Você está na página 1de 6

Seri Naskah Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY

Edisi 117, Jum’at 29 Juni 2018

AGAR TIDAK KENDOR DALAM BERAMAL


Oleh: : Ust. Dwi Budiyanto, M.Hum
(Kabid. Pelatihan dan Dakwah, PW IKADI DIY)

Khutbah Pertama

،‫سنَا‬ ِ ُ‫ َونَعُ ْوذُ ِباهللِ ِم ْن ش ُُر ْو ِر أَ ْنف‬،‫ستَ ْغ ِف ُره‬ ْ َ‫ستَ ِع ْينُهُ َون‬ ْ َ‫إِ َّن ا ْل َح ْم َد ِ َّّلِلِ نَ ْح َم ُد ُه َون‬
.‫ِي لَه‬ َ ‫ض ِل ْل فَ ََل َهاد‬ ْ ُ‫ َو َم ْن ي‬،‫ َم ْن يَ ْه ِد ِه هللاُ فَ ََل ُم ِض َّل لَه‬،‫ت أَ ْع َما ِلنَا‬ ِ ‫س ِيئَا‬ َ ‫َو‬
‫ع ْب ُد ُه‬ َ ‫ش َه ُد أَ َّن ُم َح َّمدًا‬ ْ َ‫ َوأ‬،ُ‫ش َه ُد أَ ْن ََل ِإلَهَ ِإ ََّل هللاَ َو ْح َد ُه ََل ش َِر ْيكَ لَه‬ ْ َ‫َوأ‬
.ُ‫س ْولُه‬ ُ ‫َو َر‬
.‫ص ْح ِب ِه أَ ْج َم ِع ْين‬َ ‫علَى آ ِل ِه َو‬ َ ‫س ِي ِدنَا ُم َح َّم ٍد‬َ ‫علَى‬ َ ‫ص ِل‬ َ ‫اَللَّ ُه َّم‬
َ ‫س ِل ُم‬
﴾‫ون‬ ْ ‫ق تُقَاتِ ِه َو ََل تَ ُموت ُ َّن إِ ََّل َوأَ ْنت ُ ْم ُم‬ َّ ‫ِين آ َمنُوا اتَّقُوا‬
َّ ‫َّللاَ َح‬ َ ‫﴿يَا أَيُّ َها الَّذ‬
‫ص ِلحْ لَ ُك ْم أَ ْع َمالَ ُك ْم‬ ْ ُ‫س ِديدًا ي‬ َ ‫َّللاَ َوقُولُوا قَ ْو ًَل‬ َّ ‫ِين آ َمنُوا اتَّقُوا‬ َ ‫﴿ َيا أَيُّ َها الَّذ‬
﴾‫ع ِظي ًما‬ َ ‫از فَ ْو ًزا‬ َ َ‫سولَهُ فَقَ ْد ف‬ َّ ‫َويَ ْغ ِف ْر لَ ُك ْم ذُنُوبَ ُك ْم َو َم ْن يُ ِط ِع‬
ُ ‫َّللاَ َو َر‬
‫ق ِم ْن َها‬ َ َ‫اح َد ٍة َو َخل‬ِ ‫اس اتَّقُوا َربَّ ُك ُم الَّذِي َخلَ َق ُك ْم ِم ْن نَ ْف ٍس َو‬ ُ َّ‫﴿يَا أَيُّ َها الن‬
‫ون ِب ِه َو ْاْلَ ْر َحا َم‬ َ ُ‫سا َءل‬ َ َ‫َّللاَ الَّذِي ت‬ َّ ‫سا ًء َواتَّقُوا‬ َ ِ‫يرا َون‬ ً ِ‫ث ِم ْن ُه َما ِر َج ًاَل َكث‬ َّ َ‫َز ْو َج َها َوب‬
﴾‫علَ ْي ُك ْم َر ِقيبًا‬ َ ‫َان‬ َ ‫َّللاَ ك‬ َّ ‫ِإ َّن‬
:‫د‬ ُ ‫أَ َّما بَ ْع‬

