Você está na página 1de 7

INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI BAMBU DI KAWASAN HUTAN

BAMBU DESA SUMBERMUJUR KECAMATAN CANDIPURO,


LUMAJANG SEBAGAI BAHAN PENYUSUN KARYA ILMIAH POPULER
(INVENTORY AND IDENTIFICATION OF BAMBOO IN FOREST BAMBOOUS VILLAGES
SUBMISSION OF CANDIPURO DISTRICT, LUMAJANG AS MATERIALS OF POPULAR
SCIENTIFIC WORKS)

Siska Tri Yuanita


Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember
Jln. Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto Jember Jawa Timur 68121
E-mail: 9a.siskatriyuanita@gmail.com

Abstrak
Penelitian yang dilakukan ini adalah mengenai inventarisasi dan identifikasi bambu di kawasan hutan bambu
Lumajang. Bambu termasuk ke dalam famili graminae sub famili Bambusoidae dan suku Bambuseae. Bambu
(Bambusoideae) adalah salah satu anggota keluarga rumput terbesar Poaceae, yang mencakup >1500 spesies yang
sangat penting bagi perekonomian banyak orang negara tropis dan subtropis di dunia. Salah satu wilayah Hutan bambu
di Indonesia berada di Kabupaten Lumajang. Keanekaragaman Bambu di Kawasan Hutan bambu Desa Sumbermujur
belum didokumentasikan dengan baik. Padahal keanekaragaman bambu di kawasan tersebut telah lama dieksploitasi
oleh masyarakat sekitar. Pengeksploitasian Bambu yang dilakukan secara terus-menerus tanpa diimbangi dengan
upaya konservasi dapat menyebabkan kepunahan. Diperlukan suatu upaya konservasi terhadap bambu, salah satunya
dengan menginventarisasi dan mengidentifikasi spesies Bambu yang hidup di Kawasan Hutam Bambu Desa
Sumbermujur. Penelitian ini terdiri dari dua tahap yaitu: penelitian tahap pertama adalah inventarisasi dan identifikasi
bambu dan penelitian tahap kedua adalah pengembangan. Tahap pertama merupakan penelitian deskriptif dan tahap
kedua merupakan penelitian pengembangan berupa pembuatan buku karya ilmiah popular. Dari Penelitian diketahui
bahwa pada Kawasan Hutan Bambu desa Sumbermujur Kecamatan Candipuro, Lumajang terdapat 18 spesies bmabu
diantaranya Bambu Apus, Bambu Jajang, Bambu Petung Hijau, Bambu Petung Hiitam, Bambu Rampal, Bambu
Wulung, Bambu Rampal Kuning, Bambu Ampel Hijau, Bambu Hias Cina, Bambu Hias bergaris Putih, Bambu ampel
Kuning, Bambu Hijau Bergaris Kuning, Bambu Hias batang Kuning, Bambu Hias Mini, Bambu Ori, Bambu Nagin,
Bambu Tulup, Bambu Tutul. Jenis spesies yang paling dominan adalah jenis bambu Apus sebanyak 250.
Kata Kunci: Bambu, Hutan, Identifikasi, Inventarisasi,

Abstract
This research is about inventory and identification of bamboo in Lumajang bamboo forest area. Bamboo belongs to
the family of graminae sub families Bambusoidae and Bambuseae tribe. Bamboo (Bambusoideae) is one of the largest
family members of the Poaceae grass, which includes> 1500 species of great importance to the economies of many of
the world's tropical and subtropical countries. One of Indonesia's bamboo forest areas is located in Lumajang Regency.
Bamboo Diversity in Bamboo Village Forest Area has not been well documented. Whereas the diversity of bamboo
in the area has long been exploited by the surrounding community. Continuous exploitation of Bamboo without being
offset by conservation efforts can lead to extinction. It takes a conservation effort on bamboo, one of them by
inventorying and identifying Bamboo species that live in Hutam Bamboo Area Sumbermujur Village. This research
consists of two stages: first stage research is inventory and identification of bamboo and second phase research is
development. The first stage is a descriptive research and the second stage is a research development in the form of
making books popular scientific work. From the research note that at Bamboo Forest Area of Sumbermujur Village
Candipuro District, Lumajang there are 18 species of bmabu including Bambu Apus, Bamboo Jajang, Bamboo Petung
Hijau, Bamboo Petung Hiitam, Bamboo Rampal, Bamboo Wulung, Bamboo Rampal Kuning, Bamboo Ampel Hijau,
Bamboo Ornamental China , Bamboo Ornamental Striped White, Yellow Bamboo Bamboo, Green Bamboo Yellow
Stripe, Bamboo Ornamental Yellow Trunk, Bamboo Ornamental Mini, Bamboo Ori, Bambin Nagin, Bamboo Tulup,
Bamboo Tutul. The most dominant species species are 250 Apus bamboo species.
