Você está na página 1de 7

Stunting Bisa Dicegah, Catatan Hari

Gizi Nasional Tahun 2018

njilala

Menurut saya pernyataan di atas kurang tepat, keliru malah, bagi saya peringatan Hari Gizi merupakan
momentum yang sangat baik untuk menyampaikan pesan kepada seluruh lapisan masyarakat bahwa saat
ini Negara kita masih memiliki pekerjaan rumah yang sangat besar yaitu persoalan gizi masyarakatnya.

Menurut salah seorang Senior di Penggiat Gizi, beliau berkomentar bahwa “…Presiden memperkuat
infrastruktur tapi SDMnya memble. Gara-gara kurang gizi (masyarakat) jadi cuek dan gak mampu berpikir
cerdas…” pernyataan ini sangat menohok karena pembangunan infrastruktur harusnya sejalan dengan
pembangunan SDM dan faktor gizi wajib hadir di dalam pengambungan SDM.

Tema Hari Gizi Nasional Tahun 2018


Hari Gizi Nasional (HGN) Tahun 2018 ini masih mengangkat tema besar yang sama dengan tema tahun
lalu tetapi sub temanya berubah.

Tema HGN 2017-2019 yaitu : Bersama membangun gizi menuju Bangsa sehat berprestasi

Sub Tema HGN 2018 : ialah Mewujudkan Kemandirian Keluarga dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan
(HPK) untuk Pencegahan Stunting.

Slogan HGN 2018 : Bersama Keluarga Kita Jaga 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)

Gambaran Stunting di Indonesia


Dalam buku Ringkasan 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting)
diungkapkan bahwa Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi
kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan
dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2
tahun.

Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan (PB/U)
atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre
Growth Reference Study) 2006. Sedangkan definisi stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes)
adalah anak balita dengan nilai z-scorenya kurang dari -2.00 SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari
– 3.00 SD (severely stunted).

Peta di atas menunjukkan bawah selama tiga tahun terakhir warna merah dan kuning mendominasi
proporsi stunting di Indonesia, dengan kata lain proporsi stunting di Indonesia masih berkisar 20-39%.

Mari kita lihat sejenak wilayah barat Indonesia, Daerah Istimewa Aceh sempat mengalami perbaikan di
tahun 2016 akan tetapi kembali menjadi merah pada tahun 2017. Demikian halnya dengan Sumatera
Selatan pada Tahun 2016 berwarna Hijau akan tetapi kembali kuning pada tahun 2017.

Sumatera Utara mengalami progres yang baik, dari Merah pada tahun 2015 menjadi kuning hingga tahun
2017, justeru terjadi sebailknya di Sumatera Barat, dua tahun berturut-turut berwarna kuning dan berubah
menjadi hitam pada tahun 2017. Bengkulu dan Bangka Belitung juga mengalami hal yang sama, dari hijau
menjadi kuning, kemudian Lampung dari Kuning menjadi Merah.

Provinsi yang ada di Pulau Jawa tidak mengalami perubahan warna selama tiga tahun terakhir. Begitu pula
dengan Kalimantan barat dan Kalimantan tengah tetap konsisten dengan warnah merahnya, yang menarik
adalam Provinsi Bali, terjadi peningkatan yang cukup baik di Provinsi Tersebut dari dua tahun berturut
turut berwarna kuning berubah menjadi Hijau di tahun 2017.

Kondisi yang sama juga terjadi di Indonesia Bagian Tengah, Kalimantan Timur mengalami peningkatan
masalah, dari kuning (2015 & 2016) menjadi merah (2017). Di Pulau Sulawesi yang menarik adalah
Sulawesi Barat, dari Kuning (2015) menjadi hitam di tahun 2016 dan 2017. Sedangkan di Sulawesi Utara,
pada tahun 2015 proporsinya cukup baik (kuning) akan tetapi dua tahun terakhir berubah menjadi merah.

Provinsi Papua dan Papua barat mengalami peningkatan masalah di tahun 2017, sedangkan di Maluku
mengalami perbaikan, dari Merah di tahun 2015 berubah menjadi Kuning di tahun 2016 dan 2017.

