Você está na página 1de 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ensiklopedi Indonesia mengartikan abortus sebagai pengakhiran
kehamilan sebelum masa gestasi 28 minggu atau sebelum janin mencapai berat
1000 gram. Pembatasan ini tidak mengecualikan apakah abortus itu termasuk
abortus spontan atau abortus buatan. Abortus spontan adalah abortus yang
tidak disengaja dan tanpa tindakan apa pun. Abortus macam ini lebih sering
terjadi karena faktor di luar kemampuan manusia, misalnya pendarahan atau
kecelakaan. Adapun abortus buatan (abortus provocatus) adalah abortus yang
terjadi sebagai akibat tindakan tertentu. Abortus macam ini masih dapat dibagi
lagi ke dalam abortus artificialis therapicus atau abortus yang dilakukan
berdasarkan pertimbangan medik, dan abortus provocatus criminalis atau
abortus yang dilakukan tanpa berdasarkan pertimbangan medik.
Abortus artificialis therapicus selalu positif karena bertujuan
menyelamatkan jiwa ibu yang terancam jika kehamilannya dipertahankan,
sedangkan abortus provocatus criminalis selalu negatif mengingat bencana
yang banyak ditimbulkannya. Banyak contohnya. Sebelum Undang-Undang
tentang abortus disahkan di negara bagian California Amerika Serikat pada era
1960-an misalnya, komplikasi yang timbul akibat pengguguran tidak sah
menyebabkan satu dari lima kematian yang berhubungan dengan kelahiran,
umumnya terjadi di kalangan wanita berpenghasilan rendah.
Hasil penelitian di Kolombia pada tahun 1964 menunjukkan bahwa
komplikasi penyakit akibat pengguguran tidak sah merupakan faktor utama
yang menyebabkan kematian di kalangan wanita usia 15 hingga 35 tahun. Data
di Santiago Chile selama tahun 1980-an mengungkapkan separuh dari
kematian yang berhubungan dengan kelahiran adalah akibat pengguguran tidak
sah.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan abortus?
2. Apa Etiologi dari Abortus?
3. Bagaimana Patogenesis dari Abortus?
4. Apa Manesfestasi Klinis dari Abortus?
5. Apa pemeriksaan penunjang dari abortus?
6. Apa Komplikasi dari Abortus?
7. Apa macam-macam dari abortus?
8. Bagaimana cara Mendiagnostik Abortus?
9. Bagaimana Teknik Pengeluaran Sisa Abortus?
10. Apa Faktor Resiko/Predisposisi Abortus?
11. Bagaimana Penatalaksanaan Abortus?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui
macam-macam abortus, efek samping/risiko, penatalaksanaan pasca abortus,
diagnostik serta teknik pengeluaran abortus.

D. Manfaat

Dapat mengetahui tentang Asuhan Keperawatan klien dengan masalah


Abortus yang meliputi pengertian, penyebab, patofisiologi, tanda dan gejala,
komlikasi.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Abortus dalam bahasa Inggris disebut abortion berasal dari bahasa latin
yang berarti gugur kandungan atau keguguran. Sardikin Ginaputra dari
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia memberi pengertian abortus
sebagai pengakhiran kehamilan atau hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup
di luar kandungan. Kemudian menurut Maryono Reksodipura dari Fakultas
Hukum UI, abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi dari rahim sebelum
waktunya (sebelum dapat lahir secara alamiah).
Dari pengertian di atas dapat dikatakan, bahwa abortus adalah suatu
perbuatan untuk mengakhiri masa kehamilan dengan mengeluarkan janin dari
kandungan sebelum janin itu dapat hidup di luar kandungan.
Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana
masa getasi belum mencapai 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr.
(Derek liewollyn&Jones, 2002).
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Istilah
abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup di luar kandungan.
Kelainan dalam kehamilan ada beberapa macam yaitu abortus spontan,
abortus buatan, dan terapeutik. Biasanya abortus spontan dikarenakan kurang
baiknya kualitas sel telur dan sel sperma. Abortus buatan merupakan
pengakhiran kehamilan dengan disengaja sebelum usia kandungan 28 minggu.
Pengguguran kandungan buatan karena indikasi medik disebut abortus
terapeutik.

