Você está na página 1de 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Deklarasi Alma Alta tahun 1978 yangmerencanakan pembangunan
Kesehatan Masyarakat (Primary Health Care) sebagai strategi untuk mencapai
kesehatan bagi semua (Health For All) pada tahun 2010 M, memberi angin
besar bagi pendekatan baru ya itu mengembangkan hubungan aktif masyarakat
dalam meningkatkan kesehatan secara swadaya.
Konferensi Alma Alta menetapkan bahwa Primary Healty Care atau
pembangunan kesehatan Masyarakat adalah : “Upaya kesehatan esensial yang
secara universal mudah dijangkau oleh perseorangan dan keluarga didalam
masyarakat, dengan cara yang dapat diterima oleh mereka dan peran serta penuh
mereka dan biaya yang dapat ditanggung oleh masyarakat dan negara yang
bersangkutan.” Pembangunan kesehatan masyarakat merupakan bagian integral
dari pembangunan sistem kesehatan suatu negara. Selain itu pembangunan
kesehatan masyarakat juga merupakan bagian integral dari pembangunan sosial
ekonomi masyarakat.
Konfeensi Alma Alta menyatakan bahwa pembangunan kesehatan
masyarakat seharusnya mencakup sekurang-kurangnya upaya sebagai berikut :
perbaikan gizi, penyediaan air bersih dan sanitasi dasar, kesehatan ibu dan anak
termasuk keluarga berencana, imunisasi terhadap penyakit utama, pencegahan
dan pengendalian terhadap penyakit endemik setmpat, pendidikan tentang
masalah kesehatan dan cara-cara mencegah atau mengatasinya dan pengobatan
yang tetap terhadap penyakit umum serta cidera.
Pembangunan dibidang kesehatan bertujuan untuk mencapai
kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk sehingga dapat mewujudkan
derajat kesehatan masyarakat optimal, sebagai salah satu unsur kesejahteran
umum dari tujuan nasional. Untuk yang bersifat menyeluruh dan terpadu.
Upaya-upaya tersebut salah satunya dapat berupa praktek keperawatan
kesehatan masyarakat. Perawatan kesehatan masyarakt juga merupakan bagian
integral pelayanan dasar yang dilaksanakan dipuskesmas.

1
B. Tujuan
Adapun tujuan umum dari pembuatan laporan PKL ini adalah
1. Tujuan umum
Menyaji hasil kegiatan praktek lapangan yang dilaksanakan didesa Kirig di
Kecamatan Mejobo selama 21 hari.
2. Tujuan khusus
a. Menggambarkan kondisi dan permasalahan keperawatan didesa kirig
Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus
b. Melaporkan upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan
di desa Kirig Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus.

B. Ruang Lingkup
Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan Keperawatan masyarakat menitik
beratkan Mahasiswa AKPER “Krida Husada” Kudus. Dalam rangka
menerapkan proses keperawatan komunitas ini diterapkan di desa Kirig
Kecamatan Mejobo Kab. Kudus selama 21 hari yaitu mulai tanggal 20 Maret
2006 sampai 8 April 2006.

C. Matode Penulisan
Dalam praktek keperawatan masyarakat ini metode penulisan yang
digunakan adalah bentuk diskriptif. Sedangkan cara memperoleh data yakni
melalui wawancara dan observasi langsung dilapangan.

D. Sistematika Penulisan
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Ruang Lingkup
D. Metode Penulisan
E. Sistematika Penulisan
Bab II Landasan Teori
A. Keperawatan Kesehatan Komunitas
B. Program Perawatan Kesehatan Masyarakat
Bab III Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
B. Analisa data
C. Prioritas Masalah

2
D. Rencana Perawatan
E. Implementasi
F. Evaluasi
Bab IV Penutup
A. Kesimpulan
B. Rekomendasi
Daftar Pustaka
Lampiran

3
BAB II
LANDASAN TEORI

C. Keperawatan Kesehatan Komunitas


1. Pengertian
Menurut ANA (America nursing Asosiation) 1980, perawatan
kesehatan komunitas adalah sntesa dari praktek keperawatan dan kesehatan
masyarakat dalam melakukan upaya promotif dan prefentif secara
menyeluruh dan kesinambungan ditujukan kepada individu, keluarga dan
masyarakat, serta kelompok.
Promosi kesehatan, mempertahankan kesehatan, dilakukan secara
terus menerus dan menyeluruh. Dalam perawatan kesehatan masyarakat
yang menerima pelayanan kesehatan dibagi menjadi tiga tingkat yaitu :
1) Tingkat Individu
Perawat memberi pelayanan perawatan individu pada kasus-kasus
tertentu dengan memperhatikan atau tanpa memberikan perhatian
kepada keluarga atau masyarakat dalam melakukan pemecahan masalah.
2) Tingkat keluarga
Yang menjadi sasaran pelayanan adalah keluarga, yaitu keluarga yang
retan terhadap kemungkinan timbulnya masalah kesehatan dan keluarga
yang mempunyai individu yang bermasalah.
3) Tingkat masyarakat
Masyarakat adalah merupakan kumpulan dari keluarga, pelayanan
kesehatan masih tetap ditujukan bagi individu atau keluarga akan tetapi
masalah-masalah individu atau keluarga dilihat masih merupakan satu
kesatuan masyarakat. Maka penanggulangannya direncanakan dan
dilaksanakan dalam tingkat masyarakat.
2. Paradikma keperawatan komunitas
Manusia sebagai Komunitas
(individu, keluarga, kelompok dan masyarakat)
Keperawatan Kesehatan
Lingkungan
(fisik, biologi, psikologi, sosial, spiritual, dan kultural)
(Legan dan Donkins, 1987)

4
Manusia sebagai klien penerima kesehatan masyarakat langsung
berdasarkan masalah kemunitas. Keluarga sebagai klien sebagai unit
pelayanan sistem individu yang beresiko. Komunitas sebagai klien
merupakan kelompok yang beresiko. Lingkungan dalam keperawatan
komunitas adalah semua kondisi yang secara langsung ataupun tidak
langsung mempengaruhi kesehatan komunitas baik yang mendukung atau
menghambat. Lingkungan dapat berupa fisik, biologis, psikologis, sosial,
kultural.
Kesehatan dalam perawatan kamunitas adalah pemenuhan pengembangan
secara sempurna mampu beradaptasi sehingga terjadi aktifitas fisik dan
interaksi lingkungan sosial, mampu menggunakan peran sebagai manusia
secara efektif terhindar dari tanda dan gejala penyakit dan ketidakmampuan
(sehat sakit) pelayanan perawatan komunitas adalah suatu bentuk pelayanan
profesional yang unik dalam mengikutsertakan masyarakat dalam mengkaji,
mengidentifikasi masalah dan menentukan diagnosa, merencanakan
tindakan untuk mengatasi masalah, melaksanakan intervensi dengan tim
kesehatan lain dan mengevaluasi yang telah dilakukan. Pelayanan
keperawatan komunitas menurut Betty Newman dibagi menjadi 3 tingkat
yaitu :
1) Primer
Terdiri dari : - Health Promotion
- Health Education
- Specifik Protection (imunisasi)
2) Sekunder
Terdiri dari : - Early detection & treatment
- Emergency care
- Acute & critical care
- Diagnosis & treatment
3) Tertier
Terdiri dari : - Rehabilitation
- Longterm care
- Care of dying
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan
Status kesehatan individu, kelompok dan masyarakat berada dalam
suatu rentang sehat sakit, yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku
karakteristik perorangan. Sistem pelayanan kesehatan dan keturunan atau

