Você está na página 1de 40

Kajian Yuridis Penjualan Online Melalui Internet ditinjau dari Aspek Hukum Pajak

Oleh :
Tansah Rahmatullah

Abstract
E-commerce transactions have some very special characteristics that lead to the rather
complicated tax implications of the activities it undertakes. In an e-commerce transaction it is
difficult to determine where e-commerce transactions take place. If the tax payable by the
taxpayer is based on the taxpayer's place of residence, is it difficult to determine where the
taxpayer is located, and which country is entitled to collect taxes to be paid by the virtual
store? This is the cause of complications in tax collection on e-commerce transactions
because it can lead to double taxation (double taxation) and harm the parties either the seller
or the buyer.
Fulfillment of taxation obligations in addition to using fiscal juridical approach, the
approach from the administrative point also needs to be considered. Transactions via e-
commerce are difficult to track without the availability of necessary data or information,
especially if the transactions are made through servers located abroad.
Based on the research results, in the context of Income Tax, the Income Tax Law does not
cover the definition of "permanent establishment" form of the ISP, therefore Article 2
paragraph (5) of the Income Tax Law should ideally be amended and supplemented. The
enactment of taxes on e-commerce transactions should pay attention to technical aspects
related to these activities, when a server must be known and have a definite location of course
this is greatly avoided by the organizers of electronic transactions because it involves the
problem of data security. Required refinement of tax rules relating to Value Added Tax (PPN)
and Incoming Tax (PPh)in an attempt to find a breakthrough of tax revenues PPN and PPh
from the existing e-commerce sector.

Keyword : E-commerce, double taxation, permanent establishment

Abstrak

Transaksi e-commerce memiliki beberapa karakteristik yang sangat khusus sehingga


mengakibatkan implikasi pajak yang agak rumit dari kegiatan yang dilakukannya. Dalam
suatu transaksi e-commerce adalah sulit untuk menentukan di mana transaksi e-commerce itu
berlangsung. Apabila pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak didasarkan pada tempat
kedudukan pembayar pajak, adalah sulit untuk menentukan di mana tempat kedudukan dari
wajib pajak,dan negara mana yang berhak memungut pajak yang harus dibayar oleh toko
maya tersebut ? Hal inilah yang menimbulkan kerumitan dalam pemungutan pajak pada
transaksi e- commerce karena dapat menimbulkan double taxation (pengenaan pajak ganda)
dan merugikan para pihak baik pihak penjual maupun pihak pembeli.
Pemenuhan kewajiban perpajakan disamping menggunakan pendekatan yuridis fiskal,
pendekatan dari segi administratif juga perlu dipikirkan. Transaksi melalui e-commerce sulit
dilacak tanpa tersedianya data atau informasi yang diperlukan, terutama apabila transaksi
tersebut dilakukan melalui server yang berada di luar negeri.
Berdasarkan hasil penelitian, dalam konteks Pajak Penghasilan, Undang-undang Pajak
Penghasilan belum mencakup masalah definisi "bentuk usaha tetap" dari ISP, dengan
demikian Pasal 2 ayat (5) UU PPh idealnya perlu diubah dan ditambah. Pemberlakuan pajak

1
atas kegiatan transaksi e-commerce harus memperhatikan aspek teknis yang berkaitan dengan
kegiatan tersebut, ketika sebuah server harus diketahui dan memiliki lokasi yang pasti
tentunya hal ini sangat dihindari oleh para penyelenggara transaksi elektronik karena
menyangkut masalah keamanan data.Diperlukan penyempurnaan aturan pajak yang berkaitan
dengan pajak PPN dan PPh dalm upaya mencari terobosan penerimaan pajak PPN dan PPh
dari sector e-commerce yang ada saat ini.

Kata Kunci : e-commerce, pengenaan pajak ganda, bentuk usaha tetap

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkembangan internet diawali dengan proyek riset yang disponsori oleh Militer

Amerika Serikat pada tahun 1960 bernama ARPANET (Advanced Research Projects Agency

Network). Project ini pada awalnya dimaksudkan untuk menciptakan alat komunikasi yang

mempunyai daya pegas dan aman serta memungkinkan terciptanya koordinasi antar aktivitas

militer. 1

Dalam perkembangannya, Internet sebagai jaringan komputer terbesar di dunia pada

saat ini digunakan oleh berjuta-juta orang yang tersebar di dunia. Teknologi internet

mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perekonomian dunia. Perekonomian dunia

mengalami perubahan yang sangat drastis disebabkan oleh berkembangnya kegiatan finansial,

produksi, investasi dan perdagangan secara global dengan internet sebagai media teknologi

informasi yang powerfull untuk menciptakan persaingan sekaligus menyatukan ekonomi

dunia sehingga batas-batas antar Negara dalam berbagai praktik bisnis seakan-akan tidak

berlaku lagi. 2

Internet telah pula mengubah cara dan sarana transaksi bisnis. Melalui internet

transaksi-transaksi bisnis yang selama ini dilakukan di dunia nyata dengan menggunakan

kertas kini dapat dilakukan secara elektronik (digital). Transaksi perdagangan tradisional yang

berlangsung di dunia nyata dilakukan dengan menggunakan media kertas artinya komunikasi

dilakukan dengan surat menyurat diatas kertas. Surat tersebut kemudian dikirim melalui pos,

1
Suseno, Sigit, Yurisdiksi Tindak Pidana Siber, Bandung: Refika Aditama, 2012 (hlm.1)
2
Hendra Halwani dalam Buku EKonomi Internasional & Globalisasi Ekonomi sebagai dikutip oleh Dr, Shinta
Dewi, SH. LLM. dalam Buku Cyberlaw Perlindungan Privasi atas Informasi Pribadi dalam E-commerce
Menurut Hukum Internasional, Bandung:Widya Padjadjaran, 2009 (hlm.1)

3
kurir, atau bahkan dikirimkan oleh pegawai perusahaan, dan lain-lain seperti faksimili,

telegram atau teleks yang kesemuanya berbasis kertas (paper).3

Berbeda halnya dengan internet, komunikasi melalui internet adalah komunikasi yang

terjadi di dunia virtual dimana manusia yang berada di dunia nyata dapat mengirimkan tulisan

melalui hubungan surat elektronik (e-mail) atau dengan kata lain tidak ada kertas (paperless)

seiring dengan kemajuan teknologi dan semakin berkembangnya penggunaan internet di

Indonesia, jumlah transaksi online atau yang dikenal dengan e-commerce pun semakin

meningkat. Menurut lembaga riset MarkPlus Insight, Indonesia adalah salah satu pengguna

internet terbesar di dunia. Pada tahun 2013 pengguna internet di Indonesia mencapai 74,57

juta. Dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, penetrasi internet di Indonesia mencapai

sekitar 30% dari total populasi. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pangsa pasar e-

commerce yang potensial. Lembaga riset pemasaran e-Marketer menyatakan bahwa

pertumbuhan bisnis e-commerce di Indonesia pada 2013 diperkirakan mencapai 71 persen.

Angka ini melampaui pertumbuhan e-commerce di negara Tirai Bambu China yang hanya

sebesar 61 persen. Dalam laporan per Juni lalu, e-Marketer menyebutkan nilai transaksi e-

commerce di Indonesia tahun 2013 diperkirakan sebesar USD1,8 miliar atau sekitar Rp18

triliun.4

Sistem berbelanja online di Indonesia terbagi melalui tiga saluran. Pertama, lewat toko

online, seperti lazada.com dan zalora.co.id. Kedua, melalui platform yang mempertemukan

penjual dengan pembeli, sekaligus menjadi forum bagi keduanya, contohnya kaskus.co.id dan

tokobagus.com. Ketiga, melalui jejaring sosial. Dengan semakin meningkatnya pengguna

internet yang diprediksi mencapai 149 juta pada dua tahun mendatang, popularitas sosial

media dan penetrasi telepon seluler yang bisa menjadi peranti akses internet, maka

3
Syahdeini, Sutan Remy, Kejahatan & Tindak Pidana Komputer, Jakarta:PT. Pustaka Utama Grafiti, 2009
(hlm.5)
4
Nur Arianto, Ekstensifikasi Pajak dari Transaksi Perdagangan Online, dalam Artikel Direktorat Jenderal Pajak
Kementerian Keuangan, hlm. 2

4
diperkirakan transaksi e-commerce akan semakin melonjak di tahun-tahun berikutnya. Salah

satu perusahaan konsultan manajemen global terkemuka, Boston Consulting Group,

memprediksi di 2015 nilai transaksi e-commerce di Indonesia mencapai USD10 miliar atau

sekitar Rp100 triliun, dan memprediksi ledakan e-commerce akan terjadi di tahun 2020.5

Kegiatan usaha e-commerce dapat dilakukan melalui apa yang disebut Application

Service Provider (ASP) 6yang biasanya menjadi sarana utama bagi pelaku usaha di bidang ini.

ASP menyediakan disk space untuk disewa pengusaha untuk menawarkan produksinya.

