Você está na página 1de 42

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perawat merupakan tenaga profesional yang mempunyai kemampuan baik
intelektual, interpersonal, moral, bertanggung jawab, dan berkewenangan
melaksanakan asuhan keperawatan (Departemen Kesehatan RI, 2012).
Keperawatan adalah salah satu bentuk pelayanan kesehatan, seorang perawat
dituntut untuk lebih meningkatkan profesionalisme sehingga dapat
mengimbangi kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan
yang semakin maju pesat, dengan mengembangkan potensi yang sudah
dimiliki untuk memenuhi tuntutan masyarakat yang semakin tinggi terhadap
pelayanan keperawatan dan tanggung jawab sebagai perawat profesional agar
dapat memberikan pelayanan keperawatan yang optimal dalam memberikan
asuhan keperawatan pada klien. Klien dalam perspektif keperawatan
merupakan individu, keluarga atau masyarakat yang memiliki masalah
kesehatan dan membutuhkan bantuan untuk dapat memelihara,
mempertahankan dan meningkatkan status kesehatannya dalam kondisi
optimal. Sebagai seorang manusia, klien memiliki beberapa peran dan fungsi
seperti sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan.
Profesi keperawatan adalah profesi yang memandang individu secara
holistik. Dalam memberikan asuhan keperawatan secara holistik, seorang
perawat harus mempertimbangkan berbagai aspek baik aspek fisik, sosial,
emosional, kultural maupun spiritual dalam rangka pemenuhan kebutuhan
klien. Perawat juga harus mempertimbangkan respon pasien terhadap penyakit
yang dideritanya dan kemampuan klien dalam pemenuhan kebutuhan
perawatan dirinya Kebutuhan akan spirit sebagai hal yang penting untuk tetap
terjaganyakesehatan pada semua individu. Perawat dapat mengobservasi
bahwa kondisi fisik dapat mempengaruhi mind dan spirit. Selain itu, kita juga
bisa memperhatikan jika seseorang mengalami goncangan emosional ataupun
spiritual lambat laun bisa memunculkan gejala/gangguan secara fisik.
Kebutuhan spiritual dan psikososial kurang menjadi hal yang prioritas daripada
kebutuhan fisik karena kebutuhan tersebut seringkali abstrak, komplek dan
lebih sulit untuk diukur.

1
Perawatan spiritual menjadi bagian dari perawatan secara menyeluruh
yang cukup mudah diterapkan dalam proses keperawatan dari mulai
pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.
Kebutuhan dan perawatan spiritual di dalam kerangka kerja proses
keperawatan ini telah terbukti sangat membantu baik dari segi filosofis
maupun praktis. Perawat berupaya untuk membantu memenuhi kebutuhan
spiritual klien sebagai bagian dari kebutuhan menyeluruh klien, antara lain
dengan memfasilitasi pemenuhan kebutuhan spiritual klien tersebut, walaupun
perawat dan klien mempunyai keyakinan spiritual atau keagamaan yang
berbeda.
Penting sekali bagi seorang perawat memahami perbedaan antara spiritual,
keyakinan dan agama guna menghindarkan salah pengertian yang akan
mempengaruhi pendekatan perawat dengan pasien. Spiritualitas merupakan
suatu konsep yang unik pada masing-masing individu.Manusia adalah
makhluk yang mempunyai aspek spiritual yang akhir-akhir ini banyak
perhatian dari masyarakat yang disebut kecerdasan spiritual yang sangat
menentukan kehagiaan hidup seseorang. Perawat memahami bahwa aspek ini
adalah bagian dari pelayanan yang komprehensif. Karena selama dalam
perawatan, respon spiritual kemungkinan akan muncul pada pasien.
Agama merupakan petunjuk perilaku karena di dalam agama terdapat
ajaran baik dan larangan yang dapat berdampak pada kehidupan dan kesehatan
seseorang, Agama sebagai sumber dukungan bagi seseorang yang mengalami
kelemahan dalam keadaan sakit untuk membangkit semangat untuk sehat, atau
juga dapat mempertahankan kesehatan untuk mencapai kesejahteraan. Sebagai
contoh, orang sakit dapat memperoleh kekuatan dengan menyerahkan diri atau
memohon pertolongan dari Tuhannya.
Islam adalah ad-diin yang universal mencakup seluruh aspek kehidupan.
Para ulama memandang bahwa ajaran Islam memiliki tujun untuk memelihara
lima hal utama yaitu agama, jiwa (nafs), akal, kehormatan (keturunan), dan
kesehatan . Islam memandang sehat dalam konteks yang menyeluruh (holistic
sense), jika suatu bagian tubuh sakit maka bagian tubuh lainnya pun akan
merasakan sakit. Komponen sehat yang baik tidak hanya sehat fisik (jasad),
melainkan juga sehat mental (nafs), sosial, dan spiritual (ruuh). Bagi seorang
muslim, sehat dipandang sebagai anugrah Allah yang harus disyukuri. Oleh

2
karenanya, memelihara kesehatan merupakan amanah yang harus ditunaikan
sebagai wujud syukur kepada Allah. Kebanyakan manusia lebih memfokuskan
perhatiannya pada aspek kesehatan fisik, dibanding aspek kesehatan lainnya,
padahal kesehatan komponen lainnya sama pentingnya dengan kesehatan fisik
bahkan dampaknya lebih berat ketimbang aspek fisik. Misalnya, sakit fisik
atau jasad akan berakhir ketika ajal tiba, namun ruhani yang sakit akan terbawa
konsekuensinya sampai kehidupan akhirat. Dengan demikian kesehatan ruhani
sebenarnya merupakan esensi dari kesehatan hidup seseorang.
Keperawatan dalam Islam merupakan manifestasi dari fungsi manusia
sebagai khalifah dan hamba Allah dalam melaksanakan kemanusiaanya,
menolong manusia lain yang mempunyai masalah kesehatan dan memenuhi
kebutuhan dasarnya baik aktual maupun potensial . Permasalahan klien dengan
segala keunikannya tersebut harus dihadapi dengan pendekatan silaturrahmi
(interpersonal) dengan sebaik-baiknya didasari dengan iman, ilmu dan amal
serta memiliki kemampuan berdakwah amar ma’ruf nahi munkar. Namun jika
dilihat penerapannya dalam asuhan keperawatan pada klien, maka kita akan
kesulitan untuk mencari bukti-bukti otentik bagaimana pelayanan ini diberikan
oleh para perawat. Disisi lain, jika dilihat dalam kurikulum pendidikan perawat
di Indonesia, muatan aspek spiritual klien pun sedikit sekali bobotnya sehingga
tidak mampu memberikan bekal yang memadai bagi para calon tenaga
keperawatan. Hal ini nampaknya mungkin disebabkan karena minimnya
referensi tentang keperawatan spiritual. Literature tentang keperawatan
spiritual sebagian besar berdasar pada konteks budaya barat yang bersumber
pada filosofi sekularistik. Sedangkan aspek spiritual seseorang banyak
dipengaruhi oleh keyakinan, nilai-nilai, sosial, budaya, pengalaman, dan
konteks masyarakat atau situasi krisis dimana orang itu berada.
Keperawatan dalam Islam merupakan manifestasi dari fungsi manusia
sebagai khalifah dan hamba Allah dalam melaksanakan kemanusiaanya,
menolong manusia lain yang mempunyai masalah kesehatan dan memenuhi
kebutuhan dasarnya baik aktual maupun potensial . Permasalahan klien dengan
segala keunikannya tersebut harus dihadapi dengan pendekatan silaturrahmi
(interpersonal) dengan sebaik-baiknya didasari dengan iman, ilmu dan amal
serta memiliki kemampuan berdakwah amar ma’ruf nahi munkar.

3
Hasil analisis situasi menunjukan, asuhan keperawatan untuk memenuhi
kebutuhan spiritual belum diberikan oleh perawat secara optimal. Hasil survey
Kementerian Kesehatan terhadap Rumah Sakit di Indonesia tahun 2014
(Puskom Depkes) diketahui sekitar 54 – 74 % perawat melaksanakan instruksi
medis, 26 % perawat melaksanakan pekerjaan administrasi rumah sakit, 20 %
melaksanakan praktik keperawatan yang belum dikelola dengan baik, dan 68
% tugas keperawatan dasar yang seharusnya dikerjakan perawat dilakukan oleh
keluarga pasien. Keadaan ini memacu seluruh pilar kehidupan profesi
keperawatan untuk bahu-membahu, secara bersama membangun kembali
profesi keperawatan sesuai kaedah profesi. Berbagai pilar itu terdiri dari
institusi pendidikan, pelayanan, dan organisasi profesi. Institusi pendidikan
difokuskan pada penataan struktur kurikulum sesuai kompetensi pada level
program pendidikan dan penyelenggaraan proses pembelajaran untuk
menyiapkan lulusan yang handal. Intitusi pelayanan keperawatan (rumah sakit
atau puskesmas) difokuskan pada pengembangan sistem penugasan
keperawatan, fasilitasi jenjang karier keperawatan, dan menjadi sarana proses
sosialisasi profesi bagi para peserta didik melalui pembelajaran klinik.
Organisasi profesi bertugas menetapkan, mengembangkan standar profesi
keperawatan dan mengevaluasi untuk menjamin agar setiap perawat bekerja
sesuai standar profesi. Dalam pelayanan kesehatan, perawat sebagai petugas
kesehatan harus memiliki peran utama dalam memenuhi kebutuhan spiritual
(Hamid, 2008). Berdasarkan latar belakang inilah penulis ingin mengetahui
lebih banyak tentang pemenuhan kebutuhan spiritual klien.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk Mengetahui Asuhan Kebutuhan Spiritual Islami di Berbagai
Tatanan Pelayanan Kesehatan
1.2.2 Tujuan Khusus
1) Untuk Mengetahui Asuhan Keperawatan Spiritual Islami di Rumah
Sakit
2) Untuk Mengetahui Asuhan Keperawatan Spiritual Islami di
Puskesmas

4
3) Untuk Mengetahui Asuhan Keperawatan Spiritual Islami di Tatanan
Pelayanan Kesehatan Lainnya

1.3 Manfaat
1) Menambah wawasan khususnya dalam ilmu keperawatan dan kesehatan
dalam perspektif islam pada asuhan keperawatan spiritual islami
2) Mengaplikasikan dalam praktek keperawatan sehari-hari pada klien di
Rumah Sakit, Puskesmas, dan Tatanan Pelayanan Kesehatan lainnya
3) Dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian dan perkembangan
ilmu baru

5
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Spiritual Dalam Keperawatan


1) Definisi Spiritualitas
Spiritualitas merupakan suatu kecenderungan untuk membuat makna
hidup melalui hubungan intrapersonal, interpersonal dan transpersonal
dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan. Spiritualitas mengandung
pengertian hubungan manusia dengan Tuhannya dengan menggunakan
instrumen (medium) sholat, puasa, zakat, haji, doa dan sebagainya
(Hawari, 2002). Menurut Florence Nightingale, spiritualitas adalah suatu
dorongan yang menyediakan energi yang dibutuhkan untuk
mempromosikan lingkungan rumah sakit yang sehat dan melayani
kebutuhan spiritual sama pentingnya dengan melayani kebutuhan fisik
Spiritualitas merupakan faktor penting yang membantu individu mencapai
keseimbangan yang diperlukan untuk memelihara kesehatan dan
kesejahteraan, serta beradaptasi dengan penyakit.
Spiritual adalah suatu yang dipercayai oleh seseorang dalam
hubungannya dengan kekuatan yang lebih tinggi (Tuhan), yang
menimbulkan suatu kebutuhan atau kecintaan terhadap Tuhan, dan
permohonan maaf atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Spiritual
adalah keyakinan dalam hubunganya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha
Pencipta. Sebagai contohnya adalah seseorang yang percaya kepada Allah
sebagai Pencipta atau sebagai Maha Kuasa.

