Você está na página 1de 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup
sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan mayarakat
yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional.
Untuk itu perlu dilakukan upaya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
(Atikah & Eni, 2012).
Menurut Atikah & Eni (2012), beberapa indikator yang digunakan sebagai
dasar dalam pelaksanaan pola hidup sehat salah satunya adalah Ibu memberikan
ASI saja kepada bayinya selama 4 bulan pertama kelahiran.
Waktu yang direkomendasikan WHO untuk memberikan ASI eksklusif
selama 6 bulan bukan tanpa alasan. Dalam kajian WHO, yang melakukan penelitian
sebanyak 3000 kali, menunjukkan bahwa ASI mengandung semua nutrisi yang
diperlukan bayi untuk bertahan hidup pada 6 bulan pertama, mulai hormon antibodi,
faktor kekebalan, hingga antioksidan. Berdasarkan hal tersebut, WHO kemudian
mengubah ketentuan mengenai ASI eksklusif yang semula hingga 4 bulan menjadi
6 bulan. Sejalan dengan WHO, menteri kesehatan akhirnya menetapkan
perpanjangan pemberian ASI secara eksklusif dari 4 bulan menjadi 6 bulan
(Riksani, 2010).
ASI adalah makanan terbaik dan paling sempurna untuk bayi, kandungan
gizinya yang tinggi dan adanya zat kebal di dalamnya membuat ASI tidak pernah
tergantikan oleh susu formula yang paling hebat dan mahal sekalipun. Selain itu,
ASI juga tidak pernah basi, selama masih dalam tempatnya. Pemberian ASI tidak
hanya menguntungkan bayi, tapi juga menyelamatkan keuangan keluarga di saat
krisis global seiring meningkatnyaharga susu formula. Oleh karna itu, sangatlah
tepat bila departemen kesehatan menganjurkan pemberian ASI dilanjutkan sampai
bayi berumur sekurang kurangnya 2 tahun dengan tambahan makanan pendamping
ASI (MP ASI) (Yuliarti, 2010).
Secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif 0-6 bulan di Indonesia
berfluktuasi dalam 4 tahun terakhir, menurut data Susenas cakupan ASI eksklusif
sebesar 34,3 % pada tahun 2009, tahun 2010 menunjukkan bahwa baru 33,6 % bayi
kita mendapatkan ASI, tahun 2011 angka itu naik menjadi 42 % dan menurut SDKI
tahun 2012 cakupan ASI eksklusif sebesar 27 % (Thesis univrsitas diponogoro.
2012)
Persentase pemberian ASI saja dalam 24 jam terakhir dan tanpa riwayat
diberikan makanan prelakteal pada umur 6 bulan sebesar 30,2 persen. Inisiasi
menyusu dini kurang dari satu jam setelah bayi lahir adalah 34,5 persen, tertinggi
di Nusa Tenggara Barat, yaitu sebesar 52,9 persen dan terendah di Papua Barat
(21,7%) (RisKesDas, 2013).
Menurut data yang diambil dari Profil Dinas Kesehatan Provinsi Nusa
Tenggara Barat tahun 2012 tentang cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi
rata-rata di Provinsi Nusa Tenggara Barat hanya mencapai 57,63 %, cakupan
pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Lombok Tengah sudah mencapai target
yaitu 85,13 % dari 80 % target yang ditetapkan, untuk Kabupaten Lombok barat
cakupan ASI eksklusif mencapai 58,22 %, Kabupaten Lombok timur 67,19 %,
Kabupaten Sumbawa 50,09 %, Kabupaten Dompu 58,47 %, Kabupaten Bima 48,01
%, Kabupaten Sumbawa Barat 52,45 %, Kabupaten Lombok Utara 36,84 %, Kota
Mataram 39,82 % dan Kota Bima 56,74 % (Profil Dinas Kesehatan NTB. 2012)
Data yang diambil di Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat Tahun
2014 tentang status gizi balita dari hasil pemantauan status gizi (PSG) dari 2.978
sampel diperoleh berdasarkan indeks BB/U (%) gizi lebih sebanyak 0.78 %, gizi
baik 77,77 %, gizi kurang 17,07 %, dan gizi buruk 4,38 % sedangkan status gizi
berdasarkan indeks TB/U (%) diperoleh hasil dengan nilai normal sebanyak 62,15
%, pendek 24,88 %, sangat pendek 12,97 % (Data Dinas Kesehatan Lombok Barat.
