Você está na página 1de 18

DOA PEMBUKA

“OM SWASTYASTU”

“Om Awighnam Astu Namo Sidhham

Om Sidirastu Tad Astu Swaha”

Ya Tuhan semoga atas perkenaan-Mu,

tiada suatu halangan bagi hamba memulai pekerjaan ini

dan semoga berhasil dengan baik.

i
KATA PENGANTAR
“Om Swastyastu”

Puja dan puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sang
Hyang Widhi Wasa, karena atas rahmat dan karunia-Nya makalah yang berjudul “Ilmu
Pengetahuan, Teknologi, dan Seni dalam Perspektif Hindu” ini dapat diselesaikan tepat pada
waktunya.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Prof. Dr. I
Wayan Santyasa, M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah Agama Hindu. Tidak lupa pula
penulis mengucapkan terimakasih kepada rekan – rekan dan pihak – pihak yang sedianya ikut
andil dalam penulisan makalah ini yang tentunya tidak mungkin penulis sebutkan satu per
satu.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih sangat jauh dari sempurna.
Namun penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan hasil yang terbaik
dengan harapan makalah ini dapat diterima dan dapat memberikan manfaat bagi para
pembaca. Kritik dan saran yang membangun, sangat penulis harapkan dan akan sangat
membantu demi kesempurnaan makalah ini.

“Om Santih, Santih, Santih Om”

Singaraja, 20 Mei 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

DOA PEMBUKA .............................................................................................. i


KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI...................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2 Rumusan masalah ........................................................................................ 2
1.3 Tujuan Penulisan.......................................................................................... 3
1.4 Manfaat Penulisan........................................................................................ 3

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Konsepsi Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni dalam Perspektif Hindu 5
2.2 Sraddha, Jnana, dan Karma Sebagai Kesatuan dalam Yadnya .................... 5
2.3 Kewajiban Menuntut Ilmu dan Mengamalkan Ilmu dari Perspektif Hindu 7
2.4 Tri Hita Karana dan Tanggung Jawab Terhadap Alam dan Lingkungan .... 9
2.5 Implementasi Konsep Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni dalam
PerspektifHindu; Sraddha, Jnana, dan Karma Sebagai Kesatuan dalam Yadnya;
Kewajiban Menuntut Ilmu dan Mengamalkan Ilmu dari Perspektif Hindu; serta
Konsep Tri Hita Karana dan Tanggung Jawab Terhadap Alam dan Lingkungan
dalam Kehidupan Sehari-Hari ..................................................................... 10

BAB III PENUTUP


3.1 Simpulan ...................................................................................................... 15
3.2 Saran ............................................................................................................ 15

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 16


DOA PENUTUP ................................................................................................ 17

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan ini, manusia tidak akan pernah terlepas dari kegiatan belajar.
Belajar merupakan suatu hal yang esensial bagi kehidupan kita. Hal ini dikarenakan
kemampuan untuk berpikir merupakan salah satu keutamaan yang dimiliki oleh manusia,
yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Pengetahuan merupakan suatu hal
yang menjadi objek utama dalam belajar.
Pengetahuan itu akan terus berkembang tanpa batas, terlebih pada jaman modern
saat ini perkembangan ilmu pengetahuan menjadi sangat pesat dikarenakan adanya
teknologi yang sangat membantu serta mendukung segala aktivitas manusia termasuk
dalam kegiatan belajar. Namun yang menjadi dilema saat ini adalah perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi tersebut menimbulkan kecemasan bagi umat manusia karena
digunakan dalam pengembangan teknologi senjata yang seharusnya bertujuan untuk
memberikan keamanan bagi manusia tetapi justru menjadi ancaman bagi manusia itu
sendiri. Fenomenayang juga terjadi karena perkembangan IPTEK seperti adanya internet
yang bertujuan memberikan kemudahan seseorang dalam memperoleh informasi
terkadang menjadi sumber ancaman bagi moral dan etika seseorang.
Berdasarkan hal tersebut maka kita sebagai manusia yang hidup dijaman modern
ini hendaknya memiliki sikap selektif dalam menghadapi kemajuan IPTEK yang
berkembang pesat. Hal ini dapat kita lakukan salah satunya adalah dengan jalan
memperdalam ajaran agama, karena menurut pendapat ilmuwan terkenal Albert Einstein,
yang mengatakan bahwa “ilmu tanpa agama adalah buta, sedangkan agama tanpa ilmu
adalah lumpuh”. Pendapat tersebut dapat dimaknai bahwa dalam menuntut ilmu kita
tidak semata – mata hanya menuntut ilmu saja melainkan agama menjadi sangat penting
guna mengarahkan hidup kita nantinya.
Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang dimiliki oleh manusia hendaknya
digunakan demi kesejahteraan manusia, dan diamalkan dengan tulus ikhlas, demi
tercapainya tujuan akhir dari kehidupan ini yaitu moksa. Karena bagaimanapun juga
menuntut ilmu serta mengamalkannya merupakan salah satu bagian dari yadnya yang
harusnya kita lakukan sebagai umat Hindu. Namun, dewasa ini manusia sering
menggunakan pengetahuan dan teknologi yang dimiliki untuk mencari suatu
pembenaran, seperti kejadian Bom Bali yang dilakukan oleh orang – orang yang

