Você está na página 1de 7

RENCANA PELAKSANAAN KUNJUNGAN RUMAH

( HOME VISITE )

Nama Pasien : Nn. M


Umur : 41 TAHUN
Alamat : Jl. MUNTI RAYA NO.16 BARABAI HST.

A. TUJUAN DILAKUKAN KUNJUNGAN RUMAH


1. Memberikan informasi pada keluarga pasien mengenai perkembangan
keadaan klien selama dirawat dirumah sakit saat ini yaitu :
 Klien sudah bisa melakukan perawatan diri sendiri tanpa disuruh
perawat sepeti mandi, menyisir rambut, merapikan tempat tidur, makan
dan minum serta minum obat.
 Klien sudah dapat menjalin hubungan sosial dengan teman-teman
yang ada di RSJ. Anshari Saleh Banjarmasin.
 Klien sudah tidak mengamuk lagi atau melakukan tindakan
kekerasan.
 Klien sudah mau mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan
diruang kelas III Wanita .
2. Untuk memvalidasi kebenaran alamat yang diberikan oleh keluarga klien saat
masuk rumah sakit.
3. Untuk memvalidasi kebenaran data yang di dapatkan oleh pasien.
4. Untuk Mengetahui faktor utama yang mendukung dan memicu klien sehingga
mengalami gangguan jiwa.
5. Mengetahui / observasi keadaan lingkungan tempat tinggal pasien yaitu
keadaan kondisi rumah, penempatan perabotan rumah, pasilitas ibadah, tempat
melaksanakan hobi, pemampaatan fasilitas kesehatan ( lokasi pelayanan
kesehatan dari tempat tinggal pasien )
6. Mengimplementasikan diagnosa keperawatan :
 Resiko perilaku kekerasan mencederai diri,orang lain dan lingkungan
berhubungan dengan perubahan persepsi sensorik ; halusinasi dengar dan
lihat.
TUK 4:
Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengonrol halusinasinya.
4.1.1. Anjurkan klien untuk memberi tahu keluarga jika mengalami halusinasi.
4.2.1. Diskusikan dengan keluarga (pada saat keluarga berkunjung/pada saat
kunjungan rumah).
a. Gejala halusinasi yang dialami klien.
b. Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus
halusinasi.
c. Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi dirumah; beri kegiatan,
jangan biarkan sendiri, makan bersama, bepergian bersama.
d. Beri informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan;
halusinasi tidak terkontrol dan resiko mencederai orang lain.
 Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif berhubungan dengan
koping keluarga inefektif (Ketidakmampuan).

TUK 1 :
Keluarga dapat mengenal masalah yang dapat menyebabkan klien kambuh
dalam 2 x pertemuan.
1.1.1.Bina hubungan saling percaya dengan keluarga
- Sapa keluarga dengan ramah.
- Jelaskan tujuan perawatan dan perannya selama bersama klien.
- Dorong keluarga untuk mengungkapkan masalah.
1.1.2.Kaji persepsi keluarga tentang perilaku klien yang maladaptif
1.1.3.Diskusikan dengan keluarga beberapa masalah yang dapat menjadi
faktor penyebab klien kambuh, seperti :
- Tidak menghargai klien.
- Mengisolasi klien.
- Tidak memperhatikan klien/tidak memberi kegiatan selama dirumah.
1.1.4.Diskusikan dengan keluarga tentang sikap yang harus dilakukan oleh
keluarga, masyarakat dan individu terhadap perilaku maladaptif dari
klien.

1.1.5. Bantu keluarga mengenal sikap dan perilakunya yang dapat memicu dan
dapat menyebabkan klien kambuh.

TUK 2 :
Keluarga dapat mengambil keputusan dalam melakukan perawatan terhadap
klien dalam waktu 2 x pertemuan.
2.1.1.Diskusikan dengan keluarga bahwa keluarga merupakan penanggung
jawab utama dalam merawat klien di rumah
2.1.2.Jelaskan kepada keluarga bahwa keluarga merupakan pengambil
keputusan dalam keperawatan keluarga.
2.1.3.Jelaskan pada keluarga akibat bila masalah tidak ditangani dengan cepat
2.1.4.Motivasi keluarga untuk memutuskan hal yang menguntungkan klien.
TUK 3 :
Keluarga dapat merawat klien di rumah dalam waktu 2 x pertemuan.
3.1.1.Diskusikan dengan keluarga cara merawat klien di rumah dan
demonstrasikan seperti :
- Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari
- Libatkan klien dalam kegiatan sehari-hari yang dilakukan keluarga
- Dengarkan keluhan yang dirasakan klien.
- Berikan jalan keluar setiap klien mengalami masalah.
- Beri reinforcemen positif bila klien dapat melakukan tugasnya.
3.1.2. Diskusikan dengan keluarga tentang pentingnya klien minum obat
secara teratur.

TUK 4 :
Keluarga dapat mengidentifikasi support sistem yang ada di dalam keluarga
dalam waktu 2 x pertemuan.