2) Aspek Spiritual
Spiritualitas adalah keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan
Maha Pencipta yang meliputi berbagai aspek tersebut adalah:
a. Berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketehui atau ketidakpastian
dalam kehidupan, yang dimaksud disini adalah unsur-unsur yang gaib
atau tidak kasat mata atau yang hanya bisa dirasakan dengan mata
hati.

6
b. Menemukan arti dan tujuan hidup, maksudnya adalah menentukan
hidup sesuai takdir.
c. Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan
dalam diri sendiri, artinya bisa mengoptimalkan kekuatan yang ada di
dalam diri.
d. Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan
Tuhan Yang Maha Tinggi, yang dimaksudkan disini adalah mengakui
adanya hubungan vertikal antara sang pencipta dan yang dicipta.

3) Dimensi Spiritual
Dimensi spiritual merupakan suatu penggabungan yang menjadi satu
kesatuan antara unsur psikologikal, fisiologikal atau fisik, sosiologikal dan
spiritual. Dimensi spiritual dan religius dalam kehidupan merupakan salah
satu pengaruh terpenting dalam kehidupan individu. Dimensi spiritual
berupaya untuk mempertahankan keharmonisan atau keselarasan dengan
dunia luar, berjuang untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika
sedang menghadapi stress emosional, penyakit fisik, atau kematian.
Dimensi spiritual juga dapat menumbuhkan kekuatan yang timbul diluar
kekuatan manusia (Kozier, 2010).

4) Perkembangan Spiritual
Perkembangan Spiritual seseorang menurut Westerhoff’s di bagi ke
dalam empat tingkatan berdasarkan kategori umur, yaitu :
a. Usia anak-anak, merupakan tahap perkembangan kepercayaan
berdasarkan pengalaman. Perilaku yang didapat, antara lain: adanya
pengalaman dari interaksi dengan orang lain dengan keyakinan atau
kepercayaan yang di anut, Pada masa ini, anak belum mempunyai
pemahaman salah atau benar. Kepercayaan atau keyakinan pada masa
ini mungkin hanya mengikuti ritual atau meniru orang lain, seperti
berdoa sebelum tidur dan makan, dan lain-lain. Pada masa prasekolh
kegiatan keagamaan yang dilakukan belum bermakna pada dirinya,
perkembangan spiritual mulai mencontoh aktivitas keagamaan orang
seakilingnya dalam hal ini keluarga. Pada masa ini anak-anak

7
biasanya sudah mulai bertanya tentang pencipta, arti doa, serta
mencari jawaban tentang kegiatan keagamaan.
b. Usia remaja akhir, merupakan tahap perkumpulan kepercayaan yang
di tandai dengan adanya partisipasi aktif pada aktivitas keagamaan.
Pengalaman dan rasa takjub membuat mereka semakin merasa
memiliki dan berarti akan keyakinannya. Perkembangan spiritual pada
masa ini sudah mulai pada keinginan akan pencapaian kebutuhan
spiritual seperti keinginan melalui meminta atau berdoa kepada
penciptanya, yang berarti sudah mulai membutuhkan pertolongan
melalui keyakinan atau kepercayaan. Bila pemenuhan kebutuhan
spiritual tidak terpenuhi, akan timbul kekecewaan.
c. Usia awal dewasa, merupakan masa pencarian kepercayaan dini,
diawali dengan proses npernyataan akan keyakinan atau kepercayaan
yang dikaitkan secara kognitif sebagai bentuk yang tepat untuk
mempercayainya. Pada masa ini, pemikiran sudah bersifat rasional
dan keyakinan atau kepercayaan terus dikaitkan dengan rasional.
Segala pertanyaan tentang kepercayaan harus dapat dijawab secara
rasional. Pada masa ini, timbul perasaan akan penghargaan terhadap
kepercayaannya.
d. Usia pertengahan dewasa, merupakan tingkatan kepercayaan dari diri
sendiri, perkembangan ini diawali dengan semakin kuatnya
kepercatyaan diri yang dipertahankan walaupun menghadapi
perbedaan keyakinan yang lain dan lebih mengerti akan kepercayaan
dirinya.

5) Masalah Spiritual
Masalah yang sering terjadi pada pemenuhan kebutuhan spiritual
adalah distress spiritual, yang merupakan suatu keadaan ketika individu
atau kelompok mengalami atau berisiko mengalami ganguan dalam
kepercayaan atau sistem yang memberikannya kekuatan, harapan, dan
arti kehidupan, yang ditandai dengan pasien meminta pertolongan
spiritual, mengungkapakan adanya keraguan dalam system kepercayaan,
adanya gangguan yang berlebih dalam mengartikan hidup,
mengungkapkan perhatian yang lebih pada kematian dan sesudah hidup,

8
adanya keputusasaan, menolak kegiatan ritual, dan terdapat tanda-tanda
seperti menangis, menarik diri, cemas, dan marah, kemudian ditunjang
dengan tanda fisik seperti nafsu makan terganggu, kesulitan tidur, dan
tekanan darah meningkat.
Distres spiritual terdiri dari atas :
a. Spiritual yang sakit, yaitu kesulitan menerima kehilangan dari orang
yang dicintai atau dari penderitaan yang berat.
b. Spiritual yang khawatir, yatitu terjadi pertentangan kepercayaan dan
sistem nilai seperti adanya aborsi
c. Spiritual yang hilang, yaitu adanya kesulitan menemukan ketenangan
dalam kegiatan keagamaan

6) Macam-Macam Kebutuhan Spiritual


Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau
mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama, serta
kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan, mencintai dan
dicintai, menjalani hubungan penuh rasa percaya pada Tuhan. Individu
dikuatkan melalui “spirit” yang mengakibatkan peralihan yang penting
selama periode sakit. 7 konsep kebutuhan spiritual yang paling mewakili
kebutuhan spiritual manusia, meliputi:
a. Cinta/ kebersamaan/ rasa hormat
Hubungan antar manusia membentuk suatu keselarasan yang
dapat menyembuhkan, meliputi; dapat diterima sebagai manusia
dalam kondisi apapun, memberi dan menerima cinta, mempunyai
hubungan dengan dunia, perkawanan, mudah terharu dan mudah
melakukan kebaikan, membina hubungan yang baik dengan sesama
manusia, alam dan sekitar dan dengan Tuhan zat tertinggi. Cinta
merupakan dasar dari spiritualitas yang mendorong manusia untuk
hidup dengan hatinya, cinta meliputi dimensi cinta pada diri sendiri,
cinta pada Tuhan, cinta pada orang lain, dan cinta pada seluruh
kehidupan. Cinta juga meliputi tentang kebaikan yang berkualitas,
kehangatan, saling memahami, kedermawanan dan kelembutan hati.
Memelihara kasih sayang merupakan komponen yang penting dalam
perawatan spiritual.

9
b. Keimanan/ keyakinan
Berpartisipasi dalam pelayanan spiritual dan religius, mendapat
teman untuk berdoa, melakukan ritual keagamaan, membaca kitab
suci, mendekatkan diri pada zat yang maha tinggi (Tuhan). Agama
dapat dijadikan sarana untuk mengekspresikan spiritualitas melalui
nilai-nilai yang dianut, diyakini dan dilakukan dengan praktik-praktik
ritual,didalamnya dapat menjawab pertanyaan mendasar tentang hidup
dan kematian. Apa yang harus dikenali adalah bahwa ada sebagian
orang yang mempunyai bentuk agama yang tidak selalu masuk
kedalam institusional (Contoh: Kristen, Islam, Budha), namun
demikian perawat harus tetap memperhatikan dan mendengarkan serta
menghormati apa yang diyakini klien dan dengan cara yang arif.
c. Hal positif/ bersyukur/ berharap/ kedamaian
Banyak berharap, merasakan kedamaian, dan kesenangan,
berfikir positif, membutuhkan ruang yang sepi untuk meditasi atau
refleksi diri, bersyukur dan berterima kasih, mempunyai rasa humor.
Harapan adalah orientasi di masa depan, mepercayai makna, meyakini
dan mengharapkan. Ada dua tingkatan tentang harapan: harapan yang
sifatnya spesifik dan harapan yang sifatnya umum. Harapan yang
sifatnya spesifik mencakup tujuan yang dikehendaki pada beberapa
keinginan diri. Harapan yang sifatnya umum bagaimana menghadapi
masa depan dengan selamat. Faktor-faktor yang signifikan, seperti
datangnya penyakit dapat menyebabkan hidup seseorang dalam
situasi yang sulit, harapan membantu manusia berinteraksi dengan
ketakutan dan ketidaktentuan, serta membantu mereka untuk
menghasilkan yang positif.
d. Makna dan tujuan hidup
Memaknai bahwa penyakit merupakan sumber kekuatan,
memahami mengapa penyakit, dapat terjadi pada dirinya, makna
dalam penderitaan, memahami tujuan hidup, memahami saat krisis
(Masalah kesehatan). Sebagai seseorang yang berpengetahuan dan
memahami tujuan hidup, ini merupakan penemuan prosedur yang
signifikan serta mempunyai daya dorong pada saat menjalani
penderitaan yang besar. Tidak hanya mengartikan ini sebagai daya

10
dorong, tetapi ini juga membawa pada pencerahan. Seseorang akan
memahami hal apa yang pantas untuk di prioritaskan dalam hidupnya,
dan hal apa yang tidak relevan untuk diprioritaskan. Spiritualitas
memberi penerangan pada seseorang yang mempunyai satu tujuan,
dan mengapa mereka menghendaki untuk hidup dihari yang lain.
e. Moral dan etika
Untuk hidup bermoral dan beretika, hidup dalam masyarakat dan
menjunjung tinggi moral dan etika yang ada di dalam masyarakat
tersebut.
f. Penghargaan pada keindahan
Menghargai keindahan alam dan seni, gambaran hubungan
dengan alam meliputi: ikut memelihara lingkungan sekitar dengan
cara menanam tumbuhan, pohon serta melindungi dari kerusakan,
mengagumi alam sebagai ciptaan, menghargai seni dengan
menghargai musik.
g. Pemecahan masalah/ kematian
Pesan atau nasihat sebelum menghadapi kematian, mengakui
adanya kehidupan setelah kematian, mempunyai pemahaman yang
dalam akan kematian, dan memaafkan diri dengan orang lain.

