Você está na página 1de 9

A.

SIFAT ALKANA, ALKENA, ALKUNA


1. Alkana (Parafin) - CnH2n+2
Adalah hidrokarbon yang rantai C nya hanya terdiri dari ikatan kovalen tunggal
saja. sering disebut sebagai hidrokarbon jenuh, karena jumlah atom Hidrogen dalam tiap-
tiap molekulnya maksimal. Memahami tata nama Alkana sangat vital, karena menjadi
dasar penamaan senyawa-senyawa karbon lainnya.
·
Sifat-sifat Umum Alkana
1. Hidrokarbon jenuh (tidak ada ikatan atom C rangkap sehingga jumlah atom H nya
maksimal)
2. Disebut golongan parafin karena affinitas kecil (sedikit gaya gabung)
3. Sukar bereaksi
4. Bentuk Alkana dengan rantai C1 – C4 pada suhu kamar adalah gas, C4 – C17 pada
suhu adalah cair dan > C18 pada suhu kamar adalah padat
5. Titik didih makin tinggi bila unsur C nya bertambah…dan bila jumlah atom C sama
maka yang bercabang mempunyai titik didih yang lebih rendah
6. Sifat kelarutan : mudah larut dalam pelarut non polar
7. Massa jenisnya naik seiring dengan penambahan jumlah unsur C
8. Merupakan sumber utama gas alam dan petrolium (minyak bumi)
·
Deret homolog alkana
Deret homolog adalah suatu golongan/kelompok senyawa karbon dengan rumus
umum yang sama, mempunyai sifat yang mirip dan antar suku-suku berturutannya
mempunyai beda CH2 atau dengan kata lain merupakan rantai terbuka tanpa cabang atau
dengan cabang yang nomor cabangnya sama.
Sifat-sifat deret homolog alkana :
o Mempunyai sifat kimia yang mirip
o Mempunyai rumus umum yang sama
o Perbedaan Mr antara 2 suku berturutannya sebesar 14
o Makin panjang rantai karbon, makin tinggi titik didihnya

Sifat kimia Alkana


Alkana merupakan senyawa nonpolar yang tidak bereaksi dengan sebagian besar
pereaksi. Hal ini disebabkan alkana memiliki ikatan sigma yang kuat antar atom karbon.
Pada kondisi tertentu alkana dapat bereaksi dengan oksigen dan unsur-unsur halogen.
Apabila jumlah oksigen tersedia cukup memadai alkana akan teroksidasi sempurna
menjadi karbon dioksida dan uap air serta pelepasan sejumlah energi panas. Apabila
jumlah oksigen yang tersedia tidak mencukupi, hasil reaksi yang diperoleh berupa
karbon monooksida dan uap air.
Alkana dapat bereaksi dengan halogen dikatalisis oleh panas atau sinar
ultraviolet. Dari reaksi tersebut terjadi pergantian 1 atom H dari alkana terkait. Namun
apabila halogen yang tersedia cukup memadai atau berlebih, maka terjadi pergantian
lebih dari satu atom bahkan semua atom H digantikan oleh halogen. Berdasarkan
penelitian laju pergantian atom H sebagai berikut H3 > H2 > H1. Reaksi pergantian atom
dalam suatu senyawa disebut reaksi substitusi

2. Alkena (Olefin) – CnH2n


merupakan senyawa hidrokarbon tak jenuh yang memiliki 1 ikatan rangkap 2 (-C=C-)

