Você está na página 1de 23

LAPORAN FARMAKOEPIDEMIOLOGI

PUSKESMAS KEBON HANDIL

Disusun Oleh
Efdinur Eriska
Febi Ramadona
Irani Safitri
Randa Susanti

PROGRAM STUDI FARMASI

STIKES HARAPAN IBU JAMBI

2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat

Indonesia, disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. Penyakit

menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif, sehingga pemberantasan

penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah, misalnya antar propinsi,

kabupaten/kota bahkan antar negara. Beberapa penyakit menular yang menjadi

masalah utama di Indonesia adalah diare, infeksi saluran pernapasan atas, malaria,

demam berdarah dengue, influensa, tifus abdominalis, penyakit 1 2 saluran

pencernaan dan penyakit lainnya. (Kemenkes, 2003).

Salah satu penyakit menular adalah infeksi saluran pernapasan, Penyakit ISPA

(Infeksi Saluran Pernafasan Akut) merupakan salah satu penyebab kematian utama

pada bayi dan balita dinegara berkembang. ISPA di Indonesia merupakan salah satu

masalah kesehatan utama karena masih tinggi angka kejadian ISPA terutama pada

balita. Karakteristik penduduk dengan ISPA tertinggi terjadi pada kelompok 1-4

tahun1. ISPA merupakan jenis penyakit menular yang biasanya menyerang balita

dengan rentan usia kurang dari lima tahun.

Jenis penyakit ISPA yang perlu diwaspadai adalah nasofaringitis merupakan

infeksi yang menyerang nasofaring dan hidung, faringitis merupakan peradangan

dinding faring yang diakibatkan oleh bakteri atau virus, rhinitis merupakan kelainan

pada hidung dengan gejala sering mengalami bersin-bersin, asma merupakan suatu

keadaan dimana pasien mengalami sesak nafas disertai wheezing, bronkitis

merupakan keadaan dimana terdapat perubahan bronkus, pneumonia merupakan

penyebab utama kematian pada balita didunia. Data WHO tahun 2005 menyatakan
bahwa proposisi kematian balita karena saluran pernafasan didunia adalah sebesar 19-

26%. Pada tahun 2007 diperkirakan terdapat 1,8 juta kematian akibat pneumonia atau

sekitar 20% dari total 9 juta kematian pada anak.

Salah satu infeksi saluran pernapasan atas yang banyak terjadi di masyarakat

adalah nasofaringitis akut, nasofaringitis akut adalah infeksi primer pada nasofaring

dan hidung yang sering mengeluarkan cairan, penyakit ini banyak dijumpai pada bayi

dan anak-anak. Pada bayi dan anak-anak infeksi saluran nafas seperti nasofaringitis

sangat berbahaya karena dapat mengganggu makan dan kadang-kadang

menyebabakan infeksi saluran nafas bawah menjadi lebih akut, apabila tidak disertai

penanganan khusus dari orangtua.

Berdasarkan permasalahan tersebut dapat diuraikan, bahwa tingginya angka

kematian ISPA pada balita diperlukan sebuah sistem pakar diagnosis ISPA yang

dapat membantu dokter untuk dapat melakukan anamnesis sebaik-baiknya pada

pasien, terutama pada puskesmas atau poliklinik yang berjarak jauh dari Rumah Sakit

dan sulit melakukan pemeriksaan kepada dokter spesialis.

Jika ditinjau dari sistim pelayanan kesehatan di Indonesia, maka peranan dan

kedudukan puskesmas adalah sebagai ujung tombak sistim pelayanan kesehatan di

Indonesia. Sebagai sarana pelayanan kesehatan terdepan di Indonesia, maka

puskesmas bertanggungjawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan

masyarakat. Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan

disatu atau sebagian wilayah kecamatan.