5
biologis sebagaimana yang terlihat pada gambar 2. besarnya panah gambar
tersebut mengasumsikan besarnya pengaruh terhadap derajat status
kesehatan. Perilaku karakteristik personal
Perilaku karakteristik personal
Status kesehatan sistem yankes
Individu, kelompok, masyarakat
Lingkungan
Katurunan / biologis
Sehat Sakit
Gambar 2. Faktor-faktor yangmempengaruhi status kesehatan
(Done 1980)
Lingkungan mempunyai peranan yang sangat penting di dalam
status kesehatan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. Masyarakat
akan terus menerus beradaptasi dengan lingkungan dalam mempertahankan
keseimbangan kesehatan. Lingkungan yang baik akan mendukung
perkembangan individu, keluarga kelompok, dan masyarakat serta
kelompok. Untuk memanfaatkan potensi secara maksimal, sebaiknya
lingkungan yang tidak baik akan mendukung perkembangan individu
keluarga kelompok dan masyarakat.
Umur, jenis kelamin, gaya hidup dan lain-lain merupakan
karakteristik perseorangan serta perilaku yang dapat mempengaruhi status
kesehatan individu, keluarga dan masyarakat. Sebagai contoh : bayi
mempunyai daya tahan tubuh yang rendah dibandingkan dengan orang
dewasa.
Sistem palayanan kesehatan seperti Puskesmas dan RS merupakan
faktor lain yang dapat mempengaruhi status kesehatan. Pada umumnya
sistem pelayanan kesehatan akan dirasakan manfaatnya pada saat individu,
keluarga, kelompok masyarakat mengalami sakit atau kelainan, padahal
upaya pengobatan ini jauh lebih mahal dibadingkan dengan upaya
pencegahan.
Karakteristik seseorang terjadi karena adanya faktor genetik dan
faktor lingkungan yang saling berinteraksi. Dalam beberapa kondisi tanpa
faktor genetik dibandingkan faktor-faktor lain. Sondrom down, thalasemia,
merupakan suatu contoh faktor-faktor geneik yang lebih berperan dalam
karakteristik seseorang.
4. Karakteristik keperawatan komunikasi

6
Keperawatan komunikasi mempunyai kebebasan memilih pasien
untuk pelayanan kesehatan dan menetapkan klien yang dipandang perlu
untuk mendapatkan pelayanan sehingga klien mempunyai nilai sendiri yang
harus dicermati orang lain.
Klien mempunyai hak untuk menerima dan menolak pelayanan yang
diberikan sehingga kita harus memperhatikan kerjasama dengan klien untuk
memberikan asuhan keperawatan berkelanjutan dalam waktu yang panjang
dengan tujuan utama mengubah perilaku masyarakat untuk ikut serta dalam
upaya promotif dan preventif demi peningkatkan kesehatan.
5. Stategi implementasi kesehatan komunitas
Strategi yang dapat dilakukan dalam implementasi keperawatan komunitas
meliputi proses kelompok, promosi kesehatan dan kerjasama. Tiga tingkat
pencegahan dan peran serta masyarakat :
a. Strategi proses kelompok
Dalam strategi ini perawatan bekerja dalam bentuk kelompok dan
berperan dalam pendidikan, konsultan, advokasi. Elemen-elemen yang
dapat mempengaruhi proses kelompok : Norma, keterpaduan peran,
kepemimpinan, dan kekuatan. Tahap perkambangan proses kelompok :
1) Fase awal
Fase awal perawat serta masyarakat perlu mengambangkan tujuan
yang khusus sebagai intervensi untuk mencapai tujuan kelompok
kemudian perlu ditentukan pimpinan dan anggota kelompok,
pimpinan bertanggung jawab untuk meyakinkan tentang peran,
norma dan tujuan kelompok.
2) Fase kerja
Kelompok mengembangkan keterkaitan diantara anggota kelompok
yang berfungsi sebagai tim dalam upaya mencapai tujuan
menyelesaikan konflik yang timbul adanya perbedaan pendapat,
penyelesaian masalah dan membuat perubahan dengan mengadakan
proses perawatan, membuat keputusan yang bisa dibuat oleh
pimpinan, sekelompok, voting atau konsensus kelompok.

3) Fase akhir

7
Dilakukan jika tujuan sudah tercapai sesuai dengan waktu yang
ditentukan, mengevaluasi tujuan kelompok merencanakan tindak
lanjut, melukan diskusi.
b. Promosi kesehatan
Promosi kesehatan merupakan aktivitas secara tidak langsung bertujuan
untuk meningkatkan kesehatan dan aktualisasi individu, keluarga dan
komunitas. Jenis-jenis promosi modifikasi gaya hidup, penataan kembali
lingkungan dan dukungan sosial.

B. Program Perawatan Kesehatan Masyarakat


1. Keadaan dan masalah
Pelayanan kesehatan pada kesehatan masyarakat sebagai salah satu
kegiatan pokok Puskesmas, merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan Puskesmas dan subsistem dan Puskesmas.
Pelayanan Puskesmas diharapkan dapat memberikan bantuan,
bimbingan, penyuluhan, pengawasan, dan perlindungan kepada individu,
keluarga, poksus dan masyarakat.
Bantuan yang diberikan untuk memecahkan masalah kesehatan yang
dihadapi yang diakibatkan oleh faktor ketidaktahuan, ketidakmampuan
dengan menggunakan metode proses keperawatan.
Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan oleh Puskesmas, ternyata
masih dijumpai kendala dalam melaksanakan program perawatan kesehatan
masyarakat antara lain disebabkan karena masih rendahnya pemahaman
konsep maupun pengelolaan berbagai tingkat administrasi Puskesmas
sebagai pengelola ke depan. Kendala lain yang dijumpai dalam
melaksanakan program perawatan kesehatan masyarakat diantaranya belum
dikenalnya program perawatan kesehatan masyarakat oleh para penanggung
jawab program-program terkait. Untuk mengatasi masalah diatas telah
ditentukan langkah-langkah pengembangan program yang terpadu dengan
program lain-lain yang terkait.
2. Tujuan
a. Tujuan umum
Meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi perawatan
kesehatan untuk mencapai derajat masyarakat yang optimal.

