Você está na página 1de 46

Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V

Medical education Unit 2018-2019

DAFTAR ISI

1. Tehnik Anamnesa Neurologi ……………………………….. 2

2. Tehnik Pemeriksaan Nervus Cranialis ………………………………..8

3. Tehnik Pemeriksaan Motorik dan

Refleks Fisiologis ………………………………..25

4. Tehnik Pemeriksaan Sensorik dan

Refleks Patologis ………………………………..32

5. Pemeriksaan Tingkat Kesadaran GCS dan

Rangsang Meningeal ………………………………..

37

6. Anamnesis Psikiatri dan Pemeriksaan Status Mental dan

Psikoterapi Suportif …………………………………

43

7. Penulisan Resep (Farmasi) pada Anak ………………………………… 45

TA. 2018-2019 1
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

1DAFTAR TILIK ANAMNESIS NEUROLOGI


No PROSEDUR
INTRODUCTION
1. Menyapa pasien, memperkenalkan diri, dan membina sambung rasa dengan pasien
Menanyakan identitas pasien :
 Umur
 Alamat
2.
 Pekerjaan
 Status Pernikahan
 Pendidikan terakhir
ANAMNESIS
Menanyakan keluhan utama pasien/ Chief complaint
Gejala penyakit neurologic yang paling sering ditemukan adalah sebagai berikut :

 Sakit kepala  Kegagalan otak


 Hilang kesadaran  Cerebro-vascular accidents (stroke)
3.
 Pusing  Gangguan gaya berjalan
 Ataksia  Tremor
 Perubahan kesadaran  “mati rasa”
 Gangguan penglihatan  “kelemahan”
 Disfasia  Nyeri.
4. Menanyakan riwayat penyakit sekarang (RPS) :
a. Lokasi
Misalnya : bagian kepala mana yang sakit?
b. Kualitas
Misalnya : Sakit kepalanya terasa seperti apa?
c. Kuantitas atau keparahan
Misalnya : Berapa sering terjadinya sakit kepala ini?

TA. 2018-2019 2
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

b. Waktu, meliputi awitan, durasi dan frekuensi


Misalnya : Apakah ada perubahan dalam pola atau beratnya sakit kepala?
Kapan seringnya berulangnya (kekambuhan) sakit kepala?
c. Situasi ketika masalah terjadi
Misalnya : Apakah ada tanda-tanda peringatan sebelum timbulnya sakit kepala
ini? c.
Ketika anda mengalami sakit kepala apakah disertai gejala-gejala
lainnya?
d. Faktor-faktor yang
d. memperburuk atau mengurangi gejala
Misalnya : Apakah ada hal-hal yang memperberat sakit kepala ini?
Apa yang membuat sakit kepala ini membaik?
e. Manifestasi yange.berkaitan
Misalnya : Kalau anda menderita sakit kepala, apakah anda mengalami gejala-gejala
lainnya?
5. Menanyakan Riwayat kesehatan masa lalu
6. Menanyakan Riwayat Keluarga
7. Menanyakan Riwayat pribadi dan sosial
8. Menanyakan Tinjauan System yang berkaitan
9. Membuat rangkuman anamnesis pasien
10. Melakukan cross check
Mengakhiri anamnesis dengan mengatakan bahwa proses anamnesis telah selesai dan
11.
pemeriksaan akan dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik

TA. 2018-2019 3
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

Daftar Tilik : ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK PADA ANAK

ANAMNESIS
PEMBUKAAN
Menyapa pasien dan orang tua pasien, pemeriksa memperkenalkan diri.
Menanyakan identitas pasien:
 Nama
 Umur
1.
 Jenis kelamin
 Nama orangtua
 Alamat
 Umur, pendidikan dan pekerjaan orang tua
 Agama dan suku bangsa
PENGGALIAN INFORMASI PENYAKIT / RIWAYAT PENYAKIT
2. Menanyakan keluhan utama
Menanyakan Riwayat penyakit sekarang
 kronologis
3.  pengobatan sebelumnya
 perkembangan penyakit
 apakah ada yang berpenyakit sama di rumah atau di lingkungan sekitar
Menganamnesa keluhan-keluhan yang sering terjadi
 Demam
4.  Batuk
 Mencret
 Kejang
 Muntah
5. Menanyakan penyakit-penyakit yang pernah diderita
6. Menanyakan riwayat kehamilan ibu
7. Menanyakan riwayat kelahiran anak
8. Menanyakan riwayat makanan
Menanyakan riwayat perkembangan
9.
Umur berapa tengkurap, duduk, berdiri, berjalan, berbicara
10. Menanyakan riwayat penyakit keluarga

TA. 2018-2019 4
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

PENUTUP
Menyimpulkan anamnesa
11. Mengakhiri anamnesa dengan mengatakan bahwa anamnesa telah selesai dan akan
dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik
PEMERIKSAAN FISIK
PERSIAPAN
Pasien disiapkan berbaring senyaman mungkin selama proses pemeriksaan.

1. Membersihkan alat dan tangan pemeriksa

Jelaskan secara singkat dan jelas kepada pasien tentang proses pemeriksaan,

bahwa pemeriksaan ini tidak berbahaya atau menyakitkan.
PEMERIKSAAN
Keadaan umum

2.  Menyebutkan kesan keadaan sakit, apakah sakit ringan, sedang atau berat.
 Menilai tingkat kesadaran pasien
 Menyebutkan kesan status gizi pasien
Tanda vital
 Menilai laju, irama, kualitas dan ekualitas nadi.
3.  Memeriksa tekanan darah
 Menilai laju napas.
 Mengukur suhu tubuh (aksila, rectal dan oral serta tau perbedaan derajatnya).
Pengukuran antropometrik
 Mengukur berat badan
 Mengukur tinggi badan
4.  Mengukur lingkaran kepala
 Mengukur lingkaran dada
 Mengukur lingkaran lengan atas
 Mengukur tebal lipatan kulit
5. Kulit
Menilai keadaan dan kelainan kulit
Rambut
6.
Menilai warna, kelebatan dan distribusi rambut.
Kelenjar Getah Bening
7.
Memeriksa KGB oksipital, retroaurikular servikal anterior dan inguinal.
Kepala

8.  Menilai bentuk dan ukuran kepala, kontrol kepala dan kelainan-kelainan.


 Memeriksa ubun-ubun
 Memeriksa wajah,simetris atau tidak, adakah kelainan.

TA. 2018-2019 5
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

Mata

9.  Memeriksa ketajaman penglihatan secara kasar


 Memeriksa palpebra, kconjugtiva, sklera,kornea, pupil, lensa, dan kedudukan bola
mata.
Telinga
10.  Memeriksa ketajaman pendengaran
 Memeriksa telinga luar, tengah dan mastoid.
Hidung
 apakah ada napas cuping hidung
11.  Bentuk hidung
 Mukosa : infeksi vs allergi
 Adakah epistaksis
Mulut

12.  Adakah kelainan seperti labioschizis, bercak koplik, coated tongue .


 Berapa gigi yang sudah tumbuh atau pertumbuhan gigi sudah sampai tahap mana.
 Memeriksa dinding posterior faring dan tonsil
Leher

13.  Mengukur tekanan vena jugularis


 Melakukan pemeriksaan kelenjar thyroid
 Memeriksa adakah kelainan.
Dada
f. Menilai bentuk dada dan pergerakannya
g. Memeriksa paru
 Inspeksi
 Palpasi
14.  Perkusi
 Auskultasi
h. Melakukan pemerikasaan jantung
 inspeksi
 Palpasi
 Perkusi
 Auskultasi
Abdomen
Inspeksi
 Menilai ukuran dan bentuk perut, dinding perut dan gerakan dinding perut.
15.
Auskultasi
 Memeriksa suara peristaltik
Perkusi

TA. 2018-2019 6
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

 Memeriksa adakah asites dan fenomena papan catur


Palpasi
 Menilai adakah nyeri tekan
 Memeriksa defence musculaire
 Melakukan perabaan hati dan menyebutkan hasilnya
 Melakukan perabaan limpa dan menyebutkan hasilnya.
 Melakukan pemeriksaan ballottement dan menyebutkan hasilnya.
Anus
16. Memeriksa daerah sekitar anus, adakah kelainan.
Melakukan pemeriksaan colok dubur dan menyebutkan hasilnya.
Genitalia
17.
adakah kelainan-kelainan.
Anggota gerak dan tulang belakang
18.
Adakah kelainan.

