Você está na página 1de 4

Revaluation Model

Pencatatan aset tetap dapat dilakukan dengan dua model, yaitu :

1. Cost Model, Pada cost model aset tetap dicatat sebesar nilai perolehannya dan disusutkan menurut
nilai bukunya.

2. Revaluation model, aset tetap direvaluasi secara berkala untuk menentukan nilai wajarnya pada
tanggal revaluasi. Apabila suatu aset dicatat dengan revaluation model, seluruh aset tetap dalam
kelompok yang sama harus direvaluasi juga. Jenis revaluation model juga dibagi dua jenis, yaitu :

a. Secara porposional, dengan perubahan dalam jumlah tercatat bruto asset sehingga jumlah
tercatat aset setelah revaluasi sama dengan jumlah revaluasiannya. Metodeini sering digunakan
apabila aset direvaluasi dengan cara memberi indeks untukmenentukan biaya pengganti yang
telah disusutkan.
b. Secara eliminasi, terhadap jumlah tercatat bruto aset dan jumlah tercatat neto setelah eliminasi
disajikan kembali sebesar jumlah revaluasian dari aset tersebut. Metode ini sering digunakan
untuk bangunan.

Pada saat entitas memilih mencatat aset tetap dengan menggunakan revaluation model, jika jumlah
tercatat aset tetap meningkat sebagai akibat revaluasi, maka:

a. Kenaikan diakui di pendapatan komprehensif lain (OCI) dan terakumulasi dalam ekuitas pada
bagian surplus revaluasi
b. Kenaikan diakui di laba rugi hingga sebesar penurunan nilai aset tetap yang sama akibat
revaluasi yang pernah diakui sebelumnya dalam laba rugi

Paragraf 39 dan 40 dalam PSAK 16 (2007) mengatur mengenai perlakuan pencatatan atas peningkatan
ataupun penurunan jumlah tercatat aset akibat revaluasi sebagai berikut :

• Jika jumlah tercatat aset meningkat akibat revaluasi, kenaikan tersebut langsung dikreditkan ke
Ekuitas pada bagian Surplus Revaluasi. Namun kenaikan tersebut harus diakui dalam laporan laba rugi
sehingga sebesar jumlah penurunan nilai aset akibat revaluasi yang pernah diakui sebelumnya dalam
laporan laba rugi (par. 39)

• Jika jumlah tercatat aset turun akibat revaluasi, penurunan tersebut diakui dalam laporan laba
rugi. Namun, penurunan nilai akibat revaluasi tersebut langsung didebit ke ekuitas pada bagian surplus
revaluasi selama penurunan tersebut tidak melebihi saldo kredit surplus revaluasi untuk aset tersebut
(par. 40).

Sementara jika jumlah tercatat aset tetap menurun sebagai akibat revaluasi, maka:

a. Penurunan diakui di pendapatan komprehensif lain (OCI) sepanjang tidak melebihi saldo surplus
aset tercatat
b. Penurunan diakui dalam laporan laba rugi jika tidak terdapat saldo surplus revaluasi akibat
revaluasi periode-periode sebelumnya

Atau lebih mudahnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Akibat Revaluasi Pengaruh ke OCI Pengaruh ke Laba Rugi

Jika tidak memiliki kerugian Jika memiliki kerugian


Meningkat akibat revaluasi periode- akibat revaluasi periode-
periode sebelumnya periode sebelumnya

Jika tidak memiliki saldo


Jika memiliki saldo surplus
surplus revaluasi skibat
Menurun revaluasi akibat revaluasi
revaluasi periode-periode
periode-periode sebelumnya
sebelumnya

Surplus revaluasi yang ada di ekuitas dapat dipindahkan langsung ke saldo laba pada saat aset tersebut
dihentikan penggunaannya, atau pemindahan tersebut juga dapat dilakukan seiring dengan penggunaan
aset oleh entitas (partially realized). Nilai yang dipindahkan sebesar perbedaan penyusutan dengan
revaluasian dan penyusutan dengan biaya perolehan, (atau nilai surplus revaluasi dibagi sisa masa
manfaat ekonomis).

Contoh:

PT RST memiliki bangunan, dibeli tanggal 1 Januari 2007 dengan harga Rp1.000.000.000,-. Masa manfaat
bangunan adalah 25 tahun dan tanpa nilai sisa. Pada 31 Desember 2007, nilai wajar bangunan tersebut
adalah Rp1.020.000.000,-. Perusahaan menggunakan metode garis lurus dalam penyusutannya.

Maka jurnal yang dicatat PT RST:

a. Pada saat pembelian 1 Januari 2007

Jurnal Debit Kredit

Bangunan 1.000.000.000

Kas 1.000.000.000

b. Pada saat penyusutan


Jurnal Debit Kredit

Beban penyusutan- Bangunan 40.000.000

Akumulasi penyusutan
40.000.000
bangunan

c. Penyajian di Laporan Keuangan per 31 Desember 2007

Akun Jumlah Keterangan

Bangunan 1.000.000.000

Akumulasi penyusutan
(40.000.000)
bangunan

Nilai tercatat 960.000.000

d. Pada saat penyesuaian terhadap nilai wajar

Journal Debit Kredit

Bangunan 62.500.000 (1)

Akumulasi penyusutan
2.500.000 (2)
bangunan

Surplus revaluasi 60.000.000


1. ((1.020.000.000 – 960.000.000) / 960.000.000) x 1.000.000.000

2. ((1.020.000.000 – 960.000.000) / 960.000.000) x 40.000.000


e. Penyajian di Laporan Posisi Keuangan tanggal 31 Desember 2007

Akun Jumlah Keterangan

Bangunan 1.062.500.000

Akumulasi penyusutan
(42.500.000)
bangunan

Nilai tercatat 1.020.000.000

Keuntungan Revaluasi Aset untuk kepentingan komersial, yaitu:

1. Mencerminkan nilai yang sesungguhnya (nilai wajarnya), sehingga dapat lebih baik
dalam pengambilan keputusan bagi perusahaan maupun investor dalam melakukan
investasi.
2. Bagi perusahaan yang ingin atau yang sudah go publik, revaluasi berguna untuk
menyusun nilai asetnya ke harga yang realistis
3. Meningkatkan kepercayaan kreditur , sebagai dampak membaiknya beberapa rasio
keuangan perusahaan, khususnya yang ditunjukkan oleh
debt to assets ratio dan debt to equity ratio.
4. Penilaian kembali aktiva tetap ini juga dapat dilakukan oleh perusahaan yang ingin
merger. Sebab dengan melakukan penilaian kembali aktiva tetap pada masing – masing
perusahaan yang ingin melakukan merger, maka akan dapat diketahui nilai aktiva
sesungguhnya (nilai wajarnya) untuk perusahaan bentukan baru (setelah merger).

Kerugian Revaluasi Aset Tetap bagi Perusahaan :

1. Perusahaan tidak mendapatkan aliran kas masuk, perusahaan hanya melakukan window
dressing untuk pelaporan keuangan nya
2. Selisih lebih atas revaluasi akan dikenai PPh final sebesar 10% dan harus dibayar pada
tahun tersebut (tidak boleh dicicil dalam 5 tahun misalnya) dan tidak menghasilkan
hutang pajak tangguhan yang bisa dibalik di tahun berikutnya bila nilai aset turun.
3. Apabila perusahaan memutuskan memakai model revaluasi dan setiap tahun harga
asetnya meningkat, maka setiap tahun perusahaan harus membayar pajak final.
4. Perusahaan membutuhkan jasa penilai (assessor) sehingga akan makin menambah biaya
yang keluar untuk menilai asset – aset tersebut.