Você está na página 1de 15

APLIKASI EFEKTIFITAS KOMPRES AIR HANGAT TERHADAP

PENURUNAN SUHU TUBUH ANAK DEMAM USIA 1 - 3 TAHUN


DI SMC RS TELOGOREJO SEMARANG DALAM ASUHAN
KEPERAWATAN AN. D DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
KEJANG DEMAM DI RUANG ANAK LANTAI 1
RSUP DR. KARIADI

DI Susun Oleh:

Puji Astuti G3A017182

PROGRAM STUDI NERS (PROFESI)

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADYAH SEMARANG

2017/2018

(GENAP)
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tumbuh kembang anak merupakan proses berkesinambungan yang terjadi


sejak konsepsi dan terus berlangsung sampai dewasa. Tumbuh kembang
sebenarnya mencakup peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling
berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan.
Pertumbuhan (growth) bersifat kuantitatif dan perkembangan (development)
bersifat kuantitatif dan kualitatif (Soetjiningsih & Ranuh, 2013, hlm.2).

Suhu tubuh mencerminkan keseimbangan antara produksi dan


pengeluaran panas dari tubuh, yang diukur dalam unit panas yang disebut
derajat. Ada dua jenis suhu tubuh yaitu suhu inti dan suhu permukaan. Suhu inti
merupakan suhu tubuh jaringan bagian dalam seperti rongga abdomen dan suhu
permukaan merupakan suhu pada kulit, jaringan subkutan, dan lemak. Tubuh
akan terus menerus menghasilkan panas sebagai produk hasil metabolisme.
Panas akan keluar dari tubuh melalui proses radiasi, konduksi, konveksi, dan
evaporasi (Kozier, 2010, hlm. 663).

Demam merupakan salah satu sebab yang sering membuat orang tua
segera membawa anaknya berobat. Sebenarnya panas bukan penyakit
melainkan gejala suatu penyakit sebagai reaksi tubuh untuk melawan infeksi
atau penyakit, yang bisa disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Ketika
melawan penyakit/ infeksi yang masuk, tubuh akan mengeluarkan sejumlah
panas ke kulit tubuh . Demam adalah proses alami tubuh untuk melawan
infeksi yang masuk ke dalam tubuh ketika suhu meningkat melebihi suhu tubuh
normal (>37,5°C).

Kompres adalah salah satu metode fisik untuk menurunkan suhu tubuh
anak yang mengalami demam. Pemberian kompres hangat pada daerah
pembuluh darah besar merupakan upaya memberikan rangsangan pada area
preoptik hipotalamus agar menurunkan suhu tubuh.

B. Tujuan
Tujuan Umum : Setelah Dilakukan Aplikasi kompres hangat diharapkan
suhu tubuh menurun.
Tujuan Khusus : Setelah Diberikan Kompres hangat pada An. D dIharapkan
kelurga mampu:
1. Memahami konsep demam
2. Metode kompres dalam penurunan demam
3. Mampu menerapkan aplikasi apabila terjadi demam
BAB II

TINJAU TEORI

A. Konsep Dasar
1. Definisi

Demam adalah proses alami tubuh untuk melawan infeksi yang


masuk ke dalam tubuh ketika suhu meningkat melebihi suhu tubuh
normal (>37,5°C).( Surinah, 2009, hlm. 214)

Demam adalah kenaikan suhu diatas normal sebagai akibat dari


perubahan pada pusat termoregulasi yang terletak pada hipotalamus
anterior

Demam adalah Keadaan dimana terjadi kenaikan suhu


hingga 380C atau bisa lebih sedangkan bila lebih dari 400C disebut
demam tinggi.

2. Klasifikasi
a) Demam septik
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada
malam hari dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi
hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila
demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal
dinamakan juga demam hektik.
b) Demam remiten
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai
suhu badan normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat
mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang
dicatat demam septik.
c) Demam intermiten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam
dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari
sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam
diantara dua serangan demam disebut kuartana.
d) Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat.
Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut
hiperpireksia.
e) Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti
oleh beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari yang
kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula.

3. Penyebab
Demam terjadi bila pembentukan panas melebihi
pengeluaran. Demam dapat berhubungan dengan infeksi, penyakit
kolagen, keganasan, penyakit metabolik maupun penyakit lain. (Julia,
2000).Menurut Guyton (1990)
demam dapat disebabkan karena kelainan dalam otak sendiri
atau zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-
penyakit bakteri, tumor otak atau dehidrasi. penyebab demam selain
infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau
reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada gangguan pusat regulasi
suhu sentral (misalnya: perdarahan otak, koma).