1
sebenarnya ingin menegakkan kebenaran, namun mereka melakukannya dengan cara
yang keliru, sehingga hal tersebut dapat mengganggu keseimbangan antara Tuhan,
manusia, dan lingkungan yang terwujud dalam konsep Tri Hita Karana dan hal tersebut
akan sangat merugikan kehidupan manusia dan mahluk lainnya. Untuk itu, kita
hendaknya menuntut ilmu serta mengamalkannya berlandaskan ajaran agama dengan
tujuan dapat menyejahterakan kehidupan manusia dan mahluk lainya dengan bantuan
teknologi.
Berdasarkan uraian di atas maka kami tertarik mengkaji hal tersebut melalui
sebuah makalah yang berjudul “Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni dalam
Perspektif Hindu”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang di atas, adapun beberapa permasalahan yang
akan dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah pengertian ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam perspektif
Hindu ?
2. Bagaimana sraddha, jnana, dan karma sebagai kesatuan dalam Yadnya ?
3. Bagaimana kewajiban menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu dari perspektif Hindu
?
4. Bagaimana konsep Tri Hita Karana dan tanggung jawab terhadap alam dan
lingkungan ?
5. Bagaimana implementasi konsep ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam
perspektif Hindu ; Sraddha, Jnana, dan Karma sebagai kesatuan dalam Yadnya ;
kewajiban menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu dari perspektif Hindu; serta
konsep Tri Hita Karana dan tanggung jawab terhadap alam dan lingkungan dalam
kehidupan sehari-hari?

1.3 Tujuan Penulisan


Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui pengertian ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam perspektif
Hindu.
2. Untuk mengetahuisraddha, jnana, dan karma sebagai kesatuan dalam Yadnya.
3. Untuk mengetahui kewajiban menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu dari perspektif
Hindu.

2
4. Untuk mengetahui konsep Tri Hita Karana dan tanggung jawab terhadap alam dan
lingkungan.
5. Untuk mengetahui implementasi konsep ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam
perspektif hindu ; sraddha, jnana, dan karma sebagai kesatuan dalam yadnya ;
kewajiban menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu dari perspektif hindu ; serta
konsep tri hita karana dan tanggung jawab terhadap alam dan lingkungan dalam
kehidupan sehari – hari.

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat yang diharapkan dalam penyusunan makalah ini adalah :
1. Bagi Penulis
Penulisan makalah ini bermanfaat untuk melatih penulis dan menambah
pengalaman penulis dalam pembuatan makalah khususnya makalah Agama Hindu
dengan baik dan sesuai dengan kebuTuhan pembelajaran.Melalui makalah ini
penulis juga memperoleh pengetahuan tambahan tentang ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni dalam perspektif Hindu. Selain itu, makalah ini juga dapat
dijadikan bahan evaluasi pembuatan makalah – makalah selanjutnya, agar menjadi
lebih baik dan lebih bermanfaat.