Keywords: Bamboo, Forest, Identification, Inventory,

PENDAHULUAN
Bambu termasuk ke dalam famili graminae Pada batang bambu terdapat buku-buku batang,
sub famili Bambusoidae dan suku Bambuseae. Bambu pada buku-buku batang biasanya terdapat mata tunas,
(Bambusoideae) adalah salah satu anggota keluarga demikian juga pada caban-gcabang dan rimpangnya.
rumput terbesar Poaceae, yang mencakup >1500 Pada bagian tanaman terdapat organ-organ daun yang
spesies yang sangat penting bagi perekonomian menyelimuti batang yang disebut pelepah batang.
banyak orang negara tropis dan subtropis di dunia. Biasanya pada batang yang sudah tua, pelepah
Kebanyakan bambu berbudaya adalah evergreen kayu batangnya mudah gugur. Pada ujung pelepah batang
abadi dan pada dasarnya direproduksi oleh rimpang. terdapat perpanjangan tambahan yang berbentuk
Menurut jenis rimpangnya, bambu sudah terbagi segitiga dan disebut subang, yang biasanya gugur
menjadi tiga kelompok: bambu yang terpencar dengan lebih dahulu. Bentuk seperti pelepah ini terdapat juga
rimpang monopodial, bambu caespitosa dengan pada cabang-cabang tetapi ukurannya agak besar dan
rimpang sympodial, dan bambu pluricaespitosa panjang serta selalu hijau dan dikenal sebagai daun
dengan monopodial dan rimpang simpati. Kacang bambu, serta pelepahnya disebut pelepah daun. Daun
rimpang bisa berkembang menjadi bambu Tunas yang bambu berbentuk pita dengan tulang daun yang
akan tumbuh menjadi batang bambu dalam waktu sejajar. Pelepah daun ditutupi oleh bulu-bulu halus
yang sangat singkat, atau berkembang menjadi berwarna coklat atau hitam yang disebut miang. Bila
rimpang baru yang akan memungkinkan produksi bulu-bulu pada pelepah daun ini tersentuh, maka akan
berkelanjutan dari rumpun bambu [1]. Bambu mengakibatkan rasa gatal [5]..
biasanya mempunyai batang yang berongga, akar yang 4) Percabangan
kompleks, serta daun berbentuk pedang dan pelepah Percabangan pada umumnya terdapat di atas
yang menonjol. Bambu adalah tumbuhan yang batang- buku-buku. Cabang dapat digunakan sebagai ciri
batangnya berbentuk buluh, beruas, berbuku-buku, penting untuk membedakan marga bambu. Pada
berongga, mempunyai cabang, berimpang, dan marga Bambusa, Dendrocalamus dan Gigantochloa
mempunyai daur buluh yang menonjol [2]. Ciri lain system percabangan memiliki satu cabang yang lebih
dari bambu adalah memiliki bentuk batang bulat, besar daripada cabang lainnya yang lebih kecil.
berlubang di tengah dan beruas-ruas, bentuk Cabang lateral bambu yang tumbuh pada batang
percabangan kompleks, setiap daun bertangkai, dan utama, biasanya berkembang ketika buluh mencapai
bunganya terdiri dari sekam kelopak dan sekam tinggi maksimum. Pada beberapa marga, cabang
mahkota serta 3--6 buah benang sari [3]. muncul tepat di atas tanah misalnya pada Bambusa
1) Akar Rimpang dan menjadi rumpun pada sekitar dasar rumpun
Akar rimpang terdapat di bawah tanah dan dengan duri atau tanpa duri [3].
