Você está na página 1de 31

MAKALAH

ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS

“Konsep Dasar Komunitas“

Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Asuhan Kebidanan


Komunitas
Oleh
1. Fepy Sisiliay (16.14.02.011)

AKADEMI KEBIDANAN PAMENANG


JL. SOEKARNO HATTA NO. 15 BENDO-PARE-KEDIRI
TELEPON (0354) 393102-FAX (0354) 395480
TAHUN 2018/2019
PEMBAHASAN

I. Konsep Dasar Komunitas

A. Pengertian Kebidanan Komunitas

Komunitas berasal dari bahasa latin yaitu “communitas” yang berarti

“kesamaan”, juga Communis yang berarti sama, public. Komunitas berarti

sekelompok individu yang tinggal pada wilayah tertentu, memiliki nilai-

nilai keyakinan dan minat yang relatif sama, serta berinteraksi atau satu

sama lain untuk mencapai tujuan. Menurut WHO, komunitas adalah suatu

kelompok social yang ditentukan oleh batas-batas wilayah, nilai-nilai

keyakinan dan minat yang sama, serta ada rasa saling mengenal dan

interkasi antara anggota masyarakat yang satu sama yang lainnya (Pinem,

2016: 8-9).

Kebidanan adalah sutu bidan ilmu yang mempelajari keilmuan dan seni

yang memoersiapkan kehamilan, menolong persalinan, nifas dan menyusui,

masa interval dan pengaturan kesubuhran, klimakterium dan menopause,

bayi baru lahir dan balita, fungsi-fungsi reproduksi manusia serta

memebrikan bantuan/dukungan pada perempuan, keluarga dan

komunitasnya. Pelayanan kebidanan adalah bagian integral dari system

pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan yang terlah terdaftar

(teregister) yang dapat dilakukan secara mandiri, kolaborai atau rujukan.

(Turrahmi, 2017: 3).

Kebidanan kesehatan komunitas adalah pelayanan kebidanan

profesional yang ditunjukkan pada masyarakat dengan penekanan pada

kelompok risiko tinggi, dalam upaya mencapai derajat kesehatan yang


optimal melalui pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan dengan

menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, dan

melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan, pelaksanaan dan

evaluasi pelayanan keperawatan (Dawkin dalam Turrahmi, 2017: 4).

Sedangkan menurut Pinem (2016: 9), kebidanan komunitas adalah bagian

dari kebidanan yang berupa serangkaian ilmu dan keterampilan untuk

memberikan pelayanan kebidanna pada ibu dan anak yang berada dalam

masyarakat diwilayah tertentu.

Kebidanan komunitas memberikan perhatian terhadap pengaruh factor

lingkungan meliputi fisik, biologis, psikologis, social dan kultural dan

spiritual terhadap kesehatan masyarakat dan memberi prioritas pada strategi

pencegahan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan, dalam upaya

mencapai tujuan (Turrahmi, 2017: 4).

B. Tujuan Kebidanan Komunitas

Tujuan umum kebidanan komunitas menurut Turrahmi (2017: 9) adalah

meningkatkan kemampuan masyarakat agar dapat menjalankan fungsinya

secara optimal. Adapun tujuan khusus kebidanan komunitas adalah :

1. Meningkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok, dan

masyarakat dalam pemahaman tentang pengertian sehat dan sakit

2. Meningkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok, dan

masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan

3. Terciptanya dukungan bagi individu yang terkait

4. Terkendali dan tertanggulanginya keadaan lingkungan fisik dan sosial

untuk menuju keadaan sehat yang optimal


5. Berkembangnya ilmu serta pelaksanaan kebidanan kesehatan

masyarakat.

Untuk mencegah dan meningkatkan kesehatan masyarakat menurut

Turrahmi (2017: 9) dilakukan melalui :

1. Pelayanan keperawatan langsung (direct care) terhadap individu,

keluarga, dan kelompok dalam konteks komunitas

2. Perhadan langsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat dan

mempertim bangkan bagaimana masalah atau issue kesehatan

masyarakat mempengaruhi keluarga, individu dan kelompok

C. Prinsip Kebidanan Komunitas

a. Kebidanan komunitas sifatnya multidisiplin meliputi ilmu kesehatann

masyarakat, kedokteran, sosial, psikologis, ilmu kebidanan, dan lain-

lain yang mendukung peran bidan di koomunitas.

b. Dalam pelayanan kebidanan komunitas bidan tetap berpedoman pada

etika profesi kebidanan yang menjunjung tinggi harkat dan martabat

kemanusiaan klien.

c. Dalam pelayanan kebidanan komunitas, bidan senantiasa

memperhatikan dan memberi penghargaan terhadap nilai-nilai yang

berlaku di masyarakat, sepanjang tidak merugikan dan tidak

bertentangan dengan prinsip kesehatan.

(Runjati, dkk. 2011:9)

D. Sasaran Kebidanan Komunitas

Ukuran keberhasilan bidan dikomunitas adalah bangitnya atau lahirnya

gerakan masyarakat untuk mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan


kesehatan serta kualitas hidup perempuan di wilayah tertentu dengan

sasaran sebagai berikut:

1. Sasaran umum

a. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

b. Organisasi masyarakat

c. Tokoh masyarakat dan kelompok masyarakat.

