Você está na página 1de 34

DESAIN PENELITIAN DAN PROPOSAL PENELITIAN

Makalah
Metoda Penelitian Akuntansi

DosenPengampu:
Wawan Sadtyo Nugroho, S.E., M.Si., Ak., C.A.

DisusunOleh:
Riana Anggraeni Afifah 15.0102.0152
Dian Novita Sari 15.0102.0174
Ferdan Dwi Jatmiko 15.0102.0189

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PRODI AKUNTANSI


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

BAB II
PEMBAHASAN

1. DESAIN PENELITIAN

Pengertian Desain Penelitian Desain adalah rancangan bentuk atau model.


Jadi pengertian design penelitian adalah suatu rancangan bentuk atau model suatu
penelitian. Desain penelitian mempunyai peranan yang sangat penting, karena
keberhasilan suatu penelitian sangat dipengaruhi oleh pilihan terhadap desain
ataupun model penelitian. Desain penelitian bagaikan sebuah peta jalan bagi peneliti
yang menuntun serta menentukan arah berlangsungnya proses penelitian secara benar
dan tepat sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, tanpa desain yang benar
seorang peneliti tidak akan dapat melakukan penelitian dengan baik karena yang
bersangkutan tidak mempunyai pedoman arah yang jelas. Dalam menyusun strategi
penelitian, seorang peneliti harus memperhatikan tiga tipologi design penelitian
berikut ini:
1.Survey design (desain survei)
2. Case-study design (desain studi kasus),
3. Experimental design (desain eksperimen).
Ketiga tipologi tersebut dilakukan dengan mengambil sampel diantara
populasi yang ada. Tentunya akan berbeda, kalau populasi diambil sebagai
responden. Apabila seluruh populasi diambil, maka hal tersebut disebut sensus.
Sensus adalah pendataan terhadap seluruh populasi mengenai informasi tertentu.
Misalnya, sensus nasional yang diselengggarakan oleh Biro Pusat Statistik.
a. Desain Survei
Desain survei dikenal dalam penelitian ilmu-ilmu sosial yang dilakukan
dengan mengambil sampel dari suatu populasi. Pengambilan sampel dilakukan
dengan wawancara terstruktur dengan mendatangi tempatnya masing-masing.
Dengan memperhatikan pengertian tersebut, maka design penelitian survei berarti,
suatu perancangan penelitian dengan tujuan melakukan pengujian yang cermat dan
teliti terhadap suatu obyek penelitian berdasarkan suatu situasi ataupun kondisi
tertentu dengan melihat kesesuaiannya dengan pernyataan ataupun nilai tertentu yang
diakui dan diamati dengan cermat dan teliti.
b. Desain Studi
Kasus Penelitian dengan design studi kasus dilakukan dengan observasi secara
mendalam terhadap suatu obyek penelitian yang dipilih dari beberapa keadaan yang
dianggap keduanya sama. Meskipun beberapa keadaan dianggap sama, tetapi
kesimpulan yang diambilnya tidak boleh digeneralisasi sebagai kesimpulan secara
menyeluruh terhadap kasus-kasus yang dianggap sama. Penelitian dengan
pendekatan ini berusaha memotret sebagaimana adanya, sedetail mungkin, dan
selengkap mungkin untuk selanjutnya dianalisis dan disimpulkan sebagai
penggambaran suatu situasi dianggap sama tersebut. Sebagai contoh, penelitian
dengan masalah perilaku kehidupan sex para penghuni penjara laki-laki. Penelitian
mengambil contoh kasus kehidupan salah satu penjara. Peneliti mengadakan
pengamatan secara mendalam kehidupan mereka sehari-hari, dianalisis, dismpulkan,
dan dilaporkan berdasarkan pendekatan tersebut. Kesimpulan dari studi tersebut,
memberikan gambaran secara menyuluruh mengenai suatu kasus yang mungkin akan
sama dengan kehidupan penjara lain diseluruh Indonesia. Biasanya pemilihan contoh
kasus tersebut dapat diwakili oleh situasi contoh kasus yang digunakan.
c. Desain Eksperimen
Pengertian eksperimen adalah pengujian apakah ssuatu obyek penelitian
sesuai (cocok) dengan kondisi tertentu yangtelah terjadi atau sesuai dengan syarat-
syarat tertentu. Dalam penelitian semacam ini, obyek yan diteliti biasanya belum
diketahui dengan pasti sebagaimana pengaruhnya apabila diterapkan pada suatu
keadaan ataupun persyaratan tertentu. Sebagai contoh, suatu obat dengan dosis
orang-orang barat (yang secara pisik lebih besar) mungkin akan berbeda dosisnya
dengan orang-orang Indonesia yang relatif lebih kecil badannya. Distributor obat
oerlu menguji apakah dosis yang telah ditetapkan bagi ukuran orang-orang Barat
sesuai dengan orang-orang Indonesia. Pengujian ini perlu dilakukan agar sampai
jangan sampai obat tersebut menimulkan efek samping yang jauh lebih berbahaya
dibandingkan sama sekali tidak meminum obat tersebut. Adapun langkah-langkah
desain penelitian yang harus diperhatikan diantaranya:
1. Judul atau topik penelitian Sangat disarankan bersifat singkat dan spesifik
2. Pertanyaan atau masalah penelitian Pertanyaan berdasarkan minat atau
kecenderungan yang diambil dari persoalan yang dibahas
3. Tinjauan penelitian Berisi tentang tataran lebih abstrak dari persoalan yang
diteliti
4. Telaah Pustaka Kajian yang bersifat kritis atau jelajahan (buku-buku, jurnal
ilmiah, laporan penelitian) mengenai beberapa hal, misalnya penjelasan
mengenai konsep pokok yang digunakan, serta temuan penelitian lain tentang
topik yang sejenis.
5. Metodologi Strategi penelitian yang ditempuh, teknik pengumpulan data, dan
teknik analisis data
6. Daftar pustaka Sumber yang diambil dari buku, jurnal ilmiah, berbagai bentuk
penerbitan, dan internet.
Tujuan dan Manfaat Desain Penelitian
Tujuan desain penelitian Studi kasual untuk menjelaskan hubungan sebab-
akibat (menjawab pertanyaan apakah dan mengapa) atau berusaha untuk menjelaskan
hubungan-hubungan antara variabel. Studi korelasional yang bertujuan untuk
mengidentifikasi adanya hubungan antara variabel yang diteliti (menjauh pertanyaan
sejauh mana pengaruh). Studi deskriptif yang bertujuan untuk mencari tantang siapa,
apa, dimana, bilamana, dan berapa banyak.
Manfaat desain penelitian Terkait dengan identifikasi dan atau
pengembangan prosedur dan pengaturan logistik yang diperlukan dalam kerja
penelitian. Menekankan pada pentingnya kualitas prosedur-prosedur tersebut dalam
kaitannya dengan validitas, obyektifitas, dan keakuratan kerja penelitian.
2. PROPOSAL PENELITIAN
Suatu proposal penelitian adalah suatu usulan penelitian yang diajukan oleh
seseorang atau suatu badan/perusahaan/organisasi untuk menghasilkan suatu output
tertentu atau memberikan jasa penelitian kepada sponsor/pendukung. Usulan
penelitian dikenal sebagai rencana kerja, prospectus, skema (outline), pernyataan
maksud yang berisikan apa yang akan dilakukan, mengapa suatu penelitian
dilakukan, bagaimana hal itu dilakukan, di mana hal itu dilakukan, terhadap siapa hal
itu dilakukan, dan manfaat apa yang akan didapat dari apa yang dilakukan.
Sedangkan maksud proposal penelitian adalah:
1. Untuk merumuskan masalah apa yang akan diteliti dan mengapa masalah
tersebut penting.
2. Untuk mengkaji upaya penelitian-penelitian lain yang telah dilakukan penelitian
dalam masalah serupa.
3. Untuk menguraikan jenis data yang diperlukan dalam penyelesaian masalah dan
bagaimana metode pengumpulan data, pengolahan data, dan menganalisisnya.

