Você está na página 1de 36

BAB 1

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Abortus Insipiens


1.1.1 Definisi
Abortus insipiens adalah abortus yang disertai dengan
pembukaan serviks yang ditandai dengan penonjolan membran
atau keluarnya cairan amnion dari os eksternal yang terdiagnosis
melalui pemeriksaan spekulum atau pemeriksaan ultrasonografi
transvagina. Seperti namanya, peristiwa keguguran ini tidak dapat
dihindari. Perdarahan kian hebat disertai dengan keluarnya
bekuan atau kantung janin yang berisi embrio atau janin(Holmes;
2011).
Menurut Rukiyah dan Yulianti (2014), abortus insipien
adalah abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan
serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan
tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan dalam proses
pengeluaran.
Abortus insipien adalah abortus yang sedang berlangsung,
dengan ostium yang sudah terbuka dan ketuban yang teraba.
Kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi (Nugroho, 2012).
1.1.2 Etiologi
Menurut Rukiyah (2014), ada beberapa faktor yang
menyebabkan abortus antara lain :
A. Faktor Janin
Faktor janin penyebab keguguran adalah kelainan genetik,
faktor kelainan yang paling sering dijumpai pada abortus
adalah gangguan pertumbuhan embrio, zigote, janin atau
plasenta.
B. Faktor ibu
1. Kelainan endokrin, misalnya kekurangan tyroid,kencing
manis

1
2. Faktor imunologi, pada penyakit lupus
3. Infeksi, diduga dari beberapa virus seperti cacar air,
campak, herpes, toksoplasma
4. Kelainan bentuk rahim
5. Kebiasaan ibu (merokok, alkohol, kecanduan obat)
C. Faktor bapak
Kelainan kromosom dan infeksi sperma diduga dapat
menyebabkan abortus.
D. Faktor genetik
Sekitar 3-5 % pasangan yang memiliki riwayat abortus
spontan yang berulang salah satunya dari pasangan tersebut
membawa sifat kromosom yang abnormal.
E. Faktor imunologi
Terdapat antibodikardiolipid yang mengakibatkan
pembekuan darah dibelakang ari-ari sehingga mengakibatkan
kematian janin karena kurangnya aliran darah dari ari-ari
tersebut.
F. Faktor nutrisi
Malnutrisi yang sangat berat memiliki kemungkinan paling
besar menjadi predisposisi abortus
G. Faktor psikologis
Dibuktikan bahwa ada hubungan antara abortus berulang
dengan keadaan mental dimana wanita yang belum matang
secara emosisonal dan sangat penting dalam menyelamatkan
kehamilan.
1.1.3 Faktor Resiko
Faktor resiko termasuk kondisi lingkungan pekerjaan,
umur kehamilan, endokrin, riwayat keguguran, umur pernikahan,
dll. Identifikasi dari faktor resiko dan pengembangan dari
interaksi dari faktor ini dapat membantu tenaga medis untuk
mengenal ibu hamil yang memerlukan penanganan lebih.
Khususnya pada minggu pertama dari kehamilan untuk

2
menghindari keguguran. Mengkonsusmsi kafein lebih dari 300
mg/hari dapat meningkatkan resiko keguguran, bersama dengan
umur wanita karena terdapat resiko tinggi dari progestasional,
komplikasi gestasional dan kematian perinatal. Kehmilan dengan
usia ibu 40 th lebih adalah kehamilan dengan resiko sangat tinggi
adalah faktor resiko kehamilan yang sangat segnifikan yg untuk
mengakibatkan keguguran sspontan. Dan belum terbukti bahwa
mengkonsumsi 400 mikorogram asam folat per hari sebelum dan
saat awal kehamilan dapat menyebabkan resiko keguguran.
Sementara itu sedikit kenaikan resiko ditemukan pada pekerja
medis gigi dikarenakan terekspose olehmercury amalgams,
bberapa senyawa akrilat, peralut dan desinfektan(Juan Li, 2016).
1.1.4 Patofisiologi
Perdarahan kian hebat, disertai dengan keluarnyakeluarnya
bekuan atau kantung janin yang berisi embrio atau janin. Ibu
dapat mengalami kolaps karena kehilangan darah, juga karena
nyeri yang dirasakan saat uterus berkontraksi untuk mengeluarkan
isinya. Kantung janin dapat keluar seluruhnya (abortus komplit)
atau sebagian, biasanya jaringan plasenta tertahan di dalam
(abortus inkomplit). Pemeriksaan dalam sebaiknya dihindari agar
tidak semakin menstimulasi aktivitas uterus atau memperburuk
infeksi yang mungkin sudah ada. Oleh sebab itu, apusan vagina
sebaiknya diambil melalui pemeriksaan spekulum, terlebih jika
ketuban sudah pecah(Holmes, 2011).
Patofisiologi terjadinya keguguran mulai dari terlepasnya
sebagian atau seluruh jaringan plasenta, yang menyebabkan
perdarahan sehingga janin kekurangan nutrisi dan O2 (Oksigen).
Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan seluruhnya atau
sebagian masih tertinggal, yang menyebabkan berbagai penyulit,
oleh karena itu keguguran memberikan gejala umum sakit perut
karena kontraksi rahim, terjadi perdarahan, dan disertai
pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi.

3
Bentuk perdarahan bervariasi diantaranya: sedikit-sedikit
dan berlangsung lama, sekaligus dalam jumlah besar dapat
disertai gumpalan, akibat perdarahan dapat menimbulkan syok,
nadi meningkat,tekanan darah turun, tampak anemis dan daerah
ujung (akral) dingin (Sukarni dan Margareth, 2013).
1.1.5 Tanda Gejala
Terjadi mules yang lebih sering hebat, dan perdarahannya
bertambah. Jika abortus terjadi pada usia kehamilan kurang dari 12
minggu biasanya perdarahan tidak banyak. Serviks terbuka, uterus
sesuai dengan usia kehamilan, belum terjadi ekspulsi hasil
konsepsi(Lily, 2009).
1.1.6 Diagnosis
Menurut Nugroho (2012), abortus insipien dapat
didiagnosa dengan beberapa cara, antara lain:
A. Anamnesis
1. Amenorea, disertai dengan PP test (+)
2. Volume darah yang keluar lebih banyak
3. Crampy lower abdominal pain, atau pergerakan servikan
dan nyeri adnexal.
B. Pemeriksaan ginekologi
1. Dilatasi os cervix, namun belum ada jaringan yang keluar
2. Pecahnya selaput ketuban disertai mengalirnya air ketuban
1.1.7 Penatalaksanaan
Manajemen atau penanganan pada abortus insipien
menurut Nugroho (2012), antara lain:
A. Pecahnya selaput ketuban yang terjadi pada paruh pertama
kehamilan kemungkinan untuk penyelamatan kehamilan
menjadi sangat kecil, sehingga kehamilan harus diterminasi
dengan cara diinduksi dengan pemberian oksitosin (oksitosin
10 unit dalam 500 cc D5% dimulai 8 tetes per menit dan
naikkan sesuai kontraksi uterus, hati- hati terjadinya kontraksi

