Você está na página 1de 5

Analisa kasus Hemihipesthesia:

Pasien datang dengan keluhan baal di seluruh tubuh kanan. Pada anamnesis didapatkan
bahwa baal ini berlangsung sejak 3 minggu SMRS namun makin parah sejak 1 hari SMRS. Baal
awalnya dirasakan secara perlahan – lahan makin parah, awalnya sifatnya hilang – timbul namun
sejak 1 hari SMRS menjadi terus – menerus. Pasien mengatakan bahwa rasa baal timbul ketika
pasien sedang beristirahat. Selain itu pasien juga mengatakan bahwa dia sedikit tersedak
terutama pada saat minum air. Pasien tidak mengeluhkan adanya sakit kepala, muntah disangkal,
riwayat trauma disangkal, pandangan ganda disangkal, penurunan kesadaran disangkal, Pasien
mengatakan akhir – akhir ini sedang banyak pekerjaan sehingga sering lupa minum obat. Pada
riwayat penyakit dahulu didapatkan bahwa pasien memiliki riwayat sakit jantung (6 bulan lalu),
riwayat Stroke (2 tahun lalu), dan riwayat DM type 2 (3 tahun lalu) pada riwayat keluarga
didapatkan bahwa ibu pasien mengalami DM type 2 juga, pada riwayat kebiasaan, pasien tidak
memiliki kebiasaan tertentu, namun pasien jarang untuk berolahraga rutin. Sehingga dari
informasi ini bisa didapatkan bahwa pasien mengalami defisit neurologis yang baru berupa baal
seluruh tubuh kanan, namun pasien tidak mengalami adanya mual, muntah, kejang, penurunan
kesadaran, sakit kepala, dan tidak ada trauma sehingga suspek pada stroke hemorrhagic bisa
sementara diabaikan. Pasien pernah mengalami stroke sebelumnya sehingga bukan tidak
mungkin bisa terjadi stroke ischemic yang berulang pada pasien ini, ditambah adanya faktor
resiko berupa sakit jantung, dan diabetes melitus selain itu, pasien mengatakan akhir – akhir ini
sedang banyak pekerjaan dan pasien sering lupa minum obatnya. Karena riwayatnya pasien
sedang beristirahat, maka kemungkinan terjadinya stroke thrombotic lebih mungkin
dibandingkan dengan stroke embolic.
Apabila melihat etiologi VITAMIN D, hal yang paling mungkin adalah dari vascular hal ini
karena pasien sudah memiliki beberapa faktor resiko yang menunjang misalnya sakit jantung,
DM tipe 2 dan juga stroke. Pada Siriraj score, dimana skor ini digunakan untuk membedakan
apakah pasien mengalami stroke hemorrhagic atau stroke ischemic dikatakan stroke
hemorrhagic apabila Siriraj score >1, didapatkan bahwa Siriraj score  -11.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan bahwa tidak adanya kaku kuduk, pada pemeriksaan
nervus 5, didapatkan bahwa pemeriksaan sensorik berkurang, pada pemeriksaan nervus 8
didapatkan bahwa ada kehilangan keseimbangan kearah kanan pada pemeriksaan ekstermitas
didapatkan bahwa kekuatan motorik ekstermitas atas dan bawah kanan adalah 4+ hal ini
mungkin disebabkan oleh deficit yang disebabkan oleh stroke sebelumnya 2 tahun lalu karena
pasien mengatakan kakinya memang menjadi lemas sebelah setelah terjadi stroke 2 tahun lalu.
Untuk reflex fisiologis dalam batas normal (+2), dan pada reflex patologis tidak ditemukan,
karena stroke masih bersifat subacute, lalu pada sensorik ditemukan bahwa pasien mengalami
hemihipesthesia dextra yang sebelumnya tidak ada, dimana ini merupakan defisit neurologis
baru. Hemihipesthesia dextra ini didapatkan kehilangan pada sensasi sentuhan dan juga nyeri,
dimana biasanya terdapat kelainan pada UMN. Traktus sensorik sendiri biasanya terdiri dari 3
macam traktus yakni lateral spinothalamic tract (pain dan temperature), anterior spinothalamic
tract (touch, pressure), dan medial lemniscus (proprioceptive). Untuk jalannya traktus ini dimulai
dari 1st order neuron yang dimana badan sel terletak pada perifer dan axon berada pada system
saraf pusat baru dilanjutkan ke 2nd order neuron dimana badan sel terletak pada CNS, dan
axonnya memancar ke thalamus lalu dilanjutkan lagi ke 3rd order neuron dimana badan sel
terletak pada thalamus dan axon memancarkan ke cortex cerebri oleh karena itu, bisa didapatkan
rasa sensasi. Pada anterior dan lateral spinothalamic tract, rangsangan yang diterima pada 1 st
order neuron akan memanjat 1 – 3 level pada dorsolateral tract of lisauer lalu mengalami
dekusasio di anterior white commissure yang terletak pada medulla spinalis kemudian baru naik
secara 1 garis lurus menuju ventroposterolateral thalamus untuk kemudian di sebarkan ke cotrex
cerebri sehingga tubuh manusia bisa merasakan sensasi sensorik..