membentuk system percabangan yang dapat dipakai 5) Tempat Tumbuh
untuk membedakan kelompok bambu. Ada dua Pertumbuhan setiap tanaman tidak terlepas dari
macam sistem percabangan akar rimpang yaitu pengaruh kondisi lingkungannya. Dengan demikian
pakimorf (dicirikan oleh akar rimpangnya yang perlu diperhatikan faktor-faktor yang berkaitan
simpodial) dan leptomorf (dicirikan oleh akar dengan syarat tumbuh tanaman bambu. Faktor
rimpangnya yang monopodial) [3]. lingkungan terebut meliputi jenis iklim dan jenis
2) Rebung tanah. Lingkungan yang sesuai dengan tanaman
Rebung merupakan bambu muda yang muncul bambu adalah yang bersuhu sekitar 8,8--36 oC.
dari permukaan dasar rumpun dan rhizom. Pada Bambu dapat tumbuh pada tanah yang bereaksi masam
awalnya berbentuk tunas mata tidur yang dengan pH 3, 5, dan umumnya menghendaki tanah
pertumbuhannya lambat dan dengan yang pH nya 5, 0 sampai 6, 5. Pada tanah yang subur
perkembangannya membentuk kerucut yang tanaman bambu akan tumbuh dengan baik karena
merupakan bentuk permulaan dari perkembangan kebutuhan makanan bagi tanaman tersebut akan
batang. Rebung terdiri dari batang-batang yang masif terpenuhi [5].
dan pendek sekali yang terbungkus berlapis-lapis Bambu merupakan salah satu produk hutan
bahan makanan dan dilindungi oleh sejumlah pelepah nonkayu yang paling penting di Dunia. Sekitar 2,5
rebung yang kaku [4]. miliar orang bergantung secara ekonomi pada bambu,
3) Batang dan perdagangan internasional jumlah bambu
mencapai lebih dari 2,5 miliar dolar AS per tahun.
Bambu memiliki riwayat hidup yang agak mencolok, membutuhkan kelembaban yang cukup untuk
ditandai oleh fase vegetatif berkepanjangan berkembang secara baik.
berlangsung beberapa dekade sebelum berbunga [6]. 2) Kelembaban Tanah, Berbeda tergantung
Menurut [7] bahwasannya Sejumlah alam Serat seperti spesiesnya, Menjaga kelembaban tanah pada musim
rami, rami bambu coir dan okra sedang dianggap kering disekeliling rumpun merupakan langkah
sebagai kandidat yang cocok untuk penguatan serat penting yang dilakukan dengan pemulsaan dan
materi di komposit berikut modifikasi kimia. Beberapa peningkatan unsur organik tanah. Tanah yang terlalu
dari serat menunjukkan perilaku hidrofobik berikut lembang atau genangan air merupakan masalah pada
bahan kimia peralatan yang membuat mereka ideal bambu dan dapat meningkatkan serangan jamur.
untuk digunakan dalam komposit. Drainase yang layak merupakan prioritas ketika air
Objek wisata hutan yang layak untuk dijadikan mempengaruhi pertumbuhan bambu.
obyek wisata salah satunya berada di Desa 3) Temperatur, Ini tergantung dari kerimbunan daun
Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten bambu atau pohon lainnya di hutan campuran. Bambu
Lumajang.Kawasan wisata hutan bambu di Desa yang tumbuh di kemiringan tinggi harus naik lebih
Sumbermujur merupakan adalah satu dari beberapa tinggi (biasanya tumbuh lebih lurus) untuk
kwasan hutan yang masih tersisa di Indonesia dan mendapatkan tambahan sinar matahari.
terjaga kelestariannya [8]. Nilai kearifan lokal di 4) Tanah, Bambu tumbuh pada berbagai jenis tanah,
kawasan wisata hutan bambu, antara lain: sebagai tapi bambu simpodial tropis yang banyak digunakan
sarana edukasi dalam bentuk konservasi lingkungan untuk keperluan konstruksi lebih menyukai tanah yang
melalui usaha penanaman bambu di kawasan wisata kaya akan unsur organik. Bagian besar dari buku ini
hutan bambu. Nilai kearifan lokal di kawasan wisata membahas tentang tanah dan pengelolaan nutrisi
dapat maksimal dengan dukungan semua pihak untuk tanah.
bersinergi dan bekerja sama secara aktif membantu 5) Topografi, Berbagai bambu tumbuh lebih baik/jelek
memaksimalkan potensi yang dimilikinya, dalam tergantung pada topografi. Beberapa jenis baik pada
bentuk kelengkapan sarana dan prasarana kawasan permukaan rendah, kaya akan lumpur yang selalu
wisata agar kedepannya mampu dijadikan sebagai memiliki kadar air tinggi. Jenis lain tumbuh baik pada
desa wisata [8]. ketinggian lereng, lahan dengan drainase yang baik.
