Você está na página 1de 16

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU REPRODUKSI TERNAK


ACARA I
ANATOMI ORGAN REPRODUKSI JANTAN

Disusun oleh :

Amaylia Almas

16/399085/PT/07203

Kelompok XXXIX

Asisten: Mutiara Nabila G.A.H.S

LABORATORIUM FISIOLOGI DAN REPRODUKSI TERNAK


DEPARTEMEN PEMULIAAN DAN REPRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
ANATOMI ORGAN REPRODUKSI JANTAN

Tinjauan Pustaka
Reproduksi adalah suatu kemewahan fungsi tubuh yang seara
fisiologik tidak vital bagi kehidupan individual tetapi sangat penting bagi
kelanjutan keturunan suatu jenis atau bangsa hewan. Pada umumnya
reproduksi baru dapat berlangsung sesudah hewan mencapai masa
pubertas dan diatur oleh kelenjar-kelenjar endokri dan hormon-hormon
yang dihasilkannya Yusuf (2012) menyatakan bahwa sistem reproduksi
jantan terdiri dari organ kelamin primer, sekunder dan assesori. Organ
kelamin primer adalah testis yang belokasi di dalam skrotum yang
menggantung secara eksternal di daerah inguinal. Organ kelamin
sekunder terdiri dari jaringan-jaringan duktus sebagai transportasi
spermatozoa dari testis ke bagian luar, dan termasuk didalamnya duktus
efferent, epididimis, vasa differentia, penis dan uretra. Sedangkan organ
asesori terdiri dari kelenjar prostat, seminal vesicles dan kelenjar bulbo-
urethral (Cowper’s).
Testis
Testis terdiri dari banyak tubulus tubulus seminiferus yang dikelilingi
oleh kapsul berserabut atau trabekula melintas dari tunika albugenia untuk
membentuk kerangka atau stroma. Masing masing testis terdiri dari
banyak tubulus seminferosa yang di kelilingi oleh kapsul bereserabut atau
trabekula. Trabekula bergabung dengan bergabung membentuk korda
fibrosa, yaitu mediastinum testis Sel leydig menghasilkan hormon kelamin
jantan testosteron yang terdapat didalam jaringan pengikat diantara
tubulus seminferus (Frandson et al, 2009).
Feradis (2010) menyatakan bahwa suhu testis antara 5 atau 6
derajat celcius di bawah suhu tubuh. Dalam hal ini terdapat mekanisme
yang berbeda yang bekerja secara terpisah sehingga pengaturan suhu
tersebut dapat berhasil. Otot cremaster pada suhu dingin akan menarik
scrotum sehingga mendekati tubuh, sehingga suhu testis dapat
dipertahankan hangat. Otot tersebut pada suhu dingin akan mengendor
dan testis turun menjauhi tubuh, sehingga memungkinkan pelepasan
panas hingga suhu testis menjadi lebih dingin. Otot yang lain yaitu tunika
dartos yang mengelilingi kulit scrotum dapat mengekerut atau
mengendorkan permukaan scrotum dan hal ini akan memperluas
permukaan scrotum sehingga mempengaruhi kecepatan hilangnya panas.
Epidydymis
Epididymis merupakan saluran spermatozoa yang panjang dan
berbelit, terbagi atas caput, corpus, dan cauda epididymis, melekat erat
pada testis dan dipisahkan oleh tunika albugenia. Organ tersebut
berperan penting pada proses absorpsi cairan yang berasal dari tubulus
seminiferus testis, pematangan, penyimpanan dan penyaluran
spermatozoa ke ductus deferens sebelum bergabung dengan plasma
semen dan diejakulasikan ke dalam saluran reproduksi betina (Wahyuni,
2012). Feradis (2010) menambahkan epididimis mempunyai empat fungsi
utama, yaitu pengangkutan atau transportasi, konsentrasi atau
pengentalan, maturasi dan penyimpanan spermatozoa.
Ductus Deferens