7) Komponen-Komponen Spiritual Care


Komponen spiritual adalah sebagai berikut:
a. Menemui pasien sebagai seseorang manusia yang memilik arti dan
harapanPerawatan spiritual adalah memungkinkan untuk menemukan
makna dalam perisitiwa baik dan buruk kehidupan. Perawatan
spiritual juga sebagai sumber pasien untuk menyadari makna dan
harapan serta mengetahui apa yang benar-benar penting untuk pasien.
Memberikan harapan kepada pasien adalah salah satu bagian yang
paling penting dari perawatan, terutama ketika mereka menghadapi
pasien yang sedang sakit parah.
b. Menemui pasien sebagai seseorang manusia dalam hal
hubungan.Untuk mengurangi rasa sakit spiritual seseorang, sebagai
dalam sebuah hubungan, kita harus memperhatikan orang-orang yang
menghubungkan pasien kepada orang lain setelah kematian diantara

11
berbagai orang dan persitiwa yang disebutkan. Perawatan spiritual
adalah tentang melakukan, bukan menjadi, dan menyatakan bahwa
perawat lebih unggul dari klien, ini melibatkan cara menjadi (daripada
melakukan) yang memerlukan hubungan perawat-klien simetris.
c. Menemui pasien sebagai seorang yang beragama, Keagamaan ini
dicirikan sebagai formal, terorganisir, dan terkait dengan ritual dan
keyakinan. Meskipun banyak orang memilih untuk mengekspresikan
spiritualitas mereka melalui praktik keagamaan, beberapa dari mereka
menemukan spiritualitas yang harus diwujudkan sebagai harmoni,
sukacita, damai sejahtera, kesadaran, cinta, makna.
d. Menemui pasien sebagai manusia dengan otonomi . Jika pasien
menyadari adanya bahwa mereka masih memiliki kebebasan untuk
menentukan nasib sendiri disetiap dimensi mengamati, berfikir,
berbicara, dan melakukan, yaitu persepsi, pikiran, ekspersi dan
kegiatan melalui pembicaraan dengan perawat untuk memulihkan
rasa nilai sebagai sebagai seseorang dengan otonomi.

8) Kebutuhan Spiritual Pasien


a. Pasien Kesepian. Pasien dalam keadaan sepi dan tidak ada yang
menemani akan membutuhkan bantuan spiritual karena mereka
merasakan tidak ada kekuatan selain kekuatan Tuhan, tidak ada yang
menyertainya selain Tuhan.
b. Pasien Ketakutan dan cemas. Adanya ketakutan atau kecemasan dapat
menimbulkan pasien kacau, yang dapat membuat pasien
membutuhkan ketenangan pada dirinya, dan ketenangan yang paling
besar adalah bersama Tuhan.
c. Pasien menghadapi pembedahan. Menghadapi pembedahan adalah
sesuatu yang sangat mengkhawatirkan karena akan timbul perasaan
antara hidup dan mati. Pada saat itulah keberadaan pencipta dalam hal
ini adalah Tuhan sangat penting sehingga pasien selalu membutuhkan
bantuan spiritual.
d. Pasien yang harus mengubah gaya hidup. Perubahan gaya hidup dapat
membuat seseorang lebih membutuhkan keberadaan Tuhan
(kebutuhan spiritual). Pola gaya hidup dapat membuat kekacauan

12
keyakinan bila ke arah yang lebih buruk. Akan tetapi bila perubahan
gaya hidup kea rah yang lebih baik, maka pasien akan lebih
membutuhkan dukungan spiritual.

9) Faktor Yang Mempengaruhi Spiritualitas Pasien


Faktor penting yang dapat mempengaruhi spiritualitas seseorang adalah:
a. Pertimbangan tahap perkembangan
Berdasarkan hasil penelitian terhadap anak-anak dengan agama yang
berbeda ditemukan bahwa mereka mempunyai persepsi yang berbeda
tentang Tuhan dan cara sembahyang yang berbeda pula menurut usia,
jenis kelamin, agama, dan kepribadian anak.
b. Keluarga
Peran orang tua sangat menentukan dalam perkembangan spiritual
anak. Oleh karena itu keluarga merupakan lingkungan terdekat dan
menjadi tempat pengalaman pertama anak dalam mempersiapkan
kehidupan di dunia, pandangan anak diwarnai oleh pengalaman
mereka dalam berhubungan dengan keluarga.
c. Latar belakang, etnik dan budaya
Sikap, keyakinan, dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan
social budaya. Umumnya seseorang akan mengikuti tradisi agama dan
spiritual keluarganya.
d. Pengalaman hidup sebelumnya
Pengalaman hidup baik yang positif maupun yang negatif dapat
mempengaruhi tingkat spiritual seseorang. Peristiwa dalam kehidupan
sering dianggap sebagai ujian kekuatan iman bagi manuisa sehingga
kebutuhan spiritual akan meningkat dan memerlukan kedalaman
tingkat spiritual sebagai mekanisme koping untuk memenuhinya.
e. Krisis dan perubahan
Krisis dan perubahan dapat menguatkan kedalaman spiritual
seseorang. Krisi sering dialami ketika seseorang menghadapi
penyakit, penderitaan, proses penuaan, kehilangan, dan bahkan
kematian. Bila klien dihadapkan pada kematian, maka keyakinan
spiritual dan keinginan untuk sembahyang atau berdoa lebih
meningkat dibandingkan dengan pasien yang penyakit tidak terminal.

13
f. Terpisah dari ikatan spiritual Menderita sakit terutama yang bersifat
akut, seringkali individu terpisah atau kehilngan kebebasan pribadi
dan sistem dukungan sosial. Kebiasaan hidup sehari-harinya termasuk
kegiatan spiritual dapat mengalami perubahan. Terpisahnya individu
dari ikatan spitual beresiko terjadinya perubahan fungsi sosial.
g. Isu moral terkai dengan terapi
Kebanyakan agama, proses penyembuhan dianggap sebagai cara
Tuhan untuk menunjukan kebesaran-Nya.

10) Hubungan Spiritual, Sehat, dan Sakit


Agama merupakan petunjuk perilaku karena di dalam agama terdapat
ajaran baik dan larangan yang dapat berdampak pada kehidupan dan
kesehatan seseorang, contohnya minuman beralkohol sesuatu yang
dilarang agama dan akan berdampak pada kesehatan bila di konsumsi
manusia. Agama sebagai sumber dukungan bagi seseorang yang
mengalami kelemahan (dalam keadaan sakit) untuk membangkitkan
semangat untuk sehat, atau juga dapat mempertahankan kesehatan untuk
mencapai kesejahteraan. Sebagai contoh orang sakit dapat memperoleh
kekuatan dengan menyerahkan diri atau memohon pertolongan dari
Tuhannya.

11) Hubungan Keyakinan dengan Pelayanan Kesehatan


Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan
oleh setiap manusia. Apabila seseorang dalam keadaan sakit, maka
hubungan dengan Tuhannya pun semakin dekat, mengingat seseorang
dalam kondisi sakit menjadi lemah dalam segala hal, tidak ada yang
mampu membangkitkan dari kesembuhan, kecuali Sang Pencipta. Dalam
pelayanan kesehatan, perawat sebagai petugas kesehatan harus memiliki
peran utama dalam memenuhi kebutuhan spiritual. Perawat dituntut
mampu memberikan pemenuhan yang lebih pada saat pasien kritis atau
menjelang ajal. Dengan demikian, terdapat keterkaitan antara keyakinan
dengan pelayanan kesehatan, di mana kebutuhan dasar manusia yang
diberikan melalui pelayanan kesehatan tidak hanya berupa aspek biologis,

14
tetapi juga aspek spiritual. Aspek spiritual dapat membantu
membangkitkan semangat pasien dalam proses penyembuhan.

12) Peran Perawat Terkait Dengan Spiritual


Peran perawat menurut Konsorsium Ilmu Kesehatan (1989) dalam
Mubarak (2009), terdiri atas:
a. Pemberian asuhan keperawatan (Care Provider)
Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan dapat dilakukan perawat
dengan mempertahankan kebutuhan dasar manusia, meliputi
kebutuhan dasar terkait spiritual melalui pemberian pelayanan
keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan. Masalah
yang muncul dapat ditentukan diagnosis keperawatan, perencanaan,
tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan yang
dialaminya, dan dapat dievaluasi tingkat perekmbangannya. Asuhan
keperwatan yang diberikan mulai dari hal sederhana sampai dengan
masalah yang kompleks dan harus secara komperhensif yaitu meliputi
bio-psiko-sosio- dan spiritual.
b. Pembelaan Pasien (Clien Advocate)
Bertanggung jawab untuk membantu pasien dan keluarga dalam
menginterprestasikan informasi dari berbagai pemberian pelayanan
dan memberikan informasi lain yang diperlukan untuk mengambil
persetujuan (inform concent). Perawat juga berperan untuk
mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi: hak
atas pelayanan yang komperhensif seperti pemenuhan kebutuhan
spiritual, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi dan
hak menerima ganti rugi akibat kelalaian tindakan.
c. Konseling (Conselor)
Konseling adalah proses membantu pasien untuk menyadari dan
mengatasi tekanan psikologis, spiritual, dan masalah sosial untuk
membangun hubungan interpersonal yang baik dan untuk
meningkatkan perkembangan seseorang, di dalam konseling, perawat
memberikan dukungan emosional, spiritual dan intelektual.

15
d. Pendidik (Educator)
Peran ini dilakukan dengan membantu pasien dalam meningkatkan
pengetahuan kesehatannya serta dalam hal ini perawat dapat
memberikan pendidikan spiritual terkait sehat dan sakit, sehingga
terjadi perubahan pada pasien baik secara fisik maupun
psikologisnya.
e. Koordinator (Coordinator)
Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan, serta
mengorganisasikan pelayanan kesehatan dari tim kesehatan maupun
tugas kerohaniawan, sehingga pemberi pelayanan dapat terarah serta
sesuai dengan kebutuhan pasien.
f. Kolaborasi (Collabolator)
Peran ini dulakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan
yang terdiri atas dokter, fisioterapis, ahli gizi, radiologi, laboratorium,
dan petugas rohaniawan. Perawat dapat berupaya mengidentifikasi
pelayanan keperawatan yang diperlukan, termasuk diskusi atau tukar
pendapat dalam menentukan bentuk pelayanan yang komprehensif.
g. Konsultan (Consultant)
Peran ini berfungsi, perawat sebagai tempat konsultasi terhadap
masalah-masalah kesehatan maupun spiritual. Perawat dapat
meberikan solusi yang terbaik bagi pasien melalui hal ini.
h. Pembaharuan (Agent of Change)
Peran sebagai pembaharuan dapat dilakukan dengan cara melakukan
perubahan. Peningkatan dan perubahan adalah kompenen esensial
dari perawat, dengan menggunakan proses keperawatan, perawat
dapat membantu pasien untuk merencanakan, melaksanakan dan
menjaga perubahan seperti pengetahuan tentang spitual, perasaan dan
perilaku.