3
B. Etiologi
Faktor ovovetal yang menyebabkan abortus adalah kelainan pertumbuhan
janin dan kelainan pada plasenta. Penyebab kelainan pertumbuhan janin ialah
kelainan kromosom, lingkungan kurang sempurna, dan pengaruh dari luar.
Kelainan plasenta disebabkan endarteritis pada villi koriales yang menghambat
oksigenisasi plasenta sehingga terjadi gangguan pertumbuhan bahkan
menyebabkan kematian (Prawirohardjo, S, 2002).
Kelaianan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada
kehamilan sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini
adalah :
a. Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X
b. Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna
c. Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau atau
alkohol.
Pada awal abortus terjadi pendarahan yang menyebabkan janin terlepas.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu janin biasanya dikeluarkan seluruhnya
karena villi koriales belum menembus desidua secara mendalam. Pada
kehamilan 8–14 minggu villi koriales menembus desidua secara mendalam,
plasenta tidak dilepaskan sempurna sehingga banyak perdarahan. Pada
kehamilan diatas 14 minggu, setelah ketubah pecah janin yang telah mati akan
dikeluarkan dalam bentuk kantong amnion kosong dan kemudian plasenta
(Prawirohardjo, S, 2002).
Keadaan ibu yang menyebabkan abortus antara lain:
1. penyakit Ibu seperti pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis,
malaria,
2. toksin, bakteri, virus, plasmodium masuk ke janin menyebabkan
kematian sehingga terjadi abortus,
3. penyakit menahun, dan
4. kelainan traktus genitalis, seperti inkompetensi serviks, retroversi uteri,
mioma uteri, dan kelainan bawaan uterus (Prawirohardjo, S, 2002).

4
C. Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti nekrosis
jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda
asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda
asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 6 minggu, villi kotaris belum menembus
desidua secara dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada
kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga
plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan.
Pada kehamilan lebih dari 14 minggu, janin dikeluarkan lebih dahulu dari pada
plasenta. Hasil konsepsi keluar dalam berbagai bentuk, seperti kantong kosong
amnion atau benda kecil yang tak jelas bentuknya (lighted ovum) janin lahir
mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus
papiraseus.

D. Manifestasi Klinis
1. Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu.

2. Pada pemeriksaan fisik : Keadaan umum tampak lemah atau kesadaran


menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau
cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.

3. Perdarahan pervagina, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi

4. Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri
pinggang akibat kontraksi uterus
5. Pemeriksaan ginekologi :

a. Inspeksi vulva : perdarahan pervaginam ada / tidak jaringan hasil


konsepsi, tercium/tidak bau busuk dari vulva

b. Inspekulo : perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau


sudah tertutup, ada/tidak jaringan keluar dari ostium, ada/tidak cairan
atau jaringan berbau busuk dario ostium.

c. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau
tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil

5
dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio dogoyang, tidak nyeri pada
perabaan adneksa, kavum Douglasi, tidak menonjol dan tidak nyeri.

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Tes kehamilan : positif bila janin masih hidup, bahkan 2 – 3 minggu
setelah abortus
2. Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih
hidup
3. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

F. Komplikasi
1. Perdarahan, perforasi, syok dan infeksi
2. Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi
kelainan pembekuan darah

G. Macam-macam Aborsi
Berdasarkan keadaan janin yang sudah dikeluarkan, abortus dibagi atas:
1. Abortus iminens, perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 20
minggu, tanpa ada tanda-tanda dilatasi serviks yang meningkat.

2. Abortus insipiens, bila perdarahan diikuuti dengan dilatasi serviks.

3. Abortus inkomplit, bila sudah sebagian jaringan janin dikeluarkan dari


uterus. Bila abortus inkomplit disertai infeksi genetalia disebut abortus
infeksiosa.

4. Abortus komplit, bila seluruh jaringan janin sudah keluar dari uterus

5. Missed abortion, kematian janin sebelum 20 minggu, tetapi tidak


dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.

6
Pengertian
1. Abortus imminens adalah terjadinya perdarahan uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu, janin masih dalam uterus, tanpa adanya dilatasi serviks.
Diagnosisnya terjadi perdarahan melalui ostium uteri eksternum disertai
mual, uterus membesar sebesar tuanya kehamilan, serviks belum membuka,
dan tes kehamilan positif. Penanganannya : 1) Berbaring, cara ini
menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan sehingga rangsang
mekanik berkurang. 2) Pemberian hormon progesterone. 3) Pemeriksaan
USG (Sarwono Prawirohardjo, 2002).