2. Bagi Pembaca
Melalui makalah ini, pembaca dapat menambah dan memperdalam
pengetahuannya mengenaiilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam perspektif
Hindu serta dapat mengamalkannya tersebut dalam kehidupan sehari – hari. Bagi
para pendidik dan calon pendidik khususnya, dapat menerapkan konsep ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni dalam perspektif hindu ini dalam proses
pembelajaran.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsepsi Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni Dalam Perspektif Hindu
Dalam ajaran agama hindu ilmu pengetahuan disebut jnana, dan teknologi serta
seni termasuk dalam gandarva veda, yaitu cabang ilmu dan seni (Winawan, 2002).
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai
gabungan dari berbagai pengetahuan yang disusun secara logis dan bersistem dengan
memperhitungkan sebab akibat. Teknologi adalah kemampuan teknik yang berdasarkan
pengetahuan ilmu eksakta yang berdasarkan pada proses teknik. Sedangkan seni adalah
keaktifan membuat karya – karya bermutu dilihat dari segi kehalusannya dan
keindahaannya dan berupa tari, lukis, dan ukir.
Pustaka suci veda mengenai teknologi serta seni, yang merupakan salah satu
daripada produk budaya, terpancar dari budhi dan mendapat kekuatan hidup dari jiwa-
atma, yang ada dalam diri tiap manusia. Mengenai teknologi dan seni, dapat kita lihat
pada ungkapan dalam veda, yaitu “Kelompok orang yang bersembahyang,
mempersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan alat-alat musik (gamelan) yang
menyertainya dimainkan oleh pengatur tinggi nada kecapi dan seruling” (Rg Veda VIII.
69. 9).
Menurut perspektif hindu, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni merupakan
kesatuan yang saling menjalin untuk mewujudkan sesuatu yang indah, yang secara
vertikal diabdikan kepada Tuhan dan secara horizontal diabdikan kepada sesama hidup
(manusia) untuk mencapai kesejahteraan, kebahagian serta kesempurnaan.
2.2 Sraddha, Jnana, dan Karma sebagai Kesatuan dalam Yadnya
Sraddha adalah keyakinan atau kepercayaan. Jnana adalah ilmu pengetahuan.
Sedangkan karma adalah perbuatan, dan yadnya adalah persembahan atau korban suci
yang tulus ikhlas. Sebagai umat hindu kita wajib memiliki keyakinan yang teguh
terutama kepada Tuhan Yang Maha Esa dan diri sendiri, agar tidak cepat goyah. Kita
juga harus rajin untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan wajib mengamalkannya untuk
melenyapkan awidya (kegelapan) secara lahir bathin. Namun, dalam mengamalkan ilmu
pengetahuan tersebut hendaknya kita persembahkan dalam bentuk yadnya kepada Ida
Sang Hyang Widhi Wasa atau kepada Dewi Saraswati sebagai Dewi ilmu pengetahuan
(Winawan,2002; 54)

4
Pustaka suci veda, itihasa, purana telah memberikan berbagai petuah mengenai hal
– hal sebagai berikut.
a. Mengenai Jnana ( Ilmu Pengetahuan )
Untuk meningkatkan sraddha dan bakti, umat hindu melaksanakan panca
yadnya. Agar dalam melaksanakan yadnya tersebut tidak terjadi kekeliruan, maka
umat membutuhkan pengetahuan, sehingga yadnya yang dilakukan dapat
menyejahterkan umat. Jadi sebelum melakukan yadnya adakalanya seseornag harus
memiliki tattwa yang baik agar terhindar dari yadnya yang rajasik
Tujuan ilmu pengetahuan adalah kebijaksanaan hidup yang memberikan
kebebasan dari kegiatan kerja dan kelepasan dari belenggu kerja. Dalam Bhagavad
Gita, menyebutkan :
“Belajarlah, bahwa dengan sujud bersembah, dengan bertanya dan dengan
pelayanan, maka orang-orang yang telah melihat kebenaran, mengajarmu dalam
ilmu pengetahuan”(IV.34)
“Ia yang memiliki keyakinan yang terserap di dalam kebijaksanaan dan setelah
dan yang telah menundukkan indra-indranya, akan memperoleh kebijaksanaan dan
setelah memperoleh kebijaksanaan dengan cepat ia akan mendapatkan kedamaian
tertinggi”(IV.39)
Dalam kitab Canakya Nitisastra, menyebutkan:
“Ilmu pengetahuan ibaratnya bagaikan Kamandhenu, yaitu yang setiap saat
dapat memenuhi segala keinginan. Pada saat orang berada di Negara lain, ilmu
pengetahuan bagaikan seorang ibu yang selalu memelihara kita, orang bijaksana
mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah kekayaan yang rahasia, harta yang tak
kelihatan”(IV.5)