4
yang hipertonik sehingga harus dipantau ketat untuk memacu
uterus sehingga produk kehamilan dapat keluar.
B. Alternatif lain dengan pemberian misoprostol 200-600 µg oral
atau vaginal yang menyebabkan terjadinya perlunakan serviks
dan kontraksi uterus sehingga menyebabkan keluarnya produk
kehamilan. Bila produk kehamilan belum keluar, maka
pemberian misoprostol dapat diulang dengan interval 6-7 jam.
C. Bila produk kehamilan yang keluar tidak lengkap lanjutkan
dengan kuretase sebelum dilakukannya kuretase dilakukan
USG untuk melihat jaringan janin yang akan dikuretase
D. Pasca kuretase diberikan metilergometrin maleat 3x1 tablet per
hari selama 5 hari dan antibiotika selama 5 hari. Antibiotika
yang dapat diberikan:
1. Amoksisilin
Sediaan : berbagai bentuk sediaan oral; serbuk
injeksi
Dosis : 3x500 mg per oral per hari, selama 5 hari
2. Ampisilin
Sediaan : kapsul; kaptab; sirup kering; serbuk injeksi
Dosis : 4x500 mg per oral per hari, selama 5-10
hari
3. Eritromisin
Sediaan : kapsul 250mg, 500mg; tablet 200mg; sirup
kering 200mg/5ml; drops 100mg/2,5ml
Dosis : 4x250-500mg per oral per hari selama
minimal 5 hari.
4. Pada keadaan serviks yang berdilatasi disertai perdarahan
yang masif, sebaiknya dilakukan kuretase, dengan
perlindungan infus disertai drip oksitosin 10- 200 IU dalam
RL/NaCL fisioligis. Pemberian infus dapat dimulai dengan
kristaloid (RL/NaCL fisiologis) dengan pemberian cairan

5
meliputi maintenance dan ditambah jumlah perdarahan
aktif.
5. Pemeriksaan gol darah, Rh, darah rutin bila kehilangan
darah dalam jumlah banyak agar dapat segera dilakukan
intervensi yang tepat dengan resusitasi cairan ataupun
transfusi darah.
6. Rujuk ke dokter SpOG untuk penatalaksanaan lanjutan.
1.1.8 Komplikasi
Komplikasi yang berbahaya pada abortus ialah
perdarahan, perforasi, infeksi, syok (Maryunani, 2016).
A. Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-
sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian tranfusi darah.
Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan
tidak diberikan pada waktunya.
B. Infeksi
Dampak pada perdarahan yang banyak mengakibatkan volume
darah berkurang, pasien menjadi anemia dan daya tahan tubuh
menurun mengakibatkan kuman mudah masuk dan
berkembang. Kuman yang biasa menyebabkan infeksi pasca
abortus adalah E.coli yang berasal dari rektum menjalar ke
vagina
C. Perforasi akibat kuretase
Dampak dari kuretase akan menyebabkan perforasi pada
dinding uterus yang dapat mengakibatkan gangguan pada
kehamilan berikutnya.
D. Syok
Terjadi akibat perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi
berat (syok endoseptik).
E. Ketidakberdayaan, perasaan sedih akibat kehilangan alon bayi
menyebabkan ibu merasa tidak berdaya terutama kondisi ini
akan semakin berat bila kondisi ibu untuk melahirkan sangat
terbatas misalnya, klien yang terlambat menikah atau sulit

6
mempunyai anak. Hal tersebut dapat menimbulkan perasaan
putus asa dan tidak berdaya
1.1.9 Prognosis
Prognosis tergantung pada etiologi dari abortus spontan
sebelumnya, umur pasien, dan umur kehamilan. Koreksi kelainan
endokrin pada wanita dengan abortus habitualis memiliki prognosis
yang baik untuk terjadinya kehamilan yang sukses (>90%). Pada
wanita dengan etiologi tidak diketahui, kemungkinan mencapai
kehamilan yang sukses adalah 40-80%. Angka kelahiran hidup
setelah rekaman denyut jantung janin 5-6 minggu usia kehamilan
pada wanita dengan habitualis disebutkan sekitar 77%. Ketika USG
panggul transvaginal menunjukkan embrio paling sedikit 8 minggu
diperkirakan usia kehamilan (EGA) dan aktivitas jantung, laju
keguguran untuk pasien yang lebih muda 35 tahun adalah 3-5% dan
untuk mereka yang diatas 35 tahun, sebanyak 8%.
Prognosis yang kurang baik bila pada pemeriksaan USG
didapatkan tingkat aktivitas jantung janin kurang dari 90 kali per
menit, suatu kantung kehamilan berbentuk atau berukuran tidak
normal, dan perdarahan subchorionic yang hebat. Tingkat
keguguran secara keseluruhan untuk pasien diatas 35 tahun adalah
14% dan untuk pasien yang berumur dibawah 35 tahun adalah 7%.
1.1.10 Gambar

7
BAB 2
KONSEP MANAJEMEN KEBIDANAN

2.1 Pengkajian
Pengkajian adalah langkah pertama yang dipakai dalam menerapkan
asuhan kebidanan yang bertujuan untuk mengumpulkan semua
informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan
kondisi klien (Rismalinda, 2014).
Hari, tanggal :
Pukul :
Tempat :
No. Register :
Oleh :
2.1.1 Data Subyektif
Data subyektif adalah data yang berhubungan atau masalah
dari sudut pandang pasien. Ekspresi pasien mengenai
kekhawatiran dan keluhan yang dicatat sebagai kutipan
langsung atau ringkasan yang akan berhubungan langsung
dengan diagnosis (Rismalinda, 2014).
1. Identitas klien dan suami menurut (Romauli,2011)
A. Nama
Untuk dapat mengenal atau memanggil nama ibu
dan bapak untuk mencegah kekeliruan bila ada nama
yang sama.
B. Umur
Dalam waktu reproduksi sehat, dikenal bahwa usia
aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30
tahun.
C. Agama
Dalam hal ini berhubungan dengan perawatan
penderita yang berkaitan dengan ketentuan agama.
D. Alamat