2. Abortus insipiens adalah peristiwa peradangan uterus pada kehamilan


sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks. Diagnosisnya rasa mules
menjadi lebih sering dan kuat, perdarahan bertambah. Pengeluaran janin
dengan kuret vakum atau cunam ovum, disusul dengan kerokan. Pada
kehamilan lebih dari 12 minggu bahaya peforasi pada kerokan lebih besar,
maka sebaiknya proses abortus dipercepat dengan pemberian infuse oksitosin.
Sebaliknya secara digital dan kerokan bila sisa plasenta tertinggal bahaya
perforasinya kecil (Sarwono Prawirohardjo,2002).

3. Abortus inkompletus adalah pengeluaran sebagian janin pada kehamilan


sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Pada
pemeriksaan vaginal, servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam
kavum uteri atau kadang – kadang sudah menonjol dari ostium uteri
eksternum. Perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa janin dikelurkan,
dapat menyebabkan syok. Penanganannya, diberikan infuse cairan NaCl
fisiologik dan transfusi, setelah syok diatasi dilakukan kerokan. Saat tindakan
disuntikkan intramuskulus ergometrin untuk mempertahankan kontraksi otot
uterus (Sarwono Prawirohardjo, 2002).

7
4. Abortus kompletus ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup,
uterus sudah mengecil dan tidak memerlukan pengobatan khusus, apabila
menderita anemia perlu diberi sulfas ferrosus atau transfuse.
(Sarwono Prawirohardjo, 2002).
5. Missed abortion adalah kehamilan yang tidak normal, janin mati pada usia
kurang dari 20 hari dan tidak dapat dihindari (James L Lindsey,MD , 2007).
Gejalanya seperti abortus immines yang kemudian menghilang secara
spontan disertai kehamilan menghilang, mamma agak mengendor, uterus
mengecil, tes kehamilan negative. Dengan USG dapat diketahui apakah janin
sudah mati dan besarnya sesuai dengan usia kehamilan (Sarwono
Prawirohardjo,2002). Dengan human chorionic gonadotropin (hCG) tests bisa
diketahui kemungkinan keguguran (James L Lindsey,MD , 2007).Biasanya
terjadi pembekuan darah. Penanganannya, Pada kehamilan kurang dari 12
minggu dilakukan pembukaan serviks uteri dengan laminaria selama + 12 jam
kedalam servikalis, yang kemudian diperbesar dengan busi hegar sampai
cunam ovum atau jari dapat masuk ke dalam kavum uteri. Pada kehamilan
lebih dari 12 minggu, maka pengeluaran janin dengan infuse intravena
oktsitosin dosis tinggi. Apabila fundus uteri tingginya sampai 2 jari dibawah
pusat, maka pengeluaran janin dapat dikerjakan dengan penyuntikan larutan
garam 20% kedalam dinding uteri melalui dinding perut. Apabila terdapat
hipofibrinogenemia, perlu persediaan fibrinogen (Sarwono
Prawirohardjo,2002). Pemberian misoprostol (Cytotec) 400-800 mcg dengan
dosis tunggal atau ganda untuk mengurangi rasa sakit.
(James L Lindsey,MD , 2007).
6. Medical aborsi adalah cara terakhir untuk melindungi seperti surgical aborsi
dengan mengetahui resiko kehamilan ectropic , aborsi spontan, kelahiran
dengan berat yang minim, dan kelahiran premature sebagai rangkaian
kehamilan. Efek medical aborsi berturut-turut dalam kehamilan adalah sulit
untuk hamil lagi, disebabkan kematian ditiga minggu pertama kehamilan.
Faktor resiko untuk kehamilan ectropic ditemukan dengan kenaikan resiko
yang signifikan untuk kehamilan ectopic berhubungan dengan aborsi medik
tetapi tidak dengan surgical abortion,sebagai bandingan dengan wanita yang

8
tidak pernah melakukan aborsi. (Professor Paul D. Blumenthal, MD, MPH
and Beverly Winikoff, MD, MPH, 2007.)

Secara umum, pengguguran kandungan dapat dibagi kepada dua


macam:
1. Abortus Spontan (Spontaneus Abortus), ialah abortus yang tidak
disengaja. Abortus spontan bisa terjadi karena penyakit syphilis,
kecelakaan dan sebagainya.