Salah satu fakta yang menarik dari peta di atas ialah, kegiatan inovasi apa yang telah dilakukan oleh
Pemerintah Provinsi Bali sehingga mampu menurunkan masalah stunting dengan sangat baik, dari 21% di
tahun 2015 menjadi 20% di tahun 2016 dan menjadi 19% di tahun 2017.

Penyebab Stunting
Balita Kerdil atau Stunting tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil
maupun anak balita, akan tetapi disebabkan oleh multi dimensi secara umum beberapa penyebab stunting
ialah Praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan
gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan. Masih terbatasnya layanan kesehatan
termasuk layanan ANC-Ante Natal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan) Post
Natal Care dan pembelajaran dini yang berkualitas. Masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke
makanan bergizi. Hal ini dikarenakan harga makanan bergizi di Indonesia masih tergolong mahal serta
kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.

Pada 2010, gerakan global yang dikenal dengan Scaling-Up Nutrition (SUN) diluncurkan dengan prinsip
dasar bahwa semua penduduk berhak untuk memperoleh akses ke makanan yang cukup dan bergizi.
Kerangka Intervensi Stunting Di
Indonesia

Pemerintah Indonesia pada tahun 2012 bergabung dalam gerakan global yang dikenal dengan Scaling-Up
Nutrition (SUN) dengan prinsip dasar bahwa semua penduduk berhak untuk memperoleh akses ke
makanan yang cukup dan bergizi. Kerangka Intervensi Stunting yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia
terbagi menjadi dua, yaitu Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif.

Kerangka pertama adalah Intervensi Gizi Spesifik. Kerangka Ini merupakan intervensi yang ditujukan
kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan berkontribusi pada 30% penurunan stunting,
umumnya dilakukan pada sektor kesehatan. Intervensi ini juga bersifat jangka pendek. Sasaran intervensi
dimulai dari masa kehamilan ibu hingga melahirkan balita.

Kerangka kedua adalah Intervensi Gizi Sensitif. Kerangka ini idealnya dilakukan melalui berbagai
kegiatan pembangunan diluar sektor kesehatan dan berkontribusi pada 70% penurunan Stunting. Sasaran
dari intervensi gizi spesifik adalah masyarakat secara umum dan tidak khusus ibu hamil dan balita pada
1.000 Hari Pertama Kehidupan/HPK. Kegiatan terkait Intervensi Gizi Sensitif dapat dilaksanakan melalui
beberapa kegiatan yang umumnya makro dan dilakukan secara lintas Kementerian dan Lembaga. Ada 12
kegiatan yang dapat berkontribusi pada penurunan stunting melalui Intervensi Gizi Spesifik sebagai
berikut :

1. Menyediakan dan memastikan akses terhadap air bersih.


2. Menyediakan dan memastikan akses terhadap sanitasi.
3. Melakukan fortifikasi bahan pangan.
4. Menyediakan akses kepada layanan kesehatan dan Keluarga Berencana (KB).
5. Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
6. Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal).
7. Memberikan pendidikan pengasuhan pada orang tua.
8. Memberikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universal.
9. Memberikan pendidikan gizi masyarakat.
10. Memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi, serta gizi pada remaja.
11. Menyediakan bantuan dan jaminan sosial bagi keluarga miskin.
12. Meningkatkan ketahanan pangan dan gizi.

Kedua kerangka Intervensi Stunting diatas sudah direncanakan dan dilaksanakan oleh Pemerintah
Indonesia sebagai bagian dari upaya nasional untuk mencegah dan mengurangi pervalensi stunting.

Stunting bukan tidak mungkin dicegah atau bahkan dikoreksi yang dibutuhkan ialah penguatan kerjasama
antara program dan lintas sektor karena masalah stunting adalah masalah SDM Bangsa Indonesia yang
akan datang.

Sumber :

Ringkasan 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). 2017. Tim Nasional
Percepatan Penaggulangan Kemiskinan

Pentingnya gizi dalam kehidupan bangsa Indonesia, sudah dirintis oleh


almarhum Prof. Poorwo Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia, sejak awal
kemerdekaan tahun 1950. Saat itu beliau diangkat oleh Menteri Kesehatan,
almarhum dokter J Leimena, untuk mengepalai Lembaga Makanan Rakyat
(LMR). Waktu itu lebih dikenal sebagai Instituut voor Volksvoeding (IVV) yang
merupakan bagian dari Lembaga Penelitian Kesehatan yang dikenal sebagai
Lembaga Eijckman.