Ductus deferens adalah sepasang saluran dari ujung distal cauda
masing-masing epididymis yang ujungnya didukung oleh lipatan
peritoneum, melewati sepanjang corda spermatika, melalui canalis
inguinalis ke daerah panggul. Ujung ductus deferens yang membesar
dekat urethra adalah ampulla. Ductus deferens memiliki lapisan tebal otot
polos di dinding dan tampaknya memiliki fungsi tunggal transportasi
spermatozoa (Yusuf, 2012).
Urethra
Feradis (2010) mengatakan bahwa panjang dari urethra adalah 15
sampai 20 cm. Urethra. Urethra merupakan saluran ekskretoris bersama
urin dan semen, urethra membentang dari daerah pelvis ke penis dan
berakhir pada ujung glasn sebagai orificium urethra externa. Urethra dapat
dibedakan menjadi 3 bagian yaitu bagian pelvis, bulbourethralis, dan
bagian penis.
Kelenjar Tambahan
Kelenjar vesicularis. Feradis (2010) menyatakan bahwa kelenjar
vesikularis disebut vesikula seminalis karena disangka sebagai reservoir
semen. Sekresi kelenjar vesikularis merupakan cairan keruh lengket yang
mengandung protein, kalium, asam sitrat, fruktosa dan beberapa enzim
yang konsentrasinya tinggi, kadang berwarna kuning karena mengandung
flavin. Saluran ini bermuara di dalam urethra.
Kelenjar prostat. Feradis (2010) menyatakan bahwa kelenjar
prostata pada domba mengelilingi urethra dan terdiri dari dua bagian yaitu
badan prostata (corpus prostatae) dan prostata disseminata atau prostata
yang cryptik (pars disseminata prostatae). Sekresi kedua bagian ini
berjalan melalui saluran kecil dan banyak yang bermuara ke dalam urethra
pada beberapa deretan. Widayati (2008) menambahkan sekresinya
banyak mengandung ion anorganik (Na, Cl, Ca, Mg). Domba
menyekresikannya sangat encer dan mempunyai pH yang basa antara
7,5 sampai 8, 2.
Kelenjar cowperi. Widayati (2008) menyatakan bahwa pada sapi,
kelenjar cowper memiliki panjang 2,5 cm dan lebar 1 cm. Kelenjar cowperi
terdapat sepasang berbentuk bundar, kompak, berselubung tebal dan
pada sapi terlihat lebih kecil dari pada kelenjar cowper kuda. Kelenjar
bulbourethralis terletak diatas urethra dekat jalan keluarnya dari cavum
pelvis. Saluran saluran sekretoris dari setiap kelenjar bergabung
membentuk satu saluran ekskretoris kelenjar cowper mempunyai muara
kecil terpisah di tepi lipatan mucosa urethra (Feradis, 2010)
Penis
Penis merupakan alat untuk melakukan kopulasi. Penis berbentuk
silinder pipa panjang sifatnya menegang karena memiliki jaringan yang
dapat diisi oleh darah dengan tekanan yang tinggi sewaktu birahi (Yulianto
dan saparinto, 2014). Penis mempunyai fungsi menyemprotkan sperma
kedalam alat reproduksi betina dan juga sebagai tempat lewatnya urin.
Penis dapat melakukan aktivitas memanjang dan memendek dengan
dilengkapi muskulus retractor penis yang dapat merelaks dan mengkerut
dan corpus cavernosum penis yaitu oto yang dapat menegangkan penis.
Praeputium
Frandson (2009) menyatakan bahwa praeputium adalah lipatan
kulit disekitar gland penis. Permukaan luar merupakan kulit yang agak
khas sementara lapisan dalamnya menyerupai membran mukosa yang
terdiri dari lapisan preputial dan lapisan penis yang menutup permukaan
ekskremitias bebas dari penis. Praeputium babi mempunyai divertikulum
disebelah dorsal dari orifisium prepeutial (Frandson, 2009)
Materi dan Metode

