untuk mencegah kekambuhan anemia terapi vitamin B12 harus diteruskan

selama hidup pasien yang menderita anemia pernisiosa atau malabsorbsi yang

tidak dapat dikoreksi.

3) Pada anemia defisiensi asam folat diberikan asam folat 3x5 mg/hari.

4) Anemia defisiensi asam folat pada pasien dengan gangguan absorbsi

penanganannya dengan diet dan penambahan asam folat 1 mg/hari secara IM.

2.1.7.6 Anemia pasca perdarahan dengan memberikan transfusi darah dan

plasma dalam keadaan darurat diberikan cairan intravena dengan cairan infus

apa saja yang tersedia.

2.1.7.7 Anemia hemolitik dengan pemberian transfusi darah menggantikan darah

yang hemolisis.

2.1.8 Komplikasi

2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

Asuhan Keperawatan adalah faktor penting dalam survival pasien dan

dalam aspek-aspek pemeliharaan, rehabilitatif, dan preventif perawatan

kesehatan. Untuk sampai dalam hal ini, profesi keperawatan telah

mengidentifikasi proses pemecahan masalah yang “menggabungkan elemen

yang paling diinginkan dari seni keperawatan dengan elemen yang paling

relevan dari sistem teori, dengan menggunakan metode ilmiah” (Doenges,

2014).
14

Proses keperawatan ini diperkenalkan pada tahun 1950-an sebagai

proses yang terdiri atas tiga tahap; pengkajian, perencanaan dan evaluasi yang

didasarkan pada metode ilmiah pengamatan, pengukuran, pengumpulan data,

dan penganalisaan temuan. Kajian selama bertahun-tahun, penggunaan dan

perbaikan telah mengarahkan perawat pada pengembangan proses keperawatan

menjadi lima langkah yang konkrit (pengkajian, identifikasi masalah,

perencanaan, implementasi, dan evaluasi) yang memberikan metode efisien

tentang pengorganisasian proses berpikir untuk pembuatan keputusan klinis.

Kelima langkah ini adalah pusat untuk tindakan keperawatan dan memberikan

asuhan pasien secara individual dan kualitas yang lebih tinggi dalam berbagai

situasi (Doenges, 2014).

Dalam proses keperawatan mencakup pengkajian, diagnosa

keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

2.2.5 Pengkajian

Data dasar pengkajian klien dengan asma bronkial menurut Doenges (2014)

adalah :

2.2.5.1 Aktivitas / istirahat

1) Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum. Kehilangan produktivitas ;

penurunan semangat untuk bekerja. Toleransi terhadap latihan rendah.

Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak.

2) Tanda : takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu bekerja atau istirahat.

Letargi, menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya.

Kelemahan otot, dan penurunan kekuatan. Ataksia, tubuh tidak tegak. Bahu
15

menurun, postur lunglai, berjalan lambat, dan tanda-tanda lain yang

menunujukkan keletihan.

2.2.5.2 Sirkulasi

1) Gejala : riwayat kehilangan darah kronik, misalnya perdarahan GI kronis,

menstruasi berat (DB), angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan). Riwayat

endokarditis infektif kronis. Palpitasi (takikardia kompensasi).

2) Tanda : TD : peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi

melebar, hipotensi postural. Disritmia : abnormalitas EKG, depresi segmen ST

dan pendataran atau depresi gelombang T; takikardia. Bunyi jantung : murmur

sistolik (DB). Ekstremitas (warna) : pucat pada kulit dan membrane mukosa

(konjuntiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku. (catatan: pada pasien kulit

hitam, pucat dapat tampak sebagai keabu-abuan). Kulit seperti berlilin, pucat

(aplastik, AP) atau kuning lemon terang (AP). Sklera : biru atau putih seperti

mutiara (DB). Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke kapiler

dan vasokontriksi kompensasi) kuku : mudah patah, berbentuk seperti sendok

(koilonikia) (DB). Rambut : kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban secara

premature (AP).

