Você está na página 1de 10

Citrus aurantifolia

A. Botani dan kimia


 Klasifikasi jeruk nipis menurut (Ferguson, 2002) sebagai berikut :
Kingdom :Plantae
Divisi :Spermatophyta
Subdivisi :Angiospermae
Kelas :Dicotyledonae
Ordo :Rutales
Famili :Rutaceae
Genus :Citrus
Spesies :Citrus aurantifolia (Cristm.) Swingle
 Morfologi Tumbuhan
Tumbuhan Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia Swingle) Jeruk Nipis atau Citrus aurantifolia
banyak tumbuh di beberapa negara seperti Indonesia, Asia bagian selatan dan Jepang.
Tumbuhan jeruk nipis merupakan pohon yang berukuran kecil (Astarini et al., 2010).
Buahnya berbentuk agak bulat berdiameter 2,5-5 cm dan buah berwarna hijau sampai kuning
saat matang. Buahnya mempunyai keasaman yang tinggi, beraroma kuat, dan kulitnya tipis
(Lawal et al., 2014). Daun jeruk nipis berwarna hijau, berbentuk bulat telur, tangkai daun
bersayap, dan 5 ujung daun agak tumpul (Purwanto, 2011).Jeruk nipis ini dikenal juga dengan
sebutan jeruk pahit (Khan et al., 2012)
 Kandungan
Bagian-bagian tanaman jeruk nipis dapat dimanfaatkan untuk mengobati
berbagai penyakit, antara lain batang, bunga, buah, dan daunnya. Getah batang jeruk nipis
yang ditambahkan sedikit garam dapat digunakan sebagai obat sakit tenggorokan. Buah
jeruk nipis banyak digunakan untuk menurunkan panas, obat batuk, peluruh dahak,
menghilangkan ketombe, influenza, anti inflamasi, antiseptik, dan obat jerawat
(Kharismayanti, 2015). Daun dan bunga jeruk nipis dapat digunakan untuk pengobatan
hipertensi,batuk, lendir tenggorokan, demam, panas pada malaria, jerawat, dan ketombe (Triayu,
2009). Jeruk nipis mengandung unsur-unsur senyawa kimia yang bermanfaat, seperti asam
sitrat, asam amino, minyak atsiri, damar, glikosida, asam sitrun, DCBA 11 lemak, kalsium,
fosfor, besi, belerang vitamin B1 dan C (Lauma dkk., 2015).Daunnya sendiri juga memiliki
banyak kandungan senyawa bioaktif, sepertialkaloid, flavonoid, terpenoid, saponin, tanin,
dan steroid.Senyawa-senyawa tersebut memiliki kemampuan untuk menghambat
pertumbuhan bakteri dengan mekanisme hambatnya masing-masing, yang menyebabkan daun
jeruk nipis mempunyai sifat antibakteri, antara lain dengan cara merusak dindingsel,
merusak membran sitoplasma sel, mengubah struktur molekul protein dan asam nukleat, serta
menghambat kerja enzim bakteri (Pelczar dan Chan,1986). Senyawa fenol dan flavonoid
juga dapat bersifat sebagai antioksidan (Fajarwati, 2013). Daun jeruk nipis bermanfaat untuk
mengobati influenza dan malaria, sedangkan infusanya dapat mengobati demam yang disertai
jaundice (timbulnya warna kuning pada kulit dan bagian putih mata karena tingginya kadar
pigmen empedu), radang tenggorokan, dan dapat meringankan sakit kepala (Kharismayanti,
2015).

1.Alkaloid

Alkaloid merupakan golongan metabolit sekunder yang terbesar. Alkaloid


memiliki kemampuan sebagai antibakteri. Mekanisme antibakterinya adalah dengan
cara mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga
lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel
(Miftahendarwati,2014)

2.Flavonoid

Flavonoid merupakan senyawa polar yang umumnya mudah larut dalam pelarut
polar seperti etanol, metanol, butanol, dan aseton. Flavonoid merupakan golongan terbesar dari
senyawa fenol yang mempunyai sifat efektif dalam menghambat pertumbuhan virus,
bakteri, dan jamur. Senyawa-senyawa flavonoid umumnya bersifat antioksidan dan banyak
digunakan sebagai bahan baku obat-obatan (Miftahendarwati, 2014).