Berbeda dengan transaksi perdagangan biasa, transaksi e-commerce memiliki beberapa

karakteristik yang sangat khusus sehingga mengakibatkan implikasi pajak yang agak rumit

dari kegiatan tersebut. Hal ini terjadi karena Transaksi elektronik antara e-merchant (pihak

yang menawarkan barang atau jasa melalui internet) dengan e-customer, (pihak yang membeli

barang atau jasa melalui internet) terjadi di dunia maya atau di internet, dan pada umumnya

berlangsung secara paperless transaction(transaksi tanpa menggunakan kertas), sedangkan

dokumen yang digunakan dalam transaksi tersebut bukanlah paper document, melainkan

dokumen elektronik (digital document).

Menurut Prof. William Fox dan Donald Bruce dari Universitas Tennessee,7e-commerce

telah menyebabkan dua kehilangan pajak sekaligus. Pertama, e-commerce merupakan

pengganti dan perluasan dari remote sales yang pajaknya tidak pernah dikumpulkan. Kedua,

e-commerce yang merupakan subtitusi atau perluasan juga tidak terjangkau oleh peraturan

pajak atau retribusi lokal, sekalipun yang terbaru. Inilah yang ditunding mengapa banyak

pemerintah melihat e-commerce sebagai salah satu penyebab terbesar hilangnya penerimaan

negara yang amat signifikan.


5
Ibid
6
Penyedia layanan aplikasi (application service provider, ASP) adalah suatu bisnis yang menyediakan layanan
berbasis komputer untuk pelanggan melalui suatu jaringan.Perangkat lunak yang disediakan dengan model ini
sering juga disebut dengan perangkat lunak on-demand atau SaaS (software as a service). Pengertian sangat
terbatas dari bisnis ini adalah penyediaan akses untuk suatu program aplikasi tertentu (seperti tagihan medis)
menggunakan protokol standar seperti HTTP (http://id.wikipedia.org/wiki/Penyedia_layanan_aplikasi)
7
http://ediartikel.blogspot.com/2010/03/pajak-untuk-e-commerce.html (diakses pada tanggal 06/4/2018 jam
10.33 pm)

5
Pemerintah Amerika Serikat sendiri pada bulan maret tahun 2000 dengan alasan defisit

anggaran belanja Negara, mulai memberlakukan pajak atas e-commerce atau e-trading dalam

Proyek yang dikenal dengan nama Streamlined Sales Tax Project (SSTP)8. Menurut Alisa

Shelton sebagaimana dikutip oleh Agung Budilaksono (Widyaiswara Pusdiklat Bea dan

Cukai) dalam artikelnya9, SSTP ini berbenturan dengan keputusan Mahkamah Agung

Amerika yang menyebutkan secara jelas bahwa internet dan catalogue merchants tidak dapat

dipungut pajak penjualannya, karena keduanya tidak memenuhi syarat kehadiran fisik (Nexus)

dalam setiap negara bagian para pelanggannya.

Proyek SSTP ini muncul sebagai tanggapan terhadap upaya Kongres Amerika yang

melarang secara permanen Negara melakukan pengumpulan pajak penjualan pada

perdagangan online. Larangan tersebut dianggap oleh pemerintah akan memiliki konsekuensi

keuangan yang serius bagi Negara. Hal ini terutama didukung oleh pernyataan Mahkamah

Agung Amerika yang tertuang dalam Internet Tax Freedom Act yang ternyata sangat di

setujui oleh Senat Amerika Serikat. Isi dariInternet Tax Freedom Actsendiri adalah melarang

semua negara bagian dan lokal di Amerika untuk memajaki informasi & perdagangan melalui

Internet.

Indonesia sendiri Sejak 1 Januari 2014, Pemerintah telah menetapkan aturan mengenai

batasan Pengusaha Kena Pajak (PKP) yaitu pengusaha yang omzetnya mencapai Rp4,8 miliar.

Dengan demikian, semua pelaku usaha termasuk pebisnis online yang omzetnya mencapai

jumlah tersebut, wajib memungut PPN atas setiap transaksinya. Namun belum ada kepastian

bahwa apakah setiap transaksi online yang dilaksanakan oleh pengusaha e-commerce baik

badan usaha atau orang pribadi yang sudah tergolong PKP, telah memungut PPN dan
8
SSTP tujuannya adalah untuk menyederhanakan dan modernisasi sistem penjualan, penggunaan pengumpulan
pajak dan administrasi di Amerika Serikat, mengeliminasi terjadinya perbedaan di antara tingkatan pajak Negara,
dan juga dapat menghapus hambatan utama dalam pengumpulan pajak pada penjualan online, sekaligus berusaha
meyakinkan Kongres dan pengadilan, dalam upaya memperoleh dukungan untuk dapat mengumpulkan pajak
secara teratur
9
http://www.bppk.depkeu.go.id/webbc/images/stories/file/2011/artikel/upload%205%20agustus%202011/AGUN
G%20BL%20BAGAIMANA%20PERLAKUAN%20PAJAK%20UNTUK%20TRANSAKSI%20E-
COMMERCE%20DI%20INDONESIA.pdf (diakses pada tanggal 06/4/2018 7.52 pm)

6
menyetorkan ke kas negara. Hal inilah yang cukup sulit dideteksi, dikarenakan transaksi e-

commerce sangat berbeda dengan transaksi konvensional.10

Ada banyak kendala yang dihadapi untuk pengenaan pajak atas transaksi online.

Transaksi e-commerce terjadi dalam waktu yang singkat, sehingga sangat sulit untuk melacak

siapa saja pelaku transaksinya. Bentuk barang atau jasa yang diperdagangkan kebanyakan

berformat digital (nonfisik) seperti software, video, musik, e-magazine, sehingga cukup

menyulitkan dalam penentuan obyek pajaknya. Di samping itu, bukti transaksinya adalah

bukti elektronis sehingga membuat transaksi e-commerce semakin susah untuk dideteksi. Dan

kendala yang terakhir adalah bahwa transaksi online tak hanya terjadi di dalam wilayah

pabean Indonesia saja, namun terkadang menembus batas geografis negara lain. Karena

sifatnya lintas negara, banyak perusahaan e-commerce yang menjalankan bisnis secara online

di suatu negara, meskipun tidak ada keberadaan secara fisik perusahaan di negara tersebut.

Hal ini tentu akan menimbulkan kesimpangsiuran mengenai negara mana yang berhak

memungut pajaknya, dikarenakan pengenaan pajak hanya mencakup sebatas di wilayah

teritorial suatu negara. Tak hanya pengenaan PPN dalam transaksi online, tetapi para

pengusaha e-commerce tentunya wajib dikenakan juga Pajak Penghasilan (PPh). Saat ini

memang belum ada aturan khusus mengenai perlakuan PPh atas pengusaha e-commerce,

sehingga masih mengikuti ketentuan pajak penghasilan secara umum. Khusus untuk pelaku

pengusaha e-commerce orang pribadi, pengenaan pajak pada dasarnya dipersamakan dengan

toko konvensional. Sesuai dengan PER-32/PJ/2010 tentang pelaksanaan pengenaan PPh pasal

25 bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu, pengusaha ecommerce orang pribadi

dikenakan PPh sebesar 0,75% dari omzet setiap bulannya. Dengan berlakunya PP Nomor 46

tahun 2013, maka perlakuan pajak pengusaha e-commerce dengan peredaran bruto tidak

melebihi Rp4,8 milliar dikenakan pajak sama dengan pajak UMKM, yaitu 1% dari omzet.

10
Nur Arianto, Op.cit, hlm. 3

7
Namun persoalan akan timbul lagi manakala pajak penghasilan akan dikenakan

terhadap pengusaha ecommerce yang keberadaan fisiknya tidak ada di Indonesia. Dalam

Pasal 2 ayat (5) Undang-Undang PPh, dijelaskan mengenai pengertian Bentuk Usaha Tetap

(BUT) mencakup 3 hal, yaitu pertama ada keberadaan fisik tempat usaha baik berupa tanah,

gedung, peralatan dan mesin. Kedua, adanya aktivitas atau kegiatan usaha yang dilakukan di

Indonesia. Dan yang ketiga, adanya agen yang kedudukannya tidak bebas yang bertindak

untuk dan atas nama orang pribadi atau badan yang tidak bertempat tinggal atau tidak

bertempat kedudukan di Indonesia. Dari penjelasan tersebut, perusahaan e-commerce di luar

Indonesia sulit untuk dikategorikan sebagai BUT. Pasalnya, beberapa perusahaan e-commerce

beserta seluruh asetnya tidak terletak di Indonesia dan tidak melaksanakan kegiatan yang

secara fisik di Indonesia. Padahal bisa saja pendiri dan pemegang saham perusahaan e-

commerce tersebut adalah orang Indonesia, dan notabene target konsumennya adalah orang

Indonesia sendiri. Pengertian BUT sebetulnya dapat dikembangkan jika melibatkan lokasi

server perusahaan tersebut, dan hal ini seharusnya bisa menjadi pintu masuk dalam

mengenakan pajak dalam transaksi e-commerce. Namun sayangnya istilah server belum

diadopsi dalam definisi BUT pada Undang-Undang PPh.