Karya ilmiah merupakan suatu istilah untuk Denrocalamus dan Gigantochloa tumbuh baik di
suatu tulisan yang mendalam sebagai hasil kajian lereng, cenderung tumbuh lurus sehingga
dengan metode ilmiah. Ciri khas dari sebuah karya menghasilkan kayu yang berkualitas tinggi.
tulis yang disusun berdasarkan metode ilmiah adalah 6) Pengaruh Manusia, Bambu khususnya yang
keobyektifan pandangan yang dikemukakan dan dikelola atau di agro-ekosistem akan tergantung pada
kedalaman makna yang disajikan. Kedua hal tersebut faktor manusia, khususnya penerimaan secara sosial
sangat penting dalam penulisan karya yang bersifat terhadap bambu. Ini akan tergantung pada nilai
ilmiah. Sebuah tulisan dikatakan ilmiah apabila tulisan ekonomi yang diberikan oleh bambu dan pemahaman
tersebut mengandung kebenaran secara obyektif, akan manfaat lingkungan dari keberadaan hutan
karena didukung oleh informasi yang sudah teruji bambu [10].
kebenarannya (dengan data pengamatan yang tidak Bambu merupakan salah satu taksa yang sangat
subyektif) dan disajikan secara mendalam dengan beragam dan mempunyai potensi ekonomi yang
penalaran serta analisa hingga ke dasar masalah. Suatu tinggi. Bambu termasuk ke dalam anak suku
tulisan ilmiah akan kehilangan keilmiahannya apabila Bambusoideae dalam suku Poaceae. Terdapat sekitar
dalam tulisan tersebut yang dikemukakan hanya ilmu 1250 spesies bambu yang ditemukan di dunia,dan
(teori dan fakta) pengetahuan yang sudah diketahui Indonesia memiliki 135 spesies yang termasuk ke
oleh umum dan berulang kali dikemukakan. Penulis dalam 21 marga [11]. Distribusi geografi bambu
dituntut untuk memiliki keterampilan khusus dalam dipengaruhi oleh aktivitas manusia [10]. karena
penulisan ilmiah, karena di samping harus bambu merupakan jenis tumbuhan yang memiliki
mengumpulkan data dan menganalisa data banyak manfaat bagi kehidupan manusia [2]. Tidak
menggunakan metode ilmiah juga menyajikan dalam semua spesies bambu dikenal oleh masyarakat dengan
bentuk tulisan. Bahasa yang digunakan dalam karya baik, dan hanya beberapa jenis saja yang tumbuh dan
ilmiah harus memiliki makna kata-kata yang tersebar tersebar di Jawa [3]. Distribusi bambu di
lugas/harfiah, sehingga tidak terjadi kesalahan Pulau Jawa sangat unik karena beberapa jenis hanya
penafsiran oleh pembacanya [9]. terbatas pada daerah tertentu di pulau ini [12]. Bambu
Beberapa faktor lingkungan penting yang merupakan salah satu tumbuhan bernilai tinggi di
mempengaruhi pertumbuhan bambu adalah: Indonesia, karena memiliki berbagai nilai dan
1) Curah hujan, Khususnya selama musim rebung dan kegunaan serta berperan penting dalam konservasi
pada tahap ledakan pertumbuhan, bambu keanekaragaman hayati
Keberadaan beberapa jenis bambu di alam menjadi acuan peneliti adalah buku identifikasi
mulai terancam karena over eksploitasi, perubahan bambu, jurnal, foto dan sumber internet yang valid.
fungsi lahan maupun kebakaran lahan terutama jenis 2) Wawancara dengan Pihak Pengelola
bambu yang bernilai ekonomi [13]. Beberapa jenis a) Membuat kuisioner dengan dua topik yaitu
bambu merupakan sumber daya melimpah dengan inventarisasi bambu dan identifikasi bambu.