b. Menyangkut karma
Pustaka suci hindu yang menjelaskan menyangkut karma, disebutkan dalam
Bhagavad Gita :
“Tugasmu kini hanyalah berbuat dan jangan sekali-sekali mengharap akan
hasilnya;jangan sekali-sekali yang menjadi motifmu ataupun sama sekali terikat
dengan tanpa kegiatan” (II.47)
“Tak seorangpun dapat tetap tanpa melakukan kegiatan kerja walaupun sesaat
saja, karena setiap orang dibuat tak berdaya oleh kecenderungan-kecenderungan
alam untuk melakukan kegiatan kerja” (III.5)

5
Jadi selama manusia menjalani kehidupan dunia ini, mereka tak dapat
melepaskan dirinya dari kegiatan kerja, karena tanpa kerja kehidupan tidak dapat
berlangsung.
c. Mengenai Yadnya
Dalam Bhagavad Gita III.16, disebutkan “evam pravartitam cakram,
nanuvartayatita yah, aghayur indriyaramo, mogham partha sa jivati“
Artinya :
“Di dunia ini mereka yang tidak ikut membantu memutar roda kehidupan ini, pada
dasarnya bersifat jahat, memperturutkan nafsu semata dan mengalami penderitaan”.
Dalam sloka ini konsep veda tentang pengorbanan sebagai saling tukar antara
para dewa dan manusia diungkapkan dalam konteks saling ketergantungan makhluk –
makhluk yang lebih luas dalam kasus ini. Kegiatan – kegiatan yang dilakukan dalam
semangat pengorbanan semacam ini sangat berkenan pada Tuhan.
2.3 Kewajiban Menuntut Ilmu dan Mengamalkan Ilmu dari Perspektif Hindu
Dalam ajaran hindu, catur asrama adalah empat tingkatan yang wajib dijalani
manusia hindu selama hidupnya, yaitu: brahmacari, grhastha, wanaprastha, dan bhiksuka.
Catur asrama ini erat kaitannya dengan catur purusa artha (dharma, artha, kama, dan
moksa), di mana salah satu bagian dari catur purusa artha yakni dharma sangat terkait
dengan brahmacari, karena pada saat kita melaksanakan brahmacari maka yang menjadi
tujuan utama adalah dharma.
Brahmacari adalah masa belajar, masa menuntut ilmu pengetahuan. Kata
brahmacari sering dijabarkan melalui pernyataan sebagai berikut : “Brahmacari iti
Brahmacari”, mereka yang berkecimpung di bidang pengetahuan (mencari ilmu
pengetahuan) disebut brahmacari (Winawan, 2002).
Brahmacari dalam arti sempit adalah masa belajar secara formal, misalnya belajar
sejak TK sampai perguruan tinggi. Brahmacari dalam arti luas, adalah upaya
meningkatkan pengetahuan dengan berbagai cara (formal dan informal) yang
berlangsung sepanjang masa kehidupan karena sebenarnya proses belajar – mengajar
berlangsung tiada henti. Brahmacari dalam arti khusus ada dua, yaitu : 1) Brahmacari
dalam kaitannya masa aguron – guron (belajar agama/spiritual) seorang sisya (siswa)
kepada nabe (guru spiritual) di mana nabe tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik
dan melatih. 2) Brahmacari dalam arti menjauhkan diri dari keinginan sex atau tidak
nikah atau kawin selama hidup.