TA. 2018-2019 7
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

2 PEMERIKSAAN NERVUS KRANIALIS


NERVUS KRANIALIS FUNGSI PENEMUAN KLINIS DENGAN LESI

I. Olfaktorius penciuman Anosmia

II. Optikus penglihatan Amaurosis

III. Okulomotorius Gerak mata; konstriksi pupil, Diplopia, ptosis, midriasis, hilangnya
akomodasi akomodasi

IV. Troklearis Gerak mata Diplopia

Sensasi umum pada wajah, kulit Mati rasa pada wajah; kelemahan otot
V. Trigeminus kepala dan gigi, gerak mengunyah rahang

VI. Abdusens Gerak mata Diplopia

Pengecapan, sensasi umum pada Hilengnya kemampuan mengecap


palatum dan telinga luar, sekresi pada dua pertiga anterior lidah, mulut
VII. Fasialis kelenjar lakrimalis, sub mandibula kering, hilangnya lakrimalis, paralisis
dan sublingual, ekspresi wajah otot wajah

VIII. Vestibule Pendengaran, keseimbangan Tuli, tinnitus, vertigo, nistagmus


koklearis
Pengecapan, sensasi umum pada Hilangnya daya pengecapan pada
farings dan telinga, mengangkat sepertiga posterior lidah, anestesi
IX. Glosofaringeus
palatum, sekresi kelenjar parotis pada farings, mulut kering sebagian

Pengecapan, sensasi umum pada Disfagia, suara parau, paralisis


farings, laring dan telinga, menelan, palatum
X. Vagus fonasi, perasimpatis untuk jantung
dan visera abdomen

Fonasi, gerakan kepala, leher dan Suara parau, kelemahan otot kepala,
XI. Asesorius bahu leher dan bahu

XII. Hipoglosus Gerak lidah Kelemahan dan pelayuan lidah

TA. 2018-2019 8
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

No PROSEDUR DAN KETERANGAN PROSEDUR


Pemeriksaan NI (N. Olfactorius)
TERMINOLOGI :
 Normosmia : kemampuan menghidu normal, tidak terganggu. Hiposmia : kemampuan
menghidu menurun, berkurang. Hipersomia : meningkatnya kemampuan menghidu,
dapat dijumpai pada penderita Hiperemesis Gravidarum atau migren.
 Parosmia : tidak dapat mengenali bau-bauan/ salah hidu
 Kakosmia : (kakos (yunani) = buruk, osmia = baui) : mempersepsi adanya hal bau,
padahal tidak ada.
 Haluinasi penciuman : biasanya berbentuk bau yang tidak sedap, dapat dijumpai pada
serangan epilepsi yang berasal dari girus unsinat pada lubus temporal, dan sering
disertai gerak mengecap-ngecap (epilepsi jenis parsial kompleks)
Tujuan pemeriksaan : untuk mendeteksi adanya gangguan menghidu; disebabkan oleh gangguan
saraf atau penyakit hidung lokal
1. kesulitan pemeriksaan : merupakan tes yang subyektif
Bahan yang digunakan biasanya bersifat aromatik dan tidak merangsang, seperti golongan
minyak, sabun, tembakau, kopi, vanili, dan sebagainya. Bahan yang merangsang mukosa hidung
(alkohol, amonia) tidak dipakai karena merangsang saraf V.

PROSEDUR PEMERIKSAAN N.I :


 Memeriksa lubang hidung, apakah ada sumbatan atau kelainan setempat seperti polip atau

TA. 2018-2019 9
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

ingus.
 Melakukan pemeriksaan penghidu pada 1 lubang hidung dengan meminta pasien untuk
meghidu beberapa benda berbau khas
 Meminta pasien untuk menyebutkan bau yang dirasakannya
 Melakukan pemeriksaan pada lubang hidung lainnya
 Kembali meminta pasien untuk menyebutkan bau yang dirasakannya
 Lakukan hal serupa pada beberapa bahan lainnya (2-3 kali)
 Melaporkan hasil pemeriksaan

Pemeriksaan N.II (N. Opticus) *


a. Penglihatan sentral (visual acuity)
Untuk keperluan praktis, membedakan kelainan refraksi dengan retina digunakan PIN
HOLE (apabila penglihatan menjadi jelas maka berarti gangguan visus akibat kelainan
refraksi)
Penglihatan sentral ini diperiksa dengan menggunakan :
1) Kartu snellen
2) Jari tangan
3) Gerakan tangan
b. Penglihatan perifer (visual field)
Diperiksa dengan menggunakan :
1) Tes konfrontasi dari Donder :
2.
 Jarak antara dokter-pasien 60-100 cm
 Jari tangan dokter (obyek) yang digerakkan harus berada tepat di tengah-tengah
jarak tersebut
 Jika hendak memeriksa mata kanan, mata kiri penderita harus ditutup, misalnya
dengan tangan atau kertas, sementara pemeriksa harus menutup mata kanannya.
 Kemudian penderita diminta untuk memfiksasi matanya pada mata kiri
pemeriksa, dan pemeriksa harus selalu melihat ke mata kanan penderita.
 Obyek yang digunakan (2 jari pemeriksa/ ballpoint) digerakkan mulai dari
lapang pandang kanan dan kiri (lateral dan medial), atas dan bawah.
 Gerakan dilakukan dari arah luar ke dalam
 Jika penderita mulai melihat jari-jari pemeriksa, ia harus memberitahu; dimana
hal ini dibandingkan dengan pemeriksa.

TA. 2018-2019 10
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

 Gangguan kampus penglihatan didapatkann bila pemeriksa lebih dahulu melihat


gerakan tersebut
 Syarat pemeriksaan : lapang pandang pemeriksa harus normal.

2) Perimeter/ kampimeter
Biasanya terdapat di bagian mata dan hasil pemeriksaan diproyeksikan dalam
bentuk gambar di sebuah kartu
3) Tangent Screen
c. Refleks pupil
Saraf aferen berasal dari N.II (opticus) sedangkan saraf eferennya dari N.III
(occulomotorius) parasimpatiss.
Ada 2 macam refleks pupil :
 Langsung
 Tidak langsung (konsensual)
d. Pemeriksaan fundus okuli
Mengguankan alat : oftalmoskop
Yang dilihat pada pemeriksaan fundus okuli adalah keadaan retina (terutama oleh
dokter mata), terutama adalah keadaan optic disc (papil N.Opticus) untuk melihat
adanya papil edema atau papil atrofi
e. Tes warna (colour vision testing)
Untuk mengetahui adanya polineuropati pada nervus opticus

TA. 2018-2019 11
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

*) sudah dilakukan pada pemeriksaan mata, blok EMS


PEMERIKSAAN N. III (NERVUS OKOLOMOTORIUS), IV(TROCHLEARIS), VI (NERVUS
ABDUSEN)
ketiga saraf otak ini diperiksa sama-sama, karena kesatuan fungsinya yaitu mengurus otot-otot
ekstrinsik dan intrinsik bola mata.
 N. III : menginervasi M. Rektus internus (medialis), M. Rektus superior, M. Rektus
inferior, M. Levator palpebrae; serabut visero-motoriknya mengurus M.sfingter pupile
3.
(yaitu mengurus kontraksi pupil) dan M. Siliare (mengatur lensa mata)
 N. IV : menginervasi M oblikus superior. Kerja otot ini menyebabkan mata dapat
dilirikkan ke arah bawah dan nasal.
 N. VI : menginervasi M. Rektus eksternus (lateralis). Kerja otot ini menyebabkan lirik
mata ke arah temporal

Pemeriksaan N. III (N.Oculomotorius)


Pemeriksaan meliputi :
a. Retraksi kelopak mata atas
Bisa didapatkan pada :
4.  Hidrosefalus
 Dilatasi ventrikel III/ aquaductus sylvii
 Hiperthyroidism
b. Ptosis
Kelumpuhan N.III dapat menyebabkan terjadinya ptosis., yaitu kelopak mata terjatuh,

TA. 2018-2019 12
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

yang disebabkan oleh kelumpuhan M. Levator palpebrae. Pada keadaan normal bila
seseorang melihat ke depan, maka batas kelopak mata atas akan memotong iris pada
titik yang sama secara bilateral.
Ptosis dicurigai bila salah satu kelopak mata atas memotong iris lebih rendah dari pada
mata yang lain, atau bila pasien mendongakkan kepala ke belakang/ atas (untuk
kompensasi menurunnya kelopak mata) atau kadang terlihat dahi dikerutkan
(m.Frontalis) secara kronik atau mengangkat alis mata secara kronik pula.
c. Pupil
Pemeriksaan pupil meliputi :
1) Bentuk dan ukuran pupil
2) Perbandingan pupil kanan dan kiri
Perbedaan diameter pupil sebesar 1 mm masih dianggap normal

Pada pupil anisokor kadang kita mengalami kesulitan untuk mengenal mana
yang patologis, yang besar (midriasis) yang patologis ataukah yang kecil (miosis)
yang patologis. Untuk itu diperlukan pemeriksaan refleks cahaya dan
pemeriksaan neurologis yang lain.
Bila pupil mengecil disebut miosis, bila membesar (melebar) disebut midriasis.
Miosis dijumpai pada waktu tidur, pada tingkat tertentu dari koma, pada iritasi
N.III dan pada kelumpuhan saraf simpatis (sindrom Horner)
Midriasis dilumpai pada kelumpuhan N. III, misalnya oleh desakan tumor atau
hematom, dan pada fraktur dasar tulang tengkorak.
Besarnya pupil disebabkan oleh banyak faktor, terutama intensitas cahaya.
Dalam gelap pupil lebih lebar dibanding dalam keadaan terang benderang.
3) Refleks pupil
Meliputi pemeriksaan :
a) Refleks cahaya langsung
Menyinari pupil mata sesisi dengan memberi batas penutup pada mata lain.

TA. 2018-2019 13
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

b) Refleks pupil tidak langsung


Miosis pada pupil yang tidak disinari, yang terjadi karena pupil sisi lain yang
disinari lampu. Kegunaan refleks pupil tak langsung ini adalah untuk
menentukan apakah refleks cahaya langsung pada satu pupil tersebut
akibat lesi aferennya (N.II) atau lesi eferennya (N.III)
c) Refleks pupil akomodatif dan konvergensi
Bila seseorang melihat benda di dekat mata (melihat hidungnya sendiri)
kedua otot rectus medialis berkontraksi. Gerakan kedua bola mata ke medial
ini disebut konvergensi, bersamaan dengan gerakan bola mata tersebut,
maka kedua pupil akan mengecil (otot ciliaris berkontraksi)
 Bila visus mata 0 (buta), maka refleks cahaya pada mata tersebut negatif. Bila mata
yang lainnya baik, maka penyinaran pada mata ini akan menyebabkan mengecilnya
pupil pada mata yang buta tersebut. (reaksi cahaya tak langsung positif). Jadi, bila
reaksi cahaya langsung negatif, sedangkan reaksi cahaya tak langsung positif, maka
kerusakan pada N.II. Sebaliknya pada kelumpukan N.III reaksi cahaya langsung dan
tidak langsung adalah negatif.