2. JENIS PROPOSAL PENELITIAN


Proposal penelitian beraneka ragam dari segi isi, kompleksitas, dan panjang
proposal. Dari sudut pandang manajer, proposal dapat berasal dari dalam perusahaan
(internal) maupun dari luar perusahaan (eksternal). Proposal internal biasanya
dilakukan oleh staf perusahaan atau bagian litbang (penelitian dan pengembangan).
Proposal eksternal umumnya kompetitif dan disponsori oleh pihak luar
organisasi/perusahaan, seperti lembaga pemerintah, negara, donor, lembaga
internasional, lembaga swadaya masyarakat, ataupun perusahaan. Demikian pula di
mana proposal tersebut dipergunakan juga dapat dibagi menjadi internal dan
eksternal.
Proposal yang satu dengan yang lain dapat berbeda baik dari isi,
kompleksitas, maupun panjangnya. Beberapa faktor seperti permasalahan, tujuan
penelitian, konsumen penelitian, dan peneliti, juga menambah ragam proposal yang
dipersiapkan. Perencanaan penelitian bisa merupakan perencanaan yang ringkas
(misalnya, proposal untuk penelitian internal dalam suatu perusahaan), atau dapat
juga panjang dan formal (misalnya, proposal yang diajukan untuk lembaga
pemerintah dan swasta).
Tabel 1. Kompleksitas Proposal

Tabel 2. Isi Proposal: Perbandingan Proposal Berorientasi Manajemen dan


Proposal Mahasiswa
2.1. Proposal Internal
Proposal internal yang kebanyakan dibuat oleh sebuah perusahaan pada
umumnya lebih ringkas dibandingkan dengan proposal eksternal. Untuk menyusun
proposal studi skala kecil, tinjauan pustaka dan bibliografi dapat dicantumkan secara
singkat dalam desain penelitian. Anggaran dan jadwal penelitian diperlukan untuk
memperoleh dana. Sedangkan ringkasan eksekutif biasanya dicantumkan pada semua
jenis proposal kecuali proposal yang paling sederhana.
2.2. Proposal Eksternal
Jenis proposal eksternal dapat dibedakan menjadi proposal pesanan dan
proposal bukan pesanan. Proposal pesanan biasanya harus melalui sebuah persaingan
untuk mendapatkan kontrak atau dana dengan proposal yang diajukan pihak lain.
Proposal bukan pesanan menggambarkan saran dan anjuran peneliti untuk
sebuah penelitian yang mungkin akan dilaksanakan. Keuntungan proposal bukan
pesanan adalah tidak perlu bersaing dengan proposal lain, tetapi kerugiannya adalah
peneliti harus berspekulasi pada percabangan pilihan manajemen yang dihadapi oleh
manajemen sebuah perusahaan.
Bagian yang paling penting pada proposal eksternal adalah tujuan, desain,,
kualifikasi peneliti, jadwal, dan anggaran. Dalam penelitian kontrak, bagian tujuan
penelitian dan hasil penelitian merupakan standar yang harus ada dalam proposal.
Ringkasan eksekutif proposal eksternal dapat dimasukkan ke dalam kata pengantar.