2. Sasaran khusus

Perempuan selama dalam siklus kehidupannya, yaitu mulai sejak

konsepsi sampai lanjut usia. Agar pelayanan kebidanan di komunitas

terarah dan tepat sasaran, maka bidan harus menerapkan prinsip asuhan

kebidanan di komunitas. Prinsip kebidanan komunitas sebagai berikut.

a. Kebidanan komunitas sifatnya multidisiplin meliputi ilmu kesehatan

masyarakat sosial, psikologis, ilmu kebidanan dan lain-lain yanng

mendukung peran bidan di komunitas.

b. Berpedoman pada etika profesi kebidanan yang menjunjung harkat

dan martabat kemanusiaan klien.

c. Ciri kebidanan komunitas adalah menggunakan populasi sebagai

unit analisis. Populasi tersebut berupa kelompok sasaran yang terdiri

atas jumlah perempuan, jumlah kepala keluarga, jumlah neonatus,

dan jumlah balita.

d. Keberhasilan dukr melalui adanya kerja sama dengan berbagai

mitra, seperti PKK, kader kesehatan, bidan, dokter dan lain-lain.

(Yulifah,Yuswanto. 2009:4)
E. Ruang Lingkup Kebidanan Komunitas

Intervensi kebidanan yang dilakukan mencakup ; pendidikan

kesehatan/keperawatan (health education), mendemonstrasikan

keterampilan dasar yang dapat dilakukan oleh keomunitas, melakukan

intervensi kebidanan yang memerlukan keahlian bidan, misalnya konseling

pasangan yang akan menikah : melakukan kerjasama lintas program dan

lintas sektoral untuk mengatasi masalah komunitas serta melakukan rujukan

kebidanan dan non kebidanan bila perlu (Turrahmi, 2017: 10). Intervensi

kebidanan tersebut difokuskan pada tiga level pencegahan, yaitu sebagai

berikut :

1. Prevensi primer

Prevensi primer adalah pencegahan dalam arti yang sebenarnya,

dimana diidentifikasi factor risiko di mayarakat. Pencegahan primer

mencakup peningkatan kesehatan pada umumnya dan perlindungan

khusus terhadap penyakit. Prevensi primer meliputi : health promotion,

health education, specific protection dan environmental protection

(Turrahmi, 2017: 10). Contoh kegiatan dibilang prevensi primer antara

lain :

a. Imunisasi

b. Penyuluhan tentang gizi

c. Penyuluhan untuk mencegah keracunan

(Turrahmi, 2017: 10)


2. Prevensi sekunder

Pencegahan sekunder menekankan pada diagnose dini dan

intervensi yang tepat untuk menghambat proses patologik, sehingga

memperpendek waktu sakit dan tingkat keparahan/keseringan penyakit.

Prevensi sekundermeliputi : early detection and prompt treatment,

emergency care, acute and critical care, dan collaborate diagnosis and

treatment (Turrahmi, 2017: 10). Contoh kegiatan dibidang prevensi

sekunder antara lain :

a. Mengkaji keterbelangakan tumbuh kembang seorang anak/balita

b. Memotivasi keluarga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan

berkala termasuk pemeriksaan gigi dan mata secara berkala.

(Turrahmi, 2017: 10)

3. Prevensi tersier

Pencegahan tersier dilakukan pada kasus-kasus kecacatan atau

ketidakmampuan atau tidak dapat diperbaiki (irreversible). Rehabilitasi

sebagai tujuan pencegahan primer lebih dari upaya menghambat proses

penyakit sendiri, yaittu mengembalikan individu kepada tingkat

berfungsi yang optimal dari ketidakmampuannya. Prevensi tersier

meliputi : rehabilitasi, longterm care, dan care of the dying (Turrahmi,

2017: 11). Contoh kegiatan dibidang prevensi tersier antara lain :

a. Perwata mengajarkan kepada keluarga untuk melakukan perewatan

anak dengan kolostomi di rumah.

b. Membantu keluarga yang mempunyai anak dengan kelumpuhan

anggota gerak untuk lahitan secara teratur di rumah.


Sedangkan menurur Pinem (2016, 10-12), ruang lingkup pelayanan

kebidanan komunitas, meliputi upaya-upaya peningkatan kesehatan

(promotif), pencegah (preventif), diagnosis dini dan pertolongan tepat guna,

meminimalkan kecatatan pemilihan kesehatan (rehabilitatif), serta

kemitraan.

1. Promotif

Menurut WHO, promosi kesehatan adalah suatu proses membuat

orang mampu meningkatkan control terhadap kesehatan, dan

memperbaiki kesehatan, baik dilakukan secara individu, keluarga,

kelompok, maupun masyarakat. Upaya promotif dilakukan antara lain

dengan memberikan :

a. Penyuluhan kesehatan

b. Peningkatan gizi

c. Pemeliharaan kesehatan perorangan

d. Pemeliharaan kesehatan lingkungan

e. Pemberian makanan tambahan

f. Rekreasi

g. Pendidikan seks

2. Preventif

Ruang lingkup preventif ditunjukkan untuk mencegah terjadinya

penyakit dan gangguan-gangguan kesehatan individu, keluarga,

kelompok dan masyarakat. Upaya Preventif dapat dilakukan

diantaranya dengan melakukan :

a. Imunisasi pada bayi, balita, dan ibu hamil


b. Pemeriksaan kesehatan berkata melalui posyandu, puskesmas,

maupun kunjungan rumah pada ibu nifas dan neonatus

3. Diagnosis dini dan pertolongan tepat guna

Diagnosis dini dan pertolongan tepat guna merupakan upaya untuk

membantu menekan angka kesakitan dan kematian pada ibu dan bayi.