2.2.5.3 Integritas ego

1) Gejala : keyakinanan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan,

misalnya penolakan transfusi darah.

2) Tanda : depresi.

2.2.5.4 Eleminasi
16

1) Gejala : riwayat pielonefritis, gagal ginjal. Flatulen, sindrom malabsorpsi

(DB). Hematemesis, feses dengan darah segar, melena. Diare atau konstipasi.

Penurunan haluaran urine.

2) Tanda : distensi abdomen.

2.2.5.5 Makanan/cairan

1) Gejala : penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani

rendah/masukan produk sereal tinggi (DB). Nyeri mulut atau lidah, kesulitan

menelan (ulkus pada faring). Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia. Adanya

penurunan berat badan. Tidak pernah puas mengunyah atau peka terhadap es,

kotoran, tepung jagung, cat, tanah liat, dan sebagainya (DB).

2) Tanda : lidah tampak merah daging/halus (AP; defisiensi asam folat dan

vitamin B12). Membrane mukosa kering, pucat. Turgor kulit : buruk, kering,

tampak kisut/hilang elastisitas (DB). Stomatitis dan glositis (status defisiensi).

Bibir : selitis, misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah (DB).

1.2.2.6 Neurosensori

1) Gejala : sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidak mampuan

berkonsentrasi. Insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada mata.

Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; parestesia tangan/kaki (AP) ;

klaudikasi. Sensasi manjadi dingin.

2) Tanda : peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental : tak

mampu berespons, lambat dan dangkal. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik,

AP). Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang (aplastik). Gangguan koordinasi,

ataksia, penurunan rasa getar, dan posisi, tanda Romberg positif, paralysis (AP).

1.2.2.7 Nyeri/kenyamanan
17

1) Gejala : nyeri abdomen samara : sakit kepala (DB)

1.2.2.8 Pernapasan

1) Gejala : riwayat TB, abses paru. Napas pendek pada istirahat dan aktivitas.

2) Tanda : takipnea, ortopnea, dan dispnea.

1.2.2.9 Keamanan

1) Gejala : riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia,. Riwayat terpajan

pada radiasi; baik terhadap pengobatan atau kecelekaan. Riwayat kanker, terapi

kanker. Tidak toleran terhadap dingin dan panas. Transfusi darah sebelumnya.

Gangguan penglihatan, penyembuhan luka buruk, sering infeksi.

2) Tanda : demam rendah, menggigil, berkeringat malam, limfadenopati

umum. Ptekie dan ekimosis (aplastik).

1.2.2.10 Seksualitas

1) Gejala : perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia atau amenore

(DB). Hilang libido (pria dan wanita). Impoten.

2) Tanda : serviks dan dinding vagina pucat.

1.2.2.11 Penyuluhan/pembelajaran

1) Gejala : kecenderungan keluarga untuk anemia(DB/AP), penggunaan

antikonvulsan masalalu/saat ini, antibiotik, agen khemotherapi (gagal sumsum

tulang), aspirin, obat anti inflamasi, antikoagulan. Penggunaan alkohol kronis.

Adanya/berulangnya episode perdarahan aktif (DB). Riwayat penyakit hati,

ginjal, masalah hematologi, penyakit seliak/ penyakit malabsorpsi lain, enteritis

regional, manifestasi cacing pita, poliendokrinopati, masalah auto imun,

(misaknya, antibodi pada sel parietal, faktor intrinsik, antibodi tiroid dan sel T).

Pembedahan sebelumnya misalnya, misalnya splenektomi, eksisi tumor,


18

penggantian katup protestik, eksisi bedah duodenum atau reseksi gaster,

gastrektomi parsial/total (DB/AP). Riwayat adanya masalah dengan

penyembuhan luka atau perdarahan, infeksi kronis,(RA), penyakit granulomatus

kronis, atau kangker (sekunder anemia)

Bagan 2.1 Penyimpangan KDM Asma Bronkial (Nurarif & Kusuma, 2015)

2.2.6 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan dan

mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respons terhadap masalah aktual dan

risiko tinggi (Doenges, 2014).