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,


Adalah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang kepadanya kita diminta untuk berpegang teguh pada wasiatnya. Suatu hari Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,

ُ ‫ص َحا ِبي؛ أَ ِبي بَ ْك ٍر َو‬


،‫ع َم َر‬ ْ َ‫ا ْقتَدُوا ِباللَّذَ ْي ِن ِم ْن بَ ْعدِي ِم ْن أ‬
‫سعُو ٍد‬
ْ ‫سكُوا ِب َع ْه ِد ا ْب ِن َم‬ َ ِ ‫َوا ْهتَدُوا ِب َه ْدي‬
َّ ‫ َوتَ َم‬،‫ع َّم ٍار‬
“Teladanilah dua orang sahabatku, sepeninggalku: Abu Bakar dan Umar. Ambillah
petunjuk Ammar, dan berpegangteguhlah kepada wasiat Ibnu Mas’ud.” (H.r. at-
Tirmidzi (No. 3805), Ibnu Majah (No. 97)).

Menjelang wafatnya pada 32 H di Madinah, Abdullah bin Mas’ud sakit. Saat itulah beberapa
orang sahabat melihatnya menangis tersedu. “Apa yang membuatmu menangis?” para sahabat bertanya
penuh keheranan. Beliau radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Aku menangis karena rasa khawatir jika

1
kematian mendatangiku, saat itu amal-amalku sedang dalam situasi futur (melemah). Padahal, aku sangat
menghendaki bila kematian mendatangiku, saat itu aku sedang penuh kesungguhan dalam beramal.”
Jika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memiliki kekhawatiran akan kendornya semangat dalam
beramal, sementara kematian terus membayangi, rasa-rasanya kitalah yang semestinya memiliki
kekhawatiran itu. Jika Ibnu Mas’ud merasa takut saat kematian menghampirinya sementara beliau dalam
keadaan lemah beramal, tentu kita yang lebih layak untuk takut. Inilah tugas terberat kita selepas
Ramadhan; menjaga agar amal ibadah kita tidak kendor. Boleh jadi dalam upaya kita menjaga agar amal-
amal kita tidak kendor akan dijumpai kekurangannya. Bisa jadi ia tidak ideal seperti yang diharapkan.
Itulah sebabnya, perintah Allah subhanahu wata'ala untuk istiqamah patut diiringi dengan istighfar.

ْ ‫فَا‬
ْ ‫ستَ ِقي ُموا ِإلَ ْي ِه َوا‬
‫ستَ ْغ ِف ُرو ُه‬
“Maka, tetaplah istiqamah menuju kepada-Nya dan beristighfarlah kepada-Nya.” (Q.s.
Fushshilat [41]: 6).

Nasihat Ibnu Mas’ud r.a. patut kita perhatikan. Dari Abdurrahman bin Hujairah, dari ayahnya,
dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa suatu saat ia memberikan nasehat dalam sebuah majelis,

‫ َوأَ ْع َما ٍل‬،ٍ‫صة‬ َ ‫ ِفي آ َجا ٍل َم ْنقُو‬،‫ِإنَّ ُك ْم ِفي َم َم ِر اللَّ ْي ِل َوالنَّ َه ِار‬
‫شكُ أ َ ْن‬ ِ ‫ فَ َم ْن يَ ْز َر ْع َخ ْي ًرا يُو‬،ً‫ َوا ْل َم ْوتُ َيأ ْ ِتي َب ْغتَة‬،ٍ‫َم ْحفُو َظة‬
‫ َو ِلك ُِل‬،ً‫ص َد نَدَا َمة‬ُ ‫شكُ أَ ْن يَ ْح‬ َ ‫ َو َم ْن َي ْز َر ْع‬،ً‫ص َد بَ ْغتَة‬
ِ ‫ش ًّرا يُو‬ ُ ‫يَ ْح‬
َ ‫َز ِارعٍ ِمثْ ُل َما َز َر‬
..‫ع‬
“Sesungguhnya kalian berada dalam umur yang berkurang dan amal yang dijaga dengan
bergantinya malam dan siang. Ingatlah, kematian datang tiba-tiba. Barangsiapa menanam
kebaikan niscaya ia akan memetik kebahagiaan. Barangsiapa menanam keburukan
niscaya ia akan memetik penyesalan. Setiap penanam akan mendapatkan sesuai apa yang
dia tanam.” (Hr. Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya’)