2. Abortus yang disengaja (Abortus Provocatus/ Induced Pro Abortion) dan


abortus ini ada 2 macam:

a. Abortus Artificialis Therapicus, yakni abortus yang dilakukan oleh


dokter atas dasar indikasi medis. Misalnya jika kehamilan diteruskan
bias membahayakan jiwa si calon ibu, karena penyakit yang berat
seperti TBC yang berat dan ginjal

b. Abortus Provocatus Criminalis, ialah abortus yang dilakukan tanpa


dasar indikasi medis. Misalnya abortus yang dilakukan untuk
meniadakan hasil hubungan seks di luar nikah/ untuk mengakhiri
kehamilan yang tidak dikehendaki.

H. Diagnostik
1. Anamnesis : perdarahan, haid terakhir, pola siklus haid, ada tidak gejala
/ keluhan lain, cari faktor risiko / predisposisi. Riwayat penyakit umum
dan riwayat obstetri / ginekologi.
2. Prinsip : wanita usia reproduktif dengan perdarahan per vaginam
abnormal HARUS selalu dipertimbangkan kemungkinan adanya
kehamilan.
3. Pemeriksaan fisis umum : keadaan umum, tanda vital, sistematik. JIKA
keadaan umum buruk lakukan resusitasi dan stabilisasi segera !

9
4. Pemeriksaan ginekologi : ada tidaknya tanda akut abdomen. Jika
memungkinkan, cari sumber perdarahan : apakah dari dinding vagina,
atau dari jaringan serviks, atau darah mengalir keluar dari ostium
5. Jika diperlukan, ambil darah / cairan / jaringan untuk pemeriksaan
penunjang (ambil sediaan SEBELUM pemeriksaan vaginal touche)
6. Pemeriksaan vaginal touche : hati-hati. Bimanual tentukan besar dan
letak uterus. Tentukan juga apakah satu jari pemeriksa dapat
dimasukkan ke dalam ostium dengan MUDAH / lunak, atau tidak
(melihat ada tidaknya dilatasi serviks). Jangan dipaksa. Adneksa dan
parametrium diperiksa, ada tidaknya massa atau tanda akut lainnya.

I. Teknik Pengeluaran Sisa Abortus


Pengeluaran jaringan pada abortus : setelah serviks terbuka (primer
maupun dengan dilatasi), jaringan konsepsi dapat dikeluarkan secara manual,
dilanjutkan dengan kuretase.
1. Sondage, menentukan posisi dan ukuran uterus.

2. Masukkan tang abortus sepanjang besar uterus, buka dan putar 90 untuk
melepaskan jaringan, kemudian tutup dan keluarkan jaringan tersebut.

3. Sisa abortus dikeluarkan dengan kuret tumpul, gunakan sendok terbesar


yang bisa masuk.

4. Pastikan sisa konsepsi telah keluar semua dengan eksplorasi jari maupun
kuret

J. Faktor Risiko/Predisposisi Abortus


1. Usia ibu yang lanjut
2. Riwayat obstetri / ginekologi yang kurang baik
3. Riwayat infertilitas
4. Adanya kelainan / penyakit yang menyertai kehamilan (misalnya diabetes,
penyakit gh Imunologi sistemik dsb).
5. Berbagai macam infeksi (variola, CMV, toxoplasma, dsb)

10
6. Paparan dengan berbagai macam zat kimia (rokok, obat-obatan, alkohol,
radiasi, dsb)
7. Trauma abdomen / pelvis pada trimester pertama
8. Kelainan kromosom (trisomi / monosomi) Dari aspek biologi molekular,
kelainan kromosom ternyata paling sering dan paling jelas berhubungan
dengan terjadinya abortus.

K. Penatalaksanaan
Pemeriksaan lanjut untuk mencari penyebab abortus. Perhatikan juga
involusi uterus dan kadar B-hCG 1-2 bulan kemudian. Pasien dianjurkan
jangan hamil dulu selama 3 bulan kemudian (jika perlu, anjurkan pemakaian
kontrasepsi kondom atau pil).