b. Tujuan khusus

8
1) Dipahaminya pengertian sehat sakit oleh masyarakat
2) Meningkatkan pengalaman indvidu, keluarga dan kelompok khusus
masyarakat untuk melaksanakan perawatan dasar dalam mengatasi
masalah perawatan.
3) Terlayaninya kelompok khusus yang membutuhkan pembinaan dan
pelayanan kesehatan.
4) Terlayaninya kasus-kasus resiko tinggi yang memerlukan perawatan
di Puskesmas dan dirumah
c. Langkah-langkah
Langkah-langkah dalam Puskesmas adalah sebagai berikut ;
a) Mengaji masalah kesehatan individu, keluarga dan masyarakat
b) Perencanaan pemecahan masalah
Tahap ini akan menajawab pertanyaan rencana tindakan apa yang
akan dilaksanakan. Kegiatan yang dilaksanakan adalah
- Menentukan prioritas masalah
- Menetapkan tujuan pelayanan keperawatan termasuk tolak
ukurnya
- Menetapkan rencana tindakan perawatan yang dilaksanakan
c) Pelaksanaan
Tahap ini akan menjawab pertanyaan bagaimana tindakan perawatan
yang disusun dapat dilaksanakan dengan tepat memperhatikan etika
perawatan disusun dapat dilaksanakan dengan tepat memperhatikan
etika perawatan keterlibatan sasaran dalam pelaksanaan serta batas
waktu yang telah ditetapkan
d) Penilaian
Tahap ini menjawab pertanyaan sejauh mana masalah yang dihadapi
telah berhasil dihadapi. Kegiatan yang talah dilaksanakan
membandingkan hasil pelayanan perawatan yang telah tercapai
dengan tujuan yang ditetapkan.

9
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DI DESA KIRIG
DUKUH KRAPYA KECAMATAN MEJOBO KABUPATEN
KUDUS

Pada bab in akan diuraikan laporan kegiatan PKL PKDM 2006 dalam bentuk
asuhan keperawatan komunikasi yang dilaksanakan mahasiswa Akper “Krida
Husada” Kudus mulai tanggal 27 maret 2006.

A. Pengkajian
Dalam pengkajian kami menggunakan konsep keperawatan Betty
Newman mulai pengkajian mepliputi pelayanan kesehatan sosial dan keamanan
serta transportasi, eonomi, bijaksanaan pemerintahan komunitas, pendidikan
dan revolusi.
1. Pelayanan kesehatan sosial
a. Fasilitas kesehatan
- Puskesmas Kirig
Terletak didesa Kirig Kecamatan Mejobo Pustu (Puskesmas
Pembantu) terletak didukuh Krapyak.
- Pos pelayanan terpadu
Terdapat pada tiap RW yaitu : Rw I, Rw II, Rw III, Rw IV, dukuh
Krapyak
b. Pelayanan atau kegiatan sosial
Fasilitas sosial kemasyarakatan yang ada meliputi kegiatan PKK,
keiatan remaja masjid, kegiatan Yasinan tiap hari Jum’at dan kegiatan
badminton, tenes meja.
c. Sumber daya
- Petugas kesehatan
Terdapat 1 bidan didukuh Krapyak yang bertempat tinggal di Pustu
dan terdapat 2 dukuh terlatih didesa Kirig.
- Sistem pencatatan
Sistem pencatatan Puskesmas dan Posyandu

10
d. Kegiatan PKL
- Pencatatan imunisasi bayi dan balita 100 % (14) atau kurang target
yang ditentukan proporsi imunisasi pada sasaran di desa Kirig yang
lengkap 71,9 % (10) sedang yang tidak lengkap 21,4 % (3) dan tidak
diimunisasi sebanyak 7,2 % (1)
- Pencatatan ibu hamil
Pencapaian imunisasi 5 pada ibu hamil di desa Kirig yaitu 3 (60 %)
- Pencapaian ibu meneteki
 Proporsi ibu meneteki di desa Kirig sebesar 85,3 % (35)
 Alasan ibu tidak meneteki berfariasi : di desa kirig alasan
terbanyak adalah ibu sibuk bekerja sebesar 33,4 % (2), asi tidak
keluar 66,6 % (4), paila mamae masuk ke dalam (-), bila
meneteki sakit / ibu menderita (-), lain-lain (-).
 Berdasarkan usia anak yang disusui proporsi ibu bervariasi. Di
desa Kirig ibu meneteki anaknya pada usia 0-4 bulan sebesar
11,9 % (4), 4 bulan – 1 tahun sebesar 22,8 % (8), usia 1 – 2
tahun 62,8 % (22)sedangkan usia lebih dari 2 tahun 2,8 % (10
- Penanggulangan masalah kesehatan bayi dan balita yaitu Puskesmas
dan Posyandu di desa kirig di Puskesmas 47,7 % (52) posyandu
21,12 % (23) rumah sakit (-), bidan 25,6 % (28), dokter 3,6 % (4),
dan lain-lain 1,8 (2).
- Status gizi balita
Proporsi staus gizi balita ada pada garis hijau 35,7 % (39), garis
kuning 10,1 % (11), garis merah 0,9 % (1) dan lain-lain 53,2 % (58).
- Proporsi balita yang berkunjung ke Posyandu 109, rata-rata yang
berkunjung ke Posyandu 70,6 % (77), sedangkan yang tidak
berkunjung ke Posyandu sebesar 29,9 (32).
- Proporsi balita yang ditimbang di Posyandu 88,3 % (68) dan yang
tidak menimbang sebanyak 11,7 % (9)
- Alasan balita tidak menimbang ke Posyandu bervariasi yang
terbanyak adalah : kurang informasi 22,2 % (2), malu 22,2 (2), tidak
tahu 22,2 % (2), jauh 11,2 % (1) lain-lain 22,2 (2).
- Balita yang tidak ditimbang, di desa Kirig sebanya 11, 78 % (9)
- Jumlah pus yang hamil 7,1 % (14) sedang yang tidak hamil 92,9 %
(184), umumnya PUS yang menjadi akseptor KB sebanyak 62,6 %