Diagnosis dini pada ibu dilakukan sejak ibu hamil yaitu dengan cara

melakukan deteksi dini (misalnya penapisan dini ibu hamil dengan

menggunakan Kartu Skor Poedji Rochdjati) agar tidak terjadi

keterlambatan dikarenakan terjadi rujukan estafet. Ibu bersalin, ibu nifas

sehingga ibu akan medapatkan pertolongan secara tepat guna. Untuk

diagnosis dini pada anak dapat dilakukan dengan cara pemantauan

pertumbuhan dan perkembangannya baik oleh keluarga, kelompok,

maupun masyarakat.
4. Meminimalkan kecacatan

Upaya memiminalkan kecacatan dilakukan dengan tujuan untuk

merawat dan memberikan pengobatan individu, keluarga, atau

kelompok orang yang menderita penyakit. Upaya yang bisa dilakukan

di antaranya dengan perawatan payudara ibu nifas dengan bendungan

air susu, perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis di rumah, ibu

bersalin, ibu nifas, dan perawatan tali pusat bayi baru lahir.

5. Rehabilitative

Rehabilitasi merupakan upaya pemulihan kesehatan bagi penderita

yang dirawat dirumah, maupun terhadap kelompok tertentu yang

menderita penyakit. Misalnya upaya pemulihan bagi pecandu narkoba,

penderita TBC dengan latihan napas dan batuk efektif.

6. Kemitraan

Dalam memberikan asuhan kebidanan di komunitas, bidan harus

mempunyai pandangan bahwa masyarakat adalah mitra dengan fokus

utama anggota masyarakat. Anggota masyarakat sebagai intinya

dipengaruhi oleh subsistem komunitas yaitu lingkungan, pendidikan,

keamanan dan transportasi, politik dan pemerintah, pelayanan kesehatan

dan sosial, komunikasi, ekonomi, serta rekreasi. Salah satu cara untuk

memahami dan mempelajari subsistem-subsistem tersebut adalah

dengan membimbing, menggerakkan, dan memberdayakan masyarakat

melalui kemitraan.

Kemitraan bidan di komunitas dapat dilakukan dengan LSM

setempat, organisasi masyarakat, organiasi sosial, kolompok


masyarakat yang melakukan upaya untuk mengembalikan individu

lingkungan ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Terutama pada

kondisi dimana stigma masyarakat perlu dikurangi (misalnya penderita

TBC, pecandu narkoba, korban perkosaan, dan prostitusi).

F. Riwayat Kebidanan Komunitas di Keluarga

Munculnya gagasan kebidanan komunitas merupakan suatu upaya

tindak lanjut dari Konferensi Internasional tentang Safe Motherhood di

Nairobi tahun 1987, kemudin dilaksanakan suatu Lokakarya Nasional

tentang kesejahteraan ibu, yang menghasilkan komtmen lintas-sektoral

untuk menurunkan AKI (Angka Kematian Ibu) sebesar 50% dari 450 pada

tahun 1986 menjadi 225 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 2000.

Dalam perkembangannya, penurunan AKI yang dicapai tidak seperti

yang diharapkan. Pada tahun 1995, AKI di Indoneia masih sebesar 373 per

100.000 kelahiran hidup. Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan

negara-negara di wilayah Asia Tenggara apalagi dengan negara-negara

maju. Data estimasi SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia)

2003 menunjukkan bahwa dalam periode 1998-2002, AKI di Indonesia

hanya mengalami penurunan menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup.

Tingginya AKI di Indonesia ini dipengaruhi pula oleh belum

memadainya cangkupan persalinan oleh belum memadainya cangkupan

persalinan oleh tenaga kesehatan dan rendahnya cangkupan penanganan

kasus obstetri. Ada korelasi yang jelas antara cangkupan pertolongan

persalinan oleh tenaga kesehatan dan AKI. Semakin tinggi cakupan

pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan maka akan semakin rendah


AKI suatu negara. Data SDKI 1994 menunjukkan bahwa di Indonesia, 72,4

% ibu yang melahirkan di desa dan 25, 2% ibu yang melahirkan dikota

masih ditolong oleh dukun, sementara data SDKI 1997 menunjukkan belum

banyak perubahan, yaitu 65,3% pertolonga persalinan di desa dan

menunjukkan bahwa pertolongan persalinan masih banyak dilakukan oleh

tenaga non-medis. Salah satu analisis yang melatarbelakangi keadaan

tersebut adalah tidak adanya atau kurangnya tenaga kesehtan yang ada di

dekat masyarakat terutama daerah pedesaan.

