Você está na página 1de 4

Alzheimer’s Disease

Penyakit Alzheimer (PA) adalah penyebab demensia tersering pada


populasi lanjut usia. Penyakit ini biasanya bermanifestasi sebagai gangguan
fungsi intelektual dan perubahan mood serta perilaku dengan onset yang
tersembunyi. Selanjutnya, gejala berlanjut menjadi disorientasi, hilang
ingatan,dan afasia, temuan yang merupakan tanda disfungsi korteks berat, dan
sekitar 5-10 tahun berikutnya, pasien mengalami disabilitas, bisu, dan
imobilitas. Kematian biasanya terjadi karena pneumonia berulang atau infeksi
lainnya. Usia adalah factor risiko yang pening untuk terjadinya PA; insidensnya
sekitar 3% pada orang berusia 65-74 tahun, 19% pada usia 75-84 tahun, dan
47% pada usia lebih dari 84 tahun, sebagian besar kasus PA terjadi sporadic,
tetapi 5-10% dapat familia. Kasus sporadic jarang terjadi sebelum usia 50 tahun,
tetapi onset yang awal ini dapat terlihat pada penyakit Alzheimer yang
diturunkan.
Morfologi Alzheimer’s Disease
Pemeriksaan makroskopik otak menunjukkan derajat atrofia korteks
yang bervariasi, menghasilkan pelebaran sulkus serebral yang paling jelas di
lobus frontal, temporal, dan parietal. Dengan atrofia yang signifikan, ada
pelebaran kompensatorik mikroskopik, PA didiagnosis oleh adanya plak (suatu
lesi ekstrasel) ; dan neurofibrillary tangle (suatu lesi intrasel) (Gambar 22-25).
Karena tanda ini dapat muncul pada otak orang lanjut usia yang tidak demensia,
maka kriteria untuk diagnosis PA saat ini berdasarkan pada gabungan gejala
klinis dan gambaran patologis. Terdapat keterlibatan progresif yang cukup
konstan dari berbagai bagian otak: perubahan patologis (khususnya plak, tangle,
dan hilangnya neuron terkait dan reaksi glia) jelas terlihat pertama kali di
korteks entorinal, kemudian di formasi hipokampus dan isokorteks, dan
akhirnya neokorteks. Pewarnaan perak atau metode imunohistokimia sangat
membantu dalam menilai lesi yang sebenarnya.
Plak pada neurit adalah kumpulan sferikal, fokal dari prosesus neuritik
yang berdilatasi dan berkelok-kelok, serta terpulas dengan pewarnaan perak
(neurit distrofik), sering berada disekitar inti amiloid (Gambar 22-25, A). Plak
pada neurit berdiameter sekitar 20-200 mikrometer; sel mikroglia dan astrosit
reaktif terdapat di tepinya. Plak dapat ditemukan di hipokampus dan amigdala
dan juga di neokorteks, meskipun biasanya menyisakan korteks motorik dan
sensorik primer sampai perjalanan penyakit sudah lanjut. Inti amiloid berisi Aℬ
(Gambar 22-25, B). Deposit Aℬ dengan reaksi neuritik sedikit juga dapat
ditemukan, yang disebut plak difus; ini biasanya ditemukan di korteks serebri
superfisial, basal ganglia, dan korteks serebelum dan menggambarkan stadium
awal dari perkembangan plak
Neurofibrilar kusut (neurofibrillary tangle) adalah sekumpulan filamen
heliks berpasangan yang terlihat sebagai struktur fibriler basofilik dalam
sitoplasma neuron yang menggantikan atau mengelilingi inti sel; kekusutan
dapat menetap setelah neuron mati, menjadi bentuk patologi ekstrasel. Massa
kusut ini biasa ditemukan di neuron korteks, terutama korteks entorhinal, dan
juga sel piramid hipokampus, amigdala, basal otak, dan nukleus raphe.
Komponen utama filamen heliks berpasangan adalah tahu yang mengalami
hiperfosforilasi yang abnormal (Gambar 22-25, C). Kekusutan tidak spesifik
untuk PA karena dapat ditemukan juga pada penyakit degeneratif lainnya.

Amyloid beta (brown) in senile plaques of the cerebral cortex (upper left
of image) and cerebral blood vessels (right of image) with immunostaining.