13) Proses Keperawatan Dalam Spiritual Care


Penerapan proses keperawatan dari perspektif kebutuhan spiritual
pasien tidak sederhana. Hal ini sangat jauh dari sekedar mengkaji praktik
dan ritual keagamaan pasien. Perlu memahami spiritualitas pasien dan
kemudian secara tepat mengidentifikasi tingkat dukungan dan sumber

16
yang diperlukan. Proses keperawatan sebagai suatu metode ilmiah untuk
menyelesaikan masalah keperawatan dalam pemberian asuhan
keperawatan spiritual yaitu:
a. Pengkajian
Pengkajian dapat menunjukan kesempatan yang dimiliki perawat
dalam mendukung atau menguatkan spiritualitas pasien. Pengkajian
tersebut dapat menjadi terapeutik karena pengkajian menunjukan
tingkat perawatan dan dukungan yang diberikan. Perawat yang
memahami pendekatan spiritual akan menjadi yang paling berhasil.
Pengkajian dilakukan untuk mendapatkan data subjektif dan objektif.
Pengkajian data subjektif meliputi konsep tentang Tuhan atau
ketuhanan, sumber harapan dan kekuatan, praktik agama dan ritual,
hubungan antara keyakinan spiritual dan kondisi kesehatan.
Sedangkan data pengkajian objektif dilakukan melalui pengkajian
klinik yang meliputi pengkajian afek dan sikap, prilaku, verbalisasi,
hubungan interpersonal dan lingkungan. Pengkajian data objektif
terutama dilakukan melalui observasi.
b. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan spiritual menurut
North Nursing Diagnosis Association adalah distress spiritual.
Definisi distress spiritual adalah rentan terhadap gangguan
kemampuan merasakan dan mengintegrasikan makna dan tujuan
hidup melalui keterhubungan dalam diri, sastra, alam, dan kekuatan
yang lebih besar dari dirinya sendiri, yang dapat mengganggu
kesehatan.
Ketika meninjau pengkajian spiritual dan mengintegrasikan
informasi kedalam diagnosa keperwatan yang sesuai. Perawat harus
mempertimbangkan status kesehatan klien terakhir dari perspektif
holistik, dengan spiritualitas sebagai prinsip kesatuan. Setiap
diagnosa harus mempunyai faktor yang berhubungan dan akurat
sehingga intervensi yang dihasilkan dapat bermakna dan
berlangsung.

17
c. Perencanaan
Setelah diagnosa keperawatan dan faktor yang berhubungan
terindentifikasi, selanjutnya perawat dan klien menyusun kriteria
hasil dan rencana intervensi. Tujuan asuhan keperawatan pada klien
dengan distress spiritual difokuskan pada menciptakan lingkungan
yang mendukung praktik keagamaan dan kepercayaan yang biasanya
dilakukan. Menetapkan suatu perencanaan perawatan, tujuan
diteptapkan secara individual, dengan mempertimbangkan riwayat
pasien, area beresiko, dan tanda-tanda disfungsi serta data objektif
yang relevan. Tiga tujuan pemberian perawatan spiritual, yaitu:
1) Klien merasakan perasaan percaya pada pemberian keperawatan.
2) Klien mampu terikat dengan anggota sistem pendukung.
3) Pencarian pribadi klien tentang makna hidup meningkat.
d. Implementasi
Pada tahap implementasi, perawat menerapkan rencana intervensi
dengan melakukan prinsip-prinsip kegiatan ashuan keperawatan
sebagai berikut :
1) Periksa keyakinan spiritual pribadi perawat.
2) Fokuskan perhatian pada persepsi klien akan kebutuhan spiritual.
3) Jangan berasumsi klien tidak mempunyai kebutuhan spiritual.
4) Mengetahui pesan non-verbal tentang kebutuhan spiritual klien.
5) Berespon secara singkat, spesifik, dan faktual.
6) Mendengarkan secara aktif dan menunjukan empati yang berarti
menghayati masalah klien.
7) Menerapkan teknik komunikasi terapeutik dengan teknik
mendukung menerima, bertanya, memberi infromasi, refleksi,
menggali perasaan dak kekuatan yang dimiliki klien.
8) Meningkatkan kesadaran dengan kepekaan pada ucapan atau
pesan verbal klien.
9) Bersifat empati yang berarti memahami perasaan klien.
10) Memahami masalah klien tanpa menghukum walaupun tidak
berarti menyetujui klien.
11) Menentukan arti dan situasi klien, bagaimana klien berespon
terhadap penyakit.

18
12) Apabila klien menganggap penyakit yang dideritanya merupakan
hukuman, cobaan, atau anugrah dari Tuhan.
13) Membantu memfasilitasi klien agar dapat memenuhi kewajiban
agama.
14) Memberi tahu pelayanan spiritual yang tersedia dirumah sakit.
e. Evaluasi
Untuk mengetahui apakah pasien telah mencapai kriteria hasil yang
ditetapkan pada fase perencanaan, perawat perlu mengumpulkan
data terkait dengan pencapaian tujuan asuhan keperawatan. Tujuan
keperawatan tercapai apabila secara umum klien:
1) Mampu beristirahat dengan tenang
2) Mengekspresikan rasa damai berhubungan dengan Tuhan,
3) Menunjukan hubungan yang hangat dan terbuka dengan pemuka
agama
4) Mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya,
5) Menunjukan afek positif tanpa rasa bersalah dan kecemasan.
Perawat mengintervensi keperawatan membantu menguatkan
spiritualitas klien. Perawat membandingkan tingkat spiritual klien
dengan prilaku dan kebutuhan yang tercatat dalam pengkajian
keperawatan. Klien harus mengalami emosi sesuai dengan situasi,
mengembangkan citra diri yang kuat dan realistis

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan Islami


Allah berfirman :
“Dan orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah)
menjadi penolong bagi sebgaian yang lain. Mereka menyeruruh (mengerjakan)
yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan sembahyang, menunaikan
zakat dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya”. (Q.S. At-Taubah :71)

“…Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa,


dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan
bertawalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah maha berat siksa-Nya”.
(Q.S. Al-Maa-idah: 2) .

19
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan
jika kamu berbuat jahat maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri”. ( Q.S. Al-
Israa’:7). “…dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah
berbuat baik kepadamu…”. (Q.S. Al-Qashash: 77). “Maka disebabkan rahmat
dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu
bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu…”. (Q.S. Ali Imran:159)

Barang siapa yang berkeinginan untuk diselamatkan oleh Allah dari bencana
pada hari kiamat, maka bantulah orang yang dalam kesulitan/hindarkan
kesulitannya (HR. Muslim). Tiada beriman seorang dari kamu sehingga dia
menyukai bagi saudaranya apa yang dusukai untuk dirinya. (HR. Ahmad)

Ayat-ayat dan hadist di atas mendasari dari pelaksanaan asuhan


keperawatan Islami yang diberikan oleh seorang perawat muslim, ditambah
dengan riwayat-riwayat wanita-wanita dizaman Rasulullah dalam melakukan
perawatan, maka itulah yang sebenarnya konsep “Caring” dalam keperawatan
Islam, bukan hanya asuhan kemanusiaan dengan lemah lembut berdasarkan
standar dan etika profesi, tetapi caring yang didasari keimanan pada Allah
dengan menjalankan perintahNya melalui ayat-ayat Alqur’an dengan tujuan
akhir mendapatkan ridho Allah SWT. Asuhan Keperawatan Islami yang
dikembangkan oleh Kelompok kerja Keperawatan Islam adalah pada tataran
nilai-nilai yang Insyaa Allah akan dapat menjadi acuan
pelaksanaan/Implementasi asuhan keperawatan pada tatanan pelayanan
kesehatan. Asuhan keperawatan Islami dapat dilihat sebagai suatu sistem yang
terdiri dari masukan, proses dan keluaran yang seluruhnya dapat digali dari
nilai-nilai Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist.
1. Masukan (input)
Dalam asuhan keperawatan masukan adalah segala sumber-sumber yang
mendukung terjadinya proses asuhan keperawatan Islami.
a. Al-Qur’an dan Hadist sebagai keyakinan manusia yang beriman .
b. Manusia dalam Paradigma keperawatan di jelaskan sebagai hamba dan
sebagai khalifah; sebagai memimpin dan mengatur bumi ,memakmurkan
bumi, menyebarkan keadilan dan kemaslahatan. Klien sebagai mahluk

20
yang berpotensi secara aktif. Manusia juga sebagai mahluk yang
mempunyai fitrah apakah sebagai perawat ataupunklien sebagaimana
Allah berfirman :“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada
Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui “(Q.S. Ar ruum : 30).
c. Lingkungan eksternal dan Internal serta lingkungan spiritual. Tatanan
pelayanan kesehatan juga termasuk lingkungan yang harus disiapkan
untuk pelaksanaan asuhan keperawatan Islami.
d. Profesi Keperawatan yang merupakan manifestasi dari ibadah dan media
da’wah amar ma’ruf nahi munkar.