6
Dalam atharwa veda, disebutkan sebagai berikut :
“Seorang raja dengan sarana menjalankan Brahmacari, bisa melindungi
bangsanya: Seorang pendidik (guru, pembimbing) yang sedang menjalankan
Brahmacari sendiri berkeinginan menjaga para siswa yang saleh”
Dari kutipan veda itu jelaslah kiranya bahwa kewajiban manusia yang utama dan
yang pertama dilakukan adalah menuntut ilmu atau belajar dan berpendidikan, karena
dari pendidikan pikiran dikembangkan untuk menuju kepada catur purusa artha.
Pelajaran dan pendidikan juga akan membangun kemampuan berpikir untuk memilah
antara dharma dan adharma sehingga manusia dapat mencapai kesempurnaan hidup.
Brahmacari sangat terkait dengan Jnana marga, di mana jnana marga merupakan
salah satu jalan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan melalui mengamalkan ilmu
pengetahuan. Bhagawad Gita IV.33 juga menyebutkan :
“Persembahan korban berupa pengetahuan adalah lebih agung sifatnya dari
korban benda yang berupa apapun. Oh Arjuna, sebab segala pekerjaan tanpa terkecuali
memuncak dalam kebijaksanaan”.
Jadi, betapa pentingnya agama (khususnya ajaran brahmacari) dalam menuntun
jalannya ilmu pengetahuan, sebab ilmu tersebut harus dikembangkan dan diaplikasikan
untuk kesejahteraan manusia yang tentunya harus diselaraskan dengan ajaran agama.
Begitu juga ajaran agama harus selalu diselaraskan dengan perkembangan IPTEK. Pada
hakekatnya agama dan ilmu tersebut merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan. Kita sebagai mahasiswa seyogyanya menuntut ilmu setinggi mungkin tanpa
mengenyampingkan ajaran agama itu sendiri.
2.4 Tri Hita Karana dan Tanggung Jawab terhadap Alam dan Lingkungan
Sebagai umat atau manusia hindu terdapat banyak ajaran yang mengarahkan hidup
dan kehidupan ini kearah yang lebih baik atau dalam agama hindu sering disebut dengan
“Mokshartam Jagatdhita”. Salah satu ajaran agama Hindu yang dalam konteks
pencapaiannya bersumber pada keharmonisan setiap hubungan antar semua ciptaan
Tuhan Yang Maha Esa dapat kita temukan dalam konsep tri hita karana.
Tri hita karana mengandung arti yaitu tri artinya tiga, hita artinya kesejahteraan /
kebahagiaan dan karana artinya penyebab, sehingga tri hita karana dapat diartikan
sebagai “Tiga penyebab kesejahteraan atau kebahagiaan”, dimana tiga penyebab
kesejahteraan ini bersumber pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan
Tuhannya, manusia dengan alam lingkungannya dan manusia dengan sesamanya. Ketiga
hubungan harmonis ini sering disebut dengan :

7
1. Parahyangan (hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan)
2. Palemahan (hubungan harmonis antara manusia dengan alam atau lingkungan)
3. Pawongan (hubungan harmonis antara manusia dengan manusia)
Dalam konsep tri hita karana ini terdapat tiga unsur yang terkandung di dalamnya
yang meliputi : Sanghyang Jagatkarana, Bhuana, Manusia. Unsur-unsur pada konsep tri
hita karana ini ditegaskan pada sloka dalam kitab suci Bhagavad Gita (III.10) yang
menyebutkan :
“Sahayajnah prajah sristwa,Pura waca prajapatih anena,Prasawisya dwiwan
esa,Wo’stiwastah kamadhuk”
Artinya:
Pada zaman dahulu prajapati menciptakan manusia dengan pengorbanan dan berkata :
“Dengan ini semoga engkau akan berkembang biak dan biarlah ini menjadi sapi
perahanmu”
Dari sloka yang terdapat dalam kitab suci Bhagavad Gita (III.10) dapat kita ketahui
bahwa Tuhan menciptakan manusia dan alam semesta beserta isinya dengan jalan
yadnya dan hendaknya kita juga melakukan jalan yadnya untuk bersatu kepada Tuhan
Yang Maha Esa atau mencapai “Moksatham Jagatdhita”.
2.5 Implementasi Konsep Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni,Sraddha, Jnana, dan
Karma Sebagai Kesatuan dalam Yadnya, Kewajiban Menuntut Ilmu dan
Mengamalkan Ilmu,serta Konsep Tri Hita Karana dan Tanggung Jawab terhadap
Alam dan Lingkungan.
2.5.1 Implementasi Konsep Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni dalam Perspektif
Hindu
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mempunyai pikiran dan mengenyam
pendidikan, manusia memiliki hakikat sebagai makhluk budaya dimana mereka
memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan
mereka. Manusia mampu menciptakan produk – produk teknologi seperti radio,
telepon genggam, televisi, dan laptop. Telepon dapat digunakan untuk
menghubungi seseorang yang jauh dengan lebih mudah sehingga komunikasi pun
dapat berjalan dengan lancar, dan laptop dapat digunakan untuk mengakses situs –
situs yang menyediakan layanan pembelajaran, yang dapat meningkatkan dan
memperkaya ilmu pengetahuan yang kita miliki serta untuk membantu kita dalam
mendalami ajaran agama sehingga akan dapat meningkatkan keyakinan kita.