Berdasarkan latar belakang di atas maka kami tertarik untuk melakukan survei

farmakoepidemiologi tentang penyakit menular nasopharingitis akut di wilayah kerja

Puskesmas Kebon Handil. Pada wilayah kerja Puskesmas Kebon Handil


nasopharingitis merupakan penyakit terbesar dan yang banyak terjadi berulang di

wilayah kerja puskesmas.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Epidemiologi

1. Pengertian

Epidemiologi berasal dari bahasa yunani, yaitu epi yaitu pada atau tentang,

demos= people yang berarti penduduk, dan logos= knowladge yang berarti ilmu.

Sehingga epedemiologi adalah ilmu yang mempelajari kejadian/kasus yang terjadi

pada penduduk/masyarakat.

Ruang lingkup epidemiologi meliputi, frekuensi, distribusi, determinan, suatu

penyakit.

a. Frekuensi

Merupakan upaya melakukan kuantifikasi atau proses patologis atas kejadian

untuk mengukur besarnya kejadian/masalah serta untuk melakukan

pembandingan. Setiap pengamatan yang sistematis terhadap pola penyakit di

dalam masyarakat, di mulai dari analisis data sekunder dan data primer yang

terkumpul.

b. Distribusi

Menunjukkan bahwa dalam memahami kejadian yang berkaitan dengan penyakit

atau masalah kesehatan, epidemiologi menggambarkan kejadian tersebut menurut

karakter/variabel orang, tempat, dan waktu. Artinya dalam penyelidikannya selalu

menjawab pertanyaan siapa yang terkena penyakit di dalam populasi, kapan dan di

mana penyakit tersebut terjadi. Guna menjawab pertanyaan tersebut mungkin

dilakukan perbandingan antara populasi yang berbeda dalam waktu yang sama,

antara subgroup di dalam suatu populasi, atau antara berbagai periode observasi.

Pengetahuan tentang distribusi penyakit diperlukan untuk menjelaskan pola


penyakit serta merumuskan hipotesis tentang kemungkinan faktor penyebab atau

pencegah.

c. Determinan

Adalah faktor yang mempengaruhi, berhubungan atau memberi risiko terhadap

terjadinya penyakit/ masalah kesehatan. Merupakan kelanjutan dua komponen

terdahulu, karena pengetahuan tentang frekuensi dan distribusi penyakit

diperlukan untuk menguji hipotesis epidemiologi: jadi menunjukkan faktor

penyebab dari suatu masalah kesehatan, baik yang menerangkan frekuensi,

penyebaran dan penyebab munculnya masalah kesehatan.

B. Nasopharingitis akut

1. Definisi

Nasofaringitis adalah infeksi primer pada nasofaring dan hidung yang sering

mengeluarkan cairan, penyakit ini banyak dijumpai pada bayi dan anak-anak.

Dibedakan istilah nasofaringitis akut adalah istilah untuk anak, sedangkan common

cold adalah istilah untuk orang dewasa atau yang kita kenal dengan sebutan infuenza.

Dalam hal ini manifestasi klinis antara orang dewasa dan anak berlainan. Pada anak

infeksi lebih luas, mencakup daerah sinus parsial, telinga tengah sampai nasofaring,

disertai demam yang tinggi. Pada orang dewasa infeksi mencakup daerah terbatas dan

biasanya tidak disertai demam yang tinggi. Pada bayi dan anak-anak infeksi saluran

nafas seperti nasofaringitis sangat berbahaya karena dapat mengganggu makan dan

kadang-kadang menyebabakan infeksi saluran nafas bawah menjadi lebih akut,

apabila tidak disertai penanganan khusus dari orangtua. Gejala penyakit nasofaringitis

pada anak-anak yaitu gejala awal berupa rasa tidak enak di hidung atau tenggorokkan,

penderita mulai bersin-bersin, hidung mengeluarkan cairan yang encer atau jernih,
biasanya tidak timbul demam tetapi bisa muncul demam ringan, disertai batuk atau

tanpa batuk.