2. Proses Pelaksanaan Asuhan Keperawatan Islami


a. Ihsan dalam beribadah
Bagi perawat muslim pemahaman dan pengamala terhadap rukun iman
dan Islam belumlah cukup dikatagorikan dalam insan yang sempurna
dalam pengamalan agamanya, jika belum menerapkan rukun iman dan
islam tersebut didasari oleh perbuatan yang ikhsan.Jika rukun iman kita
ibaratkan sebagai pondasi dan rukun islam sebagai bangunannya, maka
ikhsanul amal merupakan atapnya. Dalam sebuah bangunan yang utuh,
atap berfungsi sebagai pelindung bangunan dari panas dan hujan yang
menjaga agar bangunan tersebut tetap lestari, takl retak, dan berlumut
karena panas dan hujan. Konsekuensi Ikhsan adalah bahwa perbuatan baik
yang berkualitas akan melahirkan dampak berupa keuntungan-keuntungan
kepada siapa saja yang melakukannya termasuk bagi perawat dalam
melakukan asuhan keperawatan dan bukan keuntungan yang bersifat
segera tetapi ada landasan spiritual. Tuntunan ikhsan dalam Al-Qur’an
sebagai berikut :
“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentunya kami
tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi orang-orang yang beramal
(bekerja) dengan ikhsan”. [QS Al Kahfi:30]

21
“Dan jika kamu semua menginginkan (keridhoan) Allah dan Rasul-Nya
serta kebahagiaan akherat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi
siapa saja diantara kamu yang berbuat ihsan pahala yang besar”. [QS Al
Ahzab : 29]. “Tidak ada balasan bagi ihsan kecuali ihsan juga”. [QS Ar
Rohman : 60]

Ketika Jibril menyamar sebagai manusia :


“Wahai Muhammad … terangkanlah terangkanlah kepadaku tentang
ikhsan!” Jawab Rasul : “Mengabdilah kamu kepada Allah, seakan kamu
melihat Dia, jika kamu tidak melihat Dia, Sesungguhnya Dia melihat
kamu (HR Imam Muslim)

Dampak Perbuatan Ikhsan dalam asuhan keperawatan akan melahirkan :


(1) Niat yang Ikhlas, bahwa segala sesuatu diniatkan hanyalah kepada
Allah semata, sehingga dengan keikhlasan yang bersih hanya kepada
Allah akan memberikan barier (benteng) bagi pekerjaan kita agar
tetap konsisten dalam garis-garis yang ditetapkan agama dan profesi.
(2) Pekerjaan yang Rapih, senantiasa berorientasi kepada kualitas yang
tinggi karena merasakan segala sesuatu berada dalam pengawasan
Allah SWT.
(3) Penyelesaian hasil yang baik, artinya setelah berbuat maksimal atas
segala aktivitas, maka secara sunatullah melahirkan pekerjaan yang
baik atau memiliki kualitas yang tinggi. Sehingga “ikhsan dalam
melaksanakan asuhan keperawatan adalah menentukan mutu
pelayanan”.

Dalam garis besarnya ikhsan ditetapan dalam hubungan dengan :


(1) Tuhan, sebagaimana dijelaskan pada ayat dan hadits diatas yang dapat
diartikan suatu pengakuan atau manifestasi tentang kesyukuran
manusia atas nikmat yang telah dilimpahkan Tuhan.
(2) Sesama manusia, berbuat baik menurut islam mempunyai lingkup yang
luas, tidak terbatas pada satu lingkungan, keturunan, ikatan keluarga,
agama,suku, bangsa, sehingga ihsan itu sifatnya humanistis dan
universal, ukurannya hanya satu sebagai ummat manusia.

22
(3) Terhadap Mahluk lain selain manusia termasuk pada hewan dan
lingkungan harus disayangi oleh manusia.

3. Perlakuan/Perilaku Dalam Asuhan Keperawatan


Implementasi asuhan keperawatan selanjutnya adalah bagaimana
penjabaran konsep “Caring” yang mendasari keperawatan Islam
“Mummarid” yang telah diberikan contoh oleh Rasul dan sahabatnya adalah
hubungan antar manusia ners-klien yang didasari keimanan dan ihsan,
seorang perawat muslim dalam memberikan asuhan keperawatan Islami tentu
harus berlandaskan pada keilmuannya, islam mementingkan professionalisme
berpengetahuan dan keterampilan seperti Allah jelaskan pada :
“Amat besar kebencian disisi Allah-kamu, memperkatakan sesuatu yang
kamu tidak melakukannya”.[QS Ash-Shaff:3]
“Maka bertanyalah kepada ahlinya bila kalian tidak mengetahuinya”.[QS
An-Nahl:43]
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu tidak mengetahui
tentangnya. Sesungguhnya : pendengaran, penglihatan, akal budi semuanya
itu akan diminta pertanggung jawabannya”. [QS Al Israa : 36]
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan
orang-orang berilmu beberapa derajad….”[QS Al-Mujadillah ; 11]
“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka
tunggulah kehancurannya”. [HR Bukhari]

Disamping dalam pelaksanaan asuhan keperawatan islam perawat harus


bersikap Professional, dalam Islam adalah berahlaqul qarimah, sesuai
tuntunan Rasul .
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik
bagimu….” [QS Al-Ahzab :21]
“Yang sebaik-baik manusia adalah yang paling baik ahlaknya [HR
Thabrani]
Bebarapa contoh ahlak yang harus dimiliki seorang perawat muslim :
Tulus Ikhlas, Ramah dan bermuka manis, Penyantun, Tenang, hati-hati dan
tidak tergopoh-gopoh, sabar dan tidak lekas marah, bersih lahir batin, cermat
dan teliti, memegang teguh rahasia, memiliki disiplin dan etos kerja yang

23
tinggi. Dengan modal hal diatas seorang perawat dapat mencapai tujuan dari
asuhan keperawatan yang diberikannya. Perawat dalam melaksanakan asuhan
keperawatan tidak bisa bekerja sendiri tetapi memerlukan orang lain, apakah
itu satu tim ataupun tim lain hal ini didasarkan pada konsep manusia dalam
paradigma keperawatan islam ia adalah sebagai An-Nas (mahluk sosial) dan
juga kerjasama dan kemitraan adalah perintah Allah (Q.S. Al-Maa-idah: 2),
(QS Al Hujarat : 10).

4. Keluaran (Output)
Output yang daiharapkan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan Islami
adalah Qualitas asuhan, refleksi dari qualitas bagi semua (perawat dan Klien)
adalah kepuasan. Seorang muslim akan merasa puas bila asuhan yang
diterima dapat menyentuh fitrah manusia. Fitrah manusia dalam Alqur’an :
1. Sebagai Mahluk Mulia
“Sesungguhnya kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya”. [QS At Tiin :4]
“Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak adam, kami
angkut mereka didaratan dan lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang
baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna
atas kebanyakan mahluk yang telah Kami ciptakan [QS Al Israa:70]
Asuhan keperawatan harus dapat menempatkan klien pada fitrah
kemuliaannya, tidak ada satu manusiapun yang mau diposisikan lebih
rendah dari kemulian manusia, oleh karena itu nilai humanisme yang
diterima klien sangatlah berarti bagi pencapaian kesehatan yang sempurna
seperti dijelaskan sebelumnya.
2. Sebagai mahluk Pengabdi
“Tidaklah Kujadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi
kepadaKu [Adz Dzariat :56]
Sebagai hamba Allah maka manusia mempunyai hak untuk
menyerahkan seluruh hidup dan matinya hanya untuk Allah, keluaran ini
menjadi fokus dari asuhan keperawatan islami sehingga klien dapat
beribadah dengan baik untuk menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah.

24
3. Sebagai mahluk yang Hanif
Fitrah manusia selalu untuk hanif (selalu ingin dalam kebaikan, lurus)
terkadang tidak disadari oleh manusia bahwa hal tersebut adalah fitrahnya,
sejahat-jahatnya manusia pasti mempunyai hanif sehingga fitrah ini harus
dapat disentuh dalam pelaksanaan asuhan keperawatan syukur bila
perawat dapat menyadarkan akan pentingnya fitrah hanif dalam hidup ini.
Ayat-allah tentang hanif dapat disimak pada [QS Ar Ruum : 30], [QS An
‘aam :161], [QS Al Baqarah :135], [QS Ali Imran : 65], [QS An Nisaa:
125], [QS Yunus : 105].
4. Sebagai Mahluk yang merdeka
Allah menciptakan manusia ke muka bumi ini untuk menjadi khalifah
yang memimpin, mengatur dan menyebarkan keadilan bagi sekitarnya.
Tidak hanya itu Allah juga memberikan kebebasan kepada manusia untuk
memilih jalan hidupnya, dan menjadikan manusia itu bebas berbuat sesuai
dengan keinginannya apakah itu kebaikan atau kejahatan, hanya Allah
telah menggariskan imbalan dari setiap tindakan manusia dimuka bumi.
Allah berfirman.
“Dan katakanlah : “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka
barang siapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barang siapa
yang ingin kafir biarlah ia kafir” Sesungguhnya kami telah sediakan bagi
orang-orang Zalim di neraka.”[QS Al Kahfi : 29]
Ayat itu Allah menjelaskan bahwa kebebasan memilih dan
memutuskan sesuatu tentang diri manusia adalah adalah manusia itu
sendiri sehingga fitrah manusia disini adalah mempunyai kemerdekaan.
Aspek penting dalam keperawatan Islam untuk dapat menghargai potensi
klien untuk mencapai kebaikan dari dirinya sendiri, tetapi perawat juga
dapat mengajak atau memberikan bimbingan kepada klien apabila
keputusannya itu adalah tidak sesuai dengan Ajaran Islam maka
Kemerdekaan menjadi orang yang beriman adalah menjadi sasaran asuhan
keperawatan Islami.
5. Sebagai Mahluk dengan nilai Individual dan sekaligus mahluk dengan
nilai-nilai komunal

25
Allah berfirman :
“Hai Manusia, bertaqwalah kepada kamu yang telah menciptakan kamu
dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan Isterinya dan
daripada keduanya memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan
yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan
mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan
peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga
dan mengawasi kamu”. [QS An Nisaa : 1]
Dalam Ayat lain [QS Al Baqarah : 213] dan ditegaskan lagi [QS
Yunus : 10] menunjukkan bahwa fitrah dalam diri manusia kadang-kadang
selalu individual sehingga ada batas-batas yang tidak bisa diketahui orang
lain, tidak membutuhkan orang lain, tetapi dilain waktu manusia sebagai
mahluk sosial pasti tergantung pada orang lain dan lingkungan dan minta
peltolongan. Asuhan keperawatan Islami harus dapat menyentuh fitrah ini
pada saat yang tepat klien dalam situasi ingin sendiri (individual) dan saat
membutuhkan orang laindan lingkungan sesuai dengan tuntunan Alqur’an.
Refleksi dari kepuasan akan fitrah manusia itu sebagai klien akan
dalam ikhtiarnya untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan yang hakiki
adalah bila klien sembuh maka akan timbul rasa Syukur (tasyakur), bila
ada ketidak sempurnaan dalam kondisinya klien akan merasa Ridho, dan
apabila dalam upaya ikhtiarnya tidak mendapatkan kemajuan bahkan lebih
buruk maka ia tidak akan merasa kecewa dan marah tetapi sabar dan
Tawaqal kepada Allah berserah diri pada apapun keputusan Allah dengan
tetap dalam iman. Pada akhirnya Outcome dari asuhan keperawatan Islam
adalah untuk mencapai Ridho Allah “Mardhotillah” baik itu bagi klien
maupun perawat sebagai sasaran akhir dari hidup manusia dimuka bumi
ini.
Islam mengandung ajaran yang mencakup semua aspek hidup dan
kehidupan manusia termasuk didalammnya ajaran yang berkaitan dengan
kesehatan jasmani, rohani, sosial, kultural dan spiritual. Pengamalan
ajaran Islam dalam bidang kesehatan wajib dilaksanakan oleh umat
sebagai perwujudan ibadahnya kepada Allah SWT dan sesama umat
manusia, diantaranya melalui pelayanan/asuhan keperawatan sebagai
bagian integral dari pelayanan kesehatan.