11
(124) drop out KB sebanyak 21,7 % (43) tidak ikut KB 15,6 % (31).
Alasan PUS tidak ikut KB di desa Kirig pada umumnya takut
akibatnya (-), dilarang agama (-), dilarang suami 3,2 % (1) ingin
punya anak 58,1 % (18), lain-lain 38,7 % (12). Proporsi alasan
akseptor droup out KB disebabkan alasan ingin punya anak 16,3 %
(7), dilarang suami (-), takut akibatnya 2,3 % (1), tidak cocok 20,9 %
(9), lain-lain sebesar 60,9 % (26). Proporsi jenis ini pemakaian alat
kontrasepsi kondom tidak ada, IUD 2,4 % (3), kontap 3,2 % (4),
norplant / susuk 4,8 % (6), dan lain-lain tidak ada.
- Proporsi usia kehamilan
Di desa Kirig proporsi PUS berdasarkan pemeriksaan kehamilan
trisemester I frekuensi 1 kali (-), 2 kali (-), 3 kali (-), 4 kai 100 %
(-), blum pernah (-). Proporsi kehamilan tersemester II berdasarkan
frekeunsi, pemeriksaan 1 kali sebanyak 50 % (3), tersemester II
sebanyak 2 kali pemeriksaan dan 3 kali pemeriksaan (-)
- Proporsi persalinan berdasarkan jenis / kategori tenaga penolong. Di
desa Kirig yang ditolong oleh bidan sebesar 78,5 % (1), dukuh
terlatih 7,2 % (1) sedangkan yang ditolong oleh dokter 7,2 % (2)
lain-lain juga 7,2 % (1).
- Kesehatan lansia (semua orang tidak mempunyai KMS)
Di desa kirig lansia memanfaatkan sarana kesehatan sebanyak 52,8
% (47), sedangkan yang tidak memanfaatkan 47,1 % (42). Penyakit
yang banyak diderita lansia didesa Kirig antara lain DM tidak ada,
Dimensia Senilis 2,4 % (2), hipertensi 28,3 % (23), katarak 1,2 %
(1), rheumatik 67,9 % (55) lain-lain (-)
- Kesehatan keluarga
Dalam penanggulangan masalah kesehatan keluarga telah
memanfaatkan Puskesmas sebesar 42,9 (125), rumah sakit 1% (3),
dokter praktek 7,5 % (22) bidan 16,8 % (49), perawat 21,6 % (63),
diobati sendiri 99,9 (29), Posyandu (-) sedangkan kedukun (-)
- Penyakit terbanyak yang diderita masyarakat adalah hipertensi,
diare, TBC, asthma, ISPA, kulit, gastritis, kecelakaan, hipotensi,
katarak, rheumatik, gondok, demam, malaria, cacat tubuh, disentri,
kusta. Dalam waktu 1 tahun terakhir kamatian penduduk sebanyak 7
orang.

12
2. Keselamatan / keamanan dan transportasi
a. Pelayanan perlindungan
Kantor polisi sektor di desa Mejobo Kecamatan Mejobo
b. Sanitasi lingukungan
- Proporsi perumahan penduduk berdasarkan keadaan ventilasi baik
sebsar 2,5 % (65), cukup 60,7 % (155), kurang 13,8 % (35)
- Proporsi perumahan penduduk berdasarkan sumber penerangan
mayoritas menggunakan listrik yaitu sebesar 100 % (255) rumah
- Proporsi perumahan penduduk berdasarkan lantai rumag sebagian
besar ubin yaitu 54,9 % (140), plester 38 % (97), papan tidak ada,
sedangkan yang masih tanah sebesar 7,1 % (18) rumah
- Proporsi perumahan penduduk berdasarkan pemilikan sendiri yaitu
100 % (255)
- Proporsi perumahan penduduk berdasarkan jenis atap, sebagian
besar beratap genting yaitu 100 % (255)
- Proporsi perumahan penduduk berdasarkan sumber ai minum
mayoritas menggunakan sumur gali 99,6 % (290) popa air 0,4 % (1)
- Proporsi perumahan penduduk berdasarkan penyimpanan air
sebagian mayoritas menggunakan bak terbuka 61,8 % (180)
- Proporsi perumahan penduduk berdasarkan tempat penampungan air
seluruhnya dikuras kadang-kadang yaitu 60,4 % (176), tidak pernah
dilakukan 13,4 (39), setiap 3 – 7 hari 26,26 % (76)
- Proporsi pembuangan tinja berdasarkan jenis sebagian besar
penduduk memiliku WC septitank 87,6 % (255), sungai / empang
8,2 (24) jomblang 4,2 % (12)
- Proporsi pembuangan tinja berdasarkan kepemilikan dan sebagian
besar penduduk memiliki WC pribadi yaitu 80,1 % (236) WC
kelompok 19,9 % (55)
- Proporsi pembuangan tinja berdasarkan lokasi, didesa Kirig sebagian
besar didalam rumah sebanyak 73,2 % (213), diluar rumah 16,8 %
(78)
- Prporsi pembuangan limbah keluarga berdasarkan jenis pengelolaan
sebagian besar dibuang digot / selokan 32,9 % (96), sungai 42,9 %
(125) dibuang sembarangan 12,1 % 935), penampungan 12,1 % (35)

13
- Proporsi pembuangan limbah berdasarkan saluran terbuka lancar
49,1 (143), tergenang 23,8 % (69), saluran tertutup lancar 25,4 %
(74), tergenang 1,7 % (5)
- Proporsi pengolahan sampah keluarga sebagian besar dibakar 59,6 %
9147) dibuang sembarangan 49,4 % (144)
3. Politik dan pemerintahan
Desa dipimpin oleh seorang Kepala Desa yang sudah 6 tahun memegang
pemerintahan desa. Keputusan desa menggunakan musyawarah mufakat
desa antar perangkat dan LKMD atau Lembaga Ketahanan Masyarakat
Desa.
Aspirasi masyarakat mengenai musyawarah desa disalurkan melalui LKMD,
sedangkan aspirasi politik disalurkan melalui oranisasi politik.
Kebijaksanaan pemerintahan dalam usaha kesehatan, umpamanya
dilaksanakan oleh Puskesmas melalui kegiatan pokoknya.
Selain itu terdapat pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh masyarakat
dan dibina oleh Puskesma dan dibantu oleh institusi lain seperti BKKBN
yait Posyandu. Terdapat 4 posyandu yang dilaksanakan setiap 1 bulan sekali
di masing-masing RW yaitu RW I, RW II, RW III dan RW IV.
4. Komunikasi
Jenis komunikasi yang ada yaitu radio, TV, surak kabar dan juga majalah,
bahasa pergaulan yang dipergunakan bahasa Jawa.
5. Kesenian
Jenis reaksi atau kesenian yang ada adalah seni rebana, pemandangan alam
sawah yang indah dan alami.
6. Lingkungan fisik
a. Geografis
Batas desa Kirig
Utara : Mejobo
Selatan : Undaan
Barat : Payaman
Timur : Termulus
Luas wilayah desa Kirig
Jumlah dusun : 2 dusun (dusun krapyak dan dusun jangkrik)
Jumlah RT/RW : 6/I