Sifat-Sifat Alkena
Sifat-sifat Umum Alkena
· Hidrokarbon tak jenuh ikatan rangkap dua
· Alkena disebut juga olefin (pembentuk minyak)
· Sifat fisiologis lebih aktif (sbg obat tidur –> 2-metil-2-butena)
· Sifat sama dengan Alkana, tapi lebih reaktif
· Sifat-sifat : gas tak berwarna, dapat dibakar, bau yang khas, eksplosif dalam udara
(pada konsentrasi 3 – 34 %)
· Terdapat dalam gas batu bara biasa pada proses “cracking”
Sifat Fisika
Alkena merupakan senyawa nonpolar sehingga tidak larut dalam air dan
memiliki massa jenis lebih kecil dari air. Alkena dapat larut dalam alkena lain, pelarut-
pelarut nonpolar dan etanol. Pada temperatur kamar alkena yang memiliki dua, tiga dan
empat atom karbon berwujud gas. Sedangkan Alkena dengan dengan berat molekul
lebih tinggi dapat berupa cair dan padatan pada suhu kamar.
Sifat kimia
Ikatan rangkap yang dimiliki alkena merupakan ciri khas dari alkena yang disebut
gugus fungsi. Reaksi terjadi pada alkena dapat terjadi pada ikatan rangkap dapat pula
terjadi diluar ikatan rangkap. Reaksi yang terjadi pada ikatan rangkap disebut reaksi adisi
yang ditandai dengan putusnya ikatan rangkap (ikatan π) membentuk ikatan tunggal
(ikatan α) dengan atom atau gugus tertentu.
Selain sifat-sifat tersebut dapat mengalami reaksi polimerisasi dan alkena juga dapat
bereaksi dengan oksigen membentuk korbondioksida dan uap air apabila jumlah oksigen
melimpah, apabila jumlah oksigen tidak mencukupi maka terbentuk karbonmonooksida
dan uap air.

3. Alkuna
merupakan senyawa hidrokarbon tak jenuh yang memiliki 1 ikatan rangkap 3 (–
C≡C–). Sifat-nya sama dengan Alkena namun lebih reaktif.
Rumus umumnya CnH2n-2
Tata namanya juga sama dengan Alkena, namun akhiran -ena diganti –una
Sifat Fisika Alkuna
merupakan senyawa hidrokarbon tak jenuh yang memiliki 1 ikatan rangkap
3 (–C≡C–). Sifat-nya sama dengan Alkena namun lebih reaktif.
· Alkuna-alkuna suku rendah pada suhu kamar berwujud gas, sedangkan yang
mengandung lima atau lebih atom karbon berwujud gas.
· Memiliki massa jenis lebih kecil dari air.
· Tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut-pelarut organik yang non polar
seperti eter, benzena, dan karbon tetraklorida.
· Titik didih alkuna makin tinggi seiring bertambahnya jumlah atom karbon, tetapi
makin rendah apabila terdapat rantai samping atau makin banyak percabangan.
Titik didih alkuna sedikit lebih tinggi dari alkana dan alkuna yang berat
molekulnya hampir sama.
Sifat kimia
· Adanya ikatan rangkap tiga yang dimiliki alkuna memungkinkan terjadinya reaksi
adisi, polimerisasi, substitusi dan pembakaran.

B. KEGUNAAN ALKANA, ALKENA, ALKUNA

a. Kegunaan Alkana
Secara umum, alkana berguna sebagai bahan bakar dan bahan baku dalam
industri petrokimia.

1. Metana; berguna sebagai bahan bakar untuk memasak, dan bahan baku pembuatanzat
kimia seperti H2 dan NH3.
2. Etana; berguna sebagai bahan bakar untuk memasak dan sebagai refrigerant dalam
sistem pendinginan dua tahap untuk suhu rendah.
3. Propana; merupakan komponen utama gas elpiji untuk memasak dan bahan baku
senyawa organik.
4. Butana; berguna sebagai bahan bakar kendaraan dan bahan baku karet sintesis.
5. Oktana; merupakan komponen utama bahan bakar kendaraan bermotor, yaitu bensin.
b. Kegunaan Alkena

1. Etena; digunakan sebagai bahan baku pembuatan plastik polietena (PE).


2. Propena, digunakan untuk membuat plastik Beberapa kegunaan monomer dan
polimer, yaitu polimer untuk membuat serat sintesis dan peralatan memasak.

Kursi yang berbahan baku plastik polipropilena (PP)

c. Kegunaan Alkuna

Etuna (asetilena) yang sehari-hari dikenal sebagai gas karbit dihasilkan dari batu
karbit yang direaksikan dengan air:

CaC2 + 2H2O → Ca(OH)2 + C2H2

Gas karbit jika dibakar akan menghasilkan suhu yang tinggi, sehingga dapat
digunakan untuk mengelas dan memotong logam. Gas karbit sering pun digunakan untuk
mempercepat pematangan buah.

C. MINYAK BUMI

Minyak Bumi merupakan bahan bakar yang dihasilkan oleh alam dari fosil-fosil
yang terpendam berjuta-juta tahun. Fosil adalah sisa tulang-belulang binatang atau sisa
tumbuhan zaman purba yang telah membatu dan tertanam di bawah lapisan tanah.
Minyak mentah (petroleum) adalah campuran yang kompleks, terutama terdiri dari
hidrokarbon bersama-sama dengan sejumlah kecil komponen yang mengandung sulfur,
oksigen, dan nitrogen dan sangat sedikit komponen yang mengandung logam.

Struktur hidrokarbon yang ditemukan dalam minyak mentah adalah alkana


(parafin), sikloalkana (napten), dan aromatik. Proporsi dari ketiga tipe hidrokarbon
sangat tergantung pada sumber minyak bumi.Pada umumnya alkana merupakan
hidrokarbon yang terbanyak tetapi kadang-kadang mengandung sikloalkana sebagai
komponen yang terbesar, sedangkan aromatik selalu merupakan komponen yang paling
sedikit. Untuk memisahkan fraksi-fraksi dalam minyak bumi dapat dilakukan dengan
cara distilasi bertingkat. Setelah melalui distilasi bertingkat minyak bumi akan terpisah
menjadi gas, bensin, kerosin, solar dan lain-lain. Hasil distilasi tersebut digunakan untuk
menggerakan berbagai mesin, seperti: mobil, pesawat, mesin diesel dan lain-lain, untuk
keperluan industri, aspal dan sebagainya.

1. Proses Pembentukan Minyak Bumi

1. Tahap Pertama

Ganggang hijau merupakan salah satu tumbuhan yang dapat melakukan


fotosintesis di dalam air. Maka dari itu proses pertama adalah menunggu
ganggang hijau tidak melakukan proses fotosintesis lagi. Dimana apabila
ganggang sudah tidak bisa melakukan fotosintesis maka perlahan akan mati dan
akan membentuk batuan induk.
2. Tahap Kedua

Proses terbentuknya batuan induk ini berasal dari ganggang yang telah
mati. Ganggang yang telah mati tersebut akan mengendap di dasar laut yang
kemudian akan membentuk batuan induk. Batuan induk yang terbentuk adalah
batuan yang mengandung karbon. Jenis batuan ini dapat dihasilkan dari hasil
pengendapan di danau, dasar laut ataupun delta.

Pembentukan karbon yang berasal dari ganggang menjadi batuan induk


prosesnya sangat spesifik. Maka dari itu tidak semua lengkungan sedimen
mengandung minyak bumi. Apabila karbon ini teroksidasi maka akan terurai dan
bahkan bisa menjadi rantai karbon yang tidak akan dapat diproses lagi. ( baca
: Macam-macam Laut )

3. Tahap Ketiga

Proses ketiga adalah pengendapan batuan induk. Dimana batuan induk


nantinya akan terkubur di bawah batuan lain yang berada di laut selama jutaan
tahun lamanya. Proses pengendapan ini akan berlangsung secara terus menerus.
Salah satu batuan yang menimbun batuan induk adalah batuan sarang.

Batuan sarang merupakan batu gamping, batu pasir atau bahkan batuan
vulkanik yang tertimbun dan memiliki ruang pori-pori di dalamnya. Apabila
daerah dasar laut semakin tenggelam dan ditumpuk oleh jenis-jenis batuan lain
yang berada diatasnya maka batuan yang mengandung karbon akan menjadi
panas. Semakin dalam batuan karbon tersebut tenggelam maka suhunya akan
meningkat. Jika suhu terus meningkat hingga 100 derajat Celcius maka batuan
karbon tersebut akan terurai menjadi gas.

4. Tahap Terakhir

Tahap terakhir adalah tahap perubahan karbon yang bereaksi dengan


hidrogen dan kemudian membentuk hidrokarbon. Hasil dari perubahan inilah
yang kemudian menghasilkan minyak mentah. Meskipun bentuknya berupa
cairan, akan tetapi fisik minyak bumi mentah jelas berbeda dengan air, salah
satunya adalah dari berat jenis dan kekentalannya.

Dimana kekentalan minyak bumi mentah lebih tinggi dari air, akan tetapi
berat jenis minyak bumi mentah lebih rendah dari air. Minyak bumi yang
memiliki berat jenis lebih rendah dari air cenderung akan beranjak ke atas.
Apabila minyak tertahan pada batuan yang berbentuk menyerupai mangkok
terbalik maka minyak ini akan siap ditambang.

2. Fraksi Minyak Bumi dan Manfaat Minyak Bumi

Berikut adalah daftar kegunaan dari fraksi-fraksi yang dihasilkan dari proses
pengolahan minyak bumi:

1. Gas Bumi

Gas merupakan campuran dari senyawa hidrokarbon dengan atom C1 –


C4 yang dihasilkan dari proses pemanasan minyak bumi dibawah suhu 20 derajat
celcius. Kegunaan dari gas yaitu sebagai bahan bakar yang dikenal dengan LNG
dan LPG, selain itu gas juga dimanfaatkan sebagai sumber hidrogen dan bahan
baku sintetis senyawa organik.

2. Bensin

Fraksi minyak bumi yang sangat populer adalah bensin, Bensin atau
gasoline merupakan campuran dari senyawa hidrokarbon dengan atom C5 – C10
yang dihasilkan dari proses pemanasan minyak bumi diantara suhu 40 hingga 180
derajat celcius. Fraksi ini dimanfaatkan sebagai bahan bakar motor, mobil, dan
kendaraan bermotor lainnya.

3. Nafta

Nafta atau ligrolin merupakan campuran senyawa hidrokarbon dengan


atom C6 – C10 yang dihasilkan dari proses pemanasan minyak bumi diantara
suhu 70 hingga 180 derajat celcius. Fraksi ini dimanfaatkan sebagai sintetis
senyawa oragnik seperti cat, plastik, kosmetik, karet sintetis, detergen, obat, dan
bahan pakaian.

4. Kerosin

Kerosin merupakan campuran senyawa hidrokarbon dengan atom C11 –


C14 yang dihasilkan dari proses pemanasan minyak bumi diantara suhu 180
hingga 250 derajat celcius. Inilah salah satu komponen minyak mentah yang
banyak dimanfaatkan untuk kehidupan manusia. Kerosin ini banyak
dimanfaatkan sebagai bahan bakar pesawat, bahan bakar kompor, dan insektisida.

5. Minyak solar dan diesel

Minyak solar dan diesel merupakan campuran senyawa hidrokarbon


dengan atom C15 – C17 yang dihasilkan dari proses pemanasan minyak bumi
diantara suhu 250 hingga 300 derajat celcius. Fraksi ini banyak dimanfaatkan
sebagai bahan bakar industry dan mesin diesel.

6. Minyak pelumas

Minyak pelumas merupakan campuran senyawa hidrokarbon dengan atom


C18 – C20 yang dihasilkan dari proses pemanasan minyak bumi diantara suhu
300 hingga 350 derajat celcius. Minyak pelumas ini banyak dimanfaatkan sebagai
bahan pelumas pada mesin untuk melindungi komponen logam dari gesekan.

7. Lilin

Lilin merupakan campuran senyawa hidrokarbon dengan atom berjumlah


lebih dari 20 yang dihasilkan dari proses pemanasan dalam pengolahan minyak bumi
diatas suhu 350 derajat celcius. Fraksi ini banyak dimanfaatkan sebagai korek api,
lilin, lilin batik, semir sepatu, dan kertas pembungkus yang memiliki lapisan lilin
sehingga tidak lengket pada makanan.

8. Minyak bakar

Minyak bakar merupakan campuran senyawa hidrokarbon dengan jumlah


atom lebih dari 20 yang dihasilkan dari proses pemanasan minyak bumi diatas
suhu 350 derajat celcius. Minyak bakar ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan
bakar kapal, industry pemanas, dan pembangkit listrik.

9. Bitumen

Bitumen adalah salah satu hasil proses destilasi minyak bumi yang
merupakan campuran senyawa hidrokarbon dengan jumlah atom lebih dari 40
yang dihasilkan dari proses pemanasan minyak bumi diatas suhu 350 derajat
celcius. Fraksi ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan aspal, isolasi
listrik, dan bahan pengedap suara di lantai.

Berikut tabel ini fraksi hidrokarbon dari minyak bumi dan manfaat minyak bumi untuk setiap
fraksinya.

Fraksi Minyak
Jumlah atom C Titik didih (oC) Manfaat Minyak Bumi
Bumi
Bahan bakar gas (LPG) dan bahan baku
Gas C1-C4 < 20
sintesis senyawa organic
Eter petroleum C5-C7 30 – 90 Pelarut dan cairan pembersih
Bensin (Gasolin) C5-C10 40 – 180 Bahan bakar kendaraan bermotor
Nafta C6-C10 70 – 180 Bahan baku sintesis senyawa organic
Bahan bakar jet dan bahan bakar kompor
Kerosin C11-C14 180 – 250
paraffin
Minyak solar dan Bahan bakar kendaraan bermesin diesel
C15-C17 250 – 300
diesel dan bahan bakar tungku di industry
Minyak pelumas C18-C20 300 – 350 Oil dan pelumas
Petroleum jelly dan lilin paraffin untuk
Lilin C20+ > 350 membuat lilin, kertas berlapis lilin, lilin
batik, dan bahan pengkilan seperti semir
Bahan bakar kapal, pemanas industri
Minyak bakar C20+ > 350
(boiler plant), dan pembangkit listrik
Bitumen C40+ > 350 Material aspal jalan dan atap bangunan

3. Klasifikasi Minyak Bumi

Klasifikasi Minyak Bumi :

 Klasifikasi berdasarkan SG 60/60 oF

 Klasifikasi berdasarkan sifat penguapan

 Klasifikasi berdasarkan kadar belerang

 Klasifikasi menurut US Bureau of Mines (Lane & Garton)


 Klasifikasi berdasarkan Faktor Karakteristik (Nelson, Wtason dan Murphy)

 Klasifikasi berdasarkan Indeks Korelasi (CI) (Nelson)

 Klasifikasi berdasarkan Viscosity Gravity Constant (VGC) (Nelson)

4. Dampak Penggunaan Minyak Bumi

Jumlah penduduk dunia terus meningkat setiap tahunnya, sehingga peningkatan


kebutuhan energi pun tak dapat dielakkan. Dewasa ini, hampir semua kebutuhan energi
manusia diperoleh dari konversi sumber energi fosil, misalnya pembangkitan listrik dan
alat transportasi yang menggunakan energi fosil sebagai sumber energinya. Secara
langsung atau tidak langsung hal ini mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan
dan kesehatan makhluk hidup karena sisa pembakaran energi fosil ini menghasilkan zat-
zat pencemar yang berbahaya.Pencemaran udara terutama di kota-kota besar telah
menyebabkan turunnya kualitas udara sehingga mengganggu kenyamanan lingkungan
bahkan telah menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan. Menurunnya kualitas udara
tersebut terutama disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil yang tidak terkendali
dan tidak efisien pada sarana transportasi dan industri yang umumnya terpusat di kota-
kota besar, disamping kegiatan rumah tangga dan kebakaran hutan. Hasil penelitian
dibeberapa kota besar (Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya) menunjukan bahwa
kendaraan bermotor merupakan sumber utama pencemaran udara. Hasil penelitian di
Jakarta menunjukan bahwa kendaraan bermotor memberikan kontribusi pencemaran CO
sebesar 98,80%, NOx sebesar 73,40% dan HC sebesar 88,90% (Bapedal, 1992).

Secara umum, kegiatan eksploitasi dan pemakaian sumber energi dari alam untuk
memenuhi kebutuhan manusia akan selalu menimbulkan dampak negatif terhadap
lingkungan (misalnya udara dan iklim, air dan tanah). Berikut ini disajikan beberapa
dampak negatif penggunaan energi fosil terhadap manusia dan lingkungan:

Dampak Terhadap Udara dan Iklim

Selain menghasilkan energi, pembakaran sumber energi fosil (misalnya: minyak


bumi, batu bara) juga melepaskan gas-gas, antara lain karbon dioksida (CO2), nitrogen
oksida (NOx),dan sulfur dioksida (SO2) yang menyebabkan pencemaran udara (hujan
asam, smog dan pemanasan global).

Emisi NOx (Nitrogen oksida) adalah pelepasan gas NOx ke udara. Di udara,
setengah dari konsentrasi NOx berasal dari kegiatan manusia (misalnya pembakaran
bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik dan transportasi), dan sisanya berasal dari
proses alami (misalnya kegiatan mikroorganisme yang mengurai zat organik). Di udara,
sebagian NOx tersebut berubah menjadi asam nitrat (HNO3) yang dapat menyebabkan
terjadinya hujan asam.

Emisi SO2 (Sulfur dioksida) adalah pelepasan gas SO2 ke udara yang berasal
dari pembakaran bahan bakar fosil dan peleburan logam. Seperti kadar NOx di udara,
setengah dari konsentrasi SO2 juga berasal dari kegiatan manusia. Gas SO2 yang
teremisi ke udara dapat membentuk asam sulfat (H2SO4) yang menyebabkan terjadinya
hujan asam.

Emisi gas NOx dan SO2 ke udara dapat bereaksi dengan uap air di awan dan
membentuk asam nitrat (HNO3) dan asam sulfat (H2SO4) yang merupakan asam kuat.
Jika dari awan tersebut turun hujan, air hujan tersebut bersifat asam (pH-nya lebih kecil
dari 5,6 yang merupakan pH “hujan normal”), yang dikenal sebagai “hujan asam”. Hujan
asam menyebabkan tanah dan perairan (danau dan sungai) menjadi asam. Untuk
pertanian dan hutan, dengan asamnya tanah akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman
produksi. Untuk perairan, hujan asam akan menyebabkan terganggunya makhluk hidup
di dalamnya. Selain itu hujan asam secara langsung menyebabkan rusaknya bangunan
(karat, lapuk).

Smog merupakan pencemaran udara yang disebabkan oleh tingginya kadar gas
NOx, SO2, O3 di udara yang dilepaskan, antara lain oleh kendaraan bermotor, dan
kegiatan industri. Smog dapat menimbulkan batuk-batuk dan tentunya dapat
menghalangi jangkauan mata dalam memandang.

Emisi CO2 adalah pemancaran atau pelepasan gas karbon dioksida (CO2) ke
udara. Emisi CO2 tersebut menyebabkan kadar gas rumah kaca di atmosfer meningkat,
sehingga terjadi peningkatan efek rumah kaca dan pemanasan global. CO2 tersebut
menyerap sinar matahari (radiasi inframerah) yang dipantulkan oleh bumi sehingga suhu
atmosfer menjadi naik. Hal tersebut dapat mengakibatkan perubahan iklim dan kenaikan
permukaan air laut.

Emisi CH4 (metana) adalah pelepasan gas CH4 ke udara yang berasal, antara
lain, dari gas bumi yang tidak dibakar, karena unsur utama dari gas bumi adalah gas
metana. Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang menyebabkan pemasanan
global.

Batu bara selain menghasilkan pencemaran (SO2) yang paling tinggi, juga
menghasilkan karbon dioksida terbanyak per satuan energi. Membakar 1 ton batu bara
menghasilkan sekitar 2,5 ton karbon dioksida. Untuk mendapatkan jumlah energi yang
sama, jumlah karbon dioksida yang dilepas oleh minyak akan mencapai 2 ton sedangkan
dari gas bumi hanya 1,5 ton

Dampak Terhadap Perairan

Eksploitasi minyak bumi, khususnya cara penampungan dan pengangkutan


minyak bumi yang tidak layak, misalnya: bocornya tangker minyak atau kecelakaan lain
akan mengakibatkan tumpahnya minyak (ke laut, sungai atau air tanah) dapat
menyebabkan pencemaran perairan. Pada dasarnya pencemaran tersebut disebabkan oleh
kesalahan manusia.

Dampak Terhadap Tanah

Dampak penggunaan energi terhadap tanah dapat diketahui, misalnya dari


pertambangan batu bara. Masalah yang berkaitan dengan lapisan tanah muncul terutama
dalam pertambangan terbuka (Open Pit Mining). Pertambangan ini memerlukan lahan
yang sangat luas. Perlu diketahui bahwa lapisan batu bara terdapat di tanah yang subur,
sehingga bila tanah tersebut digunakan untuk pertambangan batu bara maka lahan
tersebut tidak dapat dimanfaatkan untuk pertanian atau hutan selama waktu tertentu.