keanekaragaman yang cukup tinggi. Namun, b) Membuat kuisioner masing-masing identifikasi
kenyataannya masih banyak jenis bambu yang belum bmabu yang berisi tentang jenis bambu,
dikenal oleh masyarakat dengan baik [14], sehingga jumlah bambu, ciri-ciri bambu, dan manfaat
pembaharuan data keanekaragaman dan kelimpahan yang dapat diambil dari jenis bambu tersebut.
jenis bambu dari berbagai kawasan sangat diperlukan. 3) Identifikasi Bambu di Lokasi Penelitian
Salah satunya di Kawasan Hutan Bambu Desa Tahap identifikasi bambu dilakukan dengan
Sumbermujur Kecamatan candipuro, Lumajang. beberapa tahapan yang meliputi:
4) Pengukuran Faktor Abiotik
METODE PENELITIAN Keberagaman bmabu pada habitatnya
dipengaruhi oleh beberapa faktor abiotic, sehingga
guna mengetahui pengaruh faktor tersebut terhadap
Penelitian ini terdiri dari dua tahap yaitu:
pertumbuhan bambu maka diperlukan pengukuran
penelitian tahap pertama adalah inventarisasi dan
terhadap faktor-faktor yang meliputi:
identifikasi bambu dan penelitian tahap kedua adalah
a. Suhu yang diukur dengan menggunakan
pengembangan. Tahap pertama merupakan penelitian
thermometer
deskriptif dan tahap kedua merupakan penelitian
b. Kelembaban udara yang diukur dengan
pengembangan berupa pembuatan buku karya ilmiah
menggunakan termohigrometer
popular.
c. Intensitas cahaya yang diukur dengan lux
Pada tahap pertama penelitian dilakukan di
meter.
kawasan hutan bambu desa Sumbermujur dan
5) Pengambilan Sampel
lingkungan masyarakat disekitar hutan bambu. Alat
1) Sampel yang telah dikumpulkan dalam
yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: alat
bentuk sediaan segar diidentifikasi satu
perekam, kamera, termohigrometer, lux meter, soil
persatu berdasarkan karakteristik morfologi
tester, dan alat tulis. Penelitian tahap kedua yaitu
yang meliputi warna dan bentuk dari akar,
pelaksanaan validasi bahan penyusun karya ilmiah
daun dan rimpang.
popular. Bahan Karya Ilmiah popular ini akan
2) Melakuakn proses klasifikasi dan
divalidasi oleh 3 validator ahli. Selain itu, buku juga
menentukan nama bambu hingga tingkat
divalidasi oleh bebrapa kalangan masyarakat untuk uji
genus dengan menggunakan buku
keterbacaan buku. Alat yang digunakan dalam
identifikasi bambu dan sumber lain yang
penelitian tahap kedua yaitu alat tulis dan lembar
relevan.
validasi.
6) Identifikasi
Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh bambu
Identifikasi bambu dilakukan sebagai
yang ada dalam Kawasan Hutan Bambu Desa
berikut:
Sumbermujur, Lumajang. Jumlah bambu yang relatif
1) Sampel bambu yang telah diperoleh, diamati
sangat banyak sehingga sampling diambil dari setiap
morfologinya satu persatu. Struktur
jenis bambu yang ditemukan di hutan seluas 14 hektar
morfologi yang diamati adalah warna dan
tersebut. Teknik pengambilan sampel diperoleh dari
bentuk dari akar, daun dan rimpang.
hasil pengamatan langsung di Kawasan Hutan Desa
2) Melakukan proses klasifikasi dan pemberian
Sumbermujur dengan melihat ciri-ciri morfologi dari
nama terhadap bmabu sesuai dengan
bambu.
beberapa sumber valid yang meliputi:
Langkah-langkah penelitian yang dilakukan dalam
website LIPI (lipi.go.id/), website Dinas
penelitian ini meliputi:
Kehutanan Jawa Timur, Jurnal Internasional
1) Persiapan Logistik Penelitian
identifikasi bambu.
Logistik penelitiann merupakan segala suatu
7) Penyusunan Buku Ilmiah Populer
(alat dan bahan) yang diperlukan dalam penelitian.