Materi
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum acara anatomi organ
reproduksi jantan adalah pita ukur.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum acara anatomi
organ reproduksi jantan adalah preparat anatomi organ reproduksi domba
jantan berumur 1,5 tahun dengan berat badan 26 kg.
Metode
Metode yang digunakan pada praktikum anatomi organ reproduksi
jantan adaah pengamatan organ reproduksi domba jantan. Preparat
tersebut dibedakan bagian-bagiannya dan diketahui fungsi-fungsi
bagiannya. Masing-masing organ diukur dan ditimbang dan hasil
pengukuran dicatat.
Hasil dan Pembahasan
Sistem reproduksi jantan terdiri dari organ kelamin primer, sekunder
dan assesori. Organ kelamin primer adalah testis yang belokasi di dalam
skrotum yang menggantung secara eksternal di daerah inguinal. Organ
kelamin sekunder terdiri dari jaringan-jaringan duktus sebagai transportasi
spermatozoa dari testis ke bagian luar, dan termasuk didalamnya duktus
efferent, epididimis, vasa differentia, penis dan uretra. Sedangkan organ
asesori terdiri dari kelenjar prostat, seminal vesicles dan kelenjar bulbo-
urethral (Cowper’s). Hasil pengukuran organ reproduksi jantan domba
umur 2,5 tahun dengan bobot badan 35 kg yang dilakukan pada saat
praktikum disajikan pada tabel berikut:
Tabel 1. Hasil pengukuran organ reproduksi jantan

Panjang Lebar Tinggi Keliling


Nama organ
(cm) (cm) (cm) (cm)
Testis 7 4,5 - 13,5
Epidydymis 15 - - -
Ductus deferens 20 - - -
Ampulla ductus
4 0,6 - -
deferens
Kelenjar vesicularis 2,3 1,3 2,4 -
Kelenjar prostate - - - -
Kelenjar cowperi - - - -
Penis 4,5 - - -
Testis
Berdasarkan hasil pengukuran didapatkan panjang testis yaitu 7
cm , lebar testis 4,5 cm dan keliling testis 13,5 cm. Feradis (2010)
menyatakan bahwa pada domba jantan testes berbentuk oval memanjang
dan terletak dengan sumbu panjangnya vertikal di dalam scrotum,
panjangnya mencapai 8 sampai 10 cm, diameter 2 sampai 4 cm, dan
keliling 14 cm. Berat dan ukuran testis dipengaruhi oleh faktor umur, berat
badan, dan bangsa ternak. Berdasarkan literatur dan pengukuran saat
praktikum dapat disimpulkan bahwa ukuran testis normal dan sesuai
dengan literatur.
Berdasarkan pengamatan pada praktikum dijelaskan bahwa fungsi
testis untuk menghasilkan sperma dan menghasilkan hormone androgen
serta hormone testosteron. Terdapat penggantung testis yang dinamakan
fundiculus spermaticus. Ismudiono dkk (2009) menyatakan bahwa testes
terbungkus dalam kantong skrotum. Testes terdiri dari kelenjar-kelenjar
yang berbentuk tubulus, dibungkus oleh selaput tebal yang disebut tunika
albuginea. Tempat penggantung testis dinamakan fundiculus spermaticus.
Testes dapat menggantung di dalam skrotum secara bebas dengan