11
L. Penyimpangan KDM

Faktor Internal
Kelainan pertumbuhan Kelainan
hasil konsepsi :
pneumonia, tifus
pertumbuhan
abdominalis, janin dan
1. Kelainan kromosom
pielonefritis, malaria, kelainan pada
2. Lingkungan sekitar
tempat implantasi plasenta.
toksin, bakteri, virus,
kurang sempurna Traktus
plasmodium, kelainan
traktus genitalis,
mioma uteri, dan
kelainan bawaan uterus

Perdarahan Desidua

ABORTUS

Peningkatan Dilatasi Jaringan Kegagalan


kontraksi seriviks terbuka reaksi
uterus terhadap
Perdarahan antigen TLX
Proteksi
kurang
Pelepasan
mediator Penurunan Kehilangan
kimiawi HB janin
prostaglandin Infeksi
bakteri

Penurunan BERDUKA
NYERI suplai oksigen
RESIKO
INFEKSI

GANGGUAN
PERFUSI JARINGAN

12
M. Asuhan Keperawatan Abortus

A. Pengkajian
I. IDENTITAS PASIEN
Nama :
Umur :
Status perkawinan :
Agama :
Suku :
Pendidikan :
Nama suami :
Umur :
Alamat :
Pekerjaan :
Diagnosa medis :
Tanggal MRS :

II. STATUS KESEHATAN SAAT INI


a. Keluhan utama
Klien mengeluh keluar darah lewat vagina sejak hari senin, terasa
nyeri pada perut dan pinggang, kenceng-kenceng, nyeri tidak
menyebar, skala 7
b. Faktor pencetus
Kurang lebih 1 minggu sebelum masuk rumah sakit sekarang ini,
klien pernah dirawat di rumah sakit dengan diagnosa abortus
imminent. Klien hamil 5 bulan/20 minggu, G2 P1 A0
c. Timbulnya keluhan : bertahap
d. Usaha yang dilakukan untuk mengurangi keluhan
Pasien di rumah bedrest, tapi tetap nyeri di perut dan pinggang,
masih terasa kenceng-kenceng dan akhirnya dibawa ke rumah sakit.

13
e. Riwayat obstetri
· Menarche usia : 12 tahun
· Menstruasi : teratur setiap bulan selama 8 hari
· Karakteristik : nyeri pada hari pertama menstruasi

III. RIWAYAT KELUARGA


Keluarga tidak ada yang menderita penyakit serius

Keterangan : = laki-laki = pasien


= perempuan = garis keturunan
= meninggal = garis perkawinan
----- = tinggal serumah

IV. RIWAYAT KESEHATAN


a. Penyakit yang pernah dialami :
b. Kecelakaan/operasi :
c. Alergi :
d. Imunisasi :
e. Kebiasaan yang merugikan :

14
V. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum :
b. BB :
TB :
c. Tanda vital :
d. Kepala :
e. Leher :
f. Telinga :
g. Hidung :
h. Tenggorokan :
i. Dada :
j. Abdomen :
k. Genetalia :
l. Muskuloskeletal :
.

VI. PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


a. Persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Bila sakit, klien selalu memeriksakan kesehatannya ke puskesmas, selama
hamil, klien pernah dirawat di RSUD Panembahan Senopati pada bulan
September dengan diagnosa abortus imminent.
b. Nutrisi dan metabolisme
Diet RS habis tiap porsi, pasien minum 5-6 gelas per hari
c. Eliminasi
Pasien BAB satu kali per hari, konsistensi lunak, warna kuning bau khas
feses. Pasien terpasang DC ukuran 16 sejak 11 Oktober 2007
d. Aktivitas dan latihan
Selama hamil pasien melakukan aktivitas mandiri, tetapi setelah
didiagnosa abortus imminent, pasien bedrest selam beberapa hari, tapi
setelah itu pasien aktivitas lagi seperti semula, akhirnya klien masuk
rumah sakit. Selama di rumah sakit pemenuhan ADL pasien dibantu oleh
keluarganya

15
e. Istirahat dan tidur
Sebelum masuk rumah sakit, klien tidur 6-7 jam sehari,. Setelah masuk
rumah sakit dan post kuretase klien tidur 5-6 jam sehari

f. Persepsi dan kognitif


Pasien pendidikannya SLTA, pertanyaan yang di ajukan oleh perawat
dijawab dengan lancar
g. Persepsi terhadap diri sendiri
Klien merasa sedih karena anak yang dikandungnya mengalami
keguguran, padahal pasien ingin punya anak lagi
h. Hubungan dan peran
Hubungan klien dengan keluarga baik dan hubungan klien dengan
masyarakat juga baik
i. Seksual dan reproduksi
Selama hamil melakukan hubungan seksual kadang 1-2 minggu sekali,
tetapi setelah didiagnosa abortus imminent, klien tidak melakukan
hubungan seksual lagi karena takut terjadi apa-apa dengan janinnya.
j. Stres dan koping
Jika ada masalah, klien selalu melakukan musyawarah dengan suaminya.
k. Kepercayaan dan nilai
Klien beragama islam dan rajin beribadah

VII. PROFIL KELUARGA


Klien anak kedua dari lima bersaudara, orang tua klien sudah meninggal.
Suaminya adlah anak ketiga dari empat bersaudara, orang tuanya juga
sudah meninggal dunia. Klien mempunyai 1 orang anak laki-laki berusia
13 tahun.