TA. 2018-2019 14
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

Gambar : reaksi pupil pada lesi N,II kanan Gambar : reaksi pupil pada lesi N III kanan
4. Gerakan bola mata (bersama-sama dengan N. IV dan VI)
5.

Gambar : bagan gerak bola mata

Pemeriksaan meliputi :
a) Gerakan monokuler
b) Gerakan binokoler atas perintah
c) Gerakan binokuler mengikuti obyek/ jari
penderita diminta mengikuti gerakan jari pemeriksa ke arah nasal, temporal atas
bawah, sekaligus dinyatakan adanya diplopia dan dilihat ada tidaknya nistagmus.
Sebelum pemeriksaan gerakan bola mata ini (pada keadaan diam) sudah bisa
dilihat adanya strabismus (juling) dan deviasi conjugate ke satu sisi.
Bila ada keluhan diplopia (penglihatan ganda), tetapi ada pemeriksaan tidak
tampak suatu strabismus atau adanya gerakan disconjugate, maka mungkin saja

TA. 2018-2019 15
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

ada kelemahan otot ekstraokular atau salahsatu saraf III, IV, dan VI, cuma
kelemahan tersebut ringan sekali sehingga sulit untuk dilihat.
Untuk itu perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan yang lebih teliti (lanjutan)
seperti :
 red lens test
 cover uncover test
 see saw test (untuk kelemahan N.III)
d) Doll head eye phenomenon

Pemeriksaan N. IV (N.Troklearis)
Kelumpuhan pada N.IV jarang dijumpai. Penyebab paling sering karena trauma.
Kelumpuhan N.IB menyebabkan terjadinya diplopia (penglihatan ganda, melihat
kembar) bila mata dilirikkan ke arah ini.

PROSEDUR PEMERIKSAAN N. III, IV, VI


1. Pemeriksa memperhatikan celah mata pasien, apakah terdapat ptosis, eksoftalmus,
enoftalmus, dan apakah ada strabismus (jereng).
2. Apakah pasien juga sering memejamkan matanya (yang disebabkan oleh diplopia)
3. Pemeriksaan ptosis :
 Menilai tenaga m. Levator palpebrae
 Pasien diminta untuk memejaman matanya
 Waktu ia membuka mata, kita tahan gerakan ini dengan jalan memegang
(menekan enteng) pada kelopak mata.
 Pemeriksa menilai kekuatan mengangkat kelopak mata (m. Levator palpebrae)
 Pada pemeriksaan ini untuk meniadakan tenaga kompensasi dari m. Frontalis
perlu diberi tekanan pada alis mata dengan satu tangan lagi.
4. Pemeriksaan pupil
 perhatikan besarnya pupil mata kanan dan kiri, apakah sama (isokor) atau tidak
sama (anisokor).
 perhatikan pula bentuk pupil, apakah bundar, rata tepinya (normal) atau tidak.
Refleks pupil (refleks cahaya pupil)
 Pasien diminta untuk melihat jauh (fiksasi pada benda yang jauh letaknya)
 Kemudian pemeriksa memberikan cahaya pada mata (disenter)

TA. 2018-2019 16
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

 Lihat adakah reaksi pada pupil


 Bila pupil mengecil berarti : reaksi cahaya langsung positif
 Kemudian perhatikan pula pupil mata yang satu lagi
 Bila pupil ikut mengecil oleh penyinaran pada mata lainnya maka disebut reaksi-
cahaya-tidak –langsung (konsensual) positif
 Selama pemeriksaan dicegah agar pasien tidak memfiksasi matanya pada senter,
sebab dengan demikian akan menyebabkan refleks akomodasi yang juga
menyebabkan mengecilnya pupil.
 Keadaan pada refleks pupil dinyatakan dengan :
- : tidak ada reaksi
± : reaksi lambat
+ : reaksi normal (ada)
5. Refleks akomodasi
 Minta penderita untuk melihat jauh
 Kemudian disuruh melihat dekat (jari pemeriksa ditempatkan dekat matanya)
 Refleks akomodasi positif bila pupil mengecil; pada kelumpuhan N.III refleks ini
negatif
6. Gerak bola mata
 Penderita disuruh mengikuti jari-jari pemeriksa yang digerakkan ke arah lateral,
medial atas, bawah, dan ke arah yang miring, yaitu : atas lateral, bawah medial,
atas-medial, dan bawah-lateral.
 Perhatikan apakah mata pasien dapat mengikuti
 Perhatikan pula gerakan bola mata, apakah lancar dan mulus, atau kaku.
7. Nistagmus
 Pemeriksaan ini dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan gerak bola mata.
 Nistagmus: gerak bolak balik bola mata yang involunter dan ritmik.
 Penderita diminta untuk melirik terus ke satu arah (kanan/ kiri/ atas/ bawah)
selama jangka waktu 5 atau 6 detik. Mata jangan terlalu lama dilirikkan karena
akan menyebabkan nistagmus pada orang normal (end position nistagmus)
 Bila ada gerakan involunter, nistagmus +

Pemeriksaan N.V (N.Trigeminus);


5.
bagian sensorik N.V mengurus sensibilitas muka melalui ketiga cabangnya :

TA. 2018-2019 17
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

1. Cabang (ramus) oftalmik : mengurus sensibilitas dahi, mata, hidung, kening, selaput
otak, sinus paranasal, dan sebagian mukosa hidung
2. Cabang (ramus) maksilaris : mengurus sensibilitas rahang atas, gigi atas, bibir atas,
pipi, palatum durum, sinus maksilaris, dan mukosa hidung
3. Cabang/ ramus mandibularis : yang mengurus sensibilitas rahang bawah, gigi bawah,
mukosa pipi, dua-pertiga bagian depan lidah dan sebagian dari telinga (eksternal),
meatus dan selaput otak.

Gambar : daerah sensibilitas N.V cabang I, II dan III :


1. Cabang (ramus) oftalmik
2. Cabang (ramus) maksilaris
3. Cabang/ ramus mandibularis

PROSEDUR PEMERIKSAAN N.V :


a. Pemeriksaan refleks kornea :
 Pemeriksa meminta pasien melihat ke arah atas; dengan menggunakan kapas
menyentuh kornea pasien dari posisi lateral
 Menyatakan hasil pemeriksaan
b. Sensasi wajah dan kulit kepala
 Meminta pasien untuk menutup mata dan memberi respon bila merasakan sentuhan –
baik hanya pada atau kedua sisi
 Dengan menggunakan kapas pemeriksa menyentuh dahi pasien dari satu sisi diikuti
dengan sentuhan pada daerah yang sama di sisi yang berlawanan

TA. 2018-2019 18
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

 Melakukan hal yang sama pada daerah pipi dan daerah sekitar rahang
 Menggunakan benda runcing untuk melakukan pemeriksaan yang sama
 Menyatakan hasil pemeriksaan
c. Fungsi motorik
 Pemeriksa melakukan pemeriksaan dengan meletakkan jari pada otot temporalis pasien
 Meminta pasien untuk menggertakkan gigi/ menggigit, dan pemeriksa merasakan
kontraksi otot temporalis di bawah tangan pemeriksa pada kedua sisinya
 Minta pasien untuk merapatkan giginya sekuat mungkin
 Pemeriksa meraba M. Masseter dan M. Temporalis
 Pemeriksa memperhatikan besarnya, tonus serta kontur (bentuknya)
 Minta pasien untuk membuka mulut
 Perhatikan apakah ada deviasi rahang bawah
 Minta pasien untuk menggigit tongue spatel
 Menilai kekuatan gigitan dengan jalan menarik tongue spatel tersebut
 Menyatakan hasil pemeriksaan
 Minta pasien untuk menggerakkan rahang bawahnya ke samping (menilai m.perigoideus
lateralis)
 Bila terdapat parese di sebelah kanan, rahang bawah tidak dapat digerakkan ke samping
kiri.
 Atau pesien disuruh mempertahankan rahang bawahnya ke samping.
 Pemeriksa member tekanan untuk mengembalikan rahang bawah ke posisi tengah
 Menyatakan hasil pemeriksaan
d. Jaw jerk refleks
 Pemeriksa melakukan ketukan pada bagian anterior bawah rahang dengan
menggunakan hammer refleks
 Menyatakan hasil pemeriksaan
Pemeriksaan N.VII (N. Fasialis)
PROSEDUR PEMERIKSAAN N.VII
a. Pemeriksaan fungsi motorik otot fasialis bawah :
6.  Meminta pasien untuk menyeringai dan memperlihatkan gigi
 Menyatakan hasil pemeriksaan :
 Normal bila sudut mulut membentuk posisi simetris
b. Pemeriksaan fungsi motorik otot fasialis atas :

