Você está na página 1de 3

Agama mempunyai peranan penting dalam kehidupan seseorang.

Melalui agama, seseorang mengetahui


tentang halal, haram, juga menuntut seseorang bagaimana harus bersikap dalam menghadapi suatu masalah
dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan agama yang diyakini. Dengan kata lain, ajaran agama akan menjadi
pedoman dalam segala tingkah laku dan perbuatannya.

Islam diturunkan sebagai agama bagi seluruh umat manusia yang mengatur urusan manusia baik dari segi
akidah, ibadah, maupun akhlak.[6] Masing-masing dari hubungan itu saling membutuhkan dan melengkapi
serta tidak dapat di pisahkan antara yang satu dan yang lainnya. Dengan demikian, ketika disebutkan pembinaan
agama Islam berarti pembinaan yang mencakup tiga aspek tersebut, yaitu:
a. Pembinaan Akidah
Pembinaan agama Islam yang pertama harus diperhatikan adalah mengenai segi-segi yang berhubungan dengan
akidah (keimanan) dan kepercayaan. Akidah merupakan landasan yang paling utama dan pertama didalam
pembinaan syariat Islam. Oleh sebab itu, dalam membina remaja, pembinaan akidah menjadi faktor dominan.
Apabila iman telah sempurna maka akan sempurnalah semua ajaran Islam, sebaliknya apabila iman rusak, maka
sia-sialah semua amal perbuatannya
Didalam al-Quran, Allah telah menyampaikan beberapa gambaran tentang peran orang tua dalam menjaga
keselamatan akidah anak-anaknya. Allah berfirman dalam surat (Luqman: 13)
ž cÎ) ( «!$$Î/ õ8ÎŽ ô³è@ Ÿw ¢Óo_ç6»tƒ ¼çmÝàÏètƒ uqèdur ¾ÏmÏZö/ew ß`»yJø)ä9 tA$s% øŒÎ)ur
artinya: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia ÒOŠ Ïàtã íOù=Ýàs9 x8÷Ž Åe³9$#
memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
b. Pembinaan Ibadah
Ibadah merupakan kewajiban manusia yang harus di laksanakan oleh setiap muslim laki-laki maupun
perempuan. Dalam rumah tangga orang tua selain melaksanakan ibadah terhadap dirinya juga berkewajiban
terhadap anaknya, begitu juga guru di sekolah dan masyarakat sekitar. Pembinaan ibadah harus dilaksanakan
sedini mungkin pada remaja agar terbiasa beribadah tanpa ada paksaan lagi. Satu hal yang tidak boleh di
lupakan dalam pembinaan ibadah ialah kegiatan yang mendorong supaya yang diajar terampil melaksanakan
ibadah, baik dari segi kegiatan anggota badan, ataupun dari segi bacaan, sehingga ada rasa senang dalam
melaksanakannya.
c. Pembinaan Akhlak
Pembinaan akhlak yang mulia merupakan inti ajaran Islam. “Secara etimologis, kata al-khuluk (akhlak) berarti
karakter, watak, tradisi, agama dan harga diri”.[7] Pembinaan akhlak berarti pengajaran tentang bentuk batin
seseorang yang kelihatan pada tindak tanduknya (tingkah laku). Akhlak juga bukan hasil dari sebuah kebetulan,
karena akhlak merupakan pembawaan yang melekat dalam jiwa. Zakiah Daradjat mengatakan, “Pembentukan
akhlak dilakukan berdasarkan asumsi bahwa akhlak adalah hasil usaha pembinaan, bukan terjadi
sendirinya”.[8]
Islam sangat memperhatikan pembinaan akhlak, hal ini dapat dapat dilihat dari perhatian Islam terhadap
pembinaan jiwa yaang harus didahulukan dari pada pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik inilah akan lahir
perbuatan yang baik, yang tahap selanjutnya akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan kebahagian pada
seluruh kehidupan manusia, secara lahir dan batin.
Dalam pembinaan akhlak tidak diperlukan pengetahuan kaidah dan prinsip yang hanya dikuasai, tetapi lebih
kepada perilaku yang di nampakkan dari pengetahuan kaidah dan prinsip-prinsip tersebut.
Peranan Agama terhadap Remaja

Masa remaja adalah masa ayang dianggap sebagai masa kecermelangan dalam kehidupan seseorang.
Karakteristik masa remaja adalah bertambahnya kekuatan tubuh, pemikiran yang cemerlang, akal yang sempurna,
serta perubahan pada cara berpikir dan perubahan pada sikap dalam usaha untuk menyingkap hal-hal yang baru.