Pengobatan yang diberikan kepada pasien menurut saya sudah adekuat. Alpentin
2x300mg diberikan untuk mengurangi rasa kesemutan dan juga baal yang dirasakan pasien.
Alpentin ini merupakan 1st line therapy dari neurogenic pain. Dosis yang disarankan dari alpentin
memang 1x300 mg kemudian dinaikkan menjadi 2x300mg. obat berikutnya adalah Aspilet
1x80mg, dosis obat yang diberikan sudah sesuai, dan penggunaan obat ini adalah untuk
mencegah terjadinya perburukan stroke yang sudah terjadi. Ramipril 1x5 mg, bisoprolol 1x5mg
adalah ACE inhibitors dan Beta blocker yang berfungsi untuk menjaga tekanan darah karena
pasien sudah pernah terkena penyakit jantung sebelumnya. Novorapid, metformin digunakan
untuk menjaga kadar gula darah, karena pasien memiliki riwayat DM tipe 2. Sedangkan
simvastatin 1x10mg digunakan untuk stabilisasi plak yang terdapat di dalam pembuluh darah.
Stroke adalah sebuah kondisi dimana terjadi deficit neurologis yang disebabkan karena
terganggunya sirkulasi darah ke otak yang bersifat mendadak, dan simptomps dari penyakit tetap
ada selama lebih dari 24 jam jika pasien bertahan hidup. Pada dasarnya stroke dibagi menjadi 2
bagian yakni stroke ischemic dan stroke hemorrhagic. Stroke ischemic sendiri dibagi menjadi 2
bagian lagi yakni trombotic stroke dan embolic stroke. Menurut etiologinya, stroke ini bisa
disebabkan karena atheroskelrosis, emboli, perdarahan. Selain itu, penyakit ini memiliki
beberapa faktor resiko diantaranya: Hipertensi, Diabetes Melitus, penyakit jantung,
hyperlipidemia, merokok, family history, dan obesitas. Oklusi pada pasien ini bisa terjadi pada
thalamus kiri karena pasien mengalami hemihipesthesia dextra, thalamus ini diperdarahi oleh
Posterior Cerebral Artery (PCA). PCA ini memperdarahi beberapa bagian dari otak misalnya
batang otak, cerebellum, thalamus, dan bagian oksipital dari cerebrum dan juga lobus temporal
otak. PCA ini keluar dari percabangan dari basilar artery, apabila terjadi oklusi pada PCA setinggi
level midbrain, maka gangguan okuler akan terjadi seperti adanya vertical gaze palsy, oculomotor
nerve palsy, dan tidak bisa memiringkan mata ke arah verikal. Apabila terjadi sumbatan pada
bagian oksipital yang dominan, maka bisa menyebabkan anomic aphasia (susah untuk
memberikan nama pada objek), alexia tanpa adanya agraphia (tidak bisa embaca tetapi bsa
menulis) atau adanya visual agnosia.
Cara mendiagnosa stroke sendiri terdapat kriteria diagnosisnya yakniterdapat gejala
deficit global, atau salah satu atau beberapa deficit fokal yang terjadi mendadak dengan
pencitraan CT scan atau MRI. Untuk pengobatan secara umum bisa dilakukan: stabilisasi jalan
napas, pemberian O2 jikasaturasi O2 <95%, lalu dilakukan penstabilan hemodinamik dengan cara
diberukan IV RL 0.9%, lalu distabilkan tekanan intracranial dengan cara meninggikan kepala 20-
30 derajat, menghindari pemberian cairan glukosa, menghindari hyperthermia, pemberian
osmotherapy: mannitol 0.25 – 0.50 gr/kgbb selama >20 menit, diulangi selama 4 – 6 jam dengan
target osmolalitas  310mOsm/L, pemberian nutrisi yang adekuat untuk pasien stroke, pasien
stroke membutuhkan kalori sekitar 25 – 30 kkal/kg/hari komposisi:
 Karbohidrat 30 – 40% dari total kalori
 Lemak 25 – 30% dari total kalori
 Protein 20 – 30% /kgbb/hari dari total kalori
Pemberian terapi spesifik bisa dilakukan dengan pemberian trombolisis intravena 
alteplase dengan onset < 4.5 jam dengan dosis 0.6 – 0.9 mg/kgbb. Pemberian antikoagulan juga
diberikan sebagai pencegahan sekunder pemberian warfarin hanya diberikan apabila terdapat
stroke cardio emboly, bia dimulai dengan dosis 2mg/hari dengan target INR 2.0 – 3.0, selain
warfarin, bisa juga diberikan NOAC (New Anticoagulant)  dabigatran 2x75mg, rivaroksaban
1x10mg, apiksaban 1x5mg. pemberian anteplatelet seperti aspirin dengan pemberian dosis
325mg dalam 12 jam pertama serangan, untuk maintenance bisa diberikan aspirin dosis rendah
80mg/ hari.