4.1.1.Identifikasi dengan keluarga tentang support sistem yang ada di dalam


keluarga.
4.1.2.Diskusikan dengan keluarga tentang pentingnya partisipasi aktif dari
support sistem dalam perawatan klien.
4.1.3.Diskusikan dengan keluarga pentingnya keluarga dalam menghargai
nilai positif klien
4.1.4.Anjurkan keluarga untuk menerima apa adanya (kelemahan dan
kekurangan yang klien dimiliki klien tidak ditampilkan).
- Identifikasi bersama keluarga tentang kondisi dan lingkungan keluarga
yang dapat mendukung kesehatan klien
- Ciptakan suasana keluarga yang tenang dan nyaman bagi klien

TUK 5 :
Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang terapeutik dalam merawat
klien dalam waktu 2 x pertemuan.
5.1.1.Beri reinforcement positif pada keluarga tentang fasilitas kesehatan yang
ada di masyarakat dan dapat digunakan keluarga sebelum klien dibawa
ke rumah sakit jiwa bila kambuh.
5.1.2.Diskusikan dengan keluarga pentingnya pemanfaatan fasilitas tersebut
serta tahu prosedur yang harus dilakukan keluarga
5.1.3.Anjurkan keluarga untuk memanfaatkan fasilitas yang ada di dekat
rumah, sebagai alternatif pemecahan masalah bila klien kambuh.

TUK 6 :
Keluarga dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat
untuk merawat kesehatan klien dalam waktu 2 x pertemuan.
6.1.1. Kaji pandangan keluarga tentang keberadaan puskes-mas dalam
perawatan klien
6.1.2. Dorong keluarga untuk memanfaatkan Puskesmas dalam
perawatan klien.
 Resiko perubahan persepsi sensori ; Halusinasi dengar berhubungan dengan
isolasi sosial ; Menarik diri.

TUK 6 :
Keluarga mampu mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan
dengan orang lain.
1. Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :
 Salam, perkenalan diri.
 Sampaikan tujuan.
 Buat kontrak.
 Eksplorasikan perasaan keluarga.

2. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :


 Prilaku menarik diri.
 Penyebab prilaku menarik diri.
 Akibat yang akan terjadi jika prilaku mrnarik diri tidak ditanggapi.
 Cara keluarga klien menghadapi klien menarik diri.

7. Menganjurkan keluarga untuk menjenguk klien minimal 2 minggu sekali.


8. Menjelaskan kepada keluarga yang harus dilakukan saat menjenguk klien
 Tanyakan keadaan dan perasaan klien saat ini.
 Tanyakan kegiatan positif yang telah di lakukan
 Tanyakan apa keperluan klien yang berhubungan pemenuhan ADL
seperti sabun mandi, sikat gigi, alat sisir, bedak dll.
B. PELAKSANAAN KEGIATAN
 Hari : MINGGU
 Tanggal : 21 DESEMBER 2003
 Jam : 08.00 – 09.00 WITA

Banjarmasin, 15 Desember 2003.

Mengetahui Praktikan
Pembimbing Rg. III Wanita

SYARNIAH .SKp MUHAMMAD HAZAIRIN


NIP : 140 366 345 NIM : PO7120001023
Tahap-tahap terjadinya halusinasi (Stuart dan Sunden) :

1. Tahap I
Karakteristik :
Orang yang berhalusinasi mengalami keadaan emosi sepereti ansietas,
kesepian,merasa bersalah dan takut, serta mencoba memisatkan penenangan
pikiran untuk mengurangi ansiaetas . Individu mengetahui bahwa pikiran dan
sensori yang dialaminya tersebut dapat dikendalikan jika ansietasnya diatasi (non
psikotik).
Perilaku yag diamati :
 Menyeringai/tertawa yang tidak sesuai
 Menggerakkan bibirya tanpa menimbulkan suara.
 Gerakan mata yang cepat.
 Respon verbal yang lambat.
 Diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikan.

2. Tahap II
Secara umum halusinasi menjijikkan, dengan karaktateristik yaitu :
Pengalaman sensori bersifat menjijikan dan menakutkan, orang yang
berhalusinasi mulai merasa kehilangan kendali dan mungkit berusaha untuk
menjauhkan dirinya dari sumber yang dipersepsikan individu, mungkin merasa
malu karena pengalaman sensorinya dari orang lain (non psikotik), perilaku klien
yang diamati :
 Peningkatan sitem syaraf otonom yang mungkin menunjukkan ansietas
seperti peningkatan nadi, pernafasan dan tekanan darah.
 Penurunan kemampuan konsentrasi.
 Dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan
kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dan realitas.

3. Tahap III
Pengalaman sensori menjadi penguasa, dengan karakteritsik :
Orang berhalusunasi menyerah untuk melawan pengalaman halusinasi dan
membiarkan halusinasinya menguasi dirinya, isi halusinasinya dapat berupa
permohonan individu mungkin mengalami kesepian jika pengalaman sensori itu
berakhir (psikotik), perilaku klien yang diamati :
 Lebih cenderung untuk mengikuti petunjuk yang diberikan
halusinasinya daripada menolaknya.
 Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain.
 Entang perhatian hanya beberapa menit/detik.
 Gangguan fisik dari ansietas berat seperti berkeringat, tremor, tidak
mampu mengikuti petunjuk.

4. Tahap IV
Secara umum halusinasi menjadi lebih rumit dan saling terkait dengan delusi.