4. Manifestasi Klinis

1.Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,8 C – 40 C)


2. Kulit kemerahan
3. Hangat pada sentuhan
4. Peningkatan frekuensi pernapasan
5. Menggigil
6. Dehidrasi
7. Kehilangan nafsu makan
5. Patofisiologi
Demam terjadi sebagai respon tubuh terhadap infeksi yang masuk
kedalam tubuh.bila infeksi masuk kedalam tubuh akan merangsang
system pertahanan tubuh dengan melepaskan pirogen.pirogen adalah
zat penyebab demam ada yang berasal dari dalam tubuh dan luar
tubuh( berasal dari mikroorganisme atau reaksi imunologik benda
asing )kemudian pirogen membawa pesan melalui reseptor yang
terdapat pada tubuh untuk disampaikan ke pengatur pusat panas
hiotalamus
Dalam hipotalamus pirogen ini dirangsang melepaskan asam
arakidonat serta mengakibatkan peningkatan prostaglandin ini akan
menimbulkan reaksi peningkatan suhu tbuh dengan cara
menyempitkan pwmbuluh darah tepid an menghambat sekresi kelenjar
keringat. Pengeluaran panas menurunkemudian terjadilah ketidak
seimbangan pembentukan dan pengeluaran panas (demam)

6. Pemeriksaan Diagmostik
a. Pemeriksaan Fisik
b. Labortorium (Darah rutin,kultur urin,dan kultur darah)
c. Hematologi (CRP,SGOT,SGPT)
d. Lumbal fungsi
e. Sebelum meningkatkan ke pemirksaan yang lebih mutakhir yang
siap untuk digunakan seperti ultrasonografi,endoscopi,atau
scaning.dalam tahap melalui biopsy pada bagian bagian yang
dicurigai.dapat juga dilakukan pemeriksaan anginografi,aortografi
atau limfaniografi.

7. Komplikasi
f. Kejang
g. Resiko Persisten bakteremia
h. Resiko meningitis
i. Resiko kearah keseriusan penyakit
8. Penatalaksanaan
a. Kompres Hangat
b. Antipiretik

B. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Identitas
b. Riwayat Kesehatan(keluhan utama,Riwayat kesehatan
sekarang,Riwayat penyakit dahulu,riwayat penyakit keluarga)
c. Pemeriksaan Fisik
d. Pemeriksaan Penunjang
2. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermi b.d proses infeksi
b. Dehidrasi b.d Out put berlebih
c. Resiko Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia
BAB III
RESUME ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Identitas
Nama : An.D
Usia : 2th,9bln
No Rm :C515661
Jenis Kelamin : Perempuan
Orang Tua/wali: Ny.S
DX. medis : Kejang Demam

b. Riwayat Keeperawatan
Keluhan Utama : Demam Tinggi disertai Kejang
Kronologi Penyakit : Ibu klien mengatakan anaknya mengalami kejang
demam mulai usia 5 bulan. Kejang bisa 2 kali terjadi dalam 24
jam,pada saati itu ibu member penanganan dengan paracetamol untuk
mengurangi demam nya,sampai anak umur 2th 9bln demam memang
sering disertai kejang juga,tetapi ibu lupa berapa kalinya,hingga 2 hari
sebelum masuk Rs anaknya demam,disertai batuk dan diare anaknya
tampak lemas dan pucat sampai anaknya langsung dibawa ke RSUP
dr.Kariadi dan saat ini An.D dirawat di ruang anak lt1 pada saat di Rs
penah kejang 2-3 kali saat demam tinggi,ibu juga mengatakan anaknya
memiliki riwayat CP SPASTIK.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Ibu menagatakan anaknya memiliki riwayat CP SPASTIK sudah
melakukan fisioterapi rutin di rsdk kejang demam dari usia 5 bulan
d. Riwayat Imunisasi
Hepatitis,polio,BCG,DPT,Campak,HiB
e. Riwayat Keluarga
Ibu klien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit kejang
f. Pemeriksaan
Suhu: 39,50C
HR: 150x/m
RR: 50x/m terpasang O2 nasal 2LPM
Auskultasi : suara tambahan Ronchi

Kulit teraba panas,mata cekung,lidah menjulur julur,BAK lebih dari 3-


4 kali dalam 8 jam
g. Pemeriksaan diagnostic
A. Foto thorak
Klinis: Broncopneumonia
COR: CTR 44%
PULMO: corakaan vasikuler tampak meningkat,tampak bercak
pada perihiler dan para cardial
B. MBCT kepala dengan kontras
Klinis: meningitis bacterial
Kesan: ventrikulomegali disertai dengan pelebaran sulkua
kortikulus region frontotempo partial mungkin gambaran atrofil
cerebri
Tak tampak gambaran yang mendukung meningencephalitis
C. LSC
Tidak ada pertumbuhan kuman
h. Pemeriksaan penunjang
Hematologi: Leukosit 23,Hb: 11,3 Hematokrit: 34.7 eritrosit :4.2
Ureum:32 Creatinin: 0,5
BTA: Pewarnaan gram + diplococus, kuman gram negative +

i. Terapi yang diberikan


Ceftriaxon 750mg/24j,Gentamicin 40mg/24j,PCT 1CC/Kgbb, zinc
20mg/24j,Diazepam oral 0,1 mg/12j,RL 72/3ml/jam,Nebulizer
Ventolin/8j,as valporat
2. Diagnosa Keperawatan yang Muncul sesuai prioritas
a. Bersihan Jalan Nafas Tidak efektif b.d obstruksi jalan nafas
b. Hipertermi b.d proses infeksi
c. Resiko Jatuh b.d Kejang