TA. 2018-2019 19
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

 Meminta pasien untuk memejamkan mata erat-erat, pemeriksa berusaha untuk


membuka kelopak mata pasien
 Menyatakan hasil pemeriksaan :
 Normal bila pemeriksa tidak dapat membuka mata pasien
 Meminta pasien untuk menaikkan alisnya
 Menyatakan pemeriksaan : Normal bila kerutan yang terjadi simetris pada kedua sisi
c. Sensasi perasa 2/3 anterior lidah
 Meminta pasien untuk menjulurkan lidahnya dan menahannya di luar selama proses
pemeriksaan, dengan menggunakan kapas yang telah dibubuhkan substansi perasa,
pemeriksa meletakkan substansi tersebut secara gentle pada daerah pemeriksaan
 Menyatakan hasil pemeriksaan
Pemeriksaan N.VIII (N. Vestibulo koklearis)
saraf ini terdiri atas 2 bagian : yaitu saraf koklearis dan saraf vestibularis. Saraf koklearis
mengurus pendengaran dan saraf vestibularis mengurus keseimbangan
PROSEDUR PEMERIKSAAN SARAF KOKLEARIS
a. Tes ketajaman pendengaran
 Minta penderita untuk mendengarkan suara bisikan pada jarak tertentu dan
membandingkannya dengan orang normal
 Perhatikan pula adanya perbedaan antara ketajaman pendengaran telinga kanan dan kiri
 Bila ketajaman pendengaran berkurang atau terdapat perbedaan antara kedua telinga,
lakukan pemeriksaan Schwabach, Rinne, Weber dan audiogram
b. Tes schwabach
7.
 Prinsip pemeriksaan : pendengaran penderita dibandingkan dengan pendengaran
pemeriksa (yang dianggap normal)
 Garpu tala dibunyikan dan kemudian ditempatkan di dekat telinga penderita
 Setelah penderita tidak mendengarkan bunyi lagi, garpu tala tersebut ditempatkan di
dekat telinga pemeriksa, maka dikatakan bahwa schwabach lebih pendek (untuk
konduksi udara)
 Kemudian garpu tala dibunyikan lagi dan pangkalnya ditekankan pada tulang mastoid
penderita
 Penderita diminta untuk mendengarkan kembali bunyinya
 Bila sudah tidak terdengar maka garpu tala ditempatkan pada tulang mastoid pemeriksa
 Bila pemeriksa masih dapat mendengar bunyinya maka dinyataan bahwa schwabach

TA. 2018-2019 20
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

(untuk konduksi tulang) lebih pendek


c. Tes rinne
 Pada pemeriksaan ini digunakan garpu tala yang berfrekuensi 128, 256 atau 512 hz.
 Garputala dibunyikan dan pangkalnya ditekankan pada tulang mastoid penderita.
 Pasien diminta untuk mendengarkan bunyinya hingga tidak terdengar lagi
 Pindahkan garpu tala, dekatkan pada telinga
 Jika masih terdengar bunyi, maka konduksi udara lebih baik daripada konduksi tulang,
dalam hal ini dikatakan rinne positif
 Bila tidak terdengar bunyi lagi, segera garpu tala dipindahkan dari tulang mastoid ke
dekat teinga, kita katakan rinne negatif

Gambar : Tes Rinne ; membandingkan konduksi tulang dengan udara


d. Tes Weber
 Garpu tala yang dibunyikan ditekankan pangkalnya pada dahi penderita, tepat di
pertengahannya
 Penderita disuruh mendengarkan bunyinya, dan menentukan telinga mana yang
bunyinya lebih keras terdengar.
 Pada orang normal hasilnya akan sama, tetapi pada tuli konduktif bunyi akan lebih keras
pada telinga yang tuli.
 Kita katakan : tes weber berlateralisasi ke kiri (atau kanan), bila bunyi lebih keras
terdengar di telinga kiri (atau kanan)

TA. 2018-2019 21
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

PEMERIKSAAN SARAF VESTIBULARIS


gangguan saraf vestibularis (keseimbangan) atau hubungannya dengan sentral dapat
menyebabkan terjadinya vertigo, rasa tidak stabil, kehilangan keseimbangan, nistagmus, dan
salah tunjuk (”past pointing”)
PROSEDUR PEMERIKSAAN SARAF VESTIBULARIS
a. Tes untuk menilai keseimbangan
 tes Romberg yang dipertajam
 pada tes ini penderita berdiri dengan kaki yang satu di depan kaki yang lainnya

TA. 2018-2019 22
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

 tumit yang satu berada di depan jari-jari kaki yang lainnya (tandem)
 lengan dilipat pada mata dan mata kemudian ditutup.
 orang normal mampu berdiri dalam sikap romberg yang dipertajam selama 30 detik atau
lebih
b. T es melangkah di tempat (stepping test)
 penderita disuruh berjalan di tempat (minta penderita untuk tetap berusaha di tempat
dan tidak beranjak dari tempatnya selama tes ini)
 mata penderita ditutup
 berjalan sebanyak 50 langkah dengan kecepatan seperti berjalan biasa
 tes ini dianggap abnormal bila kedudukan akhir dari penderita beranjak lebih dari 1
meter, atau badannya berputar lebih dari 30°.
c. Tes tunjuk (”past pointing”)
 Penderita diminta untuk merentangkan lengannya dan telunjuknya menyentuh
telunjauk pemeriksa
 kemudian pesien diminta untuk menutup mata, mengangkat lengannya tinggi-tinggi
(sampai vertikal) dan kemudian kembali ke posisi semula.
 pada gangguan vestibular didapatkan salah tunjuk (deviasi), demikian juga dengan
gangguan sereblar
 tes ini dilakukan dengan lengan kanan dan lengan kiri, salain penderita disuruh
mengangkat lengannya tinggi-tinggi, dapat pula dilakukan dengan menurunkan lengan
ke bawah sampai vertikal dan kemudian kembali ke posisi semula

Pemeriksaan N.IX (N.Glosofaringeus) dan N.X (N.Vagus);
Gejala gangguan yang tepnting adalah disatria (cadel, pelo, gangguan pengucapan kata-kata)
dan salah telan (keselek, disfagia)
PROSEDUR PEMERIKSAAN N.IX (N.GLOSOFARINGEUS) DAN N.X (N.VAGUS);
Sensasi perasa 1/3 posterior lidah
8.  Meminta pasien untuk menjulurkan lidahnya dan menahannya di luar selama proses
pemeriksaan, dengan menggunakan kapas yang telah dibubuhkan substansi perasa,
pemeriksa meletakkan substansi tersebut secara gentle pada daerah pemeriksaan
 Menyatakan hasil pemeriksaan
 Menyatakan melakukan pemeriksaan N.X (N.Vagus)
Kemampuan berbicara

TA. 2018-2019 23
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

 Meminta pasien untuk mengikuti kalimat/kata-kata yang sama


 Menyatakan hasil pemeriksaan :
 Melaporkan ada tidaknya disphonia/ disarthria
Pemeriksaan uvula
 Pemeriksa meminta pasien untuk membuka mulut dan mengucapkan ”ah..”, dan pemeriksa
menilai kontraksi jaringan lunak palatum pada kedua sisi dan posisi uvula
 Menyatakan hasil pemeriksaan :
 Normal bila arkus palatum dan uvula dalam posisi simetris
 Bila terdapat parese maka otot-otot faring dan palatum molle, uvula, dan artkus faring
sisi yang lumpuh letaknya lebih rendah daripada yang sehat. Dan bila bergerak, uvula
akan seolah-olah tertarik ke sisi yang sehat

Gambar : Pemeriksaan N.IX dan X


A. pada orang normal uvula tetap di tengah
B. pada kelumpuhan N IX dan X, uvula tertarik ke sisi yang tidak lumpuh
Menyatakan melakukan pemeriksaan N.XI (N.Asesorius)
PROSEDUR PEMERIKSAAN N.XI
Pemeriksaan otot Sternocleidomastoideus (SCM)
9.  Pemeriksa meminta pasien untuk menoleh ke satu sisi dan melakukan penahanan.
Selanjutnya pemeriksa memeriksa kontraksi otot SCM dengan palpasi. Pemeriksaan
dilanjutkan juga pada otot sisi lainnya
 Menyatakan hasil pemeriksaan

TA. 2018-2019 24
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

Gambar : pemeriksaan otot Sternocleidomastoideus


Pemeriksaan otot trapezius
 Pemeriksa menempatkan kedua tangan pada bahu pasien dan melakukan palpasi otot
tapezius pada masing-masing sisi, dan meminta pasien untuk mengangkat bahu dengan
tahanan tangan pemeriksa dan melakukan penilaian kesamaan kontraksi kedua ruas otot
 Menyatakan hasil pemeriksaan : Normal bila hasil simetris

Gambar : pemeriksaan N. XI
Pasien disuruh mengagkat bahu dan kita tahan untuk menilai tenaganya
Menyatakan melakukan pemeriksaan N.XII (N.Hypoglosus)
PROSEDUR PEMERIKSAAN N.XII (N.HYPOGLOSUS)
 Pemeriksa meminta pasien untuk membuka mulut dengan posisi lidah berada pada dasar
10.
mulut, selanjutnya memeriksa keadaan lidah, apakah ada atrofi otot lidah
 Meminta pasien untuk menjulurkan lidah, dan menilai adakah deviasi pada satu sisi lidah
 Menyatakan hasil pemeriksaan
Menyatakan seluruh pemeriksaan telah selesai dan mengucapkan terimakasih atas kerjasama
11.
pasien

3 DAFTAR TILIK PEMERIKSAAN MOTORIK


NO PROSEDUR KETERANGAN

TA. 2018-2019 25
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

PEMBUKAAN
1. Menyapa pasien dan memperkenalkan diri
Informed consent singkat
(Menyatakan akan melakukan pemeriksaan fungsi motorik pasien
2.
pada ekstremitas atas dan bawah, dan memianta pasein untuk aktif
dalam pemeriksaan tersebut)
PEMERIKSAAN KEKUATAN BATANG TUBUH/ THE STRENGTH OF LIMBS
3 Inspeksi :
minta pasien untuk duduk di tepi tempat tidur dengan menghadap
4
pemeriksa
5 memperhatikan apakah ada atrofi otot pada daerah ekstremitas
periksa gerakan jari-jari; bagaimana tenaga fleksi, ekstensi, abduksi
6
dan aduksi.
PEMERIKSAAN EKSTREMITAS ATAS
Memeriksa kekuatan jari/ genggaman
minta pasien untuk menggenggam jari pemeriksa (pemeriksaan
7
tenaga menggenggam)
8 pemeriksa mencoba untuk menarik lepas jari tersebut
Memeriksa kekuatan lengan
periksa gerakan di pergelangan dan tentukan tenaganya pada
9
gerakan pronasi, dan supinasi
10 periksa pergerakan pada sendi siku, fleksi dan ekstensi
11 periksa gerakan pada sendi bahu, ekstensi dan rotasi
Pasien disuruh memfleksikan lengan bawahnya dan pemeriksa
12
menghalangi usahanya ini.
lengan bawah dalam posisi supinasi, diminta untuk memfleksikan
13
sambil pemeriksa memberi tahanan
Dengan demikian dapat dinilai kekuatan otot biceps (C5, C6, saraf
14
muskulokutaneus)
15 Bandingkan dengan sisi lain yang simetris
PEMERIKSAAN EKSTREMITAS BAWAH
16 Pasien disuruh memfleksikan tungkai bawahnya dan pemeriksa

TA. 2018-2019 26
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

menghalangi usahanya ini.