14
b. Sarana ibadah
Mushola : 5 buah
Masjid : 1 buah
c. Sarana sosial budaya
Tempat balai desa di dusun Krapyak
Gedung pertemuan di balai desa
d. Sarana olah raga yang ada
Lapangan tenes meja, badminton
7. Ekonomi
a. Sumber penghasilan sebagianbesar penduduk desa kirig bekerja sebagai
petani
b. Tingkat sosial ekonomi
Sebagian besar penduduk Kirig berpenghasilan lebih dari Rp. 150.000,-
(72,2 % (374), dan yang berpenghasilan antara Rp. 100.000,- s/d Rp.
150.000,- adalah 26,4 % 9137) sedangkan yang berpenghasilan kurang
dari Rp. 100.000,- sebanyak 1,35 % (7)
c. Sarana ekonomi
Didesa Kirig terdapat pasar
8. Pendidikan
a. Tingkat pendidikan
Tingakt pendidikan terbanyak adalah SD yaitu sebesar 31 % (348) dan
yang tidak sekolah 13,6 (153) yang lulus perguruan tainggi 1,4 % (16)
b. Sarana pendidikan
Jumlah MI : -
Jumlah SD : 1
Jumlah SMU/Ma : -

B. Analisa Data / Diagnosa Perawatan


Dalam kegiatan ini akan dijelaskan analisa data dan perumusan diagnosa
perawatan
1. Kesehatan lingkungan
a. Analisa data
Data pendataan yang telah dilakukan terhadap kesehatan lingkungan
didapatkan data sebagai berikut :

15
1) Perumahan penduduk
Kondisi perumahan penduduk berdasarkan keadaan pencahayaan
yang sudah baik yaitu 26,3 % (67) dari 291 jumlah KK, sedangkan
yang cukup pencahayaan adalah 62,8 % (160), kurang 10,9 % (28)
2) Kondisi kandang
Warga desa yang memiliki kandang sekitar 29 KK (291) dari jumlah
KK yang ada, dengan letak kandang yang menempel dengan rumah
58,62 % (17) dan yang berada di dalam rumah 13, 79 % (4)
sedangkan yang berada diluar rumah sebesar 27,58 % (8)
3) Limbah dan sampah
Limbah dibuang disembarangan tempat 58,62 % dan ditimbun 24,13
% (7) digunakan kembali 17,24 (5)
4) Status imunisasi
Dari jumlah balita yang sudh lengkap imunisasinya sejumlah 72,6 %
(69) dari jumlah KK yang ada, sedangkan yang tidak lengkap 18,9 %
(18) dan yang tidak di imunisasi 8,5 % (8)
5) Porporsi lansia berdasar kepemilikan KMS
Dari jumlah lansia kesemuanya belum mempunyai KMS yaitu
sejumlah 100 % (84) lansia
b. Insiden penyakit
Angka kejadian penyakit satu tahun terakhir yang ada kaitannya dengan
kesehatan lingkungan adalah angka kejadian penyakit hipertensi 39,6 %
(46), penyakit diare 20,6 % (24), TBC 56,8 % (8), asthma 0,8 % (1),
ISPA 0,8 % (1), penyakit kulit 3,4 $ (4), gastiris 2,5 % (3) DHF 1,6 %
(2) hipotensi 3,4 % (4), katarak 0,8 (1), rheumatik 3,4 (4), gondok 0,8 %
(1), demam 0,8 % (1), DM 5 % (6), syaraf 2,5 % (3), hemoroid 1,6 %
(2), hernia 0,8 % (1), stroke 1,6 % 92),batuk biasa (0,8 % (1)
Dari permasalahan kesehatan diatas dapat disimpulkan diagnosa
keperawatan :
Resiko terjangkitnya penyakit yang dapat ditularkan oleh vektor didesa
Kirig sehubungan engan status kesehatan yang kurang memenuhi syarat
kesehatan.

16
2. Kesehatan lansia
a. Analisa data
Dari pendataan yang telah dilakukan terhadap lansia didaptkan data
fokus sebagai berikut :
Jumlah lansia 84 orang, beum ada pembinaan rutin dari Puskesmas
karena belum ada kelompok lansia semuanya belum mempunyai KMS,
sedangkanyang sudah memanfaatkan sarana kesehatan sebesar 84 dan
yang tidak memanfaatkan sarana kesehatan sebanyak 0 orang dan
terdapat 50 orang mempunyai masalah kesehatan.
b. Diagnosa keperawatan
Resiko tinggi makin meningkatnya masalah kesehatan pada lansia
sampai adanya fasilitas pelayanan kesehatan lansia dan kurangnya
pengetahuan lansia tentang pentingnya pemantauan kesehatan.

C. Prioritas Masalah
Dari hasil skoring siatas (dalam lampiran), maka urutan prioritas
masalah adalah sebagai barikut :
1. Resiko terjadinya penyakit menular disebabkan vektor didesa Kirig
sehubungan dengan kesehatan lingkungan yang kurang memenuhi syarat
kesehatan
2. Resiko makin meningkatnya masalah ksehatan pada lanjut usia sehubungan
dengan pemanfaatan fasilitas kesehatan dan kuranynya pengetahuan lansia
tentang pemantauan kesehatan.

D. Rencana Perawatan
1. Kesehatan lingkungan
a. Diagnosa keperawatan
Terjadinya resiko tinggi terjangkit penyakit yang dapat ditularkan oleh
vektor di desa Kirig sehubungan dengan status kesehatan lingkungan
yang kurang memenuhi syarat kesehatan
b. Rencana intervensi
1) Adakan pendekatan dan pertemuan dengan tokoh masyarakat atau
lapisan masyarakat untuk menginformasikan temuan masalah dalam
desa tersebut
2) Rencanakan pertemuan dengan masyarakat desa untuk memberikan
penyuluhan