Salah satu upaya penting yang ditempuh dalam mempercepat penurunan

AKI dan AKB adalah dengan mendekatkan pelayanan kesehatan kepada

masyarakat. Mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berarti

menempatkan tenaga kesehatan ditengah-tengah masyarakat dan juga

mengembangan pelayanan kesehatan yang diterima oleh masyarakat. Pada

tahun 1989, pemerintah membuat kebijakan melaksanakan “crash

program” secara nasional yang memperoleh lulusan Sekolah Pendidikan

Keperawatan (SPK) untuk langsung masuk ke program pendidikan bidan

yang dikenal sebagai Program Pendidikan Bidan yang dikenal sebagai

Program Pendidikan Bidan A (PPB A). Lama pendidikan bidan ini hanya 1

tahun dan lulusannya langsung ditempatkan di desa-desa yang kemudian

disebut sebagai Bidan di Desa (BDD). Pada tahun 1996 telah diluluskan

54.000 orang BDD yang ditempatkan diseluruh wilayah Indonesia dan

sampai Maret 1998 dilaporkan jumlah BDD adalah sebanyak 58.882 orang.

Selain itu dikembangan program pendidikan bidan B dan C. Lama

pendidikan PBB A adalah 1 tahun dengan peserta didik berasal dari lulusan
akademi keperawatan, sedangkan lama pendidikan PBB C adalah 3 tahun

dengan siswa berasal dari lulusan SMP.

Namun, selama bekerja di desa, tuga pokok BDD tidak hanya

melaksanakan pelayanan kebidanan, tetapi juga harus dapat melayan

pengobatan umum. Masyarakat menganggap BDD tidak hanya sebagai

tenaga kesehatan yang menolong persalinan, tetapi juga dapat mmberikan

pengobatan umum. Dengan demikian, pada kenyataannya peran BDD tidak

semata-mata hanya sebagai penolong persalinan, tetapi juga sebagai tenaga

promotif, preventif, dan kuratif yang sangat diandalikan oleh masyarakat

desa. Bidan di desa dianggap sebaga ujung tombak peningkatan status

kesehatan ibu dan anak di desa atau masyarakat yang mempunyai peran

penting dalam pembangunan investasi dini, yaitu penanganan kesehatan ibu

hamil dan laktasi sebagai modal dasar pembangunan sumber daya manusia

(SDM). Pada awal BDD diangkat sebagi PNS, namun kemudian dalam

perjalanannya BDD diberikan status kontrak atau PTT sesuai dengan

kemampuan daerah setempat.

BDD mempunyai peranan penting dalam upaya menurunkan AKI dan

AKB meskipun dalam perjalanannya tidak semulus yang diharapkan,

namun diakui bahwa BDD mempunyai konstribusi besar dalam

meningkatkan status kesehatan ibu dan anak di desa atau masyarakat.

(Runjati, dkk. 2011:12)

G. Bekerja dan Jejaring Kerja Kebidanan Komunitas

Bidan yang bkerja di komunitas membutuhkan suatu kemitraan yang

berguna untuk pengambilan keputusan secara kolaboratif dalam rangka


meningkatkan kesehatan dan anak. Lemitraan dibentuk dengan klien,

keluagra, dan masyarakat. Keterlibatan komponen tersebut sangat penting

demi keberhasilan upaya-upaya kesehatan yang dilakukan oleh kebidanan

di komunitas.

Program kemitraan komunitas mencangkup konsep pemberdayaan dan

pengembangan komunitas. Kemitraan adalah proses yang kompleks sebagai

upaya untuk mengarahkan para akademisi, pemuka masyarakat, dan

pemberian pelayanan kesehatan untuk bersama-sama mencapai perubahan.

Unsur yang penting dalam menjalin jaringan terhadap aspek kultural, yang

erarti bahwa pelayanan yang diberikan harus sesuai dengan persepsi

masyarakat.

Adapun sepuluh pelayanan kesehatan komunitas yang sangat penting

dan dapat digunakan untuk menjamin praktik kebidanan komunitas yang

komprehensif :

a. Memantau status kesehatan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan

melalui pengkajian komunitas dengan menggunakan data spesifik vital

dan profil risiko.

b. Mendiagnosis dan menyelidiki masalah kesehatan komunitas dan hal-

hal yang dapat membahayakan kesehatan komunitas, contohny

pengawasan melekat di komunitas.

c. Menginformasikan, mendidik, dan memberdayakan masyarakat

mengenai isu kesehatan.

d. Memobilisasi kemitraan komunitas dan tindakan untuk

mengidentifikasi dan memecahkan masalah kesehatan. Contoh


mendiskusikan dan memfasilitasi kelompok komunitas untuk promosi

kesehatan.

e. Menyusun rencana dan kebijakan yang mendulung masalah kesehatan

komunitas dan individu.

f. Mendorong kepatuhan masyarakat terhadap undang-undang dan

peraturan yang melindungi dan menjamin keamanan.

g. Menghubungkan masyarakat kepada fasilitas pelayanan kesehatan

personal yang dibutuhkan dan memastikan penyediaan layanan

kesehatan tersebut.

h. Memastikan kompetensi petugas pemberi layanan kesehatan

masyarakat atau individu.

i. Mengevaluasi efektivitas, kterjangkauan, dan kualitas layanan

kesehatan individu dan masyarakat.

j. Melakukan riset atau penelitian untuk mendapatkan wawasan baru dan

solusi terhadap masalah kesehatan masyarakat.