8
Untuk mengetahui ibu tinggal dimana, menjaga
kemungkinan bila ada ibu yang namanya bersamaan.
E. Pekerjaan
Hal ini untuk mengetahui taraf hidup dan sosial
ekonomi agar nasehat kita sesuai.
F. Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat intelektual, tingkat
pendidikan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan
seseorang.
G. Suku bangsa
Untuk mengetahui kondisi sosial budaya ibu yang
mempengaruhi perilaku kesehatan.
H. Nomor telephone
Untuk mempermudah melakukan komunikasi secara
tidak langsung.
2. Alasan datang
Alasan klien datang ke fasilitas kesehatan. Biasanya
terjadi perdarahan pervaginam pada kasus abortus
insipiens.
3. Keluhan utama
Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan
pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan (Romauli,
2011). Pasien dengan abortus insipiens mengeluh
mengeluarkan darah dari vaginanya disertai kram atau
nyeri perut bagian bawah (Saifuddin, 2009).
4. Riwayat kesehatan yang lalu dan sekarang
Kelainan endokrin, misalnya kekurangan tyroid,kencing
manis, faktor imunologi misalnya pada penyakit lupus,
Infeksi, diduga dari beberapa virus seperti cacar air,
campak, herpes, toksoplasma dan adanya kelainan
uterus, misalnya septum uterus, serta kelainan kromosom
yang menyebabkan kelainan genetika (Rukiyah, 2014).

9
5. Riwayat kesehatan keluarga
Kelainan endokrin, misalnya kekurangan tyroid,kencing
manis, faktor imunologi misalnya pada penyakit lupus,
Infeksi, diduga dari beberapa virus seperti cacar air,
campak, herpes, toksoplasma dan adanya kelainan
uterus, misalnya septum uterus, serta kelainan kromosom
yang menyebabkan kelainan genetika (Rukiyah, 2014).
6. Riwayat pernikahan
Untuk mengetahui usia nikah pertama kali, status nikah
syah atau tidak, lama pernikahan, ini suami yang ke
berapa (Sulistyawati, 2013).
7. Riwayat haid
Data ini digunakan untuk mendapatkan gambaran
tentang keadaan dasar dari organ reproduksi pasien.
Beberapa data yang diperoleh dari riwayat menstruasi
adalah menarche, siklus menstruasi, volume darah yang
menunjukkan berapa banyak darah menstruasi yang
dikeluarkan (Romauli, 2011).
8. Riwayat Obstetri yang lalu
Informasi essensial tentang kehamilan terdahulu
mencakup bulan dan tahun kehamilan tersebut berakhir,
usia gestasi pada saat itu, tipe persalinan, lama
persalinan, berat lahir, jenis kelamin, dan komplikasi
lain, kesehatan fisik, dan emosi terakhir harus
diperhatikan (Romauli, 2011).
9. Riwayat kehamilan sekarang
Ditanyakan dan dikaji tentang adanya mual muntah,
keputihan, perdarahan pervaginam, masalah pada
kehamilan ini, pemakaian obat- obatan dan jamu-
jamuan, status imunisasi TT, pergerakan janin mulai
terasa kapan, mendapatkan tablet Fe berapa banyak, serta

10
keluhan lainnya yang dirasakan selama hamil (Romauli,
2011).
10. Riwayat KB
Untuk mengetahui alat kontrasepsi apa yang dipakai dan
berapa lama memakai alat kontrasepsi dan apakah ada
keluhan selama menggunakan kontrasepsi (Ambarwati&
Wulandari, 2009).
11. Pola kebiasaan sehari- hari
A. Nutrisi
Malnutrisi yang sangat berat memiliki kemungkinan
paling besar menjadi predisposisi abortus. (Rukiyah,
2014)
B. Eliminasi
Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan
buang air besar meliputi frekuuensi, jumlah,
konsistensi, dan bau serta kebiasaan buang air kecil
meliputi frekuensi, warna dan jumlah (Ambarwati
dan Wulandari, 2009).
C. Istirahat
Untuk mengetahui kebiasaan ibu supaya diketahui
hambatan ibu yang mungkin muncul jika didapatkan
data yang senjang tentang pemenuhan kebutuhan
istirahat (Romauli, 2011). Pada abortus imminens
dianjurkan istirahat atau tirah baring secara total.
D. Hubungan seksual
Untuk menggali aktifitas seksual seperti frekuensi
berhubungan dalam seminggu dan
gangguan/keluhan apa yang dirasakan (Romauli,
2011).
E. Personal hygiene

11
Data ini perlu dikaji karena bagaimanapun,
kebersihan akan mempengaruhi kesehatan pasien
dan janinnya (Romauli, 2011).
F. Aktivitas
Kebiasaan ibu (merokok, alkohol, kecanduan obat)
(Rukiyah, 2014).
12. Data psikososial
Ada hubungan antara abortus berulang dengan keadaan
mental dimana wanita yang belum matang secara
emosisonal dan sangat penting dalam menyelamatkan
kehamilan (Rukiyah, 2014).
13. Data latar belakang budaya
Untuk mengetahui pasien dan keluarga yang
menganut adat istiadat yang akan menguntungkan
atau merugikan khususnya pada masa hamil, misalnya
pada kebiasaan pantangan
makanan(Ambarwati&Wulandari,2009).
14. Data spiritual
Untuk mengetahui kepercayaan yang dianut klien
sehingga bidan dapat memberikan konseling dengan
tepat.
2.1.2 Data Obyektif
Data obyektif adalah data berasal dari hasil observasi yang
jujur dari pemeriksaan fisik pasien, pemeriksaan laboratorium
atau pemeriksaan diagnostik lainnya (Rismalinda, 2014).
1. Pemeriksaan umum
Untuk mengetahui keadaan baik yang normal maupun
menunjukkan kelainan, yaitu meliputi :
2. Keadaan umum
Untuk mengetahui keadaan umum ibu dan tingkat
kesadaran pasien meliputi tekanan darah, suhu, nadi dan
pernafasan (Mufdillah, 2009). Pada ibu hamil dengan