19

Menurut Doenges (2014) diagnosa keperawatan Asma adalah sebagai

berikut :

1) Bersihan jalan napas, tak efektif berhubungan dengan peningkatan

produksi sekret, sekresi tertahan, tebal, sekresi kental.

2) Pola pernapasan, tak efektif berhubungan dengan sekret banyak.

3) Pertukaran gas, kerusakan berhubungan dengan gangguan suplai oksigen

(obstruksi jalan napas oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara).

4) Nutrisi, perubahan, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

dispnea, kelemahan, produksi sputum, anoreksia mual/muntah.

5) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai

dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum.

6) Ansietas/ketakutan berhubungan dengan ancaman/perubahan sataus

kesehatan, adanya ancaman kematian.

2.2.7 Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan adalah preskripsi untuk perilaku spesifik yang

diharapkan dari pasien dan/atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat.

Tindakan/intervensi keperawatan dipilih untuk membantu pasien dalam

mencapai hasil pasien yang diharapakan dan tujuan pemulangan. Harapannya

adalah bahwa perilaku yang diprekripsikan akan menguntungkan pasien dan

keluarga dalam cara yang dapat diprediksi, yang berhubungan dengan masalah

yang diidentifikasi dan tujuan yang telah dipilih.

Intervensi ini mempunyai maksud mengindividualkan perawatan dengan

memenuhi kebutuhan spesifik pasien serta harus menyertakan kekuatan-

kekuatan pasien yang telah diidentikasi bila memungkinkan. Intervensi


20

keperawatan harus spesifik dan dinyatakan dengan jelas, dimulai dengan kata

kerja aksi. Pengkualifikasi seperti bagaimana, kapan, di mana, frekuensi, dan

besarnya memberikan isi dari aktivitas yang direncanakan (Doenges, 2014).

Dari diagnosa keperawatan yang telah disusun, maka intervensi atau

rencana tindakan keperawatan klien dengan Asma Bronkial menurut Doenges

(2014), adalah :

2.2.7.1 Bersihan jalan napas, tak efektif berhubungan dengan peningkatan

produksi sekret, sekresi tertahan, tebal, sekresi kental.

Tujuan : bersihan jalan napas kembali efektif.

Kriteria haslil :

1) Mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih/jelas.

2) Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas, mis., batuk

efektif dan mengeluarkan sekret.

Intervensi :

1) Kaji/pantau frekuensi pernapasan.

Rasional : Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan

pada penerimaan atau selama stres/adanya proses infeksi akut. Pernapasan

dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.

2) Auskultasi bunyi napas.

Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan

napas dan dapat/tak dimanifestasikan adanya bunyi napas adventisius, mis.,

penyebaran, krekels basah (bronkitis); bunyi napas redup dengan ekspirasi

mengi (emfisema); atau tak adanya bunyi napas (asma berat).


21

3) Pertahankan polusi lingkungan minimum, mis., debu, asap, dan bulu bantal

yang berhubungan dengan kondisi individu.

Rasional : Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat mentriger episode

akut.

4) Dorong/bantu latihan napas abdomen atau bibir.

Rasional : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol

dispnea dan menurunkan jebakan udara.

5) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian nebulizer

Rasional : Kelembaban menurunkan kekentalan sekret mempermudah

pengeluaran dan dapat membantu menurunkan/mencegah pembentukan

mukosa tebal pada bronkus.

2.2.7.2 Pola pernapasan, tak efektif berhubungan dengan sekret banyak.

Tujuan : Pola napas kembali efektif.

Kriteria hasil :

1) Menunjukkan pola napas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam

rentang normal dan paru jelas/bersih.

2) Berpartisipasi dalam aktivitas atau perilaku meningkatkan fungsi paru.

Intervensi :

1) Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan dan ekspansi dada.

Rasional : Kecepatan biasanya meningkat. Dispnea dan terjadi peningkatan

kerja tanpa napas (pada awal atau hanya tanda EP subakut). Kedalaman

pernapasan bervariasi tergantung derajat gagal napas.