Adapun tahapan penyusunan buku ilmiah
Studi pustaka juga dilakukan untuk memulai
popular yang dilakukan adalah sebagai berikut sesuai
penelitian ini. Studi kepustakaan dilakukan dengan
dengan Trianto (2013):
mencari sumber-sumber informasi yang relevan
a. Tahap Pendefinisian
dengan masalah yang diiteliti sehingga dapat
Tahap pendefinisian bertujuan untuk
mendukung keberhasilan penelitian. Pustaka yang
menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat
penyampaian informasi atau publikasi kepada sasaran.
Penentuan dan penetapan syarat-syarat tersebut Buku ilmiah popular disusun untuk menjadi
diawali dengan analisis tujuan pengembangan dari buku bacaan bagi masyarakat umum, sehingga sampel
hasil penelitian. Tahap ini dikatakan selesai apabila yang digunakan harus mampu mewakili keberagaman
tujun=an instruksional sebagai petunjuk dalam proses masyarakat yang ada. Buku ilmiah popular yang
pengembangan produk berupa media informasi atau dihasilkan akan divalidasi oleh validator. Analisis data
publikasi. yang diperoleh dari validator bersifat deskriptif yang
b. Tahap Perancangan berupa saran-saran serta komentar-komentar dan
Tahap perancangan bertujuan untuk bersifat kuantitatif yang berupa data hasil perkalian
menyiapkan rancangan produk buku yang akan antara skor dan bobot pada tiap aspek penilaian.
disusun dan dikembangkan. Tahap ini dimulai setelah Analisis data berupa kuantitatif yang merupakan
ditetapkannya tujuan instruksional. Buku imliah data hasil perkalian antara skor dan bobot yang
popular yang akan disusun pada penelitian ini terdapat pada setiap aspek, sebagian kecil bersifat
dikembangkan sesuai dengan outline sebagai berikut. deskriptif yaitu berupa saran dan komentar tentang
1) Sampul Judul kelemahan dan keunggulan buku. Analisis data ynag
2) Halaman Judul dipakai dalam buku ilmiah popular ini merupakan data
3) Halaman persembahan kuantitatif dengan menggunakan 4 tingkatan
4) Kata pengantar penilaian.
5) Daftar isi
6) Daftar table
7) Daftra gambar HASIL DAN PEMBAHASAN
8) Bagian 1. Pendahuluan
9) Bagian 2. Deskripsi bambu Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh
10) Bagian 3. Jenis-jenis bmabu yang ditemukan bambu yang ada dalam Kawasan Hutan Bambu Desa
di kawasan hutan bambu desa Sumbermujur, Sumbermujur, Lumajang. Jumlah bambu yang relatif
Lumajang. sangat banyak sehingga sampling diambil dari setiap
11) Bagian 4. Manfaat bambu jenis bambu yang ditemukan di hutan seluas 14 hektar
12) Daftar bacaan tersebut. Teknik pengambilan sampel diperoleh dari
13) Glosarium hasil pengamatan langsung di Kawasan Hutan Desa
c. Tahap Uji Kelayakan Buku Sumbermujur dengan melihat ciri-ciri morfologi dari
Tahap uji kelayakan buku bertujuan untuk bambu.
menghasilkan produk pengembangan yang sudah Dari upaya yang tidak kenal lelah tersebut pada
direvisi berdasarkan masukan dari para pakar. Tahap Tahun 2002 di Desa Sumbermujur terdapat Hutan
ini meliputi validasi oleh pakar dan diikuti dengan Bambu seluas 9 hektar yang keberadaannya menjadi
revisi, simulasi rencana, dan uji coba terbatas dengan sangat penting karena di areal hutan tersebut Terdapat
sasaran yang sesungguhnya. Hasil simulasi dan uji Sumber Deling dengan debit 800 liter/detik pada
coba digunakan sebagai bahan revisi. Uji buku ini musim penghujan dan 600 liter/detik pada musim
bertujuan untuk menilai kelayakan produk buku kemarau, dan menjadi sumber pengairan utama bagi
ilmiah popular yang akan digunakan sebagai buku areal persawahan seluas 891 hektar untuk desa
bacaan masyarakat. Uji buku ilmiah popular ini Sumbermujur seluas 242 hektar, Desa Penanggal
dilakukan oleh 3 validator ahli yaitu: 1) di Pengelola seluas 335 ha, Desa Tambahrejo seluas 242 ha dan
Hutan Bambu Lumajang; 2) Dosen ahli materi di Desa Kloposawit seluas 72 ha yang sebelumnya
Pendidikan Biologi Universitas Jember, dan 3) Dosen merupakan sawah tadah hujan dan tegal. Dan pada
ahli media di Pendidikan Biologi Universitas Jember. masa sekarang ini pada saat musim kemarau juga
Selain itu, buku juga divalidasi oleh bebrapa dipergunakan untuk mengairi lahan di beberapa desa
kalangan masyarakat untuk uji keterbacaan buku. pada wilayah Kecamatan Tempeh seluas 548 ha.