12
abortus insipien keadaan umumnya baik (Manuaba,
2008).
3. Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien
(Sulistyawati, 2013). Pada ibu hamil dengan abortus
insipien kesadarannya composmentis (Kriebs, 2010).
4. Tekanan darah
Tekanan darah dikatakan tinggi bila lebih dari 140/90
mmHg (Romauli, 2011).Pada kasus abortus insipien
umumnya tekanandarahnormal.
5. Nadi
Untuk mengetahui nadi pasien yang dihitung dalam
waktu 1 menit, dalam keadaan santai denyut nadi ibu
sekitar 60-80 x/menit (Romauli, 2011). Pada kasus
abortus insipien umumnya nadi normal.
6. Respirasi
Untuk mengetahui fungsi sistem pernafasan, normalnya
16- 24x/menit (Romauli, 2011).Pada kasus abortus
insipien respirasi umumnya normal.
7. Suhu
Suhu tubuh yang normal 36-37,5oC (Romauli, 2011).
Pada kasus abortus insipien umumnya suhu normal.
8. Tinggi badan
Untuk mengetahui tinggi badan pasien kurang dari 145
cm atau tidak, termasuk resti atau tidak (Romauli, 2011).
9. Berat badan
Untuk mengetahui penambahan berat badan ibu.
Normalnya berat badan tiap minggu adalah 0,5 kg dan
penambahan berat badan selama hamil 6,5 sampai
16,5 kg (Romauli, 2011).
10. LILA

13
Pada bagian kiri: LILA kurang dari 23,5 cm merupakan
indikator kuat untuk status gizi ibu kurang/ buruk
(Romauli, 2011).
11. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan dengan melihat dari ujung kaki sampai
ujung rambut (Romauli, 2011).
A. Rambut
Untuk mengetahui apakah rambutnya bersih atau
kotor, pertumbuhan, warna, mudah rontok atau tidak
(Romauli, 2011).
B. Muka
Keadaan muka pucat atau tidak, adakah kelainan,
adakah oedema (Romauli, 2011).
C. Mata
Bentuk simetris, konjungtiva normal merah muda,
bila pucat menandakan anemia. Sklera normal
berwarna putih, bila kuning menandakan ibu
mungkin terinfeksi hepatitis (Romauli, 2011).
D. Hidung
Normal, tidak ada polip, kelainan bentuk, kebersihan
cukup (Romauli, 2011).
E. Telinga
Untuk mengethui telinga normal atau tidak, ada
serumen yang berlebihan atau tidak, tidak berbau,
bentuk simetris (Romauli, 2011).
F. Mulut/gigi/gusi
Untuk mengetahui apakah ada sariawan atau tidak,
apakah ada caries, dan keadaan gusi (Romauli,
2011).
G. Leher
Untuk mengetahui apakah ada pembesaran kelenjar
tyroid, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, dan

14
tidak ditemukan bendungan vena jugularis
(Romauli, 2011).
H. Dada dan axilla
Untuk mengetahui ada tidaknya benjolan atau massa
pada payudara, hiperpigmentasi areola, puting susu
bersih dan menonjol (Romauli, 2011).
I. Mammae
Untuk mengetahui adanya pembesaran atau tidak,
simetris atau tidak, puting susu menonjol atau tidak,
adanya benjolan atau tidak (Mufdillah, 2009).
J. Axilla
Untuk mengetahui adanya pembesaran atau tidak,
nyeri tekan atau tidak (Mufdillah, 2009).
K. Abdomen
Inspeksi : Memeriksa dengan cara melihat atau
memandang. Tujuannya untuk melihat
keadaan umum pasien meliputi, rambut,
muka, mata, hidung, telinga, mulut, gigi,
leher, dada, abdomen, vagina, anus dan
ekstermitas (Romauli, 2011).
Palpasi : Pada kejadian abortus insipien, uterus
membesar sesuai usia kehamilan dan
terdapat nyeri tekan pada perut bagian
bawah (Wiknjosastro, 2009).
Leopold I : untuk mengetahui
tinggi fundus uteri
dan bagian yang
berada di fundus. Pada
kasus abortus
imminens tinngi
fundus uteri sesuai
atau lebih kecil dari

15
umur kehamilan
(Maryunani, 2016).
Leopold II : untuk mengetahui
batas kiri/kanan pada
uterus ibu yaitu
punggung pada letak
bujur dan kepala pada
letak lintang
Leopold : Untuk menentukan
III bagian terbawah janin
apakah sudah masuk
PAP
Leopold : untuk mengetahui
IV seberapa jauh bagian
ter bawah janin masuk
kedalam rongga
panggul(PAP)
Auskultasi : Pemeriksaan ini dilakukan untuk
mendengarkan denyut jantung bayi
meliputi frekuensi dan keteraturannya
(Romauli, 2011).
L. Genetalia
Untuk mengetahui adanya varices atau tidak,
mengetahui adanya pembengkakan kelenjar
bartholini, mengetahui pengeluaran yaitu perdarahan
dan flour albus (Prawirohardjo, 2015). Pada pasien
dengan abortus insipien jumlah perdarahan biasanya
sedikit, hal tersebut berlangsung beberapa hari atau
minggu (Kriebs, 2010). Pada pasien dengan abortus
insipien adanya pembukaan servik, ketuban
menonjol dan kontraksi uterus berlanjut (Manuaba,
2008).