17
3) Berikan penyuluhan tentang sanitasi lingkungan yang sehat,
kebiasaan BAB yang sehat perilaku yang sesuai dengan norma
kesehatan dan kebiasaan menggunakan air yang sehat pula
4) Buatlah kesepakatan yang baik untuk menciptakan lingkungan yang
bersih dan sehat
5) Rencanakan pembentukan tempat sampah percontohan
6) Lakukan kebersihan lingkungan untuk memberantas sarang
nyamuk, dengan kerja bakti 3M (mengubur, menguras, menutup)
c. Standart evaluasi
1) Perilaku membuang sampah berubah menajdi baik dengan
tersedianya bak sampah di tiap Rt dan adanya TPA dari 19,4 %
menjadi 70 %.
2) Kesehatan masyarakat tentang pemberantasan sarang nyamuk
meningkat, masyarakat Kirig dapat melakukan apa saja yang
disuluhkan dan dipromotori oleh mahasiswa Akper “Krida Husada”
Kudus yaitu dengan mengadakan gerakan 3M, serta memberantas
tempat-tempat yang disukai oleh nyamuk di masing-masing KK
2. Kesehatan lansia
a. Diagnosa keperawatan
Makin meningkatnya resti lansia tentang masalah kesehatan sehubungan
dengan balum adanya fasilitas pelayanan kesehatan lansia dan
kurangnya pengetahuan lansia tentang pentingnya pemantauan
kesehatan.
b. Tujuan
1) Tujuan jangka panjang
Peningkatan masalah kesehatan lansia tidak terjadi diakhir tahun
2006 dan status kesehatan pada lansia dapat dipertahankan pada
kondisi kesehatan yang optimal.
2) Tujuan jangka pendek
Tanggal 28 Maret – 4 April 2006
- Semua lansia yang hadir dalam penyuluhan dapat memahami
upaya peningkatan kesehatan lansia
- Terbentuknya kelompok atau organisasi pada lansia
- Ada yang memiliki KMS

18
c. Rencana intervensi
1) Lakukan pendekatan pada tokoh tua masyarakat
2) Berikan penyuluhan pada lansia tentang masalah kesehatan yang
sering timbul pada lansia yang meliputi perubahan fisik pada lansia.
Penanggulangan sakit secara dini serta pencegahan datangnya
penyakit seperti olah raga yang teratur, makan-makanan yang
bergizi, mendekatkan diri pada yang Kuasa.
3) Berikan penjelasan tentang pentingnya memanfaatkan sarana
pelayanan kesehatan untuk meningkatkan edan menjaga kesehatan
4) Pembentukkan lansia dan kader-kadernya
5) Pengadaan KMS paa lansia
6) Lakukan pemeriksaan berkala pada lansia untuk mendeteksi
kemungkinan ada penyimpangan
7) Bersama kader lansia menyusun rencana program kegiatan poksila
8) Melimpahkan tugas pembinaan kelompok lansia kepada Puskesmas
setempat pada akhr PKL
9) Pembentukan dana sehat pada lansia standart eveluasi
d. Standart evaluasi
- Penyuluhan disetiap kelompok
- Terbentuknya poksila disetiap Rw didesa Kirig
- Pemilikan KMS 100 %

E. Implementasi
Dari rencana intervensi yang telah ditetapkan dilakukan perkumpulan
lansia ditingkat Rt dan diberikan penyuluhan Hipertensi.

F. Evaluasi
DP I : semua masyarakat baik tokoh maupun kadernya dapat menjelaskan
kembali tentang kriteria sanitasi lingkungan yang memenuhi syarat
kesehatan
1. Dibuktikannya dengan adanya pembuatan tempat sampah
permanen / percontohan di (dukuh Krapyak) dengan swadana
dari mahasiswa – mahasiswi Akper Krida Husada Kudus.
2. pengadaan kerja bakti disetiap dukuh
DP II : Lansia masih belum dapat memahami tentangpentingnya upaya
peningkatan kesehatan lanjut usia. Pemilikian KMS belum bisa
dilaksanakan dan masalah belum dapat teratasi.

19
BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam memberikan asuhankeperawatan dengan menggunakan pendekatan


model konseptual keperawatan menurut Betty Newman pada masyarakat desa kirig
hampir semua komponen dapat diskusi, hanya ada beberapa komponen mengalami
kesulitan dalam, diantaranya aspek-aspek ini dalaminti masyarakat yaitu :
1. Riwayat kesehatan, dikarenakan persepsi masyarakat tentang konsep kesehatan
(Sehat Sakit) berbeda-beda sebagian besar penduduk mengatakan sakit bila
keadaannya sudah tidak bisa melakukan aktvitas apapun, tetapi disi lain bila
keadaan demam, batuk, penduduk sudah mengatakan sakit, tapi kalau lihat dari
keadaan fisik dan keadaan lingkungannnya tidak memenuhi syarat kesehatan
2. Pendidikan masyarakat desa kirig yang mayoritas SMP dikarenakan sarana
pendidikan yang masih kurang memadai dan masih rendahnya kesadaran
masyarakat. Hal ini dapat mempengaruhi pengkajian yang dilaksanakan, dimana
timbal balik dan respon yang muncul kurang dari persepsi yang diinginkan.
Dari respon perawatan yang telah dikemukakan dalam BB III yang meliputi :
pengkajian, analisa data, perencanaan dan pelaksanaan perawatan serta evaluasi dari
asuhan keperawatan yang telah diberikan kepada masyarakat desa Kirig. Selanjtnya
dalam BAB ini akan dibahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses perawatan
tersebut.

A. Pengkajian
Geografi desa Kirig berbentuk dataran rendah dan jarak antar dukuh
cukup dekat dan jarak jangkauan pelayanan kesehatan juga cukup dekat dari
desa, masyarakat Kirig menggunakan tenaga Puskesmas dan tenaga bidan serta
mantri kesehatan sebagai tempat fasilitas kesehatan.
Adapun pelayanan kesehatanbayi, balita dan ibu hamil, di desa Kirig
terdapat pos pelayanan terpadu (Posyandu) sebagai salah satu kelompok
masyarakat dibidang KIA. Waktu kegiatan relatif cukup lama (satu bulan
sekali). Di desa Kirig khususnya dukuh Krapyak Posyandu dibagi menajadi 4
kelompok sehingga jaraknya mudah dijangkau masyarakat yang akan
meningkatkan kesadaran dalampemanfaatan Posyandu. Dalam halini posyandu