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan

judul “Kajian Yuridis Penjualan Online Melalui Internet ditinjau dari Aspek Hukum

Pajak”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang, maka permasalahan yang akan dibahas dalam

penelitian ini yaitu :

1. Bagaimana Pengaturan Penjualan Online melalui internet ditinjau dari aspek

hukum pajak?

8
2. Apa Faktor-faktor penghambat penjualan online dikenakan wajib pajak

usaha?

3.1. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaturan penjualan online melalui internet ditinjau dari

aspek hukum pajak

2. Untuk mengetahui faktor-faktor penghambat penjualan online dikenakan wajib

pajak usaha?

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penulisan skripsi ini antara lain:

1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini di harapkan dapat di gunakan untuk memberikan sumbangan

pemikiran dan pengembangan pengetahuan ilmu hukum, khususnya Hukum Perdata

mengenai Penjualan Online melalui internet ditinjau dari aspek hukum pajak

2. Manfaat Praktis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang Penjualan

Online melaui internet ditinjau dalam aspek hukum pajak

b. Memberikan pemikiran atau solusi mengenai masalah yang berkaitan

dengan Penjualan Online

c. Dapat dijadikan pedoman bagi para pihak atau peneliti lain yang ingin

mengkaji secara mendalam tentang penjualan online di tinjau dari hukum

pajak

9
d. Penelitian ini sebagai bahan latihan dalam penulisan karya ilmiah sekaligus

menambah ilmu pengetahuan bagi peneliti tentang Penjualan online melalui

internet ditinjau dari aspek hukum pajak

10
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gambaran Umum E-commerce

Teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah perilaku masyarakat dan

peradaban manusia secara global. Perkembangan Teknologi informasi dan komunikasi juga

telah menyebabkan dunia menjadi tanpa batas (borderless). Globalisasi yang ditandai dengan

pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mampu mendorong

perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dunia. Informasi sebagai komoditi mempunyai

nilai ekonomi tinggi karena tidak semua pihak mampu memproses dari suatu data yang

mentah menjadi suatu informasi yang sesuai dengan kebutuhannya.11

Pada awal tahun 1990-an mulai dikenal perdagangan secara elektronik (electronic

commerce) dimana e-commerce merupakan salah satu mekanisme transaksi yang

menggunakan jaringan komunikasi elektronik seperti internet. Dalam konsep e-commerce

aktivitas transaksi tidak dapat lagi dibatasi dengan batasan geografis karena internet

mempunyai karakteristik lintas batas (borderless).

Dalam konteks hukum, Prof. Dr. H. Ahmad M. Ramli, SH., MH., FCBArb menulis
12
dalam bukunya bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini telah

melahirkan suatu rezim hukum baru yang dikenal dengan hukum siber. Istilah “hukum siber”

diartikan sebagai padanan kata dari Cyber Law, yang saat ini secara internasional digunakan

untuk istilah hukum yang terkait dengan pemanfaatan teknologi informasi. Istilah lain yang

11
Edmon Makarim dalam Kompilasi Hukum Telematika, PT. Raja Grafindo Perkasa, Jakarta, 2003 sebagaimana
dikutip oleh Dr, Shinta Dewi, SH. LLM. dalam Buku Cyberlaw Perlindungan Privasi atas Informasi Pribadi
dalam E-commerce Menurut Hukum Internasional, Bandung:Widya Padjadjaran, 2009 (hlm.2)
12
M. Ramli, Ahmad, Cyberlaw dan HAKI dalam SIstem Hukum Indonesia, Bandung:Refika Aditama, 2010
(hlm. 1)

11
juga digunakan adalah Hukum Teknologi Informasi (Law of Information Technology),

Hukum Dunia Maya (Virtual World Law) dan Hukum Mayantara.

Istilah hukum siber digunakan dengan dilandasari oleh pemikiran bahwa cyber jika

diidentikan dengan “dunia maya” akan cukup menghadapi persoalan ketika terkait dengan

pembuktian dan penegakan hukumnya. Mengingat para penegak hukum akan menghadapi

kesulitan jika harus membuktikan suatu persoalan yang diasumsikan sebagai “maya” (sesuatu

yang tidak terlihat dan semu).


13
Menurut Sutan Remy Electronic Commerce atau disingkat e-commerce adalah

kegiatan-kegiatan bisnis yang menyangkut konsumen (consumers), manufaktur

(manufactures), service providers, dan pedagang perantara (intermediaries) dengan

mengunakan jaringan-jaringan komputer (computer networks), yaitu Internet. E-commerce

sudah meliputi seluruh spektrum kegiatan komersial.

Julian Ding dalam bukunya e-commerce: Law & Practice sebagaimana dikutip Sutan
14
Remy , mengemukakan bahwa e-commerce sebagai suatu konsep tidak didefinisikan. E-

commerce memiliki arti yang berbeda bagi orang yang berbeda. Hal itu seperti kita

mendefinisikan seekor gajah, yaitu tergantung dari di bagian mana dari gajah itu kita lihat

atau pegang, maka akan berbeda pula definisi yang dapat diberikan.

“Electronic Commerce, or e-commerce as it is also known, is a commercial transaction

between a vendor and a purchaser or parties in similar contractual relationships for the

supply of goods, services or the acquisition of “rights”. This commercial transaction is

executed or entered into in an electronic medium (or digital medium) where the

physical presence of the parties is not required, and the medium exist in a public

network or system as opposed to a private network (closed system). The public network

or system must be considered an open system (e.g. the Internet or the World Wide Web).

13
Syahdeini, Sutan Remy, Kejahatan & Tindak Pidana Komputer, Jakarta:PT. Pustaka Utama Grafiti, 2009
(hlm.6)
14
ibid

12
The transactions are concluded regardless of national boundaries or local

requirements”.

Electronic Commerce, ataue-commerce seperti yang juga dikenal, adalah transaksi

komersial antara vendor dan pembeli atau pihak dalam hubungan kontrak yang sama untuk

penyediaan barang, jasa atau akuisisi "hak". Transaksi komersial ini dieksekusi atau

dimasukkan ke dalam media elektronik (atau media digital) di mana kehadiran fisik dari para

pihak tidak diperlukan, dan media yang ada di jaringan publik atau sistem yang bertentangan

dengan jaringan pribadi (sistem tertutup). Jaringan publik atau sistem harus dianggap sebagai

sistem terbuka (misalnya internet atau World Wide Web). Transaksi disimpulkan terlepas dari

batas-batas nasional atau persyaratan local.

Meskipun istilah e-commerce baru memperoleh perhatian beberapa tahun terakhir ini,

tetapi e-commerce telah muncul dalam berbagai bentuknya sudah lebih dari 20 tahun.

Teknologi Electronic Data Interchange (EDI) dan Electronic Funds Transfer (EFT)

diperkenalkan untuk pertama kalinya di akhir tahun 1970-an. Pertumbuhan dan penggunaan

Credit Cards, Automated Teller Machines, dan Telephone Banking di tahun 1980-an juga

merupakan bentuk-bentuk dari e-commerce.

E-commerce merupakan bidang yang multidisipliner (multidisciplinary field) yang

mencakup bidang-bidang teknik seperti jaringan dan telekomunikasi, pengamanan,

penyimpanan dan pengambilan data (retrieval) dari multi media; bidang-bidang bisnis seperti

pemasaran (marketing), pembelian dan penjualan (procurement and purchasing), penagihan

dan pembayaran (billing and payment), dan manajemen jaringan distribusi (supply chain

management); dan aspek-aspek hukum seperti information privacy, hak milik intelektual

(intellectual property), perpajakan (taxation), pembuatan perjanjian dan penyelesaian hukum

lainnya.

13
Pada saat ini, kita menggunakan peralatan elektronik untuk melaksanakan transaksi

komersial sedemikian rupa sehingga kita merasa tidak perlu mengacuhkan implikasiimplikasi

yang akan ditimbulkannya. Misalnya penarikan uang dari ATM, membayar bensin di pompa

bensin dengan menggunakan ATM Cards atau Credit Cards atau Debit Cards. Penggunaan

ATM Cards atau Credit Cards di dalam perdagangan telahmenjadi suatu yang biasa karena

kita tidak lagi merasa bahwa kegiatan-kegiatan tersebut adalah sesuatu yang tidak biasa.

Electronic Commerceatau e-commerce(Perniagaan Elektronik), sebagai bagian dari

Electronic Business (bisnis yang dilakukan dengan menggunakan electronic transmission),

oleh para ahli dan pelaku bisnis dicoba dirumuskan definisinya. Secara umum e-commerce

dapat didefinisikan sebagai segala bentuk transaksi perdagangan atau perniagaan barang atau

jasa (trade of goods and service) dengan menggunakan media elektronik.

E-commerce merupakan bagian dari e-business, di mana cakupan e-business lebih luas,

tidak hanya sekedar perniagaan tetapi mencakup juga kolaborasi di antara mitra bisnis,

pelayanan nasabah, lowongan pekerjaan dll. Selain teknologi jaringan, E-commerce juga

memerlukan teknologi basis-data atau pangkalan data (databases), e-surat atau surat

elektronik (e-mail), dan bentuk teknologi non komputer yang lain seperti halnya sistem

pengiriman barang, dan alat pembayaran untuk E-commerce.