16
M. Ekstermitas
Dikaji ekstermitas atas dan bawah. Atas dikaji ada
atau tidak gangguan/ kelainan dan bentuk. Bawah
dikaji bentuk, oedema, dan varices (Sulistyawati,
2013).
12. Data penunjang
Pemeriksaan penunjang adalah pemeriksaan yang
meliputi pemeriksaan laboratorium, rontgen, dan USG
(Astuti, 2012). Pada kasus abortus insipiens dilakukan
pemeriksaan meunjang seperti: Pemeriksaan
laboratorium menurut Nursalam (2008) dibagi menjadi
dua yaitu :
a. Pemerik : Untuk mengetahui kadar Hb, leukosit,
saan eritrosit, golongan darah
darah
b. Pemerik : Untuk mengetahui PP tes, pada abortus
saan insipien PP tes (+)
urin
c. Pemerik : Dilakukan untuk menentukan
saan apakahjanin masih hidup (Varney, 2015).
USG

2.2 Identifikasi Diagnosis dan Masalah Aktual


Langkah kedua yang dilakukan untuk mengidentifikasi yang
benar terhadap diagnosis/masalah dan kebutuhan klien berdasarkan
interpretasi yang benar atas dasar data-data yang telah dikumpulkan
(Rismalinda, 2014).
Dx : Diagnosa yang ditegakkan oleh profesi (bidan)
dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi
standar nomenklatur (tata nama) diagnosis
kebidanan (Rismalinda, 2014). Diagnosa yang

17
dapat ditegakkan pada kasus abortus imminens
yaitu G...P....A....Umur ......Tahun Umur
kehamilan.......minggu dengan abortus insipiens.
DS : Data yang berhubungan atau masalah dari sudut
pandang pasien. Ekspresi pasien mengenai
kekhawatiran dan keluhan yang dicatat sebagai
kutipan langsung atau ringkasan yang akan
berhubungan langsung dengan diagnosis
(Rismalinda, 2014). Data subyektif pada kasus
abortus insipiens Ibu mengatakan mengeluarkan
bercak-bercak darah pervaginam, perutnya terasa
sedikit mules.
DO : Pendokumentasian hasil observasi yang jujur, hasil
pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium atau
pemeriksaan dignostik lain (Rismalinda, 2014).
Menurut Saifuddin (2009) data obyektif pada ibu
hamil dengan abortus insipien adalah meliputi :
(1) Vital sign : tekanan darah, nadi, respirasi, suhu
(2) Pada pemeriksaan dalam osteum uteri terbuka,
jumlah perdarahan sedang
(3) Palpasi mengetahui uterus membesar sesuai
usia kehamilan atau tidak (Manuaba, 2008).
Masalah : Masalah adalah permasalahan yang muncul
berdasarkan pernyataan pasien (Ambarwati dan
Wulandari, 2009).
Masalah yang sering timbul pada ibu hamil
dengan abortus insipien yaitu merasa cemas dan
gelisah melihat keadaan kehamilannya
(Saifuddin, 2009).
Kebutuhan : Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan
pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya.
Kebutuhan pada ibu hamil dengan abortus insipien

18
yaitu dorongan moral dan informasi tentang
abortus insipien (Saifuddin, 2009).

2.3 Identifikasi Masalah Potensial


Pada kasus ibu hamil dengan abortus insipien diagnosa
potensial yang mungkin terjadi yaitu abortus inkomplit atau
abortus komlpitus(Manuaba,2008).
2.4 Identifikasi Tindakan Segera
Dalam kasus abortus insipien antisipasi yang dilakukan
adalah kolaborasi dengan dokter obsgyn untuk pemberian terapi :
untuk tindakan segera yaitu memasang infus garam fisiologik atau
RL 40 tetes/menit, metil ergomertin 0,2 mg I.M (dapat diulang
sesudah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral
(dapat diulang sesudah 4 jam jika perlu) serta motivasi berupa
dukungan kepada ibu (Wiknjosastro, 2009).
2.5 Intervensi
DX :
Tujuan :
KH :
Intervensi :
Menurut Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal (2014), rencana yang dapat dilakukan pada ibu hamil
dengan abortus insipien adalah sebagai berikut:
2.5.1 Jika usia kehamilan kurang 16 minggu, lakukan evaluasi
uterus dengan aspirasi vakum manual. Jika evaluasi tidak
dapat, segera lakukan
1. Berikan ergometrin 0,2 mg intramuskuler (dapat diulang
setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg
per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu).
2. Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil
konsepsi dari uterus.

19
R: Pemberian ergometrin digunakan untuk mencegah
dan mengatasi perdarahan setelah proses persalinan atau
abortus. Ergonovine adalah stimulan uterus, cara kerja
meningkatkan kontraksi uterus
3 Jika usia kehamilan lebih 16 minggu :
A. Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi
sisa-sisa hasil konsepsi.
B. Jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500
ml cairan intravena (garam fisiologik atau larutan
ringer laktat) dengan kecepatan 40 tetes per
menituntuk membantu ekspulsi hasil konsepsi.
R: Oksitosin merangsang frekuensi dan kekuatan
otot polos uterus sehingga menimbulkan kontraksi
C. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah
penanganan.
R: Kondisi ibu terpantau dengan baik untuk
mencegah komplikasi yang mungkin timbul.
2.6 Implementasi
Tanggal : Pukul :
Rencana asuhan yang menyeluruh dilakukan secara efisien
dan aman. Pada saat bidan berkolaborasi untuk menangani klien
yang mengalami komplikasi, maka bidan bertanggung jawab
terhadap pelaksanaannya rencana asuhan yang menyeluruh tersebut.
Manajemen yang efisien akan menyingkat waktu dan biaya serta
meningkatkan mutu dan asuhan klien (Rismalinda, 2014).
2.7 Evaluasi
Tanggal : Pukul :
Hasil yang diharapkan dari asuhan kebidanan ibu hamil
dengan abortus insipien ini adalah KU ibu baik, perdarahan dapat
teratasi, rasa nyeri dapat teratasi (Wiknjosastro, 2009).

20
2.8 Data Perkembangan
Menurut Rismalinda (2014), data perkembangan untuk
asuhan kebidanan menggunakan metode SOAP, yaitu :
S : Subyektif
Data yang berhubungan atau masalah dari sudut pandang pasien.
Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran dan keluhan yang dicatat
sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang akan berhubungan
langsung dengan diagnosa.
O : Obyektif
Pendokumentasian hasil observasi yang jujur, pemeriksaan fisik
pasien, pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan diagnostik lain.
A : Assessment
Pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi dari data subyektif
dan data obyektif.
P : Planing
Membuat rencana asuhan saat ini dan akan datang,untuk
mengusahakan tercapainya kondisi pasien yang sebaik mungkin atau
menjaga atau mempertahankan kesejahteraannya.