Begitulah nasihat Ibnu Mas’ud. Umur kita semakin berkurang dan kematian datang tiba-tiba.
Kita harus tidak berhenti berbuat baik. Tidak menyerah untuk berusaha menjadi orang baik.
Al-Quran-pun meminta kita untuk terus berlomba di dalam amal kebaikan dan tidak kendor di
dalamnya.

ْ ‫فَا‬
‫ستَ ِبقُوا ا ْل َخ ْي َرات‬
“Berlomba-lombalah dalam kebaikan,” (Q.s. al-Baqarah [2]: 148).

Untuk meraih derajat kemuliaan itulah, para sahabat berlomba-lomba dalam kebaikan. Ibnu
Rajab al-Hambali rahimahullah menuturkan, “Para sahabat memahami bahwa mereka harus saling berlomba
untuk meraih kemuliaan di surga. Mereka berusaha menjadi yang terdepan untuk meraih derajat yang mulia itu. Jika

2
di antara mereka ada yang mendahului di dalam beramal, mereka pun bersedih karena telah kalah dalam hal itu.”
Dalam amal salih inilah semestinya kita berusaha untuk tidak kendor.

َ ‫س‬
‫ون‬ ُ ‫َو ِفي ذَ ِلكَ فَ ْل َيتَنَافَ ِس ا ْل ُمتَنَا ِف‬
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (Q.s. al-
Muthoffifin [83]: 26).

Bagaimana dengan kita hari ini? Ketika melihat saudara-saudara kita berusaha tidak kendor
dalam shalat berjamaah di masjid. Tatkala mengetahui tetangga-tetangga kita tidak kendor memenuhi
shaf-shaf pertama shalat Subuh di masjid. Manakala terdengar bacaan Quran dari rumah tetangga
selepas shalat Maghrib. Tidakkah ada rasa khawatir dan bersedih dalam diri kita? Sementara orang lain
berusaha keras menjaga amal-amal mereka, kita membiarkan diri ini kendor di dalam beramal. Wa fii
dzaalika falyatanaafasil mutanaa fisuun. ‘Dan untuk yang demikian itulah, semestinya orang berlomba-
lomba.’
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Agar kita senantiasa selalu berada dalam kebaikan dan tidak kendor dalam beramal, ada
beberapa usaha yang bisa kita lakukan.
Yang Pertama, berdoalah kepada Allah subhanahu wata'ala. Jangan pernah berhenti
berdoa kepada Allah. Mohonlah kepada Allah ta’ala agar Allah tetapkan kita di dalam hidayah-Nya.
Berdoalah agar kita tidak kendor dalam beramal setelah Allah subhanahu wata'ala anugerahkan kepada
kita hidayah. Sebagaimana al-Qur’an mengajarkan kepada kita:

‫َربَّنَا ََل ت ُ ِز ْغ قُلُوبَنَا َب ْع َد إِ ْذ َه َد ْيتَنَا‬


“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan
setelah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (Q.s. Ali Imran [3]: 8).