2. Etiologi

Penyebab CC ialah virus. Yang tersering adalah rhinovirus (25-80%),

coronavirus (10-20%), virus influenza (10-15%). Virus jenis lain di antaranya

adenovirus, myxovirus, coxsackie virus, echo virus.

Virus-virus tersebut dapat ditularkan secara kontak langsung (sentuhan)

maupun tidak langsung (droplet/udara/bersin/batuk) dan menginfeksi saluran

pernafasan atas, baik di hidung maupun tenggorokan. Gejala biasanya timbul satu

hingga dua hari setelah terpapar virus dan berat ringannya dipengaruhi oleh tingkat

daya tahan tubuh seseorang.

3. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala yang ditimbulkan nasofaringitis tergantung pada

mikroorganisme yang menginfeksi. Secara garis besar nasofaringitis menunjukkan

tanda dan gejala umum seperti lemas, anorexia, demam, suara serak,mengeluarkan

cairan kental dari hidung.

4. Epidemiologi
Penyakit ini tersebar luas di seluruh dunia. Baik laki-laki maupun perempuan

dewasa memiliki insidensi yang sama. Di Amerika Serikat, rata-rata orang dewasa

menderita CC ini 4 sampai 6 kali tiap tahunnya. Anak-anak di bawah umur 3 tahun

lebih sering frekuensinya, yakni sekitar 6 sampai 8 kali tiap tahunnya. Hal tersebut

dikarenakan daya tahan tubuh atau imunitas pada anak belum sebaik orang dewasa.

Setiap tahunnya ± 40 juta orang mengunjungi pusat pelayanankesehatan

karena nasofaringitis. Anak-anak dan orang dewasa umumnya mengalami 3−5 kali

infeksi virus pada saluran pernafasan atas termasuk nasofaringitis (Kementerian

Kesehatan Republik Indonesia, 2013). Frekuensi munculnya faringitis lebih sering


pada populasi anak-anak. Kira-kira 15−30% kasus faringitis pada anak-anak usia

sekolah dan 10% kasus nasofaringitis pada orang dewasa. Biasanya terjadi pada

musim dingin yaitu akibat dari infeksi Streptococcus ß hemolyticus group A. (Acerra,

2010).

5. Faktor Resiko

Faktor risiko lain penyebab nasofaringitis akut yaitu udara yang dingin,

turunnya daya tahan tubuh yang disebabkan infeksi virus influenza, konsumsi

makanan yang kurang gizi, konsumsi alkohol yang berlebihan, merokok dan

seseorang yang tinggal di lingkungan kita yang menderita sakit tenggorokan atau

demam (Gore, 2013).

6. Diagnosis

a. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan tandanya.

b. Pemeriksaan Penunjang

c. Pemeriksaan darah dilakukan apabila gejala sudah berlangsung selama lebih

10 hari atau dengan

d. demam > 37,8°C

7. Tata Laksana

 Usahakan untuk beristirahat dan selalu dalam keadaan hangat dan nyaman, serta
diusakahan agar tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain.
 Jika terdapat demam atau gejala yang berat, maka penderita harus menjalani tirah
baring di rumah.
 Minum banyak cairan guna membantu mengencerkan sekret hidung sehingga
lebih mudah untuk dikeluarkan/dibuang.
 Untuk meringankan nyeri atau demam dapat diberikan asetaminofen atau
ibuprofen.
 Pada penderita dengan riwayat alergi, dapat diberikan antihistamin
 Menghirup uap atau kabut dari suatu vaporizer bisa membantu mengencerkan
sekret dan mengurangi sesak di dada.
 Mencuci rongga hidung dengan larutan garam isotonik bisa membantu
mengeluarkan sekret yang kental
 Batuk merupakan satu-satunya cara untuk membuang sekret dan debris dari
saluran pernafasan. Oleh karena itu sebaiknya batuk tidak perlu diobati, kecuali
jika sangat mengganggu dan menyebabkan penderita susah tidur.
 Jika batuknya hebat, bisa diberikan obat anti batuk. Antibiotik tidak efektif untuk
mengobati common cold, antibiotik hanya diberikan jika terjadi
 suatu infeksi bakteri.