E-commerce digunakan sebagai transaksi bisnis antara perusahaan yang satu dengan

perusahaan yang lain, antara perusahaan dengan pelanggan (customer), atau antara

perusahaan dengan institusi yang bergerak dalam pelayanan publik. Sasaran e-commerce

adalah menciptakan lingkungan komersial yang baru dalam segala bentuknya di abad

elektronik. Di mana beberapa tahap yang umumnya terdapat diantara penjual dan pembeli

dalam transaksi komersial dapat diintegrasikan sekaligus dan otomatis secara elektronik

sehingga dapat meminimalkan biaya transaksi.

14
E-commerce pertama kali diperkenalkan pada tahun 1994 pada saat pertama kali

banner-electronic dipakai untuk tujuan promosi dan periklanan di suatu halaman-web

(website). Menurut Riset Forrester, e-commerce dunia telah menghasilkan penjualan sampai

senilai AS$12,2 milyar pada tahun 2003. Menurut laporan yang lain pada bulan oktober 2006

yang lalu, pendapatan ritel online yang bersifat non-travel di Amerika Serikat diperkirakan

mencapai seperempat trilyun dolar US pada tahun 2011.15

Ada dua jenis e-commerce. Yang pertama adalah front-end e-commerce, yaitu transaksi

melalui e-commerce antara pengusaha (baik pribadi maupun badan hukum) dengan

konsumen. Jenis lainnya adalah back-end e-commerce, yaitu transaksi antara para pengusaha

menyangkut transaksi informasi internal dengan masing-masing pengusaha atau antara para

pelaku usaha menyangkut pertukaran data komersial.

E-commerce merupakan proses pengelolaan transaksi keuangan secara online oleh

individu atau perusahaan. Yang termasuk dalam e-commerce adalah transaksi-transaksi dari

perusahaan ke perusahaan bisnis (business-to-business/B2B), perusahaan ke konsumen

(business-to-consumer/B2C) dan dari perusahaan ke pemerintah (business-

togovernment/B2G). Hal pokok dari e-commerce adalah pada sistem dan prosedur dimana

segala tipe dokumen keuangan dan informasi dihubungkan. Hal ini termasuk transaksi kartu

kredit online, e-cash (kas elektronik), e-billing (tagihan elektronik), e-cheque (cek elektronik),

faktur elektronik, pesanan pembelian dan laporan keuangan.

Pengertian e-commerce yang lainnya sebagaimana diberikan keterangan oleh Peter

Scisco16, bahwa :

15
http://www.bppk.depkeu.go.id/webbc/images/stories/file/2011/artikel/upload%205%20agustus%202011/AGU
NG%20BL%20BAGAIMANA%20PERLAKUAN%20PAJAK%20UNTUK%20TRANSAKSI%20E-
COMMERCE%20DI%20INDONESIA.pdf
16
Catur Muliastuti, Lia,Tesis : Perlindungan Hukum Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Jual Beli Melalui Media
Internet, PPS UNDIP, Semarang, 2010.

15
“Electronic Commerce or e-commerce, the exchange of goods and services by means of

the internet or other computer networks. Ecommerce follows the same basic principles

as traditional commerce –that is, buyers and sellers come together to exchange goods

for money. But rather than conducting business in the traditional way – in stores and

other “brick and mortar” buildings or through mail order catalogs and telephone

operators – in e-commerce buyer and sellers transact businessover networked

Computers.”

Electronic Commerce atau e-commerce, adalah pertukaran barang dan jasa

menggunakan Internet atau jaringan komputer lainnya. E-commerce mengikuti prinsip –

prinsip dasar yang sama dengan perdagangan tradisional yaitu, pembeli dan penjual datang

bersama-sama guna saling menukarkan barang-barang untuk uang. Tetapi tidak sebagaimana

melakukan bisnis dalam cara tradisional – dalam toko – toko dan gedung – gedung “yang

terbagi atas unit dan kelompok” atau melalui katalog surat pesanan dan operator telepon –

dalam e-commerce pembeli dan penjual melakukan transaksi bisnis melalui jaringan

komputer.

Bahwa jasa keuangan merupakan suatu segmen terbesar dari e-commerce. Untuk suatu

imbalan yang kecil, para perantara (brokerages) Investasi online dalam perdagangan saham

(stock) atas nama klien mereka. Para perantara saham secara online biasanya mengenakan

beban imbalan yang lebih rendah daripada perantara saham tradisional. Situs – situs yang lain

membantu konsumen mencari hipotik (mortgages) dan pinjaman online lainnya. Situs

perjalanan (travel) menawarkan suatu metoda dengan menjadwalkan penerbangan,

menyewakan mobil dan booking hotel. Wisatawan dapat merencanakan semua detail

perjalanan bisnis atau liburan mereka, melakukan pesanan dan membeli tiket di situs itu juga.

Situs – situs seperti itu juga menawarkan peta, literatur perjalanan dan informasi booking

untuk perjalanan.

16
2.2. Tinjauan Yuridis E-commerce

Sebelum keluarnya Undang-undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi

Elektronik (UU ITE), kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan e-commerce diatur dalam

berbagai peraturan perundang-undangan seperti Undang-undang nomor 12 tahun 2002 tentang

Hak Cipta, Undang-undang nomor 14 tahun 2001 tentang Paten, Undang-undang nomor 15

tahun 2001 tentang Merek, Undang-undang Telekomunikasi nomor 36 tahun 1999, Undang-

undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dan lain-lain.

Berbelanja atau melakukan transaksi di dunia virtual melalui internet sangat berbeda

dengan melakukan transaksi di dunia nyata. Kenyataan tersebut telah menimbulkan keragu-

raguan mengenai hukum dan yurisdiksi hukum yang mengikat para pihak yang melakukan

transaksi tersebut. Ada sementara pihak yang berpendapat bahwa oleh karena transaksi

tersebut terjadi di dunia virtual, maka hukum yang berlaku di dunia nyata tidak berlaku.

Pendapat ini menjadi kuat karena pada kenyataannya tidak ada pemilik tunggal dari internet.17

Terdapat kebingungan mengenai apakah hukum perdata dan hukum pidana yang

berlaku di dunia nyata berlaku bagi internet (dunia virtual). Sementara banyak pengguna

internet yang memiliki pandangan bahwa dunia internet tidak memiliki hukum, dan sebaiknya

pemerintah tidak mencampuri dan memasuki dunia internet.


18
Lebih lanjut Suta Remy mengatakan bahwa oleh karena interaksi dan perbuatan-

perbuatan hukum yang terjadi melalui atau di dunia virtual adalah sesungguhnya interaksi

antara sesama manusiadari dunia nyata, dan apabila terjadi pelanggaran hak atas perbuatan

hukum melalui atau di dunia virtual itu adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh manusia

dari dunia nyata dan hak yang dilanggar adalah hak dari manusia dari dunia nyata, maka

hukum yang berlaku dan harus diterapkan adalah hukum dari dunia nyata bukan sama sekali

17
Syahdeini, Sutan Remy, Kejahatan & Tindak Pidana Komputer, Jakarta:PT. Pustaka Utama Grafiti, 2009
(hlm.13.)
18
Syahdeini, Sutan Remy, Kejahatan & Tindak Pidana Komputer, Jakarta:PT. Pustaka Utama Grafiti, 2009
(hlm.15.)

17
tidak dapat digunakan. Namun karena persitiwanya berlangsung di atau melalui dunia virtual,

maka tentulah tidak sepenuhnya hukum yang berlaku bagi dunia nyata dapat digunakan.

Kekosongan hukum yang mengatur tentang E-commerce menimbulkan masalah-

masalah seperti berikut ini :19

1. Otentikasi subyek hukum yang membuat transaksi melalui internet;

2. Saat perjanjian berlaku dan memiliki kekuatan mengikat secara hukum ;

3. Obyek transaksi yang diperjualbelikan;

4. Mekanisme peralihan hak;

5. Hubungan hukum dan pertanggungjawaban para pihak yang terlibat dalam

transaksi baik penjual, pembeli, maupun para pendukung seperti perbankan,

internet service provider (ISP),dan lain-lain;

6. Legalitas dokumen catatan elektronik serta tanda tangan digital sebagai alat bukti;

7. Mekanisme penyelesaian sengketa;

8. Pilihan hukum dan forum peradilan yang berwenang dalam penyelesaian sengketa.

9. Masalah perlindungan konsumen, HAKI dan lain-lain.

Sementara itu Sutan Remy dalam bukunya20 menyebut kurang lebih 11 (sebelas)

masalah hukum yang muncul dalam kegiatan e-commerce, yaitu :

1) Pemakaian domain name

2) Terjadinya berbagai kejahatan komputer (computer deviance) dan tindak pidana

computer (computer crime atau cyber crime)

3) Penggunaan data digital sebagai alat bukti hokum

4) Pengakuan “pemberitahuan melalui e-mail” sebagai “pemberitahuan tertulis”

(written notice) menurut hokum

5) Pembajakan internet (internet privacy) berkaitan dengan HAKI

19
Ibid, hlm. 16-17
20
Syahdeini, Sutan Remy, Kejahatan & Tindak Pidana Komputer, Jakarta:PT. Pustaka Utama Grafiti, 2009
(hlm.17.)