Ada tiga validator dari kalangan masyarakat yiatu 1) Sebagai habitat satwa seperti Kalong (Kelelawar
Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan; 2) Besar), Kera, Elang Jawa dan jenis burung lainnya,
Teknisi Laboratorium Pendidikan Biologi Unej; 3) Trenggiling, beberapa jenis ikan dan moa (belut besar)
Pegawai badan Penjaminan Mutu Unej. Sebagai sumber genetik dari tanaman bambu maupun
d. Revisi Buku tanaman lainnya (22 jenis tanaman selain bambu)
Revisi buku dilakukan dnegan memperhatikan Upaya yang telah dikembangkan dan torehan prestasi
dan mempertimbangkan masukan-masukan baik dari yang telah diraih oleh KPSA “ Kali Jambe “ dan
validator. Revisi buku bertujuan untuk menghasilkan segenap masyarakat Desa Sumber Mujur, mendapat
buku ilmiah popular yang benar-benar layak untuk perhatian dari pemerintah. Pada Tahun 2005 dari
digunakan. pemerintah Provinsi Jawa Timur (melalui dana APBD
3.7 Analisis Data Propinsi) mendapat bantuan Pengembangan Tanaman
Bambu seluas 5 hektar, sehingga keberadaan hutan Petung Hiitam, Bambu Rampal, Bambu Wulung,
Bambu yang ada sekarang berkembang menjadi seluas Bambu Rampal Kuning, Bambu Ampel Hijau, Bambu
14 hektar dan merupakan habitat dari 18 (delapan Hias Cina, Bambu Hias bergaris Putih, Bambu ampel
belas) Jenis Bambu. Kuning, Bambu Hijau Bergaris Kuning, Bambu Hias
Dari hasil wawancara dengan Bapak pengelola batang Kuning, Bambu Hias Mini, Bambu Ori, Bambu
hutan bambu didapatkan data bahwa jenis bambu yang Nagin, Bambu Tulup, Bambu Tutul.
terdapat di Kawasan Hutan Bambu Desa Berikut merupakan data jumlah bambu yang
Sumbermujur terdapat 18 jenis bambu yaitu: Bambu ditemukan di kawasan hutan bambu dan jumlah
Apus, Bambu Jajang, Bambu Petung Hijau, Bambu spesies yang dominan.
No Nama Spesies Jumlah
1 Bambu Apus 250
2 Bambu Jajang 89
3 Bambu Petung Hijau 158
4 Bambu Petung Hitam 170
5 Bambu Rampal 90
6 Bambu Wulung 205
7 Bmabu Rampal Kuning 235
8 Bambu Ampel Hijau 108
9 Bambu Hias Cina 76
10 Bambu Hias Bergaris Putih 97
11 Bambu Ampel Kuning 90
12 Bambu Hijau Bergaris Kuning 101
13 Bmabu Hias Batang Kuning 122
14 Bambu Hias Mini 138
15 Bambu Ori 210
16 Bambu Nagin 216
17 Bambu Tulup 195
18 Bambu Tutul 140

yang paling dominan adalah jenis bambu Apus


KESIMPULAN sebanyak 250.

Dari Penelitian yang telah dilakukan diketahui DAFTAR PUSTAKA


bahwa pada Kawasan Hutan Bambu desa
Sumbermujur Kecamatan Candipuro, Lumajang [1] Wang K, Peng H, Lin E, Jin Q, Hua X, Yao S,
terdapat 18 spesies bmabu diantaranya Bambu Apus, Bian H, Han Ning, Pan J, Wang J, Deng M and
Bambu Jajang, Bambu Petung Hijau, Bambu Petung Zhu M. 2012. Identification Of Genes Related To
Hiitam, Bambu Rampal, Bambu Wulung, Bambu The Development of Bamboo Rhizome Bud.