3. MANFAAT PROPOSAL
Penyusunan proposal penelitian, merupakan tahap kritis dalam pelaksanaan
penelitian. Proposal penelitian, atau sering disebut sebagai perencanaan penelitian,
merupakan deskripsi terperinci dari desain studi yang akan dilakukan untuk
menjawab permasalahan yang ada.
Proposal penelitian juga merupakan komunikasi formal antara manajer (pihak
yang meminta proposal) dengan peneliti (pihak yang membuat proposal).
3.1. Manfaat Bagi Peneliti
Suatu usulan penelitian lebih bermanfaat bagi peneliti pemula maupun
mahasiswa daripada sponsor. Namun ini tidak mengurangi relevansi penelitian bagi
sponsor. Bagi mahasiswa atau peneliti pemula adalah mutlak untuk membantu suatu
kerangka kerja yang menuntunnya melalui langkah-langkah kerja yang diperlukan
untuk mencapai tujuan dalam penelitian tersebut.
1. Persamaan Persepsi Permasalahan
Proposal penelitian yang telah mendapat persetujuan manajer, menunjukkan
bahwa sudah terdapat persamaan persepsi tentang permasalahan penelitian antara
peneliti dengan manajer. Dengan demikian peneliti sudah dapat meyakinkan diri
bahwa permasalahan yang akan diselidiki adalah permasalahan yang diinginkan
oleh manajer untuk diselidiki. Dalam hal ini tidak ada perbedaan apakah peneliti
tersebut adalah staf ahli perusahaan, ataukah berasal dari lembaga penelitian di
luar perusahaan. Fungsi dari penelitian bisnis adalah menyediakan informasi
yang berharga bagi manajer untuk kepentingan pengambilan keputusan. Apabila
permasalahan yang akan diselidiki bukan merupakan permasalahan yang
diinginkan untuk diselidiki oleh manajer, maka penelitian tersebut tidak ada
nilainya bagi manajer. Penelitian yang tidak ada nilainya bagi manajer sangat
logis kalau tidak akan disetujui untuk dilaksanakan. Persamaan persepsi
permasalahan antara peneliti dan manajer merupakan hal yang sangat penting
sebelum penelitian dilaksanakan, dan hal ini dapat dilihat melalui proposal yang
disusun oleh peneliti.
2. Orientasi Penelitian Keseluruhan
Penulisan proposal membuat peneliti harus berfikir secara kritis tentang seluruh
aspek penelitian sebelum melakukan penelitian. Salah satu penyebab kegagalan
penelitian yang umum dari para peneliti pemula adalah, peneliti belum mampu
berfikir tentang seluruh aspek penelitian. Dengan menyusun proposal terlebih
dahulu sebelum melaksanakan penelitian, peneliti menjadi lebih mampu melihat
ke seluruh aspek penelitian. Data apa saja yang harus dikumpulkan, metode
analisis yang akan dipergunakan, serta waktu dan anggaran penelitian semuanya
dapat dipersiapkan dan dapat diketahui dalam proposal penelitian.
3. Pedoman Pelaksanaan Penelitian
Proposal penelitian yang telah disetujui oleh manajer dapat dipergunakan sebagai
perencanaan studi dan menjadi pedoman pelaksanaan studi. Dari proposal
penelitian, diketahui kegiatan apa saja yang akan dilakukan baik dari jenis
kegiatan maupun waktu pelaksanaan kegiatan. Dengan demikian, peneliti dapat
menggunakan proposal yang sudah disusun sebagai pedoman pelaksanaan
penelitian.
4. Kejelasan Kegiatan Penelitian
Dengan menggunakan proposal yang baik, kegiatan penelitian yang akan
dilakukan menjadi lebih jelas. Kegiatan yang tidak diperlukan sesuai dengan
yang tercantum di dalam proposal. Dengan menggunakan proposal, efisiensi
waktu penelitian dapat ditingkatkan, kemungkinan kesalahan penelitian dapat
dikurangi, dan pada umumnya akan menghasilkan kualitas penelitian yang lebih
tinggi.
5. Kemudahan Evaluasi Penelitian
Proposal akan memudahkan evaluasi penelitian yang diusulkan baik bagi peneliti
maupun pihak lain yang terkait. Peneliti menjadi lebih tahu tentang apa saja yang
akan dilakukannya dalam penelitian. Dari proposal penelitian dapat diketahui
kegiatan apa saja yang harus, tidak perlu, atau tidak mungkin dapat dilaksanakan.
Pembimbing penelitian, konsumen penelitian, serta pihak lain yang terkait
(misalnya berhubungan dengan perijinan penelitian), dapat mengetahui kegiatan
apa saja yang akan dilakukan oleh peneliti dan dapat memberikan saran atau
koreksi sesuai dengan fungsi dan kepentingan masing-masing.
6. Proteksi Pelaksanaan Penelitian
Proposal dapat memberikan perlindungan dari “campur tangan” pihak lain ketika
penelitian sedang berlangsung. Proposal yang sudah disusun dan disetujui
berbagai pihak yang terkait dapat menjadi “pelindung” peneliti dari permintaan
perubahan kegiatan penelitian. Perubahan ataupun penambahan kegiatan
penelitian menjadi tidak jelas arahnya. Dari sisi waktu, perubahan ini dapat
mengakibatkan tertundanya penyelesaian penelitian. Dengan menunjukkan
proposal, campur tangan dari berbagai pihak lain dapat dihindarkan, karena apa
yang diminta tidak tertulis dalam proposal.
7. Persetujuan Peneliti dan Manajer
Proposal dapat juga berfungsi sebagai dokumen persetujuan antara peneliti
dengan manajer. Kadang terjadi bahwa manajer mempunyai harapan yang
berlebihan kepada hasil studi yang dilaksanakan. Dari proposal akan diketahui
batasan sejauh mana informasi yang akan diperoleh manajer, sehingga akan dapat
mengurangi harapan yang berlebihan dari manajer.
3.2. Manfaat bagi Manajer
1. Jaminan Kualitas Peneliti
Proposal penelitian dapat menjadi jaminan bahwa peneliti sudah mengetahui
dengan benar tentang masalah yang dihadapi manajer dalam perusahaan.
Permasalahan yang akan diteliti tertulis dengan jelas dalam perumusan masalah.
Demikian pula dengan perkiraan hasil studi telah terangkum dalam proposal.
Apabila peneliti belum mempunyai pengertian yang benar tentang permasalahan
yang dihadapi manajer, di mana hal ini akan dapat terlihat dari perumusan
masalah dalam proposal, atau proposal penelitian yang diajukan tidak
memberikan informasi yang diinginkan oleh manajer, maka peneliti tersebut
dapat diberhentikan sama sekali.
2. Persetujuan Metode Penelitian
Manajer dapat melihat dan mempelajari metode dan teknik penelitian yang
diusulkan oleh peneliti. Jika manajer berpendapat bahwa metode dan teknik yang
dipergunakan tidak sesuai dengan kepentingan manajer, ia bisa memberikan
saran kepada peneliti tentang metode dan teknik yang lebih tepat untuk
dipergunakan dalam penelitian ini. Dengan demikian, metode dan teknik
penelitian dapat disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi manajer atas
permintaan manajer sebelum penelitian dilakukan.
3. Kendali Penelitian
Apabila proposal penelitian telah diterima dan disetujui manajer, proposal
tersebut akan menjadi pernyataan resmi dari peneliti tentang apa yang akan
diperoleh manajer dari penelitian yang dilaksanakan. Dalam hal penelitian
dilakukan oleh lembaga penelitian di luar perusahaan, proposal ini akan berfungsi
sebagai kendali pelaksanaan penelitian, sehingga manajer akan dapat
memperoleh hasil penelitian dengan menggunakan metode dan teknik sesuai