21
BAB 3
TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian
Hari, tanggal : 11 November 2018
Pukul : 06.00
Tempat : RSUD Pelita Jaya
No. Register : 12.2098
Oleh : Pertiwi

3.1.1 Data Subjektif


1. Identitas klien
A. Nama : Ny. R Nama : Tn. D
B. Umur : 24 Tahun Umur : 28 tahun
C. Agama : Islam Agama : Islam
D. Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
E. Pendidikan : SMK Pendidikan : SMK
F. Suku bangsa : Jawa
G. Nomor telephone : 08123457689
H. Alamat : Jl. Bogor No. 6 B
2. Alasan datang
Ibu mengatakan ingin memereiksakan kandungan.
3. Keluhan utama
Ibu mengeluh mengeluarkan darah dari vaginanya disertai
kram atau nyeri perut bagian bawah
4. Riwayat Menstruasi
A. Menarche : 13 tahun
B. Siklus : 28 hari
C. Lama Haid : 5-6 hari
D. HPHT : 22 Juli 2018
5. Riwayat Perkawinan

22
Ibu mengatakan ini merupakan pernikahan pertama bagi ibu
dan suami, ibu menikah saat usia 19 tahun dan suami usia 23
tahun, lama pernikahan 5 tahun.
6. Riwayat kesehatan yang lalu dan sekarang
a. Riwayat penyakit yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita
penyakit darah tinggi, kencing manis, TBC,
dan penyakit jantung.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu mengatakan tidak sedang menderita
penyakit menurun seperti darah tinggi,
kencing manis, dan tidak sedang menderita
penyakit menular seperti TBC, hepatitis, dan
tidak sedang menderita penyakit menahun
seperti penyakit jantung.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga ibu maupun
suami tidak ada yang mempunyai riwayat
penyakit darah tinggi, kencing manis, asma,
hepatitis atau penyakit kuning, TBC, dan
penyakit jantung.
7. Riwayat Obstetri yang lalu
Ibu mengatakan kehamilan pertama lahir pada usia 9 bulan
ditolong oleh bidan lahir dengan persalinan normal, berjenis
kelamin laki-laki dengan berat lahir 3100 gram dan panjang 50
cm.
8. Riwayat kehamilan sekarang
Ibu mengatakan ini merupakan kehamilan kedua, pada awal
kehamilan ibu mengalami mual muntah tetapi tidak sampai
mengganggu aktifitas ibu dan mengganggu kebutuhan nutrisi
yang ibu butuhkan.
9. Riwayat KB

23
Ibu mengatakan setelah anak pertama ibu menggunakan KB
suntik 3 bulanan.
10. Pola kebiasaan sehari- hari
A. Nutrisi
Ibu mengatakan makan 3 kali sehari dengan nasi, sayur dan
lauk pauk seperti tempe, ayam, ikan dll. Ibu minum kurang
lebih 9 gelas sehari.
B. Eliminasi
BAK : 5-6 kali sehari
BAB : 1 kali sehari
C. Istirahat
Ibu mengatakan tidur malam mulai pukul 21.30 WIB dan
bangun pada pukul 05.00 WIB. Untuk tidur siang ibu
mengatakan jarang tidur siang.
D. Personal Hygiene
Ibu mengatakan mandi 2 kali sehari
E. Aktivitas
Ibu mengatakan dirumah melakukan pekerjaan rumah
tangga seperti biasa seperti, menyapu, mengepel, mencuci,
masak, dll.
11. Data psikososial-kultural
Ibu mengatakan ia dan suami serta keluarga senang dengan
kehamilan sekarang. Ibu mengatakan tidak mengonsumsi jamu
ataupun minuman beralkohol. Ibu mengatakan tidak ada
kebudayaan khusus dalam keluarganya maupun lingkungan
sekitarnya yang mengganggu.
3.1.2 Data Objektif
1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran : komposmentis
3. Tekanan darah : 90/70 mmHg
4. Nadi : 100 x/menit
5. Respirasi : 24 x/menit

24
6. Suhu : 36,5oC
7. Tinggi badan : 158 cm
8. BB sesudah hamil : 54 kg
9. BB sebelum hamil: 52 kg
10. LILA : 24 cm
11. UK : 16 minggu
12. Pemeriksaan fisik
A. Inspeksi
a. Muka : tidak terdapat oedema, sedikit lemas
b. Mata : sklera putih, konjungtiva pucat
c. Mulut : tidak sianosis
d. Hidung : tidak ada polip, tidak ada sekret
e. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak
ada pembesaran kelenjar vena jugularis dan kelenjar
limfe
f. Payudara : puting susu menonjol
g. Abdomen : tidak ada bekas luka operasi
h. Genitalia : terdapat pengeluaran darah
i. Anus : tidak ada hemoroid
B. Palpasi
a. Leher : tidak teraba pembesaran kelenjar tiroid,
dan kelenjar limfe
b. Payudara : tidak teraba benjolan abnormal
c. Abdomen : teraba TFU diantara pusat dan sympisis
d. Ekstermitas : tidak terdapat oedema
C. Auskultasi
Tidak terdapat bunyi DJJ
D. Perkusi
Refleks patella +/+
13. Pemeriksaan dalam

25
Dilakukan oleh bidan pada tanggal 11 november 2018 pukul
06.10 WIB. VT pembukaan 1 cm, perdarahan sedang yaitu
kurang lebih 30 cc.
14. Data penunjang
A. Pemeriksaan laboratorium
Hb 9,5 gr%, HCT 35%, leukosit 10600 µl, golongan darah
O, gula darah 106 mg/dl
B. USG
Gestasional pecah, jaringan (+), PP test (+)
3.2 Identifikasi Diagnosis dan Masalah Aktual
Dx : GIIP1001Ab000 umur 24 tahun usia kehamilan 16 minggu dengan
abortus insipiens
DS :
1. Ibu mengatakan ini kehamilan kedua dan belum pernah keguguran
2. Ibu mengatakan umur 24 tahun
3. Ibu mengatakan mengeluarkan darah dari jalan lahir sejak tadi pagi
pukul 05.30 yang disertai dengan nyeri perut bagian bawah
4. Ibu mengatakan hari menstruasi terakhir tanggal 22 juli 2018
DO :
1. Keadaan umum : baik
2. Kesadaran : komposmentis
3. TTV : tekanan darah 90/70 mmHg, suhu 36,5 oC,
nadi 100 x/menit, respirasi 24 x/menit
4. VT : pembukaan serviks 1 cm, pengeluaran
darah pervaginam kurang lebih 30 cc, jaringan (+), PP test (+)
Masalah : ibu mengatakan merasa cemas dan khawatir terhadap
kehamilannya
Kebutuhan : memberikan dukungan moral pada ibu dan penjelasan
tentang abortus
3.3 Identifikasi Masalah Potensial
Potensial terjadi abortus inkomplitus atau abortus komplitus

