Você está na página 1de 14

TANTANGAN PENEGAKAN HAM DALAM ARUS POLITIK PRAKTIS DI INDONESIA

MAKALAH RESEARCH LIBRARY

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH HUKUM DAN HAM

OLEH:

ADITIYA PARLINDUNGAN SITORUS NIM 8111416331

MUHAMMAD HABIB MAULANA NIM 8111416117

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


SEMARANG 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur patut penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat, bantuan,
dan perlindungannya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan berbagai kendala yang ada.
Pentingnya pemahaman akan hak asasi tiap orang mendorong kami untuk membuat sebuah karya
dalam bentuk makalah yang dapat memberikan kita sekalian tambahan pengetahuan dan wawasan
tentang hak asasi manusia, perlu digarisbawahi bahwa hak-hak yang terdapat dalam HAM
merupakan hak tiap orang di muka bumi ini yang mana telah diberikan langsung oleh Tuhan ketika
orang tersebut dilahirkan, sedangkan pemerintah hanyalah membantu untuk mewujudkan dan
melindungi hak-hak tersebut dengan dibuatnya UU atau Landasan Hukum yang mengatur tentang
hak-hak manusia itu tadi. Dalam makalah ini penulis mencoba menuangkan teori-teori dan konsep-
konsep Hak Asasi Manusia (HAM) dan penegakannya di Indonesia dan beberapa negara lainnya
di dunia, dilengkapi juga dengan contoh kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia sendiri.
Harapannya makalah ini dapat menjadi bahan pembelajaran dan penambah pengetahuan bagi kita
yang nanti dapat memberikan pemahaman terkait dengan HAM itu sendiri, sehingga kita juga
dapat menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai salah satu nilai luhur bagi
kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat, serta kehidupan berbangsa dan bernegara. Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih belum bisa dikatakan sempurna sehingga penulis
mengharapkan adanya kritik serta saran dari pembaca untuk membangun dan mengembangkan
pengetahuan dan pemahaman kita semua. Namun meskipun dengan sejumlah kekurangan yang
ada penulis juga ingin berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam
penyusunan makalah ini, diantaranya Bapak Ignatius Adiwidjaja selaku dosen Pengantar Ilmu
Politik yang telah memberikan tugas ini kepada kami, juga kepada teman-teman yang mana telah
ikut membantu dalam menyelesaikan makalah ini, serta semua pihak yang terlibat baik secara
langsung maupun tidak langsung dalam proses penyelesaiannya. Mari dengan semangat
persaudaraan dan rasa cinta sesama kita junjung Hak Asasi Manusia untuk Indonesia yang lebih
bermoral.
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………... i

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………….ii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………..iii

DAFTAR GAMBAR………………………………………………………………………………3

BAB 1 : PENDAHULUAN…………………………………………………………………..…..1

Latar Belakang ……………………………………………………………………………………. 2

Rumusan Masalah …………………………………………………………………………………3

Metode Penelitian……………………………………………………………………………….….4

BAB 2 : PEMBAHASAN …………………………………………………………………………5

Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia……………………………………………………………5

Penegakkan pelanggaran HAM menurut pandangan Politik Indonesia………………..………10

Pandangan Politik tentang Hukum………………………………………………………….…....11

BAB 3 : Kesimpulan ……………………………………………………………………………….14

Kesimpulan ………………………………………………………………………………………...14

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………..15


BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia sebagai makhluk yang diistimewakan oleh Sang Pencipta sejatinya telah diberikan
hak asasi sejak ia lahir, hak-hak itu kian melekat seiring dengan perkembangannya, hak untuk
hidup, hak untuk berpendapat, dan hak untuk beragama merupakan beberapa contoh hak dasar
manusia yang tidak dapat diganggu apalagi dihilangkan oleh manusia lain bahkan dengan alasan
apapun dan mengatasnamakan jabatan apapun. Karena hak-hak tersebut adalah pemberian dari
Yang Maha Kuasa bukanlah pemberian negara atau pihak manapun, dengan dilatar belakangi oleh
hal tersebut menuntut setiap manusia untuk diperlakukan sama dalam setiap kesempatan, untuk
mendapat perlakuan selayaknya seorang manusia dari manusia lainnya yang sama-sama adalah
makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia.

Dalam Era Modernisasi ini, kita melihat begitu banyaknya manusia yang melanggar hak-
hak dasar manusia lainnya. Misalnya hak untuk hidup telah dilanggar dengan banyaknya manusia
yang mati karena pembunuhan, pemerkosaan, dan bahkan perang, hak untuk mendapat
pendidikan, kita bisa melihat betapa banyaknya putra-putri bangsa yang tidak bisa merasakan
manisnya pendidikan dengan berbagai alasan dari yang tidak sanggup dengan biaya yang begitu
tinggi sampai yang karena tidak tersedia lembaga pendidikan yang menunjang, begitu juga dengan
hak-hak lain. Maraknya pemberitaan pelanggaran HAM oleh media tv, koran, sampai media sosial
semuanya membuktikan bahwa perlunya penegakan HAM yang lebih serius. Karena dengan
memberikan setiap orang apa yang menjadi haknya merupakan sebuah keadilan.

Pembahasan Politik Hukum HAM di Indonesia tidak bisa terlepas dari kajian-kajian
bagaimana proses munculnya HAM dalam konstitusi. Selain itu, juga dipengaruhi oleh kasus-kasus
pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu. Hal ini karena bagaimanapun proses dimasukkanya
HAM dalam konstitusi sangat mempengaruhi pembentukan dan penegakan hak asasi manusia.
Begitu juga kasus-kasus di masa lalu yang telah menjadi hutang menuntut untuk dicari
penyelesainya, terutama yang sifatnya masif dan dilakukan oleh aparat yang dalam banyak kasus
merupakan pelanggaran HAM berat. Penyelesain tersebut dalam rangka untuk kepentingan
penegakan HAM di masa mendatang. Oleh karena itu, untuk menciptakan Poltik Hukum HAM di
Indonesia yang lebih responsive lebih dulu harus mengkaji perjalanan HAM di Indonesia melalu
penelusuran sejarah. Karena dengan penelusuran sejarah dapat mengetahui bagaimana konsep
HAM di masa lalu telah dibuat dan bagaimana seharusnya konsep HAM di masa lalu telah dibuat
dan bagaimana seharusnya konsep HAM itu dibuat untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Berbagai upaya untuk mewujudkan HAM dalam kehidupan nyata, sejak dahulu sampai sekarang,
tercermin dari perjuangan manusia dalam mempertahankan hak dan martabatnya dari tindakan
sewenang-wenang penguasa yang tiran. Timbulnya kesadaran manusia akan hak-haknya sebagai
manusia merupakan salah satu faktor penting yang melatarbelakangi dan melahirkan gagasan yang
kemudian dikenal sebagai HAM. Hak asasi manusia adalah hak-hak yang dimiliki manusia semata-
mata karena ia manusia. Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan kepadanya oleh
masyarakat atau berdasarkan hukum positif, melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya
sebagai manusia.

Rumusan Masalah

Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia?

Bagaimana cara penegakkan pelanggaran HAM menurut pandangan Politik Indonesia?

Bagaimana pandangan Politik tentang Hukum?

Metode Penulisan

Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis melakukan metode penelaahan melalui studi
pustaka untuk melengkapi materi atau data-data dalam penyusunan makalah ini. Penyusun
melakukan studi pustaka dari berbagai sumber buku.
BAB 2

PEMBAHASAN

Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia

Istilah HAM memiliki pengertian yang sama meski dalam bahasa yang berbeda. Dalam
bahasa Inggris, dikenal dengan human right atau fundamental right, sedangkan dalam bahasa
Perancis dikenal dengan des droits di I’homme (Parytno, 2004). Menurut Jan Materson,anggota
komisi HAM PBB memberi pengertian hak asasi manusia sebagai hak-hak yang bersifat
melekat(inherent), yang secara alamiah manusia tidak dapat hidup tanpa adanya hak-hak tersebut
(Ubaidillah, 2000). Pengertian yang lebih lengkap dapat kita temukan dalam UU Nomor 39 Tahun
1999 tentang Hak Asasi Manusia. Dalam pasal 1 UU tersebut menyebutkan bahwa, hak asasi
manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung
tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta
perlindungan harkat dan martabat manusia.

Di Indonesia masih banyak yang belum menyadari arti pentingnya perlindungan HAM di
bidang Politik, itu dibuktikan dengan masih banyaknya pelanggaran HAM di bidang politik. Salah
satu contoh pelanggaran HAM di bidang Politik adalah korupsi. Korupsi marak terjadi di Indonesia
dan sering juga terjadi di pemerintahan Indonesia. Contoh korupsi yang tejadi baru-baru ini
dilakukan oleh Menteri ESDM Jero Wacik. Pasti kalian sudah mendengar berita tentang korupsi
yang dilakukan oleh Jero Wacik di televisi. Jero Wajik disangka melanggar Pasal 12 E atau Pasal
3 Undang-Undang Pemberantasan Korupsi Juncto 421 KUHP.
GAMBAR 1.

GAMBAR 2.

Korupsi memakan uang rakyat, sedangkan uang untuk rakyat itu penting demi memajukan
bangsa Indonesia. Korupsi itu tidak baik dan tidak patut untuk di contoh karena korupsi merupakan
perbuatan yang tercela. Jika uang rakyat di korupsi oleh pemerintah, maka rakyat tidak ada dana
untuk berinvestasi pada kesehatan dan kesejahteraan. Korupsi sangat merugikan bangsa Indonesia.
Bidang kehidupan politik adalah bidang kehidupan yang mengusahakan memenuhi kebutuhan
hidup berkuasa dalam masyarakat. Bidang kehidupan ekonomi adalah bidang kehidupan yang
mengusahakan memenuhu kebutuhan hidup jasmani. Bagi Politik Hukum yang perlu dicatat ialah
bahwa perubahan bidang-bidang kehidupan selain perubahan hukum dapat mempengaruhi
perubahan bidang-bidang kehidupan yang lain.1 Memang sangat sulit untuk menegakkan HAM
dalam bidang politik, karena politik di Indonesia masih sangat bias dibeli dengan uang. Semua
tersangka yang terlibat dalam kasus korupsi seakan mendapat perlindungan dari pengadilan dan
semua pidana yang mereka dapat sangat diringankan. Dan semua tersangka koruptor malah
tertawa-tawa bahagia didepan media elektronik.

1
Abdul Latif, Politik Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2014, hlm.53
Penegakkan pelanggaran HAM menurut pandangan Politik Indonesia

Meskipun terbilang sulit untuk menegakkan kasus pelanggaran HAM, tetapi menrut
pandangan politik ada beberapa hal yang mengatur tentang HAM didalamnya. Di bidang politik
sendiri dikenal ada beberapa hak-hak, yaitu hak kebebasan bersuara, hak dipilih dan memilih dalam
pemilu, hak ikut serta dalam kegiatan pemerintah.

Hak memberikan suara atau memilih (right to vote) merupakan hak dasar(basic right) setiap
individu atau warga negara yang harus dijamin pemenuhannya oleh Negara. Ketentuan mengenai
ini, diatur dalam Pasal 1 ayat (2), Pasal 2 ayat (1), Pasal 6A (1), Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 22C (1)
UUD 1945.2 Perumusan sejumlah pasal tersebut sangat jelas bahwa tidak dibenarkan adanya
diskirminasi mengenai ras, kekayaan, agama dan keturunan. Sementara hak dipilih secara tersurat
diatur dalam UUD 1945 mulai Pasal 27 ayat (1) dan (2); Pasal 28, Pasal 28D ayat (3), Pasal 28E
ayat (3).3 Pengaturan ini menegaskan bahwa negara harus memenuhi hak asasi setiap warga
negaranya, khusunya dalam keterlibatan pemerintahan untuk dipilih dalam event pesta demokrasi
yang meliputi Pemilu, Pilpres dan Pilkada.

Menurut ketentuan Pasal 23 ayat (1) UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM dinyatakan
bahwa “Setiap orang bebas untuk memilih dan mempunyai keyakinan politiknya”. 4 Lebih lanjut
menurut ketentuan Pasal 43 ayat (1) UU ini, dinyatakan bahwa “Setiap warga negara berhak untuk
dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan
suara yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan”. Kedua ketentuan pasal di atas jelas menunjukkan adanya jaminan yuridis
yang melekat bagi setiap warga Negara Indonesia itu sendiri untuk melaksanakan hak memilihnya.

Pelaksanaan HAM bukanlah sesuatu yang bersifat absolut dan mutlak, sangat
dimungkinkan adanya ruang pembatasan untuk menjamin hak dan kebebasan orang lain serta
memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan,
dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. Hal ini ditegaskan dalam ketentuan
Pasal 28 J ayat (2) UUD 1945, dinyatakan bahwa “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya,
setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan Undang-Undang (UU)

2
Undang-undang Dasar 1945
3
Ibid
4
Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia
dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan
kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral,
nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis”.
Berdasarkan ketentuan Pasal 28 J ayat (2) di atas, jelas menunjukkan bahwa dalam menjalankan
hak dan kebebasannya, dimungkinkan adanya pembatasan. Pembatasan sebagaimana dimaksud
pada ketentuan pasal tersebut harus diatur dalam UU, artinya tanpa adanya pengaturan tentang
pembatasan tersebut maka tidak dimungkinkan dilakukannya pembatasan terhadap pelaksanaan
hak dan kebebasan yang melekat pada setiap orang dan warga negara Indonesia.Politik hukum
HAM adalah kebijakan hukum HAM (human rights legal policy) tentang penghormatan (to respect),
pemenuhan (to fulfill), dan perlindungan (to protect). Kebijakan ini bias dalam bentuk pembuatan,
perubahan, pemuatan pasal-pasal tertentu, atau pencabutan peraturan perundang-undangan.

Politik hukum HAM pada aspek penghormatan adalah kebijakan yang mengharuskan
negara untuk tidak mengambil langkah-langkah yang akan mengakibatkan individua tau kelompok
gagal meraih atau memenuhi hak-haknya. Sementara pemenuhan adalah negara harus mengambil
tindakan legislative, administratif, anggaran, yudisial atau langkah-langkah lain untuk memastikan
terealisasinya pemenuhan hak-hak. Sedangkan perlindungan adalah bagaimana negara melakukan
kebijakan guna mencegah dan menanggulangi dilakukannya pelanggaran sengaja atau pembiaran.

Menurut ketentuan Pasal 35 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000, Setiap korban


pelannggaran hak asasi manusia yang berat dapat memperoleh kompensasi, restitusi dan
rehabilitasi. Kompensasi, restitusi dan rehabilitasi ini dapat diberikan kepada ahli waris korban,
apabila korban meninggal dunia. Mengenai kompensasi, restitusi dan rehabilitasi ini harus
dicantumkan dalam amar putusan Pengadilan Hak Asasi Manusia. Selanjutnya menurut
penjelasan Pasal 35 Undang-Unda ng Nomor 26 Tahun 2000.5

5
Rozali Abdullah, Perkembangan Hak Asasi Manusia dan Keberadaan Peradilan Hak Asasi Manusia Di
INDONESIA, Ghalia Indonesia, Bogor, 2001, hlm 57
Pandangan Politik tentang Hukum

Politik hukum di negara yang mendasarkan pada ideologi sosialis tentu akan berbeda
dengan politik hukum negara kapitalis. Demikian pula politik hukum negara demokrasi akan
berbeda dengan politik hukum negara diktator. Pada negara demokrasi, politik hukum akan lebih
membuka kesempatan pada masyarakat untuk berpartisipasi menentukan corak dan isi politik
hukum. Sebaliknya, negara diktator akan menghindari keikutsertaan masyarakat dalam penentuan
corak dan isi politik hukum karena kuatnya peran dominan penguasa negara. Sedangkan politik
hukum temporer adalah kebijaksanaan yang ditetapkan dari waktu ke waktu sesuai dengan
kebutuhan, termasuk penentuan prioritas pembentukan peraturan perundang-undangan. Contoh
politik hukum semacam ini adalah penghapusan sisa-sisa peraturan perundang-undangan kolonial,
pembaharuan peraturan perundang-undangan di bidang ekonomi, dan lain-lain. Seperti halnya
pengertian politik hukum, para ahli hukum juga memberikan pendapat yang berbeda mengenai
ruang lingkup politik hukum. Bagir Manan, misalnya, menjelaskan bahwa terdapat dua lingkup
utama politik hukum, yaitu politik pembentukan hukum dan politik penegakan hukum.

Dalam perspektif keilmuan, Mahfud MD menjelaskan secara menarik dan menggunakan


metaforis tentang letak politik hukum. Politik hukum dalam studi ilmu hukum dapat ditemukan
dalam pohon ilmiah hukum. Jika pohon ilmiah hukum terdiri atas; akar ilmu hukum,
batang/pohon ilmu hukum, cabang ilmu hukum, ranting ilmu hukum, dan seterusnya. 6 Politik
hukum di Indonesia adalah kebijakan dasar penyelenggara negara (Republik Indonesia) dalam
bidang hukum yang akan, sedang dan telah berlaku, yang bersumber dari nilai-nilai yang berlaku,
yang bersumber dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat untuk mencapai tujuan negara
(Republik Indonesia) yang dicita-citakan.

Tujuan politik hukum nasional meliputi dua aspek yang saling berkaitan: (1) Sebagai suatu
alat (tool) atau sarana dan langkah yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk menciptakan suatu
sistem hukum nasional yang dikehendaki; dan (2) dengan sistem hukum nasional itu akan
diwujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang lebih besar. Sistem hukum nasional merupakan
kesatuan hukum dan perundang-undangan yang terdiri dari banyak komponen yang saling
bergantung, yang dibangun untuk mencapai tujuan negara dengan berpijak pada dasar dan cita
hukum negara yang terkandung di dalam Pembukaan dan Pasal-pasal UUD 1945.Sebelum sampai
pada pembahasan mengenai bagaimana politik hukum penegakan Hak Asasi Manusia

6
HM. Wahyudin Husein, Hukum Politik & Kepentingan, LaksBang PRESSindo, Yogyakarta, 2008, hlm. 15
khususnyaterkait dengan pelanggaran HAM yang beratmaka terlebih dahulu perlu untuk difahami
apakah yang dimaksud dengan politik hukum. Secara etimologis, istilah politik hukum merupakan
terjemahan Bahasa Indonesia dari istilah hukum Belanda rechtspolitiek, yang merupakan
rumusandari dua kata yaitu recht dan politiek. Dalambahasa Indoensia recht berarti hukum. Adapun
politiek mengandung arti beleid .Kata beleid dalam bahasa Indonesia berartikebijakan (policy).

Dari penjelasan tersebutbisa dikatakan bahwa politik hukum secarasingkat berarti kebijakan
hukum.Politik hukum merupakan kebijakandasar yang menentukan arah, bentuk maupunisi dari
hukum yang dibentuk. Pengertiantersebut merupakan definisi yang diberikanoleh Padmo
Wahjono. AdapunTeuku Mohammad Radhie mendefinisikanpolitik hukum sebagai pernyataan
kehendakpara penguasa negara mengenai hukumyang berlaku di wilayahnya, dan mengenai arah
perkembangan hukum yang dibangun.7

The exce`s de povoir mechanism control can work well in an organizedpolitical-legal system,
which a hierarchical control system equipped with an effective compulsory jurisdiction to review
allegations of excessive jurisdiction and to decide impartiality the alleged nullity of the award.11
Unfortunately, in the international context, there is no such permanent and effective hierarchical
structure. International arbitration lacks set of bureaucratic institutions to perform its control
functions.12 Therefore, national judiciary might conduct such control mechanism. The idea of
judicial control, as a control mechanism, over arbitral award derives from a different approach
between finality and fairness goals. Freeing awards from judicial challenge promotes finality while
enhancing fairness calls for some measure of court supervision. Arbitration’swinner looks for

finality, while the loser wants careful judicial.8

7
Zunnuraeni,“ POLITIK HUKUM PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA DALAM KASUS
PELANGGARAN HAM BERAT”, Jurnal Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran Bandung, Vol 1 No 2,
Agustus 2013, hlm 358.
8
Winner Sitorus,“ JUDICIAL CONTROL OF FOREIGN ARBITRAL AWARDS IN INDONESIA”,
Indonesian Journal of International Law Faculty of Law, Hasanuddin University, Vol 14 No 4, July 2017, hlm
546.
Dalam UUD 1945 sebelum perubahan, dapat dikatakan memberikan jaminan hak asasi
manusia kepada warga negara terhadap 7 hal: (1) hak atas persamaan kedudukan dalam hukum
dan pemerintahan (Pasal 27 ayat 1), (2) ha katas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan (Pasal 27 ayat 2), (3) kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran
dengan lisan dan tulisan dan sebagainya (Pasal 28), (4) kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya
itu (Pasal 29 ayat 2), (5) hak ikut serta dalam usaha pembelaan negara (Pasal 30 ayat 1).9

9
Hasyim Asy’ari, “Politik Hukum Kebebasan Beragama di Indonesia”, Jurnal Ilmu Hukum Pandecta
Universitas Negeri Semarang, Vol. 6, Juli 2011, hlm. 325.
BAB 3
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang penulis kemukakan sebelumnya maka dapat diambil


kesimpulan sebagai berikut :
1. Pembentukan lembaga lembaga negara merupakan suatu proses politik hukum. Jika dikaitkan
dengan berbagai devinisi politik hukum yang ada, sangat jelas bahwa gagasan atau konsep
pembentukan lembaga baru yang direalisasikan melalui pembuatan hukum baru sebagai dasar
legalitas, dengan tujuan pencapaian tujuan negara adalah merupakan satu paket yang tak
terpisahkan dalam politik hukum.
2. Di negara Indonesia, ada beberapa hal yang menjadi inti dan mempengaruhi banyaknya
pembentukan lembaga-lembaga baru yang bersifat independen, diantaranya sebagai berikut :
a. Tidak adanya kredibilitas lembaga-lembaga yang telah ada akibat asumsi (dan bukti) mengenai
korupsi yang sistematik dan mengakar dan sulit untuk diberantas.
b. Tidak independennya lembaga-lembaga negara yang ada karena satu atau lain halnya tunduk
dibawah pengaruh satu kekuasaan negara atau kekuasaan lain.
c. Ketidakmampuan lembaga-lembaga negara yang telah ada untuk melakukan tugas-tugas yang
urgen dilakukan dalam masa transisi demokrasi karena persoalan birokrasi dan KKN.
d. Pengaruh global, dengan pembentukan yang dinamakan auxiliary state agency atau watchdog
institutions dibanyak negara yang berada dalam situasi transisi menuju demokrasi telah menjadi
suatu kebutuhan bahkan suatu keharusan sebagai alternatif dari lembaga-lembaga yang ada yang
mungkin menjadi bagian dari sistem yang harus direformasi
e. Tekanan lembaga-lembaga internasional tidak hanya sebagai prasyarat untuk memasuki pasar
global, tetapi juga untuk membuat demokrasi sebagai satu-satunya jalan bagi negara-negara yang
asalnya berada dibawah kekuasaan yang otoriter.
DAFTAR PUSTAKA

Latif Abdul. (2014). POLITIK HUKUM. Jakarta:PT Sinar Grafika.

Abdullah Rozali. (2004). PERKEMBANGAN HAM DAN KEBERADAAN PERADILAN HAM DI


INDONESIA. Bogor :Ghalia Indonesia.
Husein Wahyudin. (2008). HUKUM, POLITIK & KEPENTINGAN. Yogyakarta: PT LaksBang PRESSindo.

Lestari, dkk. (2013). HIMPUNAN LENGKAP UNDANG-UNDANG TENTANG HAK ASASI MANUSIA.
Yogyakarta :Buku Biru.
Undang Undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
Zunnuraeni. (2013).“ POLITIK HUKUM PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA DALAM
KASUSPELANGGARAN HAM BERAT”, Bandung: Jurnal Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran.
Vol. 1 No. 2, hlm 358.

Winner Sitorus. (2017).“ JUDICIAL CONTROL OF FOREIGN ARBITRAL AWARDS IN INDONESIA”,


Indonesian Journal of International Law Faculty of Law Hasanuddin University. Vol. 14 No. 4, hlm.
546.

Hasyim Asy’ari. (2011). “POLITIK HUKUM KEBEBASAN BERAGAMA di INDONESIA”, Semarang: Jurnal
Ilmu Hukum Pandecta Universitas Negeri Semarang. Vol. 6, hlm. 325.