20
didesa Kirigberjalan dengan lancar karena kesadaran masyrakat yang peduli
dengan kesehatan keluarganya.
Di desa Kirig mata pencaharian masyarakatnya maoritas adalah sebagai
petani dengan penghasilan rata-rata diatas Rp. 150.000 perbulan dan ditinjau
dari angka ketergantungan didapatkan bahwa usia produktif yang mayoritas
telah bekerja 58,4 % (655). Hal ini sangat mempengaruhi kaitannya dengan
pengambilan keputusan dalam rangka meningkatkan status kesehatan.
Dikatakan bahwa status kesehatan selain dipengauhi oleh sistem pelayanan
kesehatan juga dipengaruhi oleh sistem pelayanan kesehatan juga dipengaruhi
oleh lingkungan. Lingkungan yang sehat akan mendukung perkembangan
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Di samping itu juga dipengaruhi
oleh karakteristik dan perilaku masyarakattentang kesehatan. Perilaku
masyarakat tentang kesehatan dan tercermin dalam sanitasi lingkungan
(kurangnya ventilasi dan pencahayaan yang belum memenuhi syarat kesehatan
msaih 13,8 % (35) juga didapatkan bahwa sebagian besar penduduk Kirig masih
belum memiliki sampah, pengolahan limbah (aliran limbah cair dan limbah
padat). Masih adanya saluran limbah yang tergenang dan sampah yang dibuang
di sembarang tempat dan di sungai. Semua hal tersebut di atas dipengaruhi oleh
tingkat pendidikan masyarakat yang mayoritasnya hanya berpendidikan SD,
sehingga mengakibatkan munculnya beberapa penyakit seperti diare, penyakit
kulit dan typoid.
Jika ditijau dari segi kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas
menunjukkan bahwa status gizi balita kurang labih 35,7 % telah menunjukkan
diatas garis merah. Hal ini menunjukkan masyarakat sadar akan status gizi
balita tinggi. Oleh karena itu perlu diaktifkan, dan dilakukan pembinaan serta
pembentukan kelompok lansia.
Dari data-data tersebut diatas menunjukkan adanya status kesehatan
masyarakat yang belum seluruhnya mempengaruhi / memenuhi syarat
kesehatan. Hal ini mempengaruhi keperawatan sebagai bagian dari sistem
pelayanan kesehatan yang merupakan perpaduan dari praktek keperawatan dan
praktek kesehatan masyarakat dalam rangka peningkatan dan memelihara
kesehatan sehingga dapat dirumuskan diagnosa keperawatan komunitas Muke
1984 adalah sebagai berikut :
- Resiko terjangkitnya penyakit menular yang disebabkan oleh vektor di desa
Kirig sehubungan dengan kesehatan lingkungan kurang memenuhi syarat
kesehatan

21
- Resiko tinggi meningkatnya masalah kesehatan lansia sehubungan kurangnya
pengetahuan lansia tentang pentingnya pemantauan kesehatan.

B. Prioritas Masalah
Untuk menentukan prioritas masalah, digunakan metode skoring yang
mencakup beberapa aspek antara lain :
1. Kesehatan program CHN (Community Healty Nursing) masalah-masalah
yang ada di masyarakat disesuaikan kompetensinya dengan program yang
ada di dalam CHN
2. Resiko terjadi
Apabila temuan masalah di masyarakat tidak diatasi maka kekhawatiran
akan terjadi masalah-masalah yang aktual yang dapat mengganggu status
kesehatan masyarakat
3. Resiko parah
Menyangkut akibat yang akan terjadi bila masalah tidak terajadi
4. Potensial untuk Health Education
Temuan masalah yang ada dimasyarakat dipertibangkan altenatif
pemecahannya, apakah dapat diatasi melalui pendidikan kesehatan
5. Keinginan atau kerkaitan masyarakat untuk menyelesaikan masalah yang
dihadapi
6. Kesesuaian dengan program pemerintah
Temuan masalah yang ada di masyarakat dikaitkan dengan program
pemerintah terutama dalam bidang pembangunan kesehatan
7. Kemungkinan diatasi
Faktor kesulitan dari masalah untuk diatasi
8. Tersedianya sumber
- Tempat : Adanya ruang atau lahan
- Waktu : Tersedianya waktu dari masyarakat untuk mengatasi
masalah
- Dana : Adanya sumber dari mahasiswa yang dapat dimanfaatkan
untuk mengatasi masalah
- Fasilitas : Mencakup tersedianya fasilitas-fasilitas kesehatan sebagai
sarana untuk membantu masyarakat mengatasi masalah
- Petugas : Tersedianya petugas kesehatan sebagai sumber bagi
masyarakat dalam mengenali dan mengatasi masalah

22
C. Rencana Keperawatan
Dalam rencana keperawatan terdiri dari 3 tahap yaitu : menentukan
masalah, merumuskan tujuan jangka panjang dan jangka pendek yang akan
dicapai dan tahap yang terakhir adalah penyusunan rencana perawatan yang
akan dilakukan
- Menentukan priritas masalah
- Menentukan tujuan
Tujuan difokuskan untuk membantu meningkatkan program kesehatan
yang disesuaikan dengan komunitas penduduk tersebut engan menggunakan
metode yang dapat diterima sesuai norma budayanya dan diterapkan sesuai
lokasi-lokasi dan biaya dan terjangkau oleh mereka (Elizabeth T. Abderson dan
Judith M. Mc farline 1998)
Pada DP I dan II mempunyai tujuan jangka panjang dengan kriteria
waktu sampai akhir tahun 2006. Hal ini karena mengacu pada program Survey
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) ke 9 berakhir pada tahun 2006 diharapkan
pada akhir bulan Desember 2006 program SKRT dapat dicapai.
Tercapainya jangka pendek pada DP I dapat terlihat adanya pemahaman
masyarakat tentang kesehatan sanitasi lingkungan yang sehat dan perilaku
hidup sehat serta rencana pembuatan tempat sampah percontohan yang
memenuhi syarat kesehatan.
Tercapainya tujuan jangka pendek dari DP II dapat terlihat adanya
pemahaman dari lansia terhadap upaya kesehatan lansia dan kemudian akan
terbukti dengan adanya kelompok lansia di desa tersebut, untuk mewujudkan
tujuan tersebut, dibuat rencana penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan
dan pemahaman lansia terhadap kesehatannya, dan diharapkan dari pihak
Puskesmas akan segera mengadakan pembentukan kelompok lansia dan
diharapkan adanya tindak lanjut dari Puskesmas untuk memantau status lansia
yang tercakup dalam kelompok tersebut secara rutin.

D. Implementasi
Berdasarkan dari hasil pengkajian yang telah dilakukan maka dapat
diambil suatu tindakan keperawatan. Adapun tindakan keperawatan yang telah
dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Kesehatan lingkungan

23
Pada tanggal 3 Februari 2006 pkl 06.30 WIB dilaksanakan kerja bakti
bersama anatar warga masyarakat dan mahasiswa Akper Krida Husada
Kudus di dukuh Krapyak. Adapun faktor yang mendukung mengenai
masalah ini adalah meningkatnya kesadaran dalam berpartisipasi terhadap
kebersihan lingkungan dan perilaku hidup sehat serta adanya dukungan dari
tokoh masyarakat setempat
Peran serta masyarakat dalam implementasi bagi kami sangat berguna sekali
karena kegiatan ini berguna untuk merubah lingkungan menjadi sehat.
b. Kesehatan lansia
Hambatan berupa belum adanya kepemilikan KMS lansia dikarenakan
program lansia diPuskesmas wilayah tersebut belum ada, hal ini yang kan
mengakibatkan menurunnya kesadaran lansia untuk memanfaatkan fasilitas
pelayanan kesehatanyang ada.
Selain itu juga kami melaksanakan penyuluhan kesehatan dalam rangka
meningkatkan kesehatan masyarakat dukuh Krapayak yaitu :
- Tanggal 31 Maret 2006 :
 Acara : penyuluhan higen sanitasi
 Sasara : Bapak per 26 kumpulan
 Pelaksana : Mahasiswa Pos I
- Tanggal 01 April 2006 : UKS di SD Kirig
 Acara : Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut
 Pelaksana : Machmudah dan dibantu mahasiswa yang
lain
- Tanggal 02 April 2006 : Jam’iyyah tahlil ibu-ibu pkl. 18.30 WIB
 Acara : Penyuluhan tentang Hipotensi
 Pelaksana : - Rini widiastuti dan semua mahaiswa Pos I
- Deris pitap
- Tanggal 04 April 2006 : Perkumpulan lansia pkl. 19.30 WIB
 Acara : Penyuluhan tentang pentingnya upaya
kesehatan lansia
 Pelaksana : - Machmudah dan semua mahasiswa Akper
Pos I
- Rini Widiastuti
- Tanggal 07 April 2006 : Posyandu (dukuh Krapyak) pkl. 15.00
WIB