VIII. KELUARGA BERENCANA


Selama 7 tahun setelah kelahiran anak pertama, klien menggunakan IUD.
Setelah itu klien melepas IUD karena ingin punya anak lagi.

16
IX. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hb : 10,6 gr%
AL : 13,8 ribu
AT : 308 ribu
Gol. Darah :O
PPT : 13,1detik
APTT : 34,6 detik
Control PPT : 13,8 detik
Control APTT : 35,7 detik
HbsAg : negative

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus yang berlebihan
2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya
distribusi darah ke seluruh tubuh
3. Resti infeksi berhubungan dengan tindakan invasif
4. Berduka berhubungan dengan kehilangan calon anak

C. Intervensi

1. Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus yang berlebihan


Tujuan dan Kriteria hasil :
 Klien menyatakan nyeri hilang/terkontrol
 Ekspresi wajah tidak menunjukkan rasa menahan sakit
 Kualitas nyeri menunjukkan skala 0-3
 Nadi 90x/menit
 TD 120/80 – 130/90 mmHg
 Pola nafas efektif 20x/ menit

17
Intervensi :
 Berikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyebab
ketidaknyamanan dan intervensi yang tepat.
 Evaluasi tekanan darah (TD) dan nadi. Perhatikan perubahan
perilaku (bedakan antara kegelisahan karena nyeri atau kehilangan
darah akibat dari proses pembedahan.
 Ubah posisi klien, kurangi rangsangan yang berbahaya dan
berikan gosokan punggung anjurkan penggunaan teknik
pernafasan dan relaksasi dan distraksi (rangsangan jaringan kutan)
 Palpasi kandung kemih, perhatikan adanya rasa penuh,
memudahkan berkemih periodic setelah pengangkatan kateter
indwelling.
 Anjurkan penggunaan dengan penyokong.
 Lakukan latihan nafas dalam, spirometri intensif dan batuk dengan
menggunakan prosedur-prosedur tepat, 30 menit setelah
pemberian analgesic.

2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya


distribusi darah ke seluruh tubuh
Tujuan dan Kriteria hasil :
Diharapkan klien dapat menunjukkan perfusi adekuat, sesuai dengan
bukti tanda vital stabil, nadi teraba, pengisian kapiler baik, mental
biasa, keluaran urin adekuat secara individual dan bebas edema.
Intervensi :
 Panatau tanda vital; palpasi nadi perifer dan perhatikan pengisian
kapiler;kaji keluaran atau karakteristik urine, evaluasi perubahan
mental.
 Inspeksi balutan dan pembalut
 prineal, perhatikan warna, jumlah dan bau drainase. Timbang
pembalut dan bandingkan dengan berat yang kering, bila pasien
mengalami perdarahan hebat.

18
 Ubah posisi pasien dan dorong batuk sering dan latihan nafas
dalam.
 Hindari posisi fowler tinggi dan tekanan di bawah lutut atau
menyilangkan kaki.
 Bantu/instruksikan latiha kaki dan telapak dan ambulas sesegera
mungkin.
 Periksa tanda hormo. Perhatikan eritema, pembengkakan
ekstremitas, atau keluhan nyeri dad tiba-tiba pada dispnea.

Kolaborasi :
 Berikan cairan IV, produk drah sesuai indiaksi.
 Pekaikan stoking anti emboli.
 Bantu/dorong penggunaan spirometri insentif.

