Você está na página 1de 14

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN DIABETES MELITUS

D
I
S
U
S
U
N
Oleh Kelompok 5 :
Awal Ardianto Tampubolon (16-01-464)
Krisna E. Sitinjak (16-01-501)
Mutiara S. Sianturi (16-01-511)
Pahala G. Panjaitan (16-01-515)
Putri N S Sigalingging (16-01-519)
Rada Fitrianty (16-01-521)
Sulastri S P Matondang (16-01-534)
Wina E Silalahi (16-01-539)

AKADEMI KEPERAWATAN

PEMERINTTAH TAPANULI TENGAH

T.A 2017
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Manfaat

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS MEDIS


2.1 Tinjauan Teoritis Medis
2.1.1 Defenisi
2.1.2 Klasifikasi
2.1.3 Etiologi
2.1.4 Patofisiologi
2.1.5 Manifestasi klinik
2.1.6 Pemeriksaan Diagnostik
2.1.7 Penatalaksanaan
2.1.8 Komplikasi
2.2 Tinjauan Teoritis Keperawatan
2.2.1 Pengkajian Keperawatan
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
2.2.3 Intervensi Keperawatan

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karateristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,kerja insulin
atau kedua-duanya .Diagnosis DM umumnya akan dipikirkan bila ada keluhan khas
DM berupa poliuria,polidipsia,polifagia,dan penurunan berat badan yang tidak
dapat dijelaskan sebabnya.
Diabetes mellitus jika tidak dikelolah dengan baik akan dapat mengakibatkan
terjadinya berbagai penyakit menahun,seperti penyakit serebovaskular,penyakit
jantung koroner,penyakit pembulu darah tungkai,penyakit pada mata,ginjal,dan
syaraf.
Jumlah penderita penyakit diabetes mellitus akhir-akhir ini menunjukkan
kenaikan yang bermaknah diseluruh dunia,manurut Federasi Diabetes
Internasional(IDF)penduduk dunia yang menderita diabetes mellitus sudah
mencangkup sekitar 197 juta jiwa,dan dengan angka kematian sekitar 3,2 juta
orang.
WHO memprediksikan penderita diabetes mellitus akan menjadi sekitar 366
juta orang pada tahun 2030.Penyumbang peningkatan angka tadi merupakan
negara-negara berkembang,yang mengalami kenaikan penderita diabetes mellitus
150% yaitu negara penderita diabetes melllitus terbanyak adalah india(35,5 juta
orang),cina(23,8juta orang),Amerika serikat(16 juta orang),Rusia(9,7 juta
orang),dan Jepang(6,7 juta orang).
WHO menyatakan,penderita diabetes mellitus diindonesia diperkirakan akan
mengalami kenaikan 8,4 juta jiwa pada tahun 2000,menjadi 21,3 juta jiwa pada
tahun 2030.Tingginya angka kematian tersebut menjadikan indonesia menduduki
ranking ke-4 dunia setelah Amerika serikat,India dan cina(Depkes RI,2004).
Berdasarkan hasil survey kesehatan rumah tangga(SKRT),terjadi pengukuran
prevalansi diabetes mellitus dari tahun 2001 sebesar 7,5% menjadi 10,4% pada
tahun 2004,sementara hasil survay BPS tahun 2003 menyatakan bahwa prevalensi
diabetes mellitus dari tahun 2001 sebesar 7,5% menjadi 10,4% pada tahun
2004,sementara hasil survay 2003 menyatakan bahwa prevalensi diabetes
mellitus mencapai 14,7% diperkotaan dan 7,2% diperdesaan.
Berdasarkan hasil survay kesehatan Runah Tangga(SKRT),terjadi pengukuran
prevalensi diabetes mellitus dari tahun 2001 sebesar 7,5% menjadi 10,4% pada
tahun 2004,sementara hasil survay BPS tahun 2003 menyatakan bahwa prevalensi
diabetes mellitus mencapai 14,7%diperkotaan dan 7,25 diperdesaaan.
Berdasarkan data rawat jalan rumah sakit umum provinsi sulawesi
tenggara(poli interna)tahun 2009 penderita diabetes mellitus sebanyak 779 orang
atau 16,1% dari jumlah pasien sebanyak 4837 pasien,tahun 2010 penderita diabetes
mellitus sebanyak 1124 orang atau 25,8% dari jumlah pasian sebanyak
4345%,sedangkan pada tahun 2011 dari januari sampai dengan juni 2011 jumlah
penderita diabetes mellitus 793 orang atau 38,7% dari jumlah pasien sebanyak 2044
orang.

1.2 TUJUAN
Tujuan makalah kami ini adalah mengetahui tinjauan mengenai penyakit diabetes
mellitus baik dari segi pengertian, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, dan
komplikasi.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Teoritis Medis


2.1.1 Defenisi
Diabetes Mellitus adalah penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar gula
didalam darah akibat gangguan sekresi insulin(Arjatmo,2013).Diabetes mellitus
disebut juga penyakit kencing manis.Dalam kamus besar bahasa indonesia,definisi
kencing manis adalah prnyakit yang menyebabkan air kencing yang diproduksi
bercampur zat gula.Adanya kadar gula yang timggi dalam air kencing dapat menjadi
tanda-tanda gejala awal penyakit Diabetes Mellitus.