24
 Acara : Penyuluhan kesehatan ibu dan anak
 Pelaksana : - Dwi Sutariani semua mahasiswa Akper
Pos I
- Tanggal 7 April 2005 : Posyandu (dukuh Krapyak) pkl 15.00 WIB
 Acara : Penyuluhan tentang Imunisasi
 Pelaksana : - Seluruh mahasisa Pos I
- Dwi Sutariani - Trimartini
- Eko Juni H - Rini Widiastuti
- Eka Mila S. R - Deris Pita P
- Machmudah - Siti Khalimah
- Tri Martini
- Tanggal 6 April 2005 :
 Acara : Penyuluhan tentnag DB (demam berdarah)
di SD MI Suriyawiyah
 Pelaksana : - Siti Khalimah - Musyafaan
- Yulis S. - Dwi Suntariani
- Tanggal April 2005 : UKS (di SD ), pkl 09.30 WIB
 Acara : Penyuluhan tentang pentingnya mengosok
gigi
Penyuluhan tentang demam berdarah
 Pelaksana :
- Tanggal 2 April 2005 : Jam’iyyah tahlil putra, pkl. 19.30 WIB
 Acara : Penyuluhan tentang TBC
 Pelaksana :
- Tanggal 5 April 2005 : Jam’iyyah tahlil putri (ibu-ibu), pkl 18.30
 Acara : Penyuluhan tentang ISPA
 Pelaksana :
- Tanggal 2005 : Yasinan remaja putra putri, pkl 19.30
 Acara : Penyuluhan tentang anemia
 Pelaksana :

25
Acara Bersih Desa :
Hari / Tanggal Jam Tempat
1. Minggu 06.00 WIB Dukuh
20-3-2005
2. Selasa 06.00 WIB Dukuh
22-3-2005
3. Jum’at 06.00 WIB Dukuh
25-3-2005
4. Minggu 06.00 WIB Dukuh
27-3-2005

26
BAB IV
PENUTUP

D. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil pendataan dan MMD (Musyawarah Mufakat Desa),
ditemukan dan disepakati 2 masalah yang ada di esa Kirig yaitu
a. Kesehatan lingkungan
b. Kesehatan lansia
2. Dalam mengatasi masalah kesehatan tersebut digunakan strategi komunitas
yaitu melalui penyuluhan-penyuluhan kesehatan, tindakan preventif dan
peran serta masyarakat
3. Kendala-kendala yang dihadapi di dalam memecahkan masalah kesehatan
diatas adalah :
a. Keterbatasan jumlah tenaga kesehatan
b. Tingkat pendidikan masyarakat yang rendah
c. Keadaan ekonomi rata-rata dari penduduk masih kurang
Sedang faktor yang mendukung pemecahan masalah kesehata diatas yaitu :
peran serta masyarakat yang tinggi (tenaga dan semangat) yang dibuktikan
dalam MMD dan kerjabakti
4. Pencapaian hasil kegiatan berupa adanya perubahan perilaku masyarakat
dalam bidang kesehatan yang diikuti dengan tempat sampah percontohan,
tong-tong sampah yang dibagikan tiap Rt, yang semuanya itu diharapkan
akan menjadikan masyarakat mencontoh perilaku kesehatan yang telah
diajarkanoleh mahasiswa

B. Rekomendasi
1. Kesehatan lingkungan
Pada masalah kesehatan lingkungan menurut masalah keperawatan resiko
tingi terjangkitnya penyakit yang disebabkan oleh vektor sehubungan
edngan sanitasi lingkungan yang kurang memenuhi syarat kesehatan.
Untuk mengantisipasi terjangkitnya penyakit yang disebabkan oleh vemtor
di desa Kirig, maka dilakukan kegiatan yang berupa penyuluhan sanitasi
lingkungan pembuatan tempat sampah, pemberantasan sarang nyamuk.
Dalam melaksanakan kegiatan tersebut kami menggunakan strategi :

27
a. Promosi kesehatan
Dilakukan untuk meningkatkan kegiatan dan pengetahuan masyarakat,
akan arti pentingnya tempat sampah, kebesihan lingkungan,
pembuangan sampah yang benar, pemberantasan sarang nyamuk, dalam
hal ini dilakukan oleh penyuluh kesehatan tentang penyakit yang
dikeluarkan oleh vektor, pengolahan sampah
b. Peran serta masyarakat
Peran serta masyarakat sangat dominan dalam implementasi sumber
daya yang ada dalam masyarakat dikeluarkan untuk melaksanakan
kegiatan. Misalnya dalam kerja bakti membersihkan lingkungan.
2. Kesehatan lansia
Dalam kesehatan lansia muncul masalah kesehatan dalam keperawatan
resiko tinggi makin meningkatnya masalah kesehatan pada lansia
sehubungan dengan kurangnya pemanfaatan fasilitas kesehatan dan
kurangnya pengetahuan lansia tentang pentingnya pemantauan kesehatan.
Untuk mencegah terjadinya peningkatan masalah kesehatan pada lansia di
desa Kirig, kami sudah melaksanakan tindakan program lansia sudah ada
persetujuan dari pihak Puskesmas setempat maupun dari DKK.

C. Kesehatan KIA
Dalam meningkatkan kesehatan balita diadakan kegiatan Posyandu dengan
memberikan makanan tambahan dan ditemukan anak dengan status buruk dan
telah diberikan makanan tambahan dari puskesmas.

28
DAFTAR PUSTAKA

Wendy Burgers, MS, RN, C. 1983 Community Health Nursing Philosophy, Proces
Precetice, Appleton, Century Corfts / Norwarlk, Conneticut.

Nasrul Fendy, Drs. 1995 Perawatan Kesehatan Masyarakat. Penerbit Buku


Kedokteran. EGC. Jakarta

29