dengan apa yang tertulis dalam proposal.
4. Prioritas Penelitian
Proposal akan sangat membantu manajemen dalam melakukan penyusunan nilai
relatif dari masing-masing usulan penelitian sehingga dapat disusun daftar
preferensi penelitian. Daftar ini sangat penting bagi manajer, terutama dalam
hubungannya dengan kendala waktu dan dana yang tersedia untuk penelitian,
untuk memilih penelitian yang harus dilaksanakan terlebih dahulu, yang dapat
ditunda, atau bahkan tidak perlu dilakukan.
5. Penilaian Informasi
Dalam rangka penentuan biaya penelitian yang akan dikeluarkan oleh
manajemen, nilai informasi penelitian merupakan masukan yang sangat penting.
Apalagi kalau usulan penelitian ini dilakukan oleh lembaga penelitian yang
berada di luar perusahaan, manajemen perlu menentukan seberapa besar batas
anggaran penelitian yang diperlukan.
4. STRUKTUR PROPOSAL PENELITIAN
1. Halaman Judul
Judul penelitian sebaiknya disusun ringkas-padat dan menarik. Judul seringkali
bersifat tentative, yang bisa saja berubah sesuai hasil penelitian. “Ringkas-padat”
mengandung arti judul harus mencerminkan hakekat penelitian dan informative
bagi pembaca, sponsor, ataupun dosen pembimbing “Menarik” mengandung arti
bahwa topik ini layak dan perlu diteliti.
2. Ringkasan Eksekutif (executive summary)
Ringkasan eksekutif diperlukan untuk penelitian eksternal yang dibiayai oleh
sponsor. Pada dasarnya, ringkasan eksekutif merupakan salah satu bentuk lain
dari usulan penelitian yang disajikan secara singkat dan padat sehingga
memungkinkan bagi para sponsor untuk mengetahui maksud dan tujuan secara
cepat dan tepat.
Isi dari ringkasan antara lain:
 Rumusan singkat masalah
 Rumusan singkat tujuan penelitian/pernyataan penelitian
 Rumusan singkat mengenai metodologi yang digunakan
3. Latar Belakang
Latar belakang berisi uraian singkat mengenai “lingkungan” di seputar masalah
yang akan diteliti. Lingkungan tersebut bisa meliputi: (1) peristiwa tertentu yang
menyebabkan penyusunan proposal diperlukan; (2) belum tuntasnya literatur
dalam menjawab permasalahan atau fenomena tertentu.
4. Rumusan Masalah
Bagian ini merupakan hal yang penting untuk mendapatkan perhatian, sebab
bagian ini sebenarnya merupakan pintu bagi para pembacanya untuk dapat masuk
ke bagian selanjutnya. Oleh karena itu, bagian ini harus ditulis dengan semenarik
mungkin. Namun juga harus diperhatikan susunan paragrafnya, agar suatu
permasalahan dapat diuraikan secara runtut dan fokus dengan dihasilkannya kata
akhir suatu permasalahan yang dapat ditangkap dan dimengerti oleh pembaca
secara jelas.
5. Tujuan Penelitian
Bagian ini menjabarkan secara jelas apa saja yang direncanakan untuk dilakukan
dalam usulan penelitian. Dalam studi deskriptif, tujuan-tujuannya dapat
dirumuskan sebagai pertanyaan peneliti, kemudian pertanyaan peneliti tadi dapat
diperinci menjadi pertanyaan penyelidikan. Apabila usulannya mengenai studi
kausal, maka tujuannya dapat dinyatakan secara umum sebagai hipotesis.
6. Studi Pustaka
Bagian ini melihat kembali semua penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya
ataupun yang sedang dilakukan, yang memiliki hubungan dengan penelitian yang
akan dilakukan ini. Pengumpulan tersebut meliputi berbagai hal seperti, data-
data, laporan, dan hasil. Pembahasan dalam bagian ini sebaiknya dimulai dengan
membahas mengenai kepustakaan yang berkaitan dan data sekunder yang relevan
dari sudut perspektif yang komprehensif, kemudian baru pada kajian-kajian yang
lebih khusus yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi. Jika
permasalahan memiliki latar belakang historis, maka harus dimulai dengan
rujukan-rujukan yang paling awal.
7. Manfaat Penelitian
Penekanan pentingnya dilakukan penelitian ini dapat dijabarkan dalam bagian
ini. Biasanya bagian ini hanya terdiri dari beberapa paragraf saja. Bagian penting
penelitian ini khususnya diperlukan bagi proposal atas permintaan sponsor.
8. Desain Penelitian
Desain penelitian menggambarkan apa yang akan dilakukan oleh peneliti dalam
terminologi teknis. Dalam hal ini harus mencakup antara lain tahapan yang akan
dilakukan, informasi mengenai cara penarikan sampel bila diperlukan survei,
berapa besarnya sampel, metode pengumpulan data, instrumen penelitian, dan
prosedur teknis penelitian lainnya.
9. Analisis Data
Dalam bagian ini perlu dijabarkan mengenai metode yang direncanakan dan
dasar teoritis untuk memakai teori tersebut (dalam analisis data). Dari penjelasan
ini dapat meyakinkan sponsor bahwa peneliti menggunakan asumsi yang sesuai
dan memakai prosedur analisis data yang sesuai menurut teori maupun studi yang
pernah dilakukan. Dalam menjelaskan maksud analisis data ini, dapat digunakan
beberapa trik pendukung, misalnya penggunaan grafik dan contoh tabel.
10. Bentuk Laporan
Format laporan yang akan ditampilkan sebagai bentuk akhir penyampaian hasil
penelitian juga perlu dijelaskan dalam usulan penelitian ini. Bagian ini juga
memuat antara lain kesimpulan statistik, hasil temuan, dan sebagainya yang
merupakan contoh dari bentuk hasil.
11. Kualifikasi Penelitian
Latar belakang peneliti perlu dijelaskan dalam usulan penelitian. Dengan
demikian, pada bagian ini akan menyebutkan siapa saja yang terlibat dalam
pelaksanaan proses penelitian ini. Alangkah baiknya apabila disertai dengan data
pribadi atau curriculum vitae dari peneliti. Seberapa jauh kualifikasi, latar
belakang pendidikan, pengalaman masing-masing anggota tim peneliti perlu
ditonjolkan.
12. Anggaran
Penyusunan anggaran sangat diperlukan dalam rangka pendanaan penelitian.
Dalam penelitian harus diketahui secara benar pos-pos apa saja yang dianggarkan
dalam pelaksanaan penelitian. Hendaknya dalam penyusunan anggaran ini
memegang teguh unsur kebenaran.
13. Jadwal
Jadwal ini perlu dibuat untuk memperlihatkan gambaran mengenai kapan dan
berapa lama jangka waktu yang diperlukan untuk melaksanakan setiap langkah
dalam penelitian. Di sisi lain, jadwal ini merupakan dead line (target waktu) bagi
peneliti yang bersangkutan untuk dapat melaksanakan dan menyelesaikan
penelitian. Jadwal dapat ditampilkan dalam bentuk diagram atau tabel waktu.
14. Daftar Pustaka
Semua bagian penelitian memerlukan relevansi atau kepustakaan dari banyak
sumber. Salah satu cara untuk dapat mempertanggungjawabkan penggunaannya
dan menghindari unsur penjiplakan, maka diperlukan daftar pustaka.
15. Lampiran
Lampiran ditujukan untuk memuat hal-hal yang perlu dijelaskan dalam
penelitian. Hal ini dilakukan karena apabila hal-hal ini dicantumkan dalam
bagian utama usulan penelitian akan banyak memakan tempat dan tampilannya
menjadi tidak menarik. Oleh karena itu, disediakan tempat khusus untuk
memuatnya. Lampiran dapat meliputi daftar istilah, instrumen pengukuran, surat
keputusan, undang-undang, dan lain sebagainya.