C. Puskesmas

1. Definisi

Puskesmas merupakan kesatuan organisasi fungsional yang menyelenggarakan

upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diteima dan

terjangkau oleh masyarakat dengn peran serta aktif masyarakat dan menggunakan

hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya

yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat luas guna mencapai derajat

kesehatan yang optimal tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan

(Depkes RI, 2009).

2. Tujuan Puskesmas

Tujuan pembangunan kesehatan yang di selenggarakan oleh puskesmas adalah

mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakn

meningkatkan kesadaran. kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi orang yang

bertempat tinggal di wilayah krja puskesms agar terwujud derajat kesehatan yang

setinggi-tingginya (Trihono, 2010)


BAB III

METODE PELAKSANAAN

A. Sampel
Populasi penelitian ini adalah masyarakat yang bertempat tinggal diwilayah kelurahan
Handil jaya. Sampel pada kegiatan ini sebanyak 20 orang. ( perempuan 11 orang, laki-
laki 9 org ). Usia responden kurang dari 45 tahun.
3.2. Rencana kegiatan
3.2.1 survei awal
Sarana pelayanan kesehatan : Puskesmas Kebon Handil
Hari/tanggal : kamis, 28 juni 2018
Alamat : Jl. Yunus Sanis No. 9, Handil Jaya, Jelutung, Kota Jambi,
Jambi 36125
3.2.2 survei kemasyarakat
Hari/tanggal : minggu, 30 juni 2018
Lokasi : Handil jaya
3.3. Rancangan kuesioner
Kuesioner untuk masyarakat diberikan berdasarkan pertanyaan yang telah dibuat.
3.4. Analisis Hasil survei kemasyarakat
Hasil survei kemasyarakat dibuat dan dibandingkan dengan hasil survei awal yang
didapat dari survei awal.
3.5. Rancangan penanggulangan
Solusi mengenai hasil survei dibuat berdasarkan kegiatan mengenai penyakit
nasofaringitis kepada masyarakat.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

1. Hasil Survei Awal

2. Hasil Survei ke Mayarakat

No Nama anak Umur Jenis Status Pendidik Pengetahu Faktor Umur


anak kelamin imunisa an an orang Lingkun responde
4,5(th) si orangtua tua gan n
1 Khaila 2 Pr V SLTA V - 30 th
2 Nisa 5,6 Pr V SLTA - V 45 th
3 Renra 6 L - SLTP - V 40 th
4 Yusuf 2,5 L - SLTP - - 41 th
5 Anggi 6 Pr V SLTP V V 34 th
6 Rasya 2,1 Pr V PT V - 41 th
7 Putra 5 L V SLTA - - 38 th
8 Yuni 2 Pr - AKD V - 37 th
9 Aisyah 7,5 Pr - SLTP - - 41 th
10 Echa 4,5 Pr - SLTA V V 33 th
11 Edo 3,5 L V PT V - 38 th
12 Lia 3 Pr - SLTP - V 40 th
13 Tasya 2,5 Pr - SLTP - - 40 th
14 Aldi 7 L V PT V V 38 th
15 Alfin 5,5 L - SLTA V - 44 th
16 Sahara 3,2 Pr - SLTP - - 35 th
17 Alan 5 L V SLTA - V 41 th
18 Laura 4,5 Pr - SLTP - - 40 th
19 Ega 5,7 L V AKD - V 30 th
20 jesika Pr - SLTP - - 45 th

3. FARMAKOEPIDEMIOLOGI

a. Penyakit

Nasofaringitis adalah infeksi primer pada nasofaring dan hidung yang sering

mengeluarkan cairan, penyakit ini banyak dijumpai pada bayi dan anak-anak.