18
6) Perlindungan bagi konsumen dalam transaksi e-commerce

7) Pajak atas transaksi e-commerce

8) Bentuk hukum dari hubungan-hubungan antara pihak-pihak yang melakukan

transaksi e-commerce

9) Perlindungan terhadap the right to privacy dalam komunikasi melalui internet

10) Pilihan hukum (choice of law) dalam transaksi e-commerce, yaitu pilihan mengenai

Negara mana yang akan yang akan diberlakukan dalam hal terjadi sengketa antara

pihak-pihak yang melakukan transaksi e-commerce yang merupakan transaksi antar

negara (hubungan keperdataan internasional)

11) Pilihan mengenai yurisdiksi peradilan (choice of forum) bagi pihak-pihak yang

melakukan transaksi e-commerce, yaitu pilihan mengenai pengadilan mana yang

berwenang menyelesaikan sengketa diantara para pihak yang melakukan transaksi

e-commerce.

Pada tahun 2008,Undang-undang No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi

Elektronik (UU ITE) lahir dan memberikan dua hal penting yakni, pertama pengakuan

transaksi elektronik, tanda tangan elektronik dan dokumen elektronik dalam kerangka hukum

perikatan dan hukum pembuktian, sehingga kepastian hukum transaksi elektronik dapat

terjamin, kedua diklasifikasikannya tindakan-tindakan yang termasuk kualifikasi pelanggaran

hukum terkait penyalahgunaan TI (Teknologi Informasi) disertai dengan sanksi pidananya.

Dengan adanya pengakuan terhadap transaksi elektronik dan dokumen elektronik maka

setidaknya kegiatan e-commerce mempunyai basis legalnya.

Beberapa materi yang diatur dalam UU ITE, antara lain:

1. Pengakuan informasi/dokumen elektronik sebagai alat bukti hukum yang sah (Pasal

5 & Pasal 6 UU ITE);

2. Tanda tangan elektronik (Pasal 11 & Pasal 12 UU ITE);

19
3. Penyelenggaraan sertifikasi elektronik (certification authority, Pasal 13 & Pasal 14

UU ITE); dan

4. Penyelenggaraan sistem elektronik (Pasal 15 & Pasal 16 UU ITE).

Untuk melaksanakan kegiatan e-commerce, kita harus menyertakan informasi yang jelas

agar tidak tejadi kasus penipuan sehingga pembeli bisa lebih aman berbelanja online. Hal

tentunya di lindungi oleh UU ITE pada :

Pasal 5

(1) Informasi elektronik dan atau hasil cetak dari informasi elektronik merupakan alat

bukti yang sah dan memiliki akibat hukum yang sah.

(2) Informasi elektronik dan atau hasil cetak dari informasi elektronik sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai

dengan Hukum Acara yang berlaku di Indonesia.

(3) Informasi elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan sistem elektronik sesuai

peraturan perundangan yang berlaku.

(4) Ketentuan mengenai informasi elektronik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

tidak berlaku untuk :

a. Pembuatan dan pelaksanaan surat wasiat;

b. Pembuatan dan pelaksanaan surat-surat terjadinya perkawinan dan putusnya

perkawinan;

c. Surat-surat berharga yang menurut undang-undang harus dibuat dalam bentuk

tertulis;

d. Perjanjian yang berkaitan dengan transaksi barang tidak bergerak;

e. Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan hak kepemilikan; dan

f. Dokumen-dokumen lain yang menurut peraturan perundang-undangan yang

berlaku mengharuskan adanya pengesahan notaris atau pejabat yang berwenang.

20
Pasal 6

Dalam hal terdapat ketentuan hukum lain selain yang diatur dalam Pasal 5 ayat (4) yang

mensyaratkan bahwa suatu informasi harus berbentuk tertulis atau asli, maka informasi

elektronik dianggap sah sepanjang informasi yang tercantum di dalamnya dapat dijamin

keutuhannya, dipertanggungjawabkan, diakses, dan ditampilkan, sehingga menerangkan

suatu keadaan.

Pasal 15

(1) Informasi dan transaksi elektronik diselenggarakan oleh penyelenggara sistem

elektronik secara andal, aman, dan beroperasi sebagaimana mestinya.

(2) Penyelenggara sistem elektronik bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan

sistem elektronik yang diselenggarakannya.

(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku dalam hal dapat

dibuktikan adanya pihak tertentu yang melakukan tindakan sehingga sistem

elektronik sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak beroperasi sebagaimana mestinya.

Pasal 16

(1) Sepanjang tidak ditentukan lain oleh undang-undang tersendiri, setiap

penyelenggara sistem elektronik harus mengoperasikan sistem elektronik yang

memenuhi persyaratan minimum sebagai berikut:

a. dapat menampilkan kembali informasi elektronik yang berkaitan dengan

penyelenggaraan sistem elektronik yang telah berlangsung;

b. dapat melindungi keotentikan, integritas, kerahasiaan, ketersediaan, dan

keteraksesan dari informasi elektronik dalam penyelenggaraan sistem

elektronik tersebut;

c. dapat beroperasi sesuai dengan prosedur atau petunjuk dalam penyelenggaraan

sistem elektronik tersebut;

21
d. dilengkapi dengan prosedur atau petunjuk yang diumumkan dengan bahasa,

informasi, atau simbol yang dapat dipahami oleh pihak yang bersangkutan

dengan penyelenggaraan sistem elektronik tersebut; dan

e. memiliki mekanisme yang berkelanjutan untuk menjaga kebaruan, kejelasan,

dan pertanggungjawaban prosedur atau petunjuk tersebut; (2) Ketentuan lebih

lanjut mengenai penyelenggaraan sistem elektronik sebagaimana dimaksud

dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah

Pasal 17

(1) Penyelenggaraan Transaksi Elektronik dapat dilakukan dalam lingkup publik

ataupun privat.

(2) Para pihak yang melakukan Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) wajib beriktikad baik dalam melakukan interaksi dan/atau pertukaran

Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik selama transaksi berlangsung.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan Transaksi Elektronik

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 18

(1) Transaksi Elektronik yang dituangkan ke dalam Kontrak Elektronik mengikat

para pihak.

(2) Para pihak memiliki kewenangan untuk memilih hukum yang berlaku bagi

Transaksi Elektronik internasional yang dibuatnya.

(3) Jika para pihak tidak melakukan pilihan hukum dalam Transaksi Elektronik

internasional, hukum yang berlaku didasarkan pada asas Hukum Perdata

Internasional.

(4) Para pihak memiliki kewenangan untuk menetapkan forum pengadilan, arbitrase,

atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya yang berwenang menangani

22
sengketa yang mungkin timbul dari Transaksi Elektronik internasional yang

dibuatnya.

(5) Jika para pihak tidak melakukan pilihan forum sebagaimana dimaksud pada ayat

(4), penetapan kewenangan pengadilan, arbitrase, atau lembaga penyelesaian

sengketa alternatif lainnya yang berwenang menangani sengketa yang mungkin

timbul dari transaksi tersebut, didasarkan pada asas Hukum Perdata Internasional

2.3. Perlakuan Pajak dari Transaksi E-commerce

2.3.1.Wajib Pajak Dalam Negeri (Aspek Pajak Penghasilan (PPh)

Ditinjau dari aspek pajak penghasilan, Implikasi pajak atas kegiatan usaha e-commerce

dimana penyelenggara transaksi elektroniknya adalah subjek pajak dalam negeri timbul pada

saat pelaku kegiatan transaksi e-commerce adalah Subjek pajak yang menjadi wajib pajak

dimana syarat subjektif dan syarat objektifnya sudah terpenuhisebagaimana tercantum dalam

Pasal 2 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

serta memenuhi ketentuan sebagaimana disebutkan di Pasal 4 UU No. 36 Tahun 2008

Tentang Pajak Penghasilan, yaitu :

Pasal 4

(1) Yang menjadi objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan

ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia

maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah

kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun,

termasuk:

a. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima

atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus,

gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan

lain dalam Undang-undang ini;

23
b. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan;

c. Laba usaha;

d. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk:

1. Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan

badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;

2. Keuntungan karena pengalihan harta kepadapemegang saham, sekutu, atau

anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya;

3. Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran,

pemecahan, pengambilalihan usaha, atau reorganisasi dengan nama dan

dalam bentuk apa pun;

4. Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau

sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis

keturunan lurus satu derajat dan badan keagamaan, badan pendidikan, badan

social termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan

usaha mikro dan kecil, yangketentuannya diatur lebih lanjut dengan

Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha,

pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihakpihakyang

bersangkutan; dan

5. Keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak

penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan dalam

perusahaan pertambangan;

e. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan

pembayaran tambahan pengembalian pajak;

f. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian

utang;

24
g. Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari

perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha

koperasi;

h. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak;

i. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;

j. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;

k. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu

yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah;

l. Keuntungan selisih kurs mata uang asing;

m. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;

n. Premi asuransi;

o. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari

Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;

p. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan

pajak;

q. Penghasilan dari usaha berbasis syariah;

r. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur

mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan; dan

s. Surplus Bank Indonesia.