5. EVALUASI PROPOSAL
suatu usulan penelitian dapat dievaluasi secara formal maupun tidak formal.
Evaluasi formal didasarkan pada kriteria yang dibuat oleh sponsor berdasarkan
kebutuhan mereka sebelum mereka menilai. Poin penilaian di tiap bagian proposal
menunjukkan sejauh mana proposal itu dinilai menurut kriteria penilai.
Aspek penting dalam teknik penulisan proposal:
 Perumusan masalah harus mudah dipahami
 Desain penelitian hendaknya memiliki skema dan didasarkan atas metodologi
yang jelas
 Mengemukakan pentingnya penelitian tersebut dengan baik agar sponsor tertarik
untuk memberikan dukungan
 Bagian objektif dan hasil penelitian hendaknya dapat mengkomunikasikan hasil
konkrit yang akan diperoleh dan digunakannya secara tepat dari hasil studi yang
akan dilakukan.
Dalam pengembangan dari setiap proposal penelitian bisnis, perlu dilakukan evaluasi
baik secara implisit maupun eksplisit. Beberapa aspek yang perlu dilihat dalam
evaluasi proposal ini dirangkum dalam Tabel 6.3. berikut (Zikmund, 2000: 97).

Tabel 3 Cheklist Evaluasi Proposal


PEMILIHAN SAMPEL

1. BEBERAPA TERMINOLOGI YANG SERING DIGUNAKAN


 Elemen
Elemen adalah unit di mana data yang diperlukan akan dikumpulkan. Elemen
dapat dianalogikan sebagai unit analisis.
 Populasi
Populasi adalah kelompok elemen yang lengkap, yang biasanya berupa orang,
objek, transaksi, atau kejadian di mana kita tertarik untuk mempelajari atau
menjadi objek penelitian (Kuncoro, 2001: bab 3). Suatu populasi, sebagai contoh
meliputi:
 Semua angkatan kerja yang bekerja di Indonesia
 Semua pemilih yang tercatat di Propinsi Jawa Tengah
 Semua mobil yang diproduksi tahun lalu di Indonesia
 Semua stok suku cadang yang dimiliki oleh Astra Grup
 Semua jaringan outlet penjualan yang dimiliki oleh Es Teler 77
 Semua kecelakaan yang terjadi di jalan tol Jakarta-Merak selama musim
liburan
 Unit Pengambilan Sampel
Unit pengambilan sampel adalah sekelompok elemen yang tidak tumpang tindih
dengan populasi
 Kerangka Sampel
Kerangka pengambilan sampel studi adalah representasi fisik dari objek,
individu, kelompok, yang sangat penting dalam penentuan sampel.
 Sampel
Sampel adalah suatu himpunan bagian (subset) dari unit populasi. Misalnya,
suatu perusahaan sedang diaudit tingkat kesalahan dalam pencatatan
rekeningnya. Daripada mengamati semua rekening dalam suatu perusahaan yang
jumlahnya, misalnya 5.500 rekening, seorang auditor bisa saja memilih dan
mengamati sampel hanya sebanyak 100 rekening.
 Parameter
Parameter menggambarkan ringkasan variabel dalam populasi, sementara
statistik menggambarkan ringkasan dalam sampel.
 Kesalahan Sampel
Kesalahan dalam pengambilan sampel, yaitu kesalahan prosedur dan kesalahan
penggunaan statistik untuk estimasi parameter.
 Efisiensi Statistik dan Sampel
Efisiensi statistik adalah ukuran perbandingan dari desain sampel dengan besar
sampel yang sama, yang menghasilkan standar kesalahan yang lebih kecil.
Efisiensi sampel adalah karakteristik dalam pengambilan sampel yang
menekankan adanya presisi yang tinggi dan biaya per unit yang rendah.
 Perencanaan Sampel
Perencanaan sampel adalah spesifikasi formal dari metode dan prosedur yang
akan digunakan untuk mengidentifikasi sampel yang dipilih dalam penelitian.

2. ALASAN PEMILIHAN SAMPEL


Dalam penelitian, seorang peneliti seringkali menggunakan sampel dengan
beberapa pertimbangan. Inilah yang disebut dengan sampling, yaitu proses memilih
sejumlah elemen dari populasi yang mencukupi untuk mempelajari sampel dan
memahami karakteristik elemen populasi (Sekaran, 2000: 268).
1. Kendala Sumberdaya
Kendala waktu, dana, dan sumberdaya lain yang terbatas jumlahnya. Penggunaan
sampel akan menghemat sumberdaya untuk menghasilkan penelitian yang lebih
dapat dipercaya daripada sensus.
2. Ketepatan
Melalui pemilihan desain sampel yang baik, peneliti akan memperoleh data yang
akurat, dengan tingkat kesalahan yang relatif rendah.
3. Pengukuran Destruktif
Kadang-kadang pengukuran yang dilakukan merupakan pengukuran destruktif.
Sebagai contoh, apabila perusahaan kita memproduksi ban dan kita harus
menguji seberapa kemampuan tiap ban dalam menyimpan udara dengan meniup
setiap ban sampai meletus, maka kita tidak memiliki lagi ban yang dijual ke
pasar.

3. KARAKTERISTIK SAMPEL YANG BAIK


Sampel yang baik umumnya memiliki beberapa karakteristik. Karakteristik
yang dimaksud setidaknya meliputi:
1. Sampel yang baik memungkinkan peneliti untuk mengambil keputusan yang
berhubungan dengan besaran sampel untuk memperoleh jawaban yang
dikehendaki.
2. Sampel yang baik mengidentifikasikan probabilitas dari setiap unit analisis untuk
menjadi sampel.
3. Sampel yang baik memungkinkan probabilitas dari setiap unit analisis untuk
menjadi sampel.
4. Sampel yang baik memungkinkan peneliti menghitung derajat kepercayaan yang
diterapkan dalam estimasi populasi yang disusun dari sampel statistika.
Gambar 1. Kesalahan yang Berkaitan dengan Pemilihan Sampel
`
Sumber: Zikmund (2000: 348)
Tabel 1. Survei dengan Surat Dalam Tiga Tahap
Pengiriman Jumlah Surat Harapan kembali Harapan yang tidak
kuesioner yang ke (kuesioner yang (Expected merespon (Expected
dikirim) Response) Nonresponses)
Satu 600 180 420
Dua 420 120 300
Tiga 300 90 210
Response group 1.320 390 930

 Sampling frame error, yaitu kesalahan yang terjadi bila elemen sampel tertentu
tidak diperhitungkan, atau bila seluruh populasi tidak diwakili secara tepat oleh
kerangka sampel. Misalnya, sebuah bank mendefinisikan populasinya sebagai
semua orang yang memiliki rekening tabungan. Namun ketika ia menarik sampel
dari daftar rekening tabungan, dan bukan daftar nama individu, maka sampelnya
terlalu banyak karena nasabah dapat saja memiliki rekening ganda. Dengan
demikian, kesalahan kerangka sampel dapat menghilangkan responden yang
potensial atau memasukkan responden yang seharusnya tidak didaftar sebagai
anggota populasi.
 Random sampling error (sampling error), yaitu kesalahan akibat adanya
perbedaan antara hasil sampel dan hasil sensus yang dilakukan dengan prosedur
yang sama. Kesalahan juga dapat muncul karena fluktuasi statistik yang terjadi
karena variasi peluang dalam elemen sampel yang dipilih. Kesalahan sampel
semacam ini merupakan fungsi dari jumlah sampel. Bila jumlah sampel
meningkat, maka kesalahan sampel menurun. Misalnya, suatu survei 900 orang
karyawan untuk menentukan apakah perusahaan sebaiknya berpindah ke lokasi
baru. Asumsikan 30 persen responden mendukung rencana lokasi baru. Para
peneliti sadar, berdasarkan hukum probabilitas, 95 persen dari waktu survei yang
sedikit kurang dari 900 orang akan mendatangkan hasil dengan kesalahan kurang
lebih 3 persen. Bila survei hanya mendapatkan 325 sampel, marjin kesalahan
akan meningkat kurang lebih 5 persen.
 Nonresponse error, yaitu kesalahan akibat perbedaan statistik antara survei yang
hanya memasukkan mereka yang merespon dan juga mereka yang gagal (tidak)
merespon. Sebagai contoh, sebuah survei dengan surat (mail survey) mendesain
sampelnya dengan mengklasifikasikan pengembalian kuesioner dan yang tidak
merespon dalam tiga tahap pengiriman lewat surat. Dalam survei semacam
nonresponse perlu diteliti lebih jauh apakah karena yang bersangkutan: (1)
pindah alamat; (2) tidak mau menjawab; (3) alamat tidak jelas atau salah.

4. PROSES PEMILIHAN SAMPEL


Sampel adalah bagian dari populasi yang diharapkan dapat mewakili populasi
penelitian. Agar informasi yang diperoleh dari sampel benar-benar mewakili
populasi, sampel tersebut harus mewakili karakteristik populasi yang diwakilinya.
Untuk memperoleh sampel yang dapat mewakili karakteristik populasi, diperlukan
metode pemilihan sampel yang tepat. Informasi dari sampel yang baik akan dapat
mencerminkan informasi dari populasi secara keseluruhan.

Gambar 2. Tahapan Pemilihan Sampel

Penentuan Target Populasi

Penentuan Kerangka Pemilihan Sampel


Penentuan Metode Pemilihan Sampel

Penentuan Prosedur Pemilihan Jumlah Sampel

Penentuan Jumlah Sampel

Pemilihan Unit Sampel Aktual

Pelaksanaan Penelitian

Sumber: Zikmund (2000: 324)

1. Penentuan Populasi
Proses yang pertama untuk melakukan pemilihan sampel adalah penentuan
populasi. Populasi adalah suatu kelompok dari elemen penelitian, di mana
elemen adalah unit terkecil yang merupakan sumber dari data yang diperlukan.
Elemen dapat dianalogikan sebagai unit analisis, sepanjang pengumpulan data
untuk penelitian bisnis dilakukan hanya kepada responden. Unit analisis berupa
sebagai individu (misalnya: kepala keluarga, mahasiswa, pedagang), organisasi
(misalnya: pengecer, penyalur, perusahaan manufaktur), atau bisa juga
merupakan produk perusahaan (misalnya: mobil, pasta gigi).
2. Penentuan Unit Pemilihan Sampel
Unit pemilihan sampel adalah kelompok elemen. Dari populasi penelitian,
elemen yang akan dikelompokkan menjadi satu atau beberapa kelompok
tergantung kepada desain sampel yang dipergunakan peneliti. Dengan demikian,
dari populasi yang sama dapat diklasifikasikan menjadi satu atau lebih unit
pemilihan sampel. Jika peneliti menggunakan desain pemilihan sampel
sederhana, misalnya pemilihan random sederhana berarti hanya terdapat satu
macam unit pemilihan sampel, yaitu populasi.
3. Penentuan Kerangka Pemilihan Sampel
Kerangka pemilihan sampel adalah daftar elemen dari setiap unit pemilihan
sampel. Penelitian terhadap mahasiswa tahun pertama misalnya dapat
menggunakan daftar nama mahasiswa tahun pertama yang dapat diperoleh di
bagian administrasi.

4. Penentuan Desain Sampel


Desain sampel adalah metode untuk memilih sampel dari populasi yang ada. Ada
beberapa macam desain sampel yang dapat dipergunakan oleh peneliti. Setiap
desain sampel mempunyai kelebihan dan kelemahan tersendiri. Peneliti perlu
memilih desain sampel yang paling sesuai dengan penelitian yang akan
dilakukan. Subbab 7.6. akan secara rinci menguraikan mengenai desain sampel.
5. Penentuan Jumlah Sampel
Sebagaimana diketahui, data yang akan dianalisis diperoleh dari sampel
penelitian. Dengan demikian semakin besar jumlah sampel, dengan desain
sampel yang benar, tentunya data yang diperoleh akan semakin mewakili
populasi yang diteliti. Namun demikian dalam hubungannya dengan biaya
penelitian, semakin bear jumlah sampel, biaya penelitian juga semakin besar.
6. Pemilihan Sampel
Langkah terakhir dalam proses pemilihan sampel adalah memilih sampel yang
diperlukan. Dalam langkah ini peneliti menentukan elemen yang akan menjadi
sampel dari penelitian yang dilakukan.

5. PERTIMBANGAN PENENTUAN JUMLAH SAMPEL


Sebagaimana diketahui, jumlah sampel yang akan dipergunakan untuk suatu
penelitian perlu dipertimbangkan dengan baik. Peneliti dapat mencari data dari
seluruh elemen yang ada dalam populasi yang diteliti melalui sensus. Data yang
dihasilkan melalui sensus lebih akurat. Sensus yang dilakukan di Indonesia oleh
Badan Pusat Statistik setiap 10 tahun, misalnya Sensus Penduduk atau Sensus
Ekonomi (BPS, 1998).
Namun demikian, karena kendala waktu dan biaya penelitian, sensus tidak
dilakukan untuk setiap penelitian bisnis maupun ekonomi. Tujuan penggunaan
sampel adalah peneliti dapat memperoleh data yang dapat mencerminkan keadaan
populasi dengan biaya penelitian yang lebih murah dan waktu penelitian yang lebih
cepat.
Ada dua macam mitos yang sering muncul berkaitan dengan penentuan
sampel: (1) sampel harus besar agar dapat mewakili populasi, (2) sampel harus
mengandung hubungan proporsional terhadap ukuran populasi (Cooper & Schindler,
2001: 172). Dalam praktek, besarnya sampel tergantung dari variasi parameter
populasi dan seberapa jauh presisi yang diperlukan oleh si peneliti. Sampel sebanyak
400 dapat saja mencukupi, sementara sampel lebih dari 2000 membutuhkan untuk
situasi yang lain; dalam kasus lain, mungkin sampel sebanyak 40 sudah mencukupi
untuk populasi sebanyak 100. Zikmund (2000: 389) mengusulkan formula
menghitung sampel sebagai berikut:
2
 ZS 
n  (7.1)
E
Di mana n = jumlah sampel; Z = nilai yang sudah distandardisasi sesuai derajat
keyakinan; S deviasi standar sampel atau estimasi deviasi standar populasi; E =
tingkat kesalahan yang ditolerir, plus minus faktor kesalahan (rentangnya antara
setengah dari total derajat keyakinan.
2
 (1,96)( 29) 
n   808
 2
Jumlah sampel yang sesuai untuk suatu penelitian dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu sebagai berikut (Davis & Cosenza, 1993: 222-223):
1. Homogenitas
Homogenitas unit pemilihan sampel sangat mempengaruhi jumlah sampel yang
layak untuk suatu penelitian. Semakin homogen suatu unit pemilihan sampel,
semakin kecil jumlah sampel yang diperlukan.
2. Derajat Kepercayaan
Derajat kepercayaan mengukur seberapa jauh peneliti yakin dalam mengestimasi
parameter populasi secara benar. Derajat kepercayaan biasanya dinyatakan dalam
probabilitas, misalnya 95%. Dengan asumsi faktor lain tetap, sampel yang lebih
banyak diperlukan bila derajat kepercayaan meningkat.
3. Presisi
Presisi (ketelitian) mengukur kesalahan standar dari estimasi yang dilakukan.
Dengan kata lain, harapan penyimpangan terhadap populasi dihitung dengan
deviasi standar. Standar deviasi diperoleh berdasarkan studi pendahuluan (pilot
study). Dengan asumsi faktor lain tetap, semakin tinggi presisi yang diinginkan
maka semakin banyak jumlah sampel yang diperlukan.
4. Prosedur Analisis
Beberapa model analisis tertentu memerlukan sampel dalam jumlah tertentu.
Peneliti perlu mempertimbangkan jumlah sampel yang diperlukan sesuai dengan
model analisis yang akan dipergunakan.
5. Kendala Sumberdaya
Adalah benar bahwa semakin besar jumlah sampel yang dipergunakan untuk
penggalian data, pencerminan keadaan populasi akan semakin baik. Namun
demikian, kenyataannya kendala sumberdaya tidak jarang menjadi penghalang
bagi peneliti untuk melakukan sesuatu yang ideal. Keterbatasan waktu, dana, dan
juga sumberdaya manusia sering menjadi pembatas yang sangat menentukan
dalam penentuan jumlah sampel yang layak dalam suatu penelitian.
Secara umum jumlah sampel minimal yang dapat diterima untuk suatu studi
tergantung dari jenis studi yang dilakukan. Beberapa pedoman yang dianjurkan
adalah (Gay & Diehl, 1996: 140-141):
 Untuk studi deskriptif, sampel 10% dari populasi dianggap merupakan jumlah
amat minimal. Untuk populasi yang lebih kecil, setidaknya 20% mungkin
diperlukan.
 Untuk studi korelasional, dibutuhkan minimal 30 sampel untuk menguji ada
tidaknya hubungan.
 Untuk studi kausal-komparatif, minimal 30 subjek per grup umumnya
dianjurkan.
 Untuk studi eksperimen, minimal 15 subjek per grup umumnya dianjurkan.

6. DESAIN SAMPEL
6.1. Pertimbangan Pemilihan Desain Sampel
Ada beberapa alternatif cara pengambilan sampel. Secara umum desain
sampel terdiri dari dua macam, yaitu desain probabilitas dan desain nonprobabilitas.
Pertimbangan menggunakan desain sampel meliputi biaya, akurasi, waktu,
penerimaan hasil, dan kemampuan generalisasi (lihat Tabel 2). Para peneliti dan
manajer perlu memberikan perhatian pada kelima jenis pertimbangan ini karena
menentukan biaya total dan kualitas hasil penelitian. Pertimbangan memilih sampel
probabilitas atau nonprobabilitas tergantung dari apakah masalah keterwakilan
sampel merupakan aspek penting yang dipertimbangkan atau tidak. Secara rinci
Gambar 3 memberikan pedoman memilih sampel yang sesuai dengan tujuan
penelitian.
Tabel 2. Perbedaan Sampel Probabilitas dan Nonprobabilitas
Jenis Desain
Pertimbangan
Probabilitas Nonprobabilitas
Biaya Lebih mahal Lebih murah
Akurasi Lebih tepat Kurang tepat
Waktu Lebih lama Lebih cepat
Penerimaan Hasil Penerimaan universal Penerimaan masuk akal
Kemampuan Generalisasi Baik Jelek
Sumber: Dimodifikasi dari Davis & Cosenza (1993: 226)

6.2. Sampel Probabilitas


Sampel probabilitas mengandung arti bahwa setiap sampel dipilih
berdasarkan prosedur seleksi dan memiliki peluang yang sama untuk dipilih. Ada 5
jenis desain sampel probabilitas, yaitu: sampel random sederhana, sampel sistematis,
sampel stratifikasi, sampel kluster, dan sampel multitahap. Tabel 3 merangkum
kelebihan dan kekurangan dari masing-masing jenis sampel probabilitas. Berikut
akan diuraikan secara rinci pengertian dan bagaimana menyusun masing-masing
desain sampel probabilitas.
Sampel Random Sederhana (Sample Random Sampling)
Pemilihan sampel random sederhana adalah desain pemilihan sampel yang
paling sederhana dan mudah. Prinsip pemilihan sampel dalam desain ini adalah
setiap elemen dalam populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih.
Prosedur pemilihan random sederhana ini adalah sebagai berikut (Davis & Cosenza,
1993: 227-231).
a. Tentukan populasi penelitian dan dapatkan unit pemilihan sampel
b. Tentukan besar sampel yang dikehendaki (misalnya dapat digunakan Persamaan
7.1)
c. Ambil sampel secara acak dari unit pemilihan sampel
d. Ulangi proses c sampai dengan jumlah sampel sama dengan besar sampel yang
dikehendaki.
Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan menggunakan daftar random,
atau juga bisa dengan cara lain. Dalam hal ini yang terpenting adalah prinsip bahwa
seluruh elemen memperoleh kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel.
Beberapa kelebihan dari pemilihan random sederhana adalah:
 Prosedur pemilihan sampel sangat mudah
 Unit pemilihan sampel hanya satu macam
 Kesalahan klasifikasi dapat dihindarkan
 Cukup dengan gambaran garis besar dari populasi
 Merupakan desain sampel yang paling sederhana dan mudah
Di samping kelebihan di atas, sampel random sederhana memiliki beberapa
kelemahan, yaitu:
 Gambaran umum populasi yang mungkin sudah diketahui peneliti tidak
dipergunakan seluruhnya.
 Dengan menggunakan jumlah sampel yang sama, tingkat ketelitian dan
kecermatan penelitian menjadi lebih rendah daripada pemilihan random
stratifikasi.
Gambar 3. Pertimbangan dalam Memilih Desain Sampel

Tabel 3. Perbandingan Desain Sampel Probabilitas


Sampel Sistematis (Systematic Sampling)
Pemilihan sistematis merupakan cara pemilihan yang hampir sama dengan
pemilihan random sederhana. Satu-satunya perbedaan pada cara pemilihan elemen
untuk menjadi sampel.
Setiap metode pemilihan sampel mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan dari pemilihan sistematis adalah sebagai berikut:
a. Apabila nomor urut elemen disusun berdasar kriteria tertentu (misalnya besarnya
indeks prestasi mahasiswa, besarnya penjualan tahunan untuk pedagang atau
perusahaan), elemen yang terpilih menjadi sampel secara otomatis sudah
mewakili setiap strata yang ada dalam populasi.
b. Prosedur pemilihan sampel sangat mudah
c. Unit pemilihan sampel hanya satu macam
d. Kesalahan klasifikasi dapat dihindarkan
Sampel Stratifikasi (Stratified Sampling)
Perbedaan utama antara pemilihan random stratifikasi dengan kedua desain
terdahulu adalah langkah pertama sebelum memilih sampel, kita harus melakukan
pengelompokan populasi dengan kriteria tertentu ke dalam beberapa strata. Setiap
elemen yang ada dalam populasi hanya boleh dimasukkan ke dalam salah satu strata.
Setiap strata akan berfungsi sebagai unit pemilihan sampel dan dari setiap strata
dapat disusun kerangka pemilihan sampel.
Dalam pemilihan sampel random stratifikasi nonproporsional, banyaknya
sampel tidak proporsional dengan jumlah elemen setiap unit pemilihan sampel
karena beberapa pertimbangan khusus.
Sampel Kluster (Cluster Sampling)
Perbedaan antara sampel kluster dan stratifikasi dapat dilihat pada Tabel 7.4.
Alasan yang mendorong digunakannya sampel kluster adalah adanya kebutuhan
efisiensi ekonomis yang tidak bisa diperoleh peneliti jika menggunakan sampel
random sederhana, dan tidak tersedianya kerangka sampel untuk elemen tertentu.
Kelemahan sebagian besar sampel kluster adalah efisiensi statistik yang lebih
rendah dibandingkan dengan sampel random sederhana karena kluster biasanya
homogen. Walaupun demikian, efisiensi ekonomis sampel kluster biasanya cukup
besar untuk mengatasi kelemahan tersebut.
Jenis sampel kluster yang paling populer digunakan adalah sampel area.
Metode ini mampu mengatasi masalah tingginya biaya pengambilan sampel dan
tidak tersedianya kerangka sampel yang praktis untuk elemen tertentu. Metode
sampel area bisa diterapkan untuk populasi nasional, provinsi, kabupaten, atau
bahkan wilayah yang lebih kecil lagi yang memiliki batas geografis yang jelas.

Tabel 4. Perbedaan Sampel Kluster dan Sampel Stratifikasi


Sampel Daerah Multitahap (Multistage Area Sampling)
Multistage area sampling adalah prosedur pengambilan sampel yang
melibatkan penggunaan kombinasi teknik sampel probabilitas yang telah dibahas
pada bagian terdahulu. Sebagai contoh, apabila kita ingin melakukan survei nasional
mengenai rata-rata tabungan bank per bulan, metode sampel kluster dapat digunakan
terlebih dulu untuk memilih daerah perkotaan dan perdesaan pada masing-masing
propinsi sampel. Pada tahap berikutnya, sampel daerah dipilih pada masing-masing
lokasi. Pada tahap ketiga, bank dalam masing-masing daerah dipilih.

6.3. Desain Sampel Nonprobabilitas


Perbedaan utama dengan sampel probabilitas, adalah bahwa sampel
nonprobabilitas dipilih secara arbitrer oleh peneliti. Dengan kata lain, probabilitas
masing-masing anggota populasi tidak diketahui. Selain itu, para peneliti
menggunakan sampel nonprobabilitas karena tidak ada upaya untuk melakukan
generalisasi berdasarkan sampel. Memang dengan desain sampel semacam ini,
masalah represents (keterwakilan) tidak dipersoalkan. Ada empat kategori sampel
nonprobabilitas, yaitu: convenience, judgment, quota, snowball sampling. Deskripsi
singkat, beserta uraian mengenai kelebihan dan kelemahan masing-masing metode
dirangkum dalam Tabel 7.5. Berikut akan diuraikan masing-masing metode sampel
nonprobabilitas ini.

Gambar 4. Kluster IKRT berdasarkan Omset pada Setiap Kabupaten/Kota di


Jawa, 1996
Sumber: Kuncoro (2002: bab 7)

Convenience Sampling
Convenience sampling adalah prosedur untuk mendapatkan unit sampel
menurut keinginan peneliti. Pada umumnya, peneliti menggunakan metode ini untuk
memperoleh daftar pertanyaan dalam jumlah yang besar dan lengkap secara cepat
dan hemat. Sampel convenience paling sesuai digunakan untuk penelitian eksploratif
sebagai pendahuluan sebuah penelitian yang menggunakan desain sampel
probabilitas.

Judgment Sampling
Judgment sampling adalah salah satu jenis purposive sampling selain quota
sampling di mana peneliti memilih sampel berdasarkan penilaian terhadap beberapa
karakteristik anggota sampel yang disesuaikan dengan maksud penelitian.

Quota Sampling
Quota sampling adalah jenis kedua dari purposive sampling. Metode ini
digunakan untuk memastikan bahwa berbagai subgroup dalam populasi telah
terwakili dengan berbagai karakteristik sampel sampai batas tertentu seperti yang
dikehendaki oleh peneliti. Dalam quota sampling, peneliti menentukan target kuota
yang dikehendaki.
Tabel 5. Perbandingan Teknik Sampel Nonprobabilitas

Snowball Sampling
Snowball sampling yaitu sebuah prosedur pengambilan sampel di mana
responden pertama dipilih dengan metode probabilitas, dan kemudian responden
selanjutnya diperoleh dari informasi yang diberikan oleh responden yang pertama.
Keuntungan dari metode ini adalah memungkinkan ditekannya ukuran
sampel dan biaya. Kelemahannya adalah bias karena orang yang direkomendasikan
oleh responden yang terdahulu untuk diwawancarai memiliki kemungkinan
kemiripan.
BAB III
KESIMPULAN

Proposal adalah suatu rancangan kegiatan atau kerja yang disusun secara
sistematis dan terperinci sesuai standar oleh seseorang atau sekelompok peneliti
untuk diajukan kepada pihak yang dikehendaki dalam mendapatkan persetujuan
maupun bantuan dalam penelitiannya.
Syarat-syarat menyusun proposal
a) Sistematis
b) Berencana
c) Mengikuti konsep ilmiah
d) Jelas dan dapat dimengerti
Pembagian proposal penelitian
a) Proposal penelitian pengembangan
b) Proposal penelitian kajian pustaka
c) Proposal penelitian kualitatif
d) Proposal penelitian kuantitatif
Dalam penelitian sebuah peneletian kuantitatif misalnya, karena permasalahan
yang diteliti sudah jelas, realitas, dianggap tunggal, tetap, teramati, pola fikir
deduktif, maka proposal penelitian kuantitatif dipandang sebagai “blue print” yang
harus digunakan sebagai pedoman baku untuk melaksanakan dan mengendalikan
penelitian.
Adapun formatnya sebagai berikut:
I.PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
B.Fokus Dan Perumusan Masalah Penelitian
C.Tujuan Penelitian
D.Manfaat Penelitian
II.KAJIAN/ LANDASAN/ TEORI PUSTAKA
III.PROSEDUR PENELITIAN
A.Metode Dan Alasan Menggunakan Metode Kualitatif
B.Tempat Penelitian
C.Instrumen Penelitian
D.Sampel Sumber Data
E.Teknik Pengumpulan Data
F.Teknik Analisis Data
Jenis-jenis desain penelitian dilihat dari berbagai sudut pandang
a. Desain penelitian dilihat dari perumusan masalahnya.
· Penelitian eksploratif.
· Penelitian uji hipotesis
b. Desain penelitian berdasarkan metode pengumpulan data
· Penelitian pengamatan.
· Penelitian Survai.
c. Desain penelitian dilihat dari pengendalian variabel-variabel oleh peneliti
· Penelitian eksperimental.
· Penelitian ex post facto.