Você está na página 1de 18

Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No.

2, September 2016

PENERAPAN HEALTH BELIEF MODEL TERHADAP


KEPUTUSAN KELUARGA UNTUK MELAKUKAN KUNJUNGAN
KE PUSKESMAS DALAM PENANGANAN DINI
DENGUE HAEMORHAGIC FEVER (DHF)

(Implementation of Health Belief Model to the Analysis of Family’s Decision to


Visit Public Health Centre for Early Dengue Haemorhagic Fever Response)

Susanti
Akademi Keperawatan Adi Husada Surabaya
Jl. Kapasari No. 95, Surabaya; Telp. (031) 3721750
Email: susanti1303@gmail.com

ABSTRAK
Pendahuluan: Degue Haemorhagic Fever (DHF) merupakan salah satu penyakit
infeksius dan mengancam nyawa pasien. DHF yang diderita pasien sudah
mengalami komplikasi berat di wilayah Tembok Dukuh. Penerapan health belief
model, pasien mendapat penanganan awal sesegera mungkin. Metode: Desain
yang digunakan deskriptif analitik. Populasi keluarga dengan pasien DHF dari
Januari 2012 sampai Juli 2014. Clustered digunakan mengambil sampel. Jumlah
sampel 65 responden. Variabel independen adalah penerapan health belief model
meliputi kerentanan, dirasakan keseriusan, manfaat yang dirasakan, hambatan
yang dirasakan, dan isyarat untuk bertindak. Variabel dependen adalah keputusan
keluarga untuk mengunjungi Puskesmas dalam penanganan awal DHF. Data
dikumpulkan dengan kuesioner terstruktur kemudian dianalisis dengan distribusi
frekuensi masing kategori. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi
kerentanan keluarga berada di kategori sedang, keseriusan yang dirasakan
keluarga dalam kategori tinggi, sebagian besar keluarga mendapat manfaat dan
mendapat hambatan, dan semua responden memiliki isyarat untuk bertindak.
Pembahasan: Keputusan keluarga untuk mengunjungi Puskesmas dalam
penanganan awal DHF dipilih beberapa keluarga. Kesimpulan: Disimpulkan
sebagian besar keluarga tidak memiliki keputusan mantap untuk mengunjungi
Puskesmas dalam penanganan dini DHF. Hal ini dibuktikan ada sebagian keluarga
memilih pelayanan kesehatan lain. Petugas kesehatan harus sosialisasi program
Puskesmas terkait penanganan dini DHF sehingga keluarga percaya mengunjungi
Puskesmas penting untuk penanganan awal DHF.
Kata Kunci: pengambilan keputusan, teori Health Belief Model, Puskesmas

ABSTRACT
Introduction: Degue Haemorhagic Fever (DHF) is one of infecsius deseases and
kill the patients. DHF deseases that is suffered to the patients has become a heavy
complication in Tembok Dukuh village. By the health belief model
implementation, the patients got earlier response as soon as possible. Method:
This descriptive analytic was conducted of the research. The population was the
family with DHF patient from Januari 2012 until July 2014. Clustered design was
used to take the sample. Total sample were 65 respondents. The independent

124
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

variables were health belief model about perceived susceptibility, perceived


seriousness, perceived benefits, perceived barriers, and cues to action. The
dependent variable was family’s decision for visiting Puskesmas in earlier
response of DHF. Data was collecting using structured questionnaire and then
the data analyzed with frequency distribution of each category. Result: Result
showed that perceived susceptibility most family was in middle category,
perceived seriousness most family was in high category, most of family got the
benefits and got the barriers, and all of the respondents have cues to action.
Discussion: The family’s decision to visit Puskesmas for the earlier DHF
response was founded in a few of family. Conclusion: It can be concluded that
most of the family didn’t have a steady decisison to visit Puskesmas for the earlier
DHF response. It can be proved by there are most of family chose the others
health service. Health workers in Desease Eradication Departement (P2M)
should sosialize the Puskesmas program related with the earlier DHF response.
So that, the family has believed that visiting Puskesmas is important for the
earlier DHF response.
Keywords: decisison making, Health Belief Model, Public Health Centre

PENDAHULUAN
Model kepercayaan kesehatan menjadi masalah kesehatan pada
atau health belief model merupakan negara berkembang termasuk
salah satu model penggunaan Indonesia (Depkes RI, 2005).
pelayanan kesehatan yang didasarkan Kasus Degue Haemorhagic
pada kenyataan bahwa problem- Fever (DHF) di Puskesmas Tembok
problem kesehatan ditandai oleh Dukuh Surabaya berada diurutan
kegagalan masyarakat untuk kedua di wilayah Surabaya. Oleh
menerima usaha pencegahan dan sebab itu, berdasarkan program
penyembuhan penyakit yang pokok Puskesmas, prioritas kinerja
diselenggarakan oleh provider pada upaya penanggulangan DHF
(Notoatmodjo, 2007). Masyarakat lebih ditingkatkan. Pemilihan
yang menderita penyakit dan tidak prioritas upaya penanggulangan DHF
merasakan sakit tidak akan bertindak dikarenakan DHF selalu ada di
terhadap penyakitnya tersebut. Tetapi wilayah kerja Puskesmas, salah
bila masyarakat diserang penyakit satunya adalah Kelurahan Tembok
dan juga merasakan sakit, maka baru Dukuh di Kecamatan Bubutan yang
akan timbul berbagai macam merupakan salah satu kelurahan yang
perilaku dan usaha (Notoatmodjo, endemis. Berdasarkan data awal
2007). Puskesmas merupakan lini yang didapatkan oleh peneliti pada
terdepan yang memberikan tanggal 15 Juni 2009 di Puskesmas
pelayanan kesehatan masyarakat Tembok Dukuh, keluarga di
secara menyeluruh (Susilo, 2008). Kelurahan Tembok Dukuh Surabaya
Penyakit Degue Haemorhagic Fever yang menderita DHF pada tahun
(DHF) merupakan salah satu 2007 sebanyak 34 orang (44,16%),
penyakit menular yang masih pada tahun 2008 sebanyak 22 orang

125
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

(28,57%), dan pada tahun 2009 suatu penyakit, keseriusan yang


sebanyak 21 orang (27,27%). Pada dirasakan, manfaat yang diterima,
tahun 2013 mengalami penurunan rintangan-ritangan yang dialami
sebesar 15,59% sedangkan pada dalam tindakannya melawan
tahun 2014 mengalami peningkatan. penyakit, dan isyarat atau tanda-
Hal ini dapat ditunjukkan dari bulan tanda yang mendorong tindakan
Januari sampai dengan Juli 2014 tersebut.
jumlah penderita sudah mencapai Kepercayaan keluarga
27,27%. mengunjungi Puskesmas dapat
Gejala Degue Haemorhagic menolong proses penyembuhan
Fever (DHF) hampir sama dengan penyakit termasuk penanganan dini
gejala demam biasa sehingga sulit penderita DHF diharapkan mampu
membedakan kedua penyakit menurunkan jumlah penderita DHF
tersebut. Tingginya kasus kematian di wilayah penelitian yaitu wilayah
penderita akibat DHF terjadi karena kerja Puskesmas Tembok Dukuh
penderita terlambat dibawa berobat dengan cara deteksi dini terhadap
ke Rumah Sakit atau Puskesmas. tanda dan gejala yang ditimbulkan
Jika penderita DHF terlambat untuk sehingga penderita tidak terlambat
ditangani, akibatnya sering fatal, mendapatkan pertolongan. Salah satu
yaitu bisa langsung merenggut fungsi Puskesmas adalah membina
nyawa karena gejala dan tanda DHF peran serta masyarakat di wilayah
tidak selalu tampil nyata sehingga kerjanya dalam rangka meningkatkan
tidak selalu mudah dikenali kemampuan untuk hidup sehat. Oleh
(Nadesul, 2007). Menurut sebab itu, keputusan keluarga untuk
Rosenstock (1982) dalam Sarwono melakukan kunjungan ke Puskesmas
(2004), Masyarakat atau keluarga tersebut merupakan langkah awal
tidak akan mencari pertolongan terhadap perubahan perilaku dalam
medis atau pencegahan penyakit bila menghadapi masalah kesehatan yang
keluarga kurang mempunyai berkelanjutan serta demi
pengetahuan dan motivasi minimal terwujudnya kemandirian dalam
yang relevan dengan kesehatan, bila bidang kesehatan di dalam keluarga
keluarga memandang keadaan tidak dan masyarakat. Berdasarkan fakta di
cukup berbahaya, bila tidak yakin atas, peneliti tertarik untuk
terhadap keberhasilan suatu menganalisis penerapan health belief
intervensi medis, dan bila keluarga model terhadap keputusan keluarga
melihat adanya beberapa kesulitan untuk melakukan kunjungan ke
dalam melaksanakan perilaku Puskesmas dalam penanganan dini
kesehatan yang disarankan. Model DHF.
kepercayaan kesehatan (Health
Belief Model) dari Rosenstock (1982) BAHAN DAN METODE
dalam Sarwono (2004), meliputi: Desain yang digunakan
kerentanan yang dirasakan terhadap adalah deskriptif. Populasi dalam

126
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

penelitian ini adalah keluarga dengan Dilihat dari segi umur,


penderita Degue Haemorhagic Fever menunjukkan bahwa hampir
(DHF) mulai Januari 2012-Juli 2014 setengah dari jumlah responden
yaitu sebanyak 77 orang yang berada (46%) dengan anggota keluarga
di Kelurahan Tembok Dukuh yang penderita DHF di Kelurahan
merupakan salah satu wilayah kerja Tembok Dukuh Kecamatan
Puskesmas Tembok Dukuh, Bubutan, Surabaya berusia 35-44
Surabaya. Jadi, besar sampel dalam tahun.
penelitian ini adalah 65 orang sesuai 2. Karakteristik responden
dengan kriteria inklusi. Teknik berdasarkan jenis kelamin
sampling yang digunakan dalam Dilihat dari jenis kelamin
penelitian ini adalah Cluster menunjukkan bahwa yang
sampling. Variabel independen bersedia menjadi responden
dalam penelitian ini adalah dengan anggota keluarga
penerapan health belief model, penderita DHF di Kelurahan
diantaranya meliputi: kerentanan, Tembok Dukuh Kecamatan
keseriusan, manfaat, rintangan, dan Bubutan, Surabaya sebagian besar
faktor pendorong yang dirasakan (83%) berjenis kelamin
oleh keluarga yang memiliki anggota perempuan.
keluarga penderita DHF di 3. Karakteristik responden
Kelurahan Tembok Dukuh, berdasarkan jumlah anggota
Surabaya. keluarga
Variabel tergantung dalam Dilihat dari jumlah anggota
penelitian ini adalah keputusan keluarga dalam setiap keluarga,
keluarga untuk melakukan menunjukkan bahwa lebih dari
kunjungan ke Puskesmas dalam setengah (66%) dari jumlah
penanganan dini DHF. Analisis data responden dengan anggota
dalam penelitian ini menggunakan keluarga penderita DHF di
content analysis dan persentase. Kelurahan Tembok Dukuh
Penelitian dilakukan pada tanggal 23 Kecamatan Bubutan, Surabaya
Juni sampai dengan tanggal 6 Juli memiliki anggota keluarga
2014, di lingkungan masyarakat berjumlah 4 orang.
Kelurahan Tembok Dukuh yang 4. Karakteristik responden
merupakan salah satu wilayah kerja berdasarkan pendidikan terakhir
Puskesmas Tembok Dukuh, Dilihat dari tingkat pendidikan,
Surabaya. menunjukkan bahwa sebagian
besar responden (75%) dengan
HASIL anggota keluarga penderita DHF
1. Data umum di Kelurahan Tembok Dukuh
1. Karakteristik responden Kecamatan Bubutan, Surabaya
berdasarkan umur merupakan tamatan SMU.

127
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

5. Karakteristik responden 9. Karakteristik responden


berdasarkan anggota keluarga berdasarkan agama
yang bekerja Dilihat dari segi agama,
Dilihat dari anggota keluarga menunjukkan bahwa sebagian
yang bekerja, menunjukkan besar responden (92%) dengan
bahwa sebagian besar responden anggota keluarga penderita DHF
(84%) dengan anggota keluarga di Kelurahan Tembok Dukuh
penderita DHF di Kelurahan Kecamatan Bubutan, Surabaya
Tembok Dukuh Kecamatan beragama Islam.
Bubutan, Surabaya yang bekerja 10.Karakteristik responden
adalah ayah sebagai kepala berdasarkan pengambil keputusan
keluarga. di keluarga
6. Karakteristik responden Anggota keluarga penderita DHF
berdasarkan pekerjaan di Kelurahan Tembok Dukuh
Dilihat dari segi pekerjaan, Kecamatan Bubutan, Surabaya
menunjukkan bahwa lebih dari dalam pengambilan keputusan
setengah responden (68%) dengan untuk membawa berobat ke
anggota keluarga penderita DHF Puskesmas jika ada anggota
di Kelurahan Tembok Dukuh keluarga yang sakit atau dicurigai
Kecamatan Bubutan, Surabaya menderita demam berdarah,
bekerja sebagai Pegawai swasta. hampir setengah dari jumlah
7. Karakteristik responden responden (45%) dilakukan oleh
berdasarkan penghasilan ibu.
Dilihat dari segi penghasilan,
menunjukkan bahwa kurang dari 2. Data khusus
setengah dari jumlah responden 1. Identifikasi kerentanan yang
(26%) dengan anggota keluarga dirasakan keluarga (perceived
penderita DHF di Kelurahan susceptibility)
Tembok Dukuh Kecamatan Lebih dari setengah responden
Bubutan, Surabaya memiliki (55%) mengalami kerentanan
penghasilan sebesar <1 juta yang sedang terhadap penyakit
rupiah. DHF.
8. Karakteristik responden 2. Identifikasi keseriusan yang
berdasarkan suku bangsa dirasakan keluarga (perceived
Dilihat dari segi suku bangsa, seriousness)
menunjukkan bahwa responden Hampir setengah responden
dengan anggota keluarga (46%) mengalami keseriusan yang
penderita DHF di Kelurahan tinggi terhadap kegawatan akibat
Tembok Dukuh Kecamatan penyakit DHF apabila penderita
Bubutan, Surabaya sebagian besar tidak segera mendapatkan
(89%) berasal dari suku Jawa. penanganan.

128
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

3. Identifikasi manfaat yang 4. Identifikasi rintangan yang


dirasakan keluarga (perceived dialami keluarga (perceived
benefits) barrier)
Lebih dari setengah responden Lebih dari setengah keluarga yang
(62%) merasakan manfaat ketika menjadi responden (74%)
keluarga melakukan kunjungan ke mengalami rintangan ketika akan
Puskesmas dalam penanganan melakukan kunjungan ke
dini anggota keluarga yang Puskesmas dalam penanganan
menderita DHF. dini anggota keluarga yang
menderita DHF.
Tabel 1. Manfaat yang Dirasakan
Keluarga (perceived benefits) Tabel 2. Rintangan yang Dialami
Manfaat yang F P (%) Keluarga (perceived barrier)
dirasakan (n) Rintangan yang F (n) P (%)
Penderita mendapatkan 21 52,5% dialami
penanganan dengan Jarak rumah ke 28 58,3%
cepat Puskesmas sangat
jauh
Tidak ada 11 22,9%
Penderita dapat 11 27,5% transportasi atau
terhindar dari kendaraan
kegawatan akibat Biaya pengobatan 0 0%
penyakit demam di Puskesmas
berdarah mahal
Pelayanan petugas 9 18,8%
Penderita dapat 8 20% Puskesmas yang
terhindar dari kematian kurang memuaskan
akibat keterlambatan Jumlah 48 100%
penanganan
Jumlah 40 100% Berdasarkan hasil penelitian
menunjukkan bahwa (74%) dari 65
Hasil penelitian menunjukkan
keluarga yang menjadi responden
bahwa 40 responden (62%) dari 65
mengalami rintangan ketika keluarga
keluarga yang menjadi responden
melakukan kunjungan ke Puskesmas
merasakan manfaat ketika keluarga
dalam penanganan dini anggota
melakukan kunjungan ke Puskesmas
keluarga yang menderita DHF, dan
dalam penanganan dini anggota
dari tabel 2 tersebut menunjukkan
keluarga yang menderita DHF,
bahwa rintangan yang dialami oleh
manfaat yang dirasakan oleh
sebagian besar responden (58,3%)
sebagian besar responden (52,5%)
tersebut adalah jarak rumah ke
tersebut adalah mendapatkan
Puskesmas yang cukup jauh.
penanganan dengan cepat saat
5. Identifikasi faktor pendorong
melakukan kunjungan ke Puskesmas
untuk bertindak (cues to action)
jika salah satu anggota keluarga
Menunjukkan bahwa semua
dicurigai menderita DHF.
responden (100%) dari 65
keluarga yang menjadi responden

129
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

dalam penelitian ini di Kelurahan Tabel 4. Faktor Pendorong untuk


Tembok Dukuh Kecamatan Bertindak (cues to action)
Bubutan, Surabaya memiliki Pendorong utama F (n) P (%)
faktor pendorong untuk Gejala dan tingkat 44 67,7%
keparahan penyakit
melakukan kunjungan ke demam berdarah
Puskesmas atau sarana kesehatan Informasi dari 6 9,2%
yang lain dalam penanganan dini keluarga
Penjelasan petugas 15 23,1%
penderita DHF. Puskesmas
Jumlah 65 100%
Tabel 3. Sumber Informasi untuk
Bertindak (cues to action) Berdasarkan sumber
Sumber F (n) P (%)
informasi
informasi yang diterima oleh
Media massa 40 61,5% keluarga, tabel 4 menunjukkan
(Televisi, radio, bahwa dari 65 keluarga yang menjadi
surat kabar,
majalah, internet) responden, lebih dari setengah
Mencari sendiri 5 7,7% responden (67,7%) yang menjadi
dengan membaca- pendorong utama keluarga untuk
baca buku tentang
penanganan dini melakukan kunjungan ke Puskesmas
demam berdarah atau sarana kesehatan yang lain
Teman-teman dan 9 13,9%
tetangga
dalam penanganan dini penderita
Petugas 11 16,9% DHF adalah gejala dan tingkat
Puskesmas keparahan penyakit demam berdarah.
Jumlah 65 100%
6. Karakteristik responden
berdasarkan pemberi saran
Berdasarkan hasil penelitian
pengambilan keputusan untuk
menunjukkan bahwa informasi
melakukan kunjungan ke
mengenai penanganan dini penderita
Puskesmas
DHF dapat diperoleh dari berbagai
Secara keseluruhan lebih dari
sumber, diantaranya adalah melalui
setengah responden (51%) yang
media massa, seperti televisi, radio,
melakukan kunjungan ke
surat kabar, majalah, internet, dan
Puskesmas jika ada anggota
dapat pula diperoleh dari penjelasan
keluarga yang dicurigai menderita
atau penyuluhan petugas Puskesmas,
DHF atas inisiatif keluarga
dan informasi yang diberikan oleh
sendiri.
teman atau para tetangga yang
7. Karakteristik responden
mempunyai pengalaman terkait
berdasarkan proses pengambilan
dengan penyakit DHF.
keputusan untuk melakukan
kunjungan ke Puskesmas
Sebagian besar responden (75%)
membicarakan terlebih dahulu
dengan anggota keluarga yang
lain dalam proses pengambilan

130
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

keputusan untuk melakukan memperhitungkan jarak


kunjungan ke Puskesmas dalam Puskesmas dengan rumah
penanganan dini penderita DHF. kami .” (17 responden).
Berikut ini analisis isi “Yang dibicarakan adalah
(content analysis) dari hasil mempertimbangkan biaya
kuesioner terstruktur yang yang dikeluarkan untuk
mendukung data diatas. berobat ke Puskesmas sebab
Jawaban dari pertanyaan: biayanya cukup terjangkau.”
Apa saja yang anda (4 responden).
bicarakan dengan keluarga “Kami membicarakan perihal
mengenai keputusan anda pelayanan petugas Puskesmas
untuk membawa anggota apakah dapat memberikan
keluarga yang sakit ke pelayanan secara maksimal
Puskesmas? kepada masyarakat yang
Jawaban dapat disimpulkan berobat ke Puskesmas
sebagai berikut: tersebut.” (7 responden).
“Kami sebelumnya selalu 8. Karakteristik responden
membicarakan terkait dengan berdasarkan keinginan berobat ke
penanganan yang dilakukan tempat lain selain Puskesmas
oleh Puskesmas untuk segera Sebagian besar responden (85%)
mengetahui penyakit yang memiliki keinginan untuk berobat
diderita anggota keluarga ke tempat pelayanan kesehatan
agar dapat segera yang lain selain di Puskesmas.
disembuhkan.” (15 Berdasarkan hasil penelitian
responden). menunjukkan bahwa (85%) dari
“Saya berbicara tentang 65 keluarga yang menjadi
kemungkinan mendapatkan responden dengan anggota
surat rujukan dengan cepat keluarga penderita DHF di
jika anggota keluarga yang Kelurahan Tembok dukuh
sakit dicurigai mengalami Surabaya memiliki keinginan
kegawatan.” (6 responden). untuk berobat ke tempat
“Saya berbicara terlebih pelayanan kesehatan yang lain,
dahulu kepada keluarga sebagian besar (76,4%) responden
(suami atau istri) perihal berobat ke Dokter Praktik. Data
keberadaan dokter yang tersebut dicantumkan dalam tabel
bertugas saat itu karena di bawah ini.
biasanya tidak langsung
ditangani oleh dokter yang
bertugas dan juga tentang
obat-obatan yang nanti
diterima dari Puskesmas.
Selain itu, kami juga

131
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

Tabel 5. Sarana Kesehatan untuk ke Puskesmas jika ada anggota


Berobat keluarga yang dicurigai menderita
Sarana kesehatan F (n) P (%) DHF.
Dokter Praktik 42 76,4% Berikut ini analisis isi
Rumah Sakit 13 23,6%
(content analysis) dari hasil
Pengobatan Alternatif 0 0%
Jumlah 55 100% kuesioner terstruktur yang
mendukung data diatas.
Berikut ini analisis isi Jawaban dari pertanyaan:
(content analysis) dari hasil Mengapa anda memutuskan
kuesioner terstruktur yang untuk ke Puskesmas jika ada
mendukung data diatas. anggota keluarga yang sakit
Jawaban dari pertanyaan: sebagai tempat penanganan
Mengapa anda atau keluarga dini atau pertolongan
memilih tempat pelayanan pertama pada penderita sakit
tersebut daripada demam berdarah?
Puskesmas? Jawaban dapat disimpulkan
Jawaban dapat disimpulkan sebagai sebagai berikut:
berikut: “Karena pelayanannya di
” Karena lebih dekat dari Puskesmas sudah cukup baik,
rumah dan sudah cocok selain itu biaya juga cukup
dengan dokternya.” (20 terjangkau bagi masyarakat.”
responden). (12 responden).
” Karena keluarga saya sudah “Karena pertolongan di
mendapatkan fasilitas di Puskesmas sudah agak cepat
Rumah Sakit tersebut sebagai dan di Puskesmas juga ada
rekomendasi dari suami saya penyuluhan yang dapat
bekerja.” (13 responden). menambah pengetahuan.” (3
” Karena penanganannya responden).
lebih tepat dan cepat.” (7 “Karena saya percaya bahwa
responden). Puskesmas dapat menjadi
“Karena sudah terbiasa tempat pertolongan pertama
berobat disana meskipun untuk segara mengetahui
lebih mahal dari Puskesmas penyakitnya.” (1 responden).
yang penting ditangani oleh “Karena biaya sangat murah
dokternya langsung.” (15 dan dapat dijangkau.” (6
responden). responden).
9. Identifikasi keputusan keluarga “Karena rumah saya lebih
untuk melakukan kunjungan ke dekat dengan Puskesmas dan
Puskesmas dalam penanganan biayanya juga murah.” (4
dini DHF responden).
Kurang dari setengah responden “Karena pelayanan
(45%) memutuskan untuk berobat Puskesmas sudah cukup baik

132
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

dan dapat terjangkau dalam saya rasa pelayanan di


hal biaya, selain itu dekat Puskesmas sudah cukup baik
dengan rumah.” (1 tidak kalah dengan dokter
responden). praktik swasta.” (2
“Karena rumah saya lebih responden).
dekat dengan Puskesmas dan

3. Data kerentanan yang dirasakan melakukan kunjungan ke


keluarga (perceived susceptibility) Puskesmas dalam penanganan dini
dalam kaitannya dengan Degue Haemorhagic Fever (DHF)
keputusan keluarga untuk
Dari penelitian yang telah melakukan kunjungan ke
dilakukan, tabulasi silang antara Puskesmas dalam penanganan
kerentanan yang dirasakan dini DHF adalah sebagai berikut:
keluarga (perceived susceptibility)
dan keputusan keluarga untuk

Tabel 6. Kerentanan yang Dirasakan Keluarga (perceived susceptibility) dalam


Kaitannya dengan Keputusan Keluarga untuk Melakukan Kunjungan ke
Puskesmas
Kerentanan Keputusan Total
Mantap Tidak Mantap
n % n % n %
Tinggi 2 6.9 16 44.4 18 27.7
Sedang 19 65.5 17 47.2 36 55.4
Rendah 8 27.6 3 8.4 11 16.9
Total 29 100 36 100 65 100

Diketahui bahwa sebagian keluarga yang tidak memiliki


besar keluarga memiliki keputusan kemantapan untuk berobat ke
yang mantap untuk berobat ke Puskesmas sebagian besar berada
Puskesmas jika terdapat anggota pada kerentanan yang sedang pula
keluarga yang menderita DHF berada yaitu sebesar (47,2%).
pada tingkat kerentanan yang sedang
yaitu sebesar (65,5%). Sementara,

133
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

4. Data keseriusan yang dirasakan melakukan kunjungan ke


keluarga (perceived seriousness) Puskesmas dalam penanganan dini
dalam kaitannya dengan Degue Haemorhagic Fever (DHF)
keputusan keluarga untuk
Dari penelitian yang telah keluarga (perceived seriousness)
dilakukan, tabulasi silang antara dan keputusan keluarga untuk
keseriusan yang dirasakan
melakukan kunjungan ke
Puskesmas dalam penanganan
dini DHF adalah sebagai berikut:
Tabel 7. Keseriusan yang Dirasakan Keluarga (perceived serioussnes) dalam
Kaitannya dengan Keputusan Keluarga untuk Melakukan
Kunjungan ke Puskesmas
Keseriusan Keputusan Total
Mantap Tidak Mantap
n % n % n %
Rendah 12 41.4 2 5.6 14 21.5
Sedang 7 24.1 14 38.9 21 32.3
Tinggi 10 34.5 20 55.5 30 46.2
Total 29 100 36 100 65 100

Diketahui bahwa sebagian keluarga yang tidak memiliki


besar keluarga memiliki keputusan kemantapan untuk berobat ke
yang mantap untuk berobat ke Puskesmas jika terdapat anggota
Puskesmas jika terdapat anggota keluarga yang menderita DHF karena
keluarga yang menderita DHF berada keluarga menganggap berobat ke
pada tingkat keseriusan yang rendah Puskesmas adalah keputusan yang
yaitu sebesar (41,4%). Sebaliknya, kurang tepat, sebagian besar pada
tingkat keseriusan yang tinggi yaitu
sebesar (55,5%).
PEMBAHASAN
Menurut Notoatmodjo mengalami kerentanan yang sedang
(2007), kerentanan yang dirasakan terhadap penyakit DHF karena
keluarga (perceived susceptibility) sebagian besar keluarga telah
adalah suatu tindakan pencegahan mendapakan informasi mengenai
terhadap suatu penyakit akan timbul penyakit DHF dan penanganannya
bila seseorang telah merasakan melalui media massa, seperti televisi,
bahwa seseorang mengetahui radio, surat kabar, majalah, internet.
keluarganya rentan terhadap penyakit Hasil penelitian diperoleh hasil
tersebut. Dalam penelitian ini sebagian besar responden (75%)
sebagian besar responden (55%) berpendidikan menengah ke atas dan

134
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

lebih dari setengah responden seseorang menggunakan


(61,5%) mendapatkan informasi pengetahuan, pertimbangan, dan
tentang penyakit DHF dan pengalamannya untuk memutuskan
penanganannya. Semakin tinggi alternatif yang dianggap lebih
tingkat pendidikan seseorang maka menguntungkan dan yang paling
semakin mudah orang tersebut kecil kerugiannya dari masing-
menerima informasi, baik dari orang masing alternatif yang tersedia.
lain maupun dari media massa. Identifikasi keseriusan yang
Notoatmodjo (2007) menyatakan dirasakan keluarga (perceiveed
bahwa tingkat pendidikan seriousness) dari 65 keluarga yang
mempunyai efek tidak langsung pada menjadi responden, diperoleh hasi
perilaku yang berpengaruh pada penelitian yang menunjukkan bahwa
pengertian dari kerentanan yang (22%) responden mengalami
dirasakan, keseriusan yang keseriusan yang rendah, (32%)
dirasakan, serta manfaat dan responden mengalami keseriusan
penghalang dalam pengambilan yang sedang, dan (46%) responden
tindakan pencegahan dan pengobatan mengalami keseriusan yang tinggi
terhadap penyakit. Terdapat beberapa terhadap kegawatan akibat penyakit
faktor lain yang dapat mempengaruhi DHF apabila penderita tidak segera
kecemasan terhadap kerentanan yang mendapatkan penanganan.
dirasakan oleh keluarga, antara lain: Keseriusan yang dirasakan keluarga
perbedaan demografi (usia, jenis (perceived seriousness) tersebut
kelamin, pendidikan, pekerjaan, meliputi pemahaman keluarga
tingkat ekonomi, kelompok etnis, tentang penyakit DHF, kegawatan
dan agama), pengetahuan, penyakit DHF, dan kecemasan akan
pengalaman, sumber informasi, dan kondisi anggota keluarga yang
latar belakang yang lain. menderita DHF. Dalam penelitian ini
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden (92%)
dari 65 responden di Kelurahan beragama Islam. Menurut
Tembok Dukuh Kecamatan Bubutan, Notoatmodjo (2005), beberapa
Surabaya sebagian besar responden anggota masyarakat dikalangan
(55,4%) dengan kerentanan sedang kelompok yang beragama Islam
memutuskan untuk berobat ke percaya bahwa anak adalah titipan
Puskesmas (65,5%) jika ada anggota Tuhan, dan sakit atau mati itu adalah
keluarga yang dicurigai menderita takdir, sehingga masyarakat kurang
DHF. Salah satu dasar pengambilan berusaha untuk segera mencari
keputusan adalah pengalaman karena pertolongan pengobatan bagi anak
pengalaman seseorang dapat atau anggota keluarga yang sakit.
memperkirakan keadaan sesuatu, Hasil penelitian menunjukkan
dapat memperhitungkan untung rugi, dari 65 responden di Kelurahan
baik buruknya keputusan yang akan Tembok Dukuh Kecamatan Bubutan,
diambil (Hasan, 2004). Umumnya, Surabaya sebagian kecil dari jumlah

135
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

keluarga yang menjadi responden responden, diperoleh data (62%)


(21,5%) memiliki keputusan yang responden merasakan manfaat, dan
mantap untuk berobat ke Puskesmas (38%) responden tidak merasakan
jika terdapat anggota keluarga yang manfaat ketika keluarga melakukan
menderita Degue Haemorhagic kunjungan ke Puskesmas dalam
Fever (DHF) berada pada tingkat penanganan dini anggota keluarga
keseriusan yang rendah (41,4%). yang menderita DHF. Menurut
Sebaliknya, hampir setengah dari Notoatmodjo (2007), Semakin besar
jumlah responden (46,2%) berada manfaat yang diperoleh akan
pada tingkat keseriusan yang tinggi memperkuat individu untuk
(55,5%) memiliki keputusan yang mengambil keputusan melakukan
tidak mantap untuk berobat ke tindakan tersebut, yaitu memilih
Puskesmas karena keluarga berobat ke Puskesmas walaupun
menganggap bahwa Puskesmas tidak harus disertai dengan rintangan yang
dapat memberikan penanganan dialami.
dengan cepat dan tepat. Individu akan melakukan
Dalam penelitian ini sebagian tindakan tertentu apabila individu
besar responden (67,7%) terdorong merasa dirinya rentan terhadap
untuk melakukan kunjungan ke penyakit yang dianggap serius dan
Puskesmas atau sarana kesehatan dapat membahayakan diri sendiri dan
yang lain dalam penanganan dini orang-orang disekitar. Tindakan
penderita DHF karena gejala dan tersebut tergantung pada manfaat
tingkat keparahan penyakit demam yang dirasakan dan rintangan yang
berdarah yang tampak pada ditemukan dalam mengambil
penderita. Sesuai dengan pendapat tindakan tersebut (Notoatmodjo,
Sarwono (2004) yang menyatakan 2002).
bahwa keseriusan merupakan resiko Berdasarkan hasil penelitian,
kesulitan yang akan dirasakan manfaat yang dirasakan keluarga
individu terhadap suatu penyakit. (perceived benefits) dari (62%)
Semakin besar resiko suatu penyakit responden, sebesar (52,5%)
dan semakin besar kemungkinannya responden adalah mendapatkan
bahwa individu dapat terserang penanganan dengan cepat saat
penyakit, semakin besar pula melakukan kunjungan ke Puskesmas
keseriusan yang dirasakan individu. jika salah satu anggota keluarga
Individu akan mengambil tindakan dicurigai menderita DHF. Manfaat
pencegahan apabila mereka percaya lain yang dirasakan keluarga saat
bahwa penyakit tersebut berpontensi melakukan kunjungan ke Puskesmas
menimbulkan dampak yang serius. adalah penderita dapat terhindar dari
Identifikasi manfaat yang kegawatan akibat penyakit DHF, dan
dirasakan keluarga (perceived penderita juga terhindar dari
benefits) dari hasil penelitian kematian akibat keterlambatan
menunjukkan bahwa dari 65 penanganan.

136
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

Identifikasi rintangan yang keluarga lebih memilih berkunjung


dialami keluarga (perceived barriers) ke sarana kesehatan yang lain, dan
dari hasil penelitian menunjukkan beberapa responden juga
bahwa dari 65 responden, diperoleh memperhatikan pertimbangan-
data (74%) responden mengalami pertimbangan yang lain ketika
rintangan, dan (26%) responden memutuskan untuk berobat ke
tidak mengalami rintangan ketika Puskesmas. Rintangan lain yang
akan melakukan kunjungan ke dialami keluarga saat melakukan
Puskesmas dalam penanganan dini kunjungan ke Puskesmas adalah
anggota keluarga yang menderita pelayanan petugas Puskesmas yang
DHF. Rintangan yang dialami kurang memuaskan, tidak ada
keluarga (perceived barriers) transportasi atau kendaraan untuk
tersebut meliputi keterjangkauan menuju ke Puskesmas. Namun,
fisik, pengorbanan tenaga, dan responden tidak menganggap biaya
pengorbanan waktu. Maggie Davies pengobatan di Puskesmas sebagai
dan Wendy Macdowall (2006) rintangan karena pada umumnya
menyatakan bahwa individu akan biaya pengobatan di Puskesmas
melakukan suatu tindakan cukup terjangkau bagi masyarakat.
pencegahan dan pemeliharaan Identifikasi faktor pendorong
kesehatan apabila dalam diri individu (cues to action) bagi keluarga untuk
terdapat keyakinan bahwa manfaat melakukan kunjungan ke Puskesmas
yang akan diperoleh dari suatu dalam penanganan dini penderita
tindakan jauh lebih besar apabila DHF, diperoleh data bahwa semua
dibandingkan dengan rintangan yang responden (100%) memiliki faktor
mungkin dialami ketika memutuskan pendorong untuk melakukan
untuk melakukan tindakan tersebut. kunjungan ke Puskesmas maupun
Namun, terkait dengan hasil sarana kesehatan yang lain dalam
penelitian, pada umumnya keluarga penanganan dini penderita DHF.
lebih memperhatikan hal-hal yang Faktor pendorong keluarga untuk
menjadi rintangan ketika akan bertindak (cues to action) tersebut
berobat ke Puskesmas karena meliputi media informasi tentang
rintangan tersebut menjadi hambatan penanganan dini penyakit DHF.
atau kendala bagi keluarga untuk Informasi mengenai penanganan dini
segera mendapatkan pertolongan penderita DHF dapat diperoleh dari
atau penanganan anggota keluarga berbagai sumber, diantaranya adalah
yang menderita DHF. melalui media massa, seperti televisi,
Berdasarkan hasil penelitian, radio, surat kabar, majalah, internet,
rintangan yang dialami keluarga dan dapat pula diperoleh dari
(perceived barriers) dari (74%) penjelasan atau penyuluhan petugas
responden sebesar (58,3%) Puskesmas, dan informasi yang
responden adalah jarak rumah ke diberikan oleh teman atau para
Puskesmas yang cukup jauh sehingga tetangga yang mempunyai

137
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

pengalaman terkait dengan penyakit salah satu bentuk kecemasan akan


DHF. Selain media cetak maupun keseriusan penyakit yang dirasakan
media elektronik, petugas kesehatan keluarga yang akan mepengaruhi
dan kader posyandu (PKK) juga pengambilan keputusan keluarga
memegang peranan penting dalam untuk melakukan kunjungan ke
menyampaikan informasi kesehatan Puskesmas dalam penanganan dini
kepada masyarakat. Gambaran DHF (Notoatmodjo, 2002).
tersebut sesuai dengan hasil Hasil penelitian menunjukkan
penelitian yang menunjukkan bahwa bahwa sebesar (51%) responden
(61,5%) responden memperoleh yang melakukan kunjungan ke
informasi mengenai penyakit DHF Puskesmas jika ada anggota keluarga
dan penanganannya melalui media yang dicurigai menderita DHF atas
massa, seperti televisi, radio, surat inisiatif keluarga sendiri, (32%)
kabar, majalah, internet dan (16,9%) responden atas saran dari tetangga
informasi diperoleh responden dari disekitar rumah, dan (17%)
penjelasan atau penyuluhan petugas responden atas saran dari kader
Puskesmas. Posyandu atau kader PKK. Hal ini
Petugas kesehatan sesuai dengan penjelasan
mempunyai peranan yang cukup Notoatmodjo (2003), bahwa keluarga
besar dalam menyampaikan merupakan bagian terpenting yang
informasi tentang memelihara dan akan mempengaruhi pengambilan
meningkatkan kesehatan keluarga. keputusan keluarga dalam
Namun, sampai saat ini peran pemeliharaan kesehatan anggota
petugas Puskesmas tersebut kurang keluarga.
optimal. Keterjangkauan informasi Hasil penelitian menunjukkan
tersebut terkait dengan pengambilan bahwa sebagian besar responden
keputusan atau tindakan yang tepat. (75%) membicarakan terlebih dahulu
Berdasarkan hasil penelitian, dengan anggota keluarga yang lain
(67,7%) responden terdorong untuk tentang keputusan keluarga berobat
melakukan kunjungan ke Puskesmas ke Puskesmas. Sisanya, (25%)
maupun sarana kesehatan yang lain responden tidak membicarakannya
dalam penanganan dini penderita terlebih dahulu.
DHF karena gejala dan tingkat Sebagaimana yang
keparahan penyakit demam berdarah, diungkapkan Gitosudarmo dan
(23,1%) responden terdorong karena Sudita (2000), salah satu unsur dalam
penjelasan dari Petugas Puskesmas, pengambilan keputusan adalah
dan (9,2%) responden terdorong sarana atau alat untuk mengevaluasi
untuk melakukan kunjungan ke atau mengukur hasil dari suatu
Puskesmas dalam penanganan dini pengambilan keputusan, pengambil
penderita DHF karena informasi dari keputusan harus menentukan nilai
keluarga. Gejala dan tingkat dan manfaat dari hasil yang
keparahan penyakit DHF merupakan kemungkinan dicapai. Hal ini juga

138
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

berlaku dalam pengambilan Setiap pemecahan mengandung


keputusan untuk melakukan kelebihan dan kelemahan tertentu.
kunjungan ke Puskesmas jika ada Untuk dapat membuat keputusan
anggota keluarga yang dicurigai yang paling menguntungkan atau
menderita DHF, pendapat keluarga keputusan yang rasional perlu
tentang keuntungan dan kerugian dikembangkan semua alternatif yang
berobat ke Puskesmas dapat melekat pada masalah pengambilan
mempengaruhi proses pengambilan keputusan (Pangewa, 2004).
keputusan tersebut. Identifikasi keputusan
Hasil penelitian menunjukkan keluarga untuk melakukan
bahwa sebagian besar responden kunjungan ke Puskesmas dalam
(85%) memiliki keinginan untuk penanganan dini DHF, dari hasil
berobat ke tempat pelayanan penelitian menunjukkan bahwa dari
kesehatan yang lain selain di 65 responden, diperoleh data (45%)
Puskesmas, (15%) responden sisanya responden memutuskan untuk
tidak. Menurut Hasan (2004), dasar- berobat ke Puskesmas jika ada
dasar pengambilan keputusan, anggota keluarga yang dicurigai
diantaranya meliputi intuisi, menderita DHF. Sisanya, (55%)
pengalaman, fakta, wewenang, dan responden tidak mantap untuk
rasional. Pada umumnya, keluarga berobat ke Puskesmas karena
dalam pengambilan keputusan keluarga menganggap berobat ke
berdasarkan pengalaman karena dari Puskesmas adalah keputusan yang
pengalaman seseorang dapat kurang tepat.
memperkirakan keadaan sesuatu, Sebagaimana yang
dapat memperhitungkan untung rugi, diungkapkan Gitosudarmo dan
baik buruknya keputusan yang akan Sudita (2000), nilai-nilai individu
diambil. pengambil keputusan terkait dengan
Berdasarkan penelitian salah satu fungsi Puskesmas, yaitu
menunjukkan bahwa sebagian besar memberikan pelayanan kesehatan
responden (85%) dari 65 keluarga secara menyeluruh dan terpadu
yang menjadi responden memiliki kepada masyarakat merupakan
keinginan untuk berobat ke tempat keyakinan dasar yang digunakan
pelayanan kesehatan yang lain, seseorang jika dihadapkan pada
(76,4%) responden berobat ke permasalahan dan harus mengambil
Dokter Praktik dan (23,6%) suatu keputusan. Hal ini juga berlaku
responden berobat ke Rumah Sakit. dalam pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan keluarga untuk melakukan
diawali dengan dirasanya masalah kunjungan ke Puskesmas jika ada
tertentu yang memerlukan anggota keluarga yang dicurigai
pemecahan. Terhadap suatu masalah menderita DHF, diharapkan keluarga
yang timbul pada umumnya dapat mampu memgambil keputusan yang
dilakukan berbagai cara pemecahan.

139
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

tepat ketika memutuskan untuk Saran


berobat ke Puskesmas. Petugas Puskesmas Tembok
Penerapan health belief Dukuh Surabaya harus memberikan
model yang meliputi kerentanan, informasi dan pelatihan kepada Ibu
keseriusan, manfaat, rintangan, dan Pemantau Jentik (Bumantik) tentang
faktor pendorong sangat diperlukan pencegahan dan penanganan dini
bagi keluarga untuk menangani penderita Degue Haemorhagic Fever
masalah kesehatan yang dialami oleh (DHF) sehingga dapat memberikan
anggota keluarga seperti penyakit pemahaman yang diperlukan oleh
DHF, agar tidak terjadi kegawatan setiap keluarga dengan penderita
akibat keterlambatan penanganan Degue Haemorhagic Fever (DHF)
penyakit DHF dan untuk di Kelurahan Tembok Dukuh
mempercepat proses penyembuhan Surabaya.
penderita agat terhindar dari bahaya
kematian. Salah satu upaya yang KEPUSTAKAAN
dapat dilakukan yaitu dengan deteksi
dini penyakit DHF sehingga Ahmadi, A., (2002). Psikologi
Sosial. Jakarta: PT. Rineka Cipta,
kegawatan dapat dicegah. Keputusan
hal: 66-67
keluarga untuk melakukan
kunjungan ke Puskesmas dapat Davies, M dan Wendy Macdowall,
mengetahui penyakit yang diderita (2004). Health Promotion Theory.
anggota keluarga lebih cepat, New York: London School Of
Hygiene Medicine, hal: 173-175
sehingga apabila ditemukan tanda-
tanda kegawatan, maka penderita Depkes RI., (2005). Kajian Masalah
segera mendapatkan penanganan Kesehatan Degue Haemorhagic
yang tepat sejak dini. Fever . Jakarta: Badan Litbang dan
Pegembangan Kesehatan
SIMPULAN DAN SARAN Dinas Kesehatan Kota Surabaya,
Simpulan (2008). Program Pokok Puskesmas.
Keluarga seluruhnya Surabaya: DKK
memiliki faktor pendorong untuk
Friedman, M.M., (1998).
melakukan kunjungan ke Puskesmas Keperawatan Keluarga: Teori dan
maupun ke sarana kesehatan yang Praktik. Jakarta: EGC, hal: 266-267
lain dalam penanganan dini penderita
Degue Haemorhagic Fever (DHF). Hasan, M.I., (2004). Pokok-pokok
Materi: Teori Pengambilan
Keluarga sebagian besar memiliki
Keputusan. Bogor: Ghalia Indonesia,
keputusan yang tidak mantap untuk hal: 9-12
berobat ke Puskesmas jika terdapat
anggota keluarga yang menderita Kartika, S.D., (2006). Penerapan
Degue Haemorhagic Fever (DHF). Model Kepercayaan Kesehatan
terhadap Pelaksanaan Imunisasi.
FKM UNAIR. Skripsi Tidak
Dipublikasikan

140
 
Jurnal Ners LENTERA, Vol. 4, No. 2, September 2016

Mowen & Minor, (2002). Perilaku


Konsumen. Edisi Kelima. Jilid 2.
Terjemahan. Jakarta: Penerbit
Erlangga, hal:229
Nadesul, H., (2007). Cara Mudah
Mengalahkan Demam Berdarah.
Jakarta: PT Kompas Media
Nusantara, hal: 9-12
Notoatmodjo, S., (2007). Promosi
Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
Jakarta: PT. Rineka Cipta, hal: 205-
207, 213-215
Sarwono, S., (2004). Sosiologi
Kesehatan. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, hal: 66-68
Setiadi, N.J., (2003). Perilaku
Konsumen: Konsep dan Implikasi
untuk Strategi dan Penelitian
Pemasaran. Edisi Pertama. Jakarta:
Prenada Media, hal: 272
Soegijanto, S., (2006). Degue
Haemorhagic Fever , edisi 2.
Surabaya: Airlangga University
Press, hal: 11-12, 45-48, 61-68, 85-
87, 133-139, 150-152
Sumarni, (2006). Kematian Degue
Haemorhagic Fever (DHF) dan
Pola Penyebarannya di Kabupaten
Lumajang. FKM UNAIR. Skripsi
Tidak Dipublikasikan

141