Berdasarkan keterangan diatas dan merujuk pada UU No. 36 Tahun 2008 Pasal 23 maka

pelaku kegiatan e-commerce dimana subjek pajaknya adalah subjek pajak dalam negeri

dikenakan pajak PPh Pasal 23.

2.4. Wajib Pajak Luar Negeri

Implikasi pajak atas kegiatan usaha e-commerce timbul dalam hal penyewa atas space di

ISP (Internet Service Provider - penyedia jasa Internet) adalah perusahaan yang berdomisili di

25
luar negeri (subjek pajak luar negeri), Pertama-tama adalah apakah dengan hadirnya

perusahaan luar negeri melalui suatu situs web, perusahaan tersebut dapat dianggap

mempunyai "Bentuk Usaha Tetap" di Indonesia. Definisi "Bentuk Usaha Tetap" yang diatur

dalam Pasal 2 ayat (5) Undang-undang No. 36 Tahun 2008 Tentang PPh, mengindikasikan

bahwa keberadaan di Indonesia ditunjukkan melalui “harta berwujud”, disamping kegiatan

pemberian jasa di Indonesia. Yaitu :

Pasal 5 :

Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang

tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih

dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan

badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk

menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa:

a. Tempat kedudukan manajemen;

b. Cabang perusahaan;

c. Kantor perwakilan;

d. Gedung kantor;

e. Pabrik;

f. Bengkel;

g. Gudang;

h. Ruang untuk promosi dan penjualan;

i. Pertambangan dan penggalian sumber alam;

j. Wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi;

k. Perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan;

l. Proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;

26
m. Pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau orang lain, sepanjang

dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan;

n. Orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas;

o. Agen atau pegawai dari perusahan asuransi yang tidak didirikan dan tidak

bertempat kedudukan di indonesia yang menerima premi asuransi ataumenanggung

risiko di indonesia; dan

p. Komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa, atau

digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan

usaha melalui internet.

Dengan demikian, apabila sebuah perusahaan luar negeri melakukan kegiatan usaha

melalui website, sesuai dengan definisi, kegiatan ini tidak menimbulkan "bentuk usaha tetap".

Hal yang sama juga dapat dikatakan bila perusahaan luar negeri tersebut adalah perusahaan

yang berdomisili di negara yang mempunyai Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B)

dengan Indonesia.

Pengertian Bentuk Usaha Tetap (BUT) ini sangat krusial dalam P3B. Tanpa adanya

P3B, Indonesia mempunyai hak pemajakan atas imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan,

atau kegiatan yang dibayarkan atau yang terutang kepada Wajib Pajak luar negeri (Pasal 26

ayat (1) huruf d UU PPh). Dengan adanya P3B, imbalan dimaksud (business profits) hanya

akan dikenakan pajak di negara treaty partner (negara domisili) kecuali jika Subjek Pajak

Luar Negeri tersebut menjalankan usahanya di Indonesia melalui BUT yang terletak di

Indonesia. Ringkasnya, BUT merupakan sarana bagi Indonesia sebagai negara sumber dalam

memajaki business profits yang diperoleh penduduk negara domisili.

Namun, bila kegiatan dari perusahaan tersebut memberikan jasa melalui website-nya

maka pembayaran yang diterima dari Indonesia merupakan objek pemotongan PPh Pasal 26,

dengan asumsi bahwa perusahaan tersebut berdomisili di negara-negara yang tidak

27
mempunyai P3B dengan Indonesia. Undang-undang Pajak Penghasilan belum mencakup

masalah definisi "bentuk usaha tetap" dari ISP, dengan demikian Pasal 2 ayat (5) UU PPh

idealnya perlu diubah dan ditambah.

Jika situasi tersebut dikaitkan dengan P3B maka ada dua hal yang perlu

dipertimbangkan, yaitu pertama, dalam UU domestik dari negara-negara yang terlibat

mempunyai aturan tersebut, dan kedua, sesuai dengan commentary dari OECD, keberadaan

ISP memenuhi ketentuan Pasal 5 dari OECD Model. Pasal 5 dari OECD Model mensyaratkan

bahwa peralatan apapun yang digunakan sebagai server, sifatnya harus tetap. Artinya server

tersebut harus mempunyai lokasi yang tetap dan pasti. 21

2.5. Aspek Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Peluang untuk mengenakan pajak atas transaksi elektronik ini sangat besar terutama

Pajak Konsumsi yaitu Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Namun sampai dengan saat ini,

ketentuan perpajakan yang berlaku, yaitu UU PPN No. 42 Tahun 2009, belum mengatur

secara jelas tentang bagaimana sistem dan prosedur pengenaan PPN atas transaksi ini.

Sebagaimana ditehahui bahwa perekonomian Internet akan berdampak pada kehidupan

ekonomi dalam beberapa aspek. Antara lain adalah dampak dari transparannya harga-harga

yang dipasarkan melalui Internet. Para konsumen melalui Internet mampu untuk

membandingkan harga suatu barang yang ditawarkan bukan saja oleh beberapa toko atau

perusahaan yang menawarkan barang yang sama di suatu negara, tetapi juga di beberapa

Negara di luar negara konsumen yang bersangkutan.

Pembelian barang dari luar negeri akan menimbulkan dampak terhadap penerimaan

pajak. Di Eropa hal ini telah timbul sebagai masalah yang cukup signifikan berkenaan dengan

21
Dalam kajian Security (keamanan) di dunia computer, jika keberadaan server harus diketahui dengan
mempunyai lokasi yang tetap dan pasti maka hal ini tentu saja akan sangat beresiko mengingat server yang
dimiliki memiliki data-data rahasia dan kemungkinannya adalah hal tersebut akan memberikan peluang bagi para
pelaku tindakan kejahatan di dunia maya (cracker) untuk membobol atau melakukan pencurian terhadap isi dari
server yang sudah diketahui tersebut. Tentu saja ini sangat dihindari dan akan sangat merugikan. Oleh karena itu
kiranya perlu ada kajian yang lebih komprehensif lagi baik dari aspek legal maupun dari aspek teknisnya.

28
penerimaan pajak pertambahan nilai (value-added tax).Pada bulan Juni 2000, European

Commision, mengusulkan undang-undang yang mendefinisikan digital products, seperti

software dan video programming yang di download oleh komputer sebagai services (jasa-

jasa) dan bukan sebagai goods (barang-barang). Negara-negara Eropa mengandalkan pajak

atas konsumsi (taxes on consumption) lebih banyak daripada yang dilakukan oleh Amerika

Serikat. Pada umumnya di Eropa, jasa-jasa dipajaki di negara asal (country of origin). Dengan

demikian negara-negara Eropa tidak akan memperoleh pajak pendapatan dari jasa-jasa yang

masuk ke Eropa dari luar berkenaan dengan e-commerce.

Sutan Remy dalam22 menyebutkan bahwa The US International Revenue Code (IRC)

pada dasarnya memberikan dua kriteria untuk menentukan yurisdiksi Amerika Serikat dalam

mengenakan pajak pendapatan orang asing, atau dengan menggunakan kriteria ketiga yang

ditentukan di dalam perjanjian antar negara (treaties). Dasar pemajakan yang pertama adalah

sumber pendapatan (source of income). Menurut IRC, pendapatan kotor orang asing dikenai

pajak sebesar 30% withholding tax, apabila sumber pendapatannya berada di Amerika Serikat.

Kriteria kedua tidak terletak pada apakah pendapatan tersebut berasal dari Amerika Serikat,

tetapi didasarkan pada apakah pendapatan tersebut berkaitan secara efektif dengan

pelaksanaan perdagangan atau bisnis di Amerika Serikat. Kriteria yang ketiga, yaitu yang

berdasarkan perjanjian antar negara, didasarkan pada tempatkedudukan pihak asing yang

bersangkutan.

Kalau pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak didasarkan pada asal sumber

pendapatan, timbul masalah apabila pendapatan itu diperoleh dari transaksi ecommerce.

Dalam suatu transaksi e-commerce adalah sulit untuk menentukan di mana transaksi e-

commerce itu berlangsung. Apabila pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak didasarkan

pada tempat kedudukan pembayar pajak, adalah sulit untuk menentukan di mana tempat

22
Syahdeini, Sutan Remy, Kejahatan & Tindak Pidana Komputer, Jakarta:PT. Pustaka Utama Grafiti, 2009
(hlm.21)

29
kedudukan dari wajib pajak. Apabila misalnya suatu toko maya (virtual store) yang dimiliki

oleh orang Indonesia, yang situsnya didaftarkan sebagai suatu dot com, maka oleh karena

cyberspace adalah borderless, di manakah tempat kedudukan yang sebenarnya dari toko maya

tersebut? Lebih lanjut masalah yang timbul ialah : Negara mana yang berhak memungut pajak

yang harus dibayar oleh toko maya milik orang Indonesia tersebut? Indonesia atau Amerika

Serikat?

