Você está na página 1de 3

Faris Maulana Yunus

1506733964

Tugas Evaluasi Prospek Panas Bumi


Geokimia Produksi

Sumur-sumur lapangan panas bumi Dieng memproduksi fluida 2 fasa dengan temperature kepala
sumur berkisar 180 – 200 C. Fluida panas bumi lapangan Dieng banyak mengandung komponen
kimia seperti Ca, K, Sio2, Mg dll yang pada kondisi tertentu dapat mengendap dan mengganggu
kinerja pembangkit. Lapangan panasbumi PT Geodipa unit Dieng menggunakan system sistem
pemisahan tunggal (single flash) dan biasanya merupakan sistem yang umum digunakan dalam
lapangan uap panas bumi. Single Flash akan memengaruhi komposisi brine yaitu semakin
pekatnya konsentrasi silica karena kehilangan sejumlah air yang berubah menjadi uap akibat
penurunan tekanan dan temperatur, dan terjadinya pelepasan gas seperti CO2 dan H2S yang
akan memengaruhi pH brine. Akibatnya timbul suatu masalah proses produksi sumber energi
geothermal pada sistem flash steam ini yaitu terbentuknya scaling. Salah satu penyebab
terbentuknya scaling adalah adanya kandungan silika (SiO2) yang terkandung dalam brine. Sifat-
sifat yang memengaruhi konsentrasi kelarutan silika dalam pembentukan scale adalah
temperatur, kadar garam (salinitas), dan nilai keasaman (pH). Ketika terjadi perubahan tekanan,
temperatur, dan pH pada suatu sistem, keseimbangan ion-ion yang terkandung akan melebihi
kelarutannya, sehingga terbentuk suatu endapan.
Manajemen dalam penanganan pengendapan silika menjadi hal yang penting dalam suatu sumur
panas bumi. Termasuk juga pada lapangan Dieng, manajemen pengendapan silika yang sudah
dilakukan adalah dengan melakukan pemisahan fasa uap dan fasa fluida air panas bumi di
separator pada tekanan dan temperatur tinggi untuk menghindari terjadi endapan. Fasa uap
dialirkan ke turbin untuk menggerakkan turbin sedangkan fasa air dialirkan ke kolam
penampungan dan dilakukan treatment sebelum diinjeksikan kembali ke dalam reservoir. Dalam
air panas bumi, faktor-faktor yang menentukan laju pengendapan silika dan polimerisasi dapat
dikontrol dengan menambahkan larutan asam atau diencerkan dengan menambahkan air untuk
mengatur nilai pH atau dengan menambahkan garam untuk mengurangi kekuatan ionik dan
selanjutnya meningkatkan laju polimerisasi. Perlakuan seperti ini memerlukan biaya cukup tinggi.
Upaya pencegahan lainnya yang dapat dilakukan pada lapangan Dieng adalah dengan
menginjeksi zat kimia pengontrol scale (inhibitor scale), baik pada sumur maupun pada pipa-pipa
dan peralatan produksi. Zat kimia tersebut bekerja dengan cara menjaga partikel pembentuk
scale tetap dalam larutan, sehingga diharapkan tidak terjadi pengendapan. Hal ini dapat terjadi
karena inhibitor bekerja untuk mencegah terbentuknya reaksi polimerisasi silica yang disebabkan
penurunan kelarutan silica. Laju polimerisasi silica dalam keadaan minimum pada keadaan asam
dan akan meningkat seiring dengan kenaikan pH. Maka dari itu, inhibitor scale yang biasa
digunakan adalah asam kuat seperti HCl dan H2SO4. Inhibitor asam dipercaya mampu
menginhibisi kerak silika dengan beberapa cara. Pertama dengan mengabsorpsi pertumbuhan
kristalnya. Awalnya inhibitor teradsorpsi di permukaan kristal SiO2 dan akan menyebabkan
terjadinya kekacauan pada proses pertumbuhan kristal. Cara kedua yaitu dengan menjaga
kelarutan silika. Inhibitor kerak sebaiknya digunakan pada konsentrasi yang disesuaikan dengan
tingkat kebutuhan untuk memisahkan atau mendonorkan elektron ke ion logam-silika membentuk
ion logam kompleks yang larut dalam air. Dan yang terakhir adalah inhibitor asam bekerja sebagai
pendispersi, yaitu inhibitor tersebut mempunyai kemampuan untuk mendispersi partikel silika dari
bentuk gumpalan, sehingga memperlambat laju pertumbuhan deposit kristal pada lingkungan
kerak tersebut terjadi.