Do’a adalah tali yang menghubungkan kita dengan Allah. Ia merupakan senjata bagi seorang
muslim dalam setiap kondisi. Doa menjadi wujud kepasrahan kita kepada Allah, agar selalu berada
dalam ridho dan hidayahnya. Semua usaha kita akan sia-sia, jika tidak mendapatkan ridho Allah. Maka
do’a menjadi hal yang paling penting dalam setiap aktifitas manusia dalam kesehariannya.
Termasuk dalam melakukan ibadah dan semua aktifitas kebaikan. Jangan pernah berfikir kita
menjadi shaleh karena usaha kita. Sadari bahwa Allah-lah yang telah menuntun kita menuju amalan
baik. Memang benar, lisan kitalah yang berzikir dan membaca al-Qur’an. Kaki kita juga yang melangkah
menuju masjid. Tangan kita jugalah yang mengulurkan sedekah kepada fakir miskin. Akan tetapi, semua
itu tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya niat dan tekad dari hati kita. Sedangkan hati kita berada
diantara jemari Allah, Ia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya. Maka setinggi apapun derajat
keshalehan seseorang, hendaknya ia mengembalikan keutamaan itu kepada taufik dari Allah, seraya
terus menerus memohon untuk diberikan keistiqamahan.

3
Yang Kedua, ajek dalam beramal. Amal yang dijaga ajek (kontinu, tetap) meskipun sedikit
lebih dicintai Allah daripada amalan yang banyak tetapi tidak ajek dilaksanakan. Hal ini sesuai hadis dari
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

‫َّللاِ تَعَالَى أَد َْو ُم َها َوإِ ْن قَ َّل‬


َّ ‫ب ْاْلَ ْع َما ِل إِلَى‬
ُّ ‫أَ َح‬
“Amalan yang paling dicintai Allah ta’ala adalah amalan yang ajek meskipun sedikit.”
(H.r. Bukhari dan Muslim).

Amalan yang ajek, meskipun sedikit, akan menjaga seseorang agar tidak terserang penyakit futur
(kejenuhan). Betapa banyak orang yang bersemangat di awal hijrahnya, tetapi pada akhirnya ia tumbang
dan kembali pada kondisi kejahiliyahan. Sering kali hal itu disebabkan karena ketidakseimbangan dalam
beramal. Pada awalnya, karena semangat yang tinggi, ia berlebih-lebihan dalam beramal. Semua ibadah
ingin dilakukan, tanpa memperhitungkan kondisi fisik dan lingkungan sekitar. Sebagian orang karena
nikmatnya beribadah, membuatnya meninggalkan pekerjaan dan menghabiskan waktu untuk beribadah
di masjid. Ini adalah kesalahan; karena ibadah tidak boleh berlebihan, dan karena ibadah seharuSnya
tidak membuat seseorang meninggalkan kewajiban sosialnya. Maka solusi untuk hal ini adalah kontinyu
dalam beramal, walaupun dengan amalan yang sedikit. Dalam hal ini, kontinuitas lebih bernilai di sisi
Allah, daripada amalan banyak yang terputus.
Maka hendaklah kita jaga ibadah yang biasa kita lakukan. Jangan ditinggalkan, walaupun tidak
mampu selalu dalam kondisi maksimal. Itulah sebabnya, pernah suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam menasihati Abdullah bin Amr bin al-Ash:

‫ فَتَ َركَ ِق َيا َم اللَّ ْي ِل‬،‫َان َيقُو ُم اللَّ ْي َل‬


َ ‫ َلَ تَك ُْن ِمثْ َل فَُلَ ٍن ك‬،ِ‫َّللا‬
َّ ‫ع ْب َد‬
َ ‫َيا‬
“Wahai Abdullah, janganlah seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam,
tetapi sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” (H.r. Bukhari dan Muslim).

Yang Ketiga, berkumpul bersama para salih. Cara lain agar kita tidak kendor beramal adalah
berkumpul dengan orang salih. Sering-seringlah bersama tetangga yang bersemangat dalam beribadah.
Jangan bosan berkumpul dengan teman-teman yang terus menjaga amalnya agar tidak kendor. Itulah
nasehat Al-Quran kepada kita. Allah berfirman,

ِ ‫ُون َربَّ ُه ْم ِبا ْلغَدَا ِة َوا ْلعَشِي‬ َ ‫سكَ َم َع الَّذ‬


َ ‫ِين يَ ْدع‬ َ ‫ص ِب ْر نَ ْف‬
ْ ‫َوا‬
...ُ‫ُون َو ْج َهه‬
َ ‫يُ ِريد‬
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya pada
pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya...” (Q.s. Al-Kahfi [18]: 28).

