Você está na página 1de 39

A.

PENGERTIAN

Keberadaan bidan di Indonesia sangat diperlukan dalam upaya meningkatkankesejahteraan ibu dan
janinnya, salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintahadalah mendekatkan pelayanan
kebidanan kepada setiap ibu yangmembutuhkannya. Pada tahun 1993 WHO merekomendasikan
agar bidan di bekalipengetahuan dan ketrampilan penanganan kegawatdaruratan kebidanan
yangrelevan. Untuk itu pada tahun 1996 Depkes telah menerbitkan
PermenkesNo.572/PER/Menkes/VI/96 yang memberikan wewenang dan perlindungan bagibidan
dalam melaksanakan tindakan penyelamatan jiwa ibu dan bayi baru lahir.Pada pertemuan pengelola
program Safe Mother Hood dari negara-negara diwilayah Asia Tenggara pada tahun 1995, disepakati
bahwa kualitas pelayanankebidanan diupayakan agar dapat memenuhi standar tertentu agar aman
danefektif. Sebagai tindak lanjutnya WHO mengembangkan Standar PelayananKebidanan. Standar
ini kemudian diadaptasikan untuk pemakaian di Indonesia,khususnya untuk tingkat pelayanan dasar,
sebagai acuan pelayanan di tingkatmasyarakat.Dengan adanya standar pelayanan, masyarakat akan
memiliki rasa kepercayaanyang lebih baik terhadap pelaksana pelayanan. Suatu standar akan lebih
efektif apabila dapat diobservasi dan diukur, realistis, mudah dilakukan dan dibutuhkan.Pelayanan
kebidanan merupakan pelayanan profesional yang menjadi bagianintegral dari pelayanan kesehatan
sehingga standar pelayanan kebidanan dapatpula digunakan untuk menentukan kompetensi yang
diperlukan bidan dalammenjalankan praktek sehari-hari. Standar ini dapat juga digunakan sebagai
dasaruntuk menilai pelayanan, menyusun rencana pelatihan dan pengembangankurikulum
pendidikan serta dapat membantu dalam penentuan kebutuhanoperasional untuk penerapannya,
misalnya kebutuhan pengorganisasian,mekanisme, peralatan dan obat yang diperlukan serta
ketrampilan bidan. Maka,ketika audit terhadap pelayanan kebidanan dilakukan, kekurangan yang
berkaitandengan hal-hal tersebut akan ditemukan sehingga perbaikannya dapat dilakukansecara
lebih spesifik.Adapun ruang lingkup standar pelayanan kebidanan meliputi 24 standar
yangdikelompokkan sebagai berikut :

A. Standar Pelayanan Umum (2 standar)

Standar 1 : Persiapan untuk Kehidupan Keluarga Sehat

Standar 2 : Pencatatan dan pelaporanB. Standar Pelayanan Antenatal (6 standar)

Standar 3 : Identifikasi Ibu Hamil

Standar 4 : Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal


Standar 5 : Palpasi Abdominal

Standar 6 : Pengelolaan Anemia pada Kehamilan

Standar 7 : Pengelolaan Dini Hipertensi pada Kehamilan

Standar8 : Persiapan PersalinanC. Standar Pertolongan Persalinan (4 standar)

Standar 9 : Asuhan Persalinan Kala I

Standar 10 : Persalinan kala II yang Aman

Standar 11 : Penatalaksanaan aktif persalinan kala IIIStandar

12 : Kala II dengan Gawat Janin melalui EpisiotomiD. Standar Pelayanan Nifas (3 standar)

Standar 13 : Perawatan Bayi Baru Lahir

Standar 14 : Penanganan pada Dua Jam Pertama Persalinan

Standar 15 : Pelayanan bagi Ibu dan Bayi pada Masa NifasE. Standar Penanganan Kegawatdaruratan
Obstetri – Neonatal(9 standar)

Standar 16 : Penanganan Perdarahan pada Kehamilan trimester III

Standar 17 : Penanganan Kegawatan pada Eklamsia

Standar 18 : Penanganan Kegawatan pada Partus Lama/Macet


Standar 19 : Persalinan dengan Penggunaan Vakum Ekstraktor

Standar 20 : Penanganan Retensio Plasenta

Standar 21 : Penanganan Perdarahan Postpartum Primer

Standar 22 : Penanganan Perdarahan Postpartum Sekunder

Standar 23 : Penanganan Sepsis Puerperalis

Standar 24 : Penanganan Asfiksia Neonatorum


B. KODE ETIK BIDAN

Kode etik merupakan ciri profesi yang bersumber dari nilai-nilai internal daneksternal dari suatu
disiplin ilmu dan merupakan pernyataan komprehensif suatuprofesi yang memberikan tuntunan bagi
anggota dalam melaksanakan pengabdiankepada profesinya baik yang berhubungan dengan klien,
keluarga, masyarakat,teman sejawat, profesi dan dirinya sendiri.Secara umum tujuan menciptakan
suatu kode etik adalah untuk menjunjung tinggimartabat dan citra profesi, menjaga dan memelihara
kesejahteraan para anggota,serta meningkatkan mutu profesi. Kode etik bidan Indonesia pertama
kali disusunpada tahun 1986 yang disahkan dalam Kongres Nasional Ikatan Bidan Indonesia
X,petunjuk pelaksanaannya disahkan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IBI tahun1991,
kemudian disempurnakan dan disahkan dalam Kongres Nasional IBI XII padatahun 1998.Secara
umum kode etik tersebut berisi 7 bab yang dapat dibedakan menjadi tujuhbagian, yaitu :1.
Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat (6 butir)a. Setiap bidan senantiasa menjunjung
tinggi, menghayati dan mengamalkansumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas
pengabdiannya.b. Setiap bidan dalam menjalankan tugas profesinya menjunjung tinggi harkat
danmartabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara citra bidan.c. Setiap bidan dalam menjalankan
tugasnya senantiasa berpedoman pada peran,

tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan klien, keluarga danmasyarakat.d. Setiap bidan
dalam menjalankan tugasnya mendahulukan kepentingan klien,menghormati hak klien dan nilai-nilai
yang dianut oleh klien.e. Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam
hubunganpelaksanaan tugasnya dengan mendorong partisipasi masyarakat untukmeningkatkan
derajat kesehatannya secara optimal.2. Kewajiban bidan terhadap tugasnya (3 butir)a. Setiap bidan
senantiasa memberikan pelayanan paripurna kepada klien, keluargadan masyarakat sesuai dengan
kemampuan profesi yang dimilikinya berdasarkankebutuhan klien, keluarga dan masyarakatb. Setiap
bidan berkewajiaban memberikan pertolongan sesuai dengan kewenangandalam mengambil
keputusan termasuk mengadakan konsultasi dan/atau rujukan.c. Setiap bidan harus menjamin
kerahasiaan keterangan yang didapat dan/ataudipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh
pengadilan atau diperlukansehubungan dengan kepentingan klien.3. Kewajiban bidan terhadap
rekan sejawat dan tenaga kesehatan lainnya (2 butir)a. Setiap bidan harus menjalin hubungan
dengan teman sejawatnya untukmenciptakan suasana kerja yang serasi.b. Setiap bidan dalam
melaksanakan tugasnya harus saling menghormati baikterhadap sejawatnya maupun tenaga
kesehatan lainnya.4. Kewajiban bidan terhadap profesinya (3 butir)c. Setiap bidan wajib menjaga
nama baik dan menjunjung tinggi citra profesidengan menampilkan kepribadian yang bermartabat
dan memberikan pelayananyang bermutu kepada masyarakatd. Setiap bidan wajib senantiasa
mengembangkan diri dan meningkatkankemampuan profesinya sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan danteknologi.e. Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan
kegiatansejenisnya yang dapat meningkatkan mutu dan citra profesinya.5. Kewajiban bidan
terhadap diri sendiri (2 butir)a. Setiap bidan wajib memelihara kesehatannya agar dapat
melaksanakan tugasprofesinya dengan baikb. Setiap bidan wajib meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan sesuai dengandengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologic. Setiap bidan
wajib memelihara kepribadian dan penampilan diri.6. Kewajiban bidan terhadap pemerintah, nusa
bangsa dan tanah air (2 butir)a. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan
ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya dalam pelayanananKesehatan
Reproduksi, Keluarga Berencana dan Kesehatan Keluarga.b. Setiap bidan melalui profesinya
berpartisipasi dan menyumbangkan pemikirankepada pemerintah untuk meningkatkan mutu dan
jangkauan pelayanan kesehatanterutama pelayanan KIA/KB dan kesehatan keluarga.7. Penutup (1
butir).

Sesuai dengan wewenang dan peraturan kebijaksanaan yang berlaku bagi bidan,kode etik
merupakan pedoman dalam tata cara keselarasan dalam pelaksanaanpelayanan kebidanan
profesional.

C. STANDAR ASUHAN KEBIDANAN

Standar asuhan kebidanan sangat penting di dalam menentukan apakah seorangbidan telah
melanggar kewajibannya dalam menjalankan tugas profesinya. Adapunstandar asuhan kebidanan
terdiri dari :

Standar I : Metode AsuhanMerupakan asuhan kebidanan yang dilaksanakan dengan metode


manajemenkebidanan dengan tujuh langkah, yaitu : pengumpulan data, analisa data,penentuan
diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan dokumentasi.

Standar II : PengkajianPengumpulan data mengenai status kesehatan klien yang dilakukan


secarasistematis dan berkesinambungan. Data yang diperoleh dicatat dan dianalisis.

Standar III : Diagnosa KebidananDiagnosa Kebidanan dirumuskan dengan padat, jelas dan sistematis
mengarahpada asuhan kebidanan yang diperlukan oleh klien sesuai dengan wewenang
bidanberdasarkan analisa data yang telah dikumpulkan.

Standar IV : Rencana AsuhanRencana asuhan kebidanan dibuat berdasarkan diagnosa kebidanan.]


Standar V : Tindakan Tindakan kebidanan dilaksanakan berdasarkan rencana dan
perkembangankeadaan klien dan dilanjutkan dengan evaluasi keadaan klien.

Standar VI : Partisipasi klien Tindakan kebidanan dilaksanakan bersama-sama/pertisipasi klien dan


keluargadalam rangka peningkatan pemeliharaan dan pemulihan kesehatan.

Standar VII : PengawasanMonitoring atau pengawasan terhadap klien dilaksanakan secara terus
menerusdengan tujuan untuk mengetahui perkembangan klien.

Standar VIII : EvaluasiEvaluasi asuhan kebidanan dilaksanakan secara terus menerus seiring
dengantindakan kebidanan yang dilaksanakan dan evaluasi dari rencana yang telahdirumuskan.

Standar IX : Dokumentasi Asuhan kebidanan didokumentasikan sesuai dengan standar dokumentasi


asuhankebidanan yang diberikan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. PERTOLONGAN PERTAMA ASFIKSIA NEONATORUM

PENGERTIAN ASFIKSIA

Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur.
(Asuhan Persalinan Normal, 2007)

Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi lahir yang tidak dapat berafas secara spontan dan teratur,
sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk
dalam kehidupan lebih lanjut.

Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat bernafas Secara spontan dan teratur
segera setelah lahir . Keadaan ini disertai dengan keadaan hipoksia, hiperapnea, dan berakhir
dengan asidosis.

Asfiksia neonatorum adalah Suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan
teratur segera setelah lahir

Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan
teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini
berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah
bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan
secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan
kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul. (Wiknjosastro,
1999)

Jadi, asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas dengan spontan
dan teratur segera setelah lahir.

PENYEBAB ASFIKSIA NEONATORUM

Asfiksia terjadi karena adanya gangguan pertukaran gas serta transpor O2 dari ibu ke janin sehingga
terdapat gangguan dalam persediaan O2 dan dalam menghilangkan CO2. Gangguan ini dapat
berlangsung secara menahun akibat kondisi atau kelainan pada ibu selama kehamilan, atau secara
mendadak karena hal-hal yang diderita ibu dalam persalinan.

Gangguan menahun dalam kehamilan dapat berupa gizi ibu yang buruk, penyakit menahun seperti
anemia hipertensi, jantung dan lain-lain. Faktor – faktor yang timbul dalam persalinan yang bersifat
mendadak yaitu faktor janin berupa gangguan darah dalam tali pusat karena tekanan tali pusat,
depresi pernafasan karena obat – obatan anesthesia atau analgetika yang diberikan ke ibu,
perdarahan intrakranial, kelainan bawaan seperti hernia diafragmatika, atresia saluran pernafasan,
hipoplasia paru dll. Sedangkan faktor dari ibu adalah gangguan his missalnya hipertonia dau tetani,
hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan, hipertensi pada eklamsia, gangguan mendadak
pada plasenta seperti solusio plasenta.

Penggolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi terdiri dari :

1. Faktor Ibu

• Hipoksia ibu

Hal ini akan menimbulkan hipoksia janin. Hipoksia ibu dapat terjadi karena hipoventilasi akibat
pemberian obat analgetik atau anestesi dalam.

• Gangguan aliran darah uterus

Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya pengairan O2 ke plasenta
dan ke janin. Hal ini sering ditemukan pada kasus-kasus :

a. Gangguan kontraksi uterus, misalnya : hipertensi, hipotoni atau tetani uterus akibat penyakit atau
obat.

b. Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan.

c. Hipertensi pada penyakit eklamsia.

2. Faktor Janin

• Depresi pernafasan karena obat-obat anastesia atau analgetika yang diberikan kepada ibu.

• Trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya : perdarahan intracranial.

• Kelainan kongenital, misalnya : hernia diafragmatika, atresia saluran pernafasan, hipoplasia paru,
dan lain-lain.

• Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah
umbilkus dan rnenghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat
ditemukan dalam keadaan tali pusat membumbung melilit leher, kompresi tali pusat antara jalan
lahir dan janin. dll

3. Faktor Persalinan

• partus lama

• partus dengan tindakan, dan lain – lain.


4. Faktor Plasenta

• Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta, asfiksia janin akan
terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya solution plasenta, perdarahan
plasenta, plasenta kecil, plasenta tipis, plasenta tidak menempel pada tempatnya.

3. KLASIFIKASI ASFIKSIA

Untuk menentukan derajat asfiksia, digunakan skor APGAR

Tanda 0 1 2

Frekuensi Jantung Tidak ada 100x/menit

Usaha bernafas Tidak ada Lambat, tidak teratur Menangis kuat

Tonus otot Lumpuh Ektremitas fleksi sedikit Gerakan aktif

Refleks Tidak ada Gerakan sedikit Menangis

Warna Biru/pucat Tubuh kemerahan, ektermitas biru Tubuh dan ektremitas kemerahan

Skor APGAR dinilai :

I : 1 menit setelah bayi lahir menentukan apakah di perlukan tindakan resusitasi

II : 5 menit setelah bayi lahir untuk menilai hasil resusitasi dan prognosis

Asfiksia neonatorum diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Asfiksia Berat (Nilai APGAR 0-3)

Resusitasi aktif dalam keadaan ini harus segera dilakukan. Langkah utama ialah memperbaiki
ventilasi paru-paru dengan memberikan O2 secara tekanan langsung dan berulang-ulang. Bila
setelah beberapa waktu pernafasan spontan tidak timbul dan frekuensi jantung menurun maka
pemberian obat-obat lain serta masase jantung sebaiknya segera dilakukan.

2. Asfiksia -sedang (Nilai APGAR 4-6)

Pernafasan aktif yang sederhana dapat dilakukan secara pernafasan kodok (frog breathing). Cara ini
dikerjakan dengan melakukan pipa ke dalam jantung dan O2 dialirkan dengan kecepatan 1-2 liter
dalam 1 menit. Agar saluran nafas bebas, bayi diletakkan dengan kepala dorsofleksi.

Pada pernafasan dari mulut ke mulut, mulut penolong diisi terlebih dahulu dengan O2 sebelum
pernafasan. Peniupan dilakukan secara teratur dengan frekuensi 20-30 kali semenit dan diperhatikan
gerakan pernafasan yang mungkin timbul. Jika terjadi penurunan frekuensi jantung dan tonus otot
maka bayi dikatakan sebagai penderita asfiksia berat.

3. Asfiksia ringan (Nilai Apgar 7-10)

Bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa.

4. TANDA DAN GEJALA

• Hipoksia

• RR> 60 x/menit atau 100 x / menit, nilai warna kulit jika merah / sinosis perifer lakukan observasi,
apabila biru beri oksigen. Denyut jantung < 100 x / menit, lakukan ventilasi tekanan positif.

• Bila bayi tidak bernafas atau megap-megap mulai lakukan ventilasi

Tahap II : Ventilasi

Ventilasi adalah tahapan tindakan resusitasi untuk memasukan sejumlah volume udara ke paru-paru
dengan tekanan positif untuk membawa aveoli perlu agar bayi bisa bernafas spontan dan teratur

Langkah-langkah sebagai berikut :

a. Pasang sungkup

Pasang sungkup dan pegang agar menutupi mulut dan hidung bayi

b. Ventilasi 2 kali

• Lakukan tiupan dengan tekanan 30 cm air

• Lihatlah apakah dada bayi mengembangl. Bila dada tidak mengembang periksa posisi kepala,
pastikan sudah ekstensi, periksa posisi sungkup dan pastikan tidak ada udara bocor dan periksa
cairan atau ledir di mulut bila ada mengembang lakukan tahapan berikutnya.

c. Ventilasi 20 kali dalam 30 detik

• Lanjutkan ventilasi tiap 20 x dalam 30 detik (dengan tekanan 20 cm air)

• Hentikan ventilasi setiap 30 detik

• Lakukanlah penelitian bayi, apakah bayi bernafas, bernafas tidak normal atau megap-megap :

1.Bila bayi normal, hentikan ventilasi dan pantau bayi dengan seksama
2.Bila bayi tidak bernafas atau megap-megap, teruskan ventilasi 20 x dalam 30 detik, kemudian
lakukan penilaian setiap 30 detik.

• Apabila frekuensi denyut jantung bayi < 80 kali / menit, di mulai kompresi dada

• Frekuensi denyut jantung bayi <60 kali / menit, VTP di lanjutkan periksa ventilasi apakah adekuat
dan oksigen yang di berikan benar segera dimulai kompresi dada bayi.

d. Kompresi dada

• Kompresi dilakukan apabila setelah 15-30 detik melakukan VTP dengan oksigen 100%, frekuensi
jantung bayi < 60 kali / menit atau 60-80 kali/ menit dan tidak bertambah.

• Pelaksana menghadap kedada bayi dan kedua tangan dalam posisi yang benar.

• Kompresi di lakukan di 1/3 bagian bawah tulang dada di bawah garis khayal yang menghubungkan
kedua putting susu bayi.

• Dengan posisi jari-jari yang benar gunakan tekanan yang cukup untuk menekan tulang dada ½-3/4
inci (sekitar 2 cm) kemudian tekanan di lepaskan untuk memungkinkan pengisian jantung.

• Rasio kompresi dada dan ventilasi 1 menit adalah 90 kompresi, 30m ventilasi.

• Apabila setelah 30 detik frekuensi jantung mencapai 80 kali/menit atau lebih tindakan kompresi
dada di hentikan.

e. Terapi medikamentosa

ü EPINEPRIN

Indikasi :

• Denyut jantung bayi adekuat < 60 kali permenit setelah paling tidak 30 detik

dilakukan ventilasi adekuat dan kompresi dada belum ada respon

• Asistolik

Dosis:

0,1 – 0,3 ml / kg bb dalam larutan 1 : 10.000 (0,01 mg – 0.03 mg/ kg bb)

Cara:

IV atau endotrakheal. Dapat diulang setiap 3-5 menit bila perlu.

ü CAIRAN PENGGANTI VOLUME DARAH

Indikasi:

• Bayi baru lahir yang dilakukan resusitasi mengalami hipovolemia dan tidak ada

respon dengan resusitasi.


• Hipovolemia

kemungkinan akibat adanya perdarahan atau syok. Klinis ditandai dengan

pucat, perfusi buruk, nadi kecil atau lemah dan pada resusitasi tidak

memberikan respon yang adekuat.

Jenis cairan :

• Larutan kristaloid yang isotonis ( NACL 0,9 % , ringer laktat)

• Transfusi darah

Dosis:

Dosis awal 10 ml/ kg bb IV pelan selama 10 -15 menit. Dapat diulang sampai

menunjukkan respon klinik

ü BIKARBONAT

Indikasi : Asidosis metabolic secara klinik( nafas cepat dan dalam,

sianosis)

Prasyarat : Bayi telah dilakukan ventilasi dengan epektif.

Dosis : 1-2 m Eq / kg bb atau 2 ml /kg bb(4,2 %) atau 1 ml / kg bb (7,4 %)

Cara : Diencerkan dengan aquabides atau dextrose 5 % sama banyak diberikan

Secara intravena dengan kecepatan minimal 2 menit

Efek samping: Pada keadaan hiperosmolaritas dan kandungan CO2 dari bikarbonat merusak fungsi
miokardium dan otak

ü NALOKSON

Nalokson Hidroklorida adalah antagonis narkotik yang tidak rnenyebabkan depresi pernafasan.

Indikasi:

1. Depresi psmapa$an pada bayi bam lahir yang ibunya menggunailcan narkotik 4 jam sebelurn
persalinan.

2. Sebelum diberikan nalokson, ventilasi harus adekuat dan stabil.

3. Jangan diberilm pada bayi brug lahir yang ibrmya baru dicurigai sebagai pemakai obat narkotika
sebab akan menyebabkan tanpa with drawl tiba-tiba pada sebagian bayi.

Dosis : 0,1 mgikgBB ( 0,4 mg/ml atau lmg/ml)

Cara : i.v endotrakheal atau bila perfusi baik diberikan i.m atau s.c
f. Siapkan rujukan bila bayi belum bernafas normal sesudah 2 menit ventilasi

• Mintalah keluarga untuk mempersiapkan rujukan

• Hentikan ventilasi sesudah 20 menit tidak berhasil

Tahap III : Asuhan Pasca Resusitasi

Asuhan pasca resusitasi adalah pelayanan kesehatan pasca resusitasi, yang diberikan baik kepada
bayi baru lahir ataupun ibu dan keluarga setelah resusitasi berhasil sebaiknya bidan tinggal bersama
ibu dan keluarga bayi untuk memantau bayi minimal 2 jam pertama

a. Bila pernafasan bayi dan warna kulitnya normal, berikan pada ibunya

b. Letakkan bayi di dada ibu dan selimuti keduanya dengan kain hangat

c. Anjurkan ibu menyusui bayinya dan membelainya

d. Lakukan asuhan neonatal normal

e. Lakukan pemantauan seksama terhadap bayi pasca resusitasi selama 2 jam pertama

• Perhatikan tanda-tanda kesulitan bernafas pada bayi

1. Terikan dinding dada ke dalam nafas megap-megap, frekuensi nafas < 60 x/menit

2. Bayi kebiruan atau pucat

3. Bayi lemas

• Pantau juga bayi yang berwarna pucat walaupun tampak bernafas

f. Jagalah agar bayi tetap hangat dan kering

• Tunda memandikan bayi sampai 6 sampai 24 jam

g. Bila kondisi bayi memburuk

• Perlu rujukan sesudah resusitasi

PELAYANAN KONTRASEPSI DAN SISTE RUJUKAN

A. Pengertian

Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti ‘mencegah’ atau ‘melawan’ dan konsepsi yang berarti
pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud
dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan
antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut. Ada dua pembagian cara kontrasepsi,
yaitu cara kontrasepsi sederhana dan cara kontrasepsi moderen (metode efektif).
1. Cara Kontrasepsi Sederhana

Kontrasepsi sederhana terbagi lagi atas kontrasepsi tanpa alat dan kontrasepsi dengan alat/obat.
Kontarsepsi sederhana tanpa alat dapat dilakukan dengan senggama terputus dan pantang berkala.
Sedangkan kontarsepsi dengan alat/obat dapat dilakukan dengan menggunakan kondom, diafragma
atau cup, cream, jelly, atau tablet berbusa (vaginal tablet).

2. Cara Kontrasepsi Moderen/Metode Efektif

Cara kontrasepsi ini dibedakan atas kontrasepsi tidak permanen dan kontrasepsi permanen.
Kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan pil, AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), suntikan,
dan norplant. Sedangkan cara kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan metode mantap, yaitu
dengan operasi tubektomi (sterilisasi pada wanita) vasektomi (sterilisasi pada pria).

a) Senggama Terputus

Merupakan cara kontrasepsi yang paling tua. Senggama dilakukan sebagaimana biasa, tetapi pada
puncak senggama, alat kemaluan pria dikeluarkan dari liang vagina dan sperma dikeluarkan di luar.
Cara ini tidak dianjurkan karena sering gagal, karena suami belum tentu tahu kapan spermanya
keluar.

b) Pantang Berkala (Sistem Kalender)

Cara ini dilakukan dengan tidak melakukan senggama pada saat istri dalam masa subur. Cara ini
kurang dianjurkan karena sukar dilaksanakan dan membutuhkan waktu lama untuk ‘puasa’. Selain
itu, kadang juga istri kurang terampil dalam menghitung siklus haidnya setiap bulan.

c) Kondom/Diafragma
Kondom merupakan salah satu pilihan untuk mencegah kehamilan yang sudah populer di
masyarakat. Kondom adalah suatu kantung karet tipis, biasanya terbuat dari lateks, tidak berpori,
dipakai untuk menutupi zakar yang berdiri (tegang) sebelum dimasukkan ke dalam liang vagina.
Kondom sudah dibuktikan dalam penelitian di laboratorium sehingga dapat mencegah penularan
penyakit seksual, termasuk HIV/AIDS.

Kondom mempunyai kelebihan antara lain mudah diperoleh di apotek, toko obat, atau supermarket
dengan harga yang terjangkau dan mudah dibawa kemana-mana. Selain itu, hampir semua orang
bisa memakai tanpa mengalami efek sampingan. Kondom tersedia dalam berbagai bentuk dan
aroma, serta tidak berserakan dan mudah dibuang. Sedangkan diafragma adalah kondom yang
digunakan pada wanita, namun kenyataannya kurang populer di masyarakat.

d) Cream, Jelly, atau Tablet Berbusa

Semua kontrasepsi tersebut masing-masing dimasukkan ke dalam liang vagina 10 menit sebelum
melakukan senggama, yaitu untuk menghambat geraknya sel sperma atau dapat juga
membunuhnya. Cara ini tidak populer di masyarakat dan biasanya mengalami keluhan rasa panas
pada vagina dan terlalu banyak cairan sehingga pria kurang puas.

e) Pil

Pil adalah obat pencegah kehamilan yang diminum. Pil telah diperkenalkan sejak 1960. Pil
diperuntukkan bagi wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegah kehamilan sementara
yang paling efektif bila diminum secara teratur. Minum pil dapat dimulai segera sesudah terjadinya
keguguran, setelah menstruasi, atau pada masa post-partum bagi para ibu yang tidak menyusui
bayinya. Jika seorang ibu ingin menyusui, maka hendaknya penggunaan pil ditunda sampai 6 bulan
sesudah kelahiran anak (atau selama masih menyusui) dan disarankan menggunakan cara pencegah
kehamilan yang lain.

Pil dapat digunakan untuk menghindari kehamilan pertama atau menjarangkan waktu kehamilan-
kehamilan berikutnya sesuai dengan keinginan wanita. Berdasarkan atas bukti-bukti yang ada
dewasa ini, pil itu dapat diminum secara aman selama bertahun-tahun. Tetapi, bagi wanita-wanita
yang telah mempunyai anak yang cukup dan pasti tidak lagi menginginkan kehamilan selanjutnya,
cara-cara jangka panjang lainnya seperti spiral atau sterilisasi, hendaknya juga dipertimbangkan.
Akan tetapi, ada pula keuntungan bagi penggunaan jangka panjang pil pencegah kehamilan.
Misalnya, beberapa wanita tertentu merasa dirinya secara fisik lebih baik dengan menggunakan pil
daripada tidak. Atau mungkin menginginkan perlindungan yang paling efektif terhadap kemungkinan
hamil tanpa pembedahan. Kondisi-kondisi ini merupakan alasan-alasan yang paling baik untuk
menggunakan pil itu secara jangka panjang.

Jenis-jenis Pil

1) Pil gabungan atau kombinasi

Tiap pil mengandung dua hormon sintetis, yaitu hormon estrogen dan progestin. Pil gabungan
mengambil manfaat dari cara kerja kedua hormon yang mencegah kehamilan, dan hampir 100%
efektif bila diminum secara teratur.

2) Pilberturutan

Dalam bungkusan pil-pil ini, hanya estrogen yang disediakan selama 14—15 hari pertama dari siklus
menstruasi, diikuti oleh 5—6 hari pil gabungan antara estrogen dan progestin pada sisa siklusnya.
Ketepatgunaan dari pil berturutan ini hanya sedikit lebih rendah daripada pil gabungan, berkisar
antara 98—99%. Kelalaian minum 1 atau 2 pil berturutan pada awal siklus akan dapat
mengakibatkan terjadinya pelepasan telur sehingga terjadi kehamilan. Karena pil berturutan dalam
mencegah kehamilan hanya bersandar kepada estrogen maka dosis estrogen harus lebih besar
dengan kemungkinan risiko yang lebih besar pula sehubungan dengan efek-efek sampingan yang
ditimbulkan oleh estrogen.

3) Pil khusus – Progestin (pil mini)

Pil ini mengandung dosis kecil bahan progestin sintetis dan memiliki sifat pencegah kehamilan,
terutama dengan mengubah mukosa dari leher rahim (merubah sekresi pada leher rahim) sehingga
mempersulit pengangkutan sperma. Selain itu, juga mengubah lingkungan endometrium (lapisan
dalam rahim) sehingga menghambat perletakan telur yang telah dibuahi.

f) Kontra indikasi Pemakaian Pil

Kontrasepsi pil tidak boleh diberikan pada wanita yang menderita hepatitis, radang pembuluh darah,
kanker payudara atau kanker kandungan, hipertensi, gangguan jantung, varises, perdarahan
abnormal melalui vagina, kencing manis, pembesaran kelenjar gondok (struma), penderita sesak
napas, eksim, dan migraine (sakit kepala yang berat pada sebelah kepala).

g) Efek Samping Pemakaian Pil

Pemakaian pil dapat menimbulkan efek samping berupa perdarahan di luar haid, rasa mual, bercak
hitam di pipi (hiperpigmentasi), jerawat, penyakit jamur pada liang vagina (candidiasis), nyeri kepala,
dan penambahan berat badan.

h) AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)

AKDR atau IUD (Intra Uterine Device) bagi banyak kaum wanita merupakan alat kontrasepsi yang
terbaik. Alat ini sangat efektif dan tidak perlu diingat setiap hari seperti halnya pil. Bagi ibu yang
menyusui, AKDR tidak akan mempengaruhi isi, kelancaran ataupun kadar air susu ibu (ASI). Namun,
ada wanita yang ternyata belum dapat menggunakan sarana kontrasepsi ini. Karena itu, setiap calon
pemakai AKDR perlu memperoleh informasi yang lengkap tentang seluk-beluk alat kontrasepsi ini.

Jenis-jenis AKDR di Indonesia

1. Copper-T

AKDR berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelen di mana pada bagian vertikalnya diberi lilitan
kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti
pembuahan) yang cukup baik.

2. Copper-7

AKDR ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai
ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang
mempunyai luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga halus pada
jenis Coper-T.
3. Multi Load

AKDR ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap
yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas ke bawah 3,6 cm. Batangnya diberi gulungan kawat
tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektivitas. Ada 3
ukuran multi load, yaitu standar, small (kecil), dan mini.

4. Lippes Loop

AKDR ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf S bersambung. Untuk
meudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya. Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda
menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm 9
(benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang putih) untuk
tipe D. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan lain dari pemakaian
spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab
terbuat dari bahan plastik.

Pemasangan AKDR

Prinsip pemasangan adalah menempatkan AKDR setinggi mungkin dalam rongga rahim (cavum
uteri). Saat pemasangan yang paling baik ialah pada waktu mulut peranakan masih terbuka dan
rahim dalam keadaan lunak. Misalnya, 40 hari setelah bersalin dan pada akhir haid. Pemasangan
AKDR dapat dilakukan oleh dokter atau bidan yang telah dilatih secara khusus. Pemeriksaan secara
berkala harus dilakukan setelah pemasangan satu minggu, lalu setiap bulan selama tiga bulan
berikutnya. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan setiap enam bulan sekali.

Kontra indikasi pemasangan AKDR:

· Belum pernah melahirkan

· Adanya perkiraan hamil


· Kelainan alat kandungan bagian dalam seperti: perdarahan yang tidak normal dari alat
kemaluan, perdarahan di leher rahim, dan kanker rahim.

Keluhan-keluhan pemakai AKDR

Keluhan yang dijumpai pada penggunaan AKDR adalah terjadinya sedikit perdarahan, bisa juga
disertai dengan mules yang biasanya hanya berlangsung tiga hari. Tetapi, jika perdarahan
berlangsung terus-menerus dalam jumlah banyak, pemakaian AKDR harus dihentikan. Pengaruh
lainnya terjadi pada perangai haid. Misalnya, pada permulaan haid darah yang keluar jumlahnya
lebih sedikit daripada biasa, kemudian secara mendadak jumlahnya menjadi banyak selama 1–2 hari.
Selanjutnya kembali sedikit selama beberapa hari. Kemungkinan lain yang terjadi adalah kejang
rahim (uterine cramp), serta rasa tidak enak pada perut bagian bawah. Hal ini karena terjadi
kontraksi rahim sebagai reaksi terhadap AKDR yang merupakan benda asing dalam rahim. Dengan
pemberian obat analgetik keluhan ini akan segera teratasi. Selain hal di atas, keputihan dan infeksi
juga dapat timbul selama pemakaian AKDR.

Ekspulsi

Selain keluhan-keluhan di atas, ekspulsi juga sering dialami pemakai AKDR, yaitu AKDR keluar dari
rahim. Hal ini biasanya terjadi pada waktu haid, disebabkan ukuran AKDR yang terlalu kecil. Ekspulsi
ini juga dipengaruhi oleh jenis bahan yang dipakai. Makin elastis sifatnya makin besar kemungkinan
terjadinya ekspulsi. Sedangkan jika permukaan AKDR yang bersentuhan dengan rahim (cavum uteri)
cukup besar, kemungkinan terjadinya ekspulsi kecil.

Lama Pemakaian AKDR

Sampai berapa lama AKDR dapat dipakai? Hal ini sering menjadi pertanyaan. Sebenarnya, AKDR ini
dapat terus dipakai selama pemakai merasa cocok dan tidak ada keluhan. Untuk AKDR yang
mengandung tembaga, hanya mampu berfungsi selama 2–5 tahun, tergantung daya dan luas
permukaan tembaganya. Setelah itu harus diganti dengan yang baru.

i) Suntikan

Kontrasepsi suntikan adalah obat pencegah kehamilan yang pemakaiannya dilakukan dengan jalan
menyuntikkan obat tersebut pada wanita subur. Obat ini berisi Depo Medorxi Progesterone Acetate
(DMPA). Penyuntikan dilakukan pada otot (intra muskuler) di bokong (gluteus) yang dalam atau pada
pangkal lengan (deltoid).

Cara pemakaian

Cara ini baik untuk wanita yang menyusui dan dipakai segera setelah melahirkan. Suntikan pertama
dapat diberikan dalam waktu empat minggu setelah melahirkan. Suntikan kedua diberikan setiap
satu bulan atau tiga bulan berikutnya.

Kontra indikasi

Kontrasepsi suntikan tidak diperbolehkan untuk wanita yang menderita penyakit jantung, hipertensi,
hepatitis, kencing manis, paru-paru, dan kelainan darah.

Efek samping kontrasepsi suntikan

· Tidak datang haid (amenorrhoe)

· Perdarahan yang mengganggu

· Lain-lain: sakit kepala, mual, muntah, rambut rontok, jerawat, kenaikan berat badan,
hiperpigmentasi.

j) Norplant

Norplant merupakan alat kontrasepsi jangka panjang yang bisa digunakan untuk jangka waktu 5
tahun. Norplant dipasang di bawah kulit, di atas daging pada lengan atas wanita. Alat tersebut terdiri
dari enam kapsul lentur seukuran korek api yang terbuat dari bahan karet silastik. Masing-masing
kapsul mengandung progestin levonogestrel sintetis yang juga terkandung dalam beberapa jenis pil
KB. Hormon ini lepas secara perlahan-lahan melalui dinding kapsul sampai kapsul diambil dari lengan
pemakai. Kapsul-kapsul ini bisa terasa dan kadangkala terlihat seperti benjolan atau garis-garis. ( The
Boston’s Book Collective, The Our Bodies, Ourselves, 1992)
Norplant sama artinya dengan implant. Norplant adalah satu-satunya merek implant yang saat ini
beredar di Indonesia. Oleh karena itu, sering juga digunakan untuk menyebut implant. Di beberapa
daerah, implant biasa disebut dengan susuk.

Indonesia merupakan negara pemula dalam penerimaan norplant yang dimulai pada 1987. Sebagai
negara pelopor, Indonesia belum mempunyai referensi mengenai efek samping dan permasalahan
yang muncul sebagai akibat pemakaian norplant. Pada 1993, pemakai norplant di Indonesia tercatat
sejumlah 800.000 orang.