8
Di zaman seperti sekarang ini, pustaka suci mudah didapat dan diakses dari
internet, sehingga kita dapat dengan mudah menambah pengetahuan kita.
Pemanfaatan teknologi juga dapat digunakan sebagai alat untuk mewariskan dan
memelihara budayayang kita miliki, contohnya melestarikan kebudayaan
masyarakat Bali (seni Bali), misalnya tari pendet, tari janger dan tari kecak dengan
mempromosikannya ke media internet sehingga dapat dikenal oleh masyarakat
dunia. Pengimplementasian ilmu pengetahuan yang kita miliki juga dapat
dipadupadankan dengan seni, seperti ketika membuat banten untuk hari raya suci.
Ketika membuat canang kita mengaplikasikan ilmu pengetahuan ke dalam seni,
dimana bagian-bagian dari canang tersebut memiliki arti tersendiri. Dalam rangka
melestarikan dan mengembangkan seni tersebut kita harus memperkuat ilmu
pengetahuan kita tentang agama dan memanfaatkan teknologi yang kita miliki.
Implementasi tentang ilmu pengetahuan juga dapat dilakukan dengan
memperingati Hari Raya Saraswati yang memuja Dewi pengetahuan Dewi
Saraswati.
2.5.2 Implementasi Sraddha, Jnana, dan Karma sebagai Kesatuan dalam Yadnya
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita dapat melaksanakan yadnya untuk
meningkatkan sraddha (keyakinan) yang kita miliki. yadnya yang dilakukan
dengan ilmu pengetahuan akan mengarahkan kita pada pengorbanan yang tulus dan
baik, yadnya ini dapat dilakukan dengan berkarma yang baik, sehingga sebelum
melakukan suatu yadnya kita harus memiliki tattwa yang baik agar dapat
melakukan susila dan upakara yang baik pula. Implementasi yang lain adalah
dengan Jnana marga untuk dapat lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Jnana
marga dapat dilakukan dengan membaca dan memperdalam buku atau kitab suci
agama hindu, mendengarkan dharma wacana, dan mengamalkan ilmu pengetahuan
yang kita miliki dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
2.5.3 Implementasi Kewajiban Menuntut Ilmu dan Mengamalkan Ilmu
Kewajiban menuntut ilmu adalah suatu hal mutlak yang harus dilakukan oleh
setiap orang. Terlebih oleh manusia yang sedang berada dalam brahmacari untuk
kepentingan kehidupan dalam grehastha. Implementasi yang dapat dilakukan
adalah dengan melaksanakan masa brahmacari dengan sungguh – sungguh.
Misalnya dengan mengamalkan prinsip belajar sepanjang hayat (long life
education). Selalu belajar dan tetap belajar agar ilmu pengetahuan yang kita miliki
semakin bertambah.

9
Dalam tingkat hidup grehastha seseorang akan memikul tanggung jawab
yang sangat penting yaitu membentuk anak menjadi suputra yaitu anak yang
berguna di masyarakat dan taat kepada catur guru. Untuk mendidik seorang anak
menjadi suputra tidak akan mudah, sehingga memerlukan persiapan yang matang.
Oleh karena itu dalam tingkat brahmacari seseorang harus berhasil dengan baik
sehingga bisa mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya.
Dalam mendidik dan membimbing anak semasa sebelum sekolah sering
dilakukan melalui agama. Perhatian orang tua dengan skala prioritas mendidik
anak-anak di rumah sejak kecil sampai dewasa. Semua ilmu yang dimiliki harus
diamalkan sebaik mungkin kepada anak – anak dalam keluarga sehingga benar –
benar sesuai dengan harapan untuk menjadi anak suputra. Dengan demikian kita
sebagai manusia yang memiliki jnana sudah seharusnya meningkatkannya dengan
belajar dan terus belajar, dimana dengan ilmu pengetahuan orang dapat
membedakan antara yang baik dan yang buruk. Ilmu yang dipelajari juga tidak
terarah pada ilmu tentang materi saja, tetapi juga ilmu spritual.
2.5.4 Implementasi dari Tri Hita Karana Dan Tanggung Jawab Terhadap Alam dan
Lingkungan.
Tri hita karana merupakan konsep atau ajaran yang mengutamakan
keharmonisan manusia dengan Tuhan dan segala sesuatu yang telah diciptakan-
Nya, sehingga pengimplementasian dari tri hita karana ini sangat erat kaitannya
dengan panca yadnya yaitu lima korban suci yang tulus ikhlas diantaranya dewa
yadnya, butha yadnya, manusa yadnya, pitra yadnya, rsi yadnya. Dengan
melakukan atau menjalankan panca yadnya dalam kehidupan sehari – hari maka
kita tentu telah mengimplementasikan konsep tri hita karana contohnya :
1. Hubungan antara Manusia dengan Tuhan (Parhyangan)
Hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan dapat
diwujudkan dengan menjalankan dewa yadnya, yaitu pemujaan serta
persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan Tuhan beserta manifestasinya.
Salah satu bentuk dari dewa yadnya yaitu odalan, melasanakan tirtha yatra, serta
menghaturkan banten atau sesajen. Sebagai manusia hindu yang memegang
teguh konsep tri hita karana sudah seharusnya suatu prosesi piodalan, tirtha
yatra dan menghaturkan banten atau sesajen hendaknya dilakukan dengan jalan
tulus ikhlas, maka akan terjalin hubungan yang harmonis. Dampak dari tidak
terjalinnya hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan adalah

10
manusia tidak akan merasa tenang dalam kehidupannya dan tidak akan pernah
bersyukur atas segala anugrah yang telah Tuhan berikan. Manusia akan
dikendalikan oleh “awidya” dan akan melakukan hal – hal yang bersifat negatif
atau berbuat yang jahat (Asubha Karma). Maka dari itu sudah semestinya
hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan selalu dijaga melalui rasa
syukur dan sujud bakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa sang pencipta alam
semesta dan beserta isinya dan sudah kewajiban kita pula menjaga titipan alam
semesta dan beserta lingkungan hidup yang indah dengan jalan beryadnya dan
melakukan kebaikan dan kebajikan.
2. Hubungan antara Manusia dengan Alam Lingkungan
Hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam ataupun
lingkungannyadapat di implementasikan dengan melakukan atau melaksanakan
salah satu bagian dari panca yadnya yaitu bhuta yadnya, dimana bhuta yadnya
adalah pemujaan serta persembahan suci tulus ikhlas yang ditunjukkan
kehadapan unsure – unsur alam.
Dimana dalam kehidupan manusia hindu hubungan harmonis antara
manusia dengan unsur – unsur alam atau alam lingkungan harus senantiasa
dijaga dengan baik, serta manusia dalam konteks manusia hindu bertanggung
jawab dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Dari zaman dahulu
leluhur kita sudah melakukan suatu prosesi yang erat kaitannya dalam menjaga
lingkungan atau dalam pelestarian lingkungan, seperti melakukan upacara
(ritual) setahun sekali seperti nyepi, sepuluh tahun sekali seperti
pancawalikrama dan upacara seratus tahun sekali atau ekadasa rudra yang
dilakukan di Besakih. Serta upacara seperti tumpek uye dan tumpek kandang
yang di peringati setiap 210 hari, upacara ini menunjukan rasa syukur kita
kepada Tuhan yang telah memberi kita kehidupan dari tumbuh – tumbuhan dan
hewan dengan suatu ritual atau upacara yang khusus ditujukan kepada
tumbuhan dan hewan.
Selain itu hubungan manusia dengan lingkungan secara umum dapat
dilihat dari bagaimana manusia tersebut melestarikan lingkungan dengan cara
tidak membuang sampah sembarangan, tidak melakukan pemberantasan lahan,
dan tidak melakukan eksploitasi terhadap flora dan fauna. Dalam hal ini peran
masyarakat sangat penting untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan

11
lingkungan, serta senantiasa berkewajiban melindungi dan menjaga kelestarian
lingkungan itu sendiri.
3. Hubungan antara Manusia dengan Manusia
Hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama harus terjaga
dengan baik dan dapat diimplementasikan dengan menerapkan manusa yadnya,
pitra yadnya dan rsi yadnya. Ketiga bagian dari panca yadnya ini merupakan
suatu bagian yang penting dalam menjaga hubungan yang harmonis antara
sesama manusia. Contohnya seperti prosesi pawiwahan, mapandes (manusa
yadnya), pelebon (pitra yadnya), dan upacara rsi yadnya.
Kaitannya dalam tanggung jawab terhadap alam dan lingkungan dapat
dilihat dari keharmonisan antar sesama manusia yang akan membawa dampak
yang baik pula pada kelestarian lingkungan, saling menghormati, menghargai,
menjaga dan mengingatkan satu sama lain merupakan beberapa contoh yang
dapat diambil untuk terjalinnya hubungan yang harmonis antar sesama manusia.
Jika tidak terjalinnya hubungan yang harmonis antara sesama manusia tentu saja
hal ini berdampak pada kelestarian lingkungan seperti terjadinya peperangan,
bentrok, tawuran dan lain sebagainya, selain membawa dampak yang buruk
pada diri, lingkungan pun menjadi tidak nyaman atau mengalami kerusakan.
Seperti contohnya peristiwa Bom Bali 1 dan Bom Bali 2 yang dilakukan oleh
sekelompok teroris.

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Berdasarkan uraian pembahasan di atas maka dapat disimpulkan beberapa hal
sebagai berikut.
1. Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni merupakan kesatuan yang saling menjalin
untuk mewujudkan sesuatu yang indah.
2. Sraddha adalah keyakinan atau kepercayaan. Jnana adalah ilmu pengetahuan.
Sedangkan karma adalah perbuatan, dan Yadnya adalah persembahan atau korban
suci yang tulus ikhlas.
3. Semasa Brahmacari, maka kita harus melaksanakan kewajiban untuk menuntut ilmu
serta mengamalkannya demi kesejahteraan manusia serta berdasarkan ajaran agama,
khususnya agama Hindu.
4. Tri Hita Karana merupakan salah satu ajaran agama Hindu yang dalam konteks
pencapaiannya bersumber pada keharmonisan setiap hubungan dengan Tuhan dan
antar semua ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
5. Implementasi konsep ilmu pengetahuan, teknologi dan seni,sraddha, jnana, dan karma
sebagai kesatuan dalam yadnya, kewajiban menuntut ilmu dan mengamalkan
ilmu,serta konsep Tri Hita Karana dan tanggung jawab terhadap alam dan lingkungan
adalah dengan memperingati Hari Raya Saraswati, membaca buku keagamaan, belajar
sepanjang hayat, dan melaksanakan Panca Yadnya.
3.2 Saran
Kepada para pembaca disarankan untuk dapat memahami dengan benar ajaran
agama, sebagai pedoman di dalam menggunakan serta mengamalkan ilmu pengetahuan
dan teknologi, sehingga apa yang diamalkan maupun digunakan tidak menyimpang dari
kaidah-kaidah serta kodrat kita sebagai manusia. Dengan memahami ajaran agama, maka
ilmu pengetahuan dapat diamalkan secara tulus ikhlas untuk kebahagiaan umat manusia
serta bertanggung jawa baik kepada Tuhan, manusia, maupun alam.

13
DAFTAR PUSTAKA

Darmayasa. 2013. Bhagavadgitha ( Nyanyian Tuhan). Denpasar: Yayasan Dharma


Sthantanam.

Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Gramedia Pustaka Indonesia.

Menaka, I M. 1985. Sarasamuscaya. Singaraja: Indra Jaya.

Santyasa, I W. 2015. Pendidikan Agama Hindu. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.

Winawan, W. 2002. Materi Substansi Kajian Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian


Pendidikan Agama Hindu. Jakarta: Ditjen Dikti Depdiknas

14
DOA PENUTUP

“Om Ano Bhadrah Krattawoyantu Wiswatah


Om Dewa Suksma Parama Acintya Ya Namah Swaha, Sarwa Karya Prasidhantam”

Ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala arah


Ya Tuhan dalam wujud Parama Acintya yang Maha Gaib dan Maha Karya, hanya atas
anugrah-Mu lah maka pekerjaan ini berhasil dengan baik

“OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM”

15