Você está na página 1de 12

MAKALAH

HAKIKAT MANUSIA MENURUT ISLAM


MATA KULIAH AGAMA

Dosen Pengampun:

Siti Hajar, M.Pd.I

Disusun oleh;

1. Desty Atikah Suwardi


2. Risa Meiliani Putri
3. Ita Alviyana
4. Rofidoh
5. Tati S
6. Faizah
7. Dewi Portuna
8. Nang Amir
9. Surahman
10. M. Lukman Baehaqi
11. Ilham Budiarto

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH CIREBON

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan petunjuk dan hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang “Hukum Islam Perspektif
Muhammadiyah” .

Kami mengucapakan banyak terima kasih kepada dosen


pembimbing Mata Kuliah Agama Ibu Siti Hajar, M.Pd.I yang telah
memberikan tugas makalah ini kepada kami.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan


bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada
semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa


masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka Kami menerima
segala saran dan kritik dari pembaca agar Kami dapat memperbaiki
makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang “Hukum Islam


Perspektif Muhammadiyah” ini dapat memberikan manfaat dan inspirasi
terhadap pembaca.

Cirebon, 13 Oktober 2018

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................... ii

DAFTAR ISI ..................................................................................... iii

BABI PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Pembangunan Islam ................................................ 3


B. Hukum Islam Dalam Perspektif Muhammadiyah ................ 7

BAB III PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... iii

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Muhammadiyah adalah gerakan islam yang di dirikan oleh Kyai Hj


Ahmad Dahlan Tahun 1330 H atau bertetapan dengan 1912 M . Gerakan
ini lahir di Kauman Yogyakarta, sebuah kampung di samping Kraton
Yogyakarta. Sesuai namanya Kauman adalah kampung yang banyak
berisi kaum atau para ahli agama. Dengan demikian Muhammadiyah lahir
di tengah masyarakat yang taat menjalankan Islam.

Namun demikian Islam yang berjalan di masyarakat muslim pada


umunya, termasuk kaum di dalamnya adalah Islam yang dalam
pandangan Kyai Dahlan tidak saja telah berakulturasi dengan budaya
Jawa, lebih dari itu, yaitu Islam yang telah terkungkung oleh hegemoni
budaya Jawa. Kehadiran Muhammadiyah adalah sebuah bentuk
perlawanan terhadap praktek Islam yang dianggap keliru itu. Paling tidak
ada dua hal yang dapat menjelaskan kehidupan umat Islam masa itu.
Pertama, Islam dipahami sebagai agama ritual yang akan memberikan
keselamatan dunia akhirat. Tetapi ajaran-ajaran Islam diamalkan oleh
umat tidak menyentuh persoaln-persoalan sosial kemasyarakatan yang
berkembang. Messkipun banyak ahli agama, banyak juga pendiri
pesantren, tetapi pengembangan keilmuan Islam hanya berputar-putar
pada persoalan ilmu itu sendiri.

Di tengah masyarakat Muhammadiyah berdiri dan hadir untuk


sebuah tujuan terwujudnya Islam yang sebenar-benarnya.
Muhammadiyah ingin menjadikan nilai-nilai ajaran Islam yang
menyeluruh dan Ideal itu mewujud dalam kehidupan nyata dalam bentuk
masyarakat yang adil, makmur dan di Ridhai oleh Allah SWT.
Muhammadiyah ingin menjadikan kehidupan Islam tidak hanya sekedar
pada masalah fiqih ibadah, nahwu, shorof, dan berbagai ilmu alat lain,

1
tetapi juga masuk kedalam persoalan keduniaan yang lebih luas untuk
menciptakan kehidupan umat yang lebih berdaya dan maju. Umat islam
tidak boleh hanya menerima keadaan menjadi golongan kelas bawah,
miskin dan bodoh, selalu diatur dan diperdaya, ditindas dan dijajah, selalu
anti dengan segala yang datang dari selain orang muslim (kafir) dan selalu
sangat percaya diri dengan ke-tradisionalnya.

Impian Muhammadiyah adalah umat Islam yang cerdas, berfikir maju


dan memiliki tanggung jawab pemimpin peradaban ini, menjadikan nya
umat yang bertauhid dan menjadikan kehidupan yang adil makmur serta
penuh kebaikan dan mendapat Ridho dari Allah. Ide-ide yang dibawa
Muhammadiyah mampu memberikan penyegaran kehidupan umat
melawan kebodohan dan kemiskinan, menentang penindasan dan ketidak
adilan. Muhammadiyah berada digaris depan umat, membimbing dan
memberdayakan umat menuju kehidupan yang lebih mencerahkan .

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Pembanguna Hukum Islam

Hukum Islam Asjmuni Abrrahman, adalah merupakan seperangkat


peraturan yang ditetapkan berdasarkan wahyu Allah dan sunnah Rasul
yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Islam sejak di Madinah selain
merupakan Agama adalah juga merupakan suatu negara, dan sebagai
negara tentunya harus mempunyai lembaga hukum untuk mengatur
kemasyarakatan warganya. Hukum yang dipakai dalam Islam berdasar
pada wahyu, dan memang jika diperhatikan, ayat-ayat al-quran yanng
mengatur tentang persoalan hidup bermasyarakat memang mulai
diturunkan di Madinnah. Ayat-ayat yang mengandung dasar hukum, baik
mengenai ibadah, maupun mengenai mu’amalah disebut ayat ahkam.

Dalam perkembangan Hukum itu sendiri Harun Nasution


mengungkapkan, pada prosesnya dapat terbagi kedalam 4 periode, yakni :

1. Periode Nabi

Di periode Nabi, karena segala persoalan dikembalikan kepada


nabi untuk menyelesaikannya, maka Nabi lah yang menjadi satu-satunya
sumber hukum. Secara direk pembuat hukum adalah Nabi, tetapi secara
indirek Allahlah pembuat hukum, karena pada dasarnya hukum yang
dikeluarkan nab berasal dari Wahyu Allah SWT. Dengan demikian Nabi
sebenarnya melaksanakan hukum yang ditentukan Allah. Sumbr hukum
yang ditinggalkan nabi untuk zaman sesudahnya adalah Al-Qur’an dan
sunah Nabi.

2. Perode Sahabat

Di periode sahabat, daerah yang dikuasai Islam bertambah luas


dan termasuk didalamnya daerah-daerah diluar jazirah Arab yang telah

3
mempunyai kebudayaan tinggi dan susunan masyarakat yang lebih maju
jika dibandingkan dengan masyarakat Arab waktu itu. Dengan demikian
persoalan-persoalan kemasyarakatan yang timbul pada periode ini di
daerah-daerah yang baru itu sulit penyelesaiannya bahkan jika
dibandingkan dengan masalah-masalah yang timbul di jazirah Arab itu
sendiri.

Untuk mencari penyelesaian bagi persoalan-persoalan baru itu para


sahabat kembali ke Al-Qur’an dan AS-Sunnah yang ditinggalkan Nabi.
Soal kembali Al-Quran dapat dilakukan dengan mudah karena Al-Qur’an
sudah banyak dihafal oleh para sahabat dan telah pula dibukukan di
zaman Abu Bakar. Lain halnya dengan As-sunnah. Hadist tidak dihafal
dan belum dilakukan di waktu itu sehingga timbulah permasalahan akan
sulitnya mencari hadist yang betul-betul berasal dari Nabi.

Untuk menyelessaikan persoalan-persoalan yang tidak ditemukan


jawaban secara jelas dalam Al-Quran dan hadist, khalifah dan para
sahabat melakukan ijtihad. Tetapi karena turunya wahyu telah terhenti,
maka untuk mengetahui benar atau tidaknya ijtihad yang dijalankan di
periode ini sangatlah sulit. Untuk mengatasi masalah itu maka dipakailah
‘ijma sahabat yakni keputusan yang diambil dengan suara bulat
(konsensus).

3. Periode Ijtihad

Periode Ijtihad bersamaan dengan masa kemajuan Islam (700-


1000 M) . Periode ini disebut juga dengan periode pengumpulan hadist.
Sesuai dengan bertambah luasnya daerah kekuasaan Islam, berbagai
bangsa masuk Islam dengan membawa berbagai maca adat-istiadat,
tradisi, dan juga sistem kemasyarakatan. Dengan demikian maka
problematika hukum yang muncul beragan pula jenisnya. Untuk
mengatasinya ulama-ulama banyak melakukan ijtihad. Ijtihad mereka

4
didasarkan pada Al-Qur’an, hadist, dan atsar Sahabat. Dari sini kemudian
munculah imam-imam mujtahid yang disebut faqih (fuqoha) dalam islam.

Dikalangan sahabat sendiri sebenernya telah ada beberapa yang


mementingkan soal hukum dan pendapat atau fatwa mereka diberi
pengehargaan tinggi oleh umat, seperti Umar bin Khatab, Ali bin Abi
Thalib, Zaid bin Sabit, dan Abdullah bin Umah di Madinah, abdullah bin
Abas di Mekah, Abdullah bin Mas’ud di Kuffah, Anas bin Malik di
Basrah, Muaz bin Jabal di Suriah dan Abdullah bin Amr al-Anas Aas di
Mesir.