26
3.4 Identifikasi Tindakan Segera
Kolaborasi dengan dokter SpOG untuk pemberian terapi infus RL 20 tpm,
Cefixime 100 mg 2x1, metylergometrin 100 mg 3x1, Asam mefenamat
500 mg 2x1, Hematofit 500 mg 1x1 dan penatalaksanaan abortus insipiens
3.5 Intervensi
DX : Ny. R GIIP1001Ab000 UK 16 minggu dengan abortus
insipiens
Tujuan : tidak terjadi syok hemoragik sebelum dilakukannya
curretage dan tidak terjadi perdarahan serta infeksi setelah dilakukan
curratage
Kriteria hasil :
1. Keadaan umum ibu baik
2. TTV dalam batas normal
a. Tekanan darah : 100/60-140/90 mmHg
b. Nadi : 60-100 x/menit
c. Suhu : 36,5-37,5oC
d. RR : 16-24 x/menit
3. Perdarahan ±100 cc
4. Sisa hasil konsepi dapat dikeluarkan semua
Intervensi :
1. Lakukan pendekatan terapeutik pada ibu dan keluarga
R/ Ibu dan keluarga dapat lebih kooperatif ketika diberikan asuhan
2. Beritahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan
R/ Ibu dan keluarga mengetahui hasil pemeriksaan karena merupakan
hak dari pasien
3. Lakukan inform conent setiap sebelum melakukan tindakan
R/ Inform conent syarat sebelum dilakukannya tindakan, sebagai
persetujuan dan digunakan sebagai bukti dan pertanggungjawaban
4. Lakukan advis dokter
R/ Semua tindakan sesuai dengan advis dari dokter
5. Lakukan observasi perdarahan, keadaan umum, dan TTV
R/ Observasiperdarahan, keadaan umum dan TTV dapat mengetahui

27
kondisi pasien dan dapat melakukan tindakan yang sesuai dengan
kondisi pasien
6. Siapkan peralatan untuk pelaksanaan curratage
Proses curratage berjalan sesuai prosedur
3.6 Implementasi
1. Melakukan pendekatan terapeutik pada ibu dan keluarga untuk
menjalin komunikasi yang baik dengan pasien
2. Memberitahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan
Tekanan darah: 90/70 mmHg
Nadi : 100 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 36,5oC
Pemeriksaan dalam : pembukaan serviks 1 cm, pengeluaran darah
pervaginam kurang lebih 30 cc, jaringan (+), PP test (+)
3. Melakukan inform consent sebelum melakukan tindakan termasuk
curratage
4. Melakukan pemasangan infus RL 20 tpm sesuai dengan advis dokter
untuk rehidrasi
5. Melakukan observasi perdarahan, keadaan umum, dan TTV pasien
6. Mempersiapkan peralatan untuk pelaksanaan curratage
3.7 Evaluasi
Tanggal : 11 november 2018
Pukul : 07.00 WIB
1. Ibu dan keluarga menyetujui setiap tindakan yang akan dilakukan
2. Hasil pemeriksaan
a. Tekanan darah : 100/70 mmHg
b. Nadi : 90 x/menit
c. RR : 24 x/menit
d. Suhu : 36,5oC
3. Telah terpasang infus RL 20 tpm
4. Melanjutkan observasi perdarahan, keadaan umum, dan tanda-tanda
vital

28
3.8 Data Perkembangan
3.8.1 Data perkembangan 1
Tanggal : 11 november 2018
Pukul : 09.00 WIB
Subjektif :
Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas dan ibu mengatakan
mengeluarkan flek-flek darah berwarna kecoklatan
Objektif :
1. Keadaan umum : baik
2. Kesadaran : komposmentis
3. Tekanan darah : 100/80 mmHg
4. Suhu : 36,6oC
5. RR : 22 x/menit
6. Nadi : 80 x/menit
7. Terpasang infus RL berdasarkan advise dokter dengan 20 tpm
untuk rehidrasi
8. Flek darah masih keluar
Assesment :
Ny. R umur 24 tahun P1001Ab100 dengan post curratage perawatan
hari pertama
Penatalaksanaan:
1. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan
2. Memberitahu ibu untuk mengonsumsi tinggi kalori tinggi protein
3. Memberitahu ibu untuk tetap bed rest total diatas tempat tidur
4. Memberikan obat metylergometrin 100 mg 3x1 per oral
5. Memberikan Kie tentang tablet Fe serta memberikan tablet Fe
untuk diminum pada malam hari
3.8.2 Data perkembangan 2
Tanggal : 12 november 2018
Pukul : 06.00 WIB
Subjektif :
Ibu mengatakan masih mengeluarkan flek-flek dari jalan lahir, rasa

29
mulas pada perut sudah berkurang dan ibu sudah minum obat sesuai
anjuran
Objektif :
1. Keadaan umum : baik
2. Kesadaran : komposmentis
3. Tekanan darah : 110/70
4. Nadi : 80 x/menit
5. RR : 20 x/menit
6. Suhu : 36,5oC
7. Perdarahan pervaginam masih keluar flek-flek warna merah
kecoklatan
8. Infus RL masih terpasang
Assesment :
Ny. R umur 24 tahun P1001Ab100 dengan post curratage perawatan
hari kedua
Penatalaksanaan :
1. Memberitahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan
2. Melanjutkan terapi cefixime 100 mg per oral, asam mefenamat
500 mg per oral, metylergometrin 100 mg per oral, hemafort 500
mg per oral
3. Memberitahu ibu untuk tetap makan tinggi kalori tinggi protein
4. Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini sepeti miring kiri/kanan,
duduk di tempat tidur
5. Mengobservasi perdarahan pervaginam yang berupa flek-flek
6. Melanjutkan terapimetylergometrin 100 mg 3x1 per oral
3.8.3 Data perkembangan 3
Tanggal : 13 november 2018
Pukul :06.00 WIB
Subjektif :
Ibu mengatakan sudah tidak mengeluarkan flek-flek darah dari jalan
lahir serta perut tidak mulas lagi
Objektif :