3. Intervensi
Hipertermi b.d proses infeksi
NOC: Termoregulasi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam masalah
hipertermi teratasi dengan Kriteria hasil :
Suhu rentan normal 36,5-37,5
RR normal 30-39
Tidak ada perubahan warna kulit
Tidak teraba panas/hangat
NIC :
1. Monitor suhu tubuh
2. Monitor warna dan suhu kulit
3. Monitor TTV
4. Monitor kesadaran pasien
5. Ajarkan Kompres hangat pada dahi 10-15 menit
6. Kolaborasi pemberian cairan Intravena
7. Kolaborasi pemberian antipiretik

4. Implementasi
1. Mengukur suhu tubuh
2. Memonitor warna dan suhu kulit
3. Memonitor TTV
4. Memonitor kesadaran pasien
5. Mengajarkan kompres hangat pada dahi
6. Memberikan cairan intravena RL 3ml/jam
7. Memberikan Antipiretik

5. Evaluasi
S:-
O: badan teraba hangat ,RR: 48x/m suhu 38,50C
A: masalah belum teratasi
P: Laanjutkn intervensi (1,2,3,4,5,6,7)
BAB IV
APLIKASI JURNAL
EVIDENCE BASED NURSING RISET

A. Data focus
Usia 2th 9 bulan,jenis kelamin,suhu >37,50 c
Hasil pengkajian : suhu 39,50C demam tidak disertai kejang,teraba hangat

B. Diagnosa Keperawatan
Hipertermi b.d proses infeksi

C. Analisa sintesa justifikasi alasan penerapan

Belum pernah dilakukan


Demam Tinggi kompres

Diberi antipiretik Pemeriksaan


suhu naik turun
Paracetamol 1cc/kgbb

Demam Turun KOMPRES HANGAT

D. Mekanisme penerapan EBN


1. Klien dengan demam >37,50C
2. Di ukur suhu sebelum kompres dan setelah kompres
3. peneliti memberikan kompres di area dahi karena dahi merupakan
daerah yang cukup luas dilakukannya kompres sehingga penguapan
suhu panas pada tubuh lebih cepat terjadi. Turunnya suhu tubuh di
permukaan tubuh ini terjadi karena panas tubuh digunakan untuk
menguapnya air pada kain kompres ( Menggunakan Kom,air hangat
dan waslap ) selama 15-30 menit
BAB V

PEMBAHASAN APLIKASI

EVIDENCE BASED NURSING

A. Hasil Yang dicapai

Pada saat pengkajian An. D Demam saat diukur 39,50C , kemudian


diberikan antipiretik paracetamol 7cc melalui intra vena ,kemudian saat di
evaluasi 4 jam berikutnya demam turun menjadi 38,40C masih teraba
hangat kemudian dilakukan kompres hangat pada area dahi suhu turun 37,
40C , sesuai dengan teori bahwa kompres hangat merupakan salah satu
metode menurunkan suhu tubuh anak yang mengalami demam. Pemberian
kompres hangat pada daerah pembuluh darah besar merupakan upaya
memberikan rangsangan pada area preoptik hipotalamus agar menurunkan
suhu tubuh. Dengan diberikan kompres hangat, pengeluarn panas tubuh
yang lebih banyak melalui dua mekanisme yaitu dilatasi pembuluh darah
perifer dan berkeringat (Potter & Perry,2005, hlm. 758)

B. Kelebihan EBN
Bermanfaat bagi pembaca dan memang perlu diterapkan kompres sebelum
diberikan antipiretik pada anak demam, metode yang digunakan sangat
mudah dipahami dan mudah untuk dilakukan .

C. Kekurangan EBN
Tidak dituliskan berapa lama dilakukan kompres hangatnya.
BAB VII
PENUTUP

A. Kesimpulan

perlakuan kompres air hangat s a n g a t e f e k t i f d a l a m


m e n u r u n k a n s u h u t u b u h p a d a a n a k p e m b u l u h d a r a h akan
mengalami vasodilatasi dan terjadilah pengeluaran panas tubuh yang
lebih banyak melalui dua mekanisme yaitu dilatasi pembuluh darah
perifer dan berkeringat.

B. Saran
Hasil penelitian ini menjadi bahan masukan bagi perawat untuk
dijadikan sebagai penatalaksanaan keperawatan dalam menangani anak
demam
DAFTAR PUSTAKA

Kamitsuru.S,Herdinan T.H (2015).Nanda Diagnosa keperawatan definisi dan


klasifikasi 2015-2017. Edisi 10.EGC

Hardi,Amin.2013. nanda aplikasi asuhan keperawatan nic noc.mediaction


publishing.
Potter, P. A, Perry, A.G. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan : konsep,
proses, dan praktik . Edisi 4. Volume 2. Alih Bahasa : Renata
Komalasari, dkk. Jakarta: EGC

Surinah. (2009). Buku Pintar Merawat Bayi 0-12 bulan. Jakarta: PT Pramedia
Pustaka Utama