4. Periode Taqlid

Setelah periode Ijtihad, datanglah periode taqlid dan penutupan


pintu Ijtihad (tahun ke-4 H/11 M), datangnya periode ini bersamaan
dengan masa kemunduran dalam sejarah kebudayaan Islam. Mazhabyang
empat diwaktu itu sudah memiliki kedudukan yang stabil dalam
masyarakat dan perhatian tidak lagi ditujukan kepada Al-Qur’an , sunnah
dan sumber-sumber hukum lainya, melainkan kepada buku-buku fiqih.
Ulama-ulama mazhab mempertahankan mazhab imamnya masing-masing
dan menganggap bahwa mahzab imamnya lah yang paling benar. Ulama-
ulama kaliber besar yang sederajat dengan Abu hanifah dan malik, atau
as-syafi’i dan Ibnu Hambal tidak muncul lagi. Sehingga Ijtihad yang
dijalankan oleh ulama-ulama yang belum mencapai derajat mujtahid,
membawa kekacawan dalam bidang hukum dalam masyarakat.
Diberitakan bahwa kasus yang sama di kota yang sama mendapat
penyelesaian hukum yang bertentangan. Dalam suasana inilah kemudian
para ulama melihat pentingnya menutup pintu ijtihad, dan pengadilan
perkara tidak boleh lagi didasarkan kecuali atas pendapat ulama-ulama
besar sebelumnya. Orang tidak boleh lagi mengembalikan segala urusan
langsung kepada Al-Qur’an dan As-sunnah untuk menentukan hukum
atau memberi fatwa. Dari sini kemudian timbulah faham dan sikap taklid,

5
yaitu mengikuti ulama-ulama sebelumnya tanpa mengetahui dari mana
sumbernya. Hal ini mengakibatkan keadaan statis dalam hukum islam
yang pengaruhnya masih terasa hingga kini.

6
B. Hukum Islam Dalam prespektif Muhammadiyah

Bagi muhammadiyah, sumber hukum islam adalah Al-quran dan Al-


hadist, dan metode ijtihad muhammadiyah adalah melalui lembaga tarjih
muhammadiyah. Secara umum, majelis ini merupakan kelengkapan
kelembagaan dalam muhammadiyah yang secara mendasar bertanggung
jawab atas penyelesaian masalah-masalah hukum islam yang berkembang
dalam masyarakat.

Tarjih adalah usaha untuk membandingkan dua dalil yang


bertentangan dan mengambil yang terkuat diantara keduanya. tarjih bagi
muhammadiyah tidak hanya sekedar menyelesaikan dua dalil yang
berbeda atau bertentangan, akan tetapi maknanya lebih luas dari itu, yaitu
ijtihad. bertarjih dalam muhammadiyah berarti melakukan ijtihad,
sebagaimana disebutkan dalam himpunan putusan tarjih berikut:

1. Bahwa dasar mutlak untuk berhukum dalam agam islam adalah Al-
quran dan Al-hadist.
2. Bahwa jika perlu dalam menghadapi soal-soal yang telah terjadi
dan sangat dihajatkan untuk diamalkannya, mengenai hal-hal yang
tak bersangkutan dengan ibadah mahdah padahal untuk alasan
atasnya tiada terdapat nash shari didalam Al-quran atau As-sunah
shalihah, maka dipergunakanlah alasan dengan jalan ijtihad dan
istinbath daripada nash nash yang ada melalui persamaan illat:
sebagaimana telah dilakukan oleh ulama-ulama salaf dan khalaf.

Adapun mengenai tata cara istinbath hukum dalam lembaga Tajrih


Muhmmadiyah dianyara nya sebagai berikut :

1. Nash yang qath’i mengenai hal ini tidak ada masalah. Tidak boleh
di perdebatkan lagi, tidak ada lapangan ijtihad padanya.
2. Terdapat Nash, namun saling perselisihkan, atau Nash yang satu
ini dengan yang lain bertentangan atau Nash mempunyai nilai

7
yang berbeda, makan lembaga Tarjih Muhammadiyah menempuh
jarak sebagai berikut :
a. Tawaqquf, yaitu bersikap membiaran tanpa mengambil
keputusan, karna kedua dalil atau lebih yang saling
bertentangan tersebut tidak dapat lagi dikompromikan dan
tidak dapat dicairkan alternatif yang dianggap kuat.
b. Tarjih, yaitu mengambil jalan yang lebih kuat diantara dalil
yang bertentangan (memilih satu alternatif dalil yang
dianggapnya lebih kuat). Dalam hal bertarjih ini cara yang
ditempuh yaitu :
 jarh (cela) itu didahulukan dari pada ta’dil sesudah
keterangan yang jelas dan sah menurut anggapan
syara’.
 Riwayat orang yang telah terkenal suka melakukan
tadlis dapat diterima bila ia menerangkan bahwa apa
yang ia riwayatkan itu bersanad sambung, sedang
tadlisnya itu tidak sampai tercela.
 Pendapat sahabat akan perkataan musyatarak, pada
salah satu artinya wajib diterima.
 Penafsiran sahabat antara arti kata yang tersurat dangan
yang tersirat, arti kata yang tersurat itu yang
diutamakan/diamalkan.
 jam’u, yaitu menjama’ atau menggabung atau
menhimpun kedua dahlil atau lebih yang saling
bertentangan dengan melakukan penyesuaian-
penyesuaian.

8
DAFTAR PUSTAKA

Arwanto Sya’li, Tajdid dan pemikiran Muhammadiyah Kontemporer,


Deepublish. Yogyakarta. 2011
Ahmad Jainuri, Ideologi Kaum reformasis : Melacak Pandangan
Keagamaan Muhammadiyah Periode awal, Surabaya, Ipam,2002