Nasopharyngitis akut (setara dengan “common cold”) disebabkan oleh sejumlah

virus, biasanya rhinoviruses, RSV, adenovirus, virus influenza, atau virus

parainfluenza. Gejala nasopharyngitis lebih parah pada bayi dan anak-anak dari

pada dewasa

b. Frekuensi
Dari data yang kami peroleh di puskesmas Kebon Handil dapat dilihat bahwa

jumlah kasus nasopharingitis akut merupakan penyakit yang paling banyak dan

terbesar di wilayah puskesmas Kebon Handil dengan jumlah kasus di bulan Mei

adalah 181 kasus.

c. Distribusi

Berdasarkan hasil dari kuesioner yang kami lakukan ke masyarakat dalam

wilayah Puskesmas Kebon Handil distribusi nasopharingitis akut :

Tabel 1. Distribusi proporsi penyakit nasopharingitis akut berdasarkan umur


di wilayah Puskesmas Kebon Handil
NO Kelompok Umur Jumlah
F Proporsi (%)
1 2-5 tahun 16 80%
1 6-10 tahun 4 20%
Total 20 100%

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa proporsi balita penderita

nasopharingitis akut berdasarkan umur terbesar pada kelompok umur 2-5 tahun yaitu

sebanyak 16 penderita (80%) dan terkecil pada kelompok umur 6-10 tahun yaitu 4

penderita (20%).

Tabel 2. Distribusi proporsi penyakit nasopharingitis akut berdasarkan jenis


kelamin di wilayah Puskesmas Kebon Handil
NO Jenis Kelamin Jumlah
F Proporsi (%)
1 Laki – laki 9 45%
1 Perempuan 11 55%
Total 20 100%

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa proporsi balita penderita

nasopharingitis akut berdasarkan jenis kelamin terbesar pada jenis kelamin

perempuan yaitu sebanyak 11 penderita (55%) dan terkecil pada jenis kelamin laki-

laki yaitu 9 penderita (45%)

Tabel 3. Distribusi proporsi penyakit nasopharingitis akut berdasarkan status


imunisasi di wilayah Puskesmas Kebon Handil
NO Status Jumlah
F Proporsi (%)
1 Imunisasi 9 45%
1 Tidak Imunisasi 11 55%
Total 20 100%

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa proporsi balita penderita

nasopharingitis akut berdasarkan status imunisasi yaitu banyak menyerang pada bayi

dan balita yang tidak melakukan imunisasi atau imunisasi yang tidak lengkap dengan

jumlah 11 penderita (55%)

d. Determinan
Berdasarkan hasil dari kuesioner dan wawancara yang kami lakukan di wilayah

puskesmas Kebon Handil, beberapa faktor yang mempengaruhi nasopharingitis akut

antara lain

- Ketidakpatuhan Imunisasi

Bayi dan anak tergolong kelopok beresiko tinggi terhadap penularan penyakit.

Oleh karena itu, diupayakan imunisasi yang tujuannya mencegah timbulnya

penyakit. Banyak penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Berdasarkan hasil dari survei yang telah kami lakukan bahwa dari 20 penderita

nasopharingitis akut hanya 9 penderita (45%) yang melakukan imunisasi lengkap

sedangkan 11 penderita tidak menjalani imunisasi yang lengkap. Sehingga

ketidakpatuhan imunisasi mempengaruhi dan berhubungan dengan peningkatan

resiko berkembangnya nasopharingitis akut.

- Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan memegang peranan yang cukup penting dalam menentukan

terjadiya proses interaksi antara pejamu dengan unsur penyebab dalam proses

terjadinya penyakit.

Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan bahwa faktor lingkungan dapat

mempengaruhi penyebaran penyakit nasopharingitis akut. Hal ini sesuai dengan

12 penderita (60%) nasopharingitis akut yang tinggal dilingkungan yang kurang

layak.