Ternyata, kebersamaan dengan para salih akan menjaga iman dan keistiqamahan kita. Perilaku
baik mereka akan memberi pengaruh kuat sehingga kita turut bersemangat untuk beramal dan tidak

4
‫‪kendor. Barangkali inilah yang dapat kita pahami dari hadits Rasulullah saw. Dari Abu Hurairah r.a.‬‬
‫‪Rasulullah saw bersabda,‬‬

‫ظ ْر أَ َح ُد ُك ْم َم ْن يُ َخا ِل ُل‬
‫ِين َخ ِلي ِل ِه فَ ْليَ ْن ُ‬
‫علَى د ِ‬
‫الر ُج ُل َ‬
‫َّ‬
‫‪“Seseorang akan mencocoki kebiasaan kawan karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah‬‬
‫‪siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (H.r. Abu Daud, Tirmidzi, dan‬‬
‫‪Ahmad).‬‬

‫‪Semoga kita dapat merenungi dan menjaga agar tidak kendor dalam beramal.‬‬

‫س ِل ِم ْي َن ِم ْن ُك ِل‬
‫سائِ ِر ال ُم ْ‬ ‫أَقُ ْو ُل قَ ْو ِلي َهذَا‪َ ،‬وأ َ ْ‬
‫ستَ ْغ ِف ُر هللاَ العَ ِظ ْي َم ِل ْي َولَ ُك ْم َو ِل َ‬
‫ب‪ ،‬فَا ْ‬
‫ستَ ْغ ِف ُر ْوهُ‪ ،‬إِنَّهُ ُه َو الغَفُ ْو ُر َ‬
‫الر ِح ْي ُم‬ ‫ذَ ْن ٍ‬