26
Keperawatan sebagai bentuk layanan yang ditujukan bagi klien
(individu, keluarga, kelompok atau masyarakat) dilandasi oleh suatu
keyakinan yang dibangun berdasarkan pandangannya yang kokoh yakni
paradigma keperawatan meliputi manusia-kemanusiaan, lingkungan,
sehat-kesehatan dan keperawatan, yang kemudian disebut sebagai
Paradigma Keperawatan Islam. Asuhan keperawatan Islam adalah
Integrasi nilai-nilai Islam yang bersumber pada Alqur’an dan Hadits,
merupakan suatu sistem sehingga banyak faktor-faktor yang berpengaruh
untuk keberhasilan asuhan sehingga mempengaruhi tujuan akhir dari
pemberian asuhan keperawatan Islam. Dalam pelaksanaan Asuhan
Keperawatan Islam selain perawat melaksanakan profesi keperawqatan
yang merupakan manifestasi dari Ibadahnya maka asuhan perawtan Islam
mempunyai nilai spiritual yang sangat tinggi karena merupakan sarana
da’wah amar ma’ruf nahi munkar.
Kepuasan terhadap asuhan keperawatan dalam pandangan
keperawatan islam adalah dimana fitrah manusia dapat disentuh oleh
asuhan keperawaatan yang diberikan sehingga merefleksikan rasa Syukur,
ridho, sabar dan tawaqal terhadap pencapaian keberhasilan ikhtiar
manusia. Apabila klien dan perawat sudah bisa merasakan itu maka akan
dicapai tujuan hidup didunia ini adalah Mardhatillah. Asuhan
keperawaatan Islam dalam tataran nilai-nilai ini perlu dikembangkan pada
konsep-konsep yang dapat menjadi acuan operasional perawat muslim
sehingga semakin cepat dan semakin banyak kaum muslimin akan
mendapatkan pelayanan sesuai dengan keyakinan dan keimanannya yang
pula merupakan fitrah manusia.
Upaya-upaya mengembangkan asuhan keperawatan Islami secara
terus menerus dan simultan menjadi tanggung jawab muslim sebagai
manifestasi dari hamba Allah (pengabdi) dalam menegakkan agama Allah,
pengembangan tersebut secara komprehensif dan terintegrasi dan
sistematis bersumber pada Alqur’an dan Hadits yang merupakan warisan
Rasulullah kepada ummatnya.

27
2.3 Islam Dan Kesehatan Spiritual
Islam adalah ad-diin yang universal mencakup seluruh aspek kehidupan.
Para ulama memandang bahwa ajaran Islam memiliki tujun untuk memelihara
lima hal utama yaitu agama, jiwa (nafs), akal, kehormatan (keturunan), dan
kesehatan (Shihab, 1992). Islam memandang sehat dalam konteks yang
menyeluruh (holistic sense), jika suatu bagian tubuh sakit maka bagian tubuh
lainnya pun akan merasakan sakit. Komponen sehat yang baik tidak hanya sehat
fisik (jasad), melainkan juga sehat mental (nafs), sosial, dan spiritual (ruuh).
Bagi seorang muslim, sehat dipandang sebagai anugerah Allah yang harus
disyukuri. Oleh karenanya, memelihara kesehatan merupakan amanah yang
harus ditunaikan sebagai wujud syukur kepada Allah.
Kebanyakan manusia lebih memfokuskan perhatiannya pada aspek
kesehatan fisik, dibanding aspek kesehatan lainnya, padahal kesehatan
komponen lainnya sama pentingnya dengan kesehatan fisik bahkan dampaknya
lebih berat ketimbang aspek fisik. Misalnya, sakit fisik atau jasad akan berakhir
ketika ajal tiba, namun ruhani yang sakit akan terbawa konsekuensinya sampai
kehidupan akhirat. Dengan demikian kesehatan ruhani sebenarnya merupakan
esensi dari kesehatan hidup seseorang. Istilah spiritual identik dengan istilah
ruuh (ruhani) atau soul. Para Ulama Islam lebih merekomendasikan
menggunakan istilah ruuh (ruhani) sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an,
ketimbang istilah spiritual atau soul yang berakar pada keyakinan Yahudi-
Nashrani. Manusia dapat mengetahui hal-hal yang bersifat fisik-material dengan
proses pengenalan melalui panca indra yang dimilikinya. Proses pengenalan ini
melahirkan suatu pengetahuan tentang suatu fenomena fisik atau material. Untuk
hal-hal yang immateri, seperti halnya ruuh, manusia tidak dapat mengandalkan
panca indra karena proses pengindraan sangatlah terbatas. Hakikat yang
sesungguhnya dari ruuh hanyalah Allah yang tahu, sebagaimana Allah SWT
berfirman:

‫قليال الّ العلم ّمن ومآاوتيتم امرربي من قاللروح الروح عن ويسءلونك‬


“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruuh. Katakanlah; ruuh itu
termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan
melainkan sedikit (QS 17:85)”.

28
Manusia tidak bisa mengetahui secara nyata bagaimana sebenarnya ruuh,
cara yang terbaik untuk mengetahui ruuh ini adalah melalui wahyu atau
informasi yang diberikan Allah, karena Allah yang menciptakan ruuh dan Allah
lah yang mengetahui secara pasti hakikat ruuh tersebut. Ruuh dijelaskan oleh
beberapa ulama sebagai substansi yang halus dari manusia, merupakan
kebalikan jasad, bersifat tinggi, suci, memiliki daya. Menurut Al-ghazali, ruuh
merupakan penggerak jasad yang mampu berfikir, mengingat, dan mengetahui.
Ruuh inilah yang kelak akan diminta pertanggungjawaban dihadapan Allah.

2.4 Islam, Healing, Dan Caring


Konsepsi Islam terhadap spiritualitas berbeda dengan konsepsi barat yang
membedakan spiritual dengan agama. Dalam pandangan Islam, aspek spiritual
dan agama (ad-diin) tidak dapat dipisahkan. Konsep ad-diin merupakan payung
dari spiritualitas. Dalam konteks Islam, tidak ada spiritualitas tanpa keyakinan,
ajaran, dan amal agama. Agama merupakan sistem hidup (way of life) yang
memberikan jalan spiritual untuk keselamatan dunia dan akhirat. Seorang
muslim tidak mungkin mencapai derajat spiritual yang tinggi tanpa menjalankan
agamanya secara benar. Hal ini bisa dijelaskan melalui tiga dasar pokok agama
(usul ad-diin) yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Islam berarti penyerahan diri kepada
Sang Pencipta, merupakan tahap awal dan bersifat dzahir (bisa dilihat),
selanjutnya tahap yang lebih tinggi yaitu Iman yang merupakan sikap
bathiniah/hati. Ihsan merupakan tingkat tertinggi dari keyakinan seorang muslim
yang merupakan perpaduan antara keyakinan dan amal perbuatan. Dalam sebuah
hadits disebutkan bahwa:
“Ihsan itu adalah beribadahlah kamu kepada Allah seolah-olah kamu
melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Ia
melihatmu”. Menurut para ulama, ihsan inilah merupakan kondisi tertinggi dari
keyakinan spiritual. Seorang muhsin, haruslah ia beriman, seorang mu’min
haruslah dia Islam, tapi tidak semua muslim beriman, apalagi sampai pada tahap
ihsan. Islam sebagai Diin yang komprehensif (syamil dan muttakamil) meliputi
seluruh aspek kehidupan manusia termasuk juga sehat dan kesembuhan. Islam
memberikan tuntunan bagaimana mencapai kesembuhan yang hakiki ketika
ditimpa sakit. Allah SWT berfirman:
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku (QS 26:80)”.

29
Sehat dan sakit bagi seorang muslim bisa dipandang sebagai ujian atau
kifarat bagi dosa-dosa yang telah dilakukan, dan semua yang terjadi tidak luput
dari kehendak Allah SWT. Sehingga dalam mencari kesembuhan pun harus
dengan cara-cara yang diridhai Allah SWT, karena hakikat kesembuhan adalah
dari Allah SWT. Dokter, perawat, petugas kesehatan, obat, dan pihak lainnya
hanyalah perantara (instrument) bagi kesembuhan dari Allah. Healing berbeda
dengan Cure atau Recovery. Cure dan recovery lebih menekankan pada
penyebuhan dan pemulihan fisik seseorang setelah mengalami sakit. Healing
lebih mengacu pada proses pemulihan fungsi kehidupan secara totalitas dan
holistik dari individu setelah mengalami suatu penyakit atau stress. Healing
bukan hanya meliputi aspek fisik tapi juga aspek emosional, sosial, kultural, dan
spiritual. Sehingga dalam konsepsi Islam, healing ini bisa dipandang sebagai
upaya dakwah yang menyeru serta membimbing manusia kejalan Allah dengan
hikmah (ilmu) dan cara-cara yang baik, hingga manusia tersebut mengingkari
dari thagut dan beriman kepada Allah yang mengeluarkan dari kegelepan
jahiliyah ke cahaya Islam. Oleh karenanya perawat ruhani Islam, pada
hakikatnya juga seorang da’i yang yang membantu proses penyembuhan secara
totalitas baik pada tingkat individu maupun masyarakat.
Aspek ‘caring’ yang menurut Watson diartikan sebagai kesadaran penuh
perawat untuk membangun hubungan professional perawat-klien yang terapetik
yang meliputi unsur-unsur ‘trust, touch, presence, love, compassion, empathy,
dan competence’. Dalam konteks Islam, membangun hubungan ‘caring’ dengan
klien harus didasarkan pada nas atau ayat yang diturunkan Allah SWT. Dalam
hal ini, berarti segala aktvitas pelayanan kepada klien didasarkan pada niat yang
ikhlas untuk semata-mata beribadah kepada Allah, bukan hanya hubungan
kontrak professional yang bersifat jasa atau komersial. Caring merupakan
manifestasi fitrah (wujud asli) dari refleksi terhadap kecintaan kepada Allah dan
rasul-Nya yang mengajarkan menyayangi yang lemah, membesarkan hati yang
sedang menderita sakit, serta menyelamatkan kehidupan dan tidak berbuat
kerusakan. Sehingga caring dalam pandangan Islam adalah keinginan untuk
bertanggungjawab, sensitif, sadar akan niat dan perbuatan untuk beristiqomah di
jalan yang benar untuk mencapai kesempurnaan dunia dan akhirat.