Flavonoid bekerja sebagai antibakteri dengan cara menghambat sintesis asam


nukleat bakteri dan mampu menghambat motilitas bakteri. Flavonoid bekerja dengan cara
mengganggu pengikatan hidrogen padaasam nukleat sehingga proses sintesis DNA dan
RNA terhambat. Flavonoid juga dapat mencegah pertumbuhan bakteri dengan cara
mengganggu kestabilan membran sel dan metabolisme energi bakteri. Ketidakstabilan ini
terjadi akibat adanya perubahan sifat hidrofilik dan hidrofobik membran sel, sehingga
fluiditas membran sel berkurang yang berakibat pada gangguan pertukaran cairan dalam
sel dan menyebabkan kematian sel bakteri (Miftahendarwati, 2014).

3.Terpenoid

Terpenoid merupakan senyawa kimia yang terdiri dari beberapa unit isopren.
Kebanyakan terpenoid mempunyai struktur siklik dan mempunyai satu gugus fungsi atau
lebih. Terpenoid umumnya larut dalam lemak dan terdapat dalam sitoplasma sel tumbuhan.
Senyawa terpenoid ini adalah salah satu senyawa kimia bahan alam yang banyak
digunakan 13 sebagai obat. Sudah banyak peran terpenoid dari tumbuh-tumbuhan yang
diketahui seperti menghambat pertumbuhan tumbuhan pesaingnya dan sebagai insektisida
terhadap hewan tinggi(Ramadani, 2016).

Terpenoid merupakan komponen yang biasa ditemukan dalam minyak atsiri.


Sebagian besar terpenoid mengandung atom karbon yang jumlahnya merupakan kelipatan
lima. Terpenoid mempunyai kerangka karbon yang terdiri dari dua atau lebih unit C5
yang disebut unit isopren. Berdasarkan jumlah atom C yang terdapat pada kerangkanya,
terpenoid dapat dibagi menjadi hemiterpen dengan 5 atom C, monoterpen dengan 10atom C,
seskuiterpen dengan 15 atom C, diterpen dengan 20 atom C, triterpen dengan 30 atom C,
dan seterusnya sampai dengan politerpen dengan atom C lebih dari 40 (Ariefta, 2012).
Mekanisme terpenoid sebagai antibakteri adalah bereaksi denganporin (protein
transmembran) pada membran luar dinding sel bakteri,membentuk ikatan polimer yang
kuat sehingga mengakibatkan rusaknya porin. Rusaknya porin yang merupakan pintu
keluar masuknya senyawaakan mengurangi permeabilitas dinding sel bakteri yang
akan mengakibatkan sel bakteri akan kekurangan nutrisi, sehingga pertumbuhan bakteri
terhambat atau mati (Cowan, 1999).

4.Saponin

Saponin merupakan jenis glikosida yang banyak ditemukan dalam tumbuhan dan
sifatnya polar. Saponin memiliki karakteristik berupa buih sehingga ketika direaksikan dengan
air dan dikocok maka akan terbentuk 14buih yang dapatbertahan lama. Saponin mudah
larut dalam air dan tidak larut dalam eter (Pradipta, 2011).
Saponin dibagi menjadi 2, yaitu saponin steroid dan saponintriterpenoid. Saponin
steroid tersusun atas inti steroid (C 27) denganmolekul karbohidrat, yang jika dihidrolisis
menghasilkan suatu aglikonyang dikenai sebagai saraponin. Tipe saponin ini memiliki efek
antijamur. Saponin triterpenoid tersusun atas inti triterpenoid dengan molekul
karbohidrat, yang jika dihidrolisis menghasilkan suatu aglikon yang disebut sapogenin.
Saponin merupakan suatu senyawa yang mudahdikristalkan lewat asetilasi sehingga
dapat dimurnikan. Tipe saponin ini adalah turunan β-amyirine (Pradipta, 2011).Mekanisme
kerja saponin sebagai antibakteri adalah menurunkan tegangan permukaan sel bakteri
sehingga terjadi kebocoran sel bakteri dan mengakibatkan keluarnya senyawa intraseluler.
Saponin akan berdifusi melalui membran luar dan dinding sel yang rentan, lalu
mengikat membran sitoplasma dan mengganggu dan mengurangi kestabilan sel bakteri. Hal
ini menyebabkan sitoplasma bocor keluar dari sel yang mengakibatkan kematian bakteri
(Ngajow dkk., 2013).