bantuan korda spermatika yang di dalamnya mengandung duktus
deferens, pembuluh daah, syaraf serta pembuluh limfe.
Testis dibungkus oleh beberapa lapisan yaitu skrotum adalah
lapisan paling luar, tunika dartos, tunika vaginalis propia dan tunika
albuginea. Berdasarkan praktikum scrotum berfungsi sebagai penyokong
dan pelindung testes juga mengatur temperature testis dan epididymis
supaya tetap pada temperature 4˚C - 7˚C lebih rendah dari temperatur
tubuh. Ismudiono dkk (2009) menyatakan bahwa skrtoum adalah kantong
testes. Adanya lapisan-lapisan pada skrotum mempunyai fugsi ganda
yaitu selain sebagai peredam kejut apabila ada benturan fisik, juga
sebagai pelindung terhadap temperature lingkungan. Fungsi pengaturan
suhu ini dikerjakan oleh dua otot yaitu musculus cremaster eksternus dan
inernus, serta tunika dartos. Tunika vaginalis propia berfungsi sebagai aat
transportasi sel spermatozoa dari tubulus seminiferous ke epididymis
dengan jalan kontraksi. Tunika Albuginea merupakan kapsul berwarna
putih mengkilat yang mengandung syaraf dan pembuluh darah yang
berkelok-kelok.
Cryptorchid berdasarkan praktikum adalah kelainan pada testis
yang tidak turun. Abney and Keel (2000) menyatakan bahwa turunnya
testis ke dalam rongga scrotum (descensus testiculorum) dimulai dari
berpindanya dari rongga abdomen ke cincin inguinalis interna melalui
canalis inguinalis masuk ke scrotum. Pada kejadian cryptorchid satu atau
kedua testes gagal turun dari rongga abdomen ke scrotum. Turunnya
testes ini akibat dari membesarnya dan regresi dari gubernaculum testis
(ligamentum yang membentang dari daerah inguinalis dan terpaut pada
kauda epididimis). Prosesnya dimulai dari memendeknya gubernaculum
dari ujung kauda testes ke cincin canalis inguinalis externa. Akibatnya
testes tertarik ke canalis inguinalis dan masuk ke scrotum. Abnormal dari
perkembangan gubernaculum testes menyebabkan cryptorchid.
Kastrasi artinya menghentikan aktivitas testis, menyebabkan
kelenjar aksesoris mundur aktivitasnya, sifat khas jantan berangsur hilang
dan kegiatan spermatogenesis berhenti hormon gonadotropin akan
terakumulasi pada pars distalis hipofisa akibatnya sel basofil mengalami
perubahan identitasnya selanjutnya dikenal dengan castration cell
(Sirubang dan Qomariyah, 2010). Kastrasi dimaksudkan untuk mencegah
hewan-hewan dengan kualitas genetik yang rendah untuk bereproduksi.
Hal tersebut penting dalam meningkatkan semua banga ternak. Kastrasi
pada mulanya secara efektif meningkatkan kualitas individu-individu
hewan yang digunakan untuk dipotong dengan menghambat tanda-tanda
kelainan sekunder yang tidak diinginkan dan membuat hewan menjadi
jinak (Frandson et al., 2009).