30
2.5 Perawatan Spiritual Dalam Perspektif Islam
Perawatan spiritual atau ruhani dalam pandangan para ulama Islam
merupakan proses berkelanjutan sepanjang kehidupan manusia. Islam
mengajarkan bagaimana manusia menjalani kehidupan dari mulai menyiapkan
generasi penerus yang masih berupa janin didalam kandungan, kemudian lahir
sebagai seorang bayi, menjadi anak, dan tumbuh menjadi dewasa, sampai
menjelang ajal tiba. Dengan melaksanakan ajaran Islam secara totalitas sesuai
tuntunan Qur’an dan Sunnah Rasul, maka manfaat yang diperoleh adalah
diantaranya terpeliharanya kesehatan baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Mengingat manusia pada awalnya dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka
tujuan perawatan spiritual Islam adalah bagaimana mengembalikan manusia
kedalam fitrahnya agar bisa mengenal Tuhannya, melaksanakan segala perintah-
Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun, kerena kehidupan manusia
tidaklah steril dari kotoran atau penyakit, maka metoda yang dianjurkan para
ulama dalam menjaga kefitrahan diri dalah dengan melakukan penyucian jiwa
(Tazkiyat an-nafs). Tazkiyah merupakan dasar untuk peningkatan dan
pengembangan keperibadian. Tazkiyah juga merupakan proses panjang,
proaktif, perjuangan yang sulit dalam mengembalikan kedudukan manusia
kedalam kontrak semula antara mahluk dan Khalik (Allah). Allah SWT
berfirman:
“…..Dan barangsiapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya ia menyucikan
diri untuk kebaikan dirinya sendiri, Dan kepada Allahlah tempat kembali (QS
35:18)”
Memperbaiki, dan meneguhkan akidah, ibadah, menghindari hal-hal yang
dilarang, senantiasa mengingat kekuasaan Yang Maha Pencipta, dan
mentafakuri segala ciptaan Allah, merupakan jalan tazkiyah yang dapat
meningkatkan kepribadian, berahkak kharimah, asertif, dan percaya diri. Hidup
ditengah-tengan lingkungan yang sarat dengan nilai kebenaran dan keshalihan
sangat diperlukan untuk memotivasi penyucian jiwa. Islam adalah agama amal,
mencapai tazkiyah pun melalui amal perbuatan yang nyata. Dalam kondisi
seseorang sedang ditimpa musibah berupa sakit, maka Islam memberikan
bimbingan bagaimana mensikapi sakit dengan senatiasa berhusnudzan kepada
Allah, berserah diri kepada Allah, mengingat Allah (dzikir), sabar, berdo’a dan
berupaya dengan jalan yang diridhai Allah. Perawat yang sehari-hari merawat

31
klien yang sakit sangat berperan dalam memberikan bimbingan ruhani sesuai
batas kemampuan atau berupaya memfasilitasi terpenuhinya kebutuhan-
kebutuhan ruhiyah bagi pasien yang sedang sakit. Beberapa intervensi yang bisa
dikembangkan oleh perawat dalam membantu memenuhi kebutuhan ruhiyah
kliennya adalah diantaranya dengan mengucapkan salam kepada klien,
menunjukan sikap ramah, kasih saying, perhatian, mendo’akan klien,
memberikan tausiah, meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan klien,
memfasilitasi kegitan ibadah klien, menghadirkan petugas kerohanian,
memberikan bimbingan sakaratul maut, serta menata kondisi lingkungan yang
kondusif untuk terpenuhinya kebutuhan ruhiyah klien.

2.6 Konsep Tatanan Pelayanan Kesehatan


1. Definisi Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan adalah sub sistem pelayanan kesehatan yang tujuan
utamanya adalah promotif (memelihara dan meningkatkan kesehatan),
preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan), dan rehabilitasi (pemulihan)
kesehatan perorangan, keluarga, kelompok atau masyarakat, lingkungan.
Yang dimaksud sub sistem disini adalah sub sistem dalam pelayanan
kesehatan adalah input , proses, output, dampak, umpan balik.
a. Input adalah sub elemen – sub elemen yang diperlukan sebagai masukan
untuk berfungsinya sistem
b. Proses adalah suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah masukan
sehingga mengasilkan sesuatu (keluaran) yang direncanakan.
c. Output adalah hal-hal yang dihasilkan oleh proses .
d. Dampak adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran setelah beberapa
waktu lamanya.
e. Umpan balik adalah hasil dari proses yang sekaligus sebagai masukan
untuk sistem tersebut
f. Lingkungan adalah dunia diluar sistem yang mempengaruhi sistem
tersebut.
Contoh : Di dalam pelayanan kesehatan Puskesmas
Input adalah : Dokter, perawat, obat-obatan
Prosesnya : kegiatan pelayanan puskesmas
Outputnya : Pasien sembuh/tidak sembuh

32
Dampaknya : meningkatnya status kesehatan masyarakat
Umpan baliknya : keluhan-keluhan pasien terhadap pelayanan
Lingkungannya : masyarakat dan instansi-instansi diluar puskemas tersebut

2. Tujuan Pelayanan Kesehatan


a. Promotif (memelihara dan meningkatkan kesehatan)
Hal ini diperlukan misalnya dalam peningkatan gizi, perbaikan sanitasi
lingkungan.
b. Preventif (pencegahan terhadap orang yang berisiko terhadap penyakit)
Terdiri dari :
1) Preventif primer
Terdiri dari program pendidikan, seperti imunisasi,penyediaan nutrisi
yang baik, dan kesegaran fisik
2) Preventive sekunder
Terdiri dari pengobatan penyakit pada tahap dini untuk membatasi
kecacatan dengan cara mengindari akibat yang timbul dari
perkembangan penyakit tersebut.
3) Preventif tersier
Pembuatan diagnose ditunjukan untuk melaksanakan tindakan
rehabilitasi, pembuatan diagnose dan pengobatan
c. Kuratif (penyembuhan penyakit)
d. Rehabilitasi (pemulihan)
Usaha pemulihan seseorang untuk mencapai fungsi normal atau mendekati
normal setelah mengalami sakit fisik atau mental, cedera atau
penyalahgunaan.

3. Bentuk Pelayanan Berdasarkan Kesehatan Berdasarkan Tingkatannya


a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama (primer)
Diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan masyarakat yang sehat
untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi kesehatan.
Contohnya : Puskesmas, Puskesmas keliling, klinik.

33
b. Pelayanan kesehatan tingkat kedua ( sekunder)
Diperlukan untuk kelompok masyarakat yang memerlukan perawatan
inap, yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer.
Contoh : Rumah Sakit tipe C dan Rumah Sakit tipe D.
c. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga ( tersier)
Diperlukan untuk kelompok masyarakat atau pasien yang sudah tidak
dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder.Contohnya: Rumah
Sakit tipe A dan Rumah sakit tipe B.

4. Aspek Pelayanan Kesehatan


Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya diselenggarakan sendiri secara
bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan
kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat (Azrul
Azwar, 1996). Dalam hal ini dapat dilakukan dengan pemberian penyuluhan
kesehatan tentang bagaimana cara memelhara dan meningkatkan kesehatan,
mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan
perseorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat yang meliputi
pelayanan preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan)
dengan sasaran masyarakat.

34
BAB 3
TINJAUAN KASUS

3.1 Aplikasi Asuhan Keperawatan Spiritual Di Rumah Sakit


Contoh Aplikasi Kasus Di Rumah Sakit
Ny. M usia 48 tahun beragama Islam, dirawat di ruang bedah wanita dengan
diagnosa medis kanker payudara stadium akhir dan saat ini sudah metastase ke
paru – paru. Tingkat kesadaran Ny. M saat ini composmentis. Keadaan umum
sakit berat, dan hasil pengkajian TD 140/90 mmHg, N: 87x/menit, RR 30x/mnt,
S: 37,2ºC, SpO2 96%. Saat ini Ny. M terpasang NRM 10ltr/mnt. Klien selalu
mengeluh sesak dan nyeri dada sebelah kiri Ny. M juga selalu mengatakan
kepada perawat bahwa sangat lelah dengan keadaan yang di deritanya dan takut
jika harus meninggal saat ini, tampak pasien sering menangis dan sulit tidur
serta cemas, klien tidak berdaya mengungkapkan penderitaan dan
ketidakmampuan berdoa.

3.2 Aplikasi Asuhan Keperawatan Spiritual Di Puskesmas


Contoh Aplikasi Kasus Di Puskesmas
Ny. W usia 55 tahun, agama islam datang ke puskesmas dengan diagnosa
medis Asma dan terdiagnosis sejak 3 bulan yang lalu, klien sering mengeluh
sesak nafas dan mudah lelah. Klien juga mengeluh terkadang batuk jika setelah
beraktivitas lama. Klien mengatakan nafsu makannya menurun dan sering
merasa lemas. Klien mengatakan ingin segera sembuh agar segera bisa
beraktifitas kembali seperti dulu saat belum sakit. Oleh karena klien rajin datang
ke puskesmas untuk mengambil obat. Klien juga mengatakan saat ini lebih rajin
beribadah dan bersedekah. Klien juga mengatakan saat kondisinya membaik
klien sering mengikuti acara pengajian. Ny. W memiliki keyakinan bahwa setiap
penyakit akan ada obatnya.

3.3 Aplikasi Askep Spiritual Di Balai Pengobatan


Contoh Aplikasi Kasus Di Balai Pengobatan
Ny. S usia 46 tahun, beragama islam memiliki riwayat DM sejak 6 tahun
yang lalu, saat ini ada ulkus di telapak kaki sebelah kanan, lebar 5cm kedalaman
2cm, luka sudah ada sejak 2 minggu yang lalu dan klien selalu bolak balik ke

35
balai pengobatan setiap 2 hari untuk mengganti balutan, klien mengatakan
sudah lelah dengan rutinitas harus bolak balik ke balai pengobatan, setiap malam
klien mengatakan tidak bisa tidur, klien mengatakan sulit melaksanakan sholat
dengan kondisi kakinya yang selalu sakit, klien mengatakan tidak percaya diri
untuk ikut kegiatan keagamaan, klien mengatakan takut jika suatu saat kaki
harus diamputasi.