2.1.2 Klasifikasi
Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut :
a. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)
b. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)
c. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
d. Diabetes mellitus gestasional (GDM)

2.1.3 Etiologi
a. Diabetes tipe I:
1) Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu
predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I.
Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen
HLA.
2) Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi
terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut
yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap
sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
3) Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan
destruksi selbeta.
b. Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan
sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik
memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
1) Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
2) Obesitas
3) Riwayat keluarga

2.1.4 Pathofisiologi
2.1.5 Manifestasi Klinik
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM
umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan
akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lansia
terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya
bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan
yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa
kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada
tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.
Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering
ditemukan adalah :
a. Katarak
b. Glaukoma
c. Retinopati
d. Gatal seluruh badan
e. Pruritus Vulvae
f. Infeksi bakteri kulit
g. Infeksi jamur di kulit
h. Dermatopati
i. Neuropati perifer
j. Neuropati viseral
k. Amiotropi
l. Ulkus Neurotropik
m. Penyakit ginjal
n. Penyakit pembuluh darah perifer
o. Penyakit koroner
p. Penyakit pembuluh darah otak
q. Hipertensi
Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang
tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan
inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya
mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi
polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut.
Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada
pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut.
Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul
keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi, kesadaran
menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia. Gejala yang biasa terjadi
pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan berkeringat banyak umumnya
tidak ada pada DM usia lanjut. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala
dan kebingungan mendadak.
Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala
kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih
jelas.

2.1.6 Pemeriksaan Diagnostik


a. Glukosa darah sewaktu
b. Kadar glukosa darah puasa
c. Tes toleransi glukosa
d. Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM
(200mg/dl)
e. Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mel litus pada sedikitnya 2 kali
pemeriksaan :
1) Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
2) Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
3) Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah
mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial )

2.1.7 Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas
insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler
serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar
glukosa darah normal.
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
a. Diet
b. Latihan
c. Pemantauan
d. Terapi (jika diperlukan)
e. Pendidikan

2.1.8 Komplikasi
Apabila glukosa darah tidak terkontrol dengan baik,beberapa tahun kemudian
hampir selalu akan timbul komplikasi.Komplikasi akibat diabetes mellitus terbagi
menjadi dua kelompok basar.
a. Komplikasi Akut
Timbulnya secara mendadak.ini merupakan keadaan gawat darurat.Keadaan ini
bisa menjadi fatal apabila tidak ditangani dengan segera.Termasuk dalam
kelompok ini adalah hipoglikemia(glukosa darah terlalu
rendah),hiperglikemia(glukosa darah terlalu tinggi),dan terlalu banyak asam
dalam darah(ketoasidosis diabetik).
b. Komplikasi Kronis
Timbul secara perlahan,kadang tidak diketahui,tetapi akhirnya berangsur menjadi
makin berat dan membahayakan misalnya, komplikasi pada saraf(neoropati),
mata(retinopati), katarak(glaukoma), ginjal(nefropati), jantung(angina,serangan
jantung, tekanan darah tinggi), pembuluh darah, hati(hepatitis, perlemakan hati
atau FATTY LIVER, baru empedu.

2.2 Tinjauan Teoritis Keperawatan


2.2.1 Pengkajian keperawatan
a. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?
b. Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya
Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi
insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa
saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.
c. Aktivitas/ Istirahat :
Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.
d. Sirkulasi
Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada
ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi,
perubahan tekanan darah
e. Integritas Stress, ansietas
f. EliminasiPerubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare
g. Makanan / Cairan
Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus,
penggunaan diuretik.
h. Neurosensori
Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan
penglihatan.
i. Nyeri / Kenyamanan
j. Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat)
k. Pernapasan
Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)
l. Keamanan
Kulit kering, gatal, ulkus kulit.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


a. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan
b. Kekurangan volume cairan
c. Gangguan integritas kulit
d. Resiko terjadi injury

2.2.3 Intervensi
a. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak.
Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil :
1) Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat
2) Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya
Intervensi :
1) Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.
2) Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan
yang dapat dihabiskan pasien.
3) Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual,
muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai
dengan indikasi.
4) Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit
dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui oral.
5) Libatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan indikasi.
6) Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit
lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala.
7) Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah.
8) Kolaborasi pemberian pengobatan insulin.
9) Kolaborasi dengan ahli diet.

b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.


Tujuan : kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil :
1) Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi
perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat
secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal.
Intervensi :
1) Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik
2) Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul
3) Kaji frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas
4) Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa
5) Pantau masukan dan pengeluaran
6) Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang
dapat ditoleransi jantung
7) Catat hal-hal seperti mual, muntah dan distensi lambung.
8) Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak
teratur
9) Kolaborasi : berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa, pantau
pemeriksaan laboratorium (Ht, BUN, Na, K)

c. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik


(neuropati perifer).
Tujuan : gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan
penyembuhan.
Kriteria Hasil :
1) Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak terinfeksi
Intervensi :
1) Kaji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema, dan discharge, frekuensi
ganti balut.
2) Kaji tanda vital
3) Kaji adanya nyeri
4) Lakukan perawatan luka
5) Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi.
6) Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.

d. Resiko terjadi injury berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan


Tujuan : pasien tidak mengalami injury
Kriteria Hasil : pasien dapat memenuhi kebutuhannya tanpa mengalami injury
Intervensi :
1) Hindarkan lantai yang licin.
2) Gunakan bed yang rendah.
3) Orientasikan klien dengan ruangan.
4) Bantu klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
5) Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai
oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan
Suddarth, 2002).
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang
yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat
kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).

3.2 SARAN
Penuhi kebutuhan anda dengan gizi dan nutrisi yang seimbang kurangi kadar
gula.rajin berolahraga hidup sehat,bersih,dan nyaman.
DAFTAR PUSTAKA

Luecknote, Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani,


Jakarta:EGC, 1997.
Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made
Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.
Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa
YasminAsih, Jakarta : EGC, 1997.
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester,
Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.
Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut
jilid I Edisi ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.
Arjatmo Tjokronegoro. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Cet 2. Jakarta :
Balai Penerbit FKUI, 2002