- Pendidikan Orang Tua

Pendidikan orang tua penderita nasopharingitis akut terdiri dari berbagai

macam tingkatan pendidikan, mulai dari SLTP, SLTA dan PT. Berdasarkan

hasil survei yang kami lakukan bahwa 9 penderita nasopharingitis akut ini
pendidikan orang tua mereka sekolah menengah pertama. Berdasarkan hal ini

bahwa pendidikan orang tua mempengaruhi penyebaran nasopharingitis akut.

e. Solusi

Berdasarkan survei yang sudah kami lakukan di wilayah kerja Puskesmas

Kebon Handil untuk epidemiologi penyakit nasopharingitis akut yang memang

merupakan penyakit menular dengan jumlah penyakit tertinggi di puskesmas

Kebon Handil.

Untuk penyebaran penyakit nasopharingitis pada petugas puskesmas kami

menyarankan perlu ditingkatkan nya pelayanan yang di berikan kepada

masyarakat sekitar, di antaranya pelayanan pemberian informasi obat yang

diberikan oleh petugas kesehatan sehingga penderita lebih patuh dalam

mengkonsumsi obat yang diberikan. Selain itu perlua ditingkatkannya lagi

pemberian penyuluhan penyuluhan seputar penyakit penyakit menular di

wilayah kerja puskesmas Kebon Handil, hal ini dirasa dapat meminimalisir

penyebaran nasopharingitis akut pada bayi dan balita.

Dan untuk orang tua yang merupakan hal terpenting dari penyebaran penyakit

nasopharingitis akut ini disarankan lebih menjaga anak anak mereka,

diantaranya dengan menjaga kebersihan rumah dan kebersihan lingkungan

agar anak tidak banyak terkontaminasi dengan banyak bakteri atau virus

penyebab penyakit. Kepada orang tua perlu menggali gali pengetahuan

mengenai penyakit penyakit dan pencegahannya sehingga dapat menghindari

penyebab penyakit.
B. PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil survey kami di puskesmas Handil Jaya bahwa penyakit

Nasofaringitis akut merupakan penyakit tertinggi dan kasus terbanyak dengan jumlah

181 kasus dalam bulan Mei 2018. Berdasarkan keterangan yang di berikan petugas

puskesmas bahwa pasien nasopharingitis akut ini sebagian besar adalah bayi dan

balita. Pengobatan yang diberikan untuk nasopharingitis akut ini dilakukan dalam 3-7

hari.

Berdasarkan hasil survei awal yang kami peroleh di puskesmas Kebon Handil

tersebut, kami melanjutkan dengan perencanaan wawancara atau kuesioner ke

masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kebon Handil. Sampel yang diambil secara

random sampling dengan mendatangi rumah rumah warga yang memiliki anak anak

balita. Jumlah sampel yang menjadi responden adalah 20 orang. Kuesioner yang

dibuat berisi identitas dari responden, pengetahuan responden terhadap

nasopharingitis akut dan wawancara mengenai kejadian penyakit nasophairingitis

yang menimpa anak dan balita dari responden.

Hasil dari kuesioner dan wawancara yang kami lakukan kami ringkas menjadi

beberapa kategori untuk mengetahui distribusi determinan dan kesimpulan dari survei

yang kami lakukan di wilayah kerja Puskesmas Kebon Handil.

Berdasarkan hasil yang kami peroleh menyatakan bahwa berdasarkan umur,

nasopharingitis akut di wilayah Puskesmas Kebon Handil sebagian besar menyerang

balita berumur 2 – 5 tahun. Pada usia ini mudah sekali terinfeksi virus dan bakteri.

Namun juga ada yang berusia 6 – 10 tahun hal ini mungkin di sebabkan karna

pengaruh atau faktor lingkungan daerah tempat tinggal.

Distribusi penyebaran nasopharingitis akut berdasarkan jenis kelamin sebagian

besar penderita berjenis kelamin perempuan dan sebagian kecil berjenis kelamin laki-
laki. Berdasarkan kondisi biologis dan fisiologis laki laki dan perempuan itu berbeda,

misalnya gangguan pola makan ataupun hormonal.