22

2) Auskultasi bunyi napas normal dan suara nafas tambahan.

Rasional : Bunyi napas menurun atau tak ada bila jalan napas obstruksi

sekunder terhadap perdarahan, bekuan atau kolaps jalan napas kecil

(atelektasis). Ronkhi dan mengi menyertai obstruksi jalan napas/kegagalan

pernapasan.

3) Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi.

Rasional : Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan

pernapasan. Pengubahan posisi dan ambulasi meningkatkan pengisian udara

segmen paru berbeda sehingga memperbaiki difusi gas.

4) Dorong/bantu pasien dalam napas dalam dan latihan batuk. Penghisapan

peroral atau nasotrakeal bila diindikasikan.

Rasional : dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi

dan ditambah ketidaknyamanan upaya bernapas.

5) Berikan oksigen tambahan.

Rasional : Memaksimalkan bernapas dan menurunkan kerja napas.

6) Bantu fisioterapi dada.

Rasional : Memudahkan upaya pernapasan dalam dan meningkatkan drainase

sekret dari segmen paru kedalam bronkus, dimana dapat lebih mempercepat

pembuangan dengan batuk/penghisapan.

7) Siapkan untuk/bantu bronkoskopi.

Rasional : kadang-kadang berguna untuk membuang bekuan darah dan

membersihkan jalan napas.

2.2.7.3 Pertukaran gas, kerusakan berhubungan dengan gangguan suplai

oksigen (obstruksi jalan napas oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara).
23

Tujuan : Tidak terjadi kerusakan pertukaran gas.

Kriteria Hasil :

1) Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan

GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distres pernapasan.

Intervensi :

1) Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan.

Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distres pernapsan dan/atau

kronisnya proses penyakit.

2) Auskultasi bunyi napas, catat area penurunan aliran udara dan/atau bunyi

napas tambahan.

Rasional : Bunyi napas mungkin redup karena penurunan aliran udara atau area

konsolidasi. Adanya mengi mengindikasikan spasme bronkus/tertahannya

sekret. Krekels basah menyebar menunjukkan cairan pada

interstisial/dekompensasi jantung.

3) Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang

mudah untuk bernapas.

Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan

latihan napas untuk menurunkan kolaps jalan napas, dispnea dan kerja napas.

4) Dorong mengeluarkan sputum; penghisapan bila diindikasikan.

Rasional : Kental, tebal dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan

pertukaran gas pada jalan napas kecil. Penghisapan dibutuhkan bila batuk tidak

efektif.

5) Awasi tingkat kesadaran/status mental. Selidiki adanya perubahan.


24

Rasional : Gelisah dan ansietas adalah manifestasi umum pada hipoksia. GDA

memburuk disertai bingung/somnolen menunjukkan disfungsi serebral yang

berhubungan dengan hipoksemia.

6) Evaluasi tingkat toleransi aktivitas. Berikan lingkungan tenang dan kalem.

Batasi aktivitas pasien atau dorong untuk tidur/istirahat dikursi selama fase

akut. Mungkinkan pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan tingkatkan

sesuai toleransi individu.

Rasional : Selama distres pernapasan berat/akut/refraktori pasien secara total

tak mampu melakukan aktivitas sehari-hari karena hipoksemia dan dispnea.

Istirahat diselingi aktivita perawatan masih penting dari program pengobatan.

Namun, program latihan ditujukan untuk meningkatkan ketahanan dan

kekuatan tanpa menyebabkan dispnea berat, dan dapat meningkatkan rasa

sehat.

7) Berikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi.

Rasional : Dapat memperbaiki/mencegah memburuknya hipoksia.

2.2.7.4 Nutrisi, perubahan, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

dispnea, kelemahan, produksi sputum, anoreksia mual/muntah.

Tujuan : Tidak terjadi perubahan nutrisi.

Kriteria Hasil :

1) Menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat.

2) Menunjukkan perilaku/perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan/atau

mempertahankan berat yang tepat.