Hari Gizi Nasional pertama kali diadakan oleh LMR pada pertengahan tahun
1960-an, dan dilanjutkan oleh Direktorat Gizi pada tahun 1970-an hingga
sekarang. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperingati dimulainya
pengkaderan tenaga gizi Indonesia dengan berdirinya Sekolah Juru Penerang
Makanan tanggal 26 Januari 1951. Sejak saat itu pendidikan tenaga gizi terus
berkembang pesat di banyak perguruan tinggi di Indonesia. Di kemudian hari
disepakati bahwa hari gizi nasional ditetapkan menjadi tanggal 25 Januari.

Oleh Admin Kalbe Medical pada January 25, 2018 07:30


Hari Gizi Nasional 2018: Mewujudkan Kemandirian
Keluarga dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)
untuk Pencegahan Stunting

Hari Gizi Nasional (HGN) tahun 2018 yang diperingati setiap tanggal 25 Januari ini masih
mengangkat tema besar yang sama dengan tema tahun lalu, yaitu “Bersama Membangun Gizi
Menuju Bangsa Sehat Berprestasi” dengan sub-temanya adalah “Mewujudkan Kemandirian Keluarga
dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk Pencegahan Stunting”.

Gizi merupakan salah satu komponen penting yang harus dipenuhi suatu bangsa untuk mewujudkan
masyarakat yang sehat, terutama pada periode 1000 hari pertama kehidupan. Stunting adalah
kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak terlalu
pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal
setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun.

Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan
(PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS
(multicentre growth reference study) 2006. Sedangkan definisi stunting menurut Kementerian
Kesehatan (Kemenkes) adalah anak balita dengan nilai z-scorenya kurang dari -2.00 SD/standar
deviasi (stunted) dan kurang dari – 3.00 SD (severely stunted).

Stunting menjadi ancaman besar bagi negara, karena stunting pada anak balita dapat mengganggu
perkembangan otak (kognitif). Hal ini akan menurunkan prestasi anak dalam pendidikan yang pada
akhirnya akan berdampak menurunnya kualitas SDM bangsa Indonesia. Dengan adanya momentum
Hari Gizi Nasional (HGN) ke-58 ini, kita dapat bersama-sama melakukan langkah strategis
memperbaiki status gizi masyarakat dengan menurunkan stunting, sebagai investasi bangsa untuk
menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi di dunia global.

Stunting tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil ataupun anak
balita, akan tetapi disebabkan oleh beberapa hal seperti praktik pengasuhan yang kurang baik,
termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa
kehamilan, serta setelah ibu melahirkan, masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan
ANC/Ante Natal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan), post natal care, dan
pembelajaran dini yang berkualitas, serta masih kurangnya akses keluarga ke makanan bergizi. Hal
ini dikarenakan harga makanan bergizi di Indonesia masih tergolong mahal serta kurangnya akses ke
air bersih dan sanitasi.

Pemerintah Indonesia pada tahun 2012 bergabung dalam gerakan global yang dikenal dengan
scaling-up nutrition (SUN) dengan prinsip dasar bahwa semua penduduk berhak untuk memperoleh
akses ke makanan yang cukup dan bergizi. Kerangka intervensi stunting yang dilakukan oleh
Pemerintah Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu intervensi gizi spesifik yang ditujukan kepada anak
dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan berkontribusi pada 30% penurunan stunting
(sasaran dimulai dari masa kehamilan ibu, melahirkan, hingga balita) dan intervensi gizi sensitif yang
dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan dan berkontribusi pada
70% penurunan stunting (sasaran dari intervensi gizi spesifik adalah masyarakat secara umum).

Kedua kerangka intervensi stunting tersebut sudah direncanakan dan dilaksanakan oleh Pemerintah
Indonesia sebagai bagian dari upaya nasional untuk mencegah dan mengurangi prevalensi stunting.
Stunting bukan tidak mungkin dicegah atau bahkan dikoreksi, yang dibutuhkan ialah penguatan
kerjasama antara program dan lintas sektor, karena masalah stunting adalah masalah SDM Bangsa
Indonesia yang akan datang.(Red.)