Mengutip makalah Agung Budilaksono23 Sesuai dengan OECD Characterization

terdapat 28 jenis transaksi e-commerce yang dilakukan melalui sebuah website dan

berpeluang dikenakan pajak PPN, yaitu :

1) Electronic order processing of intangible product

Transaksi ini adalah pembelian melalui online catalog. Apabila produk yang

diperdagangkan bukan termasuk barang dan atau jasa sebagaimana diatur pasal 4A UU

PPN, maka transaksi tersebut merupakan penyerahan kenapajak dan terutang PPN

sesuai dengan pasal 4 UU PPN.

2) Electronic ordering and downloading of digital product

Transaksi ini adalah pembelian produk melalui “online catalog of software” secara

digital. Dalam hal ini software adalah Barang Kena Pajak (BKP) tidak berwujud sesuai

dengan pasal 1 ayat 3 UU PPN.

3) Electronic ordering and downloading of digital product for purpose of commercial

exploitation of the copyright.

Transaksi ini adalah pemesanan secara online atas digital product dari online catalog.

Pemanfaatan produk digital untuk keperluan komersil (contoh; penggunaan merek

dagang, lisensi, dan lain-lain) berdasarkan ketentuan pasal 4 huruf (d) UU PPN adalah

termasuk pemanfaatan BKP tidak berwujud yang dinekan PPN.

23
http://www.bppk.depkeu.go.id/webbc/images/stories/file/2011/artikel/upload%205%20agustus%202011/AGU
NG%20BL%20BAGAIMANA%20PERLAKUAN%20PAJAK%20UNTUK%20TRANSAKSI%20E-
COMMERCE%20DI%20INDONESIA.pdf (diakses pada tanggal 11/04/2018 7.52 pm)

30
4) Updates and adds on

Merupakan kegiatan update dan penambahan kelengkapan atas suatu software. Software

adalah BKP (tidak berwujud) sesuai dengan pasal 1 ayat 3 UU PPN dan pasal 4 A UU

PPN, sehingga kegiatan update dan/atau penambahan fasilitas atas software tersebut

adalah penyerahan yang terutang PPN sesuai dengan pasal 4 UU PPN.

5) Limited duration software and other digital information licenses

Merupakan pemberian ijin secara cuma-cuma untuk memanfaatkan suatu software

dalam jangka waktu tertentu untuk keperluan promosi penjualan. Transaksi ini masuk

kategori terutang PPN

6) Single use software or other digital product

Transaksi ini pembeli mendapatkan hak untuk memakai software atau produk digital

lainnya satu kali. Software atau produk digital lainnya adalah BKP tidak berwujud,

dengan demikian masuk kategori terutang PPN.

7) Application hosting separate license

Di dalam transaksi ini pemakai mempunyai hak tetap untuk memakai produk software

melalui perjanjian dengan “host entity” dengan menempatkan”software copy” pada

server dan pemakai menerima bantuan teknik. Fasilitas atau hak untuk menempatkan

software dan bantuan teknik merupakan jasa kena pajak sesuai pasal 1 ayat 6 dan pasal

4A UU PPN, dengan demikian kegiatan ini masuk kategori terutang PPN.

8) Application hosting bundled contract

Merupakan perjanjian dengan provider pemilik hak cipta untuk mengakses software.

Kegiatan masuk kategori terutang PPN.

9) Transaksi ASP (Aplication Service Provider)

Pada transaksi ini ASP memperoleh lisensi untuk memakai suatu aplikasi software , dan

memberikan akses kepada pelanggan untuk aplikasi software , dan memberikan akses

31
kepada pelanggan untuk aplikasi software tersebut. Hal ini termasuk barang kena pajak

tidak terwujud sesuai dengan pasal 1 ayat 3 dan pasal 4A UU dari software vendor

kepada ASP yangberupa lisensi. Oleh karena itu transaksi ini masuk kategori terutang

PPN.

10) ASP License fees Application provider

Membayar provider aplikasi software sejumlah fee, yaitu sejumlah persen dari

penerimaan dari pelanggan ASP. Fee yang dibayar merupakan pemanfaatan atas barang

kena pajak tidak berwujud sesuai dengan pasal 1 ayat 3 UU PPN, sehingga terkena

pajak PPN.

11) Website hosting provider

Transaksi ini adalah pemberian tempat pada server untuk ditempati website. Hal ini

masuk kategori jasa kena pajak yang berdasarkan pasal 1 ayat 6 dan pasal 4A UU PPN,

dikategorikan sebagai jasa kena pajak sehingga kegiatan ini terutang PPN

12) Software maintenance

Transaksi ini merupakan penggabungan antara software maintenance contract dengan

software updates dengan bantuan teknik. Hal ini dikategorikan sebagai jasa kena pajak

berdasarkan pasal 1 ayat 6 dan pasal 4A UU PPN sehingga kegiatan ini terutang PPN

13) Data warehousing

Penempatan data computer pelanggan dalam server yang dimiliki dan dioperasikan oleh

provider yang merupakan jasa pemanfaatan space/tempat untuk menyimpan database

yang dikategorikan sebagai penyerahan jasa kena pajak berdasarkan pasal 1 ayat 6 dan

pasal 4A UU PPN sehingga kegiatan ini terutang PPN

14) Customer support over computer network

32
Bantuan teknik termasuk saran-saran untuk instalasi, informasi untuk memecahkan

masalah yang berupa technical support, trouble shooting database, yang dilakukan

secara online, termasuk jasa kena pajak yang terutang PPN.

15) Data retrieval

Merupakan penyerahan informasi kepada pelanggan yang menurut pasal 1 ayat 6 dan

pasal 4A UU PPN dikategorikan sebagai jasa kena pajak sehingga kegiatan ini terutang

PPN

16) Delivery of exclusive or other high value

Data Produk yang diserahkan dalam bentuk informasi dengan tambahan analisis atas

data pelanggan, yang menurut pasal 1 ayat 6 dan pasal 4A UU PPN dikategorikan

sebagai jasa kena pajak sehingga kegiatan ini terutang PPN.

17) Advertising atau banner adds

Merupakan transaksi pembayaran atas fee iklan yang muncul setiap user meng-klik web

site tertentu. Hal ini sesuai dengan pasal 1 ayat 6 dan pasal 4A UU PPN juga

dikategorikan sebagai jasa kena pajak yang terkena PPN.

18) Electronic access to professional advice

Merupakan konsultasi jasa professional (konsultan, pengacara, dan dokter), juga

merupakan jasa kena pajak yang terkena PPN

19) Technical information

Informasi teknis yang bersifat rahasia, merupakan jasa kena pajak yang terkena PPN

20) Information delivery

Informasi yang dikirim kepada pelanggan, juga masuk kategori kegiatan terkena PPN

berdasarkan pasal 1 ayat 6 dan pasal 1A ayat 1 dan pasal 4 UU PPN.

21) Access to an interactive website

33
Akses terhadap website tertentu termasuk informasi, music, video, game, dan kegiatan

lainnya.

22) Online shopping portals Space

Dimanfaatkan oleh para merchant untuk menempatkan katalognya, merupakan Jasa

Kena Pajak (JKP) , sehingga terkena pajak PPN.

23) Online auctions

Hak untuk mendisplay barang yang diterima oleh merchant merupakan jasa kena pajak,

sehingga terkena pajak PPN.

24) Sales referral program

Sales referral program yang diterima oleh online provider dari operator website.

25) Content acquisition

Operator website membayar content provider atas cerita-cerita baru, informasi dan

content online lainnya.

26) Streamed (real time) web based broadcasting

Pengguna mengakses database copyrighted audio dan/atau materi visual lainnya dan

broadcaster menerima langganan atau penghasilan iklan.

27) Carriage fees Content provider

Membayar web site operator agar content-nya didisplay pada website/network.

28) Subscription to web site allowing the downloading of digital products

Pelanggan membayar secara periodic biaya untuk mengakses website yang berisi

“digital copyrighted content” seperti music. Kegiatan ini masuk kategori terutang PPN

34
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian


Penelitian hukum normatif (normative law research) menggunakan studi kasus

normatif berupa produk perilaku hukum, misalnya mengkaji undang-undang. Pokok

kajiannya adalah hukum yang dikonsepkan sebagai norma atau kaidah yang belaku dalam

masyarakat dan menjadi acuan perilaku setiap orang. Sehingga penelitian hukum normatif

berfokus pada inventarisasi hukum positif, asas-asas dan doktrin hukum, penemuan hukum

dalam perkara in concreto, sistematik hukum, taraf sinkronisasi, perbandingan hukum dan

sejarah hukum.24 Berdasarkan penjelasan di atas, penulis memutuskan menggunakan

metode penelitian hukum normatif untuk meneliti dan menulis pembahasan skripsi ini

sebagai metode penelitian hukum. Penggunaan metode penelitian normatif dalam upaya

penelitian dan penulisan skripsi ini dilatari kesesuaian teori dengan metode penelitian yang

dibutuhkan penulis.

3.2. Metode Pendekatan

Di dalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan, dengan pendekatan

tersebut peneliti akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu

yang sedang dicoba untuk dicari jawabannya. Metode pendekatan dalam penelitian

ini adalah pendekatan peraturan perundang-undangan (statue aproach).25 Suatu

penelitian normatif tentu harus menggunakan pendekatan perundang-undangan,

karena yang akan diteliti adalah berbagai aturan hukum yang menjadi fokus

sekaligus tema sentral dari penelitian ini.

24
Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum. Cet. 1. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti. 2004,
Hal. 52
25
Peter Mahmud Marzuki .Penelitian Hukum. Cet 2. Jakarta: Kencana., 2008, Hal 29

35
3.3. Sumber Data

Bahan hukum primer, yaitu semua bahan/materi hukum yang mempunyai

kedudukan mengikat secara yuridis. Bahan hukum primer terdiri dari peraturan perundang-

undangan yang terkait dengan penelitian dan bahan hukum sekunder, yaitu berupa bahan

atau materi yang berkaitan dan menjelaskan mengenai permasalahan dari bahan hukum

primer yang terdiri dari buku-buku dan literature-literatur terkait Penjualan Online di tinjau

dari aspek hukum pajak.\

3. 4. Pengumpulan dan Pengolahan Data

Bahan hukum dikumpulkan melalui prosedur inventarisasi dan identifikasi

peraturan perundang-undangan, serta klasifikasi dan sistematisasi bahan hukum sesuai

permasalahan penelitian. Oleh karena itu, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam

penelitian ini adalah dengan studi kepustakaan. Studi kepustakaan dilakukan dengan cara

membaca,menelaah, mencatat membuat ulasan bahan-bahan pustaka yang ada kaitannya

dengan penjualan online ditimjau dari aspek hukum pajak.

3.5. Analisis Data

Pada penelitian hukum normatif, pengolahan data dilakukan dengan cara

mesistematika terhadap bahan-bahan hukum tertulis. Sistematisasi berarati membuat

klasifikasi terhadap bahan-bahan hukum tersebut untuk memudahkan pekerjaan analisis

dan konstruksi. Kegiatan yang dilakukan dalam analisis data penelitian hukum normatif

dengan cara data yang diperoleh di analisis secara deskriptif kualitatif yaitu analisa

terhadap data yang tidak bisa dihitung. Bahan hukum yang diperoleh selanjutnya dilakukan

pembahasan, pemeriksaan dan pengelompokan ke dalam bagian-bagian tertentu untuk

diolah menjadi data informasi. Hasil analisa bahan hukum akan diinterpretasikan

menggunakan metode interpretasi (a) sistematis; (b) gramatikal; dan (c) teleologis.26

26
Soejono Soekantor dan Sri Mamudji. Hal. 251-252

36
Pemilihan interpretasi sistematis ditujukan untuk menetukan struktur hukum dalam

penelitian ini. Interpretasi sistematis (systematische interpretatie, dogmatische

interpretatie) adalah menafsirkan dengan memperhatikan naskah-naskah hukum lain. Jika

ditafsirkan adalah pasal-pasal suatu undang-undang, ketentuan yang sama apalagi satu asas

dalam peraturan lainnya juga harus dijadikan acuan. Dalam penafsiran ini mencari

ketentuan-ketentuan yang ada didalamnya saling berhubungan sekaligus apakah hubungan

tersebut menentukan makna selanjutnya. Akan tetapi, dalam hubungan tatanan hukum yang

tidak terkodifikasi, merujuk pada sistem dimungkinkan sepanjang karakter sistematis dapat

diasumsikan (diandaikan). Selanjutnya interpretasi gramatikal (what does it linguitically

mean?) yaitu metode penafsiran hukum pada makna teks yang di dalam kaidah hukum

dinyatakan. Penafsiran dengan cara demikian bertitik tolak pada makna menueut

pemakaian bahasa sehari-hari atau makan teknis-yuridis yang lazim atau dianggap sudah

baku.

Interpretasi gramatikal dalam penelitian ini terkait dengan makna teks dalam tujuan

pemberian izin pertambangan panas bumi sedangkan, interpretasi teleologis(what does the

articles would like to archieve) yang merupakan yang metode penafsiran yang difokuskan

pada penguraian atau formulasi kaidah-kaidah hukum menurut tujuan dan jangkauannya.

Tekanan tafsiran pada fakta bahwa kaidah hukum terkandung tujuan atau asas sebagai

landasan dan bahwa tujuan atau asas tersebut memengaruhi interpretasi. Dalam penafsiran

demikian juga diperhitungkan konteks kenyataan kemasyarakatan yang aktual. Menurut

Hoft, penafsiran teleologis memiliki fokus perhatian bahwa fakta pada norma hukum

mengandung tujuan untuk melindungi kepentingan tertentu sehingga ketika ketentuan

tersebut diterapkan maksud tersebut harus dipenuhi, penafsiran ini selanjutnya

memperhitungkan konteks kemasyarakatan aktual. Cara ini tidak terlalu diarahkan untuk

menemukan pertautan pada kehendak dari pembentuk undang-undang saat membentuknya

37
dan kemudian dituangkan dalam bentuk uraian logis dan sistematis guna memperoleh

kejelasan penyelesaian lalu ditarik kesimpulan guna menjawab permasalah penelitian

secara deduktif yaitu dari hal yang bersifat umum menunju yang hal bersifat khusus.27

27
B. Arief Sidharta (Penerjemah), Meuwissen tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum dan
Filsafat Hukum. Bandung. PT Rafika Aditama , 2009, Hal. 56-57

38
Daftar Pustaka

I. BUKU
Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum. Cet. 1. Bandung: PT. Citra Aditya
Bakti. 2004,
Dewi, Shinta, Cyberlaw Perlindungan Privasi atas Informasi Pribadi dalam E-commerce
Menurut Hukum Internasional, Bandung:Widya Padjadjaran, 2009
Hutagaol, John, Perpajakan Isu-isu Kontemporer, Yogyakarta:Graha Ilmu, 2007
Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Filsafat Ilmu, Metode Penelitian, dan Karya Tulis Ilmiah
Hukum, (Metode Penelitian Hukum), Monograf, Program Studi Magister Ilmu Hukum
Pascasarjana Universitas Islam Nusantara, Bandung, 2012
M. Ramli, Ahmad, Cyberlaw dan HAKI dalam SIstem Hukum Indonesia, Bandung:Refika
Aditama, 2010
Suseno, Sigit, Yurisdiksi Tindak Pidana Siber, Bandung: Refika Aditama, 2012
Syahdeini, Sutan Remy, Kejahatan & Tindak Pidana Komputer, Jakarta:PT. Pustaka Utama
Grafiti, 2009
Suseno, Sigit, Yurisdiksi Tindak Pidana Siber, Bandung: Refika Aditama, 2012

Shinta Dewi, Buku Cyberlaw Perlindungan Privasi atas Informasi Pribadi dalam E-
commerce Menurut Hukum Internasional, Bandung:Widya Padjadjaran, 2009
Peter Mahmud Marzuki .Penelitian Hukum. Cet 2. Jakarta: Kencana., 2008.
B. Arief Sidharta (Penerjemah), Meuwissen tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum,
Teori Hukum dan Filsafat Hukum. Bandung. PT Rafika Aditama , 2009

II. JURNAL/ DISERTASI/TESIS/SKRIPSI


Nur Arianto, Ekstensifikasi Pajak dari Transaksi Perdagangan Online, dalam Artikel
Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta. 2014
Catur Muliastuti, Lia,Tesis : Perlindungan Hukum Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Jual
Beli Melalui Media Internet, PPS UNDIP, Semarang, 2010

III. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN


Undang-undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
Undang-undang No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan (PPh)
Undang-undang No. 42 Tahun 2009 Tentang Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Undang-undang No. 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

39
IV. INTERNET
http://feriantoraharjo.files.wordpress.com/2011/08/ch_06.pdf (11/6/2013 6.51 pm)
http://web.unair.ac.id/admin/file/f_33720_bab11-12-13.pdf (11/6/2013 6.53 pm)
http://thesis.binus.ac.id/Doc/Bab2/2011-2-00538-AK%20Bab2001.pdf (11/6/2013 6.53 pm)
http://eprints.undip.ac.id/23920/1/Lia_Catur_Muliastuti.pdf (11/6/2013 7.17 pm)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22364/4/Chapter%20I.pdf (11/6/2013 7.37
pm)
http://eprints.undip.ac.id/18698/1/SUPRIHONO.pdf ((11/6/2013 7.38 pm)
http://underlaw98.tripod.com/azam2.pdf (11/6/2013 7.46 pm)
http://www.bppk.depkeu.go.id/webbc/images/stories/file/2011/artikel/upload%205%20agustu
s%202011/AGUNG%20BL%20BAGAIMANA%20PERLAKUAN%20PAJAK%20U
NTUK%20TRANSAKSI%20E-COMMERCE%20DI%20INDONESIA.pdf
(11/6/2013 7.52 pm)
http://ppidkemkominfo.files.wordpress.com/2012/12/pp-nomor-82-tahun-2012-tentang-
penyelenggaraan-sistem-dan-transaksi-elektronik.pdf (11/6/2013 7.53 pm)
http://www.reocities.com/siliconvalley/8972/resource/hukum/hukum_eb.pdf (11/6/2013 7.54
pm)
http://www.cob.sjsu.edu/nellen_a/Part6.pdf (14/6/2013 8.57 am)

40