5.Tanin

Tanin merupakan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara
menghambat enzim reverse transkriptase dan DNA topo isomerase yang berfungsi pada
proses transkripsi dan replikasi,sehingga sel bakteri tidak dapat terbentuk. Tanin juga
memiliki aktivitas 15 antibakteri yang berhubungan dengan kemampuannya untuk
menginaktifkan adhesin sel mikrobia, menginaktifkan enzim, dan menggangu transport
protein pada lapisan dalam sel bakteri. Tanin juga mempunyai target pada polipeptida
dinding sel sehingga pembentukan dinding sel menjadi kurang sempurna. Hal ini
menyebabkan sel bakteri menjadi lisis karena tekanan osmotik maupun fisik sehingga sel
bakteriakan mati(Ngajow dkk., 2013).

6.Steroid

Steroid adalah suatu golongan senyawa triterpenoid yang mengandung inti


siklopentana perhidrofenantren, yaitu dari tiga cincin sikloheksana dan sebuah cincin
siklopentana (Harborne, 1987). Steroid alami berasal dari berbagai transformasi kimia
dua triterpen, yaitu lanosterol dan sikloartenol. Pada umumnya, steroid tumbuhan berasal
darisikloartenol. Senyawa steroid dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan obat
(Nuraini, 2007).Mekanisme antibakteri steroidadalah dengan cara berhubungan dengan
membrane lipid pada sel bakteri dan menyebabkan kebocoran pada liposom (penyusun dinding
sel bakteri) (Madduluri dkk., 2013).

B. Data Penelitian Klinis (Evidence-Based)

Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia S.) merupakan salah satu tanaman obat keluarga yang
banyak terdapat ditengah masyarkat dan banyak digunakan sebagai ramuan tradisional. Bagian
yang sering digunakan adalah air perasannya, dengan salah satu manfaat dapat digunakan untuk
menghilangkan jerawat serta penyembuhan luka agar tidak terjadi abses. Jerawat dan abses pada
luka merupakan salah satu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus. Tujuan
Penelitian ini adalah untuk mengetahui daya hambat air perasan buah jeruk nipis (Citrus
aurantifolia S.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus secara invitro. Penelitian
dilakukan dengan metoda eksperimental laboratorium dengan desain postest only control group
design yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Hasil penelitian menunjukan bahwa air perasan buah jeruk nipis memiliki daya hambat terhadap
pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan berbagai konsentrasi yaitu 25%, 50%, 75%,
dan 100% dan terdapat pengaruh lama kontak terhadap pertumbuhan bakteri dimana bakteri
tidak tumbuh seteleh kontak 5 menit pertama dan diikuti menit-menit berikutnya dengan air
perasan buah jeruk nipis konsentrasi 100%. Jadi, semakin tinggi konsentrasi air perasan buah
jeruk nipis dan semakin lama kontak dengan bakteri Staphylococcus aureus maka daya
hambatnya semakin baik.

C. Data Penelitian Praklinis (eksperimental )


Table 1 Hasil Uji daya hambat air perasan buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.)
terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus untuk jerawat.
Dari Tabel 1. didapatkan bahwa pemberian air perasan buah jeruk nipis dengan konsentrasi
berbeda memiliki daya hambat yang berbeda pula terhadap pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus. Perbedaan ini selanjutnya diuji dengan pengukuran statistik secara
komputerisasi menggunakan program SPSS 15.0 for Windows. Berhubung data hasil
penelitian yang didapatkan ternyata tidak memenuhi syarat uji annova satu arah. Untuk
melanjutkan pengolahan, data ditranformasi, tetapi ternyata data tidak dapat ditranformasi
maka pengolahan data dilanjutkan dengan Kruskall Wallis Test. Hasil dapat dilihat pada
Tabel 2.