(Runjati,dkk. 2011:15)

II. Public Health (PKMD)

A. Konsep Keluarga

1. Pengertian keluarga

Menurut Depkes RI .1988, keluarga adalah unit terkecil dari

masyarakat yg terdiri dari kk dan beberapa orang yg berkumpul dan

tinggal disuatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling

ketergantungan. Menurut S.G.Baillon.1989, keluarga adalah dua orang

atau lebih dari individu yg bergabung karena hubungan


darah,hubperkawinan,pengangkatan,dan mereka hidup dalam satu

rumah tangga beriteraksi satu sama lainnya dalam perannya masing-

masing serta mempertahankan suatu kebudayaan. Jadi, keluarga adalah

unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan

beberapa anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam

suatu rumah tangga karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau

adopsi, dimana antara satu dengan yang lainnya saling tergantung dan

berinteraksi. Bila salah satu anggota keluarga mempunyai masalah

kesehatan atau keperawatan, maka akan berpengarung terhadap

anggota-anggota yang lain dan keluarga-keluarga yang ada di sekitarnya

(Turrahmi, 2017: 28).

2. Bentuk tipe keluarga

Bentuk tipe keluarga dibagi menjadi dua yaitu tradisional dan

nontradisional.

a. Tipe keluarga tradisional menurut Kholifah dan Widagdo (2016: 34-

35), terdiri atas beberapa tipe di bawah ini :

1) The Nuclear family (keluarga inti), yaitu keluarga yang terdiri

atas suami, istri, dan anak, baik anak kandung maupun anak

angkat.

2) The dyad family (keluarga dyad), suatu rumah tangga yang

terdiri atas suami dan istri tanpa anak. Hal yang perlu Anda

ketahui, keluarga ini mungkin belum mempunyai anak atau tidak

mempunyai anak, jadi ketika nanti Anda melakukan pengkajian


data dan ditemukan tipe keluarga ini perlu Anda klarifikasi lagi

datanya,

3) Single parent, yaitu keluarga yang terdiri atas satu orang tua

dengan anak (kandung atau angkat). Kondisi ini dapat

disebabkan oleh perceraian atau kematian.

4) Single adult, yaitu suatu rumah tangga yang terdiri atas satu

orang dewasa. Tipe ini dapat terjadi pada seorang dewasa yang

tidak menikah atau tidak mempunyai suami.

5) Extended family, keluarga yang terdiri atas keluarga inti

ditambah keluarga lain, seperti paman, bibi, kakek, nenek, dan

sebagainya. Tipe keluarga ini banyak dianut oleh keluarga

Indonesia terutama di daerah pedesaan.

6) Middle-aged or elderly couple, orang tua yang tinggal sendiri di

rumah (baik suami/istri atau keduanya), karena anak-anaknya

sudah membangun karir sendiri atau sudah menikah.

7) Kin-network family, beberapa keluarga yang tinggal bersama

atau saling berdekatan dan menggunakan barang-barang

pelayanan, seperti dapur dan kamar mandi yang sama.

b. Tipe keluarga nontradisional menurut Kholifah dan Widagdo (2016:

34), tipe keluarga ini tidak lazim ada di Indonesia, terdiri atas

beberapa tipe sebagai berikut :

1) Unmarried parent and child family, yaitu keluarga yang terdiri

atas orang tua dan anak dari hubungan tanpa nikah.


2) Cohabitating couple, orang dewasa yang hidup bersama di luar

ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu.

3) Gay and lesbian family, seorang yang mempunyai persamaan

jenis kelamin tinggal dalam satu rumah sebagaimana pasangan

suami istri.

4) The nonmarital heterosexual cohabiting family, keluarga yang

hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui

pernikahan.

5) Foster family, keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan

keluarga/saudara dalam waktu sementara, pada saat orang tua

anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan

kembali keluarga yang aslinya.

3. Pemengang kekuasaan dalam keluarga

Pemegang kekuasaan dalam keluarga menurut Effendi dalam

Turrahmi (2017: 29) adalah sebagai berikut :

a. Patrikal, yang dominan memegang kekuasaan dalam keluarga

adalah pihak ayah.

b. Matrikal, yang dominan memegang kekuasaan dalah keluarga

adalah pihak ibu.

c. Equalitarian, yang dominan memegang kekuasaan dalam keluarga

adalah pihak ayah dan ibu.

4. Peranan keluarga

Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku

interpersonal, sifat kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam


posisi dan situasi tertentu. Menurut Effendi dalam Turrahmi (2017: 29)

peranan dalam keluarga adalah :

a. Peranan ayah

Sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anak, pecari nafkah,

pendidik, pelindung, kepala keluarga, anggota dari kelompok

sosialnya, anggota masyarakat dari lingkungannya.

b. Peranan ibu

Sebagai istri dan ibu dari anak-anak, mengurus rumah tangga,

mengasuh dan pendidik, pelindung dari salah satu kelompok dari

peranan sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari

lingkungannya, pencari nafkah tambahan dalam keluarga.

c. Peranan anak

Melaksanakan peranan psikososial sesuai tingkat perkembangan

baik fisik, mental maupun spiritial.

5. Fungsi keluarga

Fungsi keluarga menurut Turrahmi (2017: 29-30) adalah sebagai

berikut :

a. Fungsi biologis

Untuk meneruskan keturunan, memelihara dan membesarkan anak,

memenuhi kebutuhan gizi keluarga, memelihara dan merawat

anggora keluarga.

b. Fungsi psikologis

1) Memberikan kasih saying dan rasa aman

2) Memberikan kasih saying diantara anggota keluarga


c. Fungsi social

1) Membina sosialisasi pada anak

2) Membentuk norma tingkah laku sesuai tingkat perkembangan

anak

d. Fungsi ekonomi

1) Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi

kebutuh keluarga

2) Mencari sumber penghasilan keluarga untuk memenuhi

kebutuhan keluarga

3) Menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga dimasa yang

akan dating.

e. Fungsi pendidikan

1) Menyekolahkan abak untuk membekali pendidikan,

keterampilan dan membentuk perilaku sesuai bakat dan minat

yang dimilikinya.

2) Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan

dating, memenuhi peranannya sebagai orang dewasa.

3) Mendidik anak sesuai tingkat perkembangannya.

6. Gambaran keluarga sehat

Gambaran keluarga sehat menurut Turrahmi (2017: 30) adalah

sebagai berikut :

a. Anggota keluarga dalam kondisi sehat fisik, mental maupun sosial.


b. Cepat meminta bantuan tenaga kesehatan atau unit pelayanan

kesehatan bila timbul masalah kesehatan pada salah satu anggota

keluarga.

c. Di rumah tersedia kotak berisi obat-obatan sederhana untuk P3K.

d. Tinggal di rumah dan lingkungan yang sehat.

e. Selalu memperhatikan kesehatan keluarga dan masyarakat.

B. Masalah Kesehatan di komunitas

Adapun masalah kesehatan yang dihadapi bangsa Indonesia menurut

Turrahmi (2017: 6), diantaranya adalah :

1. Tingginya angka pertumbuhan penduduk (1,98 %)

2. Tingginya angka kematian ibu dan anak (AKI 420/100.000 penduduk,

AKB 57/1000 kelahiran hidup, dan angka kematian balita 84/1000.

3. Tingginya angka kesakitan karena penyakit menular, diantaranya TB

paru, demam berdarah dan ISPA

4. Meningkatnya angka kesakitan penyakit tidak menular, seperti penyakit

jantung, neoplasma, penyakit karena cedera, dan penyakit gangguan

mental

5. Masalah kesehatan lingkungan, meliputi masalah lingkungan fisik dan

biologis yang belum memadai. Baru sebagian kecil penduduk yang

menikmati air bersih.

Faktor penyebab kondisi diatas, diantaranya adalah faktor sosial

ekonomi, gaya hidup dan perilaku masyarakat, dan sistem pelayanan

kesehatan (Turrahmi, 2017: 6).


C. Konsep Dasar Kebidanan Komunitas Perspektif Gender dan HAM

1. Konsep asuhan kebidanan komunitas berspekstif gender

Perubahan peran menjadi ibu merupakan perubahan yang

menyeluruh baik bio-Psiko-Sosial bagi kehidupan seorang perempuan

yang juga dipengaruhi oleh berbagai factor seperti budaya, lingkungan

dan sebagainya. Sehubungan dengan pelayanan klinis kebidanan di

institusi pelayanan kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan akibat

perubahan social budaya lingkungan lainnya yang terjadi, maka

pelayanan kebidanan komunitas merupakan bentuk pelayanan

kebidanan yang dapat mengatasi aspek-aspek tersebut (Tim Dosen

Poltekkes, 2013: 5).

Kematian ibu/bayi merupakan kegagalan kesehatan dan kegagalan

social, oleh karena itu pola pelayanan ksesehatan ibu yang relevan

dengan kondisi geografis,status keluarga dan tingkat pendidikan,

budaya masyarakat sangat dibutuhkan. Pola pelayanan yang tepat

adalah dengan mendekatkan pelayanan kebidanan ke masyarakat.

Namun tugas bidan disini bukan hanya mendekatkan pelayanan

kebidanan tetapi juga menjadi penggerak atau pemimpin yang bias

menggerakkan masyarakat untuk mengaktualisasikan penghargaan hak-

hak perempuan sebagai hak asasi manusia atau yang sering disebut

dengan bidan sensitive gender (Tim Dosen Poltekkes, 2013: 5).


2. Kerangka konsep penerapan kacamata gender pada asuhan kebidanan

komunitas

a. Lingkungan dalam

Aktualisasi penghargaan hak-hak perempuan sebagai hak asasi

perempuan dan memandang hak-hak reproduksi sebagai hak-hak

perempuan karena kita ingin menghasilkan bidan yang sensitif

gender (Tim Dosen Poltekkes, 2013: 6).

b. Lingkungan tengah

Bidan dengan kacamata/sensitive gender

- Hak-hak perempuan adalah hak-hak manusia, dan hak-hak

reproduksi adalah hak-hak perempuan. Bidan yang sensitif

gender melihat pasiennya dari konteks kehidupan sosialnya di

masyarakat.
- Gender membantu mengungkap hubungan kekuasaan yang tidak

adil antara laki-laki dan perempuan. Paradigma bidan melihat

perempuan sebagai individu yang khusus. Kita harus

menghormati setiap perempuan.

- Bidan yang sensitif gender tidak hanya menangani masalah fisik

pasiennya saja.

- Seorang bidan harus menekankan di dalam benaknya bahwa isu

gender merupakan kunci dalam meningkatkan kualitas

pelayanan perempuan, dan secara tidak langsung memperbaiki

kualitas kesehatan laki-laki dan seluruh keluarga, termasuk

masyarakat

- Ceramah sebagai metode pengajaran kognitif, harus tumbuh dari

hati dan tercermin dalam sikap. Seberapa jauh modul pengajaran

menekankan pada hati

(Tim Dosen Poltekkes, 2013: 6-7)

c. Lingkungan luar

Ceramah sebagai metode pengajaran kognitif, harus tumbuh dari

hati dan tercermin dalam sikap. Seberapa jauh modul pengajaran

menekankan pada hati (Tim Dosen Poltekkes, 2013: 7).

D. Melakukan Asuhan

1. Antenatal Care (ANC)

Terdapat enam standar dalam standar pelayanan antenatal sebagai

berikut :
1) Standar 3 : Identifikasi ibu hamil

Pernyataan standar: Bidan melakukan kunjungan rumah dan

berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan

penyuluhan dan memotivasi ibu, suami dan anggota keluarganya

agar mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini

dan secara teratur (Sriyanti, 2016: 67).

2) Standar 4 : Pemeriksaaan dan Pemantauan Antenatal

Pernyataan standar: Bidan memberikan sedikitnya 4 x

pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesis dan

pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah

perkembangan berlangsung dengan normal. Bidan juga harus

mengenali kehamilan risti/kelainan, khuususnya anemia, kurang

gizi, hipertensi, PMS/infeksi HIV, memberikan pelayanan

imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas terkait

lainnya yang diberikan oleh puskesmas. Mereka harus mencatat

data yang tepat pada setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan,

mereka harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan

merujuknya untuk tindakan selanjutnya (Sriyanti, 2016: 67).

3) Standar 5 : Palpasi abdomen

Pernyataan standar: Bidan melakukan pemeriksaan abdominal

secara seksama dan melakukan palpasi untuk memperkirakan usia

kehamilan, serta bila umur kehamilan bertambah memeriksa posisi,

bagian terendah janin dan masuknya kepala janin kedalam rongga


panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat

waktu ((Sriyanti, 2016: 67)).

4) Standar 6 : Pengelolaan anemia kehamilan

Pernyataan standar: Bidan melakukan tindakan pencegahan,

penemuan, penanganan dan/atau rujukan semua kasus anemia pada

kehamilan sesuai ketentuan yang berlaku (Sriyanti, 2016: 68).

5) Standar 7 : pengelolaan dini hipertensi pada kehamilan

Pernyataan standar: Bidan menemukan secara dini setiap

kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenal tanda dan

gejala pre-eklamsia lainnya, serta mengambil tindakan yang tepat

dan merujuknya (Sriyanti, 2016: 68).

6) Standar 8 : Persiapan persalinan

Pernyataan standar: Bidan memberikan saran yang tepat

kepada ibu hamil, suami serta keluarganya pada trimester ketiga,

untuk memastikan bahwa persiapan persalinan yang bersih dan

aman serta suasana yang menyenangkan akan direncanakan dengan

baik, disamping persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk,

bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat. Bidan hendaknya

melakukan kunjungan rumah untuk hal ini (Sriyanti, 2016: 68).

2. Intranatal Care (INC)

a. Terdapat enam standar dalam standar pelayanan intranatal sebagai

berikut :
1) Standar 9 : Asuhan persalinan kala I

Pernyataan standar: Bidan menilai secara tepat bahwa

persalinan sudah mulai kemudian memberikan asuhan dan

pemantauan yang memadai, dengan memperhatikan kebutuhan

klien, selama proses persalinan berlangsung (Sriyanti, 2016:

68).

2) Standar 10 : Asuhan persalinan kala II yang aman

Pernyataan standar: Bidan melakukan pertolongan

persalinan yang aman, dengan sikap sopan dan penghargaan

terhadap klien serta memperhatikan tradisi setempat (Sriyanti,

2016: 68).

3) Standar 11 : Penatalaksanaan aktif kala III

Pernyataan standar: Bidan melakukan penegangan tali

pusat dengan benar untuk membantu pengeluaran plasenta dan

selaput ketuban secara lengkap (Sriyanti, 2016: 68).