Dengan demikian dapat dinilai kekuatan otot kelompok “hamstring”
17
(L4, L5, S1, S2, saraf siatika)
18 Bandingkan dengan sisi lain yang simetris
19 Pasien disuruh tengkurap,
kemudian minta untuk memfleksikan plantar kakinya dan pemeriksa
20
menghalangi usahanya ini.
Dengan demikian dapat dinilai kekuatan otot gastroknemius (L5, S1,
21
S2, saraf tibialis)
22 Bandingkan dengan sisi lain yang simetris
Tone of muscles
 Pemeriksa mengencangkan otot dan mengerahkan tenaga secara
23 pasif pada sendi ekstremitas pasien dan merasakan tahanan
ototnya.
 Mengetahui tanda respon abnormal; penurunan tonus otot
24 Membandingkan otot ekstremitas kanan dan kiri
25 Melaporkan hasil pemeriksaan
Fasikulasi
 Pemeriksa melakukan perkusi pada satu area/ daerah dari
ekstremitas
26  Melakukan penilaian pergerakan jaringan otot pada area/
daerah pemeriksaan
 (fasikulasi adalah kontraksi sekelompok otot pada daerah
pemeriksaan)
27 Melakukan pada sisi lainnya
PENUTUP
28 Melaporkan hasil pemeriksaan
29 Mengucapkan terimakasih atas kerjasama pasien

DAFTAR TILIK PEMERIKSAAN REFLEKS FISIOLOGIS

TA. 2018-2019 27
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

No Prosedur

A. PEMBUKAAN
1 Menyapa pasien dan memperkenalkan diri

2 Informed consent singkat

B. PEMERIKSAAN REFLEKS FISIOLOGIS


Refleks Bisep

3 Pemeriksa memegang lengan pasien yang disemifleksikan

4 Ibu jari tangan lain oemeriksa ditempatkan di atas tendon biseps

5 Ibu jari kemudian diketok dengan palu refleks

Menilai refleks yang dihasilkan


6
 Mengakibatkan gerakan fleksi pada lengan bawah
 Pusat refleks terletak di C5 – C6
7 Melakukan pada sisi tubuh lainnya

8 Melaporkan hasil pemeriksaan

Refleks Triceps

9 Pemeriksa memegang lengan bawah pasien yang difleksikan setengah (semifleksi)

10 Ketok pada tendon insersi M. Triseps, yang berada di sedikit olekranon

Menilai refleks yang dihasilkan


11
 Mengakibatkan gerakan ekstensi
 Pusat refleks terletak di C6 – C8
12 Melakukan pada sisi tubuh lainnya

13 Melaporkan hasil pemeriksaan

Refleks Knee jerk/ refleks Patellar (nama lain : KPR/ Kniepeesrefleks, pemeriksaan tendon lutut)

Pemeriksa memfleksikan tungkai lutut dan mengatur dalam posisi menggantung pada tepi
14
tempat tidur.

Ketok pada tendon muskulus kuadriseps femoris, dibawah atau di atas patela (biasanya di
15
bawah patela)

Menilai refleks yang dihasilkan


16
 Mengakibatkan kuadriseps femoris berkontraksi dan mengakibatkan ekstensi tungkai

TA. 2018-2019 28
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

bawah
 Pusat refleks terletak di L2 – L3
17 Melakukan pada sisi tubuh lainnya

18 Melaporkan hasil pemeriksaan

Refleks tendon achilles/ tendon ankle

nama lain : APR/ Achillespeesrefleks

19 Tungkai bawah pasien di fleksikan sedikit

Pemeriksa memegang kaki pada ujungnya untuk memberikan sikap dorsofleksi ringan pada
20
kaki

21 Ketuk tendon achilles

Menilai refleks yang dihasilkan


22  Mengakibatkan kontraksi M.Triceps sure dan memberikan gerak plantar fleksi pada
kaki
 Pusat refleks terletak di S1 – S2
23 Melakukan pada sisi tubuh lainnya

24 Melaporkan hasil pemeriksaan

C. PENUTUP
25 Menyatakan pemeriksaan telah selesai

PEMERIKSAAN NEUROPEDRIATIK

Tujuan Umum :

TA. 2018-2019 29
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

Setelah menyelesaikan keterampilan, mahasiswa diharapkan mempu melakukan pemeriksaan yang


berkenaan dengan reflek saraf kranialis, fungsi motorik dan refleks bayi dan anak.

Tujuan Khusus :
Jika diberikan kasus pemicu dan menggunakan pasien simulasi/manekin, mahasiswa mampu melakukan
prinsip komunikasi efektif dan mendemonstrasikan prosedural diagnosis sesuai dengan prosedur/langkah-
langkah dari panduan yang diberikan.

Metode :
Introduction : Demonstrasi dari pakar
Coaching : Latihan di laboratorium Skills Lab disertai oleh instruktur terlatih

Fasilitas yang disediakan :


a. Ruang kuliah
b. Alat bantu audiovisual : LCD, dll
c. Ruang praktikum lengkap
d. Pelatih : Pakar dan Instruktur
e. Standardized Patient(s)/manekin
f. Penuntun praktikum mahasiswa

Tempat :
Ruang Praktikum Skills Laboratory

Evaluasi :
Test tulis (pretest dan posttest)
Observasi instruktur

Daftar Tilik PEMERIKSAAN NEUROPEDIATRIK


NO. PROSEDUR
PERSIAPAN
1 Menyapa pasien dan keluarganya
Menyampaiakn informed consent singkat pada ibu/ keluarga pasien tentang maksud dan
2
gambaran pemeriksaan
3 Menentukan waktu pemeriksaan, 2-3 jam setelah bayi selesai minum
4 Mengatur lingkungan ruang pemeriksaan, termasuk suhu ruang
INSPEKSI
5 Menilai posisi bayi/ anak dalam keadaan berbaring telentang, dan dalam posisi telungkup.
Mengetahui beberapa posisi atau keadaan abnormal yang mungkin didapat pada bayi atau
6
bayi baru lahir
PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS
7 Melakukan pemeriksaan adanya ptosis
8 Melakukan penilaian gerakan bola mata
9 Melakukan penilaian otot wajah
10 Melakukan penilaian refleks menghisap
11 Melakukan penilaian penciuman
12 Melakukan penilaian refleks cahaya

TA. 2018-2019 30
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

13 Melakukan penilaian N.IX dan N.X


14 Melakukan penilaian posisi lidah
MENGEVALUASI FUNGSI MOTORIK
Menilai Respon traksi
15 Bayi ditidurkan dengan posisi supinasi simetris
16 Pemeriksa memegang kedua tangan bayi pada pergelangan tangan
17 Secara perlahan-lahan anak ditarik sampai pada posisi duduk
18 Dievaluasi kemampuan bayi dalam mengontrol posisi leher dan kepalanya
19 Hasil :
Apabila kepala masih tertinggal di belakang pada saat bayi posisi duduk, maka Head Leg nya
positif (masih ada), tetapi apabila bayi mampu mengangkat kepalanya pada saat posisi duduk
maka Head Leg nya negatif (menghilang).
Suspense ventral
20 bayi ditidurkan dalam posisi pronasi
21 telapak tangan pemeriksa menyangga badan bayi pada daerah dada.
Hasil :
Pada bayi aterm atau normal, posisi kepala akan jatuh ke bawah ± membentuk sudut 45° atau
22
kurang dari posisi horizontal, punggung lurus atau sedikit fleksi, tangan fleksi pada siku dan
sedikit ekstensi pada sendi bahu dan sedikit fleksi pada sendi lutut.
MENILAI REFLEKS-REFLEKS PADA BAYI DAN ANAK
Refleks MORO
Bayi dibaringkan telentang, kemudian diposisikan setengah duduk dan disanggah oleh kedua
23 telapak tangan pemeriksa, secara tiba-tiba tapi hati-hati kepala bayi dijatuhkan 30-45°
(merubah posisi badan anak secara mendadak).
Refleks moro juga dapat ditimbulkan dengan menimbulkan suara keras secara mendadak
24
ataupun dengan menepuk tempat tidur bayi secara mendadak.
Hasil :
Refleks MORO dikatakan positif bila terjadi abduksi ekstensi keempat ekstremitas dan
25
pengembangan jari-jari, kecuali pada falangs distal jari telunjuk dan ibu jari yang dalam
keadaan fleksi. Gerakan itu segera diikuti oleh adduksi-fleksi keempat ekstremitas.
Refleks PALMAR GRASP
26 Bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi
27 kepala menghadap ke depan dan tangan dalam keadaan setengah fleksi
Dengan memakai jari telunjuk pemeriksa menyentuh sisi luar tangan menuju bagian tengah
28
telapak tangan secara cepat dan hati-hati, sambil menekan permukaan telapak tangan.
Hasil :
29 Refleks Palmar Grasp dikatakan positif apabila didapatkan fleksi seluruh jari (memegang
tangtan pemeriksa)
Refleks PLANTAR GRASP
30 Bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi
31 ibu jari tangan menekan pangkal ibu jari bayi atau anak di daerah plantar
Hasil :
32
Refleks Plantar Grasp dinyatakan positif apabila didapatkan fleksi plantar seluruh jari kaki.
Refleks SNOUT
33 Melakukan perkusi pada daerah bibir atas.
Hasil :
34 Dikatakan positif apabila didapatkan respon berupa bibir atas dan bawah menyengir atau
kontraksi otot-otot di sekitar bibir dan di bawah hidung.

TA. 2018-2019 31
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

Refleks TONIC NECK


35 Bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi
36 kemudian kepalanya diarahkan menoleh ke salahsatu sisi
Hasil :
Reflek Tonic Neck dikatakan positif apabila lengan dan tungkai yang dihadapi/ sesisi menjadi
37
hipertoni dan ekstensi, sedangkan lengan dan tungkai sisi lainnya/ dibelakangi menjadi
hipertoni dan fleksi.
Refleks Berjalan (STEPPING)
38 Bayi dipegang pada daerah thoraks dengan kedua tangan pemeriksa
39 pemeriksa mendaratkan bayi dalam posisi berdiri di atas tempat periksa
Hasil :
Pada bayi usia kurang dari 3 bulan, salah satu kaki yang menyentuh alas tempat periksa akan
40 berjingkat, sedangkan pada yang berusia lebih dari 3 bulan akan menapakkan kakinya,
kemudian diikuti oleh kaki lainnya dan kaki yang sudah menyentuh alas periksa akan
berekstensi seolah-olah melangkah untuk melakukan gerakan berjalan yang otomatis.
Refleks Penempatan Takti (PLACING RESPONE)
41 Bayi dipegang pada daerah thoraks dengan kedua tangan pemeriksa
42 pemeriksa mendaratkan bayi dalam posisi berdiri di atas tempat periksa
43 bagian dorsal kaki bayi disentuhkan pada tepi meja periksa
Hasil :
44
Respon dikatakan positif bila bayi meletakkan kakinya pada meja periksa.
Refleks Terjun (PARACHUTE)
45 Bayi dipegang pada daerah thorak dengan kedua tangan pemeriksa
diposisikan seolah-olah akan terjun menuju meja periksa dengan posisi kepala lebih rendah
46
dari kaki
Hasil :
Refleks terjun dikatakan positif apabila kedua lengan bayi diluruskan dan jari-jari kedua
47
tangannya dikembangkan seolah-olah hendak mendarat di atas meja periksa dengan kedua
tangannya.

Kepustakaan :
1. Saharso D, Y Achmad, Herjana, Erny. Pemeriksaan Neurologis pada bayi dan anak. Lokakarya
Tumbuh Kembang Anak. Divisi Neuropediatri FK Unair, RSAL Ramelan Surabaya. 2005

4DAFTAR TILIK PEMERIKSAAN SENSORIK

TA. 2018-2019 32
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

EKSTEROSEPTIF
Sentuhan ringan/ Light touch
1 Memposisikan pasien dan meminta pasien untuk menutup matanya
2 Menerangkan pesien bahwa untuk memberi tanda bila merasakan adanya suatu stimulus
Dengan menggunakan kapas pemeriksa melakukan pemeriksaan dengan bermula pada
3 kulit secara bergantian pada kedua sisi, bermula dari daerah leher (C3) masing-masing
sisi menurun ke daerah bahu, sisi lateral lengan atas, lengan bawah dan tangan.
4 Jari-jari diperksa secara khusus
Stimulus juga dilakukan pada sisi medial lengan bawah dan dari bagian atas lengan ke
5
arah dada
Sensasi lengan bawah diperiksa dengan cara yang sama pada sisi lateral paha, tungkai
6
dan kaki juga pada sisi medialnya
7 Melaporkan hasil pemeriksaan
Nyeri dan suhu/ pain & temperature
Melakukan pemeriksaan dengan cara yang sama seperti pada pemeriksaan sentuhan
8
ringan/ light touch, dengan menggunakan air panas dan air dingin
9 Melaporkan hasil pemeriksaan
PROPRIOSEPTIF
Sensasi
10 Meminta pasien untuk memejamkan matanya
Pemeriksa menggenggam/ memegang salah satu sisi phalanges terminal dan dengan
11
lembut sedikit menggerakkan ke atas dan ke bawah
Meminta pasien untuk menunjukkan jari yang bersangkutan digerakkan ke arah atas
12
atau bawah
13 Membandingkan kedua sisi ekstrimitas
14 Melaporkan hasil pemeriksaan
Sensasi Vibrasi
15 Pemeriksa meminta pasien untuk memutup matanya
16 Pemeriksa menempatkan pemegang garputala pada daerah tulang prominensia
17 Pasien diminta untuk menyatakan bila adanya sensasi dari vibrasi
18 Melakukan tes serupa pada sisi lainnya
19 Membandingkan kedua sisi

TA. 2018-2019 33
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

20 Melaporkan hasil pemeriksaan


PENUTUP
21 Menyatakan bahwa pemeriksaan telah selesai

DAFTAR TILIK PEMERIKSAAN REFLEKS PATHOLOGI

TA. 2018-2019 34
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

Refleks babinski
Melakukan pemeriksaan refleks babinski dengan cara yang benar :
1 Penderita diminta untuk berbaring dengan tungkai diluruskan
2 Pemeriksa memegang pergelangan kaki supaya kaki tetap tempatnya
3 Goreskan kayu geretan atau benda yang agak runcing dengan perlahan, hindari rasa nyeri
4 Goresan dilakukan pada telapak kaki bagian lateral, mulai tumit, menuju pangkal jari
5 Pemeriksa memelihat reaksi yang ditimbulkan
Melaporkan hasil pemeriksaan dan mengetahui reaksi refleks pathologi yang akan yang timbul
6
pada pasien dewasa
Refleks Chaddock
Melakukan pemeriksaan refleks Chaddock dengan cara yang benar :
7 Rangsang diberikan dengan jalan menggoreskan bagian lateral maleolus
Melaporkan hasil pemeriksaan dan mengetahui reaksi refleks pathologi akan yang timbul pada
8
pasien dewasa
Refleks Oppenheim
Melakukan pemeriksaan refleks Oppenheim dengan cara yang benar :
9 Mengurut dengan kuat tibia dan otot tibialis anterior. Arah mengurut ke bawah (distal)
Melaporkan hasil pemeriksaan dan mengetahui reaksi refleks pathologi akan yang timbul pada
10
pasien dewasa
Refleks Gordon
Melakukan pemeriksaan refleks Gordon dengan cara yang benar :
11 Memencet/ mencubit otot Memencet/ mencubit ototbetis
Melaporkan hasil pemeriksaan dan mengetahui reaksi refleks pathologi akan yang timbul pada
12
pasien dewasa
Refleks Scheiffier
Melakukan pemeriksaan refleks Scheiffier dengan cara yang benar :
13 Memencet/ mencubit tendon Achilles
Melaporkan hasil pemeriksaan dan mengetahui reaksi refleks pathologi akan yang timbul pada
14
pasien dewasa
Refleks Rossolimo
Melakukan pemeriksaan refleks Rossolimo dengan cara yang benar :
15 Pemeriksa melakukan pukulan pada telapak kaki bagian depan

TA. 2018-2019 35
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

Melaporkan hasil pemeriksaan dan mengetahui reaksi refleks pathologi akan yang timbul pada
16 pasien dewasa
hasil : fleksi jari-jari kaki
Refleks Mendel Bechterew
Melakukan pemeriksaan refleks Mendel Bechterew dengan cara yang benar :
17 melakukan pukulan pada bagian dorsal kaki pada tulang cuboid
Melaporkan hasil pemeriksaan dan mengetahui reaksi refleks pathologi akan yang timbul pada
18 pasien dewasa
hasil : fleksi jari-jari kaki
Refleks Hoffman Tromner
Melakukan pemeriksaan refleks Hoffman Tromner dengan cara yang benar :
19 Pemeriksa memegang tangan penderita pada pergelangan
20 Jari-jari enderita diminta untuk di- fleksi-entengkan
21 Jari tengah penderita kita jepit di antara telunjuk dan jari tengah kita
22 Dengan ibu jari kita gores kuat (snap) ujung jari tengah penderita
Melaporkan hasil pemeriksaan dan mengetahui reaksi refleks pathologi akan yang timbul pada
23 pasien dewasa
Positif bila fleksi jari telunjuk , serta fleksi dan aduksi ibu jari
Pemeriksaan refleks primitif
Refleks Glabelar
Melakukan pemeriksaan refleks Glabelar dengan cara yang benar :
24 Pemeriksa memberikan pukulan singkat pada glabela atau sekitar daerah supraorbitalis
Melaporkan hasil pemeriksaan dan mengetahui reaksi refleks pathologi akan yang timbul pada
25 pasien dewasa
Hasil : mengakibatkan kontraksi singkat pada kedua otot orbikularis okuli
Refleks Polmo mental
Melakukan pemeriksaan refleks Polmo mental dengan cara yang benar :
26 Pemeriksa menggaruk telapak tangan pasien
Positif bila menimbulkan kontraksi M.Mentalis ipsi lateral (lesi UMN di atas inti saraf VII
27
kontralateral)
Snout refleks
Melakukan pemeriksaan Snout refleks dengan cara yang benar :

TA. 2018-2019 36
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

Ada 2 varian :
1. Ketukan refleks hamer pada tendon insersio otot orbcularis oris menimbulkan gerakan
28 mencucu/ menyusu
2. Bibir penderita diraba/ digaruk dengan tongue blade/ spaltel atau diketuk dengan ujung
jari
Melaporkan hasil pemeriksaan dan mengetahui reaksi refleks pathologi akan yang timbul pada
29 pasien dewasa
Positif bila : timbul gerakan seperti mencucu (lesi UMN bilateral)
Grasp refleks
Melakukan pemeriksaan Grasp refleks dengan cara yang benar :
31 Pemeriksa menggores telapak tangan pasien
Melaporkan hasil pemeriksaan dan mengetahui reaksi refleks pathologi akan yang timbul pada
pasien dewasa
32
Positif bila : gerakan fleksi jari-jari, kadang fleksi enteng
Keadaan diatas normal pada bayi 4 bulan
Penutup
Menyatakan bahwa pemeriksaan telah selesai dan mengucapkan terimakasih atas kerjasama
33
pasien

5PEMERIKSAAN TANDA RANGSANG MENINGEAL DAN TINGKAT KESADARAN


TA. 2018-2019 37
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

A. TINGKAT KESADARAN
Seseorang disebut “sadar” bila ia sadar terhadap diri dan lingkungannya. Dalam memeriksa tingkat
kesadaran, seorang dokter melakukan inspeksi, konversasi, dan bila perlu memberikan rangsangan
nyeri.
1. Inspeksi : perhatikan apakah pasein berespon secara wajar terhadap stimulus visual,
auditoar dan taktil yang ada di sekitarnya
2. Konversasi : apakah pasien memberikan reaksi wajar terhadap suara konversasi, atau
dapat dibangunkan oleh suruhan atau pernyataan yang disampaikan dengan suara yang
kuat
3. Nyeri : bagaimana respon pasien terhadap rangsang nyeri
Perubahan Patologis Tingkat Kesadaran
Delirium
Penurunan kesadaran disertai peningkatan yang abnormal dari aktivitas psikomotor dan siklus
tidur-bangun yang terganggu. Pada keadaaan ini pasien tampak gaduh gelisah, kacau, disorientasi,
berteriak, aktivitas motornya meningkat, meronta-ronta. Penyebabnya beragam, diantaranya
kurang tidur oleh berbagai obat, dan gangguan metabolic toksik, dan penyebab lainnya. Pada manula
biasanya didapatkan pada malam hari.
Secara sederhana tingkat kesadaran dapat dibagi menjadi :
 Somnolen : Keadaan mengantuk. Keadaan ini dapat pulih penuh bila dirangsang. Tingkat
kesadaran ini ditandai dengan mudahnya penderita dibangunkan, mampu memberikan
jawaban verbal dan menangkis rangsang nyeri.
 Spoor (stupor) : kantuk yang dalam. Penderita masih dapat dinangunkan bila diberikan
rangsang kuat, tetapi kesadarannya segera menurun lagi. Masih mengikuti suruhan singkat
dan masih terlihat gerakan spontan. Dengan rangsan g nyeri penderita tidak dapat
dibangunkan sempurna. Reaksi terhadap pertintah tidak konsisten dan samar. Tidak dapat
diperoleh jawaban verbal dari penderita. Gerak morotik untuk menangkis nyeri masih baik.
 Koma ringan (semi koma) tidak ada respon terhadap rangsangan verbal. Refleks kornea
(pupil, dsb) masih baik. Gerakan terutama timbul sebagai respon terhadap rangsangan nyeri.
Reaksi rangsang nyeri tidak terorganisir, merupakan jawaban (primitive). Penderita sama
sekali tidak dapat dibangunkan.
 Koma (dalam atau komplit) : tidak ada gerakan spontan. Tidak ada jawaban samasekali
tehadap rangsang nyeri bagaimana kuatnya.

TA. 2018-2019 38
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

Pembagian tingkat kesadaran di atas merupakan pembagian dalam pengertian klinis, dan batas
antara tingkatan ini tidak tegas.
Tingkat kesadaran menurut Skala Koma Glasgow (Glasgow Coma Scale/ GCS)
Tanggapan/ respon penderita yang perlu diperhatikan adalah :
a. Membuka mata
b. Respon verbal (bicara)
c. Respon motorik (gerakan)

a. Respon mata
 Spontan 4
 Terhadap bicara 3
(suruh pasien membuka mata)
 Dengan rangsang nyeri 2
(tekan pada saraf supraorbita atau kuku jari)
 Tidak ada reaksi 1
(dengan rangsang nyeri pasien tidak membuka mata)

b. Respon verbal
 Baik dan tidak ada disorientasi 5
(dapat menjawab dengan kalimat yang baik dan tahu
dimana ia berada, tahu waktu, hari, bulan)
 Kacau (“convused”) 4
(dapat bicara dalam kalimat namun ada disorientasi waktu dan tempat)
 Tidak tepat 3
(dapat mengucapkan kata-kata, namun tidak berupa kalimat dan tidak tepat)
 Mengerang 2
(tidak mengucap kata, hanya suara mengerang)
 Tidak ada jawaban 1

c. Respon motorik (gerakan)


 Menurut perintah 6
(misalnya, suruh : “angkat tangan!”)
 Mengetahui lokasi nyeri 5

TA. 2018-2019 39
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

(Bila oleh rangsang nyeri pasien mengangkat tangannya sampai


melewati dagu untuk maksud menapis rangsang tersebut berarti ia
dapat mengetahui lokasi nyeri)
 Refleks menghindar 4
 Refleks fleksi (dekortikasi) 3
(bila terdapat jawaban siku memfleksi, terdapat reaksi
fleksi terhadap rangsang nyeri)
 Reaksi ekstensi (deserebrasi) 2
(dengan rangsang nyeri terdapat ekstensi pada siku. Ini selalu
disertai fleksi spastic pada pergelangan tangan)
 Tidak ada reaksi 1
(sebelum memutuskan tidak ada reaksi harus diyakinkan bahwa
rangsang nyeri memang harus cukup adekwat diberikan)

Bila kita menggunakan Skala Glasglow sebagai patokan untuk koma = tidak didapatkan respon
membuka mata, bicara dan gerakan dengan jumlah nilai = 3

B. RANGSANG SELAPUT OTAK


Pada keadaan radang selaput otak (misalnya pada meningitis) atau di rongga subarachnoid
terdapat benda asing (misalnya darah, seperti pada perdarahan subarakhnoid), maka hal ini
dapat merangsang seput otak, dan terjadi iritasimeningeal atau rangsang selaput otak.
Manifestasi keadaan ini adalah keluhan yang dapat berupa sakit kepala, kuduk terasa kaku,
fotofobia, dan hiperakusis. Gejala lain yang dapat timbul : sikap tungkai yang selalu mengambil
posisi fleksi, dan opistotonus karena tegangnya otot-otot ekstensor kuduk dan punggung (lebih
sering dijumpai pada bayi dan anak yang mengalami meningitis, misalnya meningitis TB).

Selain itu, rangsang selaput otak dapat memberikan gejala diantaranya :Kaku kuduk, Lasegue,
Kernig, Brudzinski I (Brudzinski’s neck sign), Brudzinski II (Brudzinski’s collateral leg sign)

DAFTAR TILIK PEMERIKSAAN TANDA RANGSANG MENINGEAL DAN GCS

TA. 2018-2019 40
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

No Prosedur
TINGKAT KESADARAN
Mampu menjelaskan dan melaporkan tingkat kesadaran/ Level of Consciousness dari
1
pasien secara sederhana (Kompos mentis – Koma)
Mampu menjelaskan dan melaporkan tingkat kesadaran/ Level of Consciousness dari
2
pasien menurut Skala Koma Glasgow dengan :
3 Melakukan penilaian respon mata
4 Melakukan penilaian respon verbal
5 Melakukan penilaian respon motorik (gerakan)
6 Menyebutkan berapa GCS dari pasien yang bersangkutan
PEMERIKSAAN TANDA RANGSANG MENINGEAL
Menyapa keluarga penderita dan menperkenalkan diri, lalu melakukan informed consent
1.
singkat
2. Melakukan pemeriksaan kaku kuduk dengan teknik yang benar :
3. Pasien dalam posisi berbaring
4. Pemeriksa di sebelah kanan pasien
5. Menempatkan tangan pemeriksa di bawah kepala pasien
6. Kepala pasien ditekukkan (fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada
Melaporkan hasil pemeriksaan kaku kuduk (nuchal (neck) rigidity)
7.
Positif bila : Adanya tahanan selama penekukan
Melakukan pemeriksaan Laseque dengan teknik yang benar

8.

9. Posisi pasien dalam keadaan berbaring


10. Pemeriksa di sebelah kanan pasien
11. Pemeriksa meluruskan kedua tungkai pasien
12. Satu tungkai diangkat lurus, dibengkokkan fleksi pada persendian panggulnya hingga 70°
13. Tungkai satu lagi selalu dalam keadaan ekstensi (lurus)
14. Melaporkan hasil pemeriksaan Laseque

TA. 2018-2019 41
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

 Positif bila: sudah timbul rasa sakit sebelum kita mencapai 70° (pada pasien
lanjut usia diambil patokan 60°)
 Dijumpai pada : rangsang selaput otak, isialgia, iritasi pleksus lumbosakral
Melakukan pemeriksaan Kerniq dengan teknik yang benar

15.

16. Pasien dalam posisi berbaring


17. Pemeriksa di sebelah kanan pasien
18. Pemeriksa meluruskan kedua tungkai pasien
pemeriksa memfleksikan paha pasien pada persendian panggul sampai membuat sudut
19.
90°
20. Setelah itu tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut
Melaporkan hasil pemeriksaan Kerniq
 Positif bila a : sudah timbul tahanan dan rasa nyeri sebelum tercapai sudut 135°
21.
 Dijumpai pada : rangsang selaput otak (positif bilateral), isialgia, iritasi pleksus
lumbosakral (unilateral)
Melakukan pemeriksaan Brudzinski I dengan teknik yang benar

22.

23. Pasien dalam posisi berbaring


24. Pemeriksa di sebelah kanan pasien
25. Menempatkan tangan pemeriksa di bawah kepala pasien
26. Kepala pasien ditekukkan (fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada
27. Pemeriksa meletakkan tangan satu lagi untuk mencegah diangkatnya badan
28. Melaporkan hasil pemeriksaan Brudzinski I
Positif bila: fleksi pada kedua tungkai(bila tungkai tidak lumpuh)
29. Melakukan pemeriksaan Brudzinski II dengan teknik yang benar

TA. 2018-2019 42
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

30. Pasien dalam posisi berbaring


31. Pemeriksa di sebelah kanan pasien
Satu tungkai pasien difleksikan pada persendian panggul, sedang tungkai yang satu dalam
32.
keadaan ekstensi (lurus)
Melaporkan hasil pemeriksaan Brudzinski II
Positif bila: fleksi pada tungkai satunya (yang seharusnya tetap dalam keadaan ekstensi),
33.
bila tungkai tidak lumpuh

6DAFTAR TILIK PSIKIATRI


TA. 2018-2019 43
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

NO PROSEDUR KETERANGAN
1 Menyapa pasien dan memperkenalkan diri pemeriksa
2 Meminta pasien untuk duduk dengan nyaman
Menanyakan identitas pasien dengan baik
3 (Nama, Umur, Pendidikan terakhir, Status Pernikahan, Pekerjaan,
Tempat tinggal )
RIWAYAT PSIKIATRI
4 Keluhan utama (yang menyebabkan pasien datang)
Riwayat penyakit
 Onset (Bermula sejak kapan)
 Pertanyaan terbuka mengenai keluhan utama (jelaskan mengenai
sulit tidur, jelaskan mengenai sakit kepala, dll)
 Menyingkirkan penyebab organik (sakit kepala karena hipertensi,
dll)
 Pencetus keluhan utama (Apakah ada hal yang mengganggu
pasien sebelum hal ini bermula)
 Menanyakan pertanyaan kunci sesuai hierarki diagnosis, yang
berhubungan dengan keluhan utama
5 - F0 (organik): gejala penyebab organik yang berhubungan
dengan keluhan utama
- F1 (NAPZA): riwayat penggunaan NAPZA
- F2 (psikotik): gejala psikotik halusinasi, waham,
depersonalisasi, derealisasi
- F3 (mood): mood depresi, hipomanik, manik, iritabel
- F4 (neurotik, stress, somatoform): gejala cemas atau panik,
gejala stress akut atau kronik, gejala disosiasi, somatisasi
- F5 (gangguan makan , tidur, seksual, dan yang berhubungan
dengan puerperium): keluhan makan/muntah, kesulitan
tidur tanpa sebab lain, keluhan seksual, hubungan keluhan
utama dengan kehamilan/melahirkan
- Riwayat penyakit dahulu
6 - Riwayat keluarga
- Riwayat sosial (termasuk penggunaan NAPZA)
PEMERIKSAAN STATUS MENTAL (sesuai keluhan utama dan karakteristik pasien)
Orientasi
Tempat : Mengetahui saat ini tengah berada di mana (apakah pasien
tahu berada di klinik apa)
7
Waktu : Mengetahui saat ini siang atau malam hari
Jam berapa saat ini
Orang : mengenali pemeriksa sebagai dokter
Memori :
 Memori yang baru terjadi (apa sarapan pasien, meminta pasien
8 mengulang nama pemeriksa)
 Memori lama (meminta pasien menjelaskan riwayat penyakit
sekarang dan identitasnya)
Atensi: apakah pasien mampu mengikuti jalannya wawancara tanpa
9
terdistraksi

TA. 2018-2019 44
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

10 Penampilan: wanita/pria, sesuai/tidak sesuai usia, perawatan diri


11 Sikap: kooperatif, tidak kooperatif
Psikomotor: tenang, gelisah, hipoaktif, banyak bergerak, gerakan
12
cemas, akatisia, tremor, dll
Bicara: spontanitas, kelancaran, volume, artikulasi, nada bicara,
13
kecepatan, banyaknya kata, dapat disela/tidak
Mood
14
Perasaan apa yang dirasakan pasien setidaknya 2 minggu terakhir
Proses pikir: koheren, asosiasi longgar, flight of ideas, inkoheren,
15
sirkumstansial, tangensial, thought blocking
Isi pikir :
apakah pasien berpikir:
 Waham kejar (ada orang yang berniat tidak baik terhadap
pasien)
 Waham kebesaran (Memiliki kekuatan, telenta, atau
kebisaan khusus)
 Waham nihilistik (Yakin mengenai kiamat, bahwa ia
bersalah, bahwa ia akan mati)
16
 Waham rujukan (Orang-orang berbicara/menertawakan
pasien/memperhatikan pasien)
 Waham bizarre (Berasal dari planet lain, ditanamkan chip di
otaknya oleh alien, dll)
 Waham somatik (yakin bahwa isi perutnya sudah hancur,
tangannya putus, dll)
 Thought broadcasting, thought insertion, thought withdrawal
(khas skizofrenia)
Persepsi :
Apakah pasien pernah ...
 Mendengar suara-suara yang tidak dapat didengar orang
lain (halusinasi auditorik)
 Mencium sesuatu yang tidak dapat dicium orang lain
(halusinasi olfaktorik)
17
 Melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain
(halusinasi visual)
 Merasakan seperti ada yang menjalar di bawah kulitnya
(halusinasi taktil)
 Merasa dirinya berubah (depersonalisasi) atau
lingkungannya berubah (derealisasi)
Tilikan
 Apakah pasien berpendapat bahwa hal-hal yang ia alami adalah
bagian dari gangguan mental?
 Apakah pasien berpendapat dirinya butuh pengobatan atau
terapi?
18
 Tilikan derajat 1: pasien menyangkal dirinya sakit
 Tilikan derajat 2: pasien kadang berpikir dirinya sakit, kadang
tidak (ambivalen)
 Tilikan derajat 3: pasien berpikir dirinya sakit namun
menyalahkan faktor eksternal (diguna-guna, tertular orang lain,

TA. 2018-2019 45
Clinical Skills Practice Blok NBS-Semester V
Medical education Unit 2018-2019

dll)
 Tilikan derajat 4: pasien berpikir dirinya sakit, namun tidak tahu
sebabnya
 Tilikan derajat 5: pasien berpikir dirinya sakit, mengetahui
sebabnya, dan bersedia menerima pengobatan
 Tilikan derajat 6: tilikan penuh, pasien berpikir dirinya sakit,
mengetahui sebab bio-psiko-sosialnya, termasuk yang
berhubungan dengan dunia internalnya, bersedia menerima
pengobatan dan mengetahui alasannya, dan patuh dengan
pengobatan tersebut
Daya nilai: kemampuan pasien menilai apakah perilakunya
sebaiknya dilakukan atau tidak
19 Misal: pasien mengetahui bahwa tidak boleh memukul ibunya,
namun tetap ia lakukan dengan berbagai alasan, maka daya nilai
pasien terganggu
PSIKOTERAPI SUPORTIF
- Validasi empati: mencoba memahami perasaan pasien
”Sepertinya tidak mudah untuk bapak/ibu”
- Reassurance: meyakinkan pasien agar pasien merasa lebih
tenang
”Bapak/ibu telah melakukan hal yang tepat dengan
berkonsultasi ke profesional”
- Praise: memuji pasien atas kemajuan proses sekecil apapun
19 ”Bapak/ibu sudah berusaha bersosialisasi lagi, itu hal yang baik”
- Ventilasi: membiarkan pasien mengeluarkan isi hatinya, tanpa
interupsi
- Encouragement: mendukung kegiatan positif yang sudah
dilakukan pasien, bukan memberikan nasihat
”Karena sekarang bapak/ibu sudah mulai bersosialisasi lagi dan
ternyata membuat bapak/ibu merasa lebih baik, sebaiknya
kegiatan tersebut dilanjutkan”

Kepustakaan :
1. Standar Kompetensi Dokter. Konsil Kedokteran Indonesia 2006
2. Bickley L S, Szilagyi PG in Bates Guide To Physical Examination And History Taking.
Nieginski E, Gagliardi R, etal (Eds). 5th Ed. Philadelphia, Baltimore, New York, Lomndon,
Buenos Aires, Hong Kong, Sydney, Tokyo; Lippincott Williams & Wilkins. 2007.
3. Swartz M H dalam Buku Ajar DIagnostik Fisik. Effendi H, hartanto H (Ed). Jakarta ,EGC, Ed I.
1995.
4. Lumban Tobing, S.M dalam Neurologi Klinik. Pemeriksaan Fisik dan mental. Jakarta Balai
Penerbit FKUI. Ed 11. 2008.
5. Juwono T. Pemeriksaan Klinik Neurologik dalam Praktek. RSPAD Gatot Subroto. Jakarta, EGC.
Cetakan IV. 1996.
6. Mardjono M, Sidharta P, Neurologi Klonis Dasar.Jakarta. Dian Rakyat. Ed 8. 2000
7. Harjono R M, Oswari J, Ronardy D H, dkk. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta EGC. Ed. 26
1996.

TA. 2018-2019 46