Tabel 2. Data Perbandingan data stasitik diameter hambatan air perasan buah jeruk nipis
(Citrus aurantifolia S.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan
menggunakan MannWhitney Test

Banyak sekali manfaat dari jeruk nipis yang dapat kita peroleh jika diolah dengan benar.
Salah satunya adalah menghilangkan noda jerawat. Jeruk nipis dapat mengurangi minyak yang
berlebihan yang mengakibatkan jerawat pada wajah. Kandungan vitamin B1, belerang, asam
sitrun, glikosida, damar, minyak atsiri, asam amino, asam sitrat, minyak terbang mendukung
jeruk nipis dalam kosmetika. Dengan cara mengolah yang mudah, dengan mengiris jeruk nipis,
pemakai langsung bisa memakainya. Hanya perlu pemakaian yang rutin agar mendapatkan hasil
maksimal.

D. Etiologi penyakit jerawat


Belum diketahui dengan jelas. Namun ada beberapa faktor yang diduga berkaitan dengan
patogenesis penyakit ini :
 Sumbatan kelenjar minyak oleh keratin pada kulit, bila terkena infeksi, jerawat bisa
berubah menjadi bisul dan bernanah.
 Produksi sebum yang meningkat yang menyebabkan peningkatan unsur komedo
genik yang menyebabkan dan timbulnya lesi jerawat.
 Pengaruh hormonal yang merupakan faktor terpenting karena pada umumnya
jerawat mulai timbul pada usia remaja dimana terjadi perubahan – perubahan
aktifitas hormon dalam tubuh.
 Terjadinya stres yang dapat memicu kegiatan kelenjar sebasea. Faktor lain : Usia,
Ras, Familial, Makanan yang secara tidak langsung dapat memacu peningkatan
proses patogenesis tersebut.

E. Patogenesis Penyakit Jerawat


Jerawat dipengaruhi banyak faktor (multifaktorial). Ada empat hal penting yang
berhubungan dengan terjadinya jerawat, yaitu:
1. Meningkatnya produksi sebum Gollnick (2003) menyatakan bahwa hormon androgen
merangsang peningkatan produksi dan sekresi sebum. Peningkatan produksi sebum secara
langsung berkorelasi dengan tingkat keparahan dan terjadinya lesi jerawat. Peningkatan
produksi sebum menyebabkan peningkatan unsur komedogenik dan inflamatogenik
penyebab terjadinya lesi jerawat. Kelenjar sebasea dibawah kontrol endokrin. Pituitari akan
menstimulasi adrenal dan gonad untuk memproduksi estrogen dan androgen yang
mempunyai efek langsung terhadap unit pilosebaseus. Stimulasi hormon androgen
mengakibatkan pembesaran kelenjar sebasea dan peningkatan produksi sebum pada penderita
jerawat, hal ini disebabkan oleh peningkatan hormon androgen atau oleh hiperesponsif
kelenjar sebasea terhadap androgen dalam keadaan normal.
2. Hiperproliferasi epidermal dan pembentukan komedo Perubahan pola keratenisasi folikel
sebasea menyebabkan stratum korneum bagian dalam dari duktus pilosebaseus menjadi lebih
tebal dan lebih melekat, akhirnya akan menimbulkan sumbatan pada saluran folikuler. Bila
aliran sebum ke permukaan kulit terhalang oleh masa keratin tersebut, maka akan terbentuk
mikrokomedo. Mikrokomedo ini merupakan suatu proses awal dari pembentukan lesi jerawat
yang dapat berkembang menjadi lesi non inflamasi maupun lesi inflamasi. Proses
keratenisasi ini dirangsang oleh androgen, sebum, asam lemak bebas dan skualen.
3. Kolonisasi mikroorganisme di dalam folikel sebaseus Peran mikroorganisme penting
dalam perkembangan jerawat. Dalam hal ini mikroorganisme yang mungkin berperan adalah
Propioni bacterium acnes, Staphylococcus epidermidis dan Corynebacterium acnes.
Mikroorganisme tersebut berperan pada kemotaktik inflamasi serta pada pembentukan enzim
lipolitik pengubah fraksi lipid sebum. Propionibacterium acnes menghasilkan komponen
aktif seperti lipase, protease, hialuronidase dan faktor kemotaktik yang menyebabkan
inflamasi. Lipase berperan dalam menghidrolisis trigliserida sebum menjadi asam lemak
bebas yang berperan dalam menimbulkan hiperkeratosis, retensi dan pembentukan
mikrokomedo.
4. Adanya proses inflamasi Propionibacterium acnes mempunyai aktivitas kemotaktik yang
menarik leukosit polimorfonuklear ke dalam lumen komedo. Jika leukosit polimorfonuklear
memfagosit Propionibacterium acnes dan mengeluarkan enzim hidrolisis, maka akan
menimbulkan kerusakan dinding folikuler dan menyebabkan ruptur sehingga isi folikel (lipid
dan komponen keratin) masuk dalam dermis dan mengakibatkan terjadinya proses inflamasi
(Fox, dkk, 2016)
F. Manifestasi Klinik
Jerawat dapat ditandai oleh adanya komedo, papula, pustula, nodul, dan kista. Komedo
merupakan lesi jerawat yang pertama kali terbentuk yang dapat menyumbat folikel rambut
berwarna putih atau hitam akibat proses oksidasi. Papula merupakan pembengkakan pada kulit
dan berwarna merah, jika terdapat pus di dalamnya disebut dengan pustula. Selanjutnya jerawat
akan berkembang membentuk nodul atau kista yang berukuran lebih besar (> 5 mm) (Mahto 2017).