4) Standar 12 : Penanganan kala II dengan gawat darurat janin

melalui episiotomi

Pernyataan standar: Bidan mengenali seara tepat tanda-

tanda gawat janin pada kala II yang lama, dan segera melakukan

episiotomi dengan aman untuk memperlancar persalinan,

diikuti dengan penjahitan perineum (Sriyanti, 2016: 67).

b. Persiapan ibu dan keluarga menjelang persalinan

Ada 5 (lima) hal yang penting yang perlu didiskusikan dengan

ibu dan keluarganya, yaitu :


1) Membuat perencanaan persalinan yang perlu di tetapkan :

- Tempat persalinan

- Tenaga penolong persalinan terlatih

- Bagaimana menjangkau tempat persalinan.

- Siapa yang akan menjadi pendamping persalinan.

- Besarnya biaya persalinan yang di butuhkan dan cara

memperolehnya.

- Siapa yang akan mengurus keluarga saat ibu tidak di rumah.

- Apakah rencana metode kontrasepsi pasca persalinan.

(Tim Dosen Poltekkes, 2013: 15)

2) Membuat rencana pengambilan keputusan penanganan kasus

gawat darurat, jika pengambilan keputusan utama dalam

keluarga tidak ada di tempat.

Yang perlu dibicarakan :

- Siapa yang membuat keputusan tentang rujukan ibu kalau

diperlukan.

- Siapa pengambil keputusan utama dalam keluarga.

- Siapakah yang boleh mengambil keputusan jika pengambil

keputusan utama dalam keluarga tidak ada di tempat saat

terjadi kasus gawat darurat.

(Tim Dosen Poltekkes, 2013: 15-16)


3) Mengatur system transportasi jika terjadi kasus gawat darurat

Perencanaan ini perlu dipersiapkan lebih awal selama

kehamilan, meliputi :

- Dimanakah ibu akan melahirkan (desa, fasilitas kesehatan,

rumah sakit)

- Bagaimana caranya menjangkau tingkat layanan yang lebih

lengkap jika terjadi gawat darurat

- Ke fasilitas kesehatan manakah sang ibu harus ibu harus di

rujuk

- Bagaimana caranya memperoleh donor darah yang potensial

(Tim Dosen Poltekkes, 2013: 16)

4) Membuat rencana tabungan

Pihak keluarga harus didorong untuk menabung sehingga

dana yang di butuhkan dapat tersedia untuk perawatan rutin

selama kehamilan dan kasus gawat darurat. Pengalaman

menunjukkan bahwa banyak ibu-ibu yang tidak mau mencari

pertolongan lanjutan atau di rujuk karena tidak memiliki dana

yang cukup (Tim Dosen Poltekkes, 2013: 16).

Bidan perlu mengupayakan dibentuknya suatu system untuk

mendukung uapaya menyelamatkan ibu hamil atau melalui

seseorang di lingkungan tersebut yang bisa mengorganisir

pengadaan dukungan financial untuk ibu jika diperlukan,

misalnya dalam bentuk “ tabungan ibu bersalin “ (tabulin) (Tim

Dosen Poltekkes, 2013: 16).


5) Menyiapkan peralatan untuk melahirkan

Seorang ibu dan keluarganya dapat menyiapkan persalinannya

secara bersama-sama menyiapkan peralatan seperti popok atau

baju, sabun dan pakaian mandi yang bersih, kain untuk bayi dan

disimpan sebagai persiapan untuk persalinan (Tim Dosen

Poltekkes, 2013: 16-17).


DAFTAR PUSTAKA

Kholifah dan Widagdo. 2017. Modul Bahan Ajar Cetak: Keperawatan Keluarga
dan Komunitas. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
(Online) : http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/modul-bahan-ajar-
tenaga-kesehatan/ (Diakses pada tanggal 13 September 2018, pukul 19.57
WIB).

Pinem, Srilina. 2016. Modul Askeb Komunitas. Medan: Akademi Kebidanan Mitra
Husada Medan. (Online) : http://mitrahusada.ac.id/wp-
content/uploads/2017/09/MODUL-ASKEB-KOMUNITAS.pdf (Diakses
pada tanggal 13 September 2018, pukul 19.38 WIB).

Runjati, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC

Sriyanti, Cut. 2016. Modul Bahan Ajar Cetak Kebidanan: Mutu Layanan
Kebidanan dan Kebijakan Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehataan
Republik Indonesia. (Online) :
http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/modul-bahan-ajar-tenaga-
kesehatan/ (Diakses pada tanggal 13 September 2018, pukul 17.18 WIB).

Tim Dosen Poltekkes. 2013. Modul Pembelajaran dan Praktikum: Asuhan


Kebidanan Komunitas. Gorontalo: Politeknik Kesehatan Kemenkes
Gorontalo. (Online) :
https://d3bidanpoltekkesgorontalo.files.wordpress.com/2015/12/modul-
askeb-komunitas.pdf (Diakses pada tanggal 21 September 2018, pukul 18.21
WIB).

Turrahmi, Hirfa. 2017. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: Fakultas
Kedokteran dan Kesehatan Universitas. (Online) :
https://www.scribd.com/document_downloads/direct/380021914?extension
=pdf&ft=1536833436&lt=1536837046&user_id=271088006&uahk=1maw0
m9Mliy7iJteI1iJ52o7RHo (Diakses pada tanggal 13 September 2018, pukul
20.17 WIB).

Yulifah, Rita & Yuswanto, Tri.2009. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta:


Salemba Medika.