30
1. Keadaan umum : baik
2. Kesadaran : komposmentis
3. Tekanan darah : 110/80 mmHg
4. Nadi : 80 x/menit
5. RR : 20 x/menit
6. Suhu : 36,5oC
7. Perdarahan pervaginam sudah tidak keluar
8. Infus masih terpasang RL 20 tpm
Assesment :
Ny. R umur 24 tahun P1001Ab100 dengan post curratage perawatan
hari ketiga
Penatalaksanaan :
1. Memberitahukan hasil pemeriksaan kepada pasien
2. Melanjutkan terapi cefixime 100 mg 2x1 per oral, asam
mefenamat 500 mg 2x1 per oral, metylergometrin 100 mg 3x1
per oral, hemafort 500 mg 1x1 per oral
3. Memberitahu ibu untuk tetap makan tinggi kalori tinggi protein
4. Melepas infus sesuai dengan advise dokter
5. Melakukan kolaborasi dengan dokter SpOG untuk melakukan
USG (memastikan jaringan janin sudah tidak ada)
6. Ibu diperbolehkan pulang dan kembali kontrol seminggu lagi

31
BAB 4
PEMBAHASAN

Abortus insipiens adalah abortus yang disertai dengan pembukaan


serviks yang ditandai dengan penonjolan membran atau keluarnya cairan
amnion dari os eksternal yang terdiagnosis melalui pemeriksaan spekulum
atau pemeriksaan ultrasonografi transvagina. Seperti namanya, peristiwa
keguguran ini tidak dapat dihindari. Perdarahan kian hebat disertai dengan
keluarnya bekuan atau kantung janin yang berisi embrio atau janin(Holmes;
2011). Pada abortus insipien biasa ditandai dengan gejala terjadi mules yang
lebih sering hebat, dan perdarahannya bertambah. Jika abortus terjadi pada
usia kehamilan kurang dari 12 minggu biasanya perdarahan tidak banyak.
Serviks terbuka, uterus sesuai dengan usia kehamilan, belum terjadi ekspulsi
hasil konsepsi(Lily, 2009).
Penatalaksanaan yang dilakukan kasus abortus insipiens seperti pada
contoh kasus yakni jika keadaan serviks yang berdilatasi disertai perdarahan
yang masif, sebaiknya dilakukan kuretase, dengan perlindungan infus
RL/NaCL fisioligis dengan tetesan 20 tpm. Pemberian infus dapat dimulai
dengan kristaloid (RL/NaCL fisiologis) dengan pemberian cairan meliputi
maintenance dan ditambah jumlah perdarahan aktif. Sebelum dan sesudah
dilakukannya kuretase pada pasien maka dilakukan pemeriksaan
ultrasonografi (USG) untuk mengetahui jaringan janin yang ada di dalam
uterus. Pasien dengan os serviks terbuka pada pemeriksaan pelvis tetapi tanpa
riwayat atau bukti pada bagian dari jaringan, di diagnosa sebagai memiliki
abortus insipiens. Pada pemeriksaan ultrasonik, area anechoic terlihat di
sekeliling kantung, dimana kantung telah terpisah dari dinding uterus.
Kantung yang terpisah terlihat terbaring rendah pada uterus. Saluran serviks
yang melebar membuktikan diagnosis meskipun denyut jantung mungkin
masih dapat di deteksi. Biasanya, kantung akan berpindah ke tempatnya
selama pemindaian.

32
DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, E. R & Wulandari, D. 2009. Asuhan Kebidanan (Nifas). Yogyakarta :


Mitra Cendekia.

Astuti, H.P. 2012. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Ibu I (Kehamilan). Yogyakarta :
Rohima Press.

Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 2014.


Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Holmes, Debbie. 2011. Buku Ajar Ilmu Kebidanan. Jakarta: EGC.

Indrayani. 2011. Buku Ajar Asuhan Kehamilan. Jakarta: Trans Info Medika.

Kriebs, J.M. 2010. Saku Asuhan Kebidanan Varney. Jakarta: EGC.

Kontoyannis M, Katsetos C, Panagopoulos P. Sexual intercourse during


pregnancy. Health Science Journal. 2014;6(1):82-8.

Kumar, Pramod, dkk. 2017. First Trimester Bleeding: A Diagnostic Dilemma-


Probing IT With Ultrasound. International Journal of Advenced &
Integrated Medical Sciences2(3, 117-124.)

Manuaba, I.B.G. 2008. Gawat Darurat Obstetri-Ginekologi dan Obstetri-


Ginekologi Sosial Untuk Profesi Bidan. Jakarta: EGC.

Maryunani, Anik dan Eka Puspita. 2013. Asuhan Kegawatdaruratan Maternal


dan Neonatal. Jakarta: TIM.

Maryunani, Anik. 2016. Asuhan Kegawatdaruratan dalam Kebidanan edisi


kedua. Jakarta: TIM.

Mufdillah. 2009. Asuhan Patologi Kebidanan. Yogyakarta : Nuha Medika.

Nugroho. 2012. Patologi Kebidanan. Yogyakarta : Muha Medika.

Nursalam. 2008. Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: Salemba


Medika.

33
Prawirohardjo, S. 2015. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.

Pudiastuti, R. D. 2012. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Normal dan Patologi.
Yogjakarta: Nuha Medika.

Rismalinda. 2014. Dokumentasi Kebidanan. Jakarta : In Media

Romauli, S. 2011. Asuhan Kebidanan 1 Konsep Dasar Asuhan Kehamilan.


Yogyakarta : Nuha Medika.

Rukiyah. A. Y. 2014. Asuhan Kebidanan 4 Patologi. Jakarta : Trans Info Media

Saifuddin, A.B. 2009. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta:


Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Sucipto, Nur Ilhaini. 2013. Abortus Imminens: Upaya Pencegahan, Pemeriksaan,


dan Penatalaksanaan . Jurnal Kesehatan CDK- 206, vol. 40, No. 7, hal
492-496.

Sukarni, K, Margareth, ZH. 2013. Kehamilan Persalinan dan Nifas.Jogjakarta:


Nuha Medika.

Sulistyawati, A. 2013. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta:


Penerbit Salemba Medika.

Sotiriadis A, Papatheodorou S, Makrydimas G. Threatened Miscarriage:


Evaluation and management. BMJ. 2014;329(7458):152-5

Varney, H. 2015. Ilmu Kebidanan (Varney’s Midwifery 5rded). Bandung: Sekeloa


Publisher.

Wiknjosastro, Hanifa. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo.

34
LAMPIRAN

35
36