3. Resti infeksi berhubungan dengan tindakan invasif


Tujuan : Diharapkan klien dapat menerapkan teknik kontrol infeksi
yang dibuktikan dengan kriteria hasil :
 Suhu 37 C
 Pola nafas efektif 20x/menit
 Tidak terdapat nyeri tekan
 Luka bekas dari drainase dengan tanda awal penyembuhan
 Tidak terdapat kemerahan
Intervensi :
 Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan dengan cermat dan
pembuangan pangalas kotoran pembakut parineal dan linen
terkontaminasi dengan tepat
 Tinjau ulang Hb/Ht prenatal: perhatikan adanya kondisi yang
mempredisposisikan klien pada infeksi pasca operasi
 Infeksi balutan abdominal terhadap eksudat/ rembesan. Lepaskan
balutans sesuai indikasi

19
 Dorong dan masukan cairan oral dan diet tinggi protein, Vit C dan
besi
 Kaji suhu, nadi, dan jumlah sel darah putih
 Kaji lokasi dan kontraktivitas uterus, perhatikan perubahan
involusi/ adanya nyeri tekan uterus yang ekstrim
Kolaborasi:
 Berikan infuse antibiotic profilaksi dengan detil pertama biasanya
diberikan segera setelah pengekleman tali pusat dan 2 dosis lagi
masing-masing berjarak 6 jam.

 Dapatkan kultur darah, vagina dan urin bila infeksi dicurigai


 Berikan antibiotic khusus untuk untuk proses infeksi yang
diidentifikasi.

4. Berduka berhubungan dengan kehilangan calon anggota keluarga


Tujuan : Diharapkan klien mampu menerima keadaan yang sebenarnya
tentang kematian anaknya yang dibuktikan dengan :
 mengidentifikasi dan menunjukkan perasaan secara cepat
 menunjukkan perkembangan melalui proses duka
 menikmati masa sekarang dan rencana untuk masa depan, hari
demi hari
Intervensi :
 Kaji status emosional
 Sediakan waktu untuk mendengarkan pasien. Dorong ekspresi
perasaan bebas, tidak berdaya dan keinginan untuk mati
 Kaji potensial untuk berdiri
 Ikutsertakan orang terdekat dalam diskusi dan aktifitas sampai
pada tingkat yang mereka inginkan
 Berikan sentuhan atau pelukan bebas sesuai penerimaan individu
Kolaborasi :
 Rujuk pada sumber-sumber lain sesuai indikasi, misalnya special
klinik, perawat, pekerja social.

20
 Bantu dengan atau rencanakan dengan spesifik sesuai kebutuhan
(misalnya instruksi lanjutan (untuk menentukan status kode atau
keinginan untuk hidup), membuat wasiat pengaturan pemakaman)

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Abortus sebagai pengakhiran kehamilan sebelum masa gestasi 28 minggu
atau sebelum janin mencapai berat 1000 gram. Abortus adalah keluarnya janin
sebelum mencapai viabilitas. Dimana masa getasi belum mencapai 22 minggu
dan beratnya kurang dari 500gr (Derek liewollyn&Jones, 2002). Kelainan
dalam kehamilan ada beberapa macam yaitu abortus spontan, abortus buatan,
dan terapeutik. Biasanya abortus spontan dikarenakan kurang baiknya kualitas
sel telur dan sel sperma. Abortus buatan merupakan pengakhiran kehamilan
dengan disengaja sebelum usia kandungan 28 minggu. Pengguguran
kandungan buatan karena indikasi medik disebut abortus terapeutik.

B. Saran
Pada pembahasan ini tentang abortus, betapa pentingnya benar-benar
diperhatikan dan dapat bermanfaat bagi kita semua untuk mengantisipasi dari
pada bentuk abortus, faktor-faktor penyebab abortus serta dampak negative
yang dapat mengancam jiwa bagi penderita.
Abortus hendaknya dilakukan jika benar-benar terpaksa karena
bagaimanapun didalam kehamilan berlaku kewajiban untuk menghormati

21
kehidupan manusia dan abortus hendaknya dilakukan oleh tenaga profesional
yang terdaftar.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC


Doengoes. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
Hamilton, C. Mary. 1995. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6.
Jakarta: EGC
Km Ita Wirasadi. 2010. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien
Dengan Abortus.
Liza. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Kehamilan Abortus.
Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media
Aesculapius. Jakarta
Wiknjosastro Hanifa.1991. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Gramedia
http://lizanurviana.blog.com/2010/11/28/askep-abortus/
http://ppnikarangasem.blogspot.com/2010/02/asuhan-keperawatan-gawat-darurat-
pada.html
http://ardyanpradana007.blogspot.com/2012/04/askep-abortus.html
http://kupdf.com/download/makalah-abortus_5a181580e2b6f59750848146_pdf

22