Efektivitas norplant

Efektivitas norplant cukup tinggi. Tingkat kehamilan yang ditimbulkan pada tahun pertama adalah
0,2%, pada tahun kedua 0,5%, pada tahun ketiga 1,2%, dan 1,6% pada tahun keempat. Secara
keseluruhan, tingkat kehamilan yang mungkin ditimbulkan dalam jangka waktu lima tahun
pemakaian adalah 3,9 persen. Wanita dengan berat badan lebih dari 75 kilogram mempunyai risiko
kegagalan yang lebih tinggi sejak tahun ketiga pemakaian (5,1 persen).

Yang tidak diperbolehkan menggunakan norplant

Wanita yang tidak diperbolehkan menggunakan norplant adalah mereka yang menderita penyakit
diabetes, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, migrain, epilepsi, benjolan pada payudara, depresi
mental, kencing batu, penyakit jantung, atau ginjal.

Pemasangan norplant

Pemasangan norplant biasanya dilakukan di bagian atas (bawah kulit) pada lengan kiri wanita
(lengan kanan bagi yang kidal), agar tidak mengganggu kegiatan. Norplant dapat dipasang pada
waktu menstruasi atau setelah melahirkan oleh dokter atau bidan yang terlatih. Sebelum
pemasangan dilakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu dan juga disuntik untuk mencegah
rasa sakit. Luka bekas pemasangan harus dijaga agar tetap bersih, kering, dan tidak boleh kena air
selama 5 hari. Pemeriksaan ulang dilakukan oleh dokter seminggu setelah pemasangan. Setelah itu,
setahun sekali selama pemakaian dan setelah 5 tahun norplant harus diambil/dilepas.
Kelebihan dan kekurangan norplant

Kelebihan norplant adalah masa pakainya cukup lama, tidak terpengaruh faktor lupa sebagaimana
kontrasepsi pil/suntik, dan tidak mengganggu kelancaran air susu ibu. Sedangkan kekurangannya
adalah bahwa pemasangan hanya bisa dilakukan oleh dokter atau bidan yang terlatih dan kadang-
kadang menimbulkan efek samping, misalnya spotting atau menstruasi yang tidak teratur. Selain itu,
kadang-kadang juga menimbulkan berat badan bertambah.

Tubektomi (Sterilisasi pada Wanita)

Tubektomi adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur wanita yang mengakibatkan wanita
tersebut tidak akan mendapatkan keturunan lagi. Sterilisasi bisa dilakukan juga pada pria, yaitu
vasektomi. Dengan demikian, jika salah satu pasangan telah mengalami sterilisasi, maka tidak
diperlukan lagi alat-alat kontrasepsi yang konvensional. Cara kontrasepsi ini baik sekali, karena
kemungkinan untuk menjadi hamil kecil sekali. Faktor yang paling penting dalam pelaksanaan
sterilisasi adalah kesukarelaan dari akseptor. Dengan demikia, sterilisasi tidak boleh dilakukan
kepada wanita yang belum/tidak menikah, pasangan yang tidak harmonis atau hubungan
perkawinan yang sewaktu-waktu terancam perceraian, dan pasangan yang masih ragu menerima
sterilisasi. Yang harus dijadikan patokan untuk mengambil keputusan untuk sterilisasi adalah jumlah
anak dan usia istri. Misalnya, untuk usia istri 25–30 tahun, jumlah anak yang hidup harus 3 atau
lebih.

k) Penggunaan Kontrasepsi Menurut Umur

1) Umur ibu kurang dari 20 tahun:

o Penggunaan prioritas kontrasepsi pil oral.

o Penggunaan kondom kurang menguntungkan, karena pasangan muda frekuensi bersenggama


tinggi sehingga akan mempunyai kegagalan tinggi.

o Bagi yang belum mempunyai anak, AKDR kurang dianjurkan.


o Umur di bawah 20 tahun sebaiknya tidak mempunyai anak dulu.

2) Umur ibu antara 20–30 tahun

o Merupakan usia yang terbaik untuk mengandung dan melahirkan.

o Segera setelah anak pertama lahir, dianjurkan untuk memakai spiral sebagai pilihan utama.
Pilihan kedua adalah norplant atau pil.

3) Umur ibu di atas 30 tahun

o Pilihan utama menggunakan kontrasepsi spiral atau norplant. Kondom bisa merupakan pilihan
kedua.

o Dalam kondisi darurat, metode mantap dengan cara operasi (sterlilisasi) dapat dipakai dan relatif
lebih baik dibandingkan dengan spiral, kondom, maupun pil dalam arti mencegah.

l) Beberapa Metode Kontrasepsi Baru

Dengan adanya metode kontrasepsi yang baru, berarti pula memberikan lebih banyak pilihan, dapat
membantu mengatasi beberapa kendala pemakaian kontrasepsi. Meskipun demikian,
pengembangan kontrasepsi baru untuk menambah yang sudah ada sangat terasa kurang membawa
perubahan yang positif dan inovatif. Beberapa metode yang sedang diuji klinik antara lain:

1) Cincin kontrasepsi

Cincin ini dimasukkan ke dalam vagina, bentuknya seperti kue donat, dan mengandung steroid, yaitu
progestin atau progestin ditambah estrogen, yang dilepas ke dalam aliran darah. Cincin kontrasepsi
mengandung dosis hormon yang lebih rendah dibanding dengan kontrasepsi oral. Wanita dapat
memasukkan dan mengeluarkan cincin ini sendiri.
2) Vaksin antifertilitas reversible

Vaksin ini menyebabkan antibodi berinteraksi dengan human chrrionic gonadotropin (HCG), suatu
hormon yang memelihara kehamilan. Tanpa HCG, lapisan uterus lepas dengan membawa telur yang
sudah dibuahi sehingga terjadi menstruasi.

3) Norplant II

Norplant II memiliki kelebihan dibanding dengan norplant yang ada sekarang, karena norplant II
hanya memerlukan dua implantasi subdermal. Dengan demikian, lebih mudah memasukkan dan
mengeluarkannya.

4) Suntikan

Kontrasepsi ini menggunakan mikrosfero atau mikrokapsul. Injeksi terbuat dari satu atau lebih
hormon di dalam kapsul yang dapat dibiodegrasi, yang melepaskan hormon dan menghambat
ovulasi. Satu suntikan dapat melindungi satu, tiga, atau enam bulan, tergantung dari jenis komposisi
kimianya.

5) Implantasi Transdermal

Implantasi transdermal menyebabkan pelepasan kontrasepsi steroid yang lambat dan teratur ke
aliran darah melalui kulit. Wanita dapat menempatkan implant tersebut pada tubuh dan
melepaskannya sesuai keinginan. Pada salah satu jenis implantasi transdermal, seorang wanita
menggunakan tiga implantasi selama tiga minggu. Setiap implantasi efektif selama tujuh hari. Pada
minggu berikutnya, digunakan implantasi plasebo sehingga terjadi menstruasi.

6) IUD bentuk T yang baru

IUD ini melepaskan lenovorgegestrel dengan konsentrasi yang rendah selama minimal lima tahun.
Dari hasil penelitian menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan yang tidak
direncanakan maupun perdarahan menstruasi. Kerugian metode ini adalah tambahan terjadinya
efek samping hormonal dan amenore
B. Pengertian pelayan rujukan

System rujukan dalam mekanisme pelayanan MKET merupakan suatu system pelimpahan tanggung
jawab timbal balik diantara unit pelayanan MKET baik secra vertical maupun horizontal atau kasus
atau masalah yang berhubungan dengan MKET

Unit pelayanan yang dimaksud disini yaitu menurut tingkat kemampuan dari yang paling sederhana
berurut-turut keunit pelayanan yang paling mampu

Untuk AKDR :

Dokter dan bidan praktek swasta, rumah bersalin, klinik KB, puskesmas, RS klas D RS klas D, RS klas
C, RS klas B, RS klas B2, dan RS klas A

Untuk implant :

Dokter dan bidan praktek swasta, Rumah Bersalin, Klinik KB, Puskesmas, RS klas D RS Klas D ₊, RS klas
C, RS Klas B, RS Klas B2, dan RS klas A.

Untuk Vasektomi :

Dokter praktek swasta, puskesmas,RS klas D RS klas B, RS klas D₊, RS klas C, RS klas B, RS fklas B2,
dan RS klas A

Untuk tubektomi :

Dokter Praktek Swasta berkelompok, RS klas D, RS klas Df₊, RS klas C, RS klas B, RS klas B2, dan RS
klas A
1. Tujuan Rujukan

a. Terwujudnya suatu jaringan pelayanan MKET yang terpadu disetiap tingkat wilayah, sehingga
setiap unit pelayanan memberikan pelayanan secara berhasil guna dan berdaya guna maksimal,
sesuai dengan tingkat kemampuannya masing-masing.

b. Peningkatan dukungan terhadap arah dan pendekatan gerakan KB Nasional dalam hal
perluasan jangkauan dan pembinaan peserta KB dengan pelayanan yang makin bemutu tinggi serta
pengayoman penuh kepada masyarakat

2. Jenis Rujukan

Rujukan MKET dapat dibedakan atas tiga jenis yaitu sebagai berikut:

1. Pelimpahan Kasus

a. Pelimpahan kasus dari unit pelayanan MKET yang lebih sederhana ke unit pelayanan MKET
yang lebih mampu dengan maksud memperoleh pelayanan yang lebih baik dan sempurna.
b. Pelimpahan kasus dari unit pelayanan MKET yang lebih mampu ke unit pelayanan yang lebih
sederhana dengan maksud memberikan pelayanan selanjutnya atas kasus tersebut

c. Pelimpahan kasus ke unit pelayanan MKET dengan tingkat kemampuan sama dengan
pertimbangan geografis, ekonomi dan efisiensi kerja.

d. Pelimpahan pengetahuan dan keterampilan

2. Pelimpahan pengetahuan dan keterampilan ini dapat dilakukan dengan :

a. Pelimpahan tenaga dari unit pelayanan MKET yang lebih mampu ke unit pelayanan MKET yang
lebih sederhana dengan maksud memberikan latihan praktis.

b. Pelimpahan tenaga dari unit pelayanan MKET yang lebih sederhana ke unit pelayanan MKET
yang lebih mampu dengan maksud memberikan latihan praktis

c. Pelimpahan tenaga ke unit pelayanan MKET dengan tingkat kemampuan sama dengan maksud
tukar-menukar pengalaman

3. Pelimpahan bahan-bahan penunjang diagnostic

a. Pelimpahan bahan-bahan penunjang diagnostik dari unit pelayanan MKET yang lebih sederhana ke
unit pelayanan MKET yang lebih mampu dengn maksud menegakkan diagnose yang lebih tepat

b. Pelimpahan bahan-bahan penunjang diagnostic dari unit pelayanan MKET yang lebih sederhana
dengan maksud untuk dicobakan atau sebagai informasi

c. Pelimpahan bahan-bahan penunjang diagnostic ke unit pelayanan dengan tingkat kemampuan


sama dengan maksud sebagai informasi atau untuk dicobakan
3. Sasaran Rujukan MKET

1. Sasaran obyektif

a. PUS yang akan memperoleh pelayanan MKET

b. Peserta KB yang akan ganti cara ke MKET

c. Peserta KB MKET untuk mendapatkan pengamatan lanjutan

d. Peserta KB yang mengalami komplikasi atau kegagalan pemakaian MKET

e. Pengetahuan dan keterampilan MKET

f. Bahan-bahan penunjang diagnostic

2. Sasaran subyektif

Petugas-petugas pelayanan MKET disemua tingkat wilayah.

4. Jaringan rujukan MKET

1. Dokter/bidan praktek swasta, Rumah Bersalin dengan kewajiban

a. Merujuk kasus-kasus yang tidak mampu ditanggulangi sendiri keunit pelayanan MKET yang lebih
mampu dan terdekat
b. Menerima kembali untuk tindakan lebih lanjut kasus yang dikembalikan oleh unit pelayanan MKET
yang lebih mampu

c. Mengadakan konsultasi dengan mengusahakan kunjungan ke unit pelayanan yang lebih mampu
untuk meningkatkan pengetahuan pelayanan yang lebih mampu meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan

d. Mengusahaan kunjungan tenaga dari unit pelayanan MKET yang lebih mampu untuk pembinaan
tugas dan pelayanan MKET

2. Unit pelayanan MKET tingkat kecamatan (puskesmas) yang mempunyai kewajiban sebagai
berikut:

a. Menerima dan menanggulangi kasus rujukan dari unit pelayanan MKET

b. Meengirim kembali kasus yang sudah ditanggulangi untuk dibina lebih lanjut oleh unit pelayanan
MKET yang merujuk

c. Merujuk kasus-kasus yang tidak mampu ditanggulangi ke unit pelayanan MKET yang lebih mampu
dan terdekat

d. Menerima kembali untuk pembunaan tindak lanjut kasus-kasus yang dikembalikan oleh unit
pelayanan MKET yang lebih mampu

e. Mengadakan konsultasi dan mengadakn kunjungan ke unit pelayanan yang lebih mampu untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan

f. Mengusahakan adanya kunjungan tenaga dari unit pelayanan MKET yang lebih mampu untuk
pembinaan petugas dan pelayanan masyarakat

g. Mengirim bahan-bahan penunjang diagnostic ke unit pelayanan MKET yang lebih mampu, jika
tidak dapat melakukan pemeriksaan diagnose yang lebih tepat
h. Menerima kembli hasil pemeriksaan bahan-bahan diagnosik yang sebelumnya dikirim ke unit
pelayanan MKET yang lebih mampu

3. Unit pelayanan MKET tingkat kabupaten/kotamadya (RS klas D,RS klas D, RS klas C).

a. Menerima dan menanggulangi kasus rujukan dari unit pelayanan MKET dibawahnya. Pelayanan

b. Mengirim kembali kasus yang sedang ditanggulangi untuk dibina lebih lanjut oleh unit pelayanan
MKET yang merujuk

c. Merujuk kasus-kasus yang tidak mampu ditanggulangi ke unit pelayanan MKET yang lebih mampu
dan terdekat

d. Kasus kembali untuk pembunaan tindak lanjut kasus-kasus yang dikembalikan oleh unit pelayanan
MKET yang lebih mampu

e. Mengadakan konsultasi dan mengadakan kunjungan ke unit pelayanan yang lebih mampu untuk
pembinaan petugas dan pelayanan masyarakat

f. Mengusahakan adanya kunjungan tenaga dari unit pelayanan MKET yang lebih mampu untuk
pembinaan petugas dan pelayanan masyarakat

g. Mengirim bahan-bahan penunjang diagnostic ke unit pelayanan MKET yang lebih mampu, jika
tidak mampu melakukan pemeriksaan sendiri atau jika hasilnya meragukan untuk menegakkan
diagnose yang lebih tepat

h. Menerima kembali hasil pemeriksaan bahan-bahan diagnostic yang sebelumya dikirim ke unit
pelayanan MKET yang lebih mampu

4. Unit pelayanan mKET tingkat provinsi (RS klas C, RS klas B, RS klas B2).
a. Menerima dan menanggulangi kasus rujukan dari unit pelayanan MKET dibawahnya

b. Mengirim kembali kasus yang sudah ditanggulangi untuk dibina lebih lanjut oleh unit pelayanan
MKET yang merujuk

c. Menerima konsultasi dan latihan petugas pelayanan MKET dari Unit pelayanan MKET dibawahnya

d. Mengusahakan dilaksanakannya kunjungan tenaga/spesialis keunit pelayanan MKET yang kurang


mampu untuk pembinaan petugas dan pelayanan masyarakat

e. Menerima rujukan bahan-bahan penunjang diagnostic

f. Mengirimkan hasil pemeriksaan bahan-bahan penunjang diagnostic tersebut diatas

5. Unit pelayanan MKET tingkst pusat (RS klas A)

a. Menerima dan menanggulangi kasus rujukan dari unit pelayanan MKET dibawahnya

b. Mengirim kembali kasus yang sudah ditanggulangi untuk dibina lebih lanjut oleh unit pelayanan
MKET yang merujuk

c. Menerima konsultasi dan latihan petugas pelayanan MKET dari unit pelayanan MKET dibawahnya

d. Mengusahakan dilaksanakannya kunjungan tenaga/spesialis ke unit pelayanan MKET yang kurang


mampu untuk pembinaan petugas dan pelayanan masyarakat

e. Menerima rujukan bahan-bahan penunjang diagnostic


f. Mengirimkan hasil pemeriksaan bahan-bahan penunjang diagnostic tersebut diatas

5. Mekanisme (Tata Cara) Rujukan

1. Rujukan kasus

a. Unit pelayanan yang merujuk

1) Unit pelayanan MKET yang merujuk kasus ke unit pelayanan yang lebih mampu.

Unit pelayanan bisa merujuk kasus ke unit pelayanan yang lebih mampu setelah melakukan proses
pemeriksaan dan dengan hasil sebagai berikut

a) Berdasarkan pemeriksaan penunjang diagnostic kasus tersebut tidak dapat diatasi

b) Perlu pemeriksaan penunjang diagnostic yang lebih lengkap dengan memerlukan kedatangan
penderita ybs

c) Setelah dirawat dan diobati ternyata penderita masih memerlukan perawatan dan pengobatan di
unit pelayanan yang lebih mampu

2) Unit pelayanan yang merujuk kasus ke unit pelayanan yang lebih sederhana

Unit pelayanan yang merujuk kasus ke unit pelayanan yang lebih sederhana:

a) Setelah melakukan pemeriksaan dengan atau tanpa pemeriksaan penunjang diagnostic, terhadap
penderita ternyata pengobatan dan perawatan dapat dilakukan di unit pelayanan yang lebih
sederhana
b) Setelah melakukan pengobatan dan perawatan ternyata penderita masih melakukan pembinaan
selanjutnya yang dapat dilakukan oleh unit pelayanan yang lebih sederhana

3) Unit pelayanan yang merujuk kasus ke unit pelayanan dengan kemampuannya yang sama.

a. Unit pelayanan dapat merujuk ke unit pelayanan dengan kemampuan sama jika:

1) Setelah melakukan pemeriksaan dengan atau tanpa pemeriksaan penunjang diagnostic, ternyata
untuk kemudahan penderita pengobatan dan perawatan dapat dilakukan di unit pelayanan yang
lebih dekat

2) Setelah melakukan pengobatan dan perawatan, penderita masih memerlukan pembinaan


lanjutan di unit pelayanan yang lebih dekat

b. Unit pelayanan yang menerima rujukan

1) Unit pelayanan yang menerima rujukan dari unit pelayanan yang lebih sederhana.

2) Sesudah melakukan pemeriksaan penunjang diagnostic, dapat mengirimkan kembali penderita ke


unit pelayanan yang merujuk untuk perawatan dan pengobatan

3) Sesudah melakukan perawatan dan pengobatan, dapat mengirimkan kembali penderita ke unit
pelayanan yang merujuk untuk pembinaan lebuh lanjut

c) Unit pelayanan yang menerima rujukan dari unit pelayanan yang lebih mampu

a) Melakukan perawatan dan pengobatan penderita yang dirujuk, atau;

b) Melakukan pembinaan lanjutan terhadap penderita yang dirujuk


d) Unit pelayanan yang menerima rujukan dari unit pelayanan dengan kemampuan sama.

a) Melakukan perawatan dan pengobatan penderita yang dirujuk, atau;

b) Melakukan pembinaan lanjutan terhadap penderita yang dirujuk

6. Rujukan bahan-bahan penunjang diagnostic

a. Unit pelayanan yang merujuk

1) Unit pelayanan yang merujuk ke unit pelayanan yang lebih mampu

2) Jika tidak mampu melakukan pemeriksaan sendiri terhadap bahan-bahan penunjang diagnostic
tersebut

3) Jika hasil pemeriksaan terhadap bahan-bahan penunjang diagnostic tersebut meragukan

b. Unit pelayanan yang merujuk ke unit pelayanan yang lebuh sederhana, jika hasil pemeriksaan
bahandiagnostik tersebut perlu diinformasikan dan pemeriksaan bahan diagnostic tersebut akan
dicobakan di unit pelayanan yang dirujuk

c. Unit pelayanan yang merujuk kasus ke unit pelayanan dengn kemampuan yang sama jika hasil
pemeriksaan bahan diagnostic tersebut perlu diinformasikan dan pemerikaan bahan diagnostic
tersebut akan dicobakan di unit pelayanan yang dirujuk

d. Unit pelayanan yang menerima rujukan


1) Unit pelayanan yang menerima rujukan dari unit pelayanan yang lebih sederhana perlu
melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:

a) Melakukan pemeriksaan bahan-bahan penunjang diagnostic yang dirujuk.

b) Mengirimkan hasil pemeriksaan bahan-bahan penunjang diagnostic kepada unit pelayanan yang
merujuk.

2) Unit pelayanan yang menerima bahan-bahan penunjang diagnostic dari unit pelayanan yang lebih
mampu, perlu melakukan tindakan.” Mencoba pemeriksaan yang lebih mampu, perlu melakukan
yang dirujuk”

3) Unit pelayanan yang menerima bahan penunjang diagnostic dari unit pelayanan dengan
kemampuan yang setingkat, perlu melakukan tindakan.

7. Mencoba pemeriksaan bahan-bahan penunjang diagnostic yang dirujuk.

Rujukan kemampuan dan keterampilan

a. Unit pelayanan yang merujuk

1) Unit pelayanan yang merujuk ke unit pelayanan yang lebih mampu

a) Melakukan konsultasi

b) Mengirimkan tenaga-tenaga untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan


BAB III

KESIMPULAN

A.KESIMPULAN

Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas dengan spontan dan
teratur segera setelah lahir.Untuk menentukan derajat asfiksia dapat menggunakan APGAR score.
Bayi dengan asfiksia pertolongan pertamanya dapat di lakukan dengan tindakan Resusitasi. Untuk
melakukan tindakan resusitasi, penolong harus benar-benar mempunyai kemampuan untuk
melakukannya, sebab tindakan ini hanya di lakukan dalam 30 detik. Dalam melakukan tindakan
resusitasi di mulai dari langkah awal, jika tidak berhasil di lanjutkan dengan pemberian Ventilasi
Tekanan Positif (VTP) dan apabila tidak berhasil juga bisa di lakukan kompresi dada atau bahkan
belum berhasil berikan medikamentosa seperti obat-obatan (epineprin). Apabila kondisi bayi
membaik, lakukan perawatan pasca resusitasi dan asuhan bayi normal.
Dengan meningkatnya peserta KB dengan metode kontrasepsi efektif terpilih tersebut, maka
dituntut pelayanan yang lebih tinggi kualitasnya serta pengayoman yang lebih baik. Dalam rangka
meningkatkan kualitas pelayanan serta pengayoman ini, system rujukan merupakansalah satu hal
yang penting, yang perlu diketahui oleh setiap petugas atau setiap unsure yang ikut serta dalam
gerakan KB Nasional khususnya maupun oleh setiap peserta atau calon peserta KB pada umumnya