Rete testis

mediastenum testis

Gambar 1. Anatomi testis


Epidydymis

Epididymis berupa suatu pembuluh yang timbul dari bagian dorsal


testis. Pembuluh tersebut berfungsi untuk menimbun spermatozoa.
(Yulianto dan Saparinto, 2014). Berdasarkan hasil pengamatan yang telah
dilakukan panjang epididymis adalah 15 cm. Widyawati et al. (2008)
menyatakan bahwa panjang epididymis apa bila direntangkan adalah 36
cm.
Ismudiono et al. (2009) menambahkan epididymis merupakan
saluran reproduksi jantan yang tediri dari tiga bagian yaitu caput
epididymis, corpus epididymis dan cauda epididymis. Caput epididymis
merupakan muara dari sejumlah duktus deferens dan terletak pada bagian
ujung dari testes. Corpus epididymis merupakan saluran kelanjutan dari
caput yang berada di luar testes, sedangkan cauda epididymis merupakan
kelanjutan dari corpus yang terletak pada bagian ujung bawah testes.
Epididimis. Epididimis memiliki 4 fungsi utama yaitu transportasi,
konsentrasi, pendewasaan dan penyimpanan spermatozoa.

Caput

Corpus

Cauda

Gambar 2. Anatomi epididimis


Ductus deferens
Duktus deferens merupakan saluran yang menghubungkan cauda
epididymis dengan urethra. Hasil pengukuran pada panjang organ ductus
deferens diperoleh data sepanjang 20 cm dan untuk pengukuran ampulla
ductus deferens diperoleh data panjang 4 cm dan lebar 0,6 cm. Feradis
(2010) menyatakan bahwa panjang ductus deferens adalah 50 cm
sedangkan panjang ampullae ductus deferens berkisar antara 10 sampai
14 cm dengan lebar diameter 1 sampai 1,5 cm. Hasil yang diperoleh pada
pengukuran ductus deferens saat praktikum di bawah kisaran normal.
Feradis (2010) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhinya ialah
umur ternak, bangsa ternak, dan berat ternak.
Vasektomi adalah proses penghilangan kemampuan fertilitasnya
dengan cara pembedahan atau pemotongan vas deferens sehingga
spermatozoa tidak dapat melanjutkan perjalananya ke urethra.
Keuntungan dari vasektomi adalah berguna untuk menentukan estrus
pada kambing betina, menggertak estrus pada domba betina pada waktu
laktasi atau pada saat musim kawin (Feradis, 2010).

Gambar 3. Ductus Deferens

Urethra
Urethra adalah saluran ekskretoris bersama untuk urine dan
semen. Urethra membentang dari daerah pelvis ke penis dan berakhir
pada ujung glans sebagai orificium urethrae eksterna. Urethra dibedakan
atas tiga bagian yaitu bagian pelvis, merupakan saluran silindrik dengan
panjang 15-20 cm diselubungi oleh otot urethra yang kuat dan terletak pad
lantai pelvis. Bulbus Urethrae adalah bagian melengkung seputar arcus
ischiadicus dan bagian penis (Ismudiono et al., 2009).
Kelenjar tambahan
Kelenjar vesicularis. Hasil pengukuran pada pengamatan adalah
panjang kelenjar vesikularis 2,3 cm, lebar 1,3 cm dan tinggi 2,4 cm.
Ismudiono et al. (2009) menyatakan bahwa kelenjar vesikularis pada tiap
spesies berbeda. Pada sapi berukuran 10-15 cm dan diameter 2-4 cm.
Kelenjar ini terdapat sepasang, mengapit kedua ampula. Lumen kelenjar
ini bermuara ke dalam urethra. Sekresi kelenjar ini merupakan cairan
keruh dan lengket mengandung protein, kalium, asam sitrat, fruktosa dan
beberapa enzim dalam konsetrasi tinggi.

Gambar 4. Kelenjar
vesikularis

Kelenjar prostat. Saat praktikum kelenjar prostat berfungsi


menghasilkan cairan yang encer mengandung ion anorganik (Na, Cl, Ca,
Mg) dengan pH lebih besar dari 7,2 sampai 8,2. Ismudiono et al. (2009)
menyatakan bahwa kelenjar prostata merupakan kelenjar yang berfungsi
menghasilkan cairan bermineral tinggi. Kelenjar prostat dilapisi oleh
dinding yang mngandung sel sekresi berjajar sederhana. Kelenjar prostat
sapi terdiri dari dua bagian yaitu corpus prostatae dan pars disseminata
prostatae. Sekresi kedua bagian ini berjalan melalui saluran kecil dan
banyak yang bermuara kedalam urethra pada beberapa deretan.
Kelenjar cowperi. Kelenjar cowperi tidak diukur karena bagian
tersebut telah di potong sehingga tidak nampak. Widyawati (2008)
menyatakan bahwa pada sapi, kelenjar cowper memiliki panjang 2,5 cm
dan lebar 1 cm. Frandson et al. (2003) cit. Jalaluddin (2014) menyatakan
bahwa faktor yang mempengaruhi ukuran alat reproduksi adalah spesies,
umur, dan tingkat gizi pakan. Kelenjar cowperi terdapat sepasang
berbentuk bundar, kompak, berselubung tebal dan pada sapi terlihat lebih
kecil dari pada kelenjar cowperi kuda. Kelenjar cowperi terletak diatas
urethra dekat jalan keluarnya dari cavum pelvis. Saluran saluran sekretoris
dari setiap kelenjar bergabung membentuk satu saluran ekskretoris
kelenjar cowper mempunyai muara kecil terpisah di tepi lipatan mucosa
urethra (Feradis, 2010)
Penis
Setelah dilakukan pengukuran pada penis domba didapatkan
panjang dari penis domba yaitu 4,5 cm. Ismudiono et al. (2009)
menyatakan bahwa pada domba, penis berukuran 5-7,5 cm dengan
flexura sigmoid yang berkembang baik, diameter relative kecil yaitu 1,5-2
cm. Pada glans penis terdapat penonjolan filiformis sepanjang 4-5 cm
disebut proscesus urethrae yang mengandung bagian terminal urethra.
Terdapat dua tipe penis, yaitu tipe fibro elastis yang terdapat pada hewan
sapi, kerbau, kaming, domba, dan babi. Pada penis tipe ini selalu dalam
keadaan agak kaku dan kenyal walaupun dalam keadaan tidak aktif. Dan
penis tipe vaskuler, yang terdapat pada hewan kuda, gajah dan primate.
Pada penis tipe ini banyak mengandung seabut-serabuut otot dan tidak
mempunyai flexura sigmoidea.
Widayati (2008), menambahkan bahwa penis dapat membentang
ke depan dari arcus ischiadicus pelvis sampai ke daerah umbilikus pada
dinding ventral perut. Penis ditunjang oleh fascia dan kulit. Umumnya
penis tetap tinggal didalam praeputium sewaktu hewan membuang urine.
Tetapi pada waktu kawin penis harus dapat berereksi dan penis harus
dapat keluar dari praeputium agar semennya dapat disemprotkan tepat
kedalam vagina dan cervix.
Gambar 5. Penis
Praeputium
Praeputium adalah lipatan kult disekitar gland penis. Permukaan
luar merupakan kuit yang agak khas sementara lapisan dalamnya
menyerupai membran mukosa yang terdiri dari lapisan preputial dam
lepisan penis yang menutup permukaan ekskremitias bebas dari penis.
Preputim babi mempunyai divertikulum disebelah dorsal dari orifisium
prepeutial (Frandson, 2009).
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang dilakukan dapat diketahui bagian-
bagian anatomi organ reproduksi jantan yaitu testis, epididymis, ductus
deferens, urethra, dan kelenjar tambahan (kelenjar vesikularis, kelenjar
prostate, dan kelenjar cowperi). Hasil pengamatan yang sesuai dengan
literature adalah organ testis, epididimis, urethra dan kelenjar tambahan.
Sedangkan ductus deferens dan penis dibawah rata-rata dari literature.
Ukuran masing-masing organ reproduksi pada tiap individu berbeda-beda,
hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu umur, bangsa, genetik dan
berat badan.
Daftar Pustaka

Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Alfabeta. Bandung.


Frandson, R.D dan Wilke L. W. 2009. Anatomy and Physiology of Farm
Animals. Willey-Blackwell Publishing. United Kingdom
Ismudiono, P. Srianto, H. Anwar, S. P. Madyawati, A. Samik, dan E.
Safitri. 2009. Buku Ajar Fisiologi Reproduksi Pada Ternak.
Airlangga University Press. Surabaya
Jalaluddin, M. 2014. Morfometri dan karakteristik histologi ovarium sapi
aceh (Bos indicus) selama siklus estrus. Jurnal Medika Veterinaria
Sirubang M, Qomariyah N. 2010.Kajian pengaruh kastrasi terhadap tingkat
kandungan kolesterol daging kambing merica di kabupaten
jeneponto provinsi Sulawesi selatan. Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian. Sulawesi Selatan
Widayati, D. T., Kustono., Ismaya., Sigit Bintara. 2008. Bahan Ajar Mata
Kuliah Ilmu Reproduksi Ternak. Laboratorium Fisiologi dan
Reproduksi Ternak Bagian Reproduksi Ternak Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.
Yulianto. P., Saparinto C. 2014. Beternak Sapi Limousin. Penebar
Swadaya. Semarang
Yusuf, Muhammad. 2012. Buku Ajar Ilmu Reproduksi Ternak. Lembaga
Kajian dan Pengembangan Pendidikan Universitas Hasanuddin.
Makassar.