‫‪Khutbah Kedua‬‬

‫الد ْي ِن ك ُِل ِه‬ ‫علَى ِ‬ ‫ق ِليُ ْظ ِه َرهُ َ‬ ‫س ْولَهُ ِبا ْل ُهدَى َو ِد ْي ِن ا ْل َح ِ‬ ‫س َل َر ُ‬ ‫ِي أَ ْر َ‬ ‫اَ ْل َح ْم ُد ِ َّّلِلِ الَّذ ْ‬
‫َولَ ْو ك َِر َه ا ْلكَافِ ُر ْو َن‪.‬‬
‫ع ْب ُد ُه‬ ‫أن ُم َح َّمدًا َ‬ ‫ش َه ُد َّ‬ ‫أن َلَ ِإلَهَ إَلَّ هللاُ َو ْح َد ُه َل ش َِريكَ لَهُ‪َ ،‬وأَ ْ‬ ‫ش َه ُد ْ‬ ‫أَ ْ‬
‫سولُه‪.‬‬ ‫َو َر ُ‬
‫س ِل ُمو َن))‪.‬‬ ‫ق تُقَاتِ ِه َوَل تَ ُموت ُ َّن إَِل َوأَ ْنت ُ ْم ُم ْ‬ ‫ِين آ َمنُوا اتَّقُوا َّ‬
‫َّللاَ َح َّ‬ ‫((يَاأَيُّ َها الَّذ َ‬
‫ص ِلحْ لَ ُك ْم أَ ْع َمالَ ُك ْم‬ ‫س ِديدًا * يُ ْ‬ ‫َّللاَ َوقُولُوا قَ ْوَل َ‬ ‫ِين آ َمنُوا اتَّقُوا َّ‬ ‫((يَاأَيُّ َها الَّذ َ‬
‫ما))‬
‫ع ِظي ً‬ ‫سولَهُ فَقَ ْد فَا َز فَ ْو ًزا َ‬ ‫َّللاَ َو َر ُ‬‫َو َي ْغ ِف ْر لَ ُك ْم ذُنُو َب ُك ْم َو َم ْن يُ ِط ِع َّ‬
‫س ِي ِد‬‫ش ِف ْي ِعنَا َوك َِر ْي ِمنَا َو َم ْوَلَنَا ُم َح َّم ٍد‪َ ،‬‬ ‫س ِي ِدنَا َو َح ِب ْي ِبنَا َو َ‬ ‫علَى َ‬ ‫ص ِل َ‬ ‫اَللَّ ُه َّم َ‬
‫س ْو ِل هللاِ اَ ْج َم ِع ْي َن‬ ‫ص َحابَ ِة َر ُ‬ ‫ع ْن ُك ِل َ‬ ‫س ِل ْم َو َر ِض َي هللاُ تَعَالَى َ‬ ‫اْْلَ َّو ِل ْي َن َواْْلَ ِخ ِر ْي َن‪َ ،‬و َ‬
‫ئ َم ِز ْي َدهُ‪ ،‬يَا َربَّنا َ لَكَ‬ ‫ب ا ْلعَالَـ ِم ْين‪َ ،‬ح ْمدًا يُ َوافِى نِعَ َمهُ َويُكَافِ ُ‬ ‫اَ ْل َح ْم ُد هلل َر ِ‬
‫س ْل َطا ِنكَ‬‫ش ْك ُر َك َما َي ْن َب ِغى ِل َجَلَ ِل َو ْج ِهكَ َوع َِظ ْي ِم ُ‬ ‫ا ْل َح ْم ُد َولَكَ ال ُّ‬
‫اء ِم ْن ُه ْم‬ ‫س ِل َماتِ‪َ ،‬وا ْل ُم ْؤ ِمنِ ْي َن َوا ْل ُم ْؤ ِمنَاتِ‪ ،‬اَ ْْلَ ْحيَ ِ‬ ‫س ِل ِم ْي َن َوا ْل ُم ْ‬‫اَللَّ ُه َّم ا ْغ ِف ْر ِل ْل ُم ْ‬
‫ت‬‫اض َي ا ْل َحا َجا ِ‬ ‫ت‪ ،‬فَيَا قَ ِ‬ ‫ب ال َّدع ََوا ِ‬ ‫ب ُم ِج ْي ُ‬ ‫س ِم ْي ٌع قَ ِر ْي ٌ‬ ‫َو ْاْلَ ْم َواتِ‪ ،‬إِنَّكَ َ‬
‫ار َح ْم ُه ْم َك َما َربَّ ْونا َ ِصغَارا ً‬ ‫َربَّنا َ ا ْغ ِف ْر لَنا َ ذُنُ ْو َبنا َ َو ِل َوا ِل ِد ْينا َ َو ْ‬
‫ص ِلحْ لَنَا ُد ْن َيانَا الَّ ِت ْي ِف ْي َها‬ ‫ص َمةُ أ َ ْم ِرنَا‪َ ،‬وأَ ْ‬ ‫ِي ُه َو ِع ْ‬ ‫ص ِلحْ لَنَا ِد ْينَنَا الَّذ ْ‬ ‫اللَّ ُه َّم أَ ْ‬
‫اج َع ِل ا ْل َح َياةَ ِزيَا َدةً لَنَا فِ ْي ك ُِل‬ ‫آخ َرتَنَا الَّتِ ْي ِإلَ ْي َها َم َعا ُدنَا‪َ ،‬و ْ‬ ‫ص ِلحْ لَنَا ِ‬ ‫شنَا‪َ ،‬وأَ ْ‬ ‫َم َعا ُ‬
‫اجعَ ِل ا ْل َم ْوتَ َرا َحةً لَنَا ِم ْن ك ُِل ش ٍَر‬ ‫َخ ْي ٍر‪َ ،‬و ْ‬