2014)
Data yang diambil dari Puskesmas Gerung Kabupaten Lombok Barat di
lihat dari jumlah bayi bulan Januari sampai Desember tahun 2014 terdapat 396 bayi
yang dilahirkan, dari total jumlah bayi yang dilahirkan hanya 374 bayi yang
diberikan ASI eksklusif sedangkan 22 bayi diberikan makanan tambahan selain
ASI. Sedangkan data bulan Januari sampai bulan Juni 2015 jumlah bayi sebanyak
440 bayi, dari total jumlah bayi yang dilahirkan hanya 423 bayi yang diberikan ASI
eksklusif sedangkan 17 bayi diberikan makanan tambahan selain ASI (Data
Puskesmas Gerung, 2015).
Data yang diambil dari Polindes Kebon Ayu terdapat 121 bayi yang
dilahirkan terhitung dari bulan Januari sampai bulan Desember 2014 (Data Polindes
Kebon Ayu, 2015).
Berdasarkan uraian latar belakang di atas penulis tertarik untuk melakukan
penelitian untuk mengetahui Pengaruh Pemberian ASI Terhadap Kenaikan Berat
Badan Bayi Usia 6-12 Bulan di Polindes Kebon Ayu Kabupaten Lombok
Barat Tahun 2015
B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas maka, yang menjadi sebuah permasalahan
dalam penelitian ini adalah “Apakah ada Pengaruh Pemberian ASI Terhadap
Kenaikan Berat Badan Bayi Usia 6-12 Bulandi Polindes Kebon Ayu Kabupaten
Lombok BaratTahun 2015?”
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui Apakah ada
Pengaruh Pemberian ASI Terhadap Kenaikan Berat Badan Bayi Usia 6-12 Bulan
di Polindes Kebon Ayu Kabupaten Lombok BaratTahun 2015
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pola pemberian ASImeliputi pemberian ASI secara eksklusif,
predominan dan parsial pada bayi
b. Mengidentifikasi kenaikan berat badan bayi meliputi naik, tetap dan turun
c. Mengetahui pengaruh pemberian ASI terhadap status gizibayi meliputi gizi
lebih, gizi baik dan gizi kurang
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
a. Sebagai sarana untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu dan teori yang
telah di dapatkan di institusi
b. Menambah wawasan serta pengalaman peneliti dalam hal Pengaruh Pemberian
ASI Terhadap Kenaikan Berat Badan Bayi Usia 6-12 Bulan di Polindes Kebon Ayu
Kabupaten Lombok BaratTahun 2015
2. Bagi Petugas Kesehatan
a. Menambah wawasan baru dalam hal Pengaruh Pemberian ASI Terhadap
Kenaikan Berat Badan Bayi Usia 6-12 Bulan di Polindes Kebon Ayu Kabupaten
Lombok BaratTahun 2015
b. Sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat melalui peningkatan Pemberian ASI terhadap kenaikan Berat Badan
Bayi usia 6-12 Bulan.
c. Sebagai bahan masukan bagi materi perkuliahan yang berkaitan dengan asuhan
keperawatan dan kebidanan, serta dapat dipergunakan sebagai bahan bacaan atau
referensi diperpustakaan bagi mahasiswa.
3. Bagi Masyarakat
Untuk meningkat derajat kesehatan dalam hal pengetahuan dan wawasan
mengenai Pemberian ASI Pada Bayi Umur 6-12 Bulan.