25

Intervensi :

1) Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat derajat kesulitan

makan.

Rasional : Pasien distres pernapasan akut sering anoreksia karena dispnea,

produksi sputum, dan obat.

2) Auskultasi bunyi usus.

Rasional : Penurunan/hipoaktif bising usus menunjukkan penurunan motilitas

gaster dan konstipasi (komplikasi umum) yang berhubungan dengan

pembatasan pemasukan cairan, pilihan makanan buruk, penurunan aktivitas,

dan hipoksemia.

3) Berikan perawatan oral sering, buang sekret, berikan wadah khusus untuk

sekali pakai dan tisu.

Rasional : Rasa tak enak, bau dan penampilan adalah pencegah utama

terhadap nafsu makan dan dapat membuat mual dan muntah dengan

peningkatan kesulitan napas.

4) Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.

Rasional : Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu napas

abdomen dan gerakan diafragma, dan dapat meningkatkan dispnea.

5) Hindari makanan yang sangat panas atau sangat dingin.

Rasional : Suhu ekstrem dapat mencetuskan/meningkatkan spasme batuk.

6) Timbang berat badan sesuai indikasi.

Rasional : Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan

berat badan, dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.


26

7) Konsul ahli gizi/nutrisi pendukung tim untuk memberikan makanan yang

mudah dicerna, secara nutrisi seimbang, mis., nutrisi tambahan oral/selang,

nutrisi parenteral.

Rasional : Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada

situasi/kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal dengan upaya

minimal pasien/penggunaan energi.

2.2.7.5 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara

suplai dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum.

Tujuan : Tidak terjadi intoleransi aktifitas.

Kriteria Hasil :

1) Melaporkan/menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang

dapat diukur dengan tak adanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan tanda vital

dalam rentang normal.

Intervensi :

1) Evaluasi respons pasien terhadap aktivitas.

Rasional : Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan

pilihan intervensi.

2) Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai

indikasi.

Rasional : Menurunkan stres dan rangsangan berlebihan, meningkatkan

istirahat.

3) Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya

keseimbangan aktivitas dan istirahat.


27

Rasional : Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan

kebutuhan metabolik, menghemat energi untuk penyembuhan. Pembatasan

aktivitas ditentukan dengan respons individual pasien terhadap aktivitas dan

perbaikan kegagalan pernapasan.

4) Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan/atau tidur.

Rasional : Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi, atau

menunduk kedepan meja atau brutal.

5) Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan.

Rasional : Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan

kebutuhan oksigen.

2.2.7.6 Ansietas/ketakutan berhubungan dengan ancaman/perubahan sataus

kesehatan, adanya ancaman kematian.

Tujuan : Tidak terjadi ansietas/ketakutan.

Kriteria Hasil :

1) Melaporkan takut/ansietas hilang atau menurun sampai tingkat yang dapat

ditangani.

2) Penampilan rileks dan istirahat/tidur dengan tepat.

Intervensi :

1) Catat derajat ansietas dan takut. Informasikan pasien/orang terdekat bahwa

perasaannya normal dan dorong mengekspresikan perasaan.

Rasional : Pemahaman bahwa perasaan (dimana berdasarkan situasi stres

ditambah ketidakseimbangan oksigen yang mengancam) normal dapat

membantu pasien meningkat beberapa perasaan kontrol emosi.


28

2) Jelaskan proses penyakit dan prosedur dalam tingkat kemampuan pasien

untuk memahami dan menangani informasi. Kaji situasi saat ini dan tindakan

yang diambil untuk mengatasi masalah.

Rasional : Menghilangkan ansietas karena ketidaktahuan dan menurunkan

takut tentang keamanan pribadi.

3) Berikan tindakan kenyamanan. mis., pijatan punggung, perubahan posisi.

Rasional : Alat untuk menurunkan stres dan perhatian tak langsung untuk

meningkatkan relaksasi dan kemampuan koping.

4) Bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku membantu, mis., posisi yang

nyaman, fokus bernapas, teknik relaksasi.