36
BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Hasil Analisis Kasus di Rumah Sakit


1. Pengkajian spiritual
Pengkajian spiritual pada pasien bertujuan untuk menemukan masalah
atau kebutuhan pasien akan spiritual. Masalah, atau kebutuhan yang telah di
identifikasikan perawat berdasarkan informasi yang didapat dari pasien
selanjutnya dirumuskan menjadi diagnosa keperawatan.
Pengkajian yang dilakukan oleh perawat dilihat dari kasus klien tampak
sering menangis, sulit tidur, cemas, tidak berdaya, menggungkapkan
penderitaan, dan takut akan kematian. Keadaan ini dapat menunjukan
kurangnya kebutuhan spiritual yang ada di dalam diri klien. Kebutuhan
spiritual itu sendiri merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap
manusia. Apabila seseorang dalam keadaan sakit, maka hubungannya dengan
Tuhan pun semakin dekat, mengingat seseorang dalam kondisi sakit menjadi
lemah dalam segala hal tidak ada yang mampu membangkitkan dari
kesembuhan kecuali sang Pencipta. Dari kasus tersebut dapat kita ambil
masalah keperawatan Distress Spiritual.
2. Diagnosa Keperawatan Spiritual
Distress spiritual berhubungan dengan ancaman kematian.
Distress spiritual di definisikan yaitu suatu keadaan menderita yang
berhubungan dengan gangguan kemampuan untuk mengalami makna hidup
melalui hubungan dengan diri sendiri, dunia, atau kekuatan yang tinggi.
3. Rencana Keperawatan
Dari diagnosa distress spiritual yang terjadi pada kasus Ny. M perawat
dapat membuat rencana keperawatan. Pada tahap perencanaan ini perawat
mengidentifikasi intervensi untuk membantu pasien mencapai tujuan
yaitu memelihara atau memulihkan kesejahteraan spiritual sehingga
kekuatan, kedamaian, dan kepuasan spiritual dapat terealisasi.intervensi
spiritual yaitu: membangun hubungan saling percaya; memberikan dan
memfasilitasi lingkungan yang mendukung; menanggapi keyakinan pasien;
mengintegrasikan spiritualitas ke dalam rencana jaminan mutu; dan perawat
sebagai kunci dalam perawatan kesehatan.

37
1) Membangun hubungan saling percaya, yaitu perawat merawat pasien
sepenuh hati, ramah saat bertemu pasien, mau mendengarkan keluhan
pasien, menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan.
2) Memberikan dan memfasilitasi lingkungan yang mendukung, perawat
memberikan posisi tidur yang nyaman untuk Ny. M, memfasilitasi
istirahat dengan memberikan lingkungan yang bersih dan tenang,
melibatkan keluarga untuk selalu berada di dekat pasien, menjaga privasi
dalam tindakan keperawatan, hadirkan rohaniawan rumah sakit.
3) Menanggapi keyakinan pasien, perawat mengaanjurkan klien untuk selalu
beribadah dan berdoa dan memberikan keyakinan kepada klien bahwa
sakit yang di derita klien dapat menghapusi dosa-dosa klien.
Hikmah dibalik sakit dan musibah diterangkan Rasulullah SAW, Beliau
bersabda ”Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan
sejenisnya melainkan Allah akan menguburkan bersamanya dosa-dosanya
seperti pohon yang menggugurkan daun-daunya”. (HR. Bukhari dan
Muslim)
4) Mengintegrasikan spiritualitas ke dalam rencana jaminan mutu, perawat
menghadirkan rohaniawan jika klien membutuhkannya, memberikan izin
kepada keluarga klien untuk melakukan ibadah diruangan.
5) Perawat sebagai kunci dalam kesehatan. Perawat memberikan perawatan
yang holistik dan komprehensif yang tidak hanya dari segi aspek spiritual
tapi juga dari aspek fisik, psikologis, dan aspek sosial.

4.2 Hasil Analisis Kasus di Puskesmas


a. Pengkajian spiritual
Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau
mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama serta kebutuhan
untuk mendapatkan maaf dan pengampunan.
Pada kasus diatas yang terjadi diatas pasien ingin cepat sembuh, rutin minum
obat, dan lebih rajin beribadah, seerta memiliki keyakinan untuk sembuh.
b. Diagnosa Keperawatan Spiritual
Dari kasus diatas dapat di tegakkan diagnosa yaitu Kesiapan meningkatkan
religiositas.

38
Kesiapan meningkatkan religiolitas didefinisikan sebagai suatu pola
kesadaran terhadap keyakinan agama dana tau partisipasi dalam ritual tradisi
keyakina tertentu yang dapat ditingkatkan.
c. Rencana Keperawatan
Dari diagnosa Ny. W di atas perawat dapat membuat rencana keperawatan:
melalui memberikan dukungan spiritual dengan memberikan informasi
mengenai Asma dan pengobatan Asma. Selain itu, perawat puskesmas selalu
mengingatkan klien untuk selalu beribadah dan terus berdoa serta minum
obat Asma dan tidak lelah untuk mencapai kesembuhan.
Hal tersebut sesuai dengan kitab Shahih Bukhari dari hadits Abu Hurairah
Radhiyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, Beliau bersabda:
‫َما أَنزَ َل هللاُ دَا ًء ِإلَّ أَنزَ ل لَهُ ِشفَا‬
“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan untuk penyakit
itu obatnya.” (HR. Al-Bukhari)
Jabir Radhiallahu ‘anhu membawakan hadits dari Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam:
‫ب دَ َوا ُء الد َِّاء بَ َرأ َ ِبإِذ ِن هللاِ َع َّز َو َج َّل‬ ِ ُ ‫ فَإِذَا أ‬،‫ِل ُك ِّل دَاءٍ دَ َوا ٌء‬
َ ‫صي‬
“Setiap penyakit ada obatnya. Maka bila obat itu mengenai penyakit akan
sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (HR. Muslim).

4.3 Hasil Analisis Kasus di balai Pengobatan


a. Pengkajian Spiritual
Pengkajian spiritual pada pasien bertujuan untuk menemukan masalah atau
kebutuhan pasien akan spiritual. Masalah, atau kebutuhan yang telah di
identifikasikan perawat berdasarkan informasi yang didapat dari pasien
seperti depresi, ketidakberdayaan dan hilangnya kepercayaan diri dan
berkurangnya kedekatan dengan sang pencipta (Tuhan Yang Maha Esa)
selanjutnya dirumuskan menjadi diagnosa keperawatan.
b. Diagnosa Keperawatan
Dari kasus diatas dapat ditegakkan diagnosa keperawatan
Resiko Distres Spiritual
Beresiko terhadap hambatan kemampuan untuk mengalami dan
mengintegrasikan makna dan tujuan dlaam hidup melalui hubungan dengan
diri sendiri, orang lain, alam atau pun dengan Tuhan yang maha esa.

39
c. Rencana Keperawatan
Dari diagnosa Resiko distress spiritual yang terjadi pada kasus Ny. S,
perawat dapat membuat rencana keperawatan .Pada tahap perencanaan ini
perawat mengidentifikasi intervensi untuk membantu pasien
meningkatkan harapan hidup yang lebih baik, dengan memberikan
dukungan bahwa luka yang ada pada pasien akan sembuh jika pasien selalu
bersabar dan rajin melakukan perawatan. Sesuai dengan alquran surat Al-
Anfal: 46 :
“…Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Selain itu seorang perawat juga harus memberikan kekuatan kepada pasien
agar selalu sholat,berdoa, mendekatkan diri dan tidak merasa rendah diri
terhadap penyakitnya. Sesuai dengan Q.S. Al-Baqarah: 286 yang berbunyi
Allah tidak akan membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. Dan dalam Q.S Al-Baqarah:153 yang berbunyi “ wahai
orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu.
Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.

40
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Perawat merupakan tenaga profesional yang mempunyai kemampuan baik
intelektual, interpersonal, moral, bertanggung jawab, dan berkewenangan
melaksanakan asuhan keperawatan (Departemen Kesehatan RI, 2012). Dalam
memberikan asuhan keperawatan secara holistik, seorang perawat harus
mempertimbangkan berbagai aspek baik aspek fisik, sosial, emosional, kultural
maupun spiritual dalam rangka pemenuhan kebutuhan klien.
Perawat memahami bahwa aspek ini adalah bagian dari pelayanan yang
komprehensif. Karena selama dalam perawatan, respon spiritual kemungkinan
akan muncul pada klien. Agama merupakan petunjuk perilaku karena di dalam
agama terdapat ajaran baik dan larangan yang dapat berdampak pada kehidupan
dan kesehatan seseorang, Agama sebagai sumber dukungan bagi seseorang yang
mengalami kelemahan dalam keadaan sakit untuk membangkit semangat untuk
sehat, atau juga dapat mempertahankan kesehatan untuk mencapai
kesejahteraan.
Spiritual merupakan suatu keyakinan dalam hubunganya dengan Yang
Maha Kuasa dan Maha Pencipta. Sebagai seorang perawat yang bekerja di
Rumah Sakit, Puskesmas dan Tempat Kesehatan lainnya hendaknya
memberikan asuhan keperawatan spiritual dengan memberikan motivasi untuk
selalu berdoa, sholat, dzikir, untuk kesembuhan penyakit, diagnosa yang muncul
pada asuhan keperawatan spiritual yaitu distress spiritual, kesiapan untuk
meningkatkan kesejahteraan spiritual dan resiko distress spiritual.

5.2 Saran
Sebagai seorang perawat hendaknya memberikan asuhan keperawatan
secara holistik yang tidak hanya mencakup bio, psiko sosail tetapi juga harus
mementingkan aspek spiritual klien. Perlu diadakannya pelatihan pelayanan
spiritual secara berkala bagi perawat guna terlaksananya asuhan keperawatan
spiritual islami di tatanan pelayanan kesehatan.

41
DAFTAR PUSTAKA

A.A. Gde Muninjaya. (2004). Manajemen Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC
Amir, S., (2018). Penerapan Model Pelayanan Keperawatan Brbasis Spiritual
Ditinjau dari Aspek Proses Asuhan Keperawatan Spiritual di Rumah Sakit Islam
Faisal Makassar. Article. diakses tanggal 10 September 2018
Bulechek, GM., Butcher, H.K., Dochterman, J.M., Wagner, C.M., (2013). Nursing
Intervension Classification (NIC), Sixth Edition. St. Louis: Elsevier Mosby
Delgado, Cheryl. (2015). Nurses’ Spiritual Care Practices Volume 32 Issue 2
halaman 116-122 diakses dari http:/journals.lww.com, diperoleh tanggal 09
September 2018
Departemen Agama RI. (2005). AL-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung: PT
Syamil Media Cipta
Hamid,A.Y. (2008). Bahan Kuliah Aspek Spiritual dalam Keperawatan. Jakarta:
Widya Medika
Hawari, D. (2002). Dimensi Religi dalam Praktik Psikiatri dan Psikologis. Jakarta :
fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Hidayat, A.A. (2006). Pengantar Konsep dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika
Kozier, B., Erb, G., Berman, Snyder, S. (2010). Buku Ajar Fundamental
Keperawatan; Konsep, proses dan praktik. Volume 2. Edisi 7. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC
NANDA. (2006). Panduan Diagnosa Keperawatan North American Nursing
Diagnosis Association (NANDA): Definisi dan Klasifikasi. Editor : Budi
Sentosa. Jakarta; Prima Medika
Rankin, E.A., Delashmutt, M.B. (2006). Finding spirituality and nursing presence :
the student’s challenge. Journal of holistic Nursing. 24(4):282-288. Available at
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17098882
Wilkinson, J M. & Aheren N.R. (2012). Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9.
Jakarta: EGC

42