Você está na página 1de 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Setiap mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan kehidupannya,


karena didalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan kegiatan
metabolismenya. apabiala seseorang berhasil mencapai usia lanjut, maka salah satu upaya utama
adalah mempertahankan atau membawa status gizi yang bersangkutan pada kondisi optimum
agar kualitas hidupan yang bersangkutan tetap baik. Perubahan status gizi pada lansia disebabkan
perubahan lingkungan maupun kondisi kesehatan.

Perubahan ini akan makin nyata pada kurun usia dekade 70-an. Faktor lingkunagn antara
lain meliputi perubahan kondisi sosial ekonomi yang terjadi akibat memasuki masa pensiun dan
isolasi sosial berupa hidup sendiri setelah pasangannya meninggal. Faktor kesehatan yang
berperan dalan perubahan status gizi antara lain adalah naiknya insidensi penyakit degenerasi
maupun non-degenerasi yang berakibat dengan perubahan dalam asupan makanan, perubahan
dalam absorpsi dan utilisasi zat-zat gizi di tingkat jaringan, dan beberapa kasusu dapat
disebabkan oleh obat-obat tertentu yang harus diminim para lansia oleh karena penyakit yang
sedang dideritanya.

Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik dapat membantu dalam
proses beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dialaminya selain
itu dapat menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia.
Kebutuhan kalori pada lansia berkurang karena berkurangnya kalori dasar dari kebutuhan fisik.
Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk malakukan kegiatan tubuh dalam keadaan
istirahat, misalnya untuk jantung, usus, pernafasan dan ginjal.

1
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimanakah Peran Nutrisi Pada Lansia ?
1.2.2 Bagaimanakah Proses Menua Berhubungan Dengan Gizi Lansia ?
1.2.3 Apa Saja Kebutuhan Gizi Pada Lansia ?
1.2.4 Apa Saja Factor Yang Terkait Pada Kebutuhan Gizi Lansia ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui Peran Nutrisi Pada Lansia
1.3.2 Mengetahui Proses Menua Terhadap Gizi Pada Lansia
1.3.3 Mengetahui Kebutuhan Gizi Pada Lansia
1.3.4 Mengetahui Factor – Factor Yang Terkait Pada Kebutuhan Gizi Lansia

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. PERAN NUTRISI PADA LANSIA

Nutrisi yang di butuhkan pasien lansia adalah nutrisi yang mengandung antioksidan (beta
karoten, vitamin C dan vitamin E) dan nutrisi yang merangsang regenerasi sel yang cepat.
Contoh nutrisi yang kaya antioksidan adalah spirulina yang oleh peneliti internasional
mengandung super antioksidan selain itu mengandung vitamin dan mineral yang lengkap.
Spirulina dikenal sebagai sumber vitamin dan mineral yang sangat lengkap di dunia selain itu
kandungan antioksidannya paling tinggi di antara makanan – makanan yanglain. Karena itu
spirulina banyak digunakan untuk mengatasi gizi buruk dan kelaparan di Negara – Negara afrika.
Untuk mengatasi masalah ini nutrisi yang dapat merangsang proses regenerasi yang cepat sangat
diperlukan, contohnya adalah teripang atau gamat teripang tinggi mengandung kolagen dan
proteinserta cell growth factor. Kolagen, Protein dan cell growth factor merupakantiga
komponen penting yang dibutuhkan untuk merangsang proses regenerasisel – sel yang rusak atau
mati.Peran nutrisi sangat penting untuk pasien lansia yang terkena penyakit degeneratif, sebab
yang menimpa mereka karena proses ketuaan di mana kemampuan tubuh untuk melakukan
regenerasi sel mulai menurun disebabkan karena hormon pertumbuhan yang mulai menurun
seiring bertambahnya usia.

Peran nutrisi adalah memenuhi kebutuhan gizi tubuh untuk menjalankan metabolisme,
melawan radikal – radikal bebas dan merangsang proses regenerasi sel – sel baru untuk
memperbaiki fungsi organ.Nutrisi dapat memperbaiki kualitas hidup pasien dengan dosis obat
yang berkurang, menghambat perjalanan penyakit, memperbaiki metabolisme dan sistem
hormon, mempercepat proses penyembuhan dari dalam tubuh itusendiri. Hal itu telah di alami
oleh ayah saya yang menderita hipertensi (tekanan darah tinggi) dan rematik. Nutrisi yang ade
kuat merupakan suatu komponen esensial pada kesehatan lansia. Status nutrisi seseorang akan
berpengaruh terhadap setiap system tubuh. Bimbingan yang membahas secara langsung tentang
kebutuhan nutrisi pada lansia masih sedikit. Pada sebagian lansia, ketiadaan bimbingan ini terjadi
karena lansia lebih heterogen daripada orang muda dan kurang mampu dalam menghitung
kebutuhan nutrisi mereka melalui nomogram. Kekurangakuratan dan kemudahan untuk

3
memahami informasi dalam membimbing lansia dan para praktisi telah mengarahkan
penggunaan statistic apa adanya yang berkaitan dengan status nutrisi lansia.Secara fisiologis,
kebutuhan energi lebih dikaitkan dengan tingkat aktivitasfisik daripada usia
kronologis.Kebutuhan asupan kalori sehari – hari yangdisarankan (Recommended Daily
Allowance [RDA]) pada lansia yang berusia 65 sampai 75 tahun 2300 kkal. RDA untuk lansia di
atas usia 75 tahun

diturunkan menjadi 2050 Kkal, konsumsi kalori dari karbohidrat kompleks yang diharuskan
sebanyak 55 sampai 65% dan kurang dari 30% lemak, sertaporsi sisanya adalah protein. Faktor –
faktor fisiologis lainnya yang dikaitkan dengan kebutuhan nutrisiyang unik pada lansia adalah
menurunnya sensitivitas olfaktorius, perubahan persepsi rasa dan peningkatan kolesistokinin
yang dapat memengaruhi keinginan untuk makan dan peningkatan rasa kenyang. Proses penuaan
itu sendiri sebenarnya tidak mengganggu proses penyerapan vitamin pada berbagai tingkatan
yang luas. Namun, laporan-laporan terakhir mengindikasikan bahwa lansia mengalami defisiensi
vitamin B12, vitamin Ddan asam folat. Perubahan-perubahan dan kebutuhan mineral meliputi
rendahnya kebutuhan akan zat besi pada wanita lansia daripada wanita usiaproduktif. Asupan
kalsium sebagai salah satu mineral esensial lainnya bagi lansia sekitar 600 mg per hari untuk
wanita. Hal ini hanya menggambarkan 30%sampai 40% dari tingkat kebutuhan yang disarankan.

2.2 PROSES MENUA


Proses menua dapat terlihat secara fisik dengan perubahan yang terjadi padatubuh dan berbagai
organ serta penurunan fungsi tubuh serta organ tersebut.Perubahan secara biologis ini dapat
mempengaruhi status gizi pada masa tua, antara lain :
a. Massa otot yang berkurang dan massa lemak yang bertambah, mengakibatkan juga
jumlah cairan tubuh yang berkurang, sehingga kulit kelihatan mengerut dan kering, wajah
keriput serta muncul garis-garismenetap. Oleh karena itu, pada lansia seringkali terlihat
kurus.
b. Penurunan indera penglihatan akibat katarak pada lansia sehingga dihubungkan dengan
kekurangan vitamin A, vitamin C dan asam folat. Sedangkan gangguan pada indera
pengecap dihubungkan dengan kekurangan kadar Zn yang juga menyebabkan

4
menurunnya nafsu makan. penurunan indera pendengaran terjadi karena adanya
kemunduran fungsi selsyaraf pendengaran.
c. Dengan banyaknya gigi yang sudah tanggal, mengakibatkan gangguan fungsi mengunyah
yang dapat berdampak pada kurangnya asupan gizi pada usia lanjut.
d. Penurunan mobilitas usus, menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti perut
kembung, nyeri yang menurunkan nafsu makan, serta susah BAB yang dapat
menyebabkan wasir.
e. Kemampuan motorik menurun, selain menyebabkan menjadi lamban, kurang aktif dan
kesulitan menyuap makanan, juga dapat mengganggu aktivitas kegiatan sehari-hari.
f. Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi sel otak, yang menyebabkan penurunan daya
ingat jangka pendek, melambatnya proses informasi, kesulitan berbahasa, kesulitan
mengenal benda-benda, kegagalan melakukan aktivitas yang mempunyai tujuan
(apraksia) dan gangguan dalam menyususn rencana, mengatur sesuatu, mengurutkan,
daya abstraksi, yang dapat mengakibatkan kesulitan dalam emlakukan aktivitas sehari-
hari yang disebut dimensia atau pikun. Gejala pertama adalah pelupa, perubahan
kepribadian, penurunan kemampuan untuk pekerjaan sehari-hari dan perilaku yang
berulang-ulang, dapat juga disertai delusi paranoid atau perilaku anti sosial lainnya.a
g. Akibat proses menua, kapasitas ginjal untuk mengeluarkan air dalam jumlah besar juga
bekurang. Akibatnya dapat terjadi pengenceran natrium sampai dapat terjadi
hiponatremia yang menimbulkan rasa lelah.
h. Incontinentia urine (IU) adalah pengeluaran urin diluar kesadaran merupakan salah satu
masalah kesehatan yang besar yang sering diabaikan pada kelompok usia lanjut,sehingga
usia lanjut yang mengalami IU seringkali mengurangi minum yang dapat menyebabkan
dehidrasi.
i. Secara psikologis pada usia lanjut juga terjadi ketidakmampuan untuk mengadakan
penyesuaian terhadap situasi yang dihadapinya, antara lain sindrom lepas jabatan yang
mengakibatkan sedih yang berkepanjangan.

5
2.3 KEBUTUHAN NUTRISI PADA LANSIA

1. Kalori
Hasil – hasil penelitian menunjukan bahwa kecepatan metabolisme basal pada orang-
orang berusia lanjut menurun sekitar 15-20%, disebabkan berkurangnya massa otot dan aktivitas.
Kalori (energi) diperoleh dari lemak9,4 kal, karbohidrat 4 kal, dan protein 4 kal per gramnya.
Bagi lansia komposisi energi sebaiknya 20-25% berasal dari protein, 20% dari lemak, dansisanya
dari karbohidrat. Kebutuhan kalori untuk lansia laki-laki sebanyak 1960 kal, sedangkan untuk
lansia wanita 1700 kal. Bila jumlah kalori yangdikonsumsi berlebihan, maka sebagian energi
akan disimpan berupa lemak,sehingga akan timbul obesitas. Sebaliknya, bila terlalu sedikit,
makacadangan energi tubuh akan digunakan, sehingga tubuh akan menjadi kurus.

2. Protein
Secara umum kebutuhan protein bagi orang dewasa perhari adalah 1 gram per kg berat
badan. Pada lansia, masa ototnya berkurang.Tetapi ternyata kebutuhan tubuhnya akan protein
tidak berkurang, bahkanharus lebih tinggi dari orang dewasa, karena pada lansia efisiensi
penggunaansenyawa nitrogen (protein) oleh tubuh telah berkurang (disebabkan pencernaan dan
penyerapannya kurang efisien). Beberapa penelitian merekomendasikan, untuk lansia sebaiknya
konsumsi proteinnya ditingkatkan sebesar 12-14% dari porsi untuk orang dewasa. Sumber
protein yang baik diantaranya adalah pangan hewani dan kacang-kacangan.

3. Lemak
Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 30% atau kurang dari total kaloriyang
dibutuhkan. Konsumsi lemak total yang terlalu tinggi (lebih dari 40%dari konsumsi energi) dapat
menimbulkan penyakit atherosclerosis(penyumbatan pembuluh darah ke jantung). Juga
dianjurkan 20% darikonsumsi lemak tersebut adalah asam lemak tidak jenuh (PUFA =
polyunsaturated faty acid). Minyak nabati merupakan sumber asam lemak tidak jenuh yang baik,
sedangkan lemak hewan banyak mengandung asam lemak jenuh.

4. Karbohidrat Dan Serat Makanan

6
Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelitatau konstipasi
(susah BAB) dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus.Serat makanan telah terbukti dapat
menyembuhkan kesulitan tersebut.Sumber serat yang baik bagi lansia adalah sayuran, buah-
buahan segar danbiji – bijian utuh. Manula tidak dianjurkan mengkonsumsi suplemen serat(yang
dijual secara komersial), karena dikuatirkan konsumsi seratnya terlalubanyak, yang dapat
menyebabkan mineral dan zat gizi lain terserap olehserat sehingga tidak dapat diserap tubuh.
Lansia dianjurkan untuk mengurangi konsumsi gula- gula sederhana dan menggantinya
dengankarbohidrat kompleks, yang berasal dari kacang – kacangan dan biji – bijianyang
berfungsi sebagai sumber energi dan sumber serat.

5. Vitamin Dan Mineral


Hasil penelitian menyimpulkan bahwa umumnya lansia kurangmengkonsumsi vitamin A,
B1, B2, B6, niasin, asam folat, vitamin C, D, dan E umumnya kekurangan ini terutama
disebabkan dibatasinya konsumsimakanan, khususnya buah – buahan dan sayuran, kekurangan
mineral yang paling banyak diderita lansia adalah kurang mineral kalsium yang menyebabkan
kerapuhan tulang dan kekurangan zat besi menyebab kananemia. Kebutuhan vitamin dan mineral
bagi lansia menjadi penting untukmembantu metabolisme zat-zat gizi yang lain. Sayuran dan
buah hendaknya dikonsumsi secara teratur sebagai sumber vitamin, mineral dan serat.

6. Air
Cairan dalam bentuk air dalam minuman dan makanan sangat diperlukantubuh untuk
mengganti yang hilang (dalam bentuk keringat dan urine),membantu pencernaan makanan dan
membersihkan ginjal (membantufungsi kerja ginjal). Pada lansia dianjurkan minum lebih dari 6-
8 gelas perhari.

Makanan Sehat Bagi Lansia


Makanan sehat bagi lansia antara lain mencakupi empat sehat limasempurna dengan porsi
yang kurang dari orang dewasa kecuali asupanprotein dan vitamin serta mineral, dimana kalsium
dan zat besi jugamemerankan peranan yang penting untuk metabolisme tubuh. Berikut
inidisajikan beberapa contoh makanan sehat untuk manula yang telah dikelompokkan:

7
1. Sumber Karbohidrat: Nasi, jagung, ketan, bihun, biskuit, kentang, mie instan, mie kering,
roti tawar, singkong, talas, ubi jalar, pisang nangka,makaroni
2. Sumber Protein Hewan: Daging ayam, daging sapi, hati (ayam atau sapi), telur unggas,
ikan mas, ikan kembung, ikan sarden, bandeng, baso daging
3. Sumber Protein Nabati: Kacang tanah, kedelai, kacang hijau, kacang merah, kacang tolo,
tahu, tempe, oncom
4. Buah – buahan : Pepaya, belimbing, alpukat, apel, jambu biji, jeruk, mangga,nangka,
pisang ambon, sawo, semangka, sirsak, tomat
5. Sayuran : Bayam, buncis, beluntas, daun pepaya, daun singkong, katuk,kapri, kacang
panjang, kecipir, sawi, wortel, selada
6. Kue : Bika ambon, dadar gulung, getuk lindri, apem, kroket, kue pia, kueputu, risoles
7. Susu : Susu sapi, susu kambing, susu kerbau, susu kedelai, skim

Berdasarkan kegunaannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu :
1. Kelompok Zat Energi.
a. Bahan makanan yang mengandung karbohidrat seperti beras, jagung, gandum, ubi, roti,
singkong dll, selain itu dalam bentuk gula seperti gula,sirup, madu, dll.
b. Bahan makanan yang mengandung lemak seperti minyak, santan,mentega, margarine,
susu dan hasil olahannya.
2. Kelompok Zat Pembangun
Kelompok ini meliputi makanan – makanan yang banyak mengandungprotein, baik
protein hewani maupun nabati, seperti daging, ikan, susu, telur,kacang-kacangan dan olahannya.
3. Kelompok Zat Pengatur
Kelompok ini meliputi bahan-bahan yang banyak mengandung vitamindan mineral,
seperti buah – buahan dan sayuran

2.4 FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN GIZIPADA


LANSIA

2.4.1. Faktor yang dapat mempengaruhi kebutuhan gizi pada seorang lansia,
diantaranya:

8
a. Berkurangnya Kemampuan Mencerna Makanan (Akibat Kerusakan Gigi Atau
Ompong)
Pada lansia terjadi gangguan nutrisi yang terjadi pada gigi geligi dan semuanya
tanggal yang akan mengalami kesulitan mengunyah makanan, apabila makanan yang di
sajikan tidak diolah sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan pengunyahan maka
akan terjadi gangguan dalam pencernaan dan penyerapan oleh usus.

b. Berkurangnya Cita Rasa ( Rasa Dan Buah)


Hal ini terjadi pada lansia dengan berkurangnya cita rasa yang disebabkan oleh
gangguan pada indera pengecap yang menurun serta adanya iritaso yang kronis dari
selaput lendir. Hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap di lidah terutama ras manis
dan asin, serta hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap tentang rasa asin, asam dan
pahit. Pada lansia apabila terjadi gangguan emosional seperti stress, putus asa dan rasa
takut akan menyebabkan mulut kering. Yang dipengaruhi oleh pengaruh simpatik dan
system saraf autonom yang menyebabkan sekresa siliva. Keluhan mulut kering dapat
menghambat nafsu makan pada lansia yang menyebabkan asupan nutrisi berkurang. Pada
lansia sesuai dengan pertambahan umur yang akan menurunkan produksi saliva dan
mrngubah komposisi sedikit (Ernawati,2000).
c. Berkurangnya Koordinasi Otot-Otot Saraf
System persyarafan yang terjadi suatu perubahan system persyarafan yang cepat
dapat menurunkan hubungan persyarafan menjadi lambat dalam respond an waktu
bereaksi, serta mengecilnya saraf panca indera, adanya gangguan pendengaran,
pengelihatan serta system respirasi. Pada lansia gangguan ini terjadi karena pengaruh
pertambahann umur dan menurunnya fungsi organ tubuh misalnya pada gangguan reflex
yang dapat menurun. Pada saraf otot terjadi flaksi atau lemah , tonus kurang, tenderness,
dan tidak mampu bekerja. Untuk otot pada saluran cerna yang terjadi pada suatu
kelemahan karena penggunaan yang menurun berakibat terjadinya konstipasi(
Ernawati,2000)
d. Keadaan Fisik Yang Kurang Baik

9
Keadaan fisik pada lansia terjadi suatu perubahan-perubahan fisik diantaranya
dari perubahan sel yang lebih sedikit jumlahnya dan yang lebih besar ukurannya.
Masalah yang menyangkut fisik yaitu lansia tidak bisa berjalan atau melakukan sesuatu
sendiri. Masalah fisik misalnya apatis dan lesu dengan tanda-tanda fisik yaitu berat badan
menurun, wajah pucat, sedangkan kelemahan fisik terjadi seperti arthritis( cedera
serebrovaskuler) yang menyebabkan kesulitan untuk berbelanja dan memasak
(Darmojo,2000)

e. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi mempengaruhi lansia dalam melaksanakan pengobatan. Pada
lansia secara umum lansia yang memiliki pendapatan sendiri cenderung menolak bantuan
orang lain. Lansia yang tidak memiliki penghasilan akan menggantungkan hidupnya pada
anak atau saudara meskipun status ekonomi mereka juga tergolong miskin, dimana lansia
menggantungkan hidupnya terutama pada anak perempuan terdekat.

f. Faktor Sosial Lansia


Pada lansia terjadi perubahan-perubahan psikososial yaitu merasakan atau sadar
akan kematian, penyakit kronsi, dan ketidakmampuan dalam melakukan aktifitas
fisiknya. Kesepian akibat pengasingan dari lingkungan social dari segi ekonomi akibat
pemberhentian jabatan atau pensiunan yang di pengaruhi oleh meningkatnya biaya hidup
untuk pengobatan.keadaan lansia itu membutuhkan dalam dukungan keluarga
sepenuhnya khususnya dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi sehari-hari karena hal ini
penting dan bertujuan untuk menjaga kondisi dan status gizi lansia sehari-harinya. Tanpa
adanya dukungan keluarga akan menyebabkan keadaan lansia tidak baik dan
menimbulkan permasalahan misalnya akan menimbulkan berbagai penyakitnya. Karena
kekurangan pemenuhan asupan nutrisi.

g. Faktor Penyerapan Makanan Lansia.


Masalah nutrisi pada lansia di pengaruhi oleh fungsi absorpsi yang melemah( ada
daya penyerapan yang terganggu). Apabila hal ini terjadi pada lansia maka akan

10
mempengaruhi status gizinya yang berakibat timbulnya penyakit yang di akibatkan oleh
asupan makan yang terganggu.

2.4.2. Masalah Gizi pada Lansia


1. Gizi Berlebih
Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota – kota besar.
Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalagi
pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan
makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan.Kegemukan
merupakan salahsatu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, kencing
manis, dan darah tinggi.
2. Gizi kurang
Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah – masalah social ekonomi dan juga karena
gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat
badan kurang dari normal.Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan
kerusakan – kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, dayatahan
terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkenainfeksi.
3. Kekurangan Vitamin
Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan
kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun,
kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.

2.4.3. Status Gizi Pada Usia Lanjut


1. Metabolisme basal menurun, kebutuhan kalori menurun, status gizi lansia cenderung
mengalami kegemukan/obesitas
2. Aktivitas/kegiatan fisik berkurang, kalori yang dipakai sedikit, akibatnya cenderung
kegemukan/obesitas
3. Ekonomi meningkat, konsumsi makanan menjadi berlebihan, akibatnya cenderung
kegemukan/obesitas

11
4. Fungsi pengecap/penciuman menurun/hilang, makan menjadi tidak enak dan nafsu
makan menurun, akibatnya lansia menjadi kurang gizi (kurang energi protein yang
kronis)
5. Penyakit periodontal (gigi tanggal), akibatnya kesulitan makan yang
berserat(sayur,daging) dan cenderung makan makanan yang lunak(tinggi kalori),hal ini
menyebabkan lansia cenderung kegemukan/obesitas
6. Penurunan sekresi asam lambung dan enzim pencerna makanan, hal ini mengganggu
penyerapan vitamin dan mineral, akibatnya lansia menjadi defisiensi zat-zat gizi mikro
7. Mobilitas usus menurun, mengakibatkan susah buang air besar, sehingga lansia menderita
wasir yang bisa menimbulkan perdarahan dan memicuterjadinya anemia
8. Sering menggunakan obat-obatan atau alkohol, hal ini dapat menurunkan nafsu makan
yang menyebabkan kurang gizi dan hepatitis atau kanker hati
9. Gangguan kemampuan motorik, akibatnya lansia kesulitan untukmenyiapkan makanan
sendiri dan menjadi kurang gizi
10. Kurang bersosialisasi, kesepian (perubahan psikologis), akibatnya nafsu makan menurun
dan menjadi kurang gizi
11. Pendapatan menurun (pensiun), konsumsi makanan menjadi menurun akibatnya menjadi
kurang gizi
12. Dimensia (pikun), akibatnya sering makan atau malah jadi lupa makan,yang dapat
menyebabkan kegemukan atau pun kurang gizi.

12
BAB III

PENUTUP

SIMPULAN

Nutrisi yang ade kuat merupakan suatu komponen esensial pada kesehatan lansia. Status
nutrisi seseorang akan berpengaruh terhadap setiap system tubuh. Peran nutrisi dapat memenuhi
kebutuhan gizi tubuh untuk menjalankan metabolisme, melawan radikal bebas dan merangsang
proses regenerasi sel – sel baru untuk memperbaiki fungsi organ.

13