Rasional : Memberikan pasien tindakan mengontrol untuk menurunkan

ansietas dan tegangan otot.

5) Dukung pasien/orang terdekat dalam menerima realita situasi, khusunya

rencana untuk periode penyembuhan yang lama. Libatkan pasien dalam

perencanaan dan partisipasi dalam perawatan.

Rasional : Mekanisme koping dan pasrtisipasi dalam program pengobatan

mungkin meningkatkan belajar pasien untuk menerima hasil yang diharapkan

dari penyakit dan meningkatkan beberapa rasa kontrol.

2.2.8 Implementasi

Implementasi adalah pelaksanaan dari rencana intervensi untuk mencapai

tujuan yang spesifik yang dimulai setelah rencana intervensi disusun dan

ditujukan pada nursing order untuk membantu klien mencapai tujuan yang

diharapkan (Nursalam, 2008).


29

Tindakan keperawatan (implementasi) adalah preskripsi untuk perilaku

positif yang diharapkan dari klien atau tindakan yang harus dilakukan oleh

perawat sesuai dengan apa yang direncanakan. Implementasi dari perencanaan

dicatat dalam catatan kemajuan dan/atau flow-sheet (Doenges, 2014).

Pada fase implementasi proses pengajaran-pembelajaran, pasien,

keluarga, dan anggota tim keperawatan serta tim kesehatan lain, menjalankan

aktivitas yang telah dibuat dalam rencana pengajaran. Semua aktivitas dari

semua individu ini dikoordinasi oleh perawat (Smeltzer & Bare, 2002).

Penting artinya untuk tetap fleksibel selama fase implementasi proses

pengajaran-pembelajaran dan untuk mengkaji respons individu terhadap

strategi pengajaran secara kontinu, membuat perubahan dalam rencana

pengajaran sesuai yang diperlukan. Kreativitas dalam meningkatkan dan

mempertahankan motivasi peserta didik untuk belajar adalah penting, dan

artinya untuk mengantisipasi kebutuhan pembelajaran baru yang mungkin

timbul setelah pemulangan dari rumah sakit atau setelah kunjungan perawatan

rumah berakhir (Smeltzer & Bare, 2002).

Fase implementasi akan selesai jika strategi-strategi pengajaran telah

diselesaikan dan jika respons peserta didik terhadap tindakan telah dicatat.

Catatan ini berfungsi sebagai dasar untuk mengevaluasi sejauh mana tujuan-

tujuan yang telah ditetapkan dan hasil yang diperkirakan telah dicapai

(Smeltzer & Bare, 2002).

Menurut Doenges (2014), komponen tahap implementasi terbagi menjadi

1) Tindakan keperawatan mandiri (dilakukan perawat).


30

2) Tindakan kolaboratif (dilakukan oleh pemberi perawatan lainnya).

2.2.9 Evaluasi

Evaluasi dalam proses pengajaran-pembelajaran diarahkan pada

penentuan seberapa efektifnya individu telah berespons terhadap strategi

pengajaran dan sejauh mana tujuan yang telah dicapai (Smeltzer & Bare,

2002).

Evaluasi asuhan keperawatan sebagai tahap akhir dari proses

keperawatan yang bertujuan untuk menilai hasil akhir dan seluruh tindakan

keperawatan yang telah dilakukan. Evaluasi ini bersifat sumatif, yaitu evaluasi

yang dilakukan sekaligus pada akhir dari semua tindakan keperawatan yang

telah dilakukan dan disebut juga evaluasi pencapaian jangka panjang.

Ada dua alternatif dalam menafsirkan hasil evaluasi, yaitu :

1) Masalah teratasi

Masalah teratasi apabila klien atau keluarga menunjukkan perubahan

tingkah laku dan perkembangan kesehatan sesuai dengan kriteria pencapaian

tujuan yang telah ditetapkan.

2) Masalah belum teratasi

Masalah belum teratasi apabila klien atau keluarga sama sekali tidak

menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan atau bahkan

timbul masalah baru.