G. Manajemen Terapi Modern (Farmakoterapi)


 Benzoil Peroksida
Benzoil peroksida merupakan retinoid inaktif untuk mengatasi papula dan pustula yang
diberikan secara topikal dua kali sehari, saat pagi dan malam hari menjelang tidur. Benzoil
peroksida bekerja dengan cara mengurangi jumlah P. acnes pada kelenjar sebasea (Mahto, 2017).
Penggunaan benzoil peroksida ini dapat menyebabkan kulit kering, kemerahan, da bersifat
teratogenik (Benner dan Sammons, 2013).
 Adapalene
Adapalene merupakan senyawa retinoid sintetis yang kurang efektif tetapi memiliki efek
samping yang lebih rendah dibanding senyawa retinoid lainnya karena tidak menimbulkan iritasi
dan fotosensitivitas. Adapalene dapat dioleskan tiap malam hari menjelang tidur dan efek samping
yang biasa ditimbulkan berupa eritema, kulit bersisik, kekeringan, dan rasa terbakar (Piskin dan
Uzunali, 2007).
 Tazarotene
Tazarote merupakan golongan baru retinoid yang dapat digunakan untuk mengatasi papula
dan komedo terbuka (blackheads) yang tidak menyebabkan iritasi dan kulit kering (Benner dan
Sammons, 2013).
 Asam Salisilat
Asam salisilat merupakan keratolkitik, bakterisidal, dan komedolitik yang dapat digunakan
untuk mengatasi jerawat (Benner dan Sammons, 2013).
 Asam Azaleat
Asam azaleat adalah obat anti jerawat yang bekerja dengan cara melawan bakteri P. acnes
dan Staphylococcus epidermidis yang dapat memperparah peradangan pada jerawat. Asam azaleat
ini aman digunakan untuk pasien yang alergi terhadap berbagai agen anti-acne dan juga ibu hamil
(Benner dan Sammons, 2013).
 Antibiotik (Klindamisin dan Eritromisin)
Antibiotik yang sering digunakan untuk mengobati jerawat adalah klindamisin dan
eritromisin karena keduanya mempunyai aktivitas untuk menghambat bakteri P. acnes penyebab
jerawat (Benner dan Sammons, 2013). Antibiotik dapat diberikan secara topikal dalam bentuk gel
ataupun per oral. Penggunaan antibiotik ini juga dapat diberikan secara kombinasi dengan anti-
acne lainnya (Mahto, 2017).
 Terapi Hormon
Terapi hormon dengan cara mengkonsumsi pil KB atau kontrasepsi dapat diberikan untuk
mengatasi jerawat karena dapat mengurangi produksi hormon androgen. Produksi hormon
androgen yang berlebihan ini akan menyebabkan peningkatan produksi sebum yang dapat memicu
timbulnya jerawat (Mahto, 2017).

Pembahasan
Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia S.) merupakan salah satu tanaman obat keluarga yang banyak
terdapat ditengah masyarkat dan banyak digunakan sebagai ramuan tradisional. Bagian yang
sering digunakan adalah air perasannya, dengan salah satu manfaat dapat digunakan untuk
menghilangkan jerawat serta penyembuhan luka agar tidak terjadi abses. Jerawat dan abses pada
luka merupakan salah satu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus.