Você está na página 1de 28

Laporan Praktikum 4 Sabtu, 13 Oktober 2018

Mata Kuliah: Perencanaan Dasar Ekowisata

IDENTIFIKASI PENGUKURAN KUALITAS


DEMAND PADA KAWASAN ALAMI
(Studi Kasus: Curug Seribu)

Disusun Oleh:
Kelompok 1 / AP 2

Andika Gustiana Sumantri (J3B216173)

Dosen:

Bedi Mulyana, S.Hut., M.Par., MoT


Ira Resmayasari, S.S., M.Par., MTHM.
Rini Untari, SHut., M.Si.

Asisten Dosen:

Alvionita Ritawati, S.Hut.


Shinta Amalia, A.Md.

PROGRAM STUDI EKOWISATA


SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2018
i

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ii
DAFTAR GAMBAR iii
DAFTAR LAMPIRAN iv
I. PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 2
II. TINJAUAN PUSTAKA 3
A. Identifikasi 3
B. Pengukuran 3
C. Kualitas 3
D. Demand 4
E. Kawasan Alami 5
III. KONDISI UMUM 7
A. Profil Kawasan 7
B. Aksesibilitas 7
C. Kondisi Fisik 8
D. Kondisi Biotik 8
IV. METODE PRAKTIKUM 10
A. Waktu dan Lokasi 10
B. Alat dan Bahan 10
C. Tahapan Kerja 10
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 12
A. Karakteristik Pengunjung 12
B. Motivasi Pengunjung 13
1. Motivasi Pengunjung Terhadap Objek Wisata 14
2. Motivasi Pengunjung Terhadap Aktifitas Wisata 16
3. Motivasi Pengunjung Terhadap Fasilitas Wisata 17
C. Aktifitas dan Prefensi Pengunjung 18
SIMPULAN 20
DAFTAR PUSTAKA 21
LAMPIRAN 22
ii

DAFTAR TABEL

No Halaman
1. Alat dan Bahan Praktikum 10
2. Karakteristik Pengunjung 12

ii
iii

DAFTAR GAMBAR

No Halaman
1. Curug Seribu 7
2. Aksesibilitas menuju Lokasi 8
3. Kondisi Fisik Curug Seribu 8
4. Kondisi Biotik disekitar Curug Seribu 9
5. Penilaian Pengunjung Terhadap Objek Wisata 14
6. Pemandangan Curug Seribu 15
7. Area Camping Ground 15
8. Grafik Motivasi Pengunjung Terhadap Aktifitas Wisata 16
9. Grafik Penilaian Pengunjung terhadap Fasilitas Wisata 17
10. Fasilitas Papan Larangan 18
11. Grafik Lama Aktifitas Pengunjung Menikmati Atraksi Wisata 18
12. Grafik Kepuasan Pengunjung Terhadap Kawasan Wisata 19
13. Dokumentasi Dilapangan 22

iii
iv

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman
Lampiran 1 Dokumentasi Kelompok 1 22

iv
1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kawasan wisata dapat dikatakan sebagai suatu area yang memiliki berbagai
gejala alam yang dapat memberikan berbagai dampak dan dapat mengundang
aktivitas wisata. Berkaitan dengan hal tersebut, suatu kawasan wisata seharusnya
memenuhi komponen - komponen wisata. Hal tersebut bertujuan untuk
memeberikan sebaik mungkin penawaran kepada pengunjung. Salah satu
penawaran yang harus diketahui adalah tersedianya atraksti wisata, dan destinasi
wisata yang menarik. Tentunya, atraksi wisata juga diperoleh dari berbagai
sumberdaya yang terdapat di kawasan tersebut. Setiap kawasan wisata memiliki
destinasi yang beragam dan memiliki ciri khas tersendiri, sehingga dapat
menimbulkan rasa penasaran bagi wisatawan agar datang ke kawasan wisata
tersebut.
Kegiatan wisata yang dapat diselenggarakan di suatu kawasan wisata
tentunya mengacu pada beberapa hal seperti penawaran dan permintaan.
Penawaran dan permintaan yang seringkali menjadi dasar kawasan wisata adalah
sumberdaya. Secara umum, sumberdaya wisata dikelompokkan menjadi biotik dan
abiotik. Bahkan lebih dari itu, terdapat sumber daya lain seperti unsur budaya dan
lainnya. Setiap sumberdaya yang tersedia dapat memicu wisatawan atau
pengunjung melakukan berbagai aktivitas. Aktivitas yang dilakukan oleh
pengunjung tentunya harus didukung dengan penyediaan fasilitas yang memadai.
Hal tersebut yang coba dipenuhi oleh pengelola kawasan dalam rangka memberi
kenyamanan kepada pengunjung. Korelasi dari hal tersebut adalah konsep
penawaran dan permintaan.
Permintaan merupakan suatu hipotesis yang menyatakan bahwa semakin
rendah harga suatu produk barang maupun jasa, maka semakin banyak permintaan
terhadap produk barang maupun jasa. Sisi lain menyebutkan bahwa semakin tinggi
harga suatu produk barang dan jasa, maka semakin sedikit permintaan terhadap
barang dan jasa tersebut. Secara umum, permintaan dari setiap individu maupun
kelompok terhadap suatu barang maupun jasa berbeda-beda. Namun, permintaan
pengunjung secara umum dalam berwisata adalah akomodasi, transportasi, dan
fasilitas. Permintaan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor sehingga
menimbulkan perbedaan diantara pengunjung.
Faktor dasar yang mempengaruhi permintaan tersebut yaitu kebutuhan dan
keinginan. Pengunjung pasti akan menghitung dan mempertimbangkan kebutuhan
maupun keinginan dalam berwisata. Kebutuhan dan keinginan tersebut memiliki
korelasi yang saling mempengruhi. Contoh sederhana dari korelasi tersebut adalah
kebutuhan aktualisasi diri yang diwujudkan dengan motivasi prestise untuk
berwisata. Kebutuhan dan keinginan setiap manusia memiliki segmen-segmen
tertentu dan sesuai dengan karakteristik pengunjung. Contohnya adalah
pengunjung yang secara khusus menyukai aktivitas alami, maka kawasan wisata
alami menjadi daerah tujuan wisata yang sesuai. Contoh kawasan wisata alami di
daerah Bogor adalah Curug Seribu.
Curug Seribu merupakan sebuah kawasan wisata alam yang memiliki sumber
daya alami fisik dan biotik. Kawasan wisata alami tersebut tentunya memiliki sisi
2

penawaran dan permintaan dari pengunjung. Konsep permintaan yang erat


kaitanya degan kebutuhan dan keinginan perlu dianalisis sehingga bedasarkan hal
tersebut diperlukan adanya identifikasi dan pengukuran kualitas demand. Kegiatan
analisis tersebut dilakukan dalam rangka menghitung kuantitas dan kualitas dari
kebutuhan maupun keinginan pengunjung. Konsep tersebut dapat dijadikan dasar
sebagai model rancangan kawasan yang idealnya sesuai dengan kebutuhan dan
keinginan pengunjung.
B. Tujuan
Praktikum identifikasi dan pengukuran kualitas demand pada kawasan alami
memiliki beberapa tujuan. Tujuan ini disusun guna mempermudah dalam proses
pembahasan, terutama membuat kesimpulan yang sesuai dengan tujuan yang
diberikan. Adapun tujuan praktikum ini dilaksanakan yaitu:
1. Mengetahui karakteristik pengujung di kawasan wisata Curug Seribu
2. Mengetahui motivasi pengunjung dan nilai kepuasan di kawasan wisata
Curug Seribu
3. Mengetahui nilai kepuasan terhadap aktivitas dan preferensi kawasan wisata
Curug Seribu
3

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Identifikasi
Identifikasi adalah pemberian tanda-tanda pada golongan barang-barang atau
sesuatu (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2016). Hal ini perlu karena tugas
identifikasi adalah membedakan komponen-komponen yang satu dengan yang
lainnya, sehingga tidak menimbulkan kebingungan, dengan identifikasi suatu
komponen dapat dikenal dan diketahui masuk dalam golongan mana. Identifikasi
adalah satu cara yang dilakukan oleh seseorang untuk mengambil alih ciri-ciri
orang lain, Identifikasi merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri
seseorang untuk menjadi sama dengan individu lain atau menjadikannya bagian
yang terintegrasi dengan kepribadian dirinya sendiri.
Identifikasi adalah sebuah proses dimana seseorang menyamakan dirinya
dengan sifat-sifat obyek luar (biasanya manusia tetapi dapat juga benda) (Budiman,
2006). Beberapa macam identifikasi yang pertama adalah identifikasi narsistik,
identifikasi kepada tujuan, identifikasi pada obyek yang hilang, dan sebagainya.
Identifikasi merupakan suatu cara pengumpulan data dan pencatatan segala
keterangan tentang bukti-bukti dari pengunjung atau wisatawan sehingga dapat
menetapkan dan mempersamakan keterangan tersebut dengan individu.
Identifikasi dapat mengetahui jenis aktivitas yang diinginkan dan kebutuhan
pengunjung tersebut. Selain itu, identifikasi memiliki arti yaitu sebagai kegiatan
penggalian data dan informasi potensi kawasan (data primer dan data sekunder)
yang dilakukan secara partisipatif.
Identifikasi adalah kecenderungan yang ada dalam diri seseorang untuk
menjadi sama dengan orang lain. Identifikasi merupakan bentuk lebih lanjut dari
proses imitasi dan proses sugesti yang berlangsung dalam diri seseorang,
perbedannya dalam proses identifikasi memiliki pengaruh yang cukup kuat
(Freud, 2012)
B. Pengukuran
Pengukuran adalah kegiatan membandingkan sesuatu dengan ukuran tertentu
dan bersifat kuantitatif. Pengukuran adalah suatu prose yang dilakukan secara
sistematisuntuk memperoleh besaran kuantitatif dari suatu obyek tertentu dengan
menggunakanalat ukur yang baku (Sridadi, 2007). Pengukuran (measurement)
sebagai kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga
sifatnya menjadi kuantitatif (Jabar, 2004).
Pengukuran pada dasarnya adalah kegiatan penentuan angka terhadap suatu
obyek secara sistematis (Mardapi, 2004). Pengukuran merupakan proses yang
mendeskripsikan performa siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif
(system angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dari performa siswa
tersebut dinyatakan dengan angka-angka (Alwasilah, 1996). Pengukuran adalah
proses pengumpulan data secara empiris yang digunakan untuk mengumpulkan
informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan (James, 1995).
C. Kualitas
Kualitas dapat diartikan sebagai standar yang harus dicapai oleh seseorang,
kelompok, atau lembaga organisasi mengenai kualitas SDM, kualitas cara kerja,
4

serta barang dan jasa yang dihasilkan. Kualitas pula mempunyai arti yaitu
memuaskan kepada yang dilayani baik secara internal maupun eksternal yaitu
dengan memenuhi kebutuhan dan tuntutan pelanggan atau masyarakat (TQM,
2016). Kualitas adalah keseluruhan sifat suatu produk atau pelayanan yang
berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan
atau tersirat. Melalui Pengertian dan teori ini dapat diketahui bahwa suatu barang
atau jasa akan dinilai bermutu apabila dapat memenuhi ekspektasi konsumen akan
nilai produk yang diberikan kepada konsumen tersebut. Artinya, mutu atau kualitas
merupakan salah satu faktor yang menentukan penilaian kepuasan konsumen
(Kotler, 2005).
Kualitas merupakan bentuk tingkah laku yang baik seseorang sebagai warga
masyarakat atau warga negara yang dapat dijadikan teladan dalam hidup
bermasyarakat dan bernegara (KBBI, 2013). Kualitas adalah tujuan yang sulit
dipahami, karena harapan para konsumen akan selalu berubah. Setiap standar baru
ditemukan, maka konsumen akan menuntut lebih untuk mendapatkan standar baru
lain yang lebih baru dan lebih baik. Dalam pandangan ini, kualitas adalah proses
dan bukan hasil akhir (meningkatkan kualitas kontinuitas) (Kadir, 2001). Kualitas
pelayanan dapat diartikan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan
konsumen dan ketepatan pengiriman dalam menyeimbangkan harapan konsumen
(Tjiptono, 2007).
D. Demand
Permintaan adalah permintaan yang efektif apabila dapat diukur dengan
jumlah wisatawan, yaitu jumlah wisatawan yang meninggalkan atau mengunjungi
suatu negara, kawasan atau kota, menggunakan moda transportasi tertentu,
melakukan aktivitas wisata tertentu atau sejumlah aktivitas lainnya seperti
bermalam pada jenis akomodasi tertentu atau mengunjungi taman nasional
(Pearce,1989). Oleh karena itu, kebutuhan wisatawan tersebut meliputi atraksi
wisata dan aktivitas wisata, jasa wisata, transportasi, dan informasi wisata.
Permintaan terhadap produk industri pariwisata dapat dibagi atas.
1. Permintaan actual (actual demand)
Permintaan sejumlah orang yang berkunjung pada suatu daerah tujuan
wisata, atau sejumlah wisatawan yang nyata berkunjung pada suatu daerah tujuan
wisata, jumlah ini dapat dihitung berdasarkan total kehadiran pengunjung di suatu
destinasi.
2. Permintaan potensial (potential demand)
Permintaan sejumlah orang secara potensial sanggup dan mampu melakukan
perjalanan wisata, namun saat ini belum melakukan kegiatan wisata, dapat
diketahui setidaknya dari beberapa aspek demografi maupun aspek lainnya
berdasarkan suatu analisa.
3. Permintaan laten (latend demand)
Permintaan sejumlah orang yang tidak atau belum sadar atas kebutuhan dan
keinginan perjalanan wisata.
Hukum permintaan (the law of demand) pada hakikatnya semakin rendah
harga suatu barang maka semakin banyak permintaan terhadap barang. Sebaliknya
jika semakin tinggi harga suatu barang maka semakin sedikit permintaan terhadap
barang tersebut. Unsur-unsur penting dalam permintaan adalah wisatawan dan
penduduk lokal yang menggunakan sumberdaya (produk dan jasa) wisata. Basis
5

utamanya adalah ketersediaan waktu dan uang pada suatu kelompok. Demand
wisata adalah suatu permintaan wisata terhadap ruang, waktu dan harga tertentu.
Suatu demand wisata akan berkaitan dengan siapa yang meminta apa dan berapa
banyak yang diminta dan kapan waktu permintaan tersebut (Avenzora 2008).
Aspek permintaan di dalam pariwisata merupakan gambaran orang yang
mempunyai keinginan dan mampu untuk melakukan perjalanan wisata (Gunn,
1988) dan juga dikatakan seseorang yang melakukan perjalanan, menggunakan
fasilitas dan jasa wisata diluar tempat tinggalnya dan bersifat sementara (Hall,
1999). Unsur permintaan pariwisata berarti jumlah total dari orang-orang yang
melakukan perjalanan dengan cara menggunakan fasilitas wisata beserta
pelayanannya di tempat yang jauh dari tempat tinggal mereka maupun tempat
mereka bekerja (Mill dan Morrison, 1985). Hal ini berarti aspek permintaan dari
pariwisata memiliki kaitannya dengan motivasi wisatawan untuk melakukan
perjalananan sesuai tujuannya.
Wisatawan merupakan seseorang yang melakukan perjalanan untuk
memenuhi kebutuhan dirinya melihat objek wisata, tata cara hidup masyarakat dan
kebudayaannya (Yoeti, 2008). Wisatawan selama di dalam perjalanannya
membutuhkan beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi yaitu kebutuhan akan
angkutan, penginapan, makan minum, hiburan, pelayanan selama perjalanan dan
konsumsi barang keperluan pribadi (Smith, 1991) yang menyatakan bahwa minat
wisatawan sangat dipengaruhi oleh seberapa besar daya tarik atraksi wisata yang
ada. Atraksi wisata yang menarik akan dapat mendatangkan wisatawan
sebanyakbanyaknya, menahan mereka di tempat atraksi dalam waktu yang cukup
lama, serta memberi kepuasan kepada wisatawan yang datang berkunjung. Perlu
adanya suatu korelasi antara penyediaan atraksi (demand) dan kebutuhan (demand)
wisatawan.
Wisatawan yang melakukan perjalanan wisata memiliki motivasi tujuan yang
berbeda-beda untuk menikmati objek wisata yang dituju. Hakikatnya motif wisata
orang untuk mengadakan perjalanan tidak terbatas dan tidak dapat dibatasi. Motif-
motif wisata yang dapat diduga, dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok
(Mc.Intosh di dalam Yoeti, 2008) yaitu,
1. Motivasi fisik yaitu motif-motif yang berhubungan dengan kebutuhan
badaniah seperti olahraga, istirahat, kesehatan dan sebagainya
2. Motivasi budaya yaitu motif wisatawan datang ke tempat wisata lebih
memilih untuk mempelajari, mengenal atau memahami tata cara dan kebudayaan
bangsa atau daerah lain daripada untuk menikmati atraksi yang dapat berupa
pemandangan alam flora atau fauna
3. Motivasi interpersonal yaitu motif yang berhubungan dengan keinginan
untuk bertemu dengan keluarga, teman atau berkenalan dengan orang-orang
tertentu atau sekedar melihat tokoh-tokoh terkenal.
4. Motivasi status atau prestise yaitu motif yang berhubungan dengan gengsi
atau status seseorang. Maksudnya ada anggapan bahwa orang yang pernah
mengunjungi suatu tempat dengan sendirinya melebihi sesamanya yang tidak
pernah berkunjung ke tempat tersebut..
E. Kawasan Alami
Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya.
Kawasan merupakan wilayah dalam batasan fungsional tertentu. Kawasan menurut
6

Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mendefinisikannya


sebagai wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya. Kawasan
alami merupakan suatu unit baik berupa fisik maupun biologi yang menunjukkan
suatu kondisi alami dengan adanya tipe atau vegetasi yang unik serta adanya suatu
asosiasi biotik, edafis, dan ciri khas ekologi dan perairan Kawasan Suaka Alam
(KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam adalah contoh dari kawasan alami.
Kawasan Suaka Alam (KSA) adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik
di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan
pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga
berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. Kawasan Suaka Alam
terbagi menjadi 2, yaitu kawasan Cagar Alam (CA) dan kawasan Suaka
Margasatwa (SM). Kawasan Pelestarian Alam (KPA) adalah kawasan dengan ciri
khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi
perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis
tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya. (Pasal 1 Angka 13 UU Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya).
7

III. KONDISI UMUM

A. Profil Kawasan
Curug Seribu terletak di Gunung Sari, Pamijahan, Bogor, Jawa Barat. Lokasi
Curug Seribu berada di kawasan penyangga dari Taman Nasional Gunung Halimun
Salak (TNGHS) Secara administratif curug ini terletak di Kecamatan Pamijahan,
Kabupaten Bogor. Berdasarkan ketinggian nya curug seribu merupakan curug
tertinggi yang berada di Jawa Barat, dengan ketinggian 1050 mdpl. Selain daya
tarik curugnya, dikawasan Curug Seribu terdapat area camping ground, dan jalur
trecking yang sudah memadai karena sudah disusun dengan bebatuan.

Gambar 1 Curug Seribu


Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018
B. Aksesibilitas
Aksesibilitas menuju kawasan Curug Seribu dapat ditempuh dari beebrapa
tempat. Contohnya adalah jarak dan waktu tempuh dari Bogor Kota. Jarak tempuh
dari Bogor Kota menuju Curug Seribu yaitu sejauh 34,4 Km. Jarak tempuh tersebut
dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 50 menit dengan kendaran bermotor.
Rute atau jalan yang sering dipakai pengunjung adalah Jl. Ciapus dan Jl. Gunung
Salak Endah.. Curug Seribu dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor baik motor
maupun kendaraan pribadi seperti mobil. Namun, kendaraan pribadi seperti mobil
atau roda empat yang lain agak sulit sampai kelokasi karena akses jalan yang kecil
pada pintu masuk kawasan Curug Seribu. Akses langsung hanya dapat digunakan
dengan kendaraan roda dua jika ingin sampai menuju gerbang tiket.
.
8

Gambar 2 Aksesibilitas menuju Lokasi


Sumber: google.maps.com/curugseribu
C. Kondisi Fisik
Curug Seribu memiliki satu aliran atau limpahan air dengan kolam hasil
penampungan dibawahnya. Kondisi fisik yang terdapat di Curug Seribu yaitu
adanya batuan sebagai komponen penyusun kawasan. Batuan tersebut merupakan
batuan alami maupun olahan untuk keperluan kontruksi kawasan. Selain itu,
terdapat juga komponen penyusun fisik lain seperti air, udara, tanah. Air merupakan
komponen utama sebagai daya tarik wisata di Curug Seribu.

Gambar 3 Kondisi Fisik Curug Seribu


Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018
D. Kondisi Biotik
Kondisi biotik di Curug Seribu ini terdiri dari flora dan fauna. Secara umum
flora yang ada di Curug ini didominasi dengan tumbuhnya rerumputan liar.
Komponen biotik berupa fauna contohnya adalah burung, serangga, dan beberapa
9

satwa lain. Komponen biotik berupa tumbuhan contohnya adalah pepohonan tinggi
yang mengelilingi kawasan camping ground.

Gambar 4 Kondisi Biotik disekitar Curug Seribu


Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018
10

IV. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Lokasi


Praktikum identifikasi dan pengukuran kualitas demand pada kawasan alami
dilakukan dengan mencari data atau informasi mengenai permintaan wisata, Tugas
pratikum diberikan pada Sabtu 15 September 2018 bertempat di CA K05.
Pengambilan data praktikum yang dilakukan di Curug Seribu dilaksanakan pada
Rabu, 12 Semtember 2018. Hasil praktikum akan dipresentasikan pada hari Sabtu,
12 Oktober 2018 di CA K05. Kegiatan Presentasi dilaksanan pukul 11.00 - 15.00
WIB.
B. Alat dan Bahan
Alat adalah benda yang digunakan untuk melakukan praktikum dan mengolah
data, sedangkan bahan adalah segala sesuatu yang nantinya akan diolah menjadi
data. Praktikum yang dilakukan memerlukan beberapa alat dan bahan (Tabel 1).
Tabel 1 Alat dan Bahan Praktikum
No Nama Bahan dan Alat Kegunaan
1 Laptop Mengerjakan laporan dan powerpoint
2 Alat Tulis Mencatat data
3 Modem Internet Mencari studi literatur
4 Kamera Mendokumentasikan kegiatan praktikum
5 Microsoft Word Mengerjakan laporan
6 Microsoft Powerpoint Membuat bahan presentasi
7 Microsoft Excel Mengolah rekapan hasil kuesioner

Selain memerlukan peralatan, dalam melakukan kegiatan praktikum juga


membutuhkan berbagai bahan. Bahan tersebut dapat berfungsi sebagai objek
penelitian atau media informasi. Bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan
praktikum diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Literatur sebagai sumber informasi terkait dengan judul penugasan
praktikum
2. Informan sebagai sumber informasi langsung melalui kegiatan wawancara
C. Tahapan Kerja
Praktikum identifikasi dan pengukuran kualitas demand pada kawasan alami
dilaksanakan dengan beberapa tahapan dan metode kerja. Tahapan dan metode
kerja dibuat guna mempermudah melakukan observasi. Adapun tahapan dan
metode kerja, antara lain.
1. Membagi lokasi sasaran kajian per kelompok
2. Melakukan studi literatur, observasi lapang, dan wawancara pengelola terkait
demand
3. Mengidentifikasi demand dan faktor yang mempengaruhinya
4. Mengukur kualitas demand dengan kuesioner yang telah disediakan
5. Menganalisa data yang telah diperoleh mengenai identifikasi dan pengukuran
kualitas demand pada kawasan alami.
6. Membahas data yang didapatkan sesuai dengan format yang telah ditentukan.
11

7. Membuat laporan hasil praktikum.


8. Membuat bahan presentasi dalam bentuk powerpoint (PPT).
12

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Pengunjung
Karakteristik pengunjung dalam aspek jenis kelamin menunjukkan adanya
jumlah perbandingan yang lebih dominan laki – laki dibanding perempuan hal
tersebut dikarenakan curug seribu memiliki trek dan jalur yang cukup panjang
sehingga tidak banyak perempuan yang berminat mengunjungi curug seribu jika
sampai curugnya. Pengunjung tersebut datang dengan karakteristik yang berbeda-
beda. Karakteristik jenis kelamin pengunjung tersebut dipengaruhi oleh motivasi,
bentuk kunjungan, dan waktu kunjungan. Karakteristik ataupun profil kawasan
wisata memang mendukung semua jenis pengunjung untuk menikmatinya. Selain
itu, segmen sasaran pengunjung dari kawasan wisata Curug Seribu bersifat umum
sehingga tidak ada wisatawan khusus yang datang ke kawasan. Daya tarik dan
fasilitas di Curug Seribu dapat dinikmati oleh semua jenis pengunjung.
Tabel 2 Karakteristik Pengunjung
No Karakteristik Pengunjung Responden Persentase (%)
1. Jenis Kelamin
a. Laki-laki 15 75
b. Perempuan 5 25
2. Usia
a. 15 - 20 tahun 15 75
b. 21 - 30 tahun 5 25
3. Status Pernikahan
a. Menikah 2 10
b. Belum Menikah 18 90
4. Pendidikan Terakhir
a. SMA/SMK 18 90
b. Diploma (D1/D2/D3) 2 10
5. Pekerjaan
a. Pelajar/Mahasiswa 15 75
b. Pegawai Swasta 5 25
6. Pendapatan per Bulan
a. Rp.500.000 – Rp.1.000.000 10 50
b. Rp.1.000.000 – Rp.3.000.000 8 40
c. Rp.3.000.000 – Rp.5.000.000 2 10

Karakteristik pengunjung dalam aspek status pernikahan didominasi oleh


pengunjung dengan status singel (belum menikah). Hasil tersebut didapatkan dari
hasil penyebaran kuisioner secara acak di kawasan wisata. Status pernikahan
pengunjung dipengaruhi oleh karakteristik usia dan jenis pekerjaan. Hal tersebut
menjadi sebab akibat dari karakteristik status pernikahan pengunjung. Pengunjung
dengan karakteristik single seluruhnya didominasi oleh remaja dengan karakteristik
pendidikan terakhir SMA. Delapan puluh persen pengunjung yang berstatus single
seluruhnya sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi. Data tersebut didukung
13

dengan tujuan dari pengunjung yang sedang melakukan penelitian sambal


berekreasi. Pengunjung dengan status menikah didominasi oleh pengunjung dengan
usia lebih dari 25 tahun. Usia tersebut memang dirasa cocok untuk membentuk
suatu keluarga.
Karakteristik pengunjung dalam aspek umur didominasi oleh pengunjung
dengan usia 18-25 tahun. Hasil tersebut didapatkan dari hasil penyebaran kuisioner
secara acak. Karakteristik usia pengunjung dipengaruhi oleh status pernikahan dan
pekerjaan. Pengunjung dengan range usia 18-25 tahun berjumlah 6 dengan
persentase 60%. Hasil tersebut didukung dengan data status pernikahan pengunjung
yang 60 persennya merupakan single (belum menikah). Selain itu, hasil tersebut
juga didukung dengan data karakteristik pengunjung yang merupakan mahasiswa.
Jumlah pengunjung lain berada di range usia di atas 25 tahun. Data usia pengunjung
tersebut didukung oleh data karakteristik pekerjaan yang 40% merupakan
pengunjung yang sudah memiliki pekerjaan.
Karakteristik pengunjung dalam aspek pendidikan didominasi oleh
pengunjung dengan pendidikan terakhir SMA (Sekolah menengah atas). Sebanyak
90% pengunjung memiliki status pendidikan terakhir SMA. Hal tersebut didukung
dengan karakteristik dari 75% pengunjung yang saat ini sedang menjalani studi
perguruan tinggi. Sebanyak 75% pengunjung merupakan mahasiswa yang
melanjutkan pendidikan pasca SMA. Karakteristik pendidikan pengunjung lain
adalah Diploma dengan persentase 25%. Rata-rata dari persentase pengunjung
dengan status pendidikan terakhir Diploma sudah bekerja baik sebagai pengusaha
maupun pegawai swasta.
Karaktersitik pengunjung dalam aspek pekerjaan didominasi oleh
pengunjung dengan latar belakang pekerjaan sebagai mahasiswa. Sebanyak 75%
dari pengujung memiliki pekerjaan sebagai mahasiswa, dan 25% sebagai pegawai
swasta. Karakteristik pekerjaan tersebut tentunya juga didukung dengan data
karakterisitik umur dan statur pernikahan. Sebagian besar pengunjung memilki
range usia 15-20 yang dapat diasumsikan sebagai usia non produktif sebagai
pegawai. Status pernikahan juga menunjukkan korelasi data dengan pekerjaan.
Sebanyak 90% pengunjung berstatus single sehingga dapat diasumsikan sebagai
pengunung yang belum bekerja (mahasiswa/pelajar).
Karakteristik pengunjung dalam aspek pendapatan didominasi oleh
pengunjung dengan tingkat pendapatan Rp. 500.000 sampai Rp. 1.000.000. Data
pendapatan tersebut didapatkan dari karakterisitk pengunjung sebagai mahasiswa.
Rata-rata mahasiswa belum memiliki pendapatan tetap. Selain itu, mahasiswa
hanya mendapatkan uang saku dari orang tuanya yang jumlahnya Rp. 500.000
sampai Rp. 1.000.000. Sebanyak 40% pengunjung memiliki jumlah pendapatan Rp.
1.000.000 – Rp. 3.000.000, data tersebut diperoleh berkenaan dengan pekerjaan
masing-masing. Pekerjaan dari pengunjung yang diwawancarai yaitu sebagai
pegawai swasta.
B. Motivasi Pengunjung
Motivasi pengunjung dalam kunjungannya ke kawasan wisata Curug Seribu
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengunjung
dalam berkunjung ke kawasan wisata tersebut adalah objek wisata, aktivitas yang
dapat dilakukan, dan fasilitas pendukung. Secara umum, faktor tersebut sering
disebut sebagai , something to see, something to do, dan something to buy. Motivasi
14

tersebut merepresentasikan bentuk permintaan pengunjung terhadap kawasan


wisata Curug Seribu.
1. Motivasi Pengunjung Terhadap Objek Wisata
Penilaian atau persepsi pengunjung terhadap objek wisata dilakukan dengan
cara memberi tingkat penilaian pada setiap site yang terdapat di kawasan wisata
Curug Seribu. Selain itu, indikator penilaian juga diperoleh dari karakteristik
aktivitas berdasarkan segi lama waktu dan tingkat kepuasan. Berdasarkan grafik
penilaian obyek wisata, tingkat penilaian tertinggi yaitu pada atraksi air terjun
(Gambar 5). Air terjun di Curug Seribu memang menjadi daya tarik utama di
kawasat tersebut. Pengunjung tertarik dengan bentuk air terjun dan keindahannya.
Selain itu, Curug Seribu merupakan curug tertinggi yang terdapat di daerah Jawa
Barat, dengan ketinggian 1050 mdpl.

Camping Ground 5
Daya Tarik Wisata

Air Terjun 7

0 1 2 3 4 5 6 7

Nilai Kepuasan

Keterangan : 1. Sangat tidak puas, 2. Tidak puas, 3. Agak tidak puas, 4. Biasa saja, 5. Agak puas, 6. Puas, 7.
Sangat Puas
Gambar 5 Penilaian Pengunjung Terhadap Objek Wisata
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018
Motivasi pengunjung terhadap objek wisata dilakukan dengan cara memberi
tingkat penilaian pada setiap site yang terdapat di kawasan wisata Curug Seribu.
Selain itu, indikator penilaian juga diperoleh dari karakteristik aktivitas berdasarkan
segi lama waktu dan tingkat kepuasan. Kawasan wisata Curug Seribu memiliki dua
atraksi utama yaitu air terjun, dan camping ground. Berdasarkan grafik penilaian
daya tarik dan atraksi wisata, tingkat penilaian tertinggi yaitu pada atraksi danau
(Gambar 5). Air terjun yang terdapat di Curug Seribu memang menjadi daya tarik
utama di kawasan tersebut. Pengunjung tertarik dengan bentuk air terjun, dan
pemandangan tersebut. Selain itu, suasana dari kawasan air terjun tersebut memang
cocok digunakan untuk tempat bersantai dan relaksasi bagi pengunjung. Hal
tersebut dilatarbelakangi oleh keberadaan air terjun yang berada di tengah hutan
sehingga menambah suasana alami dari kawasan tersebut.
15

Gambar 6 Pemandangan Curug Seribu


Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018
Angka motivasi terhadap objek wisata dapat dilihat berdasarkan aspek
karakteristik pengunjung. Contohnya adalah kaitan antara karakteristik umur dan
pendidikan dengan angka motivasi terhadap objek wisata. Karakteristik umur
pengunjung dapat dikorelasikan dengan motivasi terhadap daya tarik wisata.
Berdasarkan grafik penilaian pengunjung terhadap objek wisata (Gambar 5),
angka motivasi pengunjung tertinggi berada pada objek air terjun. Usia pengunjung
dapat mempengaruhi dari motivasi pengunjung. Rata-rata pengunjung yang
memiliki usia 15-20 tahun memiliki motivasi untuk menikmati air terjun tersebut.
Hal yang dapat dinikmati dari air terjun adalah pemandangan air terjun, dan
suasananya. Pengunjung dengan karakteristik umur tersebut memiliki
kecederungan aktivitas aktif. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya motivasi lain
terhadap objek wisata seperti trecking, dan sebagai aktifitas olahraga.

Gambar 7 Area Camping Ground


Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018
16

Daya tarik lain yang terdapat di kawasan Curug Seribu adalah camping
ground (Gambar 7). Daya tarik tersebut merupakan atraksi yang ditawarkan oleh
pengelola kepada pengunjung. Pengunjung dapat menikmati berkemah dengan
biaya masuk sebesar Rp. 10.000 untuk masuk semua kawasan, dan berkemah Rp.
20.000 perhari. Lokasi kemah dikawasan tersebut terdapat didekat gerbang pintu
masuk sehingga keamanan dari pengunjung serta fasilitas penunjang wisatawan
dijamin penuh oleh pengelola seperti adanya toilet, kamar mandi, dan fasilitas
lainnya.
2. Motivasi Pengunjung Terhadap Aktifitas Wisata
Penilaian atau persepsi pengunjung terhadap aktivitas wisata dilakukan
dengan cara memberi tingkat penilaian pada setiap aktivitas yang dapat dilakukan
di kawasan wisata Curug Seribu. Berdasarkan grafik penilaian pengunjung terhadap
aktivitas wisata, tingkat penilaian yang tinggi yaitu pada motivasi aktivitas rekreasi.
Hal tersebut dikarenakan hampir semua pengunjung memiliki motivasi rekreasi
pada saat akan mengunjungi curug seribu sehingga mendapatkan nilai motivasi
tertinggi. Motivasi tertinggi selanjutnya yaitu terdapat pada menikmati kuliner,
aktualisasi diri, dan pendidikan atau penelitian. Menikamti kuliner pada kawasan
curug seribu yaitu dengan menikmati es kelapa yang disantap sambal menikmati
pemandangan curug seribu sehingga wisatawan dapat menikmati pemandangan
sekaligus berkuliner hal tersebut membuat wisatawan memberikan nilai motivasi 6
yang berarti termotivasi. Motivasi terendah terdapat pada motivasi pulang kampong
dengan nilai motivasi 1 yang berarti tidak termotivasi. Hal tersebut dikarenakan
karena semua wisatawan yang datang ke curug seribu memiliki tujuan tidak untuk
pulang kampung sehingga pengunjung tidak termotivasi pada motivasi pulang
kampung tersebut (Gambar 8).

Menikmati Kuliner
Menikmati Kebudayaan
Spiritual
Pengobatan
Aktifitas

Aktualisasi Diri
Rekreasi
Bisnis / Pekerjaan
Pendidikan / Penelitian
Pulang Kampung
Pemenuh Kebutuhan Hidup

0 1 2 3 4 5 6 7

Nilai Motivasi
Keterangan : 1. Sangat tidak termotivasi, 2. Tidak termotivasi, 3. Agak tidak termotivasi, 4. Biasa saja,
5. Agak termotivasi, 6. termotivasi, 7. Sangat termotivasi
Gambar 8 Grafik Motivasi Pengunjung Terhadap Aktifitas Wisata
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018
17

3. Motivasi Pengunjung Terhadap Fasilitas Wisata


Penilaian pengunjung terhadap fasilitas pada kawasan wisata dilakukan
dengan cara memberi tingkat penilaian pada setiap site yang terdapat di kawasan
wisata Curug Seribu. Selain itu, indikator penilaian juga diperoleh dari aspek fisik
dan kenyaman dari beberapa fasilitas yang tersebar di kawasan tersebut.
Fasilitas dengan angka nilai kepuasan tertinggi yaitu toilet, gazebo, dan
papan larangan (Gambar 10). Nilai kepuasan dari fasilitas tersebut berada di
angka 6 dengan kriteria puas. Pengunjung berasumsi bahwa fasilitas dengan nilai
kepuasan tersebut memang layak secara aspek fisik dan kenyamanan. Contohnya
adalah papan larangan. Papan larangan yang terdapat di Curug Seribu terdapat
diberbagai titik perjalanan menuju curug seribu. Papan larangan tersebut berisikan
informasi larangan tidak memasuki area atau kawasan yang terdapat tanda
tersebut karena berbahaya. Papan tersebut memberikan suatu tanda bahwa
didaerah tersebut adanya bahaya sehingga wisatawan yang melihat papan tersebut
menjadi tahu bahwa daerah tersebut berbahaya.

Pos jaga 3
Toilet 6
Jalan Setapak 5
Fasilitas

Gazebo 6
Papan larangan 6
Papan petunjuk arah 4
Ticketing 4
Parkiran 4

0 1 2 3 4 5 6 7

Nilai Kepuasan

Keterangan : 1. Sangat tidak puas, 2. Tidak puas, 3. Agak tidak puas, 4. Biasa saja, 5. Agak puas, 6. Puas, 7.
Sangat Puas
Gambar 9 Grafik Penilaian Pengunjung terhadap Fasilitas Wisata
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018
Fasilitas lain dengan nilai kepuasan tinggi yang lainnya adalah toilet. Toilet
yang terdapat di kawasan Curug seribu memiliki kondisi cukup baik dan terdapat
diawal pintu masuk. Wisatawan yang biasanya sudah melakukan aktifitas seperti
bermain air di curug seribu biasanya mereka akan membersihkan badan mereka
terlebih dahulu di toilet tersebut. Toilet yang terdapat di curug seribu selalu dirawat
setiap hari, perawatan tersebut dilakukan oleh warga sekitar yang sekaligus
membuka warung untuk berjualan, dan juga pengelola setempat. Sehingga kondisi
dari toilet tersebut cukup baik.
18

Gambar 10 Fasilitas Papan Larangan


Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2018
C. Aktifitas dan Prefensi Pengunjung
Penilaian pengunjung terhadap aktivitas dan preferesni wisata dilakukan
dengan cara memberi tingkat kepuasan pada setiap site yang terdapat di kawasan
wisata Curug Seribu. Selain itu, indikator penilaian juga diperoleh dari
karakteristik aktivitas berdasarkan segi lama waktu dan tingkat kepuasan.
Berdasarakan grafik penilaian pengunjung terhadap aktivitas dan preferensi
wisata, nilai kepuasaan tertinggi berada di site air terjun. Air terjun yang terdapat
di kawasan wisata Curug Seribu dibagi memiliki beberapa daya tarik Site air terjun
menjadi daya tarik utama bagi pengunjung yang datang di kawasan wisata curug
seribu. Tingginya nilai kepuasan dari site tersebut disebabkan oleh motivasi
pengunjung yang sengaja datang untuk menikmati bentuk, suasana, dan
pemandangan dari air terjun curug seribu tersebut.
<1 jam 2-3 jam 4-5 jam >5 jam

20%

80%

Gambar 11 Grafik Lama Aktifitas Pengunjung Menikmati Atraksi Wisata


Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2018
Penilaian pengunjung terhadap aktivitas dan prefersni wisata dapat dilihat
berdasarkan lama aktivitas pengunjung menikmati sumberdaya. Berdasarkan lama
waktu aktivitas, durasi kegiatan dari pengunjung didominasi dengan range waktu
2-3 jam (Gambar 11). Durasi dari aktivitas dibagi menjadi beberapa jenis kegiatan.
19

Kegiatan yang dapat dilakukan pada atraksi berupa air terjun berbeda dengan
camping ground. Lama aktivitas dengan interval waktu 2-3 jam mendominasi
dengan persentase 80%. Sementara itu, lama aktivitas dengan interval waktu 4-5
jam memiliki persentase 20%. Contoh kegiatan yang dilakukan pengunjung pada
objek tersebut adalah bermain air dan ber photo. Pengunjung menggunakan sumber
daya untuk aktivitas mengunjungi dalam rangka menghabiskan waktu untuk
mengisi kegiatan yang kosong. Durasi dari kegiatan tersebut tentunya beragam,
namun rata-rata berada di interval 2-3 jam. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya
aktivitas yang dilakukan pengunjung selain bermain air. Namun, terdapat pula
pengunjung yang menghabiskan waktunya dengan menikamti udara segar sambal
menikmati kuliner didekat air terjun curug seribu.

Menikmati Pemandangan

Berkemah
Aktifitas

Berphoto

Makan

Bermain air

0 1 2 3 4 5 6 7

Nilai Prefensi
Keterangan : 1. Sangat tidak suka, 2. Tidak suka, 3. Agak tidak suka, 4. Biasa saja, 5. Agak suka, 6. Suka, 7.
Sangat suka
Gambar 12 Grafik Kepuasan Pengunjung Terhadap Kawasan Wisata
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2018
Penilaian pengunjug terhadap aktivitas dan preferensi wisata dapat dilihat dari
bentuk aktivitas dari pengunjung. Berdasarkan grafik penilaian aktivitas
pengunjung, nilai kepuasan tertinggi yaitu menikmati pemandangan dan ber photo
(Gambar 12). Angka penilain dari aktivitas tersebut yaitu berada di skala 6 atau
suka. Aktivitas tersebut memiliki angka penilaian karena terpenuhinya kepuasan
pengunjung dengan berbagai alasan (Gambar 13). Hal yang melatarbelakangi
preferensi pengunjung terhadap aktivitas tersebut yaitu variasi pemandangan alam,
dan terdapat curug kecil disekitar curug seribu.
20

SIMPULAN

Hasil identifikasi dan pengukuran kualitas demand pada kawasan alami yang
berstudi kasus di curug seribu memiliki beberapa kesimpulan. Adapun kesimpulan
yang dapat ditarik setelah melakukan praktikum adalah :
1. Pengunjung di kawasan wisata Curug Seribu didominasi oleh jenis kelamin
laki-laki dengan persentase 75%. Status pernikahan pengunjung didominasi
oleh status belum menikah dengan persentase 90%. Usia pengunjung
didominasi dengan range usia 15-20 tahun dengan persentase 75%. Selain itu
tingkat pendidikan terakhir didominaasi oleh SMA/SMK dengan persentase
90%. Tingkat pendapatan didominasi oleh pengunjung berpenghasilan
dibawah Rp. 500.000- Rp. 1.000.000 dengan persentase 50%.
2. Motivasi pengunjung terhadap kawasan wisata dibagi menjadi dua site yaitu
air terjun dan camping ground. Motivasi pengunjung terhadap objek wisata
dibagi berdasarakan daya tarik yang terdapat di Curug Seribu. Nilai penilaian
tertinggi yaitu pada objek air terjun yang memang menjadi daya tarik utama.
Selain itu, terdapat juga atraksi berupa camping ground. Motivasi
pengunjung terhadap fasilitas wisata teringgi yaitu pada fasilitas papan
larangan, toilet, dan gazebo. Nilai kepuasan terhadap fasilitas tersebut berada
di angka 6.
3. Penilaian pengunjung terhadap aktivitas dan preferensi wisata dibagi menjadi
beberapa site dan aktivitas. Lama waktu aktivitas pengunjung pada kawasan
tersebut rata-rata yaitu 2-3 jam dengan persentase 80%. Aktivitas yang
memiliki nilai kepuasan paling tinggi yaitu pemandangan alam, dan ber photo
dengan nilai 6.
21

DAFTAR PUSTAKA

Abidin. 2012. Definisi Kawasan alami.


https://penelitihukum.org/tag/definisikawasan-khusus/. (Diakses pada
tanggal 26 September 2018).
Astuti. 2010. Permintaan dan Penawaran. https://pyia.com/2010/05/20/ekonomi/
(Diakses pada tanggal 20 September 2018)
-----. 2015. Teori Permintaan (Demand).
http://cyeberfu.co.id/2015/04/teori-permintaan-demand.html. (Diakses
pada tanggal 12 Oktober 2018)
-----. 2015. Pengertian Identifikasi.
http://www.pengertianahli.com/2015/01/pen\gertian-identifikasi.html.
(Diakses pada tanggal 20 September 2018).
-----. 2016. Pengertian Kualitas. http://www.materibelajar.id/2016/02/materi-
pelayanan-publik-definisi.html (Diakses pada tanggal 20 September 2018).
-----. 2015. Definisi Identifikasi Menurut Para Ahli.
http://www.landasanteori.com/definisi-identifikasi-menurut-para-ahli.
(Diakses pada tanggal 20 September 2018).
DIRJEN PENATAAN RUANG. 2008. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan
Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan.
http://www.bkprn.org/peraturan/the_file/permen05-2008.pdf. (Dikases pada
27 September 2018)
Gilarso. 2007. Teori Permintaan.
http://www.tipepedia.com/2015/08/teoripermintaan-lengkap-
menurut.html. (Diakses pada tanggal 12 Oktober 2018).
Hendra. 2012. KUALITAS: PENGERTIAN, PENDEKATAN DAN CARA
PENGUKURAN. https://sites.google.com/site/kelolakualitas/kualitas.
(Diakses pada tanggal 21 September 2018)
Koenjtaraningrat. 1987. Pengertian Identifikasi.
https://pedagogidentifikasi.wordpress.com/author/identifikasi.html://
(Diakses pada tanggal 20 September 2018)
Muqtadir. 2015. Teori Penawaran Lengkap Menurut Pendapat Para Ahli Ekonomi.
http://www.tipepedia.com/2015/08/teori-penawaran-lengkapmenurut.html.
(Diakses pada tanggal 20 September 2018)
Permana. 2014. Pengertian Pengukuran (Measurement), Penilaian (Assessment)
dan Evaluasi (Evaluate) dalam Pendidikan.
https://yogapermanawijaya.wordpress.com/2014/10/16/pengertianpengukur
an-measurement-penilaian-assessment-dan-evaluasi-evaluate-
dalampendidikan/. (Diakses pada tanggal 20 September 2018)
22

LAMPIRAN

Lampiran 1 Dokumentasi Kelompok 1

Gambar 13 Dokumentasi Dilapangan


Sumber : Dokumentasi Kelompok 1, 2018