Akan tetapi pada dasarnya hanya satu kekuatan yang mampu menguasai semua perkara dan unsure-unsur
yang dapat mempengaruhi remaja, jika seandainya kekuatan tersebut ddapat dijaga dari semua pengaruh yang
masuk pada dirinya, yaitu kekuatan akal yang merupakan kendali bagi semua perkara dan kunci kestabilan jiwa
serta semua tingkah lakunya. Sayid Muhammad Az-za’balawi menambahkan, “fase remaja adalah fase biasa.
Paling jauh yang membuatnya berbeda dari fase-fase sebelumnya adalah kematangan akal dan kemampuan
berpikir secara mandiri”.[9]

Sebenarnya minat remaja terhadap agama cukup besar, karena mereka menyadari agama berperan
penting dalam kehidupan. Namun, adda sebagian remaja yang menganggap agama sebagai sumber dari
rangsangan emosional dan intelektual, sehingga ingin mempelajari berdasarkan pengertian intelektual. Remaja
ingin menerima agama sebagai sesuatu yang bermakna berdasarkan keinginan untuk mandiri dan bebas
menentukan keputusannya sendiri. para pakar menyebutkan bahwa kriminalitas remaja disebabkan kurangnya
pemahaman terhadap agama. Sudarsono dalam bukunya Kenakalan Remaja mengungkapkan, “Dalam kenyataan
sehari-hari menunjukkan bahwa remaja yang melakukan kajahatan sebagian besar kurang memahami norma
agama, bahkan lalai dalam menunaikan perintah-perintah agama antara lain seperti mengikuti acara kebakhilan,
shalat dan puasa”.[10] Hamad Hasan Ruqaith menambahkan, “Sudah maklum bahwa pada fase remaja, mereka
menghadapi problematika, krisis pemikiran, dekadensi moral, psikologis dan psikis. Sedangkan mereka tidak
punya pelindung dari pengaruh ini kecuali berpegang teguh kepada agama, berjalan pada jalurnya dan di bawah
bimbingannya.”[11]
Kesalahan dalam memilih teman sangat membawa dampak buruk bagi remaja, misalnya temannya yang suka
merokok maka sedikit demi sedikit akan ikut terbawa kedalam diri remaja. Wirawan Sarsono Sarito
menegaskan, ”Kuatnya pengaruh teman sering dianggap sebagai biang keladi dari tingkah laku remaja yang
buruk. Pada usia remaja, mereka juga bisa mendengar pendapat pihak ketiga”.[16]

(http://stit-ahs.com/artikel-dosen/23-artikel-dosen-stit/30-problema-orang-tua-dalam-melakukan-
pembinaan-agama-pada-remaja)

Data UNICEF tahun 2016 menunjukkan bahwa kekerasan pada sesama remaja di Indonesia
diperkirakan mencapai 50 persen. Sedangkan dilansir dari data Kementerian Kesehatan RI 2017,
terdapat 3,8 persen pelajar dan mahasiswa yang menyatakan pernah menyalahgunakan narkotika
dan obat berbahaya. (http://fk.ugm.ac.id/kekerasan-remaja-indonesia-mencapai-50-persen/)

Dari Abu Hurairah t dari nabi r bersabda : seseorang itu atas din saudaranya. Maka
lihatlah salah seorang diantara kalian, siapa yang ditemani. (HR. Ahmad)
Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan firah. Maka bapaknyalah yang menjadikan
ia yahudi, atau nasrani, atau majusi (HR. Bukhori)
Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan akhlak dan prilaku
anaknya. Yahudi atau Nasrani anaknya tergantung dari orang tuanya, pembinaan dari orang tua
adalah factor terpenting dalam memperbaiki dan membentuk generasi yang baik.

membentuk lingkungan yang baik. Sebagaimana di sebutkan diatas lingkungan merupakan factor
terpenting yang mempengaruhi prilaku manusia, maka untuk menciptakan generasi yang baik kita
harus menciptakan lingkungan yang baik dengan cara lebih banyak berkumpul dan bergaul dengan
orang-orang yang sholeh, memilih teman yang dekat dengan sang Khalik dan masih banyak cara lain
yang bisa kita lakukan, jika hal ini mampu kita lakuakan, maka peluang bagi remaja atau anak untuk
melakuakan hal yang negative akan sedikit berkurang.

(http://remjibalige.blogspot.com/2012/09/kenakalan-remaja-dan-solusinya-dalam.html)

Pendidikan pada hakekatnya merupakan proses pendewasaan manusia menjadi manusia seutuhnya.
Manusia seutuhnya meliputi keseluruhan dimensi kehidupan manusia: fisik, psikis, mental/moral,
spiritual dan religius. Pendidikan dapat berlangsung secara formal di sekolah, informal di lembaga-
lembaga pendidikan dan pelatihan dan nonformal dalam keluarga. Pendidikan agama di sekolah
sebagai salah satu upaya pendewasaan manusia pada dimensi spiritual-religius. Adanya pelajaran
agama di sekolah di satu pihak sebagai upaya pemenuhan hakekat manusia sebagai makhluk religius
(homo religiousus). Sekaligus di lain pihak pemenuhan apa yang objektif dari para siswa akan
kebutuhan pelayanan hidup keagamaan. Agama dan hidup beriman merupakan suatu yang objektif
menjadi kebutuhan setiap manusia.