‫‪5‬‬
‫سا‪َ ،‬و ِفى ا ْل ِق َيا َم ِة‬ ‫ان لَنَا ِفى ال ُّد ْن َيا قَ ِر ْينًا‪َ ،‬و ِفي ا ْلقَ ْب ِر ُم ْو ِن ً‬ ‫اج َع ِل ا ْلقُ ْر َء َ‬ ‫اَلل ُه َّم ْ‬
‫ستْ ًرا َو ِح َجابًا‬ ‫رط نُ ْو ًرا‪َ ،‬و ِإلَى ا ْل َجنَّ ِة َرفِ ْيقًا‪َ ،‬و ِم َن النَّ ِار ِ‬ ‫الص ِ‬ ‫علَى ِ‬ ‫ش ِف ْيعًا َو َ‬ ‫َ‬
‫شع‪َ ،‬و ِم ْن نَ ْف ٍس ََل‬ ‫ب ََل يَ ْخ َ‬ ‫اَللَّ ُه َّم اِنَّا نَعُ ْوذُ ِبكَ ِم ْن ِع ْل ٍم ََل يَ ْنفَع‪َ ،‬و ِم ْن قَ ْل ٍ‬
‫ب لَه‬ ‫ستَجا َ ُ‬ ‫َاء ََل يُ ْ‬‫شبَع‪َ ،‬و ِم ْن ُدع ِ‬ ‫تَ ْ‬
‫اخذَ ْل َم ْن َخـذَ َل‬ ‫س ِل ِم ْين‪َ َ ،‬ود َِم ْـر أَعْـدَا َء ا ِلد ْي ِن‪َ ،‬و ْ‬ ‫سَلَ َم َوا ْل ُم ْ‬ ‫ـز اْ ِإل ْ‬ ‫اَللَّ ُه َّم أَ ِع َّ‬
‫الد ْي َن‬
‫ِ‬
‫اإل ْي َما َن َو َز ِي ْنهُ فِ ْي قُلُو ِب ِه ْم‪،‬‬ ‫س ِل ِم ْي َن‪َ ،‬و َح ِب ْب ِإلَ ْي ِهم ِ‬ ‫اب ا ْل ُم ْ‬ ‫شبَ َ‬ ‫ص ِلحْ َ‬ ‫اللَّ ُه َّم أَ ْ‬
‫ش ِد ْي َن بِ َر ْح َم ِتكَ َيا‬ ‫اجعَ ْل ُه ْم ِم َن َّ‬
‫الرا ِ‬ ‫ان‪َ ،‬و ْ‬ ‫صيَ َ‬ ‫ق َوال ِع ْ‬ ‫س ْو َ‬‫َوك َِر ْه إِلَ ْي ِهم ا ْل ُك ْف َر َوالفُ ُ‬
‫اح ِم ْي َن‬ ‫أَ ْر َح َم َّ‬
‫الر ِ‬
‫ين َوا ْل َح ْم ُد ِ َّّلِلِ‬ ‫س ِل َ‬‫علَى ا ْل ُم ْر َ‬ ‫س ََل ٌم َ‬‫ون َو َ‬ ‫ع َّما يَ ِصفُ َ‬ ‫ب ا ْل ِع َّز ِة َ‬ ‫ان َر ِبكَ َر ِ‬ ‫س ْب َح َ‬ ‫ُ‬
‫ب ا ْلعَالَ ِم َ‬
‫ين‬ ‫َر ِ‬
‫اء ذِي القُ ْربَى َويَ ْن َهى ع َِن‬ ‫سا ِن َوإِ ْيتَ ِ‬ ‫اإل ْح َ‬ ‫ِعبَا َد هللاِ‪ :‬إِ َّن هللاَ يَأ ْ ُم ُر بِا ْلعَ ْد ِل َو ِ‬
‫ظ ُك ْم لَ َعلَّ ُك ْم تَذَ َّك ُر ْو َن‬
‫َاء َوا ْل ُم ْنك َِر َوا ْل َب ْغي ِ َي ِع ُ‬‫ا ْلفَ ْحش ِ‬
‫َولَ ِذ ْك ُر هللاِ أَ ْكبَر‪...‬‬

‫‪6‬‬