Rampal Kuning, Bambu Ampel Hijau, Bambu Hias Journal of Experimental Biology. Vol. 61.
Cina, Bambu Hias bergaris Putih, Bambu ampel Issue.2.
Kuning, Bambu Hijau Bergaris Kuning, Bambu Hias [2] Dransfield dan E.A. Widjaya. 1995. Plant
batang Kuning, Bambu Hias Mini, Bambu Ori, Bambu Resources of South–East Asia no.7, Bamboos.
Nagin, Bambu Tulup, Bambu Tutul. Jenis spesies Buku. Prosea. Bogor. 189 hlm.
[3] Widjaja, E. A. 2001a. Identikit Jenis-jenis Bambu
di Jawa. Bogor: Puslitbang Biologi LIPI.
[4] Sutiyono, 2006. Koleksi Jenis-Jenis Bambu.
Bogor. Bul, Pen. Hutan Pusat Litbang. Hutan
Banyuwangi.
[5] Berlian, N. dan E. Rahayu. 1995. Jenis dan
Prospek Bisnis Bambu. Buku. Penebar Swadaya.
Jakarta. 89 hlm.
[6] Peng Z, Ying Lu, Lubin Li, Qiang Zhao, Qi Feng,
Zhimin Gao, Hengyun Lu, Tao Hu, Na Yao,
Kunyan Liu, Yan Li, Danlin Fan, Yunli Guo,
Wenjun Li, Yiqi Lu, Qijun Weng, CongCong
Zhou, Lei Zhang, Tao Huang, Yan Zhao,
Chuanrang Zhu, Xinge Liu, Xuewen Yang3, Tao
Wang, Kun Miao, Caiyun Zhuang, Xiaolu Cao,
Wenli Tang, Guanshui Liu, Yingli Liu, Jie Chen1,
Zhenjing Liu Licai Yuan, Zhenhua Liu, Xuehui
Huang, Tingting Lu, Benhua Fei, Zemin Ning,
Bin Han & Zehui Jiang. 2013. The Draft Genome
of The Fast-Growing Non-Timber Forest Species
Moso Bamboo (Phyllostachys heterocycla).
Journal of Nature Genetics. Vol. 45. Issue. 4.
[7] Sait A.O. Abdul Salam, Subramaniam
Venkatraman. 2014. Composites From Natural
Fibres. Nternational. Journal of Research in
Engineering and Technology. Volume: 03. Issue:
05.
[8] Nawangish. 2017. Nilai Kearifan Lokal Kawasan
Wisata Menggunakan Pendekatangreen
Marketing Berbasis Masyarakat. Jurnal Penelitian
Ilmu Ekonomi. Vol.7. hal. 57-65
[9] Lubis, Suwardi. 2004. Teknik Penulisan Ilmiah.
[10] Holltum, R. E. 1958. The Bambus Of The Malay
Peninsula. Malaysia: International Plant Genetic
Resources Institute (IPGRI)
[11] Widjaja EA. 1997. Jenis-spesies bambu endemik
dan konservasinya di Indonesia. Prosiding
Seminar Nasional Biology XV. PBI &
Universitas Lampung, Lampung.
[12] Widjaja EA. 1987. A Revision of Malesian
Gigantochloa (Poaceae - Bambusoideae).
Reinwarditia. 10: 291-380.7. Garland, L. 2004.
Bamboo and Watersheds (a practical, economic
solution to conservation and development). EBF
Environmental Bamboo Foundation Holland.
Bamboo : The Alternative for Tropical Timber.
The Environmental Bamboo Foundation Journal
No. 1.
[13] Zulkarnaen RN, Andila PS. 2015.
Dendrocalamus spp: Bambu raksasa koleksi
Kebun Raya Bogor. Prosiding Seminar Nasional
Masy Biodiv Indon.vol 1(3):534-538.
[14] Budi I, Rahayuningsih SR, Kusmoro J. 2006.
Keanekaragaman Jenis Bambu di Kabupaten
Sumedang, Jawa Barat. Jakarta: Perpustaakan
Nasional Indonesia. hal 1-51