Distribusi penyebaran nasopharingitis akut berdasarkan status imunisasi

sebagian besar penderita kurang mendapatkan imunisasi yang lengkap. Bayi dan anak

tergolong kelompok beresiko tinggi terhadap penulara penyakit. Oleh karena itu,

diupayakan imunisasi yang tujuannya mencegah timbulnya penyakit. Banyak

penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Faktor faktor yang mempengaruhi peningkatan penyebaran nasopharingitis

akut di wilayah kerja Puskesmas Kebon Kopi diantaranya adalah ketidakpatuhan

imunisasi, pendidikan orang tua dan faktor lingkungan.

Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam menentukan terjadinya

proses interaksi antara pejamu dengan unsur penyebab dalam proses terjadinya

penyakit. Secara garis besarnya, faktor lingkungan terdiri dari lingkunga fisik,

lingkungan biologi dan lingkungan sosial. Menurut Kartasamita 91993) yang menguti

pendapat Hrtono, terjadinya penyakit nasopharingitis dapat di pengaruhi oleh

lingkungan yang tidak sehat didalam rumah (seperti polusi udara, hygiene perorangan

dan perumahan ). Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan faktor lingkungan

sangat berpengaruh terhadap penyebaran nasopharingitis akut.

Faktor pendidikan orang tua juga merupakan salah satu faktor penting yang

mempengaruhi penyebaran nasopharingitis akut. Dengan semakin tingginya tingkat

pendidikan orang tua maka secara otomatis pengetahuan orangtua juga semakin luas.

Sebaliknya semakin rendah tingkat pendidikan orang tua maka pengetahuan tentang

bagaimana penanganan dari penyakit juga rendah. Berdasarkan hasil dari survei yang

kami lakukan bahwa sebagian besar penderita naospharingitis pendidikan orang tua

nya sekolah lanjutan tingkat pertama.


Faktor penyebab lain dalam nasofharingitis akut adalah status imunisasi.

Berdasarkan dengan program pemerintah (Depkes) seorang anak diharuskan

imunisasi terhadap 6 jenis penyakit utama yaitu TBC, Difteri, Tetanus, Pertusis, Polio

dan Campak. Selain untuk pencegahan penyakit menular, imunisasi pada anak juga

merupakan pemenuhan kebutuhan anak untuk menunjang proses tumbuh kembang

yang ideal. Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan bahwa sebagian besar

penderita nasopharingitis akut adalah anak atau balita yang imunisasinya kurang

lengkap.
BAB V

KESIMPULAN

 Nasopharingitis akut merupakan penyakit terbesar yang tersebar di wilayah

kerja Puskesmas Kebon Handil dengan jumlah kasus 181 kasus perbulan

 Nasopahringitis akut adalah infeksi primer pada nasofaring dan hidung yang

sering mengeluarkan cairan, penyakit ini banyak dijumpai pada bayi dan anak-

anak

 Distribusi nasopharingitis akut berdasarkan umur yaitu sebagian besar

berumur 2-5 tahun dan berjenis kelamin perempuan. Nasopharingitis akut

banyak menyerang balita yang tidak lengkap imunisasinya.

 Faktor penyebab penyebaran nasopharingitis akut adalah status imunisasi,

pendidikan orang tua dan pengetahuan orang tua. Faktor faktor tersebut

berpengaruh terhadap penyebaran penyakit nasopharingitis akut


DAFTAR PUSTAKA

 Budioro. 1997. Pengantar Epidemiologi. Semarang : Badan Penerbit

Universitas Diponegoro

 Subaris Kasjono, Heru dkk.2008. Intisari Epidemiologi. Jogjakarta : Mitra

Cendikia

 Nasry Noor, N., 2000. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Penerbit

Rineka Cipta. Jakarta.

 Mairusnita., 2007. Karakteristik Penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut

(ISPA) pada Balita yang Berobat ke Badan Pelayanan Kesehatan Rumah

Sakit Umum Daerah (BPKRSUD) Kota Langsa Tahun